Saturday, September 1, 2018

Patas Versus Bumel, Mana yang Lebih Nyaman?

(Catatan Perjalanan Jember-Malang)

Jika ada orang menawarkan anda untuk naik bis pada suatu perjalanan, bis apa yang akan anda pilih. Patas atau bumel? Jika anda berorientasi pada kenyamanan, tentu pilihan anda jatuh pada patas. Namun jika anda berorientasi pada nilai ekonomi, tentu jawaban anda adalah bumel. Ya, patas dinilai lebih ‘berkelas’ daripada bumel, seperti pembagian antara penumpang kelas menengah ke atas dengan penumpang kelas menengah ke bawah.
Patas memiliki makna cepat dan terbatas. Cepat karena hanya terminal besar yang menjadi persinggahan. Terbatas karena jumlah kursi lebih sedikit daripada bumel. Jika penumpang sudah penuh, tidak akan ada kursi ‘siluman’ sebagaimana bumel. Fasilitas juga lebih oke, meski saat ini banyak bumel yang sudah memasang iklan “AC, Tarif Biasa”.
Lalu, apakah benar patas lebih memberikan kenyamanan dalam berkendaraan daripada bumel? Secara logika barangkali sih iya, tetapi fakta di lapangan belum tentu. Anda harus mencoba dulu, seperti pengalaman yang akan saya ceritakan di catatan perjalanan ini:  
Menunda Jadwal Keberangkatan
Sejatinya, rencana saya ke Malang berangkat via Kereta Api. H-3 tiket kereta api Tawang Alun Kalisat-Malang Kota Lama sudah di tangan. Namun apa lacur, perkuliahan matrikulasi harus menunda rencana saya; yang awalnya berangkat pagi, terpaksa berangkat bakda Magrib. Tentu, tiket kereta harus saya relakan hangus dalam pelukan.
Tepat adzan Magrib berkumandang, dosen pengampu menyudahi perkuliahan. Saya langsung tancap gas. Meminta antar kepada teman ke terminal Tawang Alun. Saya memintanya menepi di pintu keluar terminal. Berharap langsung ada patas yang datang. Benar! Tak lama kemudian kernet patas Mila Sejahtera melambaikan tangan.
“Surabaya, Surabaya, Surabaya.”
Saya langsung naik ke kabin. Saya mencari tempat duduk. Kursi deret kanan nomor dua dari belakang menjadi pilihan. Dalam pikiran, ketika bis berjalan, mata akan langsung saya pejamkan. Tidur dalam buaian malam.
Patas berjalan pelan menyusuri sepanjang jalan Rambipuji. Volume kendaraan cukup padat hingga membuat patas merayap seperti hilang kekuatan. Saya mulai memejamkan mata, kendati tidak sepenuhnya berhasil tidur dengan nyaman. Rasa capai sehabis kuliah sungguh terasa.
Melewati lampu merah Kaliputih (pertigaan –Rambipuji-Balung-Bangsalsari) sopir bis menaikkan tempo kecepatan. Beberapa mobil kecil dilahap pelan. Hampir memasuki desa Tisnogambar, laju patas kembali melambat. Saya penasaran gerangan apa yang terjadi. Alamak! Tampaknya macet.
Saya mulai cemas. Beberapa kali meninjau jarum arloji. Taksiran antara jam 10 dan 11 malam sampai di Malang mulai berbuah pesimis. Apalagi saya mesti transit dulu di Probolinggo untuk ganti bis. Saya pasang headset. Mencoba mengusir kecemasan yang menggantung. Suara Raisa, Love You Longer, mengalun lembut.
Entah, berapa kali Love You Longer saya putar ulang, patas seakan tak beranjak dari tempatnya. 30 menit sudah berlalu. Tak ada tanda-tanda kemacetan segera terurai. Saya coba memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Entahlah, karena kecemasan atau karena kecapaian. Saya pikir kemacetan ini disebabkan laka lantas. Setahu saya, jalan di Tisnogambar kerap terjadi kecelakaan.
Ternyata prediksi saya salah. Setelah hampir memasuki sejam, patas yang merangkak seperti bayi, saya baru tahu jika kemacetan tersebut akibat buka-tutup jalan karena ada perbaikan jembatan. Volume kendaraan di malam hari memang kerap dihuni oleh kendaraan-kendaraan besar. Mereka seperti binatang buas yang beraksi di malam hari.
Lolos dari jalan buka-tutup, bis melaju pelan dan seakan mulai menemukan ritme permainan. Saya cek arloji, alamak, hampir jam 8 masih belum memasuki Lumajang. Kapan sampai di Malang?
Selepas dari kemacetan, Mila Sejahtera seperti menggila. Pedal gas naik-turun secara tak terduga. Sodok ke depan suka-suka. Ngerem mendadak dan tiba-tiba. Saya pun tidak bisa memejamkan mata. Perjalanan jadi tak berselera karena isi perut seakan dikocok secara membabi buta. Dalam hati mengumpat, patas macam apa kalau begini. Tak ada kenyamanan sama sekali.
Saya pun tak bisa terlelap. Sebotol minuman suplemen tidak bisa menahan isi perut yang hampir tumpah. Saya sempat mengedar pandangan ke luar kaca. Mengukur jarak dengan melihat nama tempat di sisi jalan, Ranuyoso, Klakah. Hem, masih di kota pisang. Dalam hati membual, ada apa dengan sopir Mila ini? Kejar setoran atau baru bertengkar dengan istrinya? Entahlah, yang jelas perjalanan ini sungguh tidak menyenangkan. Perut selalu mual-mual; ingin segera sampai di Probolinggo dan ganti bis.
Satu jam terdampar di Terminal Banyuangga, Probolinggo
Kurang lima menit dari pukul 10 malam, saya tiba di terminal Banyuangga, Probolinggo. Lepas kaki berpijak, saya langsung menuju ruang tunggu. Bersandar di peron, melepas penat sambil mengutuk Patas Mila Sejahtera yang membuat perut terasa dikocok-kocok. Kepala terasa pusing, karena di samping isi perut yang keluar, saya baru sadar jika hanya makan pagi setengah siang. Itu pun bakwan!
Lama menunggu di peron. Bis berlabel patas jurusan Malang tak ada yang datang. Hanya Jember-Surabaya atau sebaliknya yang silih berganti. Lepas dari setengah jam menunggu, bis bumel Harapan Baru masuk jalur. Hampir semua penumpang yang menunggu di peron menyerbu bis yang baru parkir itu. Ternyata mereka semua satu jurusan, batin saya. Saya pun tak kalah gesit. Daripada menunggu patas yang tak jelas kedatangannya, lebih baik naik bumel dan segera tiba di tempat tujuan.
Sayang, bis sudah penuh. Di luar kaca, sebagian penumpang berdiri. Ah, saya tak mau ambil resiko. Mana mungkin berdiri sepanjang lintasan Probolinggo-Malang yang saya taksir membutuhkan waktu tempuh lebih dari 2 jam. Terpaksa saya bersama sebagian penumpang lain kembali lagi ke peron dengan raut muka kecewa.
Waktu sudah hampir pukul sebelas. Tak ada satu pun bis yang kembali muncul. Saya harap-harap cemas dan mulai mengatur rencana dadakan bila sudah sampai di Malang. Setidaknya, saya taksir masuk terminal Arjosari pukul satu lebih. Ojek tentu ada, tapi saya malas untuk bernegosiasi menentukan patokan harga. Saya mencoba menghubungi seorang teman yang sudah sampai tadi pagi. Berharap rasa dermawannya bersedia menjemput saya dengan Panther miliknya. Dia menyanggupi, tetapi dari nadanya seperti hanya basa-basi. Hatipun membatin, mau patas atau bumel terserah, yang penting segera sampai tujuan.
Tak lama kemudian, bis bumel Harapan Baru kembali tiba. Saya langsung sigap menghampiri. Aduhai, tampaknya penumpang juga penuh. Sebagian besar penumpang masuk melalui pintu depan. Saya masuk melalui pintu belakang. Rasanya tidak mungkin mengincar tempat duduk di depan dengan penumpang yang berdesakan. Yang penting dapat tempat duduk meski di belakang.
Saya pun naik. Hampir semua kursi berpenghuni. Saya terus bergeser ke depan. Mencari kursi yang tidak berkepala. Ketika incaran terlihat, ternyata ada penghuninya juga: anak-anak. Jelas kepalanya tidak terlihat dari belakang. Saya terus bergeser ke depan, tetap tidak ada. Langkah pun berhenti tepat di belakang sopir. Mau keluar melalui pintu depan tidak bisa. Ada sekumpulan ibu-ibu yang duduk di samping kiri sopir. Alamak, alamat berdiri sampai di Malang, nih!
Hati menjadi risau. Turun, tidak, turun, tidak, turun, tidak. Akhirnya saya putuskan untuk bertahan dengan segala kekuatan yang ada. Ya, Allah, kuatkanlah hamba berdiri lebih dari dua jam perjalanan ini. Amin.    
Harapan Baru pemberi harapan baru
Bis berjalan pelan meninggalkan terminal. Saya tetap membayangkan ‘sengatan listrik’ yang akan menjalar dari telapak kaki. Ini bumel, bukan patas. Tak ada AC dan tentu juga penumpangnya berjubel dan berdesakan. Lepas pertigaan patung karapan di Probolinggo, bis ini masih menaiki tiga penumpang lain. Ya, ampun, sudah penuh masih disesaki lagi. Saya taksir perjalanan ini tak akan menyenangkan!
Tiga orang tadi adalah penumpang terakhir. Jika masih harus menaiki penumpang lagi, sungguh ini keterlaluan. Saya mencoba memupuk kesabaran. Menoleh ke belakang kepada penumpang yang juga berdiri seperti dihukum kepala sekolah karena terlambat mengikuti upacara bendera. Setidaknya, tidak hanya saya bernasib demikian. Masih ada penumpang seperjuangan di belakang bernasib sama. Hanya cukup bertahan lebih dua jam, masak tidak kuat, pasti bisa, batin saya.
Sungguh, yang saya khawatirkan dari bis ini adalah ketidaknyamanan dalam berkendaraan: ngegas tanpa tedeng aling-aling atau ngerem tanpa perasaan. Patas Mila Sejahtera yang mungkin kejar setoran menjadi momok menakutkan di malam itu. Semoga tidak terulang pada bis ini. Situasi saat ini berbeda. Saya berdiri, bukan duduk!
Keluar terminal dan masuk Rejoso, Pasuruan, tak ada hentakan berarti. Bis berjalan penuh kelembutan. Pergantian gigi persneling tak dirasakan. Bila harus menurunkan gas dan ngerem, hal itu tidak terjadi secara dadakan. Nah, sopir ini baru mengerti bagaimana cara memanjakan juragan! Sempat saya membatin betapa sopir ini seorang penyabar, ramah, dan mengerti arti kemanusiaan. Rumah tangganya juga pasti harmonis dan tidak berantakan. Meski alasan terakhir ini tak ada kaitannya sama sekali.
Saya menikmati setiap pendar lampu jalanan. Sesekali bis ini melahap kendaraan besar yang menghadang. Saya tetap berdiri, tetapi saya mulai menikmati perjalanan ini. Ternyata, kenyamanan penumpang bukan disebabkan oleh fasilitas mewah yang ditawarkan, tetapi lebih kepada bagaimana sopir memanjakan penumpang dengan bersikap lembut dan tidak ugal-ugalan.
Memasuki Purwosari, Lawang dan Singosari, rasa capai seakan seketika hilang. Malang, saya datang! Saya lirik arloji, pukul 01.05 WIB. Dua jam sudah saya berdiri. Setengah jam kemudian, saya pun sampai di terminal Arjosari. Terima kasih Harapan Baru. Berdiri lebih dua jam memang perkara yang melelahkan, tetapi setidaknya seorang sopir harus tahu diri bagaimana cara memberikan kenyamanan dan memanjakan penumpang.[]
Malang, 25 Agustus 2018


                                                                                                    

0 comments: