Friday, March 28, 2014

K. 17 L. 16


(Dimuat di Tribun Jabar, 16 Maret 2014)
K. 17
Tatapan perempuan itu beku seperti es. Perempuan bermata ilalang, teduh tapi sunyi. Aku tak menemukan bias cahaya di seraut wajahnya yang oval. Ia tengah menyorongkan wajahnya dengan bibir bergerak samar. Merapal sesuatu pada bunga-bunga yang berjejer di beranda rumahnya.
Sedang bernyayikah dia untuk bunga-bunga itu? Ah, barangkali ia hanya mencari perhatian. Hem, perempuan memang selalu ingin mencari simpati.
L. 16
Apakah ia orang baru? Sejak kapan berada di sini? Hem, Sepagi ini ia sudah rapi benar.  Sepertinya ia tipikal pekerja keras. Tidak. Tidak. Ia hanya seorang pegawai negeri yang dituntut waktu untuk melayani abdinya. Harus kuakui, ia memang mandiri. Di usia yang demikian muda sudah mengenakan baju safari. Mengagumkan!  
Berani-beraninya ia melempar senyum. Huh, pasti hanya sekedar basa-basi. Masa bodoh. Apa peduliku. Lelaki di mana pun selalu sama; para bedebah yang lalu lalang sejenak hanya sekadar menarik simpati perempuan.
K. 17
Perilakunya malah tambah aneh. Pertama kali kulihat ia bernyanyi, kemarin marah-marah, mengumpat segala yang ada di depannya. Sekarang terdengar lentingan kaca pecah dan teriakan memilukan. Semuanya dilakukan sendirian. Dua vas bunga di depan pintunya pun dibanting. Bukankah setiap pagi dia selalu bernyanyi untuk bunga-bunga itu? Perempuan gila?
Tidurku benar-bebar terganggu. Suara tangisnya melengking di langit-langir kamar. Memilukan. Aku paling tidak tega mendengar tangis perempuan. Lemahku ada pada air matanya.
Aku beranjak ke beranda. Perempuan itu tengah duduk mendekap. Di beranda. Wajahnya seperti kabut; kelam, suram dan pucat. Rambut acak-acakan karena dijambak sendiri.
L. 16
Ada yang mengetuk pintu? Jam lima pagi. Siapa? Remang di luar jendela membuatku malas. Ah, jangan-jangan itu Mas Fajri. Aku akan menuntut segala janji-janjinya!
Ternyata, lelaki itu. Kecewa, jelas.
“Maaf, apakah anda memiliki nomor telepon tukang servis WC? Sepertinya WC di rumahku mampet.”
“Anda siapa? Maaf tak sempat ganti baju,” selorohku. Matanya menelanjangi tubuhku yang terbalut lingerie. Semoga tak menyangkaku yang bukan-bukan.
“Saya Fandi, tetangga sebelah. Baru seminggu saya tinggal di kompleks ini. Rumah kita sehadapan.” Tanpa disebut, aku sudah tahu kalau rumahnya sehadapan.
“Tunggu sebentar.” Kutinggalkan sejenak lelaki itu. Ia memerhatikan segala macam benda di rumahku. Halaman pun tak luput dari sorot matanya. “Ini nomor teleponnya. Kalau tidak bisa, cobalah nomor yang satunya,” beriku.
“Terima kasih.” Ia pergi mengibas-ngibaskan nomor telepon yang telah kuberikan.
K. 17
Perempuan itu sungguh misterius. Cuma di bagian luar rumahnya saja yang menunjukkan keindahan. Tata ruangnya tak ada kesan rapi. Lantai kotor berserakan. Asbak di meja penuh dengan puntung rokok, terbalik menumpahkan isinya.
L. 16
Semakin hari, Fandi terus memerhatikanku. Apakah ia menemukan sesuatu yang istimewa? Ah, sudahlah. Tak berpikir macam-macam, batinku.
K. 17
Perempuan itu ternyata tinggal sendirian. Benar, dia perokok. Kerapkali aku menemukannya nge-fly, menikmati hisapan demi hisapan sebelum diempaskan ke udara. Lalu, ia memandang lekat asap membubung yang baru lepas dari mulutnya. Aku tidak suka perempuan perokok.
L. 16
Jangan harap kau bisa melarikan diri dariku. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di kaki dan mengakui bahwa yang ada di rahimku adalah darahmu. Tak akan semudah itu kau melupakan Risa, perempuan yang kini tak pernah kau beri kesempatan untuk bermimpi pelangi. Kau harus memenuhi segala janjimu. Termasuk singgasana yang kau janjikan. Apa kau bahagia dengan kekasihmu yang baru itu? Jangan harap.
K. 17
Aku terkejut. Perempuan itu menungguku, duduk di depan pintu.
“Maaf, boleh aku masuk?”
“Ya, silahkan.”
Kejutku jadi gugup. Seksi nian dia dengan balutan kaos u can see dan celana Jeans. Senyum mengembang manja. Lekuk tubuhnya memompa jantung berdenyut lebih cepat. Namun sayang, pakaian mini itu hanya membuat lekuk perutnya yang jelek kelihatan. Gilakah? Ah
“Arsitektur yang bagus,” gumamnya.
“Tidak juga. Ruangan ini sama saja dengan ruang di rumahmu. Hanya penataannya saja yang berbeda,” jelasku.
“Ya, ya! Maksudku tata ruangnya. Tidak seperti rumahku. Kacau. Kapan-kapan maukah kau memperbagus tata ruang rumahku?”
“Dengan senang hati.”
Perempuan itu mondar-mandir. Sorot matanya menggeledah seluruh isi ruangan yang hanya berukuran kurang lebih enam kali lima meter itu. Sofa kecil, meja oval, televisi dua puluh sembilan inci lengkap dengan sound system dan DVD tak lepas dari padangannya.
“Oh, ya. Silahkan duduk. Mau munum apa?”
“Tidak terima kasih. Namaku Marisa. Panggil saja aku Risa. Itu foto siapa?”
“Oh, tunanganku. Sebentar lagi dia akan menjadi istriku,” ungkapku bangga.
“O…Selamat! Semoga menjadi pasangan yang serasi. Maaf, aku harus pulang.” Perempuan itu berlalu sebelum aku mengucapkan terima kasih atas pujiannya.
Kesimpulan untuknya hampir mencapai taraf kegilaan.
L. 16
Tidak! Tidak! Seharusnya bukan Fandi. Tetapi kau. Ya, kau! Kau yang harus bertanggungjawab.
K. 17
Perempuan itu, maksudku Risa, datang lagi dengan seonggok wajah seperti mayat. Tak ada cahaya sama sekali di parasnya. Teh yang kusodorkan langsung tandas diseruput tuntas tak berbekas.
Senandung elegi mengalun dari bibirnya yang kering dan pecah: hidup Risa terperosok oleh lelaki hidung belang yang mengatakan telah berjanji akan menikahinya. Hampir empat bulan ia menunggu lelaki bernama Fajri. Bukan ia yang memerlukan lelaki itu, tetapi segumpal darah di perutnya yang memerlukannya.
“Kau sudah menghubunginya?”
“Fajri selalu berjanji. Aku muak.” Jelasnya.
Kesimpulanku seketika beruba: Risa tidak gila.
L. 16
Tak apalah cerita ini tumpah kepada Fandi. Ia bisa dipercaya. Aku sedikit tenang. Tetapi, belum benar-benar tenang sebelum kau kuterlantarkan. Sepintar apa kau sembunyikan simpananmu? Aku pasti akan memburunya. Kau hanya anak tupai yang belajar melompat. Linda. Hem, nama simpananmu bagus juga. Entahlah, apa dia sebagus namanya.
Aku akan menusuk jantung Linda agar dadamu berdarah. Oh, tidak. Tak akan ada darah yang muncrat dari dadamu hanya karena kehilangan Linda, bukan? Kau pasti akan berpaling ke perempuan lain. Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi pemburu setia para perempuanmu. Aku akan selalu mengunjungi rumah mereka dan mengalungkan melati ke lehernya. Bagaimana? Setuju? Pasti engkau mengatakan tidak. Ha..ha..ha..ha…
K. 17
Hampir setiap sore Risa bertamu. Ya, cuma sekedar bertutur remeh-temeh tentang lika liku kehidupannya. Di balik wajah yang terus berkabut, aku masih menemukan secercah cahaya di sana. Di pendar matanya.
“Kau tahu, pada proses penciptaan perempuan, malaikat sempat protes kapada Tuhan karena menciptakannya dengan begitu lembut,” ujarku mencoba menyulut kembali cahaya yang hampir redup itu.
“Lalu?”
“Ternyata malaikat tidak mengetahui betapa di balik kelembutan itu Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa.”
“Luar biasa!?”
“Ketika malaikat menyentuh dagunya, dia bertanya lagi, ‘Tuhan! makhluk ciptaan ini amat lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya,’ katanya. Padahal itu adalah air mata.”
“Untuk apa?”
“Pertanyaanmu persis seperti yang ditanyakan malaikat. Air mata adalah salah satu caranya mengekspresikan segala ekpresi hati: cinta, cemburu, sepi, derita, haru, bahkan benci.”
“Hebat!”
“Ya, Tuhan memang hebat dalam menciptakan perempuan,” kataku.
“Bukan Tuhan.”
“Siapa?”
“Raja Dongeng, kau. Maukah di lain waktu kau menceritakan yang lainnya,” senyumnya mengembang. Aku bahagia.
L. 16
Perempuan mempunyai kekuatan mempesonakan laki-laki. Ia bisa mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki. Ia mampu tersenyum walau hatinya menjerit. Ia bisa menyanyi ketika menangis. Ia dapat menangis saat terharu. Bahkan ia bisa tertawa tatkala ketakutan. Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan…
Terima kasih, Fandi. Aku makin yakin jalanku benar. Aku harus mampu melawan ketidakadilan ini!
K. 17
Wah, besok malam tunanganku akan datang. Aku harus meminta bantuan Risa untuk memasak makanan khas padang. Tetapi apakah dia mau membantuku? Ah, masa bodoh. Tak ada salahnya aku meminta bantuan. Yakin Risa membantuku. Lagi pula tak ada yang sulit baginya. Dia sangat jago dalam urusan ini.
L. 16
Fandi memintaku memasak masakan padang? Tak ada alasan bagiku menolaknya. Sebuah kesempatan membalas kebaikannya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Sayang, ia sudah memiliki calon istri. Tak mungkin aku merebut Fandi dari calon istrinya, karena akan menjadikan perempuan itu hidup seperti Zombie, sepertiku.
Beruntung sekali perempuan itu. Fandi pemuda baik dan mandiri. Tak sepertimu yang cuma obral janji. Seandainya sejak dulu aku mengenalnya, pasti akan lain cerita. Ah, seandainya bukan seandainya.
K. 17
Aku tak sabar menunggu kedatangan tunanganku. Hidupku serasa setengah mati dalam setengah tahun. Apa rambutmu masih tergerai sebahu, dokter? Dokter? Ya! Aku akan menyebutmu Dokter Linda sebagai apresiasi atas selesainya studimu. Jika sudah menikah, aku pasti akan mengubah panggilan itu: memanggil dengan sebutan Sayang. Sementara orang-orang harus memanggilmu dengan sebutan dokter atau nyonya. Ah, sebutan nyonya terlalu meninggikan derajat. Biarlah mereka menyebutmu ibu dokter saja.
L. 16
Malam ini, aku akan membawakanmu segelas anggur bercampur darah pacarmu. Bila perlu, air matamu juga turut kuperas dan kucampurkan agar rasanya nikmat seperti anggur tahun 90-an. Oh, betapa romantisnya. Kita mendentingkan gelas dan bersulam.
Anakku, malam ini aku akan menemui perempuan simpanan ayahmu. Kau harus tahu betapa buruk kelakuannya. Ia tidak hanya menduakan, tetapi menomersekiankan ibumu. Kuharap kau tidak bersedih hati. Kau harus bangga memiliki ibu setegar karang.
Masih ingatkah kau pada ceritanya Om Fandi? Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan!
Perutku serasa bergerak, kendati kutahu, ini hanya perasaanku saja.
K. 17
Sudah setengah satu. Lampunya masih nyala. Apakah Risa belum tidur?
L. 16
Seumur hidup baru pagi ini aku menikmati udara segar. Otot-ototku serasa meregang setelah semalam menegang. Anggur yang kujanjikan sudah siap. Besok, aku akan mengajakmu bersulam. Tetapi, izinkan dulu aku memeras air matamu. Dan, maukah kau setia beberapa menit untuk menunggu anggur itu menjadi dingin di dalam kulkas? Aku berjanji akan melayalanimu tanpa menunggu pintamu, seperti dulu. Akan kubaringkan kau. Setelah itu, hanya kita yang tahu…
Lihatlah anakku, Fandi sedang duduk manis di beranda. Oh. Tidak. Fandi menagis. Apa yang terjadi padanya? Seharusnya ia berbahagia nanti malam akan menyambut calon istrinya. Jangan-jangan pertunangannya gagal.
K. 17
Lindaaaaaa…..!!!
L. 16
Linda? Siapa Linda?
Jember,12 Desember 2013

Sunday, March 23, 2014

Lomba Menulis Surat Cinta


“You know you're in love when you can't fall asleep because reality is finally better than your dreams.” 

Lagi merasakan seperti yang diungkapkan oleh Dr. Seuss tersebut? Kalau iya, jangan disimpan sendiri. Ungkapkan yuk, lewat love letter!

Ada hadiah keren untuk love letter yang terpilih!

Caranya: 

1. Daftar/sign up jadi member di 
www.GADIS.co.id. 
2. Isi profil kamu dengan lengkap. Lengkapi juga dengan nomor telepon (agar kamu bisa dihubungi, bila keluar sebagai pemenang).
3. Masuk ke halaman My Page, klik Blog, kemudian klik Buat Baru.
4. Jangan lupa sebelum mulai menulis cerita, pilih kategori Love Letter Writing Competition.
5. Love letter hanya ditujukan untuk pacar atau gebetan kamu (tidak harus menyebutkan nama pacar atau gebetan tapi diperbolehkan bila ingin disebutkan).
6. Isi love letter maksimal 3 paragraf (di luar kalimat untuk tertuju, misal: Dear Boyfriend…, Kepada Gebetan Tersayang… dan kalimat penutup, seperti: Salam Sayang Selalu, Forever Yours, dan sebagainya. Namun diperbolehkan bila tidak ingin menggunakan kalimat untuk tertuju atau penutup). 

Penilaian:
1. Love letter yang lolos penilaian tahap awal akan ditayangkan di website majalah Gadis.
2. Love letter yang lolos penilaian tahap awal akan melewati proses penilaian lebih lanjut oleh juri yang terdiri dari tim GADIS.
3. Kriteria penilaian terdiri dari keindahan kata-kata yang dituangkan dalam love letter.

Ketentuan:
1. 1 orang boleh menulis lebih dari 1 love letter.
2. Pengumpulan love letter paling lambat 31 Maret 2014, pukul 23.59 WIB.
3. Pemenang akan dihubungi oleh GADIS dan diumumkan di
www.GADIS.co.id.
4. Lomba ini terbuka untuk cewek siswi SMP/SMA dan sederajat.
5. Bagi pemenang yang terbukti bukan siswi SMP/SMA dan sederajat, maka kemenangannya akan dianulir.
6. Pajak hadiah ditanggung pemenang.
7. Apabila hadiah tidak diambil dalam waktu yang ditentukan, maka hadiah akan menjadi milik majalah GADIS.
Keputusan penyelenggara tidak dapat diganggu gugat, tidak diadakan surat menyurat dan hadiah yang diterima tidak dapat dipertukarkan.
8. Sayembara ini tertutup bagi seluruh karyawan Femina Group dan keluarganya.

Menangkan:
1. 1 Roxy JBL On Stage Micro III (Speaker Dock for iPod/iPhone) senilai Rp. 1.550.000,- untuk 1 pemenang terbaik.
2. 10 goodie bag menarik untuk 10 pemenang hiburan.

Pelajaran Randu


(Dimuat di Jurnal Nasional 9 Maret 2014)

Akhir-akhir ini pekerjaan Ibu bertambah. Awalnya tak kusebut pekerjaan, melainkan cuma kebiasaan. Sulit memang membedakan antara pekerjaan dengan kebiasaan. Bukankah pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang? Bukankah kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang pula?

Saban pagi, selalu begitu. Ia duduk mematut sunyi. Bibirnya mengatup rapat, bersenyum pucat. Kedua tangan bertumpu pada lincak bambu dengan bahu bersandar tabing. Matanya sorong pada matahari yang baru mengecup kening bumi. Mata itu baru sedikit teralihkan bila kaki-kaki lurus tegap dengan pacul dan sabit melintas di depannya, di langkan rumah. Ia tidak sadar betapa telapak kakinya merusak rumah undur-undur di kolong lincak.

Mata itu sudah tak sejernih asalnya. Tetapi mata itu masih seperti gravitasi. Mencapit ruang terkecil di suatu masa—yang sebagian orang sudah tak bisa mencapitnya—yang tak kuketahui. Hanya mata laur itu yang tahu. Berbicara dalam sunyi.  Bertutur tentang banyak hal yang miskin kata.

Sementar pagi terus merangkak, kawat jemuran mengular tanpa pakaian basah, mulut tungku masih dingin membisu, beras belum terkeramasi air, panci belum berpisah dengan leteng, butir nasi belum terlepas dari piring. Semua itu korban dari pekerjaan baru Ibu yang harus kukerjakan.

“Semoga hari ini Akang dapat penumpang banyak,” kata Maryamah, tetangga sebelah. Memberi sebungkus bekal mengayuh becak.

Ibu menoleh.

“Kakang berangkat, semoga laku banyak,” kata Rapek, tetangga sebelah, penjual sayur. Menyalami istrinya.

Ibu menoleh.

“Semoga panen padinya banyak,” kata dua lelaki memulai percakapannya. Di depan Ibu.

Ibu mematung.

Tadi malam, welang sangit tanda panen memang memadati dop 5 watt. Orang-orang yang nongkrong di warung Mak Jamil dengan pesanan kopi pahit dan rokok murahan, berbagi kabar tentang hasil panen.
Ibu bukan perempuan yang tak mengerti makna denyar pagi. Bukan pula bagian dari perempuan pemalas sebagaimana yang diterakan dalam sabda-sabdanya sendiri, yang katanya tak boleh kucontoh. Bukan. Perempuan itu adalah Srikandi. Perempuan itu adalah Kartini. Menurutku.

Dua nama pernah melekat padaku sebelum yang terakhir melekat atas nama Duharani: Laila Fajrin dan Aisyatus Siddiqoh. Sejatinya, penulisan yang benar adalah Dhuharani sebagaimana kesesuaian dengan lisan bahasa Arab, namun karena guru SD—yang tak mau disalahkan dengan alasan bahwa dalam bahasa Indonesia penulisan yang benar memang Duha—salah menulis ijazah sampai terpakasa kuikhlaskan huruf  ‘H’ selamanya lenyap.

Aku lahir tepat pada kokok ayam pertama dini hari yang bertaut dengan suara tokek. Namun tangisku pecah ketika gema adzan tiga langgar di kampung selesai.

Sauk dan sakit-sakitan adalah alasan kuat pergantian nama Fajrin ke Dika. Maknanya tak terlalu menyimpang dari tanda kelahirku. Tetapi pergantian itu tak menyelamatkanku dari kondisi kesehatan fisik yang labil.

Duha memiliki makna jauh lebih dalam, kata Ayah, suatu ketika 20 tahun lalu, sebelum menjadi sebaris nisan 17 purnama lalu. Duha simbol kebangkitan, semangat, dan pencerahan. Waktu dimana malaikat menebar rezeki kepada manusia. Momen penting mengarahkan manusia ke mana harus melangkah dan apa yang akan dilakukan selanjutnya.  Duha menjadi waktu sebagai objek sumpah Tuhan.

Penyuka semur keong besusul dan oseng-oseng pakis itu tutup usia setelah pontang-panting dirawat ke sana kemari. Kata dokter kolesterol karena keranjingan semur keong besusul. Aku tak cukup mengerti apa itu kolesterol, apalagi Ibu. Saat itu, di pikiran kami hanya bercokol sekotak ladang untuk dijual demi membiayai kesehatannya.

“Dalam kondisi apa pun, petani sejati pantang menjual tanah. Menjual, berarti menghianati Ibu Pertiwi,“ larangnya. Kami pun tak jadi menjualnya dan membiarkan Ayah sekarat menjelang ajal.

Di mana ada Ibu, di situ Ayah pula. Keduanya memang tak terpisahkan kendati jarak dan waktu sudah sangat jelas berbeda.

Lara! Ya, lara! Mata selalu jujur perihal apa yang ada di dalam hati. Segala yang ada di hati, yang sebenarnya, seperti tersirat dari pandangan mata.

***
Ditinggal tulang punggung keluarga adalah kenyataan yang tidak buruk amat. Buktinya, sampai saat ini aku dan Ibu tetap berdiri tanpa kekar seorang lelaki. Sekotak ladang yang pernah ingin kami jual, dapat digarap dengan baik. Ibu sempurna menjelma Srikandi berdarah Kartini. Aku? Kau Prameswari, permaisuri di rumah ini, kata Ibu.

Pagi berdenyar. Tiga ekor kambing diseret-seret tuannya. Seekor ayam betina berkotek meningkahi perhatian ayam jantan. Ibu membatu di lincak bambu.

“Mari, dibantu,” tukasku.

Setumpuk cucian dalam kantong beras kuserahkan padanya karena di atas kepalaku sudah bercokol sebak peralatan dapur: bajan, panci, piring, cobek, sendok serta kresek isi abu tomang dan sabun colek.

Kami menuruni jalan setapak menuju sebuah mataair di lereng bukit. Sampir motif lorek kembang cengkeh dijinjing setinggi lutut. Lepas pandangan ke barat, hutan sengon terpancang kokoh. Konon, hutan itu merupakan rahim dari kampung ini. Saksi peristiwa hebat, gerilyawan kampung menumpas penjajah.

Hutan itu sekarang menjelma tempat pencarian tambahan. Rerantingan kayu bisa didapat dari sana. Kalau sedang mujur, tak perlu memanggul kayu sampai ke rumah. Lambaian tangan bisa segera meringankan beban di punggung. Tujuh ribu rupiah! Raiblah pegal di badan.

Seberapa jauh jarak terakhir kali Ibu mengais rerantingan di hutan itu, seberapa jauh jaraknya terpental dari rombongan sesama pencari kayu, seberapa jauh pula Ibu menurunkan pandangan pada jalan setapak, tak terbaca sudah. Lama sudah pagi tak terdengar berisik di kandang.

Setiapkali berpapasan dengan Ibu-Ibu yang nongkrong di emperan atau yang lebih dulu naik turun bukit, mata kami selalu ditautkan pada jalan setapak. Barangkali mereka sudah emoh mengeluarkan sepatah kata untuk kami berdua, hingga kata-kata yang hendak mereka keluarkan diwakili oleh mata mata yang memandang sinis: lihatlah kedua perempuan itu! Satunya janda tua, satunya perawan tua. Seperti itu kalau milih-milih lelaki!

“Permisi, ya, Ibu-Ibu. Kami duluan, ” seloroh seorang perempuan yang tiba-tiba nyerobot dari belakang.

Ada yang tertusuk. Nyeri. Tak kubalas tatapannya. Setua itukah aku?

Di atas air menggenang, berguguran daun-daun kering. Alang dan tanaman pakis tumbuh lebat di sekitar pancuran dan di sepanjang sisi selokan. Ikan-ikan kecil mengambang—yang melesat bilamana coba disentuh. Air beriak sepanjang selokan membentuk gugusan kristal.

Aku dan Ibu menepi. Menunggu sepi, menunggu sunyi. Menunggu Ibu-Ibu pergi.

***
Tujuan hidup perempuan berujung pinangan. Itulah alasan kuat teman sebangkuku sudah banyak memiliki dua anak. Besar-besar lagi. Apabila buah dada anak perempuan sudah setumbuh jagung, tugas Ibu adalah mengajari anaknya belajar bersolek diri. Membawa anak gadisnya ke acara perkawinan, khitanan, rokatan, kompolan, dan perayaan desa lainnya. Tentu, tujuan akhir berharap memeroleh lirikan pemuda. Tambah banyak, tambah bangga.

Ibu duduk mematung di emperan. Burung pericit berjibun di pohon Randu. Ibu pernah memetikkan pelajaran berharga untukku dari pohon itu. Pemahaman tentang arti berbagi. Di musim kemarau, ketiadaan air terbatas. Untuk memaksimalkan asupan, daun-daun memilih mengugurkan diri untuk memberi kesempatan putik-putik bunga agar tetap tumbuh mekar pada waktunya.

Begitu pun sebaliknya. Putik-putik itu akan berubah menjadi kapuk yang berterbangan disaup angin—yang kusebut musim salju menyambangi ladang. Melambaikan tangan pergantian waktu selanjutnya.

Aku menarik slot pengunci pintu kayu. Sekantong cucian dengan ikatan rafia merah di bagian ujung kantong. Derak pintu menolehkan pandangannya.

“Duduk dulu, Duk.”

Aku menyipit ke dekatnya.

“Kamu ingin lelaki yang bagaimana? Kau sudah dewasa, kau layak berkeluarga. Lihatlah temanmu sudah punya anak semua.”

Lekas saja aku merasa bersalah. Inikah lara itu? Para lelaki yang datang hanya untuk pergi berjibun di kepala. Lelaki berselempang sarung, lelaki berkumis tebal, lelaki berbulu lebat, lelaki berambut klimis, lelaki dengan mobil T 120, dan entah lelaki mana lagi yang pernah kutolak, sekarang datang lagi. Lelaki dari segala zaman. Di mata Ibu. Ya, di mata Ibu.

“Kenapa nada Ibu menyerah?”

“Lihatlah kata orang: kau perawan tua. Apa kamu tak malu? Apa kamu tak merasa iri melihat perempuan sebayamu sudah menimang anak?”

“Aku belum siap.”

“Dari Ayahmu ada sampai tiada kamu tetap bilang belum siap. Mau sampai kapan bilang begitu?”

Tegurnya tak lebih dari mengiba. Tak ada yang bisa kuperbuat selain diam.

“Lihat! Keningmu, rambutmu, parasmu, dan lekuk tubuhmu jelas usia telah memakannya. Kalau saja dulu Kakang tak pernah mengatakan jangan terlalu memaksakan kehendak, mungkin sudah kau kucarikan jodoh sendiri.”

Aku tercekat.

“Kemarin, Mad Jali datang kemari membawa sekarung beras. Ia mengutarakan niatnya meminangku menjadi istrinya. Setua apa pun manusia pasti membutuhkan pasangan hidup, termasuk Ibu. Tapi Ibu menolak. Sebagai ganti kecewa, kuberikan tawaran lain. Denganmu.”

Aku tercengang. Ingatan tertubruk pada sekarung beras di pilar dapur yang sempat kupertanyakan dalam hati.

“Demi Ibu, terimalah lamaran itu,” suaranya mengecil namun serak.

Bagaimana mungkin aku menerima lamaran itu, sementara garis seorang istri tidak boleh tidak harus siap diboyong suami dari rumah asalnya, tanpa pesangon apa pun. Bila cuma tanpa pesangon, tak masalah. Tetapi kebahagiaan yang Ibu pinta akan melapukkannya sendiri di usia senja. Hidup sendiri.

“Aku belum siap,” sanggahku.

“Sampai kapan?”

“Entah. Selamanya mungkin.”

Mataku saling bertumbuk dengan mata yang sudah tak kuat menahan genangan di ceruknya. Sadar tidak kuat bersitatap lama dengannya, pohon Randu menjadi pengalihan menghindari mata itu. Seperti pohon Randu, tujuanku sudah kutemukan, dan Ibu sendiri membantuku menemukannya. (*)

Jember, 07 Desember 2013

Sunday, March 16, 2014

Mengejar Mimpi: Makna Dibalik Air Mata


Tulisan ini bagi Anda barangkali hanya cerita sederhana dan sangat biasa. Namun, bagi saya sungguh luar biasa. Cerita ini tentang seorang anak-anak yang bersama-sama menerbangkan mimpi ke angkasa.
Sabtu, 15 Maret 2014. Ketika pagi beranjak menjadi siang, saya masuk ke kelas IX MTs Nurul Mannan. Saat itu, posisi saya sebagai guru piket menggantikan Pak Siswanto, guru IPS yang sedang kurang enak badan.

Sesampai di ruang kelas, saya tak menaikkan pelajaran. Saya hanya memberikan beberapa informasi seputar Ujiian Akhir Madrasah (UAM) yang akan dilaksanakan pada Senin mendatang selama seminggu (17 – 22 Maret 2014).

Selesai memberikan beberapa informasi seputar UAM, saya melihat pergantian jam pelajaran masih tinggal 30 menit. Agar waktu tersebut tidak terbuang percuma, saya isi dengan sebuah game atau permainan. Ya, lumayan sebagai refreshing diri menjelang persiapan UAM.

Game yang saya mainkan sangat sederhana. Di papan tulis, saya menulis dua kata yang semuanya saya tulis kapital: MENGEJAR MIMPI.

Selesai menulis dua kata tersebut, saya tak menerangkan aturan mainnya. Biarlah mereka penasaran terlebih dahulu. Bukankah rasa penasaran akan mendorong menuntaskan rasa keingintahuan?

Saya langsung menyuruh ke-16 siswa tersebut untuk menyiapkan selembar kertas. Sebagian ada yang bertanya, untuk apa? Namun saya tak merespon. Kemudian saya suruh mereka menulis mimpi mereka di selembar kertas tersebut. MIMPI YANG SANGAT DIIMPIKAN. Mimpi apa saja: keinginan, harapan, bahkan cita-cita. Mimpi jangka panjang ataupun mimpi jangka pendek. Terserah. Yang terpenting MIMPI YANG SANGAT DIIMPIKAN.

Mimpi jangka pendek yang saya maksudkan adalah hal-hal atau mimpi yang relatif singkat. Misal, saya ingin makan bakso sebesar bola sepak, saya ingin mandi sepulang sekolah, dll. Mimpi jangka panjang yang saya maksudkan di sini adalah keinginan yang bisa dikatakan lebih mengarah kepada cita-cita.

Mereka mulai menulis....

Selesai menulis mimpi, saya menyuruh mereka untuk melipat kertas tersebut menjadi pesawat kertas. Dan kali ini saya masuk pada aturan mainnya:

1.  Semua siswa wajib menerbangkan pesawat kertas tersebut secara bersamaan.
2. Setelah pesawat diterbangkan, masing-masing siswa harus segera mengejar pesawat tersebut dan mencari pesawatnya sendiri. (Inilah kenapa sebelumnya saya tidak menyuruh mereka mencantumkan nama pada selembar kertas tersebut)
3. Apabila pesawat kertas yang menerbangkan mimpi mereka masing-masing sudah ditemukan, saya menyuruh mereka segera menyetorkan pesawat tersebut kepada saya.
4. Dua siswa yang menemukan mimpinya pertama kali, saya beri hadiah Tabanas sebesar seribu rupiah. Hehehe....

Ternyata, “tabanas” yang saya berikan cukup memacu semangat berkompetisi. Saya ajak mereka ke luar kelas, berbaris di bibir lantai 2, siap-siap menerbangkan mimpi mereka masing-masing.

SATU.... DUA...TIGAAAAAAA...! Mimpi mereka terbang! Melesat ke angkasa....!!!!!

Selesai menerbangkan mimpi, mereka langsung ke lantai satu untuk mencari mimpi yang sudah landing. Semangat mereka untuk menemukan mimpi itu sungguh luar biasa. Mereka berdesak-desakan menuruni anak tangga untuk segera meraih kembali mimpi tersebut. Dari titik ini, saya menaruh harapan betapa kelak saya ingin semangat mereka meraih mimpi sama seperti mengejar pesawat kertas yang membawa mimpi-mimpi itu terbang tinggi dan menemukan mimpi itu kembali.

Dua siswa pertama kembali naik ke lantai 2. Memberikan mimpinya yang sudah di genggaman. Sementara yang lain, dari lantai 2 saya lihat masih sibuk mencari mimpi-mimpi yang bersarakan itu.

Setelah dari masing-masing menemukan mimpinya, saya menyuruh mereka membuka pesawat kertas tersebut dan memastikan bahwa yang dibuka adalah mimpinya sendiri. Semuanya kompak mengatakan sudah benar.

Oke. Tumpukan kertas itu (bukan lagi pesawat kertas) sudah ada di genggaman saya. Saya melatih kejujuran mereka: mengakui satu persatu mimpi yang saya baca dan selesai membaca, saya angkat kertas tersebut.

Kertas pertama bertuliskan: AKU INGIN BERTEMU NENEK. AKU INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANGTUAKU.

Saya bertanya, milik siapakah mimpi ini? Tak ada yang mau mengaku. Saya lanjutkan saja pada mimpi yang kedua dan mimpi-mimpi yang lain. Semua lancar-lancar saja. Saya baca mimpi itu, saya angkat kertas itu, salah seorang dari mereka ada yang mengakui bahwa itu aadalah mimpinya. Begitu seterusnya.

Bermacam-macam mimpi itu: ada yang ingin jadi guru, ada yang ingin jadi polisi, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin menghajikan kedua orang tua, sampai ada yang ingin menjadi cowok playboy. Oalah.....

Kini, di tangan saya tinggal selembar kertas tadi. Selembar kertas yang, sekali lagi saya sebut: AKU INGIN BERTEMU NENEK. AKU INGIN MEMBAHAGIAKAN ORANGTUAKU.

Sejenak, saya menyelami makna kalimat di atas. Kalimat yang sungguh menyimpan misteri (untuk tidak saya katakan sebagai konflik batin) yang membuat si penulis mimpi itu tak mau mengakui mimpinya. Si penulis mimpi seperti ingin menutupi misteri itu kepada orang lain. Namun, ternyata penulis itu tak kuat menyimpannya sendirian sehingga mereka menumpahkannya ke dalam sebuah tulisan. Pada titik ini, saya kembali menemukan pembelajaran betapa tulisan bisa pula melegakan beban pikiran ketika diri pribadi sudah tidak mampu berbagi beban tersebut dengan orang lain.

Selanjutnya, saya menuruh mereka mengangkat kertas masing-masing. Kini saya tahu, hanya satu siswa yang tidak memegang mimpinya. Saya bertanya: apakah yang ada di tangan ini adalam mimpimu? Ia menggeleng.
Saya tanya lagi, ia menggeleng.

Saya tanya sekali lagi, ia tetap tak mengaku meskipun air mata yang mengalir dari kedua pelupum matanya sudah mewakili perasaan yang sangat sulit untuk diungkapkan.

Semua sorot mata tertuju pada air matanya. Saya sebenarnya tak tahu harus berbuat apa, namun saya berusaha untuk menetralisasi keadaan dengan memberikan motivasi bahwa mimpi itu harus segera dikejar, apapun resikonya. Sejauh apapun. Saya kembali mengulang memori, bagaimana mereka tadi berlari mengejar pesawat kertas itu. Berdesak-desakan menuruni anak lantai tanpa memikirkan kemungkinan jatuh dari anak tangga hanya sekedar ingin segera menemukan mimpi mereka.

Saya nobatkan siswa dengan mimpi yang ingin bertemu neneknya dan ingin membahagiakan orangtuanya tersebut menjadi pemenang dalam permainan MENGEJAR MIMPI. Ia telah jujur sejujur-jujurnya menulis mimpi yang sangat ingin ia kejar di selembar kertas itu. Karena permainan ini sejatinya adalah permainan melatih kejujuran.

Saat kuberikan tabanas tersebut, tanpa komando, mereka bertepuk tangan.