Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 23 November 2014
Putik kemboja
mekar. Aromanya menggoda. Arini menemukan kesempurnaan pada putik itu. Sesekali ia memejamkan mata dan menghirup
udara sedalam perasaannya. Taman kemboja di belakang rumah cukup nyaman menemani masa lapuk hidup di usia senja yang melelahkan.
Kerut
di bibirnya bergerak samar. Tangannya
lembut menyentuh dan mengusap daun-daun. Arini sudah berjanji pada dirinya betapa ia tak akan bermimpi, karena bermimpi
di usia senja hanya membuang percuma waktu yang tersisa. Bernonstalgia
dengan kenangan lebih baik, desisnya.
Hidup di usia senja adalah masa yang
sulit: kulit mengeriput dan tenaga menyesak di dada. Apabila dipaksa, bukan
otot-otot yang bergerak dinamis, melainkan dada yang kembang kempis. Itulah kenapa
ia tidak mau bermimpi.
Putik
kemboja itu menjadi semacam cermin
hidup untuknya: dunia yang terlewati dan dunia yang masih akan
dilewati. Ia banyak diam. Kalau harus bercakap-cakap, tentu lawan cakap yang
dipilih adalah bunga dengan kelopak merah kesumba serupa warna gincu perempuan.
Ibu tiga anak
itu betah
berlama-lama di pekarangan seluas 45 meter itu. Di sudut bagian timur daya laut ada kursi
panjang dengan garis-garis kecil pada bentangannya. Ukiran kepala naga di ujung sisi tempat
punggung bersandar. Motif bunga berpita terbingkai pada lekuk pegangan tangan.
Memandangi
kursi itu, Arini ingat tiga anaknya: Akbar, Nuril, dan Taris. Akbar dan Nuril tak lebih
perhatian dibanding kepada
keluarganya. Sebulan sekali, kadang lebih, Akbar menjenguk. Hanya pada akhir tahun istri dan anaknya dibawa. Nuril lebih parah. Perempuan yang disunting
seorang tentara itu jarang pulang menjenguk Arini. Perempuan dengan alis tebal itu sering berpindah kota mengikuti laras panjang suaminnya
dipindahtugaskan. Nuril lebih sering bertanya kabar melalui seluler ketimbang
datang, memeluk, dan mencium tangan Arini.
Arini tinggal bersama Taris. Namun, Taris
tampak lebih mencintai profesinya sebagai wartawan di majalah wanita mingguan. Perempuan
dengan banyak koleksi tahi lalat di wajahnya itu sering keluar hunting berita.
Pada akhir pekan, ia memilih cangkruan bersama
teman-temannya atau mengurung diri di kamar. Arini cukup memaklumi, tidak mungkin usia muda Taris hanya diisi kegiatan rumah. Arini tidak mau
membebani gadis semuda dan secantik Taris dengan segala kerumitannya.
Arini
merindukan ketiga anaknya duduk dalam satu meja panjang, menyantap hidangan
bersama-sama. Tetapi mereka sudah memiliki keluarga sendiri. Arini pun tidak meminta yang macam-macam. Ia
cuma membayangkan satu hal, seandainya salah satu dari mereka ada yang memerhatikan layaknya perhatian ibu kepada anak, tentu sudah
lebih dari cukup.
Tetapi ia tak
menggantung harap setinggi perasaaannya. Bukan kasih ibu sepanjang masa dan kasih
anak sepanjang galah?
Kadang Arini teringat masa mudanya
menjadi seorang
ibu yang
merawat dan menjaga anaknya penuh kasih sayang. Ketika rewel dan menangis, ia bersigegas
ke dokter, memeriksa
apakah anaknya sakit. Ketika ngompol, ia bersigegas membersihkan dan mengganti popoknya.
Ketika anaknya bisa menunjuk-nunjuk tanpa harus
berbicara,
bukan main kebahagiaannya.
Namun, ketika semuanya sudah dewasa, Arini
berpikir betapa diam kadang lebih berharga ketimbang bercakap-cakap.
“Kenapa harus kemboja?” tanya Taris,
suatu kali pertama ia menitipkan bunga kemboja.
Arini menjangkau noktah di masa lalu. Saat dirinya masih sepantaran
dengan gadis bermata agak sipit itu. Usia boleh menggerogoti tulang-belulang,
tetapi ingatan tentang kemboja yang menjadi bingkai di atas bingkisan kue
cokelat tak bisa lupa begitu saja. Sekuntum kemboja yang memperkenalkannya pada
cinta pertama sekaligus cintanya yang terakhir.
Cerita romantis mengalir dari gerak bibir yang tak beraturan itu.
***
Sesaat Arini melihat sekeliling. Ia tidak tahu berapa lama tak sadarkan diri dan terbujur di atas ranjang. Hidungnya dicucuk
selang infus. Interior yang didominasi warna putih mengingatkannya pada sekuntum
kemboja di teras rumah.
“Kemboja. Di mana kemboja?”
Nuril, yang mendapat giliran menjaga
mencoba menangkannya.
“Kemboja? Kemboja apa?”
“Kemboja. Di mana kemboja?”
Nuril terhenyak dan panik. Ia membaca kemboja sebagai suatu pertanda yang tidak mengenakkan.
Bukankah bunga itu identik dengan kembang kuburan?
Nuril merasakan adrenalin berpacu lebih
cepat. Ia segera memencet tombol merah. Jantungnya
berdetak tersaup udara dingin. Perasaannya sangat rapuh bila berhadapan dengan
kematian. Nuril keluar. Mengambil ponsel. Menghubungi Akbar dan Taris untuk segera
datang.
“Aku melihat tanda-tanda,” jelas Nuril.
Selesai diperiksa, dokter mengatakan
paru-paru Arini belum
bekerja dengan baik. Jantungnya masih lemah. Pikirannya tampak kacau. Ia
menyarankan Nuril membeli karangan kemboja.
“Untuk apa?”
“Kemboja bisa menjadi obat terapi
untuknya. Ia sangat suka dengan bunga itu.”
“Kenapa harus kemboja?”
“Ketenangan adalah obat paling mujarab
bagi pikiran yang kacau. Ketenangan hadir dari kenyamanan. Ibu Anda tampaknya merasa
nyaman dengan kemboja. Yah, barangkali Ibu Anda memiliki banyak kenangan dengan
bunga itu.”
Nuril baru tahu jika ibunya sangat menyukai kemboja. Ia lekas menghubungi Akbar untuk
menyempatkan diri membeli bunga sesuai saran dokter.
Seluruh anak, menantu, dan cucunya
datang menjenguk. Dalam kondisi yang sulit bergerak,
Arini menatap semringah. Ia tidak ingat kapan
terakhir kali anak dan cucunya berkumpul bersama. Aroma kemboja menyesaki
ruangan yang serba putih itu.
Seikat kemboja
sudah tergenggam di tangan Arini. Ketika ujung hidungnya menyentuh kelopak berwarna merah
kesumba itu, Arini merasakan satu
kecupan hangat di keningnya. Kecupan seorang suami yang sudah meninggal tujuh tahun
lalu.
Kecupan hangat
itu membawanya pada saat kain kebaya tergerai dengan kemboja yang melingkar di leher
serta tuntunan tangan hangat seorang lelaki yang membawanya duduk di atas pelaminan. Ia memeluk karangan
kemboja dan menciumnya kembali. Berulang. Selalu berulang. Tampaknya Arini
menemukan
jawaban yang pas seperti apa kematian yang indah
untuk dirinya.
Akbar memarahi Taris. Ia menilai
Taris lalai
menjaga kesehatan Arini. Taris mengelak. Justru ia menanyakan seberapa sering
kakaknya datang menjenguk.
Sebuah pertanyaan yang membuat muka Akbar merasa tertampar dan Taris merasa
menang.
“Aku tidak apa-apa. Tak perlu cemas,” tukas Arini menengahi. Ada air di ceruk mata Nuril. Akbar mematung. Taris
memijit-mijit kaki ibunya.
“Lihat bunga ini. Bunga yang selalu menemani manusia dalam kondisi apapun. Pahit-manis, suka-duka. Bunga ini memperkenalkan Ibu pada cinta
pertama sekaligus cinta terakhir. Ketika usia Ibu memasuki tujuh belas tahun, Ayahmu
menghadiahkan kue cokelat dengan bingkai kemboja di atasnya.”
Arini mengatur nafas. Mengatur kerja paru-parunya.
“Empat tahun berikutnya, kemboja ini kembali menemani Ibu. Ia tidak lagi
terbingkai di atas bingkisan kue cokelat dengan satu warna dan satu kelopak.
Kemboja ini menjadi hiasan pengantin Ibu. Kemboja yang menuntun Ibu menuju
hidup baru.”
Ada yang mengalir di mata Nuril dan Taris.
Akbar tampak menyelami makna kemboja di mata Arini.
“Saat perasaan Ibu jatuh karena
kehilangan Ayah kalian, kemboja ini tetap menemani Ibu. Bersama mengantar Ayah kalian menuju pembaringan panjang. Sebuah kehidupan yang tak mungkin
lagi bisa Ibu kejar, kecuali menunggu giliran panggilan Sang Pemberi
Cinta.
Bunga ini menjadi penyampai rindu. Setiap hari, Ibu menyempatkan diri menabur
kemboja di atas tanah pekuburannya sebagai abdi seorang istri.” Arini menyeka air mata ketika ada ceruk yang menggenang.
Akbar keluar. Sebagai lelaki, ia
tidak ingin tampak cengeng di depan kedua adiknya. Soal perasaan, tiada lelaki
dan perempuan, semua
sama. Hanya saja menangis di depan perempuan seakan tak layak bagi
seorang lelaki.
Senja turun perlahan.
***
Turun dari
mobil, Arini tidak diperbolehkan oleh anak-cucunya membuka mata sebelum mereka
mengizinkan membukanya. Sesampai di depan rumah, Arini diperbolehkan membuka matanya. Tampaklah kemboja berjejel di sepanjang teras rumah.
“Hadiah dari Akbar,”
tukas Akbar.
Taris mendorong
kursi roda Arini menuju kamar. Di tempat biasa Arini merapikan rambut, seikat
kemboja terpantul di depan cermin. Satu lagi, Arini menemukannya lagi di atas
laci. Gorden jendela kamar juga bermotif kemboja.
“Hadiah dari Nuril.
Aku harap Ibu menyukainya,” kata Nuril.
Hari pertama di
rumah, Arini tak ingin melewatinya hanya dengan istirahat. Ia rindu aura rumah
yang lama ditinggalkannya. Arini memutar kursi roda ke jendela. Ia sibak
gorden. Angin menyentuh pipinya. Lembut.
“Hadiah dari Taris,”
kata Taris di belakangnya.
Di bingkai
jendela, Arini melihat sebuah taman mini yang dipenuhi aneka jenis kemboja.
Sebetulnya ia ingin mengatakan betapa yang diberikan kepadanya sungguh
berlebihan. Ia tak membutuhkan apa-apa selain kebersamaan, seperti
saat ini.
***
Pagi
belum bermata. Bening embun di ujung daun masih berjibun. Kesunyian menudungi mata Arini. Suara-suara itu kembali menjauh dari pendengarannya. Nuril
kembali ke NTB. Akbar kembali ke Bandung. Sebagai anak yang tampak peduli, mereka
menitip pesan: jaga kesehatan Ibu. Sementara Taris tambah sulit mencari jalan pulang
dengan kamera barunya.
Arini memunyai hak
mengatur mereka. Tetapi ia tahu, memaksakan kehendak hanya memasungkan
perasaan dan menimbulkan nyeri di ulu hati. Ia menyorongkan wajah pada sekuntum kemboja. Matanya menatap
dalam. Bibirnya terkatup rapat. Sampai di situ Arini menjelma menjadi perempuan bisu. Bercakap-cakap hanya
dengan isyarat pandang yang dalam. Sungguh, Arini ingin menjadi
sekuntum kemboja. Pilihan yang indah untuk dirinya.
Jember, 13 November 2014
0 comments:
Post a Comment