Saturday, June 29, 2013

Bayi Ke Tujuh


(Cerpen Lan Fang, 08 Juli 2006)

"NYONYA Lan Fang, selamat pagi! Bayinya cantik sekali," seorang perawat masuk sambil mendorong boks bayi kecil dari kaca dan meletakkannya di sampingku. "Kalau kondisi Nyonya sudah lebih nyaman, apakah hendak menyusui bayinya?" tanyanya sambil membuka jendela.
"Suster, orang itukah yang merawat taman di rumah sakit ini?" tanyaku ketika melihat seorang laki-laki yang sedang memangkas rumpun bougenvile di halaman taman.
"Ini anak yang keberapa, Nyonya?"
"Sampai jam berapa ia bekerja?"
"Suami Nyonya tentu sangat senang mendapatkan bayi secantik ini."
"Suster, bisakah bayi itu dibawa keluar?" akhirnya aku menukas dengan kesal.
"Tapi ini waktunya ia menyusu."
"Beri saja susu formula. Saya sedang ingin menikmati taman itu."
"Ng..."
"Saya yakin kalau perawat-perawat di rumah sakit ini bisa merawat bayi itu dengan baik," tandasku.
Kali ini ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia mendorong boks bayi itu keluar dari kamarku. Sedikit rasa pening dan rasa sakit di bagian bawah perutku, membuatku teringat bahwa empat hari yang lalu aku telah melahirkan bayiku melalui operasi caesar. Sebetulnya, ini adalah rasa pening dan rasa sakit yang sudah kesekian kalinya kualami, sehingga seharusnya tidak perlu lagi kurasakan. Bukankah rasa ini yang setiap kali kurasakan sehabis melahirkan bayi-bayiku?
Ini adalah kelahiran bayiku yang ketujuh!
Aku menikah pada usiaku yang kedua puluh tahun. Usia suamiku terpaut tujuh tahun denganku. Ia mengantongi sarjana komputer dan bisnis keuangan dari Amerika. Dalam usianya yang muda, orang tuanya sudah mempercayainya untuk menjalankan sebagian dari roda bisnis perusahaan yang membiak besar. Bisa kukatakan, suamiku adalah laki-laki ideal impian para gadis. Entah aku kejatuhan bulan dari mana ketika keluarga besar mereka memilihku menjadi istri laki-laki itu.
Aku tahu bahwa keluarga besar mertuaku masih sangat kolot memegang tradisi. Mereka tidak sembarangan memilih menantu. Kalau cuma sekadar mencari gadis cantik, kaya atau berpendidikan tinggi, pasti mereka bisa mencari gadis lain yang jauh melebihiku. Ditilik dari segala segi, aku hanyalah kontestan yang tidak diunggulkan menang dalam perebutan posisi menjadi menantu di keluarga itu. Bahkan sangat dimungkinkan aku tereliminasi di babak-babak awal.
Tetapi ternyata mereka memilihku! Sudah tentu aku mau!
Dan point kemenangan itu adalah aku dilahirkan pada hari, bulan, tahun, waktu yang bagus. Berdasarkan feng shui , shio ku cocok dengan shio suamiku. Setelah semua aspek dihitung oleh calon mertua perempuanku, diantara semua gadis yang dicalonkan, akulah yang akan membawa nasib keberuntungan, harmonis, umur panjang dan banyak anak...
Banyak anak... banyak anak...banyak anak...
Dua kata itu mendengung seperti bunyi sekumpulan tawon yang menyerang telingaku. Aku memang sudah melahirkan banyak anak untuk suamiku. Enam anak! Apa kurang banyak?
Sakitku terasa menjadi-jadi. Bukan saja pening, tetapi kepalaku seakan meledak dibombardir bom nuklir. Otakku seperti milk shake yang terkocok-kocok. Batok kepalaku seperti sudah menjadi serpihan kaca pecah. Masih ditambah payudaraku yang bengkak membatu karena air susu yang mendesak-desak. Membuat sakitnya terasa menjalar sampai ke ketiak. Bagian bawah perutku memilin-milin mengembalikan rahim yang membesar agar menciut kembali. Kulit perut yang menggelambir seperti leher sapi dengan guratan-guratannya. Ketika aku miring ke kiri, seonggok kulit itu pun ikut menumpuk ke kiri. Kalau aku miring ke kanan, onggokan kulit itu juga ngeloyor ke kanan. Kalau aku telentang, kulit lembek yang kisut itu melebar di seluruh area perut.
Sebetulnya kondisi ini juga bukan masalah.
Seperti yang sudah-sudah, sehabis masa empat puluh hari bersalinku, aku akan menghabiskan banyak waktuku di salon untuk menjalani program perampingan dan pembentukan tubuh lagi. Lemak-lemak di seputar lengan, paha, punggung dan perut akan disedot. Payudara akan dibentuk agar kencang kembali. Aku akan menjalani diet ketat. Juga senam aerobic untuk mengencangkan otot-otot yang kendor.
Lalu...simsalabim!
Tubuhku kembali seperti patung pahatan seniman Bali. Kembali menjadi tubuh sempurna yang memamerkan kemolekan perut rata dan dada kencang. Untuk mengurus bayi pun aku tidak perlu pusing. Karena bayiku langsung menempati kamar sendiri yang lengkap dengan bed set dengan gambar kartun, dinding ber-wall paper, susu formula yang paling mahal, dan seorang baby sitter yang akan menjaganya dua puluh empat jam.
Aku tidak perlu cemas dengan biaya hidup atau biaya sekolah anak-anakku. Dengan kekayaan yang dimiliki suamiku, semua makanan lezat, permen, gula-gula dan ice cream, selalu saja tersedia. Bukan pula suatu yang sulit untuk membelikan baju dan mainan untuk memenuhi lemari keenam putriku. Di kemudian hari, juga bukan hal yang aneh bila putri-putriku bersekolah ke luar negeri. Jadi, melahirkan banyak anak, sama sekali bukan masalah bagi suamiku atau mertuaku.
Beberapa bulan kemudian setelah aku melahirkan anak yang ke sekian – yang ternyata anak perempuan lagi, mertua perempuanku mulai mencekoki aku dengan jamu dan ramuan penyubur kandungan. Kadang-kadang aku bertanya, apakah aku kurang subur? Bukankah aku sudah memberikan cukup banyak cucu untuknya?
"Tetapi belum ada cucu laki-laki," begitu jawabnya tenang seakan-akan aku adalah cetakan puding agar-agar jelly. Di mana ia mengaduk sebungkus agar-agar jelly dengan gula pasir dijerang di dalam panci, lalu setelah mendidih ia menuangkan ke dalam cetakan plastik yang berbentuk aneka rupa.
Aku ingin sekali mengatakan kepada mertuaku, aku sudah capek menjadi cetakan puding agar-agar jelly. Aku capek melahirkan. Aku bosan gembrot dengan perut membusung, kaki membengkak, berjalan terseok-seok, mengejan atau menjalani operasi caesar, lalu kembali dengan kulit perut menggelambir seperti celana jeans yang harus dipermak.
"Kamu menantu tertua di keluarga ini. Coba lihat, ipar-ipar perempuanmu semua sudah memberikan cucu laki-laki. Masa kamu tidak bisa? Padahal hokky mu bagus. Kamu harus mempunyai anak laki-laki yang meneruskan warisan perusahaan dan menyambung marga," begitu mertuaku bersikeras dengan nada menyalahkan. Lalu apakah aku harus mengatakan kepadanya bahwa secara teori kedokteran, jenis kelamin bayi ditentukan dari khromosom Y yang dibawa spermatozoa anak laki-lakinya pada saat pembuahan? Bukankah sel telur ovum perempuan hanya mengandung khromosom XX? Jadi bukan kesalahanku kalau aku terus menerus melahirkan anak perempuan. Walau pun aku bukan mahasiswa kedokteran dan kebanyakan nilai ujianku hanya standar C saja, tetapi aku tidak terlalu bodoh untuk mengingat pelajaran biologi.
"Lebih baik kita ke dokter saja," begitu kataku kepada suamiku. "Kita menjalani proses inseminasi saja, kalau perlu bayi tabung sekalian. Pilih semua khromosom Y dari spermatozoa-mu, agar semua menjadi bayi laki-laki."
Aku sudah tidak tahan lagi menjadi cetakan puding agar-agar jelly. Seharusnya suamiku yang lulusan luar negeri itu bisa menerima pendapatku. Setidaknya ia bisa membelaku di hadapan mamanya bila aku yang disalahkan karena terus menerus melahirkan anak perempuan.
"Ke dokter?! Hanya untuk membuat bayi laki-laki saja kita harus ke dokter?! Lalu orang tuaku dan saudara-saudaraku semua akan tahu bahwa aku yang tidak mampu memberi bayi laki-laki! Begitu?! Gimana sih kamu? Yang benar saja. Itu akan mempermalukan aku, tahu?!" suamiku malah mengomel panjang lebar kepadaku.
"Kalau begitu kita tidak usah mempunyai anak lagi. Kita sudah punya enam anak!"
"Enam anak perempuan!" tandasnya. "Semua saudaraku memiliki anak laki-laki. Sudah seharusnya kita mempunyai anak laki-laki juga."
"Lalu?"
Lalu ketika suamiku mencumbuku untuk calon bayi laki-laki lagi, kusuruh ia memadamkan lampu. Bukan karena aku merasa minder dengan bentuk tubuhku yang sudah mengalami permak berkali-kali. Tetapi karena aku merasa ini bukan kegiatan bercinta lagi yang membutuhkan sarana untuk saling memandang pancaran ekspresi dari pasangannya. Ini hanya sekadar aktivitas pembibitan seperti ayam betina petelor, seperti oven kue bolu, atau seperti injection moulding machine di pabrik plastik yang menghasilkan gayung yang sudah diproses melalui moulding dari biji-biji plastik.
Dan hamillah aku untuk yang ketujuh kali!
"Banyak anak itu banyak rezeki. Apalagi kalau banyak anak laki-laki. Sepertinya kali ini kamu mengandung anak laki-laki," kata shinhe yang memberikan obat penyubur. Mama juga sudah bertanya kepada suhu yang menghitung feng shui, berdasarkan perhitungannya, kali ini adalah anak laki-laki.
"Lalu bentuk perutmu juga kelihatan berbeda. Tidak bundar seperti biasanya. Kalau perutnya sedikit lancip, itu tandanya bayi laki-laki," mertuaku sudah sibuk sejak bulan pertama kandunganku.
Ia menyuruhku memakan tim ayam, madu, kacang hijau, sop buntut, dan semua makanan yang bergizi setiap hari. Juga ramuan jamu Cina yang membuatku semakin muntah karena pahit dan getir. Ia bahkan melarangku makan rawon dan kecap agar bayiku tidak sehitam kuah rawon dan kecap. Ia menyuruhku memperbanyak makan telor dan susu, agar bayiku seputih dan sehalus telor dan susu.
Dia membuatku merasa lebih cemas sampai semakin lemas. Aku waswas sekali kalau bayi yang kukandung lagi-lagi perempuan. Rasa takut dan khawatir itu membuat kehamilanku kali ini sangat rewel. Aku sering muntah, mual dan pening. Sebetulnya itu adalah gejala biasa yang dialami orang hamil. Tetapi karena rasa yang menghantuiku sangat mencekam, maka segalanya menjadi tidak nyaman. Aku jadi malas merapikan diriku karena tahu bahwa akan sama saja seperti waktu-waktu terdahulu.
Ketika aku berkaca, maka yang tampak di pantulan kaca itu adalah sesosok tukang sihir. Aku kelihatan lebih tua dua puluh tahun, kulit wajah yang lusuh, pori-pori wajah yang berminyak, mulut cemberut, lingkaran mata yang cekung, sinar mata suram dan rambut kusut masai ditambah perut yang kian hari kian membuncit.
"Itu tanda-tanda mengandung anak laki-laki. Kalau mamanya tambah cantik, biasanya mengandung anak perempuan. Tetapi kalau mamanya tambah jelek maka ia mengandung anak laki-laki," mertuaku berteori.
Itu adalah teori mertuaku! Tetapi kenyataan bisa berbeda dengan teori.
* * *
AKU memicingkan mata bukan saja karena silau terkena sinar matahari yang pecah ketika berjingkat-jingkat menerobos bingkai jendela kamar. Tetapi lebih banyak karena merasa seluruh ruang berputar-putar naik turun seperti roal coaster.
Aku memencet bel berulang-ulang dan seorang perawat masuk tergopoh-gopoh.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanyanya.
"Saya tidak mau dijenguk siapa pun. Termasuk mertua dan suami saya!"***
(Surabaya, 11.05.2006, 00.15 WIB)

0 comments: