Saturday, November 10, 2012

Bau Busuk Dalam Sumur

Cerpen Fandrik Ahmad
(Dimuat di Lampung Post, 11 November 2012)
Di matanya, nasi putih yang tersaji di atas lincak, kosong tanpa rasa. Nyeri yang timbul dari salah satu bagian otot pahanya yang terputus membuat selera makannya tak kunjung datang. Hanya duduk miring-miring di sisi lincak. Sedikit-sedikit meringis sakit bila sebagian tubuhnya digerakkan. Maka sebenarnya, kendati hanya paha kaki bagian kiri yang bengkak, perasaan sakit akan menjalar, terpusat di situ. Geliatnya tak ubahnya sebuah ekspresi manusia yang sudah bosan menjalani hidup.
Namanya Salim. Ia acapkali mengutuk kecerobohan Parjo, patner kerjanya. Mengatai tak becus bekerja sampai mengatai memang sengaja ingin mencelakainya. Suatu hari, saat hendak menyudahi pekerjaan menggali sumur milik Nyai Tomang, lelaki dekil 20 tahun itu tak cekat meraih ember dan parang ketika diarit sehingga ember yang digunakan untuk mengarit tanah ke permukaan dan parang yang sudah tumpul ujungnya untuk merapikan sisi bundaran sumur, nyemplung kembali mengenai dirinya yang masih berada di dalam sumur itu.
Si istri menghampiri. Menyodorkan sambal sisa kemarin pagi yang sudah digoreng lagi. Salim tetap tak berselera meski di atas lincak itu tersedia terong rebuskesukaannyamenggoda. Ikan asin pun juga gagal memancing selera makannya.
“Dimakan, Pak. Mumpung masih hangat. Kapan mau cepat sembuh kalau terus begitu,” tukas istrinya.
“Bentar saja. Belum lapar,” Salim meninggalkannya sendirian di lincak. Seperti menyeret beban hidup, ia bergegas ke beranda sembari menyeret kakinya yang tak pernah berhenti ngilu dan kesemutan, seakan ada tumpukan ulat berpesta dalam bengkak luka yang tak kunjung tertutup dan kering. Di luar, matahari menghanguskan halaman. Sesekali pandangan dikacaukan angin yang menghempaskan debu.
Tangannya mengepal bersandarkan tiang bambu. Kedua alisnya mengerut hampir bersatu membentuk kepak sayap elang yang tengah menukik menemui mangsa. Angin tenggara membarakan amarahnya. Sudah diputuskan kalau Parjo akan di-PHK dari daftar patner kerja. Toh, kehilangan Parjo bukan perkara memusingkan. Masih ada Dulla, Saini, Ropil, atau yang lain yang bisa diajak. Intinya tidak dengan Parjo!
Warga kampung dan yang setetanggaan dengan kampungnya merasa berbela sungkawa berselimut cemas atas musibah itu. Pasalnya, kala mereka bergantian menjenguk Salim, kerapkali ia membuat pernyataan untuk berhenti menggali sumur. Tentu akan menjadi mimpi buruk apabila Salim berhenti. Siapa yang akan memberikan kehidupan di kampung itu selain dirinya? Siapa yang akan memberikan sumber mata air selain dirinya? Hanya ia yang bersedia menjadi tukang gali sumur, semua merasa gengsi. Lebih baik tak memiliki pekerjaan ketimbang menggali sumur. Lebih baik kerja di luar negeri ketimbang menggali sumur. Begitulah, segelintir pernyataan dari mereka.
Tak terhitung sudah seberapa banyak jasanya bagi keberlangsungan hidup kampung itu. Lebih banyak dari pundu-pundi uang hasil dari timbal jasanya. Satu sumur bisa dikerjakan dalam waktu tujuh sampai delapan hari, tergantung dalamnya sumur. Upah yang bisa didapat dua ratus ribu sampai tiga ratus ribu rupiah, tergantung kedalaman sumur dan tergantung pada keikhlasan yang memberi. Itu pun seperempat persennya diberikan kepada si tukang arit tanah galian.
Salim adalah aset berharga. Satu-satunya orang yang mau mengambil pekerjaan itu. Berkat dirinya warga kampung tak cukup kesulitan mencari air. Berkat dirinya penduduk kampung terhindar dari derita musim penceklik berkepanjangan. Tangannya adalah sumber mata air yang membasahi kulit, kerongkongan, sawah, dan ladang saat kemarau tengah mencekik kampung. Baginya, musim kemarai merupakan berkah karena warga banyak yang membutuhkan jasanya. Pada musim inilah ia berkesempatan menyisakan uang untuk ditabung untuk biaya kehidupan keluarga, termasuk anak semata wayang yang sudah menginjak kelas dua Madarasah Tsanawiyah.
Keberhargaan warga terhadap Salim baru terasa saat ia mengalami musibah. Maka, apabila salah satu dari mereka tengah lewat di lokasi sumur Nyai Tomang, tempat di mana awal perkara terjadi, mereka tak pernah absen menggaungkan umpatan serta kutukan kepada Parjo ke dalam sumur yang kedalamannya sudah mendekati enam meter itu. Bahkan sampai ada yang berani menggaungkan sebuah ancaman membunuhnya apabila Salim benar-benar tidak mau lagi menggali sumur.
“Ini tanggungjawab Parjo,” kata Lessap kepada kawannya ketika tengah melewati sumur itu.
“Bertanggungjawab bagaimana? Ya, nama sudah kecelakaan, ya, memang sudah apes,” Jawabnya mencoba bersikap bijak.
“Kamu mau menggantikannya jadi tukang gali sumur?”
Lelaki itu tak bisa menjawab. Akan tetapi, dari raut muka yang ditampakkan, tidak bisa memerankan posisi Salim. Diam adalah pilihan yang tepat menengahi kebingungan.
“Makanya,” ia menaikkan suaranya. “Pikirkan bila kang Salim benar-benar berhenti. Tak ada sumur. Tak ada air. Kampung kita akan mati!”
Terbayang kemudian di kelopak matanya sebuah kampung yang dilindas sejarah. Cerita yang diabadikan sebagai kampung yang hilang hanya karena gara-gara tukang gali sumur. Air mukanya menjadi keruh. Kekeringan dan kelaparan menyelimuti ketakutan; kampung mati. Tak ada ternak. Tak ada hijau tanaman. Hanya dua usaha yang terbesit, menekan perut sembari saling sikut antar kerabat serta tetangga. Seperti sebuah sakratul maut, mereka merintih dan menjerit sebelum benar-benar larung dalam tidur panjang.
“Kamu benar. Parjo pantas bertanggungjawab,” lelaki itu pun turut mengamini.
Kebencian warga kepada Parjo bertumpuk di dalam sumur menggantikan air yang gagal menggenang. Kasak-kusuk warga yang menyalahkan Parjo seperti sebuah gaung; di manapun, kapanpun, dan dari manapun asalnya gaung itu akan ditangkap oleh gendang telingan Parjo. Sadar keselamatan dirinya terancam, Parjo tak bisa tinggal diam. Ia membutuhkan keadilan untuk membela. Siapa tahu gaung itu akan berbuah nyata. Toh, musibah tersebut bukan kehendaknya. Harus ada kuasa hukum yang bisa memberikan keadilan untuk dirinya.     
Pada suatu kesempatan, Parjo bertamu ke rumah kepala RT. Pemahamannya, kepala RT memiliki payung hukum kenegaraan, bisa memberikan keadilan. Kepala RT kan termasuk aparat pemerintah meski hanya selevel kepala kampung, pikirnya.
Kepala RT menyambut Parjo dengan wajah sinis. Bibirnya ditarik separuh. Mungkinkah juga tersebab peristiwa itu? Ah, ia dipilih untuk menegurus kampung dan harus bijak menyelesaikan sebuah permasalahan.
“Pak, tolong saya. Ancaman kepada saya semakin banyak,” jelas Parjo.  
“Ancaman yang bagaimana? Persoalan apa?”
“Bapak pasti sudah tahu mengapa mereka mengancam saya. Mereka semakin banyak, Pak. Ancamannya macam-macam. Katanya mereka ingin mengusir saya dari kampung ini. Bila tidak mau, mereka akan memaksa dengan membakar rumah saya. Ada juga yang ingin membuat kaki saya bengkak seperti kang Salim. Ada yang lebih nekat lagi, Pak. Mereka ingin membunuh saya!” Jelasnya dengan nada yang sangat kuat. Kepala RT diam hambar.
“Begitu, ya. Hem…”
“Ya, Pak,” tegasnya.
“Lalu, kenapa kamu ke sini?”
“Saya ingin meminta perlindungan kepada bapak.”
“Kepada saya? Memang saya hansip kampung? Memang saya polisi? Saya kepala RT.”
“Justru itu, Pak. Saya ingin meminta perlindungan hukum dari bapak.”
“Owh, tunggu dulu. Tidak bisa begitu,” kata kepala RT. Tenang. Tenang sekali.
“Kenapa, Pak? Di kampung ini bapak kepala RT.”
“Kalau urusan kampung, baru ke saya. Ini kan urusan pribadimu.”
“Semua penduduk kampung mengancam saya. Bukankah ini sudah menjadi persoalan kampung? Persoalan keamanan karena mau main hakim sendiri? Bapak harus melindungi saya. Saya tidak bersalah, Pak,” urat di lehernya hampir menyumbul.
“Terus?”
“Apanya yang terus, Pak?”
Kepala RT diam. Sesekali pula lelaki tambun itu melirik Parjo. Sementara Parjo semakin tidak tenang menunggu keputusan lelaki tambun di depannnya. Betapa ia merasa kesulitan mendapatkan keadilan di kampung sendiri, apalagi di luar.
“Kamu kabur saja dari sini. Beres.” Parjo tersentak.  
“Kabur? Bapak ngawur! Bapak mau mengusir saya?” Nadanya meninggi.
“Tidak.”
“Siapa yang akan mengurus emak dan adik saya?”
“Bawa kabur saja sekalian. Beres.”
Parjo naik pitam, tak mampu menekan amarah. Ia berdiri. Mendorong cepat kursi duduknya ke belakang sembari menatap tajam kepada kepala RT yang tetap begitu tenang. Ingin rasanya mencekik leher kepala RT tersebab kegagalan mendapatkan keadilan. Namun ia lebih memilih menyegerakan langkah menjauhi rumah itu.
“Ketimbang digerebek massa, lebih baik pergi jauh-jauh!” Teriakan kepala RT semakin mengukuhkan kesimpulan bahwa orang tersebut juga tidak menghendakinya.
Hampir sebulan Salim melawan luka bengkaknya. Warga semakin cemas. Satu per satu sumur tak bisa terpakai. Kosong tak berisi. Sementara mereka tetap tak memunyai solusi apa pun untuk bertahan memenuhi kebutuhan air. Mereka tetap tak menemukan pengganti Salim. Tak ada yang mau. Alasannya beragam, namun di balik keragaman itu tersirat betapa upah tak sebanding dengan pekerjaan. Lebih baik merantau ketimbang memilih pekerjaan itu.
Pada suatu malam yang tak lagi hening, penduduk kampung menyemut menuju rumah Parjo. Ada yang membawa parang, golok, celurit, pentungan, pikulan, gentong, dan apa saja yang bisa menggebuk Parjo. Di tangan kiri mereka memegang benda yang sama, obor.
“Celaka, Pak. Penduduk kampung mendatangi rumah Parjo,” pungkas istrinya ketika melihat pendar cahaya yang membesar. Aduan istrinya menyentakkan adrenalin. Salim ternganga. Bagaimanapun ia tahu kemarahan warga tersebab dirinya. Tak pernah dibayangkan betapa pekerjaan yang oleh warga dipandang sebelah mata kini berbuah petaka. Satu sisi ia merasakan sebuah kebanggaan akan keberhargaan dirinya. Ya, hatinya berseru betapa perannya sangat vital. Namun, secuil kebanggaan itu tidak lebih besar dari rasa bersalah yang ia rasakan: Parjo adalah orang yang pernah sama-sama mengusap peluh, makan, menyeruput kopi, dan merokok bersama sehabis bekerja. Oh, betapa tiada yang lebih indah daripada kenangan itu.
“Kita ke sana, bu!”
“Terlambat, Pak,” kata istrinya. Parjo tak memedulikan. Ia terus berjalan secepat mungkin meski jalannya tak beraturan. Cemas akan keadaan suami, istrinya turut menyusul.
Api begitu nyata di mata Salim. Percikan itu melumat perasaannya. Umpatan-umpatan para warga seperti turut pula membabat habis rumah beratap anyaman jerami padi itu. Semua yang menyaksikan bersuka cita, tontonan menarik, kecuali Parjo, istrinya, dan perempuan tua yang bersimpuh di tanah meratapi nasib. Dadanya sesak. Matanya sembab. Seorang perempuan kecil menjerit-jerit di sampingnya. Menyeracau tak jelas. Ya, perempuan tua dan perempuan kecil itu adalah emak dan adik Parjo.
Salim memeluk istrinya sekuat mungkin. Bibirnya berguncang. Benar-benar tidak terduga sikap warga bisa senekat ini. Darah tak lebih panas dari api di hadapannya. Namun apa dikata ia tidak mungkin bisa melawan orang sebanyak itu. Matanya terus menjalar di antara kobaran api mencari keberadaan Parjo. Kemanakah orang itu? Hanguskah di dalam sana?
Hingga sudah tak ada yang bisa dilahap oleh kobaran api, hingga panas sudah menjauh dari rumah itu, dan hingga tinggal serakan arang abu di sana-sini, Salim belum menemukan lelaki dekil itu. Namun ia cukup merasa lega. Pasalnya, Parjo selamat dan berhasil melarikan diri dari amukan massa.
Kecemasan belum berlalu. Warga terus memburu Parjo. Di samping itu, beberapa orang berusaha membujuk Salim untuk kembali bekerja. Mereka bersedia menaikkan gaji yang biasa ia dapat menjadi dua kali lipat. Namun ternyata Parjo sudah terlanjur kecewa oleh peristiwa pembakaran itu. Akhirnya, melalui kesepakataan bersama, warga bersedia bergotong-royong membuat sumur. Demi membuktikan komitmen, mereka akan meneruskan sumur milik Nyai Tomang yang belum selesai. Setiap hari akan dipilih setidaknya lima orang untuk bekerja menggali sumur. Herannya, di sumur itu mereka merasakan suatu keanehan; bau busuk yang sangat menyengat.Ternyata bau busuk itu dari seonggok mayat. Parjo!
Ditemukannya mayat Parjo justru kian membuat penduduk kampung semakin cemas dan ketakutan. Kematian Parjo seperti menjadi sebuah kutukan. Orang-orang yang mencoba membuat sumur hanya mentok pada kedalaman tak lebih dari sembilan meter. Macam-macam alasan yang mencuat: tak ada tanda-tanda air akan muncrat, takut ketinggian, takut gelap, sampai ada yang mengemukakan mencium bau busuk yang diduga sebagai kutukan dari kematian Parjo.
Semakin hari, sumur-sumur semakin tandas air. Dedaunan meranggas. Bebatuan di dasar kali teronggok lesu. Kering. Reta-retak tanah memilukan. Bila ada ingin mendapatkan air haruslah berjalan menuju kampung sebelah sejauh dua kilo menuruni sekaligus menaiki bebukitan.
Warga tergerak kembali mendesak Salim bersedia menggali Sumur, dengan cara apa pun. Ini adalah tugasnya.***
Jember-Sumenep, 8 September 2012


0 comments: