Saturday, May 21, 2011

Tak Disangka Bertemu Dengan Lan Fang

Setelah selesai Solat Jumat (20/5), saya langsung turun dari Masjid Jamik Annuqayah menuju kantor Sekretariat Bersama PP Annuqayah yang terletak di simpang tiga jalan menuju kampus, tepatnya sebelah utara Madrasah Ibtidaiyah (MI) Annuqayah. Saya sengaja cepat-cepat turun dari masjid karena harus mengerjakan dan menyelesaikan satu tulisan untuk rubrikasi pada buletin yang akan diterbitkan oleh Biro Publikasi, Informasi dan Kepustakaan, PP Annuqayah.

Siang itu, terik matahari menyengat ubun-ubun. Saya mempercepat langkah agar segera menyelesaikan tulisan sebelum saya menghadiri acara bedah buku Ciuman Dibawah Hujan di Auditorium As-Syarqawi. Bagi saya, menghadiri bedah buku itu adalah wajib, karena saya sangat senang dengan karakter tulisan Lan Fang, pembedah sekaligus penulis novel itu.


Karena terburu-buru, badan saya mandi keringat. Untungnya saya memakai dua pakaian: kaos lengan panjang dan baju koko yang semuanya berwarna cokelat, sehingga keringat yang keluar dari punggung, dada, dan (maaf) ketiak saya tidak kelihatan. Hanya, wajah saya saja yang ketahuan banjir keringat.

Pada jarak kira-kira 25 meter dari simpang tiga itu, saya melihat seseorang yang tengah duduk di pingir jalan, di bawah gedung MI Annuqayah. Saya mengamati orang yang menyandang tas kecil dan disampingnya ada dua kresek berwarna merah yang saya tidak tahu apa isi di dalamnya.

Lho, bukankah orang itu adalah Lan Fang? Kata saya mereka-reka. Baru pada jarak yang cuma 10 meter, saya bisa memastikan bahwa orang itu adalah Lan Fang, penulis novel Ciuman Dibawah Hujan. Saya pun heran melihatnya, menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti orang yang kebingungan.

Mengapa dia berada di sini? Pertanyaan kedua muncul. Akhirnya saya memberanikan diri menyapanya. Siapa tahu orang yang jauh-jauh datang dari surabaya itu buth bantuan.

“Sampeyan, mbak Lan Fang, kan?” sapa saya. Saya tahu, dia biasa dipangil Cece Lan Fang. Tapi karena waktu itu saya sedikit gugup, ya, yang keluar bukan “Cece” tapi “Mbak”.

“Lho kok tahu. Kamu siapa?” He, dia malah balik bertanya.

Langsung saja saya jawab. ”Saya adalah fansnya mbak. Mbak lagi nunggu siapa?” tanyaku lagi.

“Saya lagi nunggu Neng Ovie (Shofiah A. Win). Adik tahu ya, rumahnya Neng Ovie?”

“Tahu mbak. Apa mbak perlu saya antar ke dhelem beliau?” Saya menawarkan diri.

“Oh, kalau begitu mari’ tolong saya antarkan ke rumahnya Neng Ovie,” katanya langsung berdiri.

Wah, tawaran itu sangat menyenangkan hati saya. Betapa tidak, dia adalah orang ke dua yang tulisannya sangat saya sukai setelah mas Seno Gumira Aji Darma. Langsung saja saya sambar kedua kresek yang ada di sampingnya.

Beruntung sekali rasanya waktu itu, berjalan beriringan sambil sedikit bertukar informasi di tengah jalan. Meski rasanya, saya sedikit gugup karena lirikan teman-teman yang baru bubar dari masjid. Entahlah, apakah mereka merasa heran atau bahkan iri kepada saya karena saya sedang berjalan dengan orang yang sudah memiliki nama besar dalam dunia kepenulisan, atau bahkan hendak menertawakan saya karena saya menenteng dua kresek, saya tidak mau tahu. Yang jelas, saya, di sampingnya juga turut merasa memiliki nama yang patut “diperhitungkan” dalam dunia kepenulisan. Meskipun saya akui, saya masih sangat jauh dari anggapan yang sangat sementara itu.

Yes, akhirnya saya bisa membantu orang yang sangat saya sukai tulisannya. Semoga cerita ini masih akan berlanjut. Amien.

0 comments: