Thursday, January 23, 2014

Tenggelamnya Kapal Bang Van der Rijck (Fandrik)


Pada hari ketiga di tahun 2014, seorang teman asal Surabaya, Ricardo Marbun namanya, men-tag saya di status fb-nya—diantara temannya yang lain: Sahid Salahuddin, Palris Jaya, Lonyenk Rap, dan Mashdar Zainal.

Tulisnya begini: kalian hobi nontong film, tidak? Kalaupun tidak, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck wajib ditonton! Percayalah, fokus tentang kapal tenggelam sama sekali tidak ada. Slide kapal hanya muncul 15 menit di akhir cerita. Kekuatan narasi, dialog, pribahasa, kiasan, semua itu ada dalam film luar biasa ini. Aku menontonnya tadi malam dan bioskop penuhhhh. Penonton bioskop berurai air mata menonton film ini. Bapak Hamka luar biasa. Begitulah promo gratis yang diunggahnya pada tanggal 3 Januari 2014, sekitar pukul sepuluh pagi.  

Penilaian teman saya, betapa percakapan dalam film yang dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahadian tersebut sangat mewakili ke-booming-an versi novelnya, terutama dari aspek kesusastraan. Saya menjawab bahwa saya hanya menamatkan versi novel, sementara versi film masih saya buru—selain film ‘kontroversi’ Soekarno.

Kendati saya masih belum menonton, benak saya seakan sudah membenarkan penilaian teman saya terhadap film itu—dari sudut pandang yang berbeda. Reza Rahadian adalah kunci dari pengaminan penilaian teman saya. Ya, Reza Rahadian adalah aktor yang saya gandrungi di dunia perfilman Indonesia.

Selain dari itu, film persembahan Ram Soraya tersebut mengingatkan saya pada suatu kenangan antara saya dan seorang perempuan, yang tak mungkin lagi kenangan itu dapat berlanjut karena perempuan yang dimaksud, hari ini ikatan statusnya dengan saya sudah berbeda saat kenangan itu diciptakan. Kendati tak menutup kemingkinan dapat tercipta, barangkali akan ada kesan lain dalam proses penciptaan kenangan tersebut.

Saya mendapat novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ketika saya menginjak usia ke-22 tahun. Novel tersebut merupakan hadiah ulang tahun saya, yang jatuh pada tanggal 29 Juli 2012, dari Bunga (sebut saja begitu), perempuan yang saya ‘istimewa’-kan kala itu. Sunset dan debur ombak di Pantai Camplong, Sampang, Madura, menjadi saksi bisu kebahagian saya memeroleh hadiah novel tesebut.

Novel itu menjadi hadiah saya yang teristimewa (lebay kali ye…. hehe). keinginan kuat untuk memiliki novel tersebut serta sosok sang pemberi hadiah barangkali menjadi alasan kuat mengapa saya sebut sebagai hadiah teristimewa. Sejak keranjingan menulis, novel itu memang menjadi salah satu buruan saya diantara buku sastra yang lain seperti Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Burung-Burung Manyar (YB Mangunwijaya), tetraloginya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dan yang lebih dahulu saya dapatkan.

Saya tak menyangka Bunga dapat menghadiahi saya novel tersebut. Ia tak memiliki latarbelakang menulis seperti saya, membacapun sepertinya tidak. Ia hanya seorang karyawati di sebuah bank harian, ditempatkan di KCP Sampang sebelum hari ini dipindahtugaskan di Surabaya. Ah, barangkali untuk poin ini memang kurang penting; siapapun akan berusaha untuk mendapatkan sesuatu untuk kebahagiaan orang yang dicintai kendati sesuatu itu jauh dari dunianya. Jadi, wajar adanya.

Di lembaran pertama setelah cover, ada tulisan merah: 9 Agustus 2012 ‘Bie-Bie’. Kala itu, Bunga tak memberikan hadiah tersebut tepat pada hari ulang tahun saya tersebab pekerjaan. Sementara Bie-Bie adalah sebutan khususnya untuk saya.

Sayang, dua bulan setelah itu bahtera kapal Van der Rijck (baca: Fandrik) tenggelam untuk selamanya. Hanya kenangannya yang kadang mencuat ke permukaan. Seperti hari ini.
Jember, 3 Januari 2014


0 comments: