Sunday, July 22, 2012

Bakso Pak Oles

(Dimuat Di Koran Merapi, 15 Juli 2012)

Makan dengan lauk tempe saja, sudah makan seperti di istana kaisar Paus. Apalagi makanan semacam daging; daging ikan, sapi, gulai kambing, opor ayam, dan yang lain. Mengimpikan harapan seperti itu, butuh kesabaran super gede agar bisa terwujud. Hanya bisa berharap pada orang yang bertamu dan membawa makanan lezat. Beli sendiri? Harus berpikir dua kali, bahkan berpikir berkali-kali mengubah selara makan sambal terasi.

Namanya juga masyarakat sampah. Ya! Sampah memang harus dibuang. Saya lalu teringat kalimat dalam sebuah Novel Marabunta, Aku lahir dari golongan sampah, tapi bukan orang yang berhati sampah. Terbuang di keramaian mobil yang bunyi klaksonnya bertalu-talu. Tut…tut…tut…

Malam itu, Ada seorang bertannya pada Saya.

“Apakah mas tahu dimana bar atau diskotik di kota ini?”


Saya menjawab. “Tahu.”

“Yang mana tempat paling menyenangkan, Mas?”

Orang itu kekar, lengannya bertato. Kali ini saya tak bisa menjawab pertanyaannya. Meski saya banyak kenal beberapa tempat hiburan, tak satupun yang pernah saya masuki. Saya hanya sering duduk di depan, menunggu orderan, itu saja. Mana mungkin bisa berjejel dengan para Pejabat, Birokrat, Saudagar, Bisnismen, atau yang lain, wong saya cuma orang rendahan. Tak mungkin mencari kenikmatan, duduk santai, diiringi alunan melodi-melodi surgawi—kata yang berduit—dan para bidadari yang selalu mengepakkan sayap indahnya. Jika bersama, mereka di atas, sedang aku di bawah, memegang dan mengelap sepatu mereka berulangkali sampai mengkilap. Itu pekerjaanku!

Dulu, dengan pekerjaan seperti itu, penghasilan yang saya peroleh lebih dari cukup. Bisa makan yang dirasa enak bagi orang-orang sampah, seperti saya. Kali ini, hukum yang demikian tak berlaku lagi. Seiring harga sembako yang semakin melonjak, ditambah menjadi seorang kepala keluarga, penghasilan yang hanya segelintir itu, tak cukup. Apalagi persaingan semakin ketat. Banyak para penyemir sepatu bermunculan, bak jamur musim hujan. Bocah-bocah yang seharusnya duduk di kelas, mendegar penyampaian guru, kini, harus mondar-mandir menawarkan pekerjaan yang sama. Tas sekolah berganti kotak kayu. Saya jadi tak tega melihat mereka. Saya putuskan untuk gantung semir dan mencari pekerjaan lain. Agak berat sih, mengganti profesi yang telah dijalani sekian tahun.

Apabila anda berkenan berkunjung ke rumah saya, caranya amat mudah. Anda cukup turun di terminal Joyoboyo. Selanjutnya naik becak turun di dekat pintu gerbang tol Waru. Tepat di samping kolong jembatan tol Waru, anda akan mendapatkan perumahan kumuh yang menjijikkan. Itu rumah saya.

Setelah sampai di sana, yang akan anda dapatkan bukan orang-orang yang memakai dasi dan sepatu kulit, melainkan disambut oleh binantang-binatang kotor, menjijikkan; kucing, tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk. Seisi rumah bakal meriah jika mereka beratraksi. Apalagi, ketika musuh abadi, tom dan jerry bertemu. Piring, Panci, Wajan, dan perabotan lain akan amburadul. Ditambah istri dan tetangga yang menyumpah serapahi binatang menjijikkan itu.

Jangan Anda memberi kesimpulan, saya tak pernah berusaha mencegah. Memberi aturan bagaimana cara bertamu yang baik. Tamu-tamu tak diundang itu berseliweran seenaknya saja. Sulitnya, saya harus membongkar istana—karena rumah harta yang sangat berarti—agar binatang menjijikkan itu tak lagi bertamu, setiap waktu.

Begitulah, kondisi rumahku, sangat memperihatinkan. Apabila musim kemarau, rumah itu tak bisa melindungi penghuninya dari terik matahari dan polusi. Selalu ada celah bagi sinar matahari untuk menerobos dan menggeledah isinya. Begitu pula dengan musin hujan, sama saja, hampir tak ada hambatan sama sekali menahan air masuk ke rumah. Atap terus menangis.

“Mas, kapan kita bisa memperbaiki rumah kita? Ya! Paling tidak, nyaman untuk dihuni,” ungkap istriku. Ada impian besar di matanya yang bening.

“Pak, kapan kita kita punya rumah mewah? aku bosan di rumah yang seperti ini,” kata anakku.

Tak dapat saya pungkiri, kata itu menyinggung perasaanku. Namun, melihat kepolosannya dalam bertutur. Saya tahu, dalam benaknya, tak ada maksud untuk melecehkan saya sebagai seorang ayah yang baik. Saya tahu, memang semua ini adalah tanggungjawab seorang kepala keluarga. Mereka tidak salah. Bahkan mereka berhak untuk menuntut kenyamanan padaku. Semua salahku.

Malam ini, malam minggu. Saya mengajak anak dan istri saya berjalan-jalan di taman kota. Hanya berjalan-jalan. Itu saja. Tidak lebih. Lama tak jalan-jalan, menghirup udara kota di malam hari, seperti yang biasa kami lakukan ketika belum dikaruniai anak.

Sekitar tujuh tahun lalu, si buah hati belum dalam pangkuan. Masih ingat di benak, ketika menikmati hangatnya sajian bakso Pak Oles, di pojok utara alun-alun kota. Saat itu, musim dingin. jadi, sangat terasa betapa nikmat makan bakso panas pak Oles.
Saya dan istri saya membanyangkan, bunga indah di masa lalu. Saat aku bertemu dengannya di sini, di warung bakso Pak Oles.

Kala itu, ada orang kaya makan bakso dengan istrinya. Istrinya bunting—kira-kira hamil lebih dari hamil tujuh bulan. Menurut pengakuannya, sang istri ngidam makan bakso. Sebenarnya, ia tidak begitu suka dengan tempat itu. Demi si buah hati pertama yang masih dalam jabang bayi, ia rela berada di tempat yang tidak disukainya.

Saya mendapat orderan di malam yang dingin itu. Ia meminta saya membersihkan sepatunya yang tak sengaja menginjak genangan air kotor. Saya langsung sigap, tak menyia-nyiakankan kesempatan. Malam sudah larut, kira-kira sudah jam sebelas lebih, saya hendak pulang, tetapi saya tidak ingin membuang rezeki pemberian Tuhan. Aku layani permintaannya.

Dia bertanya banyak tentang saya. Mulai pekerjaan, profesi, keluarga, sampai pada lika-liku kehidupan saya. Sebaliknya, ia juga berbicara banyak tentang kehidupnnya. Pembicaraan kami semakin mencair dan mengalir tanpa bendungan. Ia bercerita, mengapa ia bisa sampai berada di tempat ini.

Berat rasa ia bercerita pada saya. Ada sedikit keraguan pada dirinya, pada diri saya. Mata itu berkaca-kaca. Seolah, akan menceritakan beberapa hal yang belum pernah dimuntahkan dari mulutnya.

”Istriku sedang hamil lebih tujuh bulan. Aku menunggu kehadiran buah hati pertamaku,” katanya dengan nada lirih. Mengapa seakan tak ada kebahagiaan dari cara bicaranya? Apa ia tidak suka?

“Bapak bahagia?” Entah kenapa, setelah saya memandang kacamata minus yang melekat di atas hidung mancungnya, pertanyaan itu muncul sendiri.

“Jelas, bahagia sekali.” Kata lelaki tambun itu.

“Kalau begitu mengapa murung?”

“Ah masak.”

“Ya!”

“Mungkin, aku kelelahan menuruti segala permintaannya. Akhir-akhir ini, ia selalu minta yang aneh-aneh. Katanya, bukan dia yang minta, tapi bayi yang ada dalam kandungannya.”

Ia mengatur nafas sebelum melanjutkan.

“Yang paling aku heran lagi…” beberapa saat, ia memotong pembicaraan. Beberapa detik, jadi menit. “Ia minta tambahan belanja. Tahukah kau berapa yang dia minta? Sepuluh juta perminggu.”

Gila! Saya belum pernah melihat orang hamil ngidam sampai segila itu. Sepuluh juta? Bagi saya, sudah bisa tidur dengan nyenyak. Buat perbaikan rumah yang hampir condong ke barat. Pikiran saya sulit menerima ceritanya. Saya membayangkan, belum lahir saja sudah minta sepuluh juta. Apalagi sudah lahir, pasti banyak korupsinya, atau jadi perampok.

“Bapak menuruti?” Ada rasa takut di wajahnya.

“Demi keselamatan anak pertama. Aku rela menuruti semua yang diminta,” katanya mantap. Katanya, ia sudah lama berkeluarga, lima tahun. Tetapi baru kali ini, Tuhan mengkaruniai anak.

“Bapak kerja di mana?” Aku tak harus bertanya seperti itu. Aku sudah menduga kalau pekerjaannya bukan pekerjaan biasa. Pakai jas, dasi, dan sepatu yang masih aku semir. Pasti ia baru pulang dari kantor.

“Kamu punya istri?” ia mengalihkan pembicaraan. Saya tak menduga orang itu bertanya demikian. Memang, orang seusia saya mestinya sudah menikah dan punya anak.

“Belum.”

“Mengapa?”

“Saya takut akan seperti istri bapak. Nanti istri saya meminta macam-macam,” aku sengaja menghiasi ucapan saya dengan tawa, agar terlihat seperti guyonan. Saya takut jika tidak demikian, ia akan tersinggung oleh ucapan saya.

Ia tertawa.

Sunyi.

Kemudian, istrinya memanggil penjual mainan. Yang dipanggil datang. Istrinya subuk memilih-milih boneka Barbie. Untuk anaknya saat lahir nanti, begitulah kata istrinya. Ia pasti menginginkan anak perempuan.

”Penjual itu cantik, cocok untukmu. Pasti ia belum menikah,” orang itu berbisik pada saya. Saya cuma tersenyum. Lalu, ia menyuruh saya untuk berhenti menyemir sepatu dan menyilakan saya makan bersama. Saya menolak meski mau di traktir. Tapi, melihat kemauannya yang sangat besar, tak kuasa juga saya menolak.

Benar kata dia. Penjual mainan itu memang cantik.

Entah apa maunya lelaki itu. Ia juga menyuruh penjual mainan itu duduk, lalu makan bersama kami. Penjual mainan itu ditraktir juga. Ada senyum yang mengembang di bibir laki-laki itu ketika saya dan penjual mainan saling tatap. Kemudian ia pamit. Sebelum lelaki itu pergi.

“Bakso sudah saya bayar. Saya merasa rugi mentraktir kamu jika kamu gagal menggaet hatinya,” aku tersedak. “Ongkos semir akan saya hutang. Kalau kau mendapat hati penjual mainan itu, saya akan bayar dua kali lipat. Ini kartu nama saya,” Begitulah katanya, sebelum pergi.

Tinggallah hanya saya dan wanita penjual mainan itu. Saya agak gugup pertama. Namun, lama-lama rasa gugup itu hilang. Dan, dari bakso pak Oles, mengantarkan saya dan wanita penjual mainan itu ke pelaminan.

Sumenep, 2010-2012


0 comments: