Wednesday, March 16, 2011

Nyai Randhe Kasean

Wajahnya sayu. Dari celah lambaian daun siwalan, bulan mencoba melebarkan senyum. Sepertinya, malam ini dia sakit hati. Cahayanya begitu dipaksakan mengecup kening bumi. Dia pernah berkata, apa yang selalu dia dambakan akan terwujud. Mungkinkah dewi fortuna kali ini tak berpihak kepadanya? Oh bulan, mengapa malam ini kau begitu pucat. Kurang tidurkah kau?

Nyi Randhe Kasean. Ya, aku menemukan wajah perempuan itu di sana. Wajah perempuan yang sering digambarkan oleh buyut, kakek, nenek, dan orang tuaku ketika purnama menjelma. Perempuan yang selalu murung, menunggu pria yang akan menjemputnya, lalu merebahkan tubuh bersama di bawah cahaya purnama. Aku harus menulis kegelisahan dan kerinduannya. Siapa tahu nanti tulisanku akan membantu mempertemukannya dengan kekasih yang telah bertahun-tahun meninggalkannya sendirian di atas sana.
Baiklah akan kuceritakan sosoknya sesingkat mungkin. Umurnya masih belum terlalu tua. Hal itu terbukti dari parasnya yang masih tampak gempal dan merona. Guratan kecantikan yang selalu dipertahankan begitu tampak. Seperi prasasti yang selalu diabadikan oleh sejarah. Nyai Randhe Kaseyan, wajah elok yang memotret berjuta kisah dan kenangan yang memilukan. Setahuku, belum ada di atas jagad raya ini sebuah nama yang menyerupai namanya yang menawan seperti itu.


Perempuan itu hidup dan tumbuh di tengah pahatan alam lepas. Lahir dengan seperangkat kesederhanaan dan kelebihan yang serba langsung. Hamparan bumi sebentuk magnitude yang mencerminkan kebesaran maha mutlak. Lautan di sisi kiri dan kanan menjadi teman bermainnya setiap hari, sahabat sekaligus orangtua yang mengajarkan sayang dan kedamaian. Dia selalu merendahkan nasib dalam bayang-bayang senja. Jadilah, tipikal keibuannya mantap dan memuncak mencakar langit. Perjuangan yang tidak main-main dalam jagat raya ini.

Randhe Kaseyan, mempunyai sifat yang lumayan unik. Berbeda dengan perempuan semasanya. Umurnya yang hampir udzur semakin memantik misteri yang sulit dipecahkan. Semacam misteri lukisan monalisa, karya Leonardo Da Vinci yang penuh arti. Memerihkan mata untuk menganalisa. Kenapa bisa seperti itu? Inilah kisah yang belum pernah dibaca oleh sejarah. Anak manusia sepertinya lebih senang mengkonsumsi mitologi mitos, mengobral wacana dalam kungkung keegoaan yang nyata.

Kubuka jendela kamarku selebar mungkin. Menerima kehadirannya dengan utuh. Angin malam dia biarkan membelai rambutnya dengan lembut, sehingga tampak seperti rumbai-rumbai sutera. Sebilah kain melilit seluruh tubuhnya. Pada kedua sisi ujung kain itu seperti kepakan sayap kupu-kupu yang lelah menanti datangnya musim semi. Matanya sendu menatapku yang memelototinya di balik jendela. Pada saat itulah, aku mencoba menebar senyum padanya. Siapa tahu senyum dariku bisa menjadi umpan untuk menarik senyumnya selebar mungkin. Tetapi, nonsense! Justeru aku yang terperosok dalam kesedihannya.

Entah, apa yang menguatkan hati alam, sehingga redup cahaya demikian mesra menjaga kesendiriannya. Sudah hampir setengah abad dia merasakan ada yang musykil dalam perjalanan hidupnya. Ada keluh, namun dia selalu sembunyikan lewat sebingkai senyum hambar. Terkadang, hidup memang sekedar fantasi. Halusinasi, bahkan.

Malam yang sunyi, tambah kelam saat sorot matanya menembus duniaku. Aku berdiri tegak di ambang jendela, memandang ke batas langit. Aku melihat awan sebagai pengiring atas kerinduannya. Dan reranting sebagai serai kecapi yang tak henti mengalunkan lagu syahdu. Hati tergetar dirasuk kerinduan. Sampai akhirnya ada nyanyian yang meluncur begitu saja dari kedalaman sunyiku; ghei’ bintang aduh gheger bulen, paghei’nah jhenur koneng .

Haruskah aku melepas seluruh asaku malam ini? Ah, ternyata, sebagai lelaki, aku masih begitu rapuh berdiri di atas cinta. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat malu menatap Nyi Randhe Kasean dengan segala ketololanku. Aku begitu rapuh, gampang menggantungkan asa lantaran keinginan mutlak dalam diri pribadi yang berdiri di atas cinta tidak terpenuhi.

Nyi, aku ingin menulis kisahmu dalam catatan kecilku. Tetapi, izinkahlah aku sejenak berguru kepadamu. Merenungi dan mengambil hikmah atas kesetiaanmu, yang tetap berdiri menanti seorang lelaki yang akan menjemputmu di bulan sana, yang akan memberikan kebahagiaan untukmu, yang akan membelai rambutmu, dan yang akan mengecup keningmu dengan segala ketulusannya.

Jenis kelamin kita memang berbeda, kau perempuan dan aku laki-laki. Tetapi aku merasa memiliki sebuah kesamaan dalam sebuah retorika elegi romantisme. Aku harus banyak belajar kepadamu tentang makna dari kesetiaan agar aku tidak rapuh dan dengan mudahnya menerima seseorang berlabuh di hatiku. Padahal, aku tahu, betapa pedihnya apabila orang luka karena sebuah penghianatan.

Aku berdiri tegak di ambang jendela. Ada yang tumpah dari mataku. Ah, biarlah semuanya tumpah apa adanya. Biarlah Nyai Randhe Kasean memahami atas apa yang terlukis di hatiku saat ini, sebelum aku menulis dan belajar dari kisah kesetiaannya. Nyai, aku adalah lelaki yang rapuh. Lelaki yang gampang menyerah. Seandainya aku dihadapkan pada persoalan sama seperti yang kau hadapi, aku tak yakin akan bertahan hingga saat ini.

Baiklah, aku akan mulai menulis kisahmu. Maka, aku mohon tersenyumlah sedikit kepadaku agar tak ada beban untuk menuangkan kata-kataku, sekaligus aku juga akan terhibur malam ini jika kau mau memberikan seulas senyum kepadaku. Sekarang, tersenyumlah!

Nah, untuk memulainya, aku ingin bertanya dulu kepadamu: apakah kau merasa kesepian di bulan sana? Mengapa kau bertahan dengan kesendirianmu? Jawablah dua pertanyaan ini. Jika ini sudah terjawab, maka aku tak akan kesulitan menuliskan kisahmu yang selanjutnya.

Nyai.

Nyai Randhe?

Nyai Randhe Kasean!

Jawablah.

Aku kembali berdiri. Memaku di ambang jendela, memandang ke batas langit. Pendar cahayanya tumpah menjadi tanda-tanda kecintaan akan kesendirian. Kenapa sendiri? Janganlah bertanya seperti itu, jawabannya akan berujung pada romantika cinta yang sangat jauh dari nalar kemanusiaan

Ah, Cukuplah saya kisahkan saja kesendiriannya di balik celah remang dalam hatiku.
Terima kasih, nyai. Terima kasih atas kesendirian yang telah kau ajarkan padaku. Terima kasih Kini, aku lebih tegar berpijak di dunia ini. Aku akan memulai semuanya dari awal. Aku akan memulai kehidupanku dengan kesendirian, seperti yang telah kau ajarkan kepadaku

Rumah Bersama, 04. AM

0 comments: