Tuesday, January 26, 2010

Rinai Senja


Senja! dirimu memang indah, dilihat dari manapun, kau selalu merona. Aku takjub dengan keindahanmu. Merasa berada di antara bunga surga. Kau mampu menenangkan hatiku yang akhir-akhir ini hancur bersama sepinya rindu. Kau hadir diantara kepingan-kepingan hati. Memberiku sesuatu yang sulit diterjemahkan. Sulit aku utarakan lewat kata-kata. Sekalipun banyak orang bilang kata-kata lebih tajam ketimbang belati. Namun, itu masih belum mampu menggores tubuhku.
Maukah kau terus menemaniku? Sebagai penghibur sepiku? Sayang, kau tak banyak waktu. Kau harus memenuhi panggilan malam.
Lepas senja, diriku kembali sepi. Mega merah. Pekat malam. Membunuh ketenanganku. Gelap menjadi gelapnya hati. Menutup jalan setapak karifan. Seandainya aku bisa membuat malam terbungkam, aku tidak ingin mengarungi malam. Sebab, malam hanya akan membenamkan aku pada kehidupan bayang semu.
Ya! Aku akan terseret pada kubangan rindu yang mengantarkan aku menjelajahi lorong-lorong kepedihan. Saat-saat hujan bersumpah menjadi mata saksi. Kadang aku berhayal, mungkinkah belati punya jawaban? Sungguh absurd. Belati hanya sekeping besi yang akan karat oleh ganasnya darah…
"Jangan berlebihan…" Kau mencubit perutku. Saat aku ingin memberimu bintang dan ingin membawamu ke bulan untuk bertemu dengan Nyi Randhe Kasean. Konon, seorang janda di tinggal mati suaminya yang ditembak pasukan Belanda pada tahun 1947. kau tak percaya. Bahkan menertawaiku. Tapi, itulah memang yang aku ketahui dari kisah bulan.
Kau tertawa di pelukku ketika bntang bintang jatuh melintas di atas kita. Segurat senyum selalu menghias bibir mungilmu. Membuatku tak ingin berpisah jauh denganmu.
Udara malam menabur dingin. Namun, dingin itu tiada berarti, karena kita saling memberi kehangatan. Aku memelukmu. Membelai rambutmu. Lalu, aku titipkan satu kecupan hangat di keningmu…
Harapanku kembali menunggu. Mataku menerawang. Mencoba bertanya pada pada cakrawala. Apakah hari ini senja akan turun? Aku benar-benar merindukannya. Aku ingin hanya ada benang tipis antara perselingkuhan siang dan malam. Ingin segera bertemu kembali dengan bola raksasa di ufuk barat. Semoga senja cepat datang. Menghampiriku sebagai pelipur lara.
Lama aku menanti senja. Aku takut, senja tidak hadir sore ini. Langit tidak seperti biasanya. Mendung mengukir cakrawala. Warna kelabu terus meluas. Burung pun enggan menyambut senja. Mereka semua kembali keperaduan masing-masing. Separuh matahari telah tenggelam kelabu. Aku harap-harap cemas. Ketakutan datang menghantui. Aku tidak ingin melihat hujan di waktu senja. Karena hujan senja menjadi sejarah kelam untukku. aku kehilangan Sofiana tepat pada lebatnya hujan mengantar senja.
Aku sudah berusaha semampuku untuk bisa melupakan perasaanku padanya. Namun, perasaan itu tetap berkelebat sendiri. Seperti hantu. Bayangan itu semakin menyiksa saat tak kudapat lagi perhatiannya untukku. Ketika muncul keinginan hati untuk menanyakan kabarnya, keangkuhanku berusaha menahan untuk melakukannya…
"Kau serius?"
"Maaf, aku terpaksa," tangismu pecah. Matamu nanar. Keterpaksaan harus merenggut impianmu. Memilih calon pilihan orang tua.
Kau berlari menjauh. Tak peduli tubuhmu di hantam hujan. Tak peduli jika kesekian kali harus pupuskan impian yang belum terjamahkan. Derai tangismu tak kalah derasnya dengan hujan. Pecah, seiring hujan membasahi pohon yang lama kering kerontang. Ingin hati hendak mengejar. Namun, ketidak percayaan membekukan tubuhku. Kau menghilang di milyaran buliran air hujan.
Kepedihan membuat tubuhku kaku. Terbujur menatap kabut yang semakin menutupmu. Tak bisa berbuat apapun. Kecuali nanar mataku mencoba memahami kepergianmu. Ku tak bisa lupakan itu.
Semoga tidak akan terjadi apa-apa. Semoga senja membuka lipatannya. Doaku mengali seiring tangis langit mulai pecah.
Beberapa saat kemudian, justeru awan kelabu itu yang membuka rinainya. Petir menyambar. Guntur menggelegar. Hatiku hancur. Terlumat air hujan. Tatapanku menembus cakrawala. Berharap Tuhan mengabulkan doa-doa. Bening meluas di palung kelopak mata. Membelah pipiku. Ingin rasanya aku membuang kelabu itu. Tapi, aku hanya biasa bersimpuh. Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap kelabu akan segera pergi.
"Berpalinglah, anakku. Ikutlah bunda," Tiba-tiba belaian lembut tangan bunda menyentuh pundakku. Air mataku berhenti mengalir. Mencoba memahami kedatangan bunda. Ia menuntunku pada sebuah ruangan yang tak asing bagiku.
"Sekarang, jemputlah dia."
Ooo….. tidak aku membatin. Benarkah itu? Benrkah aku berada di alam sadar?. Kulihat seorang gadis duduk di atas shofa. Aku sangat mengenalinya. Dia mengenakan kaos warna pink yang beberapa minggu lalu aku belikan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke sembilan belas.
"Fan! Aku kembali," matamu berkaca-kaca. Seakan ada rindu yang menyelaksa.
Aku diam. Aku masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Bukankah kau pergi bersama hujan senja?bukankah kau telah memilih pilihan orang tuamu? Bukankah kau telah membuang percuma mimpi kita? Mangapa kau hadir kembali?Sementara, rinai hujan masih menyisakan rintik-rintik lembut. Menyambut petang yang semakin kelam menjemput dewi malam.
Annuqayah, 2010

Sudah dimuat di Radar Madura
24 Januari 2010

0 comments: