Tuesday, February 5, 2013

Menumbuhkan Semangat Belajar bagi Siswa


Siapa yang tidak tahu kalau bejarar bisa membuat orang pandai. Siapa yang tidak tahu kalau banyak membaca bisa membuat orang berpengetahuan. Siapa yang tidak ingin pandai? Siapa yang tidak ingin banyak pengetahuan? Siapa saja ingin!

Balajar merupakan sebuah keharusan, dari yang muda sampai yang tua. Belajar yang paling efektif adalah belajar ketika masih muda. Sebuah ungkapan menyatakan, “belajar di waktu muda bagai mengukir di atas batu, sedangkan belajar di waktu tua bagai melukis di atas air”. Ungkapan tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Masa muda merupakan masa yang memiliki semangat juang yang tinggi dan puncak dari segala rasa ingin tahu manusia. Karena pada masa tersebut adalah masa “pembelajaran” bagi manusia menjadi manusia dewasa, manusia yang kaffah.

Namun, kenapa kebanyakan anak yang menginjak remaja banyak yang malas untuk belajar? Malas untuk membaca? Rasa ingin tahu yang tinggi membuat emosional mereka ingin segera merasakan sebuah kenikmatan instan terhadap apa yang dilakukannya tanpa terlalu memikirkan resiko-resikonya. Imbasnya, banyak yang terlibat salah pergaulan: tawurah, mabuk-mabukan, terlibat seks bebas, dlsb. Kemalasan akan tercipta apabila seseorang tidak memiliki planning (perencanaan) yang jelas dan niat yang kuat dalam hidupnya. Seserorang yang belajar tidak akan merasakan kenikmatannya saat itu juga. Nah, disinilah sebenarnya tantangan bagi seorang pelajar: membangun kesabaran!

Islam datang mengusung spirit membaca. Bukti bahwa Islam mengusung spirit membaca bisa dilihat dari ayat Al-Quran yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira’, yakni Iqro’ serta bagaimana Allah mengajarkan nama-nama benda dan makhluk kepada Nabi Adam. Tidak hanya itu, Islam mensyaratkan bahwa umat Islam seyogyanya harus menuntut ilmu sejak dari lahir sampai menghembuskan nafas terakhir. Setidaknya, spirit yang telah diusung oleh agama kita tersebut menjadikan modal awal bahwa belajar itu merupakan sebuah kewajiban.

Tidaklah begitu sulit untuk menumbuhkan semangat belajar. Ada beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan. Pertama, membangun kemantapan hati bahwa kita memiliki impian atau cita-cita. Thomas Friedrick, seorang filosof asal Jerman mengatakan, kalau bukan karena harapan-harapan maka hati pun akan mati. Seseorang yang tidak memiliki harapan (impian atau cita-cita), maka hidupnya akan seperti setitik air di atas daun talas.

Kedua, kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai: orangtua, guru, atau teman yang akan bangga jika kita menjadi orang yang berilmu. Ketika kita dilahirkan ke dunia, orang-orang tersenyum bahagia melihat kita lahir, sementara kita menangis karena akan mengarungi kehidupann yang fana ini. Maka, baliklah suasana itu pada saat kita akan meninggal: kita mati dengan keadaan tersenyum bahagia, sedangkan mereka menangis karena kehilangan seseorang yang sangat berharga.

Ketiga, pupuklah rasa iri kepada orang yang lebih tinggi ilmunya, tetapi jangan dibumbui dengan sifat dengki. Kalau mereka bisa, mengapa saya tidak? Selalulah hadirkan pertanyaan ini apabila kita melihat orang yang berprestasi. Tidak hanya itu, dekati dan temanilah orang tersebut. Tidak perlu malu untuk belajar kepada siapa pun meski kepada bocah kecil sekali pun.

Belajar, Melatih Kepekaan Respon Otak
Dalam sebuah teori psikologi, manusia adalah animal educandum, yaitu hewan yang bisa dididik. Perbedaan antara manusia dan hewan lainnya hanyalah terletak pada otak. Hewan tidak memiliki otak yang bisa berpikir selayaknya manusia. Hewan menggunakan insting untuk mengenali lingkungannya; mengenali waktu, mencari makan dan merespon bahaya. Sedangkan manusia memiliki keduanya, insting dan otak. Manusia akan mencari makanan apabila lapar, mata berkedip sendiri. Itulah beberapa contoh kerja insting yang tak memerlukan perencanaan.

Berbeda halnya dengan otak. Otak adalah sarana untuk berpikir. Sarana untuk merespon segala tindakan-tindakan yang telah, sedang, atau akan terjadi. Semakin kaya otak akan segala bentuk informasi maka semakin cepat pula respon kerja otak dalam bertindak dan menyikapi suatu keadaan. Ada sebuah anekdot yang sangat menggugah hati saya sejah dahulu. Bahwa, seandainya otak orang Indonesia dijual, maka akan lebih mahal nilainya ketimbang otaknya orang jepang. Kenapa? Karena otak orang Indonesia masih lebih orisinil ketimbang otak orang jepang karena jarang dipakai.

Memang, seseorang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang berbeda, atau dalam istilak kerennya Intelegence Questions (IQ). Akan tetapi yang paling menentukan adalah bukan terletak pada seberapa tinggi tingkat kecerdasan seseorang, melainkan seberapa giat dan sungguh-sungguh seseorang itu belajar mengasah otaknya. Sekarat apa pun pedang dan sekeras apa pun kayu apabila pedang itu dipukulkan secara terus menerus pasti akan dapat menebas kayu itu. Air setetes saja bila jatuh terus menerus bisa melubangi batu yang keras.

Akhirnya, Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan berhasil.   
               
*Penulis adalah mantan pekerja Risearch and Development pada lembaga penelitian The Pencil Connection, Madura.

1 comments:

Anonymous said...

Ijin share ya...