Saturday, October 23, 2010

Kosambhi, Berkomitmen Mengangkat Sastra Anak Pesantren

Sastra merupakan salah satu media dakwah umat islam. Tranformasi keilmuan umat islam banyak dituangkan dalam bersastra. Salah satu bukti kongkritnya adalah penyebaran agama islam di indonesia, yang dibawa oleh wali songo, dengan metode bersastra.

Di pondok pesantren, tradisi kesusastraan tetap dilestarikan. Setiap pagi, sore ataupun malam hari, syi’ir/nadhoman tak pernah lekang dibaca civitas pesantren. Seperti Syi’ir Amrithi atau Alfiah karangan Ibnu Malik. Bahkan dikuatkan juga dengan pembacaan diba’—yang kata M Faizi menjadi cikal bakal lahirnya sastra pesantren—nyaris dibaca dua kali dalam seminggu.

Tapi sayang, mereka (baca: insan pesantren) banyak yang tak menyadari kalau sebenarnya literatur-literatur keilmuan agama islam banyak dituangkan dalam bentuk sastra. Dan pesantren, sebagai tempat penyebaran dakwah islamiyah pastinya kaya akan literatur-literatur itu. Hal itu dikarenakan mereka mengartikannya secara sempit saja, yakni kitab turats.


Menyatukan Komitmen

Di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep, tradisi kesusastraan tradisional maupun kontemporer masih banyak diekpresikan dengan gaya teatrikal atau dramatikal. Sedangkan dalam bentuk tulis menulis masih minim sekali.

Dengan melihat faktor di atas, Penulis menilai perlu adanya sebuah wadah untuk menampung kreatifitas santri dalam dunia tulis menulis, utamanya di bidang sastra. Maka, muncullah inisiatif untuk mendirikan sebuah komunitas sebagai lahan untuk berperoses.

Berbekal dari pengalaman penulis selama menjadi anggota The Pencil Connection Sumenep, penulis mengajak A. Faruqi Munif, seorang santri sekaligus siswa MA 1 Annuqayah yang berprestasi dan dikenal produktif dalam menulis puisi, untuk mewujudkan gagasan itu.
Pencarian anggota kami lakukan secara sembunyi-sembunyi. Artinya, kami mencari beberapa santri yang dipandang potensial dan produktif menghasilkan karya tulis sastra dengan cara pendekatan secara pribadi, bukan dengan cara membuka pendaftaran. Anggotanya juga akan dibatasi, hanya mengambil maksimal delapan orang. Mengingat metode yang akan diterapkan dalam komunitas itu, tidak akan efektif jika terlalu banyak anggota.

Awalnya, kami mendapatkan lima belas orang calon anggota. Semuanya masih berstatus siswa, hanya penulis pada waktu itu yang baru berstatus mahasiswa. Karena yang dibutuhkan hanya delapan orang, maka kami membuat penyeleksian yang super ketat. Mereka disuruh menyetor hasil tulisan sendiri sebanyak 25 puisi atau 3 buah cerpen dalam seminggu. Penyetoran itu berlangsung selama dua minggu. Siapa yang bisa, dialah yang lolos.

Dan, pada malam ahad, tanggal 27 Desember 2009, bertempat di serambi Masjid Jamik Annuqayah, yang berhasil lolos seleksi hanya tujuh orang. Tepat pada pukul sepuluh malam, ketika langit bertabur bintang, dideklarasikanlah komunitas itu dengan satu komitmen: Menulis sampai mahok!

Makna Filosofis

Nama komunitas yang juga mendeklarasikan diri secara independen itu adalah masukan dari hasil diskusi para sastrawan Sumenep yang dimotori oleh Guguk Mancanegara. Alhasil, beberapa pertimbangan untuk menyematkan nama Kosambhi dirumuskan sebagaimana berikut.

Pertama, serambi merupakan tempat yang sangat nyaman bagi santri untuk belajar, bermusyawarah, atau berdiskusi. Annuqayah yang mempunyai masjid jamik seluas 32 x 35 M itu memiliki serambi yang sangat luas, sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi santri untuk belajar. Dan pertemuan rutinitas itu akan selalu ditempatkan di sana.

Kedua, nama Kosambhi diambil dari nama sebuah buah dalam bahasa Madura. Bentuknya seperti buah Duku atau buah Kelengkeng. Dapat dimakan dan bisa dijadikan obat. Tapi, rasanya kecut dan terkadang pahit. Dengan makna filosofis itu, diharapkan kepada seluruh anggotanya untuk bersabar dalam menjalankan sebuah proses. Sebab, proses merupakan jalan terjal untuk meraih kesuksesan.

Meyakini Proses

Rutinitas yang berlangsung setiap malam minggu itu hanya memiliki empat aturan. Pertama, peserta wajib menyetor buah karyanya berupa 30 puisi atau satu cerpen dengan ketentuan empat halaman folio bergaris setiap minggu. Jika tidak menyetor maka menggunakan sistem hutang.

Kedua, setiap peserta yang dikenai tugas presentasi wajib menyetor karya yang akan dipresentasikan dua hari sebelum hari H. Dalam presentasi, peserta memiliki waktu sepuluh menit untuk mempertanggungjawabkan karyanya. Setelah itu dilakukan bedah bersama untuk mencari titik kelebihan dan kekurangan dalam karya itu.

Ketiga, jika waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam, lengkap tidak lengkapnya peserta, rutinitas harus dimulai. Dan yang terakhir, apabila dalam tiga kali berturut turut peserta selalu datang terlambat atau selama dua hari peserta tidak hadir tanpa alasan yang jelas, maka akan tereliminasi dengan sendirinya. Artinya, tergantung yang bersangkutan mau ikut apa tidak. Yang jelas, aturan-aturan itu sudah tak berlaku lagi padanya.

Aturan itu dibuat agar anggota tidak main-main dalam berproses, dan untuk menjaga produktivitas mereka dalam berkarya. Awalnya memang banyak yang mengeluh, tapi lama kelamaan mereka sudah terbiasa dan merasa enjoy dengan aturan itu.

Sesuai dengan target yang diinginkan, selama tiga bulan, karya-karya anak Kosambhi telah bertebaran di media-media lokal Annuqayah antara lain: Buletin Hijrah, Ukhuwah, Majalah Muara, Infitah, Inspirasi, Dinamika, dan Majalah Fajar serta Jurnal Pentas. Bahkan ada juga yang telah melampaui target yakni dimuat di media regional antara lain: Radar Madura, Majalah Kuntum, Surabaya Post, blog www.penyairnusantaramadura.blospot.com, dan di Majalah Horison (Kaki Langit). Beberapa prestasi juga terus mengalir baik di tingkat lokal, regional, bahkan nasional.

Untuk menambah semangat, kami mencoba menghadirkan beberapa sastrawan ternama di daerah Sumenep untuk berbagi pengalaman dalam dunia sastra. Disamping itu pula, kami telah menerbitkan sebuah antologi puisi dan cerpen setebal 120 halaman dengan modal awal sebesar Rp. 10.000 per anggota.

Hingga saat ini, Kosambhi tetap eksis dengan anggota yang tak bertambah dan tak berkurang. Akhirnya, meyakini sebuah proses adalah jalan untuk melampaui takdir.

Fandrik HS Putra
Perintis dan pengasuh KOSAMBHI

0 comments: