Sunday, July 20, 2014

Sayembara Menulis Novel DKJ 2014

Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel. Melalui sayembara ini DKJ berharap lahir novel-novel terbaik dari pengarang Indonesia yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi.

Ketentuan Umum
• Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya).
• Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
• Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
• Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
• Tema bebas.
• Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
Ketentuan Khusus
• Panjang karya 40.000-100.000 kata, halaman A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12.
• Peserta berusia antara 17-37 tahun (dibuktikan dengan fotokopi KTP).
• Tiga (3) karya prosa atau cerpen peserta pernah dimuat di media massa (bukan media internal seperti: majalah sekolah atau kampus, media komunitas, blog, online) atau satu (1) buku tunggal peserta (bukan antologi) pernah diterbitkan oleh penerbit umum (bukan self publishing).
• Menyertakan fotokopi contoh prosa (cerpen) karya sendiri yang pernah dimuat di media cetak minimal 3 karya.
• Menyerahkan biodata, alamat surat, dan nomor kontak di lembar terpisah.
• Empat salinan naskah dikirim ke:Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2014Dewan Kesenian JakartaJl. Cikini Raya 73Jakarta 10330
• Batas akhir pengiriman naskah:30 September 2014 (cap pos atau diantar langsung).
Lain-lain
• Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Desember 2014.
• Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
• Naskah pemenang yang diterbitkan menjadi buku harus mencantumkan logo DKJ.
• Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
• Pajak ditanggung Dewan Kesenian Jakarta.
• Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2012-2015 dan keluarga inti Dewan Juri.
• Maklumat ini bisa diakses di
 http://www.dkj.or.id.
• Dewan Juri terdiri dari sastrawan dan akademisi sastra.
Hadiah
• Pemenang I
 Rp.20.000.000
• Pemenang II
 Rp.10.000.000
• Pemenang III Rp.7.500.000
• Pemenang IV Rp.5.000.000
Jadwal
• Publikasi Maklumat: Juni 2014
• Pengumpulan karya: Juni-September 2014
• Penjurian: Oktober-November 2014
• Pengumuman pemenang: Akhir Desember 2014

Tuesday, July 1, 2014

Surat Kepada Kawan


Kawan,
Detik ini kita menyebutnya sebagai detik perpisahan dan akhir perjuangan
Tidak kawan, detik ini merupakan babak awal perjuangan yang sebenarnya
Bersama matahari yang kian meninggi sampai menua

Namun sayang,
Perjuangan ini harus kita tempuh sendiri-sendiri
Kebersamaan sudah hampir tidak sama lagi
Kini, saatnya kita harus berjalan sendiri
Melangkah mengikuti takdir yang sudah tergarisi

Ketika kebersamaan menjadi langka
Ketika canda tawa begitu berharga
Kita baru sadar betapa kebersamaan yang kita kira masih panjang
Ternyata hanya setitik debu yang tersauh angin

Ya, Allah...
Benarkah detik ini atas nama perpisahan akan terjadi?
Dengan guru-guru kami yang telah membesarkan kami
Padalah, sampai hari ini kami belum sempat mengusap keringat guru kami
yang mengucur karena kenakalan kami

Ya, Allah...
Benarkah detik ini atas nama perpisahan akan terjadi?
Sahabat-sahabat kami yang sama berjuang di jalan-Mu
Padahal senyum kebersamaan masih belum terbingkai rapi di hati kami

Kawan,
Mengapa baru detik ini kita menyesali hari yang telah tersia-siakan
Tentang seorang guru yang tak pernah kita hiraukan
Tentang seorang guru yang marah karena kenakalan kita
Tentang seorang guru yang kadang tak pernah kita hargai keberadaannya
Guru yang selama ini dengan ikhlas
Merajut mimpi-mimpi untuk kita wujudkan bersama
Dengan nada dan bahasa yang sangat bersahaja

Kawan,
Meski mereka, guru-guru kami, tak pernah meminta imbalan jasa
Tidakkah kita berpikir apa yang bisa kita berikan?
Mereka ikhlas meluangkan tenaga dan waktu
Meninggalkan anak dan istri hanya untuk mendidik kita menjadi manusia seutuhnya

Malahhan Kita masih menggerutu sendiri
Mengatakan mereka galak
Mengatakan mereka tidak tahu
Mengatakan mereka cuma bisa menyuruh-nyuruh
Parahnya, kita mengatakan mereka tak layak jadi guru

Kini,
Di ujung jurang perpisahan
Perbuatan kita telah menampar diri kita sendiri
Butir-butir penyesalan mengkristal karena kita tak bisa berbalas budi

Kawan,
Yakinlah betapa pintu maaf guru kita sangatlah terbuka lebar
Yakinlah betapa barokah dan ridhonya tidak hanya berhenti sampai disini
Yakinlah betapa doa mereka akan senantiasa mengalir untuk kita

Ya, Allah
Kutengadahkan tanganku untuk memohon ampun kepadamu
Berikan ketegaran kepada guru-guru kami
Berikan guru-guru kami kesehatan agar senantiasa tetap berjuang di jalan-Mu
Lindungilah keluarga mereka sebagaimana mereka melindungi kami
Berikan kebahagian yang melimpah kepada guru-guru kami
agar sesungging senyum tetap kami rasakan setiap waktu

Nurma tercinta
Terima kasih atas semuanya
Segala kenangan akan tersimpan kuat dalam hati
Menjadi lentera dalam setiap jejak langkah kami

Kawan,
Ingatlah!
Kita pernah ada
Pernah punya cerita
Tercipta lebih dari cinta

Jember, 6 Juni 2014

Monday, May 12, 2014

Merindu


(Dimuat di Tribun Jabar, 11 Mei 2014)
Perkenalkan, namaku Rustini. Janda dua anak yang terobsesi dengan cinta yang tak biasa, jika tidak kukatakan luar biasa. Sebagian menganggapku sudah gila karena porsi ‘ketidakbiasaan’ itu. Tentu yang menganggapku demikian tidak salah. Secara matematis dan nalar pikir, persepsi gila memang pantas disematkan kepadaku.

Selalu kukatakan pada mereka, justru cinta yang tak biasa itu yang menegakkan langkahku sampai hari ini. Memberikan semangat hidup,  semacam pelita di gelapnya malam.

Ia lelaki terpercaya. Lelaki paling istimewa. Keistimewaannya melebihi kedua anakku, Siti dan Ahmad. Melebihi suami, yang sejak tujuh tahun rutin kukirimi Yasin dan simpul-simpul tawasul. Aku punya porsi cinta tersendiri untuk orang-orang yang kuanggap berharga dalam hidupku. Termasuk memilah porsi cinta antara lelaki itu dengan keluargaku.

Sebagai perempuan yang telah memiliki keluarga, tak sekalipun terbesit bahwa aku telah melakukan perselingkuhan, lebih-lebih menerobos hukum keluarga. Tak ada kata hianat. Tak ada. Malah aku yakin, anak dan suami merestui serta menerima dengan sangat ikhlas aku mencintainya, sebagaimana keyakinan bahwa lelaki itu juga mencintai anak dan suamiku.

Ia yang mengajari menjadi orang baik. Mengajari bagaimana menjaga kehormatan perempuan. Menunjukkan kepada yang hak dan yang batil. Tanpa kusebut namanya, semua orang sudah tahu. Hanya saja tidak semua orang punya cinta yang sama, sehingga mereka hanya sebatas tahu dengan sikap tak mau tahu.

Maka, pagi-pagi sekali langkahku sudah tegak berayun. Aku harus mendapatkan banyak uang agar segera bisa menemuinya. Tubuh lelah karena setiap pagi dan sore harus naik turun bukit akan terobati hanya cukup membayanginya dalam setiap ayunan langkah.

“Ibu, nasinya belum matang. Ibu sudah mau pergi?” Tanya Siti, si sulung.

“Tidak apa-apa. Tanpa sarapan, Ibu pasti kuat.” Jawabku. Siti mematung memerhatikanku.

“Sudahlah, Bu. Ibu jangan lagi bermimpi ke Mekah. Mana cukup uang yang Ibu kumpulkan,” Ahmad, anak bungsu tiba-tiba berdiri di samping Siti. Nadanya selalu datar. Tetapi kutahu, ada rasa iba pada nada itu.

Aku diam. Menatap kosong. Tak kupedulikan komentar Ahmad. Suatu saat nanti mereka pasti mengerti, semua bisa melakukan perubahan sekalipun tampak muskil. Mereka masih perlu banyak belajar bagaimana tangan Tuhan sungguhlah lebar bagi orang yang bersungguh-sungguh. Mereka juga akan mengerti betapa lelaki yang ingin kutemui memiliki kasih sayang melebihi kasih sayang kepada dirinya sendiri. Suatu saat. Ya, suatu saat.

Semua orang, termasuk anakku, menganggap mimpiku tak mungkin berbuah nyata. Mereka seakan menganggapku sudah gila. Memimpikan sesuatu yang mustahil terwujud di saat sekarang; kehidupan yang serba rasional dan penuh perhitungan.

Setiap kali ada kesempatan, aku selalu bercerita tentang kesempurnaan mimpiku. Berharap anakku menaruh mimpi yang sama. Namun justru malah ungkapan seperti pungguk merindukan bulan yang kudapat. Siti yang kuanggap paling mengerti, menjadi orang pertama yang menyebutku seorang pemimpi.

“Seharusnya Ibu tidak seperti ini. Pergi Subuh, pulang Magrib. Kami semua membutuhkan Ibu. Kalau bukan Ibu siapa lagi,” kata itu meluncur dari mulut Ahmad, bocah yang tak kebagian kasih sayang seorang ayah. Ia sudah ditinggalkan saat masih mendekam dalam rahim. Bocah yang dibaiat zaman sebagai anak yatim itu menatap tanpa ekspresi.

“Ibu tidak gila, Nak. Ibu masih waras. Ibu masih ingat kalian. Jangan pernah berpikir Ibu sudah gila dan telah melupakan kalian. Kalian tetap anakku. Tak akan menjadi orang lain,” tukasku.

“Siapa yang mengatakan Ibu gila. Aku hanya ingin Ibu tidak lagi berpikir tentang sesuatu yang sulit diwujudkan. Penghasilan Ibu tak seberapa. Ketika Ibu bilang bahwa mimpi yang paling indah adalah mengunjungi makamnya, ada rasa sakit yang tak tertahankan tersebab Ibu tampak diburu risau.”

“Kurang bijak rasanya bila Ibu menghapus mimpi itu. Mimpi yang sejak kecil sudah ditanam oleh kakekmu kuat-kuat ke ulu hati Ibu.”

“Tidakkah ada banyak cara untuk menemuinya? Ibu bisa bertemu tanpa harus jauh-jauh mengarungi jalan panjang. Tanpa harus menguras keringat naik turun bukit. Bukankah Ibu pernah mengatakan, cinta adalah kekuatan dan rindu adalah sarana komunikasi. Ibu bisa menemuinya di dalam mimpi. Itu tidak mustahil. Bukankah Ibu seorang pemimpi? Ibu juga pernah mengatakan bahwa setan tidak bisa menyerupainya. Guru ngajiku pernah pula memberitahu, jika ingin menemuinya, perbanyaklah membaca salawat,” tukasnya. Ia sudah menusukku dengan kata-kataku sendiri.

Siti bergegas. Menumbuhkan kesendirian yang senyap. Meninggalkan semua mimpiku.

Waktu memasuki sepertiga malam. Aku terbangun. Ada suatu bisikan yang membuatku terjaga. Entah, kurasa aku tak sedang bermimpi menerima bisikan itu. Sadar sesadar-sadarnya bisikan itu terdengar sangat jelas sampai membangunkan tidurku.

Jika kamu mengharapkan pertemuan dengannya, perbanyak membaca salawat sebelum tidur, dan janganlah sampai kamu membatal wudu sampai terlelap. Aku ingat bisikan itu. Sangat jelas.

Tangis pecah. Hadir tanpa kusadari. Tak bisa kupungkiri, rindu yang mencairkannya. Barangkali Tuhan punya rencana yang sangat indah dengan kemiskinanku. Rencana indah atas ketidakmampuan mengumpulkan uang untuk mengunjungi rumah Tuhan dan menemui kekasih-Nya. Selama ini aku berusaha untuk tetap suci lahir dan batin. Baik semasa gadis, sebagai istri, sampai kini seorang janda. Segalanya akan tembus pandang apabila benar-benar menjadi bening.

Aku lelah. Tangisku masih menitik. Tak ada upaya melupakan mimpi itu. Mimpi yang ada sejak aku mendengar cerita-cerita keteladanannya semasa masih kecil, semasa masih suka tiduran di surau. Mimpi itu tampak sempurna. Sampai sekarang.
Setiap kali akan tidur aku selalu membaca salawat sebanyak mungkin. Aku sangat merindukannya.

Ajaib. Aku berada di sebuah majlis taklim. Ornamen-ornamen masjid sangat tak kukenali. Suasana yang sangat asing. Tidak hanya aku yang berada di situ. Orang-orang bersila membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran, berdiri sesosok yang begitu sempurna. Penyampaiannya bagus dan santun. Semua orang berdecak kagum.

Wajahnya memancarkan cahaya. Belum pernah kulihat cahaya seterang itu, kalau bukan sekarang. Tak jelas lekuk di wajahnya, tetapi pancaran itu menghilangkan pikiran seperti apa rupa di balik cahaya itu.

“Bagaimana seharusnya aku bisa menemuinya?” seorang jamaah pengajian bertanya. Kendati tak disebut, aku paham dan seperti ada dorongan bahwa ‘nya’ yang dimaksud adalah lelaki yang selama ini kurindukan.

“Fakir miskin. Kasihilah fakir miskin di sekitar kalian,” jawabnya.

“Bagaimana bisa mengasihi, sementara kami termasuk salah satu dari golongan mereka,” ucapku tanpa sadar.

“Anak yatim. Santunilah anak-anak yatim.” Jawabnya.

Mendengar jawaban itu, hatiku berkesimpulan betapa orang yang berdiri di depanku adalah lelaki yang selama ini kurindukan. Ini bukan mimpi. Tak menyangka aku akan berkumpul dengannya dalam satu majlis. Aku merasa hidup ini begitu sempurna. Bukankah hidup akan terasa sempurna apabila suatu keinginan terkabulkan?

Perlahan aku beranjak. Aku ingin selalu berada di dekatnya. Aku ingin memasrahkan segala hidupku untuknya. Tetapi, entah hendak berarah maju ataukah bergerak mundur, langkah menjadi limbung. Tubuhku terguncang.

“Ibu. Ibu. Sudah azan,” samar kudengar suara Siti. Aku mengerjap. Mataku terawang. Hampir saja marah.

“Siti membangunkan Ibu. Pertemuan Ibu belum selesai.” ucapku tak bisa menyembunyikan kekesalan dan kegembiraanku.

“Maaf, Siti tidak bermaksud begitu. Azan Subuh sudah sejak tadi, tapi Ibu belum juga bangun.” Jelasnya parau.

Aku diam. Tetap di ranjang. Menekuri kesalahan. Masih sulit untuk kuterima bahwa aku bermimpi bertemu dengan lelaki yang kurindukan.

“Semoga suatu saat nanti Ibu bisa mengunjungi makamnya,” katanya pelan dengan nada yang lebih serupa permohonan untuk berhenti bermimpi. Matanya berkabut. menyiratkan cemas pada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

Secercah cahaya membuka langit. Astaga! Belum solat.

Aku bergegas ke perigi. Membasuh muka, tangan, rambut, telinga, dan kaki. Aku ingin menceritakan semuanya pada pemilik langit. Tentang kerinduan seorang perindu. Tak ada yang bisa mendengar pengaduanku selain kepada-Nya.

Terimakasih, Engkau telah mengijinkanku melihatnya meski hanya di alam mimpi. Aku yakin, Engkau akan memberiku kesempatan mengunjunginya di alam nyata. Aku yakin Engkau akan memberiku kesempatan menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Amien.

Kedua tanganku mengatup. Lelaki yang kurindukan pasti merindukanku melebihi kerinduanku. Mengasihiku melebihi kasihku. Sebagaimana keyakinan doaku akan terkabulkan. Aku percaya, tangan yang satu tidak mungkin bertepuk tanpa tangan yang lain.

Dan itu terbukti sekarang!

Bagaimana kulukis perasaan ini? Setelah melalui perjalanan panjang nan berliku, akhirnya sampai juga pada puncak yang ingin kutuju. Sejak awal perjalanan, aku sudah yakin bisa menemui lelaki itu. Tidak mungkin ia tidak merindukanku. Hanya saja ia masih menunggu waktu yang tepat untuk menemuiku.

Fakir miskin? Ya, fakir miskin. Ia menyuruh mengasihi fakir miskin, bahkan mengatakan selalu bersama mereka. Tetapi, tunggu dulu. Bukankah aku termasuk dari golongan itu? Berarti ia selalu bersamaku. Ah, betapa bodohnya diriku tak pernah menyadari.

Anak yatim? Ya, anak yatim. Ia menyuruhku menyantuni anak yatim. Kuyakin itu adalah petunjuk untuk betemu dengannya tanpa harus jauh melangkahkan kaki berziarah ke makamnya.

Pagi ini juga aku akan mengajak kedua anakku. Mencari tahu kebenaran alamat mimpi itu. Di luar, Siti dan Ahmad menatap semringah. Kutahu mata mereka menatap bangga. Sesosok yang ingin kutemui berada diantara Siti dan Ahmad. Kedua tangannya memegangi pundak anakku.

Rupanya, lelaki yang kurindukan selalu bersamaku dan kedua anakku.

Jember, 20 Januari 2014

Saturday, May 3, 2014

Ngaji Radikal dari NU


Judul Buku      : Tradisionalisme Radikal; Persinggungan Nahdlatul Ulama-Negara
Editor              : Greg Fealy dan Greg Barton
Penerbit           : LkiS Yogyakarta
Tebal buku      : xvi + 360 hal: 14,5 x 21 cm
No ISBN         : 979-8966-11-2
Cetakan           : III, April 2010

Kontribusi NU terhadap tegaknya NKRI tidak bisa dinafikan. Perjuangan ulama di seluruh nusantara dalam menegakkan kemerdekaan serta membentuk negara berdaulat merupakan sumbangsih yang tak mungkin bisa dikesampingkan. Terlepas dari rasa “egoismesentris” keagamaan, spirit perjuangan ulama NU memainkan peran yang signifikan atas perubahan sosial dan politik di Indonesia.

Buku ini Tradisionalisme Radikal; Persinggungan Nahdlatul Ulama-Negara adalah kumpulan ilmiah yang sebagian besar hasil penelitian dari ragam tema. Di antanya, ideologi dan tingkah laku politik NU, struktur organisasi NU, dan Respon NU terhadap perubahan sosial dan modernitas.

Greg Fealy dan Greg Barton sepakat membagi sejarah perkembangan organisasi berlambang bumi itu menjadi tiga fase: Pertama, NU sebagai organisasi sosial-keagamaan, Kedua, NU sebagai partai politik, Ketiga, kembalinya NU pada khittah yaitu sebagai organisasi sosial-keagamaan.
NU lahir dari rahim pesantren dan untuk pesantren, bukan untuk negara. Ideologi modern yang dibawa oleh para penjajah, baik Belanda maupun Jepang, membuat NU harus  bertindak tegas terhadap teganya agama Islam di Nusantara. Pada tahap ini, dikatakan bahwa NU menerapkan politik internal (sirr).

Pada perkembangannya, percaturan NU di panggung politik semakin terang. Kemelut perpolitikan pada rezim Orde Lama dan Orde Baru menyisakan dilema yang sangat kompleks membuat kalangan elit NU tidak bisa tinggal diam. Pada akhir tahun 1930-an NU menentang regulasi pemerintah kolonial yang dianggap bertolakbelakang dengan Islam.  Keterlibatan NU sagat terbaca ketika turut mendukung GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesi), sampai kemudian membentuk motor politik sendiri yakni Partai Masyumi.

Sebagai Organisasi Islam tertua di Indonesia yang lahir pada 31 Januari 1926, merangkum kontribusi NU terhadap NKRI dalam tulisan yang singkat ini tentu sangat kurang, sebab perjalanan NU sampai saat ini seperti air beriak di sepanjang liku aliran sungai.

Ada gagasan yang sangat menarik dari isi buku yang dimotori oleh Greg Fealy dan Grek Barton (editor) ini. Sebuah buku terjemahan pertama yang—menurut Gus Dur—yang mengulas secara detil soal persinggungan NU dan NKRI. Yaitu kata “Radikal” pada bagian judul buku.

Kenapa ada Radikal? Bukankah empat pilar yang dimiliki NU, yaitu tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazzun (seimbang) dan I’tidal (adil) membuat organisasi yang didirikan oleh K.H Hasyim As’ari terkenal dengan fleksibilitasnya?

Kata ‘Radikal’ disadur oleh Mitsuo Nakamura, yang turut diundang oleh Gus Dur pada Muktamar NU ke-26 di Semarang pada tahun 1979. Peneliti asal Jepang tersebut menilai gerakan politik NU adalah gerakan radikal. Radikal dalam pengertian kritik yang luas dan terbuka (hal, 114). Asumsi tidaklah berlebihan sebab NU pengkritik keras rezim Soeharto.

Dengan sikap seperti itu terjadi sebuah paradoks: radikalisme politik dan tradisionalisme agama. Dua arah yang seakan berlawanan arah tersebut justru memperkokoh eksistensi NU sebagai organisasi massa. Radikalisme politik NU sebagai jalan li maslahatil ummat. Radikalisme politik merupakan langkah memperkokoh tradisionalisme keagamaannya.

Si sisi lain, Radikalisme politik membuat harmonisasi di tubuh NU kerap bertolak belakang. Nilai-nilai adap asor yang menjadi salah satu karakteristik dalam konteks sosial-keagamaan terabaikan oleh legitimasi politik radikal yang berdiri atas jargon li maslahati ummat.

Hadirnya buku ini mengokohkan harmonisasi relasi NU-Negara. Salah satu contoh, yaitu pengambilan keputusan atas Pancasila sebagai asas dasar negara. Sementara Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai asas dasar pemberdayaan ummat.

Buku ini sangat cocok sebagai refleksi atas pola gerak NU dalam konteks kekinian.  Kiranya tidaklah berlebihan mengingat buku yang didominasi cover warna hijau ini secara detail mengulas naik-turun NU di panggung politik.

Wednesday, April 30, 2014

Kudung


(Dimuat di Tabloid Nova, 21-27 April 2014)

“Bagaimana mungkin,” desis Laksmi, tak lain berbicara sendiri.

Kifayah hari ketujuh atas meninggal suaminya baru usai. Rumah kembali sepi. Tidak seperti hari kemarin yang dipenuhi para pelayat. Beberapa famili menambah hari agar tempat duka tidak sepi benar.

Laksmi bersimpuh di atas babut. Air mata jatuh tanpa bisa dipulangkan. Ia bukan tidak tahu betapa Rasulullah melarang ummatnya meratapi orang yang sudah meninggal. Tetapi air mata itu bukan semurni kehendaknya. Hanya saja, setiap kali ia mengusap janin enam bulan di perutnya selalu menjerang lara.

Keluarga almarhum yang tidak sepenuh percaya atas kematian itu adalah Laksmi. Bukan soal tidak siap ditinggal meninggal. Perempuan berperawakan kalem itu hanya perlu bukti agar hatinya bisa lapang menerima. Bagaimana bisa dikatakan meninggal sementara jasad almarhum belum ditemukan. Kalaupun benar meninggal, ia ingin menyimpul tawasul di atas kuburan suaminya.

Penduduk kampung Bederan tahu kalau suami Laksmi merantau ke negeri tetangga bersama Bahri, lelaki malang yang kembali ke kampung Bederan dengan raga berpisah dari nyawa. Kedatangan jenazah Bahri lantas menguak kabar kalau suaminya juga meninggal akibat bongkahan tebing yang ambruk di tempat penambangan.

“Jenazahnya tertimbun tanah sangat dalam, sulit dievakuasi.”

“Jadi ditinggal di situ?”

“Bisa jadi.”

“Tidak digali?”

“Jalannya sulit.”

Spekulasi mengalir seperti angin. Keluarga tak bisa berbuat apa-apa selain menggantung harap jenazah itu segera kembali. Tak ada yang tahu bagaimana caranya bertanya kabar kepada orang-orang di tempat penambangan. Berbeda kenegaraan dan terputusnya komunikasi menjadi alasan kuat spekulasi itu berkembang.

“Laksmi ikut Ibu, ya?”

“Tidak, Bu. Laksmi tinggal di rumah ini, menunggu Kakang.”

“Tak ada gunanya menunggu. Ikhlaskan …”

“Jangan paksa Laksmi, Bu. Kalaupun Kakang tak pulang, Laksmi tetap akan membesarkan anakku di rumah ini.”

Ia masih terpaku di atas babut. Sebelum kembali ke Madura, berulangkali familinya menyarankan agar ia turut serta tinggal bersama mereka. Namun, Laksmi tak tega meninggalkan rumah kayu yang susah payah dibangun dari hasil empat kali panen.

Pikirannya melambung jauh pada suatu malam yang mengabarkan malapetaka itu terjadi. Sepulang berjamaah dari masjid, ia menemukan Supardi duduk di beranda. Air mukanya menyembul panik. Sekonyong-konyong lelaki berselempang sarung itu bergegas mengabarkan kematian Bahri di tanah rantau.

“Dulla juga meninggal,” pungkasnya.

Laksmi mendekap erat mukena. Berlari. Lalu mengunci pintu rapat-rapat. Kabar kehamilan yang ingin segera ia sampaikan tertahan di palung hati. Kesedihan tambah rumit dibahasakan ketika yang datang hanya jenazah Bahri.

“Kang,” desisnya.

Perasaan tengah berirama menjatuhkan air mata. Rambutnya tampak kisut. Ia menaikkan kudung  yang merosot tanpa disadari. Kudung hijan daun itu hadiah setahun pernikahan dari almarhum.

“Dalam kondisi apa pun, rambutmu tak boleh tergerai untuk orang lain selain untuk suamimu.” Laksmi sangat ingat kata-kata itu. “Berhijab akan menjaga kehormatanmu sebagai seorang istri,” kenang Laksmi. Sorot matanya kosong, pada bingkai foto pernikahan di dinding kamar.

Ia tak akan mengubah kondisi apa pun di rumah itu.

***
Sewindu terpangkas sudah. Janin di rahim Laksmi kini menjelma malaikat mungil yang memberikan senyum rekah. Tujuh tahun bukan perjuangan mudah. Sepetak tanah, harta peninggalan almarhum, mana cukup menyambung hidup setiap hari dengan hasil panen tiga bulanan. Berbagai peruntungan mencari nafkah pernah dicoba: menjual gorengan, menjalankan bendring miliki ibu Kades, sampai dipercaya sebagai bendahara PKK di kampungnya.

Tak ada yang berubah di rumah itu. Kayu jati sebagai tiang utama terpancang kokoh. Dinding sirap lembab berlumut tipis. Beberapa plafon sudah tampak melepuh. Apabila ada yang berubah, barangkali hanya perasaannya yang berubah; tak menampik dirinya terbungkus status janda. Tak ada kabar selama sewindu seperti sudah menjawab keraguannya.

“Kenapa Bapak mau bekerja di luar negeri? Apa tanah kita kurang subur?” tanya Sri.

“Tanah kita sangat subur. Malah tak ada tandingannya.”

Kok Ayah ke luar negeri?”

“Nah, itu. Jika nanti sudah bersekolah, banyak ilmu, Sri akan tahu jawabannya.” Laksmi tak menemukan jawaban sepadan agar anaknya mau mengerti.

“Sekolah apa?”

“Ya, sekolah. Sekolah untuk mencari ilmu.”

Sri tampak bingung.

“Sudah. Ayo tidur, katanya mau ikut tahajjud,” potongnya memegangi kedua bahu dan mencubit gemas pipi tembam anaknya.

Sri memiliki kebiasaan hampir sama dengan almarhum; rajin mengunjungi sawah dan gemar bermain di pancuran. Ia sungguh riang menghalau segerombolan burung pipit yang menyerbu kemuning padi, mengumpuli pakis muda di sepanjang selokan, atau mengusili ikan-ikan kecil di bawah pancuran.

Laksmi melongok pada kosen jendela. Sri tengah bersama Supardi, pemilik sawah yang bersebelahan dengan sawahnya. Keduanya sedang mengerjakan sesuatu di pancuran. Laksmi menatap panjang. Sejurus kemudian menjangkau semu kenangan yang tertambat kaku di palung hatinya; saat bersama almarhum memeras cucian di pancuran itu. Supardi menjelma sesosok yang diinginkannya. Terbayang wajah almarhum yang teduh, yang selalu bersih seperti baru saja mandi; terngiang bicaranya yang lembut dan suaranya yang merdu bila membaca ayat-ayat Alquran atau membaca kasidah Barzanji.

“Sri pulang dulu. Solat,” teriak Laksmi.

“Sebentar, Bu. Man Pardi masih membuatkankan kincir air,” jawabnya.

Sejak kincir air itu jadi, Supardi semakin dekat dengan Sri. Ia mengajak Sri memasang urang-urangan, memetik sayuran, membantu mengairi sawah. Banyolan konyol Supardi yang ditingkahi gelak tawa Sri mulai pecah di beranda rumah.

Kedekatan Sri dengan Supardi membuat Laksmi merasa tak nyaman. Apalagi tersiar kabar kalau lelaki yang suka menyelempangkan sarung itu baru bercerai dengan istrinya. Soal perselingkuhan, hukum adat tak kenal kompromi. Laksmi mulai mencurigai jangan-jangan kedekatan Supardi dengan Sri cuma sekedar modus. Ia cemas akan terjadi fitnah. Apalagi gelegat ketidaksukaan Suriya, istri Supardi, sudah tercium sejak sama-sama menjalani bendring milik ibu Kades karena kalah jumlah pelanggan. Suriya terlalu memaksa, kerap marah bila setoran pelanggannya macet, begitu penilaian ibu-ibu kampung.

Rerimbunan pelepah nyiur di perbukitan sebelah barat memaksa matahari redup sebelum waktunya. Ketika Laksmi mengambil pakaian di lemari, ia menemukan kudung lama terlipat dengan pakaian almarhum. Barangkali cocok dipakai anakku, batinnya.

“Coba pakai.”

“Apa itu?”

“Kudung. Barangkali cocok untukmu.”

“Aku tak mau memakai kudung. Kata teman-teman, orang yang masih mengenakan kudung itu kuno. Ketinggalan zaman,” tukasnya polos.

“Sri tahu bukan, jika malu itu adalah sebagian dari iman?” tanyanya pelan.

Sri mengangguk.

“Nah, kudung itu salah satu hijab untuk menutupi kemaluan seorang perempuan. Seorang muslimah sejati harus berhijab agar terhindar dari godaan dan segala fitnah yang menyangkut dirinya. Aurat perempuan adalah seluruh anggota badan, kecuali muka dan telapak tangan. Jadi kalau Sri mengaku seorang muslimah, Sri harus mengenakan kudung.”

Sri pasang muka cemberut.

“Coba perhatikan. Apakah Sri menganggap Ibu ketinggalan zaman karena selalu memakai kudung?”

Sri menggeleng. “Ibu cantik. Sri ingin seperti Ibu.”

Laksmi mencubiti pipi malaikat mungilnya.

“Bapakmu pernah berpesan, sekali-kali Ibu tidak boleh membuka hijab untuk orang lain, kecuali untuk dirinya. Kelak jika sudah besar, Sri juga harus mengikuti pesan Bapak; boleh membuka hijab hanya untuk suamimu.”

***
Penduduk kampung mulai membuat spekulasi kedekatan Sri dengan Supardi. Ada yang menghubungkan kedekatan itu dengan rusaknya keluarga Supardi. Bahkan ada yang langsung memvonis kedekatan itu memang musababnya. Sri terlalu kecil untuk mengerti duduk perkara orang dewasa. Laksmi tersudut. Ibu-ibu muslimatan majlis taklim mulai memandang sinis. Menerima tawaran ibunya untuk pulang ke Madura dipikir sebagai solusi jitu untuk menjauh dari Supardi.

Angin berdesir pelan. Suara jangkrik saling pagut. Sebuah krocok jatuh. Malam tak lagi hening oleh penduduk kampung, yang didominasi kaum perempuan, menyemut menuju rumah Laksmi. Umpatan penduduk mengalahkan suara serangga malam macam apa pun. Di tangan mereka memegang satu benda yang sama: obor.

“Perempuan jalang! Keluar! Aku tahu kau diam di dalam!”

Teriakan itu seperti gema. Laksmi ketakutan melihat kobaran obor. Sri menangis di dekapannya. Laksmi harus keluar karena merasa tak bersalah.

“Lihat! Si perempuan jalang ini yang menggoda Kang Supardi,” umpat Suriya. Geram. Berdiri paling depan.

“Maaf, itu tidak benar. Demi Allah saya tidak mempunyai hubungan apa-apa. Sungguh,” jelasnya parau.

Alah, banyak alasan! Penampilan saja sok alim. Kelakuannya bejat! Tukang goda suami orang.”

“Astagfirullah, ini fitnah.”

“Mari kita beri pelajaran!”

Pasukan obor tambah merapat. Siaga menghanguskan rumah kayu itu. Sementara Suriya menyeret Laksmi dan anaknya menjauh dari rumah. Ia melepas kudung Laksmi. Laksmi berontak, hanya berteriak. Kudung itu ditudungkan ke obor. Seketika api obor mati. Tak puas, Suriya mengambil salah satu obor yang lain. Ujung kudung dibakar, namun api tetap enggan melahap kain itu. Penduduk kampung melongo. Wajah-wajah beringas seketika saling menoleh. Tak sadar sepasang kaki mereka berjalan mundur. Sedikitpun mereka percaya betapa api dapat membuktikan kebenaran. Dari kisah Nabi Ibrahim yang kebal api ketika dibakar hidup-hidup, sampai keselamatan pembakaran diri yang dilakukan Dewi Shinta untuk membuktikan kesuciannya, mereka semua mengetahui. Sementara Suriya terbakar atas kedongkolannya.

Seorang ibu, yang tak satupun dari mereka yang kenal, memapah Laksmi dan anaknya. Laksmi bersyukur betapa dalam lautan amarah manusia, cahaya kebenaran tetap menyala.

Jember, 25 Desember 2013