Sunday, January 16, 2011

Rembulan di atas Celurit

Jika ada seorang yang bertanya tentang apa yang diinginkan dalam hidup ini, jawabnya pasti beragam. Namun, dari keberagaman itu, aku yakin semua akan bermuara pada satu titik simpul; kebahagiaan. Tapi kita hanya bisa menjalani hidup. Tidak punya daya kekuatan untuk mengatur nasib.

Hal itu yang menimpa hidupku, kini. Aku ingin memetik kebahagiaan. Keinginan yang diimpikan banyak orang itu seakan tidak pernah berpijak dalam hidupanku. Kesedihan tak bisa aku sembunyikan ketika harus mengakhiri sekolah hanya sampai kelas 2 MTs. Air mataku mengalir sendiri tanpa aku sadari. Jiwaku merintih. Aku harus menjadi tumbal atas hidup yang begitu sulit ditaklukkan. Aku tidak bisa mengelak dari paksaan ayah untuk menikah dengan ki Jarot, tengkulak ikan yang berkuasa di daerahku, lantaran sudah tidak bisa melunasi hutang keluargaku yang menggunung. Siapa yang akan bahagia jika gadis 14 tahun akan memetik madu dengan pria yang sudah berkepala tiga? Dan aku akan menjadi istri ke empatnya .

Aku berlari ke tepi pantai. Mencoba mengajak ombak bercakap-cakap tentang elegi kehidupan. Siapa tahu dia bisa menghilangkan kesedihanku. Namun, yang aku dapatkan hanyalah kecemasan gemuruh ombak yang menggulung menampar tebing. Angin dan ombak tidak mampu menerjemahkan perasaanku. Padahal, sehari sebelumnya, ombak itu telah menjadi saksi atas pertemuan terakhirku dengan Junaedi, seorang anak nelayan yang sederhana, yang telah dijodohkan denganku sejak aku masih berumur tujuh tahun.

"Keparat! Mentang-mentang tengkulak yang kaya. Seenaknya saja menindas kaum lemah. Dasar Lintah Darat!" kata Junaedi. Berang. kilatan api terpancar di matanya.

“Maaf, Jun. Jangan kau menafsirkan pilihan ini sebagai bentuk kekalahan atau bentuk penghianatan. Besok malam, kita sudah tak mungkin lagi bertemu. Aku minta maaf atas janjiku selama ini. Aku merasa telah menjadi penghianat dan tak dapat mewujudkan mimpi kita. Percayalah! Di hatiku, hanya ada cintamu.”

Hening merayap seperti ular. Tak ada sepatah katapun yang terucap. Sakit sekali meninggalkannya terpaku sendiri menatap deburan kecemasan ombak kecil. Tatapannya kosong saat langkahku semakin menjauh. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Di desaku, seorang perempuan bagaikan boneka, diperlakukan sesuai kehendak pemiliknya. Jika orang tua sudah saling setuju, anak tidak boleh membantah.

Matahari mulai separuh ditelan laut. Warna senja menghiasi sudut-sudut pantai. Malam sebentar lagi berkelebat direrantingan. Melihat senja di bibir pantai, sulit aku tinggalkan. Tapi apalah daya, aku harus pulang karena usai solat isyak nanti ada pertemuan antar keluarga. Ini biasa dilakukan oleh keluarga kedua pasangan untuk mendengar nasehat-nasehat para kiyai sepuh sebelum ijab-qabul benar-benar terucap. Pada persidangan keluarga itu, Ki Jarot datang bersama tiga anak buahnya. Sudah tidak pantas lagi Ki Jarot didampingi orang tuanya.

Batinku menangis. Aku diharuskan duduk di sampingnya.

"Anak yang manis, kau cantik sekali." Dasar lintah darat, Batinku

"Sudah berapa kali kau pergi ketanah suci? Dan apa hasilnya?"

"Manis, bukankah nabi kita juga beristri lebih dari satu? Al-Qur'an juga telah mengajarkan kalau kita boleh beristri lebih dari satu. Kau masih kecil. Tahu apa tentang agama. Beraninya berkata demikian," Ki Jarot marah dengan ucapanku. Biarlah dia sedikit merenungi akan status hajinya, agar tidak terkesan berwisata reliji ke tanah suci.

"Kau salah menafsirkan, tuan. Agama tidak akan mempersulit pengikutnya. Apakah kau bisa berbuat adil? Seperti apa ukurannya? Ingat! Nabi beristri lebih dari satu karena ada alasa lain yang lebih mendasar. Bukan berdasarkan nafsu." ucapku tak mau mengalah.

Ucapanku membuat Ki Jarot naik pitam. Persidangan itu menjadi kacau. Dalam perdebatan itu, aku menemukan kemenangan meskipun pada akhirnya aku harus menanggung ucapan itu. Ayah menyeretku paksa masuk ke dalam kamar. Aku dicaci, anak tak tahu diuntung. Ayah tidak lagi memandangku sebagai seorang anak, melainkan sebagai barang yang akan dibarter dengan uang dan hutang.

Malam yang indah bertabur bintang-gemintang. Cahaya bulan rebah di atas melati-melati yang sudah ditabur di halaman. Di dalam kamar, aku menangis sendiri menatap diriku di cermin yang sudah berhias melati. Keindahan yang dipancarkan bulan dan bintang berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. Sebentar lagi bunga itu akan layu seumur hidup.

“Sudah siap, Nduk ?” Dari cermin, kupandangi wajah emak yang mulai nampak keriput. Matanya sembab. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya ketika air matanya menghujani gaun pengantinku. Aku jatuh dipelukannya. Kepasrahan adalah jalan terakhirku. Mengapa emak tak bisa berbuat apa-apa? Begitu rendahkan seorang perempuan di mata lelaki? Ah, aku tak ingin menyalahkannya. Perempuan memang terlalu rendah di mata lelaki.

“Ki Jarot, keluar kau!” tiba-tiba ada suara lantang dari luar mengagetkan kami. Aku mengenalinya. Oh…tidak. Itu suara Junaedi. Dia mengenakan kaos putih, celana hitam komprang, dan sarung yang diikat di pingangnya. Anak hasil didikan alam itu telah menampakkan keberingasannya sebagai putra Sagoro . Kengerian terpancar dari sebilah celurit yang diangkatnya tinggi-tinggi.

“Hai, bocah ikan teri, bosan hidup ya?” Di tengah kumpulan para anak buahnya, Ki Jarot berdiri di atas kesombongannya.

“Aku ingin membuat perhitungan denganmu, Lintah Darat!” suara kekasihku begitu lantang. Membuat dadaku semakin sesak. Semoga tidak akan terjadi apa-apa dengannya.

“Apa? Anak bau kencur sepertimu ingin buat perhitungan. Memangnya mau belajar Matematika?” Tawanya pecah, lantas diikuti oleh semua anak buahnya.

“Katembheng pote mata, bengo’ pote tolang. ” Sesumbar Junaedi.

Hanya dengan mengangkat kedua tangan Ki Jarot, seluruh anak buahnya telah mengepung Junaedi. Malam itu menjadi persaksian manusia yang disulut emosi. Kelebatan bayangan nafsu manusia yang bermain-main dengan nyawa. Celurit berayun-ayun tak tentu arah memamerkan kilatan singkat yang sempat tergores. Teriakan-teriakan lantang menggema. Melati-melati itu terinjak oleh kaki-kaki liar. Aku menititkkan airmata dan menjerit sejadi-jadinya dipelukan emak.

“Mati kau, bocah!!!”

“Tidak…!" Teriakku lantang.

Seperti angin yang membawa kabar duka, seperti itu pula aku terbang mendekatinya. Menyisir luka yang kesekian kalinya. Hidupku hancur berkeping-keping saat ujung celurit menggores bagian perut kiri Junaedi. Mereka tak segan-segan membacok inci demi inci kulitnya. Darah adalah tetesan perjuangan yang berakhir dengan kematian.
Aku menyentuh luka yang menganga di perutnya, berusaha merapatkan kembali kulit yang usus-ususnya hampir keluar. Aku meraih celurit yang masih melekat genggamannya. Tawaku pecah. Aku merasa celurit itu adalah maskawin yang akan diberikan Junaedi bila saatnya nanti. Saat melati-melati kembali bermekaran hingga ketajaman celurit berkisah tentang kematian.

Annuqayah, 2009

Monday, January 3, 2011

Langit tak Seindah Dirimu

Subuh kian jauh. Rapuh tak tersentuh. Pelan dan pasti, fajar tersenyum padaku saat cahayanya mencoba mengusir kelelahanku. Sambil mencorat-coret langit, fajar mencumbuiku. Sementara, kumbang-kumbang begitu liar melihat kelopak melati yang bermekaran. Dengan leluasa mereka memerkosa tanpa mempedulikan jeritannya, hingga muncratlah aroma keperawanannya. Wangi sekali.

Saat itulah aku masih menungu matahari menjadi sempurna untuk menggerakkan persendianku setelah semalaman bercumbu dengan mimpi. Ya! Begitulah, selalu tak tersaji secangkir kopi, teh, atau jahe hangat di atas meja sebagai penghangat dari sisa-sisa malam. Tak ada lagi yang memanjakan aku saat matahari mengecup kening bumi semenjak kau memutuskan pergi mencari langitmu.

Sebenarnya aku tak begitu suka dengan kebiasaanku ini. Karena saat bermandikan cahaya itulah, langit akan leluasa menyayat ulu hatiku yang sedang duduk termenung di emperan rumah. Berselimut sarung tipis bermerk Abu Yaman.

Ok! Aku akan sedikit bercerita mengapa aku tak begitu suka pada langit. Tapi, tak penting untuk aku menyebut namanya di sini. Cukuplah aku menceritakannya saja.
Aku selalu dibuat cemburu oleh perempuanku yang selalu memuja langit. Dia terlalu mengagungkan langit. Katanya, langit adalah tempat dari segala keindahan dan tempat untuk meneggelamkan dukanya. Langit adalah simbol dari keromantisan, simbol dari tumbuhnya kasih sayang. Apabila awan menutupi langit, maka hujan akan tumpah dari kelopak matanya seiring dengan hujan menderai bumi.

“Mengapa kau menangis?” kataku waktu itu.

“Aku sedih, karena sampai saat ini aku tak menemukan langit yang aku cari. Langit yang dialamatkan perempuanku,” katanya sedih.

“Perempuan? Siapa dia? Ibumu?” kataku heran.

“Entahlah! Perempuan itu tak mau aku panggi ibu. Padahal, aku merasa dilahirkan dari rahimnya,” ada klise kesedihan yang menggumpal di kelopak matanya.

“Begitukah? Ceritakan padaku perihal langitmu?” kataku memburu.

“Langit adalah tempat kebahagiaanku. Kata perempuanku, Jika aku bisa menemuinya, maka aku akan damai bersamanya.”

“Tahukah kau dimana dia berada?”

“Itulah teka-teki yang diberikan pada perempuanku. Dia tak memberitahu siapa sebenarnya langitku. Tapi dia mengatakan bahwa wajahnya menyerupai seorang pangeran. Entah siapa, aku tidak tahu. Maka dari itulah aku suka menyebutnya dengan Pangeran Lagit. Muara dari kebahagiaanku,” tuturnya panjang.

Aku bisa menafsiri bahwa kekagumanmu pada langit bukanlah sebuah keagungan, tetapi lebih pada manifestasi dari sebuah kerinduan yang mengarat sekian tahun lamanya. Kau tahu, pemujaanmu pada langit telah menampakkan bahwa dirimu haus akan kasih sayang. Tanpa kau sadari, kau telah menjadi budaknya. Jika aku boleh mengatakan, hidupmu selama ini adalah beku. Membatu.

Jujur, aku tidak pernah mampu mengatakan bahwa pemujaanmu pada langit selalu menyakiti perasaanku. Aku dibuat cemburu oleh langitmu. Tak bisa mengungkapkan perasaanku selama ini padamu. Yang aku bisa hanyalah menganggukkan kepala dan meyakinkan dirimu bahwa suatu saat nanti kau akan menemukan langit yang kau cari. Aku hanyalah orang yang menolongmu saat gerimis melumuri tubuhmu dan dingin menusuk tulangmu. Kau menggigil kedinginan di peron tua itu.

Dan pada suatu malam, sambil menatap rembulan, kau berkisah tentang sebuah kerajaan di atas langit. Tempat Dewa Amor, Dewa Eros, Dewi Fortuna serta dewa yang lain. Sempat terlontar dari mulut mungilmu bahwa pangeran langitmu akan turun membelaimu. Membawamu satu bintang yang indah dari sekian bintang yang bertaburan di langit. “Pangeran Langit akan turun dari atas sana, lalu mengecup keningku,” katamu sambil menatap rembulan.

“Jika suatu saat nanti aku harus pergi, maka lukislah namaku di kaki senja,” ucapmu lagi sambil menelanjang bintang-gemintang dengan sejuta harapan.
Sekali dari kesekian kalinya, aku hanya bisa mengangguk. Menggantungkan asa di atas kecemasan. Aku tak bisa berjanji akan melukis namamu di kaki senja. Karena jika kulakukan, maka tak ada bedanya aku melukis namamu di dinding langit. Karena senja adalah bagian keindahan dari langit. Bagian dari kerinduanmu. Itu sama saja aku menyerahkanmu pada langit.

Jika saja kau tak pernah mengatakan bahwa mimpi itu selalu menuntun perjalananmu, aku akan memintamu disini, menemani diriku. Tapi, harapan yang selalu berpijar dari sorot matamu yang teduh membuatku tak berkutik melepas kepergianmu. Tak bisa mengungkapkan jika aku menginginkanmu.

Aku sempat berpikir, jika langit yang dialamatkan oleh perempuan yang ingin kau sebut ibu itu hanyalah sebuah sketsa dari hati yang akan menyayangimu, maka akulah langit itu. Akulah orang yang selama ini kau cari. Langit telah mengutus gerimis untuk mempertemukanku denganmu di peron tua itu. Kau ingat kan?

Tapi kau tetap pergi dengan kerinduanmu. Tak pernah sekali saja berpikir bahwa langitmu adalah diriku. Harapan telah benar-benar membudakmu, sehingga kau tak pernah merasakan kasih sayang langit yang telah kau peroleh dariku. Sampai kapan kau akan mencari langit? Ah, ternyata langit tak seindah dirimu.

Muara Office, 2010

Dimuat di Harian Radar Madura tanggal 02 Januari 2010

Friday, December 3, 2010

Yu…k, Menulis Fiksi! )*

Bersiaplah Menjadi Artis!
“Ada tiga cara untuk menjadi penulis: menulis, menulis, dan menulis”
Ungkapan di atas mungkin sudah terlalau klise. Tapi, benar sekali ungkapan sastrawan gaek Kuntowijoyo itu bahwa untuk menjadi seorang penulis hanyalah menulis. Menulis adalah penyambung umur. Jika kita mati, tulisan akan membuktikan diri kalau kita ada. “Aku menulis, maka aku ada,” begitulah ungkapan (alm) Gus Zainal Arifin Thoha, pengasuh pesantren mahasiswa kutub, Yogyakarta.

Kiranya kurang berimbang jika saya nggak mengutip dari cendikiawan muslim sendiri mengenai menulis. Baiklah, kata Imam Al-Ghazali “Jika kau bukan anak seorang raja, maka menulislah”. ungkapan Imam Al-Ghazali itu memberi indikasi bahwa menulis bisa menjadi artis. Nah, mulai sekarang, budayakan menulis, agar kita menjadi ARTIZ…!!!

Sebenarnya apa sih yang dikatakan fiksi itu? Dalam karya sastra, fiksi juga disebut karya rekaan. Sebagai cerita rekaan, fiksi merupakan kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi pengarang. Biasanya yang termasuk dalam ragam fiksi adalah roman, novel, dan cerita pendek (cerpen). Fiksi dikaitkan dengan cerita yang mengada-ada, rekayasa, sampai pada absurditas. Benarkah demikian? Bagaimana dengan catatan harian yang anda tulis, apakah juga termasuk fiksi? Jangan terjebak pada kosa kata. Bereksperimenlah! Intinya menulis pengalaman ( panca indera) dengan bercerita.

Modal Awal Menuju Kesuksesan
Sulit nggak ya, jadi penulis? Benarkah menulis itu sulit? Memang tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Dan pertanyaan ini juga terus menerus ditanyakan orang dari generasi ke generasi.

Secara umum, sulit atau mudahnya sesuatu tergantung banyak hal, antara lain, niat, kemauan, serta anggapan dan keyakinan yang ada dalam pikiran kita. Jika niat dan kemauannya kuat, maka usaha untuk mencapainya juga akan lebih giat, sehingga proses pencapaiannya akan terasa lebih mudah.

Sebaliknya, jika kita menganggap sesuatu itu sulit, maka kesulitan pulalah yang akan kita hadapi. Lain halnya jika kita menganggap sesuatu itu mudah (ingat: menganggap mudah tidak sama dengan menganggap enteng), maka biasanya segala sesuatunya akan terasa lebih mudah. Berikut beberapa kiat menulis fiksi:

1. Mantapkan niat; Jangan takut jatuh!
“Jangan silau pada prestasi, silaulah pada proses!”
Ingat euy, segala perbuatan harus disertai niat, termasuk ketika menulis. Inilah software yang harus ditata terlebih dahulu sebelum berkutat dengan segala detil teknis penulisan seperti ide, plot atau ending. Niat harus dikokohkan! Aral menjadi seorang penulis sangat terjal, utamanya untuk menembus media; tidak diterima sekali saja sudah nyerah.

Joni Ariadinata, cerpenis senior FLP, dia harus menunggu karyanya hingga sampai ratusan kali untuk dimuat di media. Tpai, karena komitmen tertanam kuat, dia tidak menyerah begitu saja. Dan hasilnya, anda bisa lihat sendiri!

2. Mengejar Ide, Merangkai harapan
Jemputlah bola, jangan ditunggu, jika tidak, kau tidak akan pernah menendangnya, dan GOALLL! A.A Navis memilih nongkrong di toilet berjam-jam – hingga konon ia terserang wasir—demi mengejar sang ide. Jika kamu gimana? Yang penting, di mana enjoy ketika menulis, di situlah tempatnya.

Banyak yang ingin menulis selalu menunggu mood, nggak ada mood nggak menulis. Wah… itu namanya penulis kacau. Kelas teri campur tempe! Menulis fiksi selalau dituntut untuk mengasah otak, selalu bereksperimen dalam rumah kata. Eksperimen disini dimaksudkan untuk melahirkan ide-ide cemerlang serta berlatih untuk meracik diksi yang bagus, memukau, bombastis, dan tentunya tidak klise.

Orang yang disebut penulis adalah yang selalu menulis, tidak harus terkenal. Jika kedua syarat di atas sudah terpenuhi, anda adalah seorang penulis!

Menulis dan Membangun Cerita
Jangan batasi diri Anda! Tulislah kata apa saja yang muncul yang berhubungan dengan setting/lokasi, atau karakterisasi dan ide-ide yang sedang anda bangun sehingga sehingga membentuk gambaran cerita. Jika telah mempunyai gambaran alur ceritanya, itu lebih baik, tapi kalau belum juga tidak menjadi masalah. Ide-ide perlahan akan terbentuk dan berkembang dengan sendirinya asalkan memiliki kemauan kuat. Beberapa adegan, ide, kata, dan kalimat mungkin akan tampak kacau, namun anda masih bisa memperbaikinya.

Membangun cerita berarti membuat urutan adegan, membuat garis besar jalan cerita untuk plot/alur cerita yang akan Anda buat. Rangkailah beberapa adegan yang sempat terpotong-potong itu menjadi sederetan kalimat yang mengalir. Di tahap inilah Anda perlahan membangun garis besar cerita Anda. Saat Anda melakukan hal ini, carilah unsur-unsur kunci dalam cerita yang dapat memberi kesan dramatis.

Jika anda menulis tulisan panjang seperti novel. Mula-mula berilah nama untuk setiap adegan dan simpan di bagian Struktur Cerita. Terkadang saat inspirasi tidak kunjung datang, gunakan saja cara lama: "brainstorming" (membuat coretan kasar)! Tulis sebuah kata, lalu kata lain dan yang lain lagi.

Karakterisasi Cerita
Pada bagian ini anda akan dapat menentukan beberapa hal yang merupakan unsur-unsur umum dalam cerita:

1. Tema
Cerita seringkali ditentukan oleh tema. Pertentangan antara kebaikan dan kejahatan, pertumbuhan, kedewasaan, cinta, kebebasan, kematian dan lainnya. Di sini Anda diharap menentukan tema umum cerita. Disamping tema sebagai arah cerita, juga berfungsi sebagai pemilihan diksi yang akan dipakai dalam cerita itu.

2. Tujuan
Tujuan di sini mencakup segalanya; pembaca, pesan dan karakreristik media. Ingatlah, bagaimanapun juga sebuah cerita bukanlah tentang mengejar sebuah tujuan yang spesifik. Spesifikasi dari tujuan itu sendiri nantinya akan tertuang dalam pesan yang akan anda disampaikan dalam tulisan sekaligus memudahkan anda untuk menyampaikan pesan-pesan yang akan anda tulis.

3. Gaya Bahasa
Kekuatan dari sebuah cerita adalah sejauh mana anda merangkai kata serta mencari diksi yang terpat. Ingat, kualitas sebuah karya fiksi itu diukur oleh perasaan. Rangkailah bahasa sedemikian rupa, tentunya yang selaras dengan tema dan tujuan yang anda bangun. Tujuan gaya bahasa adalah memporak-porandakan perasaan pembaca. Pembaca seakan diaduk-aduk oleh derita yang anda bangun dan “terjatuh” ke dalam cerita itu.

Unsur Intrinksik dalam fiksi:
1. Tema : Merupakan pokok persoalan yang menjiwai seluruh cerita. Tema diangkat dari konflik kehidupan.
2. Plot : Dasar cerita; pengembangan cerita.
3. Alur : Rangkaian cerita.
- Dalam alur hubungan tokoh bisa rapat yaitu memusat pada satu tokoh; atau renggang yaitu tokoh berjalan masing2.
- Proses alur bisa maju; mundur; atau maju mundur.
- Penyelesaian Alur ada alur klimaks dan ada alur anti klimaks.
4. Setting : Tempat terjadinya cerita, terbagi menjadi :
- Setting geografis —-> tempat di mana kejadian berlangsung
- Setting antropologis —-> kejadian berkaitan dengan situasi masyarakat, kejiwaan pola pikir, adat-istiadat.
5. Penokohan : Tokoh baik (protagonis), tokoh yang jahat (antagonis), tokoh (tritagonis) dan tokoh tokoh sampingan (pembantu). Penghadiran tokoh bisa langsung dengan cara melakukan deskripsi, melukiskan pribadi tokoh; atau tidak langsung dengan cara dialog antar tokoh.
Bidang2 tokoh harus digambarkan :
- Bidang tampak : gesture, mimik, pakaian, milik pribadi, dsb
- Bidang yang tidak tampak : motif berupa dorongan / keinginan, psikis berupa perubahan kejiwaan, perasaan, dan religiusitas.
6. Sudut pandang : Penghadiran bisa dengan :
- Orang pertama pelaku utama: penulis terlibat sebagai tokoh utama
- Orang pertama pelaku sampingan: penulis menjadi bagian dari cerita tapi bukan sebagai tokoh sentral
- Orang ketiga: penulis tidak masuk di dalam cerita. Dia memposisikan diri sebagai narator (pencerita).
7. Suasana : Yang mendasari suasana cerita adalah penokohan karena perbedaan karakter sehingga menimbulkan konflik. Dengan konflik pengarang berhadapan dengan suasana menyedihkan, mengharukan, menantang, menyenangkan, atau memberi inspirasi.
Semua point ini harus dihadirkan secara utuh baik berupa cerpen, novel, drama, skenario film / sinetron, sehingga pembaca, pendengar, pemirsa mempunyai daya imajinatif; mempunyai tafsiran tentang tokoh, suasana, dsb; terhadap karya fiksi tersebut.

Jangan lupa : tema, plot, alur, dan setting juga harus jelas sehingga karya fiksi benar2 utuh sebagai karya seni bukan berupa sekadar curahan hati (seperti diary).

Sekarang! Tulislah Apa yang Anda Mau…..!

)*Rangkaian kalimat ini disampaikan pada pelatihan kepenulisan Ikatan Santri Pantai Utara (IKSAPUTRA) Putri tanggal 18 November 2010 di Prancak, Pasongsongan, Sumenep. (edisi revisi)

The Prometean dan Khalifah Perspektif Demokrasi

Barack Husein Obama, saat beramah tamah ke Indonesia (09/11) sempat mengungkapkan, demokrasi harus dibangun dengan menghargai nilai-nilai hak asasi manusia, keadilan, kemanusiaan, aspirasi politik, dan terwujudnya kesejahteraan bagi rakyat. Indonesia yang terkenal dengan negara plural mampu menyatukan negaranya dalam bingkai Bhinnika Tunggal Ika. Dengan salah satu penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia telah dipandang mampu menyatukan masyarakatnya dengan dasar negara Pancasila. Begitulah katanya.

Sah-sah saja Obama menyatakan demikian, sebab statusnya adalah tamu. Tamu, siapa saja, harus pintar mencuri perhatian, memperlakukan tuan rumah seramah mungkin. Sanjungan itu tak lebih dan tak kurang hanyalah sebagai penyambung lidah untuk menikmati jamuan makan bakso, keripik, dan empeng bersama pak presiden.

Jika sejenak kita mencoba menceburkan diri ke dalam kenangan peristiwa 11 September, mungkin kita harus berpikir ulang. Sejak peristiwa itu, Amerika menyebut Islam sebagai kelompok garis keras. Bapak dari terorisnya teroris. Jika berkaca pada perkataannya, bahwa Indonesia merupakan salah satu penduduk muslim terbesar di dunia, secara tidak langsung “masyarakat” Obama juga mengategorikan Indonesia sebagai sarang teroris. Penulis bukan bemaksud mendiskreditkan Obama cs, tetapi hanya sebagai renungan untuk berpikir ulang makna sarang teroris itu.

Pertanyaannya sekaran, benarkah Islam merupakan ajaran kelompok garis keras, yang secara tidak langsung merendahkan Hak Asasi Manusia (HAM) serta seakan juga telah memperlakukan hukum rimba? Inilah pertanyaan mendasar dalam menyikapi ham dalam perspektif keislaman dan keindonesiaan.

Hak dapat dimaknai sebagai suatu nilai yang diinginkan seseorang untuk melidungi dirinya agar dapat memelihara kehidupan serta mengembangkan kepribadiannya. Dalam kata asas, terkandung makna bahwa subjek yang memiliki hak semacam itu adalah umat manusia secara keseluruhan tanpa membedakan status, suku, agama, ras, dan budaya. Dengan demikian Hak Asasi Manusia sedemikian penting, mendasar dan mutlak pemenuhannya (Cf. Sidney Hook,1987).

Islam yang diggembar-gemborkan sebagai agama rahmatan lil alamin memandang manusia bukan sebagai hak otoritas kebebasan. Berbeda dengan orang barat yang memaknai manusia sebagai “makhluk prometean” (the prometean), yaitu manusia yang memberontak terhadap segala jenis otoritas dan mengedepankan otonomi pribadi yang mutlak. Sedangkan Islam memandang manusia tidak lepas dari status dan fungsinya penciptaanya di muka bumi yakni sebagai khalifah (duta Tuhan). Dalam pengertian mandataris, yang diberi kuasa, bukan sebagai penguasa. Adanya unsur ketuhanan dalam diri manusia membuat otonominya tidak bersifat mutlak.

Islam memandang hak asasi manusia sebagai manusia bebas (Q.S. 33:72), bebas dalam kemauan dan perbuatan (Q.S. 76:2-3), bebas dari tekanan dan paksaan manusia lain, bebas dari eksploitasi manusia lain, bebas dari pemilikan manusia lain (Q.S. 90:13), dan bahkan bebas dalam beragama (Q.S. 2: 256; dan 10:99). Karena itu, Islam memandang hak asasi manusia dengan cara pandang yang berbeda dari Barat, tidak bersifat anthroposentris, tetapi bersifat theosentris (sadar kepada Allah sebagai pusat kehidupan). Penghargaan kepada hak asasi manusia, dengan demikian, merupakan bentuk kualitas kesadaran keagamaan, yaitu kesadaran kepada Allah sebagai pusat kehidupan (A.K. Brohi, 1978).

Kaitannya dengan demokrasi, pancasila sebagai ideoligi negara sudah final, tidak bisa ditawar lagi. Kemajemukan suku, agama, ras, dan budaya telah terakomudir di dalamnya. Rumusan kelima sila itu sesuai dengan misi islam; iman, islam dan ihsan. Karenanya, Islam tidak mempermasalahkan kedudukan pancasila sebagai ideologi negara serta ideologi pemerintahan.

Namun pada tatanan realitanya, kemajemukan tidak sepenuhnya toleran. Konflik antar suku, ras, dan agama tetap berkepanjangan di negeri ini. Peristiwa bom Bali, konflik di Poso, serta tindakan kekerasan atas nama agama mensinyalir bahwa HAM di negara kita masih sekarat. Dalil-dalil “pembebasan” selalu dijadikan legitimasi untuk menonjolkan antar suku, ras, dan agama, sehingga ruang lingkup pancasila dalam tatanan formalitasnya tidak menyentuh kepada hak kemanusiaan itu sendiri.

Agama tetap menjadi faktor penting bagi sinergisitas penguatan demokrasi dan civil society di Indonesia, sebab kekerasan yang terjadi 90% atas dasar agama. Meski Indonesia bukan negara agama, kehidupan masyarakat Indonesia tidak dapat dilepaskan dari agama. Kedudukan manusia sebagai khalifah harus menjadi upaya sadar bahwa hak otoritas kemanusiaan tidak bersifat mutlak sebagaimana persepsi orang barat, sehingga upaya pembebasan sebagai penegak dari HAM memiliki batasan-batasan tertentu.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), guru-guru kita telah mengjaran bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Menjunjung tinggi kebebasan; dalam menyampaikan hak hingga memeluk agama. Kondisi itu harus dikelola dengan baik dan bijak oleh pemerintah dan kalangan agamawan agar keragaman agama dan budaya di Indonesia tidak menjadi sumber konflik, tetapi menjadi berkah dan kekayaan bangsa yang saling menguatkan saling mengukuhkan, dan saling memperkaya pengalaman masing-masing.

Menikmati Berbuka Puasa di Rowo Indah

Jika anda pernah atau akan berkunjung ke Kecamatan Ledokombo, maka sempatkanlah barang sejenak untuk mampir ke sebuah danau kecil di Desa Sukogidri. Salah satu desa di kecamatan paling timur Kabupaten Jember.

Rowo Indah nama danau kecil itu. Terletak di atas bebukitan, berjarak 1,5 kilometer dari Balai Desa Sukogidri ke arah timur. Jika sudah sampai di perkampungan yang dikenal dengan Dusun Duklengkong, hanya sekitar 12 rumah, maka kendaraan apa pun harus diparkir di sana. Tak ada rekomendasi untuk dibawa ke lokasi karena jalannya terlalu sempit.

Perjalanan yang masih menyisakan 400 meter ke arah utara itu harus ditempuh dengan berjalan kaki. Mengesankan dan sedikit menguras tenaga. Saya dan teman saya terkadang mengenduskan nafas berat menapaki jalan yang menanjak, berliku, dan bebatuan. Sesekali menahan perut yang keroncongan karena berpuasa.

Tiba di lokasi sekitar pukul 15.50, sebuah pengeras suara sepertinya menyambut kami. Rasa lelah berikut capek seketika terasa lenyap ketika melihat panorama Rowo Indah. Meskipun waktu menginjak sore hari, suasana naturalnya tetap segar. Teriakan bocah-bocah kecil di tepian danau itu menggelitik hati. Bermain. Berkejaran di sisi danau seluas 4 hektar.

Dua buah perahu mengapung mengelilingi danau. Sarat akan penumpang. Perahunya berwarna-warni, namun yang paling mencolok adalah warna kuning kombinasi merah. Burung-burung bangau terbang dan hinggap di Pohon Kelapa saat perahu berukuran sedang itu melintas di dekat mereka. Hanya dengan uang 2000 rupiah perkepala, sudah cukup mengelilingi danau satu putaran.

Ya, di sekitar sisi Rowo Indah berjejel Pohon Kelapa. Bahkan, di tengah danau yang memiliki kedalaman 3,5 meter itu menjulang empat Pohon Kelapa. Maklum, Rowo Indah asalnya memang adalah sebuah ondhut (persawahan yang memiliki sumber air).

Tanggal 28 Juli lalu, sempat menjadi ketegangan warga. Sekitar pukul 02.00 dini hari, ondhut itu meledak, menyemburkan air yang sangat deras. Sehingga menenggelamkan beberapa sawah di sekitarnya. Mereka, yang memiliki sawah gagal panen.

Sebenarnya, setiap tahun ondut itu sering mengalami ledakan air. Pernah Februari lalu terjadi ledakan, warga masih bisa mengantisipasinya. Namun, semburan saat ini lebih besar dari sebelumnya. Sekilas peristiwa itu mengingatkan saya pada semburan Lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo. Bahkan terdengar juga celetukan para warga kalau itu juga “Lumpur Lapindo”. Namun, sama sekali tak terbukti, sebab airnya tak membahayakan. Bahkan bisa menjadi obat. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk menyembuhkan penyakit. Seperti sakit mata, jerawatan, gatal-gatal, dan penyakit kulit lainnya.

Beberapa warga merasa iba atas orang yang sawahnya ikut terendam. Muncullah aksi gotong-royong untuk membuat selokan selebar setengah meter ke arah selatan menuju Sungai Laok.

Usaha mereka nihil, tak membuahkan hasil. Maka, muncul ide baru dari kepala RT Dusun Duklengkong; menutup selokan dan membiarkan airnya tetap menggenang. Usulan itu disambut baik. Untuk menambah daya tarik pengunjung, kepala RT dan kepala desa memfasilitasi dua perahu yang disewa dari Muncar. Nantinya, 35% dari hasil perahu masuk pada anggaran pendapatan desa dan sisanya menjadi hak para pemilik sawah setelah dipotong biaya sewa perahu.

Tidak hanya itu, setelah meledak, danau itu menjadi banyak ikannya. Banyak pendatang yang juga mencoba “mengadu nasib” dengan memancing. Kailnya bukanlah cacing atau daging, tapi hanya lumut kerak. Bagi yang ingin memancing sudah ada posisinya, yaitu di ujung timur, di bawah dua Pohon Randu besar berdiameter kira-kira 30 centimeter. Mereka seperti nampak mengikuti kontes memancing, padahal tidak. Siapa berminat, silahkan mencoba. Gratis!

Beberapa pengusaha lokal sempat melirik Rowo Indah untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. Namun, para pemilik sawah tak setuju menjual lahannya karena sawah atau ladang merupakan prioritas utama mata pencaharian mereka. 90% masyarakat Desa Sukogidri adalah petani. Mereka berharap dan meyakini suatu hari lahan itu bisa kembali seperti sedia kala.

Kondisi Rowo Indah itu dibiarkan begitu saja dengan keeksotisan alamiahnya. Membiarkan apa adanya tanpa ada langkah-langkah untuk mempercantik diri. Hanya pembersihan tepian danau dari tumbuhan enceng gondok seminggu sekali.

Setelah menyaksikan dan sedikit berbincang santai dengan para pemancing, yang katanya bisa memperoleh 30 ekor seukuran tangan bayi dalam waktu satu jam, kami melanjutkan perjalanan ke arah utara. Di utara danau itu berjejel rapi para penjual makanan. Dari makanan ringan sampai makanan khas pedesaan seperti lontong, ketupat, soto, rujak, dan lain sebagainya.

Ada sembilan penjual di sana yang saling berhadap-hadapan. Tempatnya sangat sederhana, terbuat dari bambu dan atapnya dari plastik yang di atasnya ditumpangi jerami. Beberapa makanan yang ditata rapi membuat saya harus beberapa kali menelan ludah.

Karena lidah saya selalu ngidam makanan itu. Maka kami memutuskan untuk berbuka puasa di sana. Apalagi matahari sudah hampir mendekati garis cakrawala.