Monday, August 4, 2014

Slerok


(Dimuat di Republika, 6 Juli 2014)

Undangan dari Taris kudekap. Wewangian menguap dari kertas itu. Sungguh tak asing, aroma parfum yang kerap hilang dan tercium secara tiba-tiba. Lebih setahun aroma itu hilang namun membekas seperti kerak di kaki dermaga. Bersugesti.

Parfum itu manifestasi keindahan! Koarnya ketika kukritik aroma parfum itu. Kepalaku terasa pening karena menurut selera penciumanku Taris terlalu berlebihan memakainya.

Dia benar-benar ingin hidungku menyesuaikan diri dengan wewangian yang berubah setiap pakaian lucut dari tubuhnya. Kendati kerap bergonta-ganti parfum, hanya ada satu parfum yang disenanginya sehingga hidungku sangat peka.

Lebih dari itu, feeling berbicara lain. Taris hendak membentuk kepribadian baru dalam diri seorang yang tak suka aroma parfum, atau barangkali dia tak lebih hanya seorang penjual yang ingin menawarkan barang? Ya, Taris memiliki sebuah toko, La Tansa de Parfum, namanya. Ah, perasaan kadang kerap terlalu berlebihan.

Dia mengenalkan berbagai jenis dan merek parfum. Tentu saja, sebagai orang yang tak suka menggunakan parfum, aku sama sekali tak tertarik mengenali jenis wewangian, apalagi mereknya. Bila harus ada aroma pengusir bau yang melekat di badan, barangkali hanya deodoran. Bukan soal parfum yang melekatkanku dengannya. Perasaan peduli terhadap pendidikan di daerah tertinggal yang membuatku dekat dengan gadis bermata matahari itu.

Taris seorang petualang sejati. Dia aktivis lingkungan. Di kampus, dia konsen menggeluti bidang konservasi lingkungan. Menurutku, Taris perempuan yang unik: mengambil jurusan ekonomi, tetapi konsen pada konservasi lingkungan.

Cerita bermula ketika Taris melakukan observasi lingkungan di lereng Gunung Raung, pembatas antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Secara detil bercampur empati dia menceritakan temuan sekelompok penduduk dengan segala keterbatasan: pangan, kesehatan, sampai pendidikan.

Slerok nama kampung itu. Tumbuh di kawasan hutan pinus yang dingin dan tak ramah sinyal. Kendati berada di lereng gunung, sumber mata air tak lebih dari sekadar pancuran air kran. Slerok mirip dengan area yang hilang. Di saat penduduk kota Jember menyambut gembira event tahunan macam Bulan Berkunjung ke Jember, yang go international, masyarakat Slerok bersusah payah di lereng yang senyap nan asing.

“Sebenarnya tak ada yang perlu ditakjubkan melihat kondisi pendidikan seperti itu. Apa yang tidak ada di negeri ini. Meski sudah berganti rezim dan setiap kebijakan selalu diselipkan kata modernisasi dan pemerataan sosial, tetap saja ada yang terabaikan,” tukasnya dengan alis terangkat dan hampir bersentuhan.

Taris antusias membangun kembali area yang hilang itu. Seakan esok tak akan melihat kampung itu lagi. Salah satu terobosan pikiran yang dikembangkan adalah menghidupkan kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar yang sudah mati suri selama satu setengah tahun.

Sekolah dengan bangunan serba sirap itu hanya memiliki dua ruang kelas. Satu ruang untuk kelas 1-2-3 sementara kelas 4-5-6 di ruang yang satunya. Di ruang kelas hanya ada tiga gambar: presiden, wakil presiden dan burung garuda lengkap dengan lima butir pancasila. Tak ada peta, tak ada buku pengayaan, tak ada bank data kelas.

“Sekolah itu harus hidup. Sebagian anak-anak sudah ogah-ogahan belajar, lebih memilih mengumpulkan biji mahoni dan sengon dari pada turun-naik sekedar belajar cara berbahasa Indonesia dengan benar. Kaki-kaki itu sudah lelah setiap hari terluka kena batu cadas jalan setapak. Kasihan bukan, mereka juga anak bangsa.”

Masalahnya hanya Taris seorang yang iba. Taris sungguh mengerti betapa diantara para pecinta alam, dalam kondisi seperti ini, hanya aku yang bisa memahami perasaannya. Dan dia menutup cerita sembari merajuk dengan nada iba: Aku butuh bantuanmu.

Uluran tangannya tanpa jeda membuka cakrawala. Alif ba ta tsa, ilmu hitung, cerita rakyat, sampai pantun jenaka terselip renyah diantara tawa canda. Bau lapuk sirap dilahap rayap dan aroma keringat lenyap oleh wewangian di tubuhnya.

Tak mudah berdamai dengan masa silam yang sesekali bertandang sebagai rasa sesal. Namun, tatapan sendu bocah perempuan yang terbaring di atas lincak beralas rajutan serabut daun pinus menyadarkan betapa masa silam datang bukan untuk dihukumi apalagi dirutuki, melainkan harus menjadi cermin untuk melangkah hari.

“Sudah kuduga kakak pasti senang,” suara Wulan ringan namun menjerat leher.

Ada cahaya di matanya. Lidahku menebal. Telingaku mengental. Tangan Wulan terasa dingin menggenggam pergelangan tanganku. Energi itu tampak memberikan keyakinan betapa dugaannya tidak salah.

Bentuk alisnya yang tebal melengkung menipu pandangan seolah dia berbaring karena kecapean biasa. Sakit yang tak bisa dia lawan seperti sirna oleh senyum yang selalu mengembang. Bibirku terasa berat untuk ditarik, tetapi harus kutarik, demi Wulan.

Malam itu langit tampak bersih meski hanya dengan sedikit bintang. Memasuki pergantian musim, Gunung Raung seperti dipeluk duri-duri tajam. Angin berkesiur membangkitkan bulu kuduk. Deru generator meraung-raung. Sebentar lagi mesin itu bakal mati karena malam sudah cukup larut untuk tidak butuh cahaya. Generator itu hanya memiliki nyawa 6 jam per hari untuk menghasilkan tenaga listrik.

Benar! Raungan itu kini sudah mati. Rumah-rumah berdinding sirap dengan jarak yang berjauhan seperti sebuah peti mati peninggalan sejarah. Ada suasana dingin, gelap, dan muram, bergelantungan di dinding kamar.

Penduduk tak berani membangun rumah yang lebih megah dari itu. Lahan di sana secara legal milik Perhutani yang menanungi area hutan pinus. Memberikan izin permanen hanya akan membuat masalah baru soal urusan klaim kepemilikan lahan. Di samping memang, bangunan permanen susah didirikan karena kontur tanah yang berbatu dan jalan transportasi yang sangat sulit dilalui.

Dari celah dinding sirap, disitu aku leluasa melirik langit dengan dua bintang yang tertangkap oleh pandangan. Kesiur angin berdesir menudung reranting pinus. Deru serangga malam terasa lebih dekat. Ingin kumainkan harmonika, tetapi lidah rasanya terkunci untuk berirama.

Malam seperti kembali mendamparkanku sebagaimana malam pertama di tempat ini. Butuh waktu hampir seminggu tubuhku bisa menyesuaikan diri dengan suhu yang seperti sayatan pisau cukur. Selimut saja tidak cukup melelapkan mata. Dingin kerap melawan. Semalam suntuk waktu kuhabiskan duduk sengkil, memandang puncak Gunung Raung.

Lolongan anjing menemani pandangan sunyi. Pikiran berkelana pada suatu masa yang melelahkan. Taris pamit untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswi. Skripsinya mandek hampir tiga semester.

“Paling lama enam bulan,” pintanya.

Berat membayangkan saat dia tiada, aku seorang mengurus enam kelas sekaligus, kendati secara realitas cuma ada dua kelas. Karena keterbatasan fasilitas, saat ini, dua ruang kelas itu dipakai untuk kelas 1-2-3, sementara kelas 4-5-6 ‘dimutasi’ dengan sistem sekolah jarak jauh ke SDN Sumber Gadung, satu setengah kilo di bawah kampung Slerok. Peran ganda harus kulakukan: pukul enam mengantar anak kelas 4-5-6 dan pukul delapan mengajar kelas 1-2-3.

Bukan namaku yang tertulis di atas undangan. Undangan ditujukan untuk Ustadz Izzuddin, pengasuh pondok tahfidz, tempat Wulan belajar agama selepas lulus dari sekolah reot itu. Tanggal resepsi pernikahan sudah lewat dua bulan lalu. Wulan sengaja menyimpan undangan warna merah marun itu untuk menunjukkan kabar bahagia kepada seluruh penduduk Slerok. Orang pertama dia pilih adalah aku.

Wulan cuma segelintir bocah lereng gunung yang hidup karena mimpi-mimpi Taris. Taris memang jago membakar motivasi betapa hidup untuk mengabdi. Dia mampu mengubah keterbatasan menjadi ketakberhinggaan. Dia bukan hanya berhasil meyakinkan bocah-bocah untuk terus meraup ilmu demi menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, tetapi juga berhasil meyakinkan orangtua bahwa tak ada yang sulit asal mau berusaha. Sebagai orangtua, tentu mereka ingin ingin anaknya memiliki kehidupan lebih baik, yang tidak hanya mengandalkan tenaga fisik, naik turun gunung sekedar untuk bertahan hidup.

Kini, Wulan sudah pergi. Tubuhnya berdiri di puncak Gunung Raung dengan lambaian tangan yang khas. Dia tampak berpamitan sebelum melakukan perjalanan jauh, entah kemana. Gamitan tangan dingin itu masih membekas di pergelangan tangan. Baru terasa jika rasa dingin itu simbol kepasrahannya pada keadaan.

Akhir-akhir ini pikiranku dicekoki bermacam-macam argumen untuk meninggalkan Slerok. Apa yang perlu ditunggu lagi. Perempuan yang diharapkan datang sudah jelas tak mungkin akan kembali. Dia sudah memiliki imam, penuntun hidup. Membangkang pada imam berarti memaktubkan diri menjadi penghianat.

Senyum Wulan, dengan segala perjuangan dan kelelahan, membuat perasaan untuk meningalkan Slerok menyisakan rasa malu. Dia berjuang, membangun harapan sampai di atas kerongkongan.

Apakah kakak menyerah dan meninggalkan kami hanya karena Kak Taris tak kembali? Di dalam mimpi, berkali Wulan bertanya.

Dalam kondisi apapun, puncak gunung selalu tampak berwibawa. Bulan sabit bertengger di atasnya seperti bando anak perempuan yang terlepas. Rindu ini tak akan pernah berada di titik nadir.

Undangan itu masih kudekap. Dada terasa pecah. Mata jadi perih ingat pesan Wulan: sampaikan salamku pada Kak Taris.

Ada senyum di sana. Di puncak Gunung Raung.

Jember, 1 Juni 2014
(Dedikasi untuk alm. Ribut Sri Wulandari)

Sunday, July 20, 2014

Sayembara Menulis Novel DKJ 2014

Dewan Kesenian Jakarta kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel. Melalui sayembara ini DKJ berharap lahir novel-novel terbaik dari pengarang Indonesia yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi.

Ketentuan Umum
• Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya).
• Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
• Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
• Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
• Tema bebas.
• Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya).
Ketentuan Khusus
• Panjang karya 40.000-100.000 kata, halaman A4, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12.
• Peserta berusia antara 17-37 tahun (dibuktikan dengan fotokopi KTP).
• Tiga (3) karya prosa atau cerpen peserta pernah dimuat di media massa (bukan media internal seperti: majalah sekolah atau kampus, media komunitas, blog, online) atau satu (1) buku tunggal peserta (bukan antologi) pernah diterbitkan oleh penerbit umum (bukan self publishing).
• Menyertakan fotokopi contoh prosa (cerpen) karya sendiri yang pernah dimuat di media cetak minimal 3 karya.
• Menyerahkan biodata, alamat surat, dan nomor kontak di lembar terpisah.
• Empat salinan naskah dikirim ke:Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2014Dewan Kesenian JakartaJl. Cikini Raya 73Jakarta 10330
• Batas akhir pengiriman naskah:30 September 2014 (cap pos atau diantar langsung).
Lain-lain
• Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Desember 2014.
• Hak Cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
• Naskah pemenang yang diterbitkan menjadi buku harus mencantumkan logo DKJ.
• Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
• Pajak ditanggung Dewan Kesenian Jakarta.
• Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta Periode 2012-2015 dan keluarga inti Dewan Juri.
• Maklumat ini bisa diakses di
 http://www.dkj.or.id.
• Dewan Juri terdiri dari sastrawan dan akademisi sastra.
Hadiah
• Pemenang I
 Rp.20.000.000
• Pemenang II
 Rp.10.000.000
• Pemenang III Rp.7.500.000
• Pemenang IV Rp.5.000.000
Jadwal
• Publikasi Maklumat: Juni 2014
• Pengumpulan karya: Juni-September 2014
• Penjurian: Oktober-November 2014
• Pengumuman pemenang: Akhir Desember 2014

Tuesday, July 1, 2014

Surat Kepada Kawan


Kawan,
Detik ini kita menyebutnya sebagai detik perpisahan dan akhir perjuangan
Tidak kawan, detik ini merupakan babak awal perjuangan yang sebenarnya
Bersama matahari yang kian meninggi sampai menua

Namun sayang,
Perjuangan ini harus kita tempuh sendiri-sendiri
Kebersamaan sudah hampir tidak sama lagi
Kini, saatnya kita harus berjalan sendiri
Melangkah mengikuti takdir yang sudah tergarisi

Ketika kebersamaan menjadi langka
Ketika canda tawa begitu berharga
Kita baru sadar betapa kebersamaan yang kita kira masih panjang
Ternyata hanya setitik debu yang tersauh angin

Ya, Allah...
Benarkah detik ini atas nama perpisahan akan terjadi?
Dengan guru-guru kami yang telah membesarkan kami
Padalah, sampai hari ini kami belum sempat mengusap keringat guru kami
yang mengucur karena kenakalan kami

Ya, Allah...
Benarkah detik ini atas nama perpisahan akan terjadi?
Sahabat-sahabat kami yang sama berjuang di jalan-Mu
Padahal senyum kebersamaan masih belum terbingkai rapi di hati kami

Kawan,
Mengapa baru detik ini kita menyesali hari yang telah tersia-siakan
Tentang seorang guru yang tak pernah kita hiraukan
Tentang seorang guru yang marah karena kenakalan kita
Tentang seorang guru yang kadang tak pernah kita hargai keberadaannya
Guru yang selama ini dengan ikhlas
Merajut mimpi-mimpi untuk kita wujudkan bersama
Dengan nada dan bahasa yang sangat bersahaja

Kawan,
Meski mereka, guru-guru kami, tak pernah meminta imbalan jasa
Tidakkah kita berpikir apa yang bisa kita berikan?
Mereka ikhlas meluangkan tenaga dan waktu
Meninggalkan anak dan istri hanya untuk mendidik kita menjadi manusia seutuhnya

Malahhan Kita masih menggerutu sendiri
Mengatakan mereka galak
Mengatakan mereka tidak tahu
Mengatakan mereka cuma bisa menyuruh-nyuruh
Parahnya, kita mengatakan mereka tak layak jadi guru

Kini,
Di ujung jurang perpisahan
Perbuatan kita telah menampar diri kita sendiri
Butir-butir penyesalan mengkristal karena kita tak bisa berbalas budi

Kawan,
Yakinlah betapa pintu maaf guru kita sangatlah terbuka lebar
Yakinlah betapa barokah dan ridhonya tidak hanya berhenti sampai disini
Yakinlah betapa doa mereka akan senantiasa mengalir untuk kita

Ya, Allah
Kutengadahkan tanganku untuk memohon ampun kepadamu
Berikan ketegaran kepada guru-guru kami
Berikan guru-guru kami kesehatan agar senantiasa tetap berjuang di jalan-Mu
Lindungilah keluarga mereka sebagaimana mereka melindungi kami
Berikan kebahagian yang melimpah kepada guru-guru kami
agar sesungging senyum tetap kami rasakan setiap waktu

Nurma tercinta
Terima kasih atas semuanya
Segala kenangan akan tersimpan kuat dalam hati
Menjadi lentera dalam setiap jejak langkah kami

Kawan,
Ingatlah!
Kita pernah ada
Pernah punya cerita
Tercipta lebih dari cinta

Jember, 6 Juni 2014

Monday, May 12, 2014

Merindu


(Dimuat di Tribun Jabar, 11 Mei 2014)
Perkenalkan, namaku Rustini. Janda dua anak yang terobsesi dengan cinta yang tak biasa, jika tidak kukatakan luar biasa. Sebagian menganggapku sudah gila karena porsi ‘ketidakbiasaan’ itu. Tentu yang menganggapku demikian tidak salah. Secara matematis dan nalar pikir, persepsi gila memang pantas disematkan kepadaku.

Selalu kukatakan pada mereka, justru cinta yang tak biasa itu yang menegakkan langkahku sampai hari ini. Memberikan semangat hidup,  semacam pelita di gelapnya malam.

Ia lelaki terpercaya. Lelaki paling istimewa. Keistimewaannya melebihi kedua anakku, Siti dan Ahmad. Melebihi suami, yang sejak tujuh tahun rutin kukirimi Yasin dan simpul-simpul tawasul. Aku punya porsi cinta tersendiri untuk orang-orang yang kuanggap berharga dalam hidupku. Termasuk memilah porsi cinta antara lelaki itu dengan keluargaku.

Sebagai perempuan yang telah memiliki keluarga, tak sekalipun terbesit bahwa aku telah melakukan perselingkuhan, lebih-lebih menerobos hukum keluarga. Tak ada kata hianat. Tak ada. Malah aku yakin, anak dan suami merestui serta menerima dengan sangat ikhlas aku mencintainya, sebagaimana keyakinan bahwa lelaki itu juga mencintai anak dan suamiku.

Ia yang mengajari menjadi orang baik. Mengajari bagaimana menjaga kehormatan perempuan. Menunjukkan kepada yang hak dan yang batil. Tanpa kusebut namanya, semua orang sudah tahu. Hanya saja tidak semua orang punya cinta yang sama, sehingga mereka hanya sebatas tahu dengan sikap tak mau tahu.

Maka, pagi-pagi sekali langkahku sudah tegak berayun. Aku harus mendapatkan banyak uang agar segera bisa menemuinya. Tubuh lelah karena setiap pagi dan sore harus naik turun bukit akan terobati hanya cukup membayanginya dalam setiap ayunan langkah.

“Ibu, nasinya belum matang. Ibu sudah mau pergi?” Tanya Siti, si sulung.

“Tidak apa-apa. Tanpa sarapan, Ibu pasti kuat.” Jawabku. Siti mematung memerhatikanku.

“Sudahlah, Bu. Ibu jangan lagi bermimpi ke Mekah. Mana cukup uang yang Ibu kumpulkan,” Ahmad, anak bungsu tiba-tiba berdiri di samping Siti. Nadanya selalu datar. Tetapi kutahu, ada rasa iba pada nada itu.

Aku diam. Menatap kosong. Tak kupedulikan komentar Ahmad. Suatu saat nanti mereka pasti mengerti, semua bisa melakukan perubahan sekalipun tampak muskil. Mereka masih perlu banyak belajar bagaimana tangan Tuhan sungguhlah lebar bagi orang yang bersungguh-sungguh. Mereka juga akan mengerti betapa lelaki yang ingin kutemui memiliki kasih sayang melebihi kasih sayang kepada dirinya sendiri. Suatu saat. Ya, suatu saat.

Semua orang, termasuk anakku, menganggap mimpiku tak mungkin berbuah nyata. Mereka seakan menganggapku sudah gila. Memimpikan sesuatu yang mustahil terwujud di saat sekarang; kehidupan yang serba rasional dan penuh perhitungan.

Setiap kali ada kesempatan, aku selalu bercerita tentang kesempurnaan mimpiku. Berharap anakku menaruh mimpi yang sama. Namun justru malah ungkapan seperti pungguk merindukan bulan yang kudapat. Siti yang kuanggap paling mengerti, menjadi orang pertama yang menyebutku seorang pemimpi.

“Seharusnya Ibu tidak seperti ini. Pergi Subuh, pulang Magrib. Kami semua membutuhkan Ibu. Kalau bukan Ibu siapa lagi,” kata itu meluncur dari mulut Ahmad, bocah yang tak kebagian kasih sayang seorang ayah. Ia sudah ditinggalkan saat masih mendekam dalam rahim. Bocah yang dibaiat zaman sebagai anak yatim itu menatap tanpa ekspresi.

“Ibu tidak gila, Nak. Ibu masih waras. Ibu masih ingat kalian. Jangan pernah berpikir Ibu sudah gila dan telah melupakan kalian. Kalian tetap anakku. Tak akan menjadi orang lain,” tukasku.

“Siapa yang mengatakan Ibu gila. Aku hanya ingin Ibu tidak lagi berpikir tentang sesuatu yang sulit diwujudkan. Penghasilan Ibu tak seberapa. Ketika Ibu bilang bahwa mimpi yang paling indah adalah mengunjungi makamnya, ada rasa sakit yang tak tertahankan tersebab Ibu tampak diburu risau.”

“Kurang bijak rasanya bila Ibu menghapus mimpi itu. Mimpi yang sejak kecil sudah ditanam oleh kakekmu kuat-kuat ke ulu hati Ibu.”

“Tidakkah ada banyak cara untuk menemuinya? Ibu bisa bertemu tanpa harus jauh-jauh mengarungi jalan panjang. Tanpa harus menguras keringat naik turun bukit. Bukankah Ibu pernah mengatakan, cinta adalah kekuatan dan rindu adalah sarana komunikasi. Ibu bisa menemuinya di dalam mimpi. Itu tidak mustahil. Bukankah Ibu seorang pemimpi? Ibu juga pernah mengatakan bahwa setan tidak bisa menyerupainya. Guru ngajiku pernah pula memberitahu, jika ingin menemuinya, perbanyaklah membaca salawat,” tukasnya. Ia sudah menusukku dengan kata-kataku sendiri.

Siti bergegas. Menumbuhkan kesendirian yang senyap. Meninggalkan semua mimpiku.

Waktu memasuki sepertiga malam. Aku terbangun. Ada suatu bisikan yang membuatku terjaga. Entah, kurasa aku tak sedang bermimpi menerima bisikan itu. Sadar sesadar-sadarnya bisikan itu terdengar sangat jelas sampai membangunkan tidurku.

Jika kamu mengharapkan pertemuan dengannya, perbanyak membaca salawat sebelum tidur, dan janganlah sampai kamu membatal wudu sampai terlelap. Aku ingat bisikan itu. Sangat jelas.

Tangis pecah. Hadir tanpa kusadari. Tak bisa kupungkiri, rindu yang mencairkannya. Barangkali Tuhan punya rencana yang sangat indah dengan kemiskinanku. Rencana indah atas ketidakmampuan mengumpulkan uang untuk mengunjungi rumah Tuhan dan menemui kekasih-Nya. Selama ini aku berusaha untuk tetap suci lahir dan batin. Baik semasa gadis, sebagai istri, sampai kini seorang janda. Segalanya akan tembus pandang apabila benar-benar menjadi bening.

Aku lelah. Tangisku masih menitik. Tak ada upaya melupakan mimpi itu. Mimpi yang ada sejak aku mendengar cerita-cerita keteladanannya semasa masih kecil, semasa masih suka tiduran di surau. Mimpi itu tampak sempurna. Sampai sekarang.
Setiap kali akan tidur aku selalu membaca salawat sebanyak mungkin. Aku sangat merindukannya.

Ajaib. Aku berada di sebuah majlis taklim. Ornamen-ornamen masjid sangat tak kukenali. Suasana yang sangat asing. Tidak hanya aku yang berada di situ. Orang-orang bersila membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran, berdiri sesosok yang begitu sempurna. Penyampaiannya bagus dan santun. Semua orang berdecak kagum.

Wajahnya memancarkan cahaya. Belum pernah kulihat cahaya seterang itu, kalau bukan sekarang. Tak jelas lekuk di wajahnya, tetapi pancaran itu menghilangkan pikiran seperti apa rupa di balik cahaya itu.

“Bagaimana seharusnya aku bisa menemuinya?” seorang jamaah pengajian bertanya. Kendati tak disebut, aku paham dan seperti ada dorongan bahwa ‘nya’ yang dimaksud adalah lelaki yang selama ini kurindukan.

“Fakir miskin. Kasihilah fakir miskin di sekitar kalian,” jawabnya.

“Bagaimana bisa mengasihi, sementara kami termasuk salah satu dari golongan mereka,” ucapku tanpa sadar.

“Anak yatim. Santunilah anak-anak yatim.” Jawabnya.

Mendengar jawaban itu, hatiku berkesimpulan betapa orang yang berdiri di depanku adalah lelaki yang selama ini kurindukan. Ini bukan mimpi. Tak menyangka aku akan berkumpul dengannya dalam satu majlis. Aku merasa hidup ini begitu sempurna. Bukankah hidup akan terasa sempurna apabila suatu keinginan terkabulkan?

Perlahan aku beranjak. Aku ingin selalu berada di dekatnya. Aku ingin memasrahkan segala hidupku untuknya. Tetapi, entah hendak berarah maju ataukah bergerak mundur, langkah menjadi limbung. Tubuhku terguncang.

“Ibu. Ibu. Sudah azan,” samar kudengar suara Siti. Aku mengerjap. Mataku terawang. Hampir saja marah.

“Siti membangunkan Ibu. Pertemuan Ibu belum selesai.” ucapku tak bisa menyembunyikan kekesalan dan kegembiraanku.

“Maaf, Siti tidak bermaksud begitu. Azan Subuh sudah sejak tadi, tapi Ibu belum juga bangun.” Jelasnya parau.

Aku diam. Tetap di ranjang. Menekuri kesalahan. Masih sulit untuk kuterima bahwa aku bermimpi bertemu dengan lelaki yang kurindukan.

“Semoga suatu saat nanti Ibu bisa mengunjungi makamnya,” katanya pelan dengan nada yang lebih serupa permohonan untuk berhenti bermimpi. Matanya berkabut. menyiratkan cemas pada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

Secercah cahaya membuka langit. Astaga! Belum solat.

Aku bergegas ke perigi. Membasuh muka, tangan, rambut, telinga, dan kaki. Aku ingin menceritakan semuanya pada pemilik langit. Tentang kerinduan seorang perindu. Tak ada yang bisa mendengar pengaduanku selain kepada-Nya.

Terimakasih, Engkau telah mengijinkanku melihatnya meski hanya di alam mimpi. Aku yakin, Engkau akan memberiku kesempatan mengunjunginya di alam nyata. Aku yakin Engkau akan memberiku kesempatan menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Amien.

Kedua tanganku mengatup. Lelaki yang kurindukan pasti merindukanku melebihi kerinduanku. Mengasihiku melebihi kasihku. Sebagaimana keyakinan doaku akan terkabulkan. Aku percaya, tangan yang satu tidak mungkin bertepuk tanpa tangan yang lain.

Dan itu terbukti sekarang!

Bagaimana kulukis perasaan ini? Setelah melalui perjalanan panjang nan berliku, akhirnya sampai juga pada puncak yang ingin kutuju. Sejak awal perjalanan, aku sudah yakin bisa menemui lelaki itu. Tidak mungkin ia tidak merindukanku. Hanya saja ia masih menunggu waktu yang tepat untuk menemuiku.

Fakir miskin? Ya, fakir miskin. Ia menyuruh mengasihi fakir miskin, bahkan mengatakan selalu bersama mereka. Tetapi, tunggu dulu. Bukankah aku termasuk dari golongan itu? Berarti ia selalu bersamaku. Ah, betapa bodohnya diriku tak pernah menyadari.

Anak yatim? Ya, anak yatim. Ia menyuruhku menyantuni anak yatim. Kuyakin itu adalah petunjuk untuk betemu dengannya tanpa harus jauh melangkahkan kaki berziarah ke makamnya.

Pagi ini juga aku akan mengajak kedua anakku. Mencari tahu kebenaran alamat mimpi itu. Di luar, Siti dan Ahmad menatap semringah. Kutahu mata mereka menatap bangga. Sesosok yang ingin kutemui berada diantara Siti dan Ahmad. Kedua tangannya memegangi pundak anakku.

Rupanya, lelaki yang kurindukan selalu bersamaku dan kedua anakku.

Jember, 20 Januari 2014

Saturday, May 3, 2014

Ngaji Radikal dari NU


Judul Buku      : Tradisionalisme Radikal; Persinggungan Nahdlatul Ulama-Negara
Editor              : Greg Fealy dan Greg Barton
Penerbit           : LkiS Yogyakarta
Tebal buku      : xvi + 360 hal: 14,5 x 21 cm
No ISBN         : 979-8966-11-2
Cetakan           : III, April 2010

Kontribusi NU terhadap tegaknya NKRI tidak bisa dinafikan. Perjuangan ulama di seluruh nusantara dalam menegakkan kemerdekaan serta membentuk negara berdaulat merupakan sumbangsih yang tak mungkin bisa dikesampingkan. Terlepas dari rasa “egoismesentris” keagamaan, spirit perjuangan ulama NU memainkan peran yang signifikan atas perubahan sosial dan politik di Indonesia.

Buku ini Tradisionalisme Radikal; Persinggungan Nahdlatul Ulama-Negara adalah kumpulan ilmiah yang sebagian besar hasil penelitian dari ragam tema. Di antanya, ideologi dan tingkah laku politik NU, struktur organisasi NU, dan Respon NU terhadap perubahan sosial dan modernitas.

Greg Fealy dan Greg Barton sepakat membagi sejarah perkembangan organisasi berlambang bumi itu menjadi tiga fase: Pertama, NU sebagai organisasi sosial-keagamaan, Kedua, NU sebagai partai politik, Ketiga, kembalinya NU pada khittah yaitu sebagai organisasi sosial-keagamaan.
NU lahir dari rahim pesantren dan untuk pesantren, bukan untuk negara. Ideologi modern yang dibawa oleh para penjajah, baik Belanda maupun Jepang, membuat NU harus  bertindak tegas terhadap teganya agama Islam di Nusantara. Pada tahap ini, dikatakan bahwa NU menerapkan politik internal (sirr).

Pada perkembangannya, percaturan NU di panggung politik semakin terang. Kemelut perpolitikan pada rezim Orde Lama dan Orde Baru menyisakan dilema yang sangat kompleks membuat kalangan elit NU tidak bisa tinggal diam. Pada akhir tahun 1930-an NU menentang regulasi pemerintah kolonial yang dianggap bertolakbelakang dengan Islam.  Keterlibatan NU sagat terbaca ketika turut mendukung GAPPI (Gabungan Partai Politik Indonesi), sampai kemudian membentuk motor politik sendiri yakni Partai Masyumi.

Sebagai Organisasi Islam tertua di Indonesia yang lahir pada 31 Januari 1926, merangkum kontribusi NU terhadap NKRI dalam tulisan yang singkat ini tentu sangat kurang, sebab perjalanan NU sampai saat ini seperti air beriak di sepanjang liku aliran sungai.

Ada gagasan yang sangat menarik dari isi buku yang dimotori oleh Greg Fealy dan Grek Barton (editor) ini. Sebuah buku terjemahan pertama yang—menurut Gus Dur—yang mengulas secara detil soal persinggungan NU dan NKRI. Yaitu kata “Radikal” pada bagian judul buku.

Kenapa ada Radikal? Bukankah empat pilar yang dimiliki NU, yaitu tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazzun (seimbang) dan I’tidal (adil) membuat organisasi yang didirikan oleh K.H Hasyim As’ari terkenal dengan fleksibilitasnya?

Kata ‘Radikal’ disadur oleh Mitsuo Nakamura, yang turut diundang oleh Gus Dur pada Muktamar NU ke-26 di Semarang pada tahun 1979. Peneliti asal Jepang tersebut menilai gerakan politik NU adalah gerakan radikal. Radikal dalam pengertian kritik yang luas dan terbuka (hal, 114). Asumsi tidaklah berlebihan sebab NU pengkritik keras rezim Soeharto.

Dengan sikap seperti itu terjadi sebuah paradoks: radikalisme politik dan tradisionalisme agama. Dua arah yang seakan berlawanan arah tersebut justru memperkokoh eksistensi NU sebagai organisasi massa. Radikalisme politik NU sebagai jalan li maslahatil ummat. Radikalisme politik merupakan langkah memperkokoh tradisionalisme keagamaannya.

Si sisi lain, Radikalisme politik membuat harmonisasi di tubuh NU kerap bertolak belakang. Nilai-nilai adap asor yang menjadi salah satu karakteristik dalam konteks sosial-keagamaan terabaikan oleh legitimasi politik radikal yang berdiri atas jargon li maslahati ummat.

Hadirnya buku ini mengokohkan harmonisasi relasi NU-Negara. Salah satu contoh, yaitu pengambilan keputusan atas Pancasila sebagai asas dasar negara. Sementara Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai asas dasar pemberdayaan ummat.

Buku ini sangat cocok sebagai refleksi atas pola gerak NU dalam konteks kekinian.  Kiranya tidaklah berlebihan mengingat buku yang didominasi cover warna hijau ini secara detail mengulas naik-turun NU di panggung politik.