Sunday, May 16, 2010

Sirine


Pagi terasa bising. Tak seperti biasanya aku bangun pagi seburuk ini. jendela kamar memang sengaja tak ditutup agar pendar cahaya matahari pagi lebih leluasa masuk tanpa harus permisi lebih dulu kepada mimpi. Tak ada bunyi ceracau burung pagi yang setiap hari selalu menyambut hari-hariku dengan ceria. Entah, apa yang terjadi kali ini. Seakan burung-burung itu kini lari menjauhiku. Menjauhi kehidupanku. Ceracaunya itu tiada, akupun juga gelisah.
Aku harus memulai hari ini tanpa sambutan burung-burung itu. Sunyi memang. Tapi aku tak harus mengatupkan mataku kembali di pagi yang cerah ini. masih ada matahari dan hembusan angin pagi yang akan membelaiku layaknya sang kekasih pujaan. seperti Melati di ujung cinta Sang Erros.
Ada yang tidak biasa kali ini aku dengar. Sepertinya di luar ada hujan yang sangat lebat sekali. Tapi rintikan itu membutku hanya mendengus kesal. Suara itu tak lebih dari bisingan yang terus membelah batok kepalaku hingga aku benci mendengarnya.
Apakah hujan mampir saat musim kemarau? atau ada hal lain sehingga hujan tidak bisa menunda waktunya untuk menyiram bumi? Rasanya tidak mungkin. Aku hanya berputar-putar di dalam opiniku saja. Kedua telingaku seperti mau pecah. Suaranya bagiku lebih parah dari bunyi senso.
Setelah aku keluar dari kamar, ternyata suara itu bukan suara rintik hujan, melainkan suara rintik air mata yang menghujani seluruh isi rumah. Membanjiri seisi rumahku. Sulit aku tebak apa yang telah terjadi di pagi hari ini. Mereka seharusnya menyambut pagi dengan senyuman. Bukan seperti yang aku lihat ini. Tangis dan ratapan bukan bukan sambutan yang menyenangkan.
Aku semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi disekitarku. Bibi, mami, tante, paman, semua memuncratkan air mata. Hanya aku yang tak memuntahkan air mata suci itu. Semua hitam dengan mata yang begitu sembab. Ada kepiluan di hati mereka, meski aku belum bisa menjamah dan menafsiri apa yang sebenarnya mereka tangisi.
Aku tak berkutik manakala semuanya menghampiri dan memelukku sangat erat sekali. Sebelumnya aku kira mereka sengaja menyambut kedatanganku yang baru datang dari negeri mimpi. Ternyata aku salah. Mereka memelukku seperti segerombolan semut yang menemukan gula. Menumpahkan air mata kepadaku. Aku kesal aku benci sekali dengan orang yang menangis. Bagiku, tindakan menangis itu hanya berlaku pada orang yang cengeng. Sungguh aku benci!.
Suara sirine mengaung-ngaung di depan rumah. Semua orang yang mengerumuniku satu persatu lepas dan berlarian menuju suara itu. Ada suara sirine?. Aku suka suara sirine. Bagiku itu adalah musik instrumen yang lebih bagus dari instrumennya Kitaro. Aku juga berjalan menuju datangnya suara itu.
Tak lama kemudian suara sirine tak lagi meraung. Aku kecewa. Padahal aku ingin mendengar lebih lama lagi. Akan aku liukkan kepala dan pinggulku untuk mengiringi alunan suara sirine itu dengan berbagai gaya yang aku miliki.
Dari luar, orang-orang sibuk menggotong sesuatu yang aku tidak tahu entah apa isi di dalammya. Panjang. Seperti panjangnya orang dewasa. Kedatangan benda itu selalu diiringi dengan riak tangis. Yang aku benci mendengarnya.
Aku baru ingat, biasanya setelah aku disambut suara kicauan burung. Berganti suara klakson ayah yang memanggilku bertalu-talu. Yang akan mengantarkanku pergi ke sekolah dan ayah pergi ke tempat kerjanya. Kenapa hari itu suara klakson ayah tidak menyambut kedatangannku? Aku mencari ayah di tengah kerumunan orang-orang yang berbaju serba hitam itu. Aku cari di setiap ruangan. Tidak ada. Yang aku temui hanya tangis dan tangis.
Aku berhambur keluar rumah. Tentu saja tetap mencari ayah. Di samping rumah. Di belakang rumah juga tak aku temukan. Aku mencoba bertanya pada kakek tua yang menatapku heran.
“Apa kakek melihat ayah.”
“Bocah, kau mencari ayahmu?”
“Ya!”
“Barusan ia pamit ke dunia lain”
Kakek itu diam. Ia menoleh ke samping, tepatnya pada sepeda motor ayah. Lho… kenapa sepeda motor ayah penyok.
“Kakek. Ayah tak membawa sepeda motor?”
Kakek tak menggubris pertanyaanku. Ia hanya menatapku.
Ayah bertamasya? Mengapa tak mengajakku?
Aku semakin benci melihat orang menangis. Benci!

Annuqayah, 2009

Dimuat di Annuqayah Post tanggal 01 Mei 2010

Terbang Tanpa Sayap


Rasanya, baru kali ini aku melihat ibu termenung. Banyak pertanyaaan tersimpan di batok kepalaku tentang tingkahnya. Ada apa dengan ibu? Sepeninggal ayah, ibu tidak pernah bersikap seperti itu. Dulu, ia sangat tenang mengikhlaskan kepergian ayah. Meski, pada awal ayah menutup mata, ada air mata yang jatuh membelah pipinya. Setelah itu, tak kudapat lagi air mata itu jatuh.
Ibu terus memandang hampa. Kosong. Hanya, tangan kiri selalu membelai rambutnya yang panjang terurai. Mata sipit tanpa lalah menatap lukisannya sendiri, ayah dan seorang bocah –yang tak lain bocah itu aku—di Figura besar yang berada di atas meja kerjanya. Melihat ibu seperti itu, aku bingung. Apakah ibu mengenang wajah ayah yang selma ini tak sempat dikenang lagi sejak beberapa bulan lalu? Mungkin saja. Tapi, itu belum cukup meyakinkanku. Sejuta tanya terus berkecamuk seperti pertempuran sengit.
Ayah begitu lembut. Pada aku dan juga ibu. Ia begitu bijak. Tak ada celah bagiku untuk mencari sifat yang ganjil dalam dirinya. Begitu juga ibu. Ia sangat mencintai ayah. Ibu pernah menggubris cerita pertama kali benih-benih cinta itu muncul saat bertemu dengan ayah. Waktu itu, secara tak sengaja ayah berkunjung kerumah pamannya di desa—pada saat itu—di mana ibu tinggal.
Pagi itu masih buta untuk memuli aktifitas, ayah diajak jalan-jalan mengelilingi beberapa pemandangan desa. Tanpa sengaja, ayah melihat ibu dengan mukena yang masih dipakainya turun dari surau. Ayah terpesona dengan kecantikan seorang muslimah itu.
Singkat cerita, setelah pertemuan itu, tiga hari berikutnya ayah melamar ibu dan membawa ke pelaminan. Lahirlah aku, si buah hati pertama.
Setelah aku umur lima tahun, ayah meninggal. Awalnya, aku tak begitu memahami kalau ayah sudah pergi selamanya. Aku hanya menagisi ibu—karena pada saat itu ibu menagis. Aku tidak tahu kalau ibu menangisi kepergian ayah. terlalu dini buat aku memahami arti kehidupan dan kematian.
Belaian angin menjelma bara. Amat menyiksa. bumi seakan berhenti berputar. Tak ada lagi orang yang akan membelai rambut ibu. Mengecup keningnya setiap mata mulai mengatup. menumpahkan seluruh kasih sayangnya padaku. Ia harus menanggung status janda di usia yang terbilang muda.
Setelah kejadian itu, dalam beberapa bulan terakhir, aku tak lagi mendapati ibu menagis. Melamun pun juga tidak. Ibu selalu ceria dengan hiburan-hiburan yang aku buat. Kata ibu, aku lucu dan imut. Persis seperti wajah ayah. ibu selalu menemaniku bermain. Kadang, ia mencubit pinggangku lantaran aku suka usil padanya. Tapi, tak kudapatkan sama sekali kemarahan padaku. Ia hanya tersenyum.
Tapi kali ini, ibu kelihatan begitu sedih. Di ruangan yang hanya seluas 4x3 meter itu, wajah ibu begitu sembab. Aku hanya bisa memandang ibu heran. Belenggu menampar-nampar hatiku. Tak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa membiarkan ibu sendiri dengan sunyi. Mungkin, ia butuh ketenangan setelah lama bekerja sendirian.
“Kang, maafkan aku,” seutas bibir ibu mulai bergetar. Suaranya lirih, ada sesuatu yang di tahan. Sesekali ia mengatupkan mata agak lama. Merasakan getaran yang sulit dicapkan. Mengumpulkan kata yang tercerai berai. Tangannya menggumpal. Gemetar.
“Aku tidak sanggup hidup sendiri. Aku butuh seseorang, bersama merawat anak kita,” suara itu begitu lirih. Air mata ibu menetes. Mengalir tanpa hambatan membelah kedua pipinya.
“Aku tidak kuat menahan sindiran orang sekitar, selalu ada kata tidak sedap yang aku dengar ketika bertemu dengn mereka,” aku tidak tahu perasaan ibu saat itu. Dikala seperti itu, aku selalu ingin memahami setiap kata yang ibu ucapkan. Karena ibu, hanya punya aku. Hanya aku.
Wajah tirus ibu menatap lukisan ayah. Ia menggigit bibirnya sendiri. Malam semakin larut. Kesunyian kian mencekam. Jam dinding menunjukkan angka dua belas. Di luar, bunyi suara tokek bersahutan mengantarkan mega hitam berarak menyayat alam.
Dingin membangkitkan bulu roma. Kegelisahan kian kalut. Aku tetap berusaha menahan diri. Tiba-tiba, di luar jendela, ada kilau cahaya putih. Terang sekali. Mataku silau. Cahaya itu semakin dekat menembus jendela.
Tampak keterkejutan mengerutkan keningku. Ada yang datang. Bersayap. Berkelebat. Sinar cahaya itu sungguh menusuk mata. Meski demikian, mataku mencoba menahannya. Tak lama, keterkejutanku berganti senyuman.
Aku kenal dengan wajah itu. Ayah. Ia bisa terbang? Perlahan, ayah terbang menghampiriku. Membelai kepalaku lembut. Sejuk sekali. Aku tersenyum, Ayah juga tersenyum. Setelah puas membelaiku, ayah menghampiri ibu yang tetap bersama sunyi. Ayah juga membelai rambut ibu yang terurai. Panjang.
Ibu menagis. Menutup muka dengan kedua tangannya. Air mata itu kian tak terbendung. Oh, tidak! Sayap ayah terbakar. Rontok sehelai demi sehelai. Tetesan air mata ibu telah membakarnya. Ayah merasa kepanasan. Tubuhnya menggelinjang karena tetesan itu. Lantas, ibu tertawa renyah.
Bumi Al-Sael, (C/11) 2009
*) terinspirasi dari sayap patahnya Kahlil Gibran

Dimuat di Radar Madura tanggal 18 April 2010

Tuesday, April 13, 2010

Sepenggal Kisah Senja

Malam dan sunyi melebur jadi satu. Dingin begitu menggigil. Rembulan mempesona dengan kesempurnaan cahayanya. Jam raksasa yang menjulang di atas menara masjid berdetak sekali. Pukul satu malam.
Saat jiwa-jiwa menyerah pada kesunyian, Si Boy, dengan langkah gemetar menuju Masjid: menyandang sajadah, memegang tasbih, dan Al-Qur’an di pelukannya. Lalu, khusyuk bersholat. Berdo’a. Tangannya gemetar. Menengadahkan kepala. Bercucuran air mata. Malam itu, menjadi malam yang begitu kelam baginya.
Ya Allah…Ampunilah hamba dan kekasih hamba. Limpahkanlah kemarahan-Mu pada hamba. Tahanlah tangan-tangan kematian dari kekasihku. Jangan Kau renggut nyawanya. Karena dia, asap ganja tak lagi kuhisap. Karena dia tenggorokanku tak pernah lagi teraliri alkohol. Karena dia jarum suntik tak pernah lagi menyentuh kulitku. Dan, karena dia pula aku bisa sampai ke pesantren ini. mendalami lautan karunia-Mu…
Dia adalah malaikat penyelamat yang Kau utus. Tapi, kini setelah aku sembuh dan berusaha untuk kembali ke jalan-Mu, kau ingin mengambilnya. Mengapa kau ……
Boy tidak kuat meneruskan do'anya. kepedihan telah membuatnya begitu lemah di atas penderitaan. Ia bersujud dan terus menumpahkan kepedihan di atas hamparan sajadahnya.
# # #
Di hatinya, hanya ada sosok Senja, seorang muslimah penyelamat bagi si Boy. Yang telah menyadarkannya akan arti kehidupan. Memberi ruang pada sebuah pertaubatan.
Ia tahu, Sejak dulu Senja adalah wanita pujaannya. Tapi, ia selalu menafikan perasaan itu karena keangkuhan. Ya! keangkuhan dengan pergaulan bebasnya. Hingga pada suatu hari, entah dengan jalan apa, ia berani mengungkapkan perasaannya pada Senja. Perasaan yang tulus dari seorang lelaki bengal dan tempramental kepada sosok muslimah yang taat beribadah.
“Senja, maukah ello menerima gue?”
“Apa? Kau mau menjadi kekasihku? Boy, bukannya aku gak mau menerimamu. Tapi, tanyakan dulu pada hatimu, apakah siap menjadi imam dalam hidupku ?”
“Gue siap!”
“Dengan apa?”
“gue akan lindungin ello. Tak akan ada seorang pun yang akan menyakiti ello. Jika ada yang berani, gue akan habisib orang itu,” Boy berdiri di atas keangkuhannya.
“Kau salah Boy! Aku tak butuh perlindungan dari keangkuhanmu. Aku butuh tuntunan. Tuntunan kepada jalan yang benar. Yang selalu mengingatkanku pada Allah. Apa kau siap?”
Boy tak menjawab. Ia sadar. Ia memang buta agama. Hidupnya hanya dituruti dengan kesenangan sesaat. Ia malu pada dirinya sendiri. Lebih-lebih pada orang yang dicintainya.
“Dengan apa gue harus menjawabnya? Tolong beri gue kesempatan. Gue tahu, gue buta agama. Maka dari itu, gue memilih ello, ingin dekat dengan ello, dan belajar agama kepada ello.”
“Jika kau bersungguh-sungguh, aku akan memberimu kesempatan selama dua bulan untuk belajar agama. Datanglah ke Pesantren Annuqayah. Belajarlah di sana. Manfaatkanlah kesempatan yang sedikit itu. Jika kau benar-benar ingin memilikiku.” Ada genangan air mata saat senja berucap demikian.
Boy menerima tawaran senja. Ia juga sudah bosan dengan hidupnya yang terkatung-katung karena buayan setan. Ia ingin mengakhiri hidupnya yang kelam. Mengarungi dunia penuh kedamaian. Dengan cahaya Ilahi.
# # #
Sebulan Dua Puluh Hari …
Sore itu, adalah kepulangan pertama bagi si Boy dari Pesantren Annuqayah. Ia terpaksa pulang karena mendengar kabar bahwa Senja, sang bidadarinya sedang sakit keras. Ia tidak tahu, kalau selama ini Senja mempunyai penyakit kanker otak. Senja tak pernah bercerita tentang hal itu. Hanya ia berucap, kalau ia sangat bahagia bila saatnya nanti, sampai tiada.
Perjalanannnya penuh getir. Gelisah. Segala kanangan muncul seperti angin membawa kabar duka. Terlintas di matanya bagaimana dulu berlakuan kasar pada Senja. Saat ia menampar senja ketika membanting birnya ke lantai. Kini, kenangan itu telah menamparnya sendiri.
# # #
“Boy, Aku ingin tidur di pangkuanmu,” kata Senja pada Boy.
“Ya! Gue selalu di samping ello. Tenang aja, ntar ello juga akan sembuh.”
“Maafkan aku, telah membohongimu. Sebenarnya, dua bulan yang lalu dokter telah memvonis umurku. Maka dari itu, aku hanya memberimu kesempatan dua bulan untuk belajar Agama. Agar kau bisa menyolati jenazahku.” Mendengar pengakuan senja, Boy terhenyak. Terpukul. Hatinya begitu sakit. Sakit sekali.
“Ello jangan seperti itu. Gue akan berusaha menyembuhkan ello. Gue janji,” Boy memegang erat tangan Senja yang terbaring tak berdaya.
“Tidak Boy. Kau jangan membuat angan semu, yang hanya membuatmu resah, juga membuatku semakin tak tenang hadapi kenyataan. Tak seorang pun yang bisa menyembuhkan penyakit ini, kecuali kehendak-Nya. Kangker di kepalaku sudah mencapai stadium tinggi. Kata dokter, aku tinggal menunggu waktu tangan malaikat maut membelai rambutku,“ Ada cahaya bening di matanya.
“Jangan berucap demikian. Hidup dan mati seseorang hanya Allah yang menentukan. Nanti, jika ello udah sembuh, gue akan mengajakmu jalan-jalan kemana saja yang ello suka.“ Dalam catatan hidup si Boy, hanya pada Senja air matanya mengalir.
“Tidak, Boy. Biar Allah yang menentukan segalanya. Aku pasrah. Cuma satu harapanku, jika kita benar-benar ditakdirkan berpisah, aku ingin tetap melihatmu seperti sekarang. Aku sangat sedih bila kau kembali pada buaian SS, Ciaming, Ganja dan segala tetek bengek yang akan membuatku tidak tenang di alam sana...“
“Boy, pandanglah aku sepuas hatimu. Sebentar lagi kau tak akan pernah melihatku. Maafkan aku, jika selama ini selalu membatasi dan sok ngatur tingkah lakumu. Tapi percayalah, semua itu aku lakukan demi masa depanmu.“
“Gue ngerti. Malah gue bersyukur. Karena sikap dan kelembutan ello bisa mengubah jalan hidup gue. Gue gak tahu seandainya Allah tak pernah mengutus ello pada. Mungkin, ganja dan semacamnya akan selamanya menjadi garis hidup gue.“
“Boy, aku sudah lelah. Aku ingin istirahat. Aku berharap jangan sekali-kali kau sentuh barang-barang yang menjijikkan itu. Aku tak sudi melihatmu menyentuh barang-barang haram itu lagi. Demi aku… Demi aku… Sudah Boy, aku sudah sangat lelah. Ingin istirahat. Selamat tinggal…“ Senja mengatupkan kedua matanya, disertai senyum manis yang mengembang. Mengantar tidur panjangnya.
Malam itu, sungguh sunyi bagi si Boy. Di ruang yang serba putih itu, Boy menangis. Sendiri. Ya ! hanya bersama sunyi. Menyisir luka sendiri. Mengenang kepergian sang bidadari.

Lintas Pulau, 2009

sudah dipublikasikan di
MAJALAH KUNTUM, Yogyakarta
edisi 303 April 2010

Sunday, March 14, 2010

Doa Dari Surga

Bayanganmu selalu menghadirkan keindahan pada setiap jejak langkah menapaki jalan kelabu. Dimana ilustrasi itu selalu muncul tatkala sunyi merenggut nyawaku. Ya! Sunyi merayap mendahului bahasa jiwa tak terjewantahkan. Aib pun tak bisa menjalar saat desiran angin mengabarkan berita hati. Dan, perasaan menyatu dengan aliran darah. Kaku tak terangkai pada muara pengaduan.
Kau sinari hati ini dengan seberkas cahaya dari kilau matamu. Aku lelah manakala harus melewati titik-titik terjal, mencari kepastian tanpa seorang yang memapahku di gelapnya dunia. Aku ingin sekali tidur dari mimpi-mimpi yang kau hadirkan. Dalam tembang syahdu, bersama mimpi-mimpimu, aku menemukan sesuatu yang sagat janggal.
Sungging senyum manis yang kau lukis dari bibirmu yang ranum menghadirkan abjad-abjad cinta, yang harus aku eja satu persatu. Melantunkan syair-syair asmara, yang harus aku hafalkan bersama iramanya. Bersamaku kau harus berdendang.
Aku menoleh ke kanan atas. Terniat dibenakku mengukur seberapa jauh Ratu malam menggantikan Raja siang. Detak-detak jam dinding membahana, jelas sekali detakan itu. Aku keget ketika aku peroleh jawabannya. 01:15 WIB. Tengah malam kulewati lagi dengan puing-puing kenistaan.
Di saat semua makhluk terlelap bersama bungan tidur mereka, aku malah menyongsong malam sendiri, menemani suara binatang malam yang selalu mengisi aktivitasnya di malam sunyi. Sebaliknya, ketika manusia terbangun dari tidurnya, eh, malah aku yang bergelut dengan bantal dan selimut.
Aku terlempar bersama angan, Bola mataku menghujam hampa ke arah jendela. Aku menemukan sesuatu yang aneh, memikatku untuk menghampirinya. Aku buka jendela. Rembulan tersenyum di balik pohon. Di antara kejaran awan, bulan menyapaku lembut.
Bulan semakin meninggi. Mendendangkan tembang untuk melengkapi nikmat lelapnya para mahluk dalam tidur. Bulan tersenyum. Ia mengajakku terbang bersamanya. Mengarungi malam yang sarat akan teka-teki dunia.
Aku merasa tubuhku menjadi ringan. Lalu, terbang mendekati bulan. Ia mengajakku menari-nari seperti tarian para ahli sufi. Berputar tak tentu arah. Aku menikmatinya. Aku berkhayal, seandainya ada kekasih yang selama ini aku puja, aku pasti bertambah bahagia.
Aku berputar.
Merentangkan tangan.
Memejamkan mata.
Terus berputar.
Tiba-tiba aku berada di sebuah rumah yang mirip sebuah kastil pada jaman yunani kuno. Rumah itu bertiang delapan. Atapnya terbuat dari emas dan alasnya dari kaca. Oh, dimana aku sekarang? Ini bukan duniaku. Tempat ini terlalu indah bagu orang sepertiku. Aku ingin dunia yang layak untuk aku huni, yang tak ada penyesalan jika aku merusaknya.
Lalu, seorang dengan suara menggema datang padaku. Aku tak tahu apakah ia laki-kali atau perempuan. Pakaiannya aneh. Tubuhnya hanya ditutup dengan kain putih yang sangat tranparan. Membuat lekuk tubuhnya terpahat abadi.
“Selamat datang, wahai pemuda. Selamat datang di dunia yang penuh kedamaian,” suaranya mengggaung. Menggetarkan tempat itu.
“Siapa kau?”
“Aku adalah penjaga Surga Cinta. Aku tahu kau sedang jatuh hati. Menjadi pemuja rahasia pada seorang yang membuatmu gelisah melewati malam-malammu. Hari ini aku datang untukmu. Untuk membantumu.”
Mengapa dia bisa tahu kalau aku sedang menjadi pemuja rahasia. Apakah ia juga tahu kalau aku hanya mengenal wanita itu hanya melalui sketsa wajahnya, tanpa sekali pun berucap dan bertutur sapa?
“Hai, pemuda, jangan hanya berbisik dengan hatimu sendiri, karena kau tak akan pernah menemukan kepastian.”
“Baiklah, aku ingin kau menaklukkan hatunya padaku. Kabarkan kalau aku menjadi mengagumnya. Kabarkan pula kalau aku inngin mengarungi hidup bersamanya. Aku ingin pulang bersamanya,” aku menantangnya.
Mahluk itu merentangkan tangan. Dengan segala kekuasaanya, ia menatap langit. Kain putih yang melilit di tubuhnya seketika koyak menjadi kepingan-kepingan bidadari. Membentuk lingkaran. Mengelilingiku. Mereka menari. Berputar. Mengajakku manari dan memanjatkan doa-doa. Semakin aku berdo’a, tubuhku semakin ringan mengawang.
Tuhan, pertemukanlah cintaku dengannya. aku ingin mengajaknya menari. Merasakah getar cinta yang aku rasakan. Setelah itu, izinkan Aku pulang bersamanya.
Bidadari-bidadari itu seketika berhenti menari. Mereka menertawaiku. Mengejekku, kalau yang aku lakukan ini adalah paling tololnya perbuatan manusia. Mereka lenyap seketika. Hanya gaung yang kudengar.
Aku tersungkur ke atas lantai. Kepalaku pening. Lho, mengapa bulan menjadi matahari? Aku ingin pulang bersamanya.
.
Kosambhi, 2010

sudah dipublikasikan di Radar Madura
pada tanggal 14 Maret 2010

Tuesday, March 2, 2010

Dermaga Penantian


Ole olang…
Paraona alajere
Ole olang…
Alajere ka Madhure
Sungguh indah pemandangan di tepi laut. Saat senja mengukir cakrawala. Dan matahari mulai tenggelam. Di tepian pasir basah itu, seorang gadis menatap kecemasan deburan ombak. Seakan ia ingin mengajak ombak ikut menuai kepedihannya. Ingin mengajak anak-anak ikan menghibur hatinya yang kelam oleh penderitaan.
Ia tak dapat mengelak paksaan ayahnya untuk menikah dengan Ki Kusno. Tengkulak ikan yang berkuasa di daerah itu. Di usianya yang masih menginjak 14 tahun dan masih duduk di kelas 3 SMP, Mona harus menikah dengan Ki Kusno yang telah berkepala tiga. Sebagai jaminan atas hutang keluarganya.
Mona akan menjadi istrinya yang ke empat. Dalam hatinya ingin berontak. Namun, tak punya kekuatan untuk melawan. Jika menolak, maka ia akan melihat orang tuanya teraniaya dan harus menanggung hutang segunung yang sulit dilunasi. Apalagi bunganya selalu bertambah.
Apabila orang tua sudah saling setuju, maka anak tidak boleh membantah. Apapun alasannya, jika tidak ingin disebut anak durhaka. Begitulah norma dikampungnya. Memang, kebanyakan dari teman-teman seusianya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Tapi, Mona tidak ingin mengikuti kebiasaan penduduk kampung. Ia masih ingin merasakan pendidikan sampai akhir kuliah. Meski ia sadar hanya seorang anak nelayan yang miskin.
Lagipula Mona sudah punya prinsip hidup sendiri. Kekasih yang amat ia cinta dan sayangi. Ia tidak ingin menghianati pertunangannya yang sudah terjalin sejak ia masih berusian 9 tahun.
"Aku dengar kau akan menikah? Kemarin orang tuamu datang ke rumah dan membatalkan pertunangan kita. Mengapa orang tuamu begitu cepat berubah?" ucap Togal dibibir pantai.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa. apa yang harus akan lakukan? Hidupku kini seperti perahu oleng. Entah, kemana harus menepi. Kamu kan tau sendiri seperti apa Ki Kasno dan seperti apa hutang ayahku padanya," Mona tak mampu membendung hujan kesedihan hingga tumpah dipangkuan Togal.
"Mestinya ayahmu tidak harus berbuat demikian. Bisa kan hutang dibayar dengan hutang?"
"Ayahku tak sanggup lagi menanggung hutang itu. Bunganya selalu bertambah membuat hutang ayah tambah banyak. Apalagi Ki Kusno hanya memberi jangka seminggu untuk melunasi semua hutangnya. Jika tidak, aku harus menikah dengannya."
"Keparat! Mentang-mentang ia tengkulak yang kaya. Seenaknya saja menindas kaum lemah. Dasar Lintah Darat!" Ujar Togal. Berang.
"Besok malam, kita sudah tak mungkin lagi bertemu. Aku sudah tidak diizinkan masuk sekolah. Aku minta maaf atas janjiku selama ini. Aku merasa telah menjadi penghianat dan tidak dapat mewujudkan mimpi kita. Percayalah! Di hatiku, hanya ada cintamu. Tak ada lelaki lain yang berlabuh."
"Kalau begitu, besok kita tinggalkan tempat ini. Aku akan siapkan perahu di ujung pantai menjelang maghrib, agar malam bisa menjadi tabir kita dari kejaran kaki tangan Ki Kusno. Kita pergi sejauh mungkin ke seberang pulau. Kita cari pulau yang terjauh dari sini agar tak seorang pun yang mengganggu."
Matahari mulai separuh ditelan laut. Warna senja mulai menghiasi sudut-sudut pantai. Malam sebentar lagi berkelebat direrantingan. Togal dan Mona pulang kerumah masing-masing. Rencana mereka sudah matang. PERGI. Mona akan memperjuangkan cintanya sekuat tenaga. Tak boleh ada orang yang mengusiknya. Cintanya kepada Togal, tak akan pernah goyah oleh sebuah paksaan untuk menyerahakan tubuhnya pada orang lain.
Setelah selesai sholat Isya', ada pertemuan antar keluarga. Ini biasa dilakukan oleh keluarga kedua pasangan untuk mendengar nasehat-nasehat para sesepuh. Namun, yang hadir hanya keluarga Mona. Sedangkan keluarga Ki Kusno tidak ada. Ia datang bersama tiga brewok gondrong. Sudah tidak pantas lagi Ki Kusno didampingi orang tuanya.
Mona dipanggil Ayahnya dan dihadapkan langsung kepada calon suaminya. Ia diharuskan duduk disamping Ki Kusno.
"Anak yang manis, kau cantik sekali," bisiknya begitu Mona didekatnya.
"Sudah berapa kali kau pergi ketanah suci? Dan apa hasilnya?"
"Manis, bukankah nabi kita juga beristri lebih dari satu? Al-Qur'an juga telah mengajarkan kalau kita boleh beristri lebih dari satu. Kau masih kecil. Tahu apa tentang agama. Beraninya berkata demikian," Ki Kusno menyindir mona yang mulai mengguruinya.
"Kau salah menafsirkan, tuan. Agama tidak akan mempersulit pengikutnya. Apakah kau bisa berbuat adil? Seperti apa ukurannya? Ingat! Nabi beristri lebih dari satu karena ada alasa lain yang lebih mendasar. Bukan berdasarkan nafsu." Ucap Mona penuh kemenangan.
Ki Kusno merasa tersakiti dengan ucapan Mona. Marah. Hajinya merasa disepelekan oleh gadis yang masih bau kencur, anak kemarin sore. Ia tak mampu mengontrol emosinya.
"Sarwi! Bagaimana cara kau mendidik anak. Lihatlah anakmu. Berani-beraninya berdebat denganku. Ingat! Jika besok kau masih belum bisa mendidik anakmu dengan benar, aku tak sudi menikahinya. Dan kau harus menanggung dua kali lipat jika pernikahan ini sampai gagal."
"Maafkan kami ki," ayah Mona seloroh.
Ki Kusno tak terima atas perlakuan Mona. Ia pergi dengan muka merah padam. Sedangkan Mona di seret paksa oleh ayahnya ke dalam kamar. Di kamar, Mona dilempar ke kasur hingga ia hampir terjungkal.
"Apa maumu? Kau ingin membuat kami hidup susah. Kau harus sadar, kita ini hanya ikan teri. Kita ini hanya nelayan miskin." Ayahnya mengumbar amarah.
"Tapi aku tak mau menikah dengannya," suara Mona serak.
"Kau jangan macam-macam. Janur kuning sudah terpasang di ambang pintu. Undangan sudah tersebar. Kalau pernikahan ini sampai batal, kau akan melihat orang tuamu celaka. Lupakah Togal. Dia tidak akan mampu membahagiakan kau."
Mona hanya bisa melewati malam bertabur bintang dan berhias rembulan itu dengan isak tangis yang begitu pilu. Menyanyat hati. Ia hanya bisa menyisir luka. Keindahan yang dipancarkan bulan dan bintang berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan.
Esoknya, ketika orang-orang sibuk dengan tugas masing-masing, tiba-tiba tuan rumah digegerkan dengan hilangnya pengantin perempuan. Orang tuanya kalut. Bingung. Begitu juga juga para brewok yang ditugaskan menjaga Mona kalang kabut.
Imbasnya, ibu Mona menjadi bulan-bulanan atas musibah ini. Umpatan-umpatan kotor dan kasar terus mengalir tak terkendali. Perempuan itu hanya menangis meratapi kemalangan nasib keluarganya.
Ini adalah sebuah petaka besar bagi mereka jika tidak cepat menemukan Mona. Mereka cepat bergerak, karena sebentar lagi senja akan tiba. Semua berpencar dan tetap menjaga suasana agar seakan tak terjadi sesuatu.
"Dimana rumah Togal?" Tanya si brewok sambil memegang gagang golok yang diikat dipinggangnya.
"Di ujung pantai, dekat sungai seruk," kata ayah Mona.
Para brewok secepatnya menuju rumah Togal. Takut semua akan terlambat. Karena acara pernikahan akan dimulai sehabis maghrib. Tepatnya setelah mega merah dimakan malam.
Senja sudah datang. Menabur kidung kecemasan.
Di perempatan jalan, para brewok melihat kelebatan bayangan Togal yang berlari kencang. Para brewok mengatur strategi. Berpencar ke segala arah. Tak lama kemudian Togal terkepung.
"Ha…ha…ha… bocah ingusan, dimana Mona kau sembunyikan?" bentak brewok.
"Aku tidak tahu. Sekali pun aku tau, buat apa aku memberi tahu pada kalian. Cuih…!" Jawab Togal sengit sambil memegang erat golok yang terselip dipinggangnya.
"Anak kadal! mau mati rupanya."
Di senjakala yang indah. Golok-golok berayun-ayun tak tentu arah. Memamerkan kilatan singkat yang sempat tergores. Diselingi teriakan-teriakan lantang keangkuhan. Debu-debu mengepul di udara bengis. Hingga yang nampak hanya sekelebatan bayangan nafsu manusia yang hampir tuntas.
Di ujung penantian, nampak bayangan seorang gadis yang hatinya cemas dan pilu di atas pasir basah. Sebelum matahari kembali ke peraduan, Mona bergegas menaiki perahu. Ia tak punya waktu lagi. Di matanya selalu terbayang Ki Kusno dan para brewoknya terus membuntuti. Tapi, dimana togal? Apakah ia mengingkari janjinya? Atau…
Tak lama berselang, para brewok berdatangan. Mona mengayuh sekuat tenaga agar mereka semakin jauh. Diantara brewok ada yang mencari perahu di sekitar. Namun, perahu yang ada semuanya sudah bocor. Jelas, ini perbuatan Togal.
Ketika kelam hadir merenggut. Ia beranikan diri memandang pantai yang sebentar lagi disapu malam. Udara terasa begitu menyelaksa. Angin seperti membeku. Mona menggigit bibir rapat-rapat. Terbayang olehnya kampung halaman di seberang laut. Juga wajah orang-orang yang di cintai.
Beberapa menit yang lalu, ia masih berada di tempat itu. Tempat mengukir pahit manisnya kehidupan. Apakah ia sanggup melupakan semuanya? Inilah yang mula-mula memembuat dirinya menyesal. Apalagi ketika sampai di dermaga, ia tidak menemukan Togal. Yang ada hanya perahu kosong dan kecemasan ombak bergulung meninggalkan pantai. Seakan berucap: selamat datang dilautan luas tak bertepi, kecuali dirimu menepi bila waktunya nanti.
Untuk menutupi kegelisahan hatinya, ia selalu membaca surat dari Togal yang ditinggalkan di perahu:
Bila aku tak datang
Berangkatlah duluan
Tunggulah di pulau seberang
Pasti aku datang
Percayalah!
Luk-ghuluk,2010
sudah dipublikasikan di Majalah Muara
edisi ke-32, 2010