Wednesday, April 30, 2014

Kudung


(Dimuat di Tabloid Nova, 21-27 April 2014)

“Bagaimana mungkin,” desis Laksmi, tak lain berbicara sendiri.

Kifayah hari ketujuh atas meninggal suaminya baru usai. Rumah kembali sepi. Tidak seperti hari kemarin yang dipenuhi para pelayat. Beberapa famili menambah hari agar tempat duka tidak sepi benar.

Laksmi bersimpuh di atas babut. Air mata jatuh tanpa bisa dipulangkan. Ia bukan tidak tahu betapa Rasulullah melarang ummatnya meratapi orang yang sudah meninggal. Tetapi air mata itu bukan semurni kehendaknya. Hanya saja, setiap kali ia mengusap janin enam bulan di perutnya selalu menjerang lara.

Keluarga almarhum yang tidak sepenuh percaya atas kematian itu adalah Laksmi. Bukan soal tidak siap ditinggal meninggal. Perempuan berperawakan kalem itu hanya perlu bukti agar hatinya bisa lapang menerima. Bagaimana bisa dikatakan meninggal sementara jasad almarhum belum ditemukan. Kalaupun benar meninggal, ia ingin menyimpul tawasul di atas kuburan suaminya.

Penduduk kampung Bederan tahu kalau suami Laksmi merantau ke negeri tetangga bersama Bahri, lelaki malang yang kembali ke kampung Bederan dengan raga berpisah dari nyawa. Kedatangan jenazah Bahri lantas menguak kabar kalau suaminya juga meninggal akibat bongkahan tebing yang ambruk di tempat penambangan.

“Jenazahnya tertimbun tanah sangat dalam, sulit dievakuasi.”

“Jadi ditinggal di situ?”

“Bisa jadi.”

“Tidak digali?”

“Jalannya sulit.”

Spekulasi mengalir seperti angin. Keluarga tak bisa berbuat apa-apa selain menggantung harap jenazah itu segera kembali. Tak ada yang tahu bagaimana caranya bertanya kabar kepada orang-orang di tempat penambangan. Berbeda kenegaraan dan terputusnya komunikasi menjadi alasan kuat spekulasi itu berkembang.

“Laksmi ikut Ibu, ya?”

“Tidak, Bu. Laksmi tinggal di rumah ini, menunggu Kakang.”

“Tak ada gunanya menunggu. Ikhlaskan …”

“Jangan paksa Laksmi, Bu. Kalaupun Kakang tak pulang, Laksmi tetap akan membesarkan anakku di rumah ini.”

Ia masih terpaku di atas babut. Sebelum kembali ke Madura, berulangkali familinya menyarankan agar ia turut serta tinggal bersama mereka. Namun, Laksmi tak tega meninggalkan rumah kayu yang susah payah dibangun dari hasil empat kali panen.

Pikirannya melambung jauh pada suatu malam yang mengabarkan malapetaka itu terjadi. Sepulang berjamaah dari masjid, ia menemukan Supardi duduk di beranda. Air mukanya menyembul panik. Sekonyong-konyong lelaki berselempang sarung itu bergegas mengabarkan kematian Bahri di tanah rantau.

“Dulla juga meninggal,” pungkasnya.

Laksmi mendekap erat mukena. Berlari. Lalu mengunci pintu rapat-rapat. Kabar kehamilan yang ingin segera ia sampaikan tertahan di palung hati. Kesedihan tambah rumit dibahasakan ketika yang datang hanya jenazah Bahri.

“Kang,” desisnya.

Perasaan tengah berirama menjatuhkan air mata. Rambutnya tampak kisut. Ia menaikkan kudung  yang merosot tanpa disadari. Kudung hijan daun itu hadiah setahun pernikahan dari almarhum.

“Dalam kondisi apa pun, rambutmu tak boleh tergerai untuk orang lain selain untuk suamimu.” Laksmi sangat ingat kata-kata itu. “Berhijab akan menjaga kehormatanmu sebagai seorang istri,” kenang Laksmi. Sorot matanya kosong, pada bingkai foto pernikahan di dinding kamar.

Ia tak akan mengubah kondisi apa pun di rumah itu.

***
Sewindu terpangkas sudah. Janin di rahim Laksmi kini menjelma malaikat mungil yang memberikan senyum rekah. Tujuh tahun bukan perjuangan mudah. Sepetak tanah, harta peninggalan almarhum, mana cukup menyambung hidup setiap hari dengan hasil panen tiga bulanan. Berbagai peruntungan mencari nafkah pernah dicoba: menjual gorengan, menjalankan bendring miliki ibu Kades, sampai dipercaya sebagai bendahara PKK di kampungnya.

Tak ada yang berubah di rumah itu. Kayu jati sebagai tiang utama terpancang kokoh. Dinding sirap lembab berlumut tipis. Beberapa plafon sudah tampak melepuh. Apabila ada yang berubah, barangkali hanya perasaannya yang berubah; tak menampik dirinya terbungkus status janda. Tak ada kabar selama sewindu seperti sudah menjawab keraguannya.

“Kenapa Bapak mau bekerja di luar negeri? Apa tanah kita kurang subur?” tanya Sri.

“Tanah kita sangat subur. Malah tak ada tandingannya.”

Kok Ayah ke luar negeri?”

“Nah, itu. Jika nanti sudah bersekolah, banyak ilmu, Sri akan tahu jawabannya.” Laksmi tak menemukan jawaban sepadan agar anaknya mau mengerti.

“Sekolah apa?”

“Ya, sekolah. Sekolah untuk mencari ilmu.”

Sri tampak bingung.

“Sudah. Ayo tidur, katanya mau ikut tahajjud,” potongnya memegangi kedua bahu dan mencubit gemas pipi tembam anaknya.

Sri memiliki kebiasaan hampir sama dengan almarhum; rajin mengunjungi sawah dan gemar bermain di pancuran. Ia sungguh riang menghalau segerombolan burung pipit yang menyerbu kemuning padi, mengumpuli pakis muda di sepanjang selokan, atau mengusili ikan-ikan kecil di bawah pancuran.

Laksmi melongok pada kosen jendela. Sri tengah bersama Supardi, pemilik sawah yang bersebelahan dengan sawahnya. Keduanya sedang mengerjakan sesuatu di pancuran. Laksmi menatap panjang. Sejurus kemudian menjangkau semu kenangan yang tertambat kaku di palung hatinya; saat bersama almarhum memeras cucian di pancuran itu. Supardi menjelma sesosok yang diinginkannya. Terbayang wajah almarhum yang teduh, yang selalu bersih seperti baru saja mandi; terngiang bicaranya yang lembut dan suaranya yang merdu bila membaca ayat-ayat Alquran atau membaca kasidah Barzanji.

“Sri pulang dulu. Solat,” teriak Laksmi.

“Sebentar, Bu. Man Pardi masih membuatkankan kincir air,” jawabnya.

Sejak kincir air itu jadi, Supardi semakin dekat dengan Sri. Ia mengajak Sri memasang urang-urangan, memetik sayuran, membantu mengairi sawah. Banyolan konyol Supardi yang ditingkahi gelak tawa Sri mulai pecah di beranda rumah.

Kedekatan Sri dengan Supardi membuat Laksmi merasa tak nyaman. Apalagi tersiar kabar kalau lelaki yang suka menyelempangkan sarung itu baru bercerai dengan istrinya. Soal perselingkuhan, hukum adat tak kenal kompromi. Laksmi mulai mencurigai jangan-jangan kedekatan Supardi dengan Sri cuma sekedar modus. Ia cemas akan terjadi fitnah. Apalagi gelegat ketidaksukaan Suriya, istri Supardi, sudah tercium sejak sama-sama menjalani bendring milik ibu Kades karena kalah jumlah pelanggan. Suriya terlalu memaksa, kerap marah bila setoran pelanggannya macet, begitu penilaian ibu-ibu kampung.

Rerimbunan pelepah nyiur di perbukitan sebelah barat memaksa matahari redup sebelum waktunya. Ketika Laksmi mengambil pakaian di lemari, ia menemukan kudung lama terlipat dengan pakaian almarhum. Barangkali cocok dipakai anakku, batinnya.

“Coba pakai.”

“Apa itu?”

“Kudung. Barangkali cocok untukmu.”

“Aku tak mau memakai kudung. Kata teman-teman, orang yang masih mengenakan kudung itu kuno. Ketinggalan zaman,” tukasnya polos.

“Sri tahu bukan, jika malu itu adalah sebagian dari iman?” tanyanya pelan.

Sri mengangguk.

“Nah, kudung itu salah satu hijab untuk menutupi kemaluan seorang perempuan. Seorang muslimah sejati harus berhijab agar terhindar dari godaan dan segala fitnah yang menyangkut dirinya. Aurat perempuan adalah seluruh anggota badan, kecuali muka dan telapak tangan. Jadi kalau Sri mengaku seorang muslimah, Sri harus mengenakan kudung.”

Sri pasang muka cemberut.

“Coba perhatikan. Apakah Sri menganggap Ibu ketinggalan zaman karena selalu memakai kudung?”

Sri menggeleng. “Ibu cantik. Sri ingin seperti Ibu.”

Laksmi mencubiti pipi malaikat mungilnya.

“Bapakmu pernah berpesan, sekali-kali Ibu tidak boleh membuka hijab untuk orang lain, kecuali untuk dirinya. Kelak jika sudah besar, Sri juga harus mengikuti pesan Bapak; boleh membuka hijab hanya untuk suamimu.”

***
Penduduk kampung mulai membuat spekulasi kedekatan Sri dengan Supardi. Ada yang menghubungkan kedekatan itu dengan rusaknya keluarga Supardi. Bahkan ada yang langsung memvonis kedekatan itu memang musababnya. Sri terlalu kecil untuk mengerti duduk perkara orang dewasa. Laksmi tersudut. Ibu-ibu muslimatan majlis taklim mulai memandang sinis. Menerima tawaran ibunya untuk pulang ke Madura dipikir sebagai solusi jitu untuk menjauh dari Supardi.

Angin berdesir pelan. Suara jangkrik saling pagut. Sebuah krocok jatuh. Malam tak lagi hening oleh penduduk kampung, yang didominasi kaum perempuan, menyemut menuju rumah Laksmi. Umpatan penduduk mengalahkan suara serangga malam macam apa pun. Di tangan mereka memegang satu benda yang sama: obor.

“Perempuan jalang! Keluar! Aku tahu kau diam di dalam!”

Teriakan itu seperti gema. Laksmi ketakutan melihat kobaran obor. Sri menangis di dekapannya. Laksmi harus keluar karena merasa tak bersalah.

“Lihat! Si perempuan jalang ini yang menggoda Kang Supardi,” umpat Suriya. Geram. Berdiri paling depan.

“Maaf, itu tidak benar. Demi Allah saya tidak mempunyai hubungan apa-apa. Sungguh,” jelasnya parau.

Alah, banyak alasan! Penampilan saja sok alim. Kelakuannya bejat! Tukang goda suami orang.”

“Astagfirullah, ini fitnah.”

“Mari kita beri pelajaran!”

Pasukan obor tambah merapat. Siaga menghanguskan rumah kayu itu. Sementara Suriya menyeret Laksmi dan anaknya menjauh dari rumah. Ia melepas kudung Laksmi. Laksmi berontak, hanya berteriak. Kudung itu ditudungkan ke obor. Seketika api obor mati. Tak puas, Suriya mengambil salah satu obor yang lain. Ujung kudung dibakar, namun api tetap enggan melahap kain itu. Penduduk kampung melongo. Wajah-wajah beringas seketika saling menoleh. Tak sadar sepasang kaki mereka berjalan mundur. Sedikitpun mereka percaya betapa api dapat membuktikan kebenaran. Dari kisah Nabi Ibrahim yang kebal api ketika dibakar hidup-hidup, sampai keselamatan pembakaran diri yang dilakukan Dewi Shinta untuk membuktikan kesuciannya, mereka semua mengetahui. Sementara Suriya terbakar atas kedongkolannya.

Seorang ibu, yang tak satupun dari mereka yang kenal, memapah Laksmi dan anaknya. Laksmi bersyukur betapa dalam lautan amarah manusia, cahaya kebenaran tetap menyala.

Jember, 25 Desember 2013

Tuesday, April 15, 2014

Bapakku bukan Perekayasa Konflik


Oleh: Allisa Wahid 

Senin malam, 25 Pebruari 2012, saya membaca mention di twitter tentang berita Cak Imin yang akan mendirikan monumen GusDur di Singkawang, Kalimantan. Kota yang banyak dihuni saudara sebangsa berdarah Tionghoa, yang tentu saja sangat menghormati Gus Dur. Walau saya mempertanyakan apakah kiranya sebagai orang yang substantif dan tidak suka seremoni, Bapak suka dibuatkan monumen; bukan soal itu yang mengganggu batin saya. Sudah beberapa waktu terakhir ini, saya ingin menulis tentang Bapak dan konflik PKB cak Imin dari kacamata saya sebagai anak. Tulisan ini adalah kegelisahan saya atas narasi yang semakin sering saya dengar dari mulut dan tulisan orang-orang PKB Cak Imin.

Pertama kali, saya mendengarnya langsung dari seorang politisi PKB Cak Imin, saat ia meminta saya untuk menjembatani PKB Cak Imin dengan keluarga Ciganjur. Sebelumnya, saya sudah beberapa kali didekati untuk menjadi jembatan ishlah, tetapi narasi ini belum pernah saya dengar. Sejak itu, saya mulai banyak mendengarnya dari orang-orang lain dari berbagai penjuru, baik langsung dari mulut mereka maupun via social-media, baik dari kawan-kawan Nahdliyin maupun dari aktivis PKB Cak Imin.
Narasinya sederhana: Konflik antara GusDur dan cak Imin adalah konflik yang sengaja didesain oleh Gus Dur, sebagai strategi politik; bukan sebuah konflik sungguhan dan karenanya sejatinya tidak ada persoalan antara Gus Dur dan Cak Imin. Bahkan ada beberapa orang yang menyebutkan dengan gagah berani langsung kepada saya, bahwa Cak Imin sampai saat ini hanya menjalankan perintah Gus Dur.

Karena saya bukan politisi, tentu saja saya tidak bisa menjawabnya secara politis juga. Saya hanya menjadi amat gelisah sebagai seorang anak, yang mendampingi Bapak secara intensif selama tiga tahun terakhir kehidupan Beliau. Hari-hari bersama yang membuat saya memahami beban nurani Bapak soal konflik PKB.

Saya melihat sendiri, bagaimana sikap Bapak ketika Cak Imin datang ke rumah bersama mbak Rustini, istrinya. Bapak hanya menjawab pertanyaan mbak Rustini dan mendiamkan Cak Imin. Ini terulang di banyak ketika lain. Bapak, misalnya, enggan menemui Lukman Eddy yang sudah sampai di Ciganjur. Tidak mau menemui. Sebagai orang yang blak-blakan dan mengingat bagaimana Gus Dur bersikap bahkan kepada “musuh-musuh” politiknya, respons Bapak saat itu, amat sangat jelas: tidak suka bertemu dengan mereka.

Tahun 2008, saat proses hukum PKB Gus Dur versus PKB Cak Imin, Bapak pernah mengalami stroke ringan, entah ke berapa sejak stroke hebat tahun ‘98. Bapak terjatuh saat dituntun ke kamar mandi oleh Sulaiman di kantor Gus Dur di pojok PBNU. Saat saya tanya apa yang terjadi persis sebelumnya, Sulaiman bercerita bahwa Bapak sedang mendengarkan berita di TV tentang sidang di PTUN. Ada beberapa orang PKB Cak Imin yang diinterview oleh media, dan mereka blak-blakan bicara lebih senang Gus Dur tidak di PKB. Mendengar jawabannya, Bapak berkomentar “orang-orang ini saya yang bawa masuk politik. Kok tega ya mereka ngomongnya begitu tentang saya, Man?” Lalu Bapak minta diantar ke kamar mandi, dan jatuh pingsan di depan pintu kamar mandi. Kata dokter, stroke ringan akibat stres.

Puncaknya tentu saja ketika MA memutuskan gugatan PKB GusDur ditolak, dan MA menyatakan PKB yang sah adalah PKB hasil Muktamar Semarang di mana Ketum adalah Cak Imin dan Ketua Dewan Syuro adalah Bapak. Setelah keputusan itu, nyatanya PKB Cak Imin tetap berkantor di Menteng, tidak di kantor asli PKB yaitu di Kalibata tempat Gus Dur selalu datang. Setiap keputusan juga diambil sendiri, tidak melibatkan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro. Puncaknya di pendaftaran DCS Pemilu 2009 yang dibuat sendiri oleh cak Imin dan pengurusnya. Drastis menurunnya kesehatan Bapak setelah itu, sangat kami rasakan di Ciganjur. Sehebat apapun fisik Beliau sepanjang hidupnya, seperti kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan tekanan psikologis yang hebat ini. Dokter dari berbagai penjuru dunia memberikan respons yang sama atas catatan medis Bapak, “Ini pasien ajaib: dengan kondisi fungsi tubuh seperti ini, masih bisa bertahan begini.” Kami tahu, hanyalah keajaiban itu yang sanggup menopang tekanan psikis, dan entah berapa lama. Itu sebabnya, Ibu sangat sulit untuk menerima perlakuan PKB Cak Imin kepada Bapak, sampai saat ini.

Mei 2009, Bapak berkunjung ke Jogja. Bapak bilang, “Lis, kamu punya uang yang bisa Bapak pinjam?” Berapa dan untuk apa, tanya saya. “Ya untuk pegangan saja, 5 juta cukup.Bapak nggak punya uang sama sekali.” Bapak saya adalah orang yang mandiri, kalau sampai minta uang kepada saya, berarti sudah berat sekali bagi Bapak. Saya telpon Yenny sambil menangis. Kok bisa, Bapak sampai tak punya uang, bahkan sesedikit itu. Kok bisa, mereka-mereka yang khianat kepada Bapak hidup bergelimang kemewahan sedangkan Bapak tak punya uang di kantungnya.

Bahkan menulis paragraf di atas ini pun, saya tak mampu menahan air mata. Menyakitkan sungguh, walau juga semakin membuat saya sadar betapa Bapak jauh dari godaan harta dan kekuasaan.

Pertengahan 2009 itu kondisi Bapak memburuk. Banyak orang menjenguk Beliau di RS, dan lazimnya orang Indonesia, menitipkan belarasa urunan biaya perawatan. Bapak mengumpulkan amplop-amplop ini di dalam laci kantor di PBNU. Lebaran 2009, saya tanya ke Bapak apakah Beliau akan memberikan THR khusus ke staf Ciganjur. Jawabannya tidak dan agar saya yang memastikan mereka mendapatkan THRnya. “Bapak sedang mengumpulkan uang untuk Muktamar PKB, nak. Imin sudah nggak bisa dibiarkan terus-terusan begini.” Demikian kata Beliau saat itu. Beberapa kali Bapak bercerita soal bagaimana PKB harus diperbaiki dan tidak boleh dipegang oleh cak Imin. Saat itulah definitif saya memahami bahwa Bapak masih berupaya keras untuk memperjuangkan PKB dari cengkeraman orang-orang yang tak amanah, walau secara de facto Beliau sudah tidak berdaya. Ada beberapa orang PKB Cak Imin yang masih diterima saat menjenguk, tetapi tidak dengan kelompok terdekat Imin.

Setelah Bapak wafat pun, ada seorang teman Bapak (sekarang seorang tokoh nasional) yang mengatakan ke saya bahwa ia sedang diminta Gus Dur mencari donasi untuk persiapan Muktamar PKB Gus Dur di tahun 2010. Ia menyerahkan uang yang sudah berhasil dikumpulkannya kepada Ibu. Memang, niat Gus Dur untuk Muktamar sangat kuat, sebagai respons terhadap keputusan MA tentang legalitas PKB yang jatuh ke tangan Cak Imin.

Semua pengalaman inilah yang membuat saya ngenes dengan ‘tawaran narasi’ dari entah siapa di kubu PKB Cak Imin. Menyatakan bahwa konflik antara PKB Cak Imin dengan Gus Dur adalah rekayasa, bagi saya sama saja dengan menghina Bapak dengan amat sangat.

Seorang Gus Dur, sekuat apapun seajaib apapun, tak akan mampu merekayasa kondisi fisiknya. Menyatakan bahwa konflik ini adalah rekayasa Gus Dur, adalah sama dengan menyatakan bahwa Gus Dur gila. Itu berarti menyatakan bahwa Bapak merekayasa konflik untuk strategi politik, lalu terkena sendiri dampak fisik dari permainannya, sehingga bahkan harus tinggal di Rumah Sakit.

Seorang Gus Dur tak mungkin mempermainkan mekanisme hukum sampai di Mahkamah Agung untuk mendapatkan kejelasan hukum mengenai partainya, hanya demi rekayasa. Gus Dur adalah pejuang demokrasi, yang setia dengan prinsip keadilan dan pembebasan. Mereka yang percaya bahwa Bapak merekayasa konflik sampai memanfaatkan proses demokrasi hukum, sama saja percaya bahwa Gus Dur bukan pejuang demokrasi sejati. Ia dianggap sama dengan mereka-mereka yang memanfaatkan hukum untuk kepentingan kekuasaan. Bagi saya, ini adalah penghinaan besar bagi perjuangan dan karakter Gus Dur.

Rekayasa macam mana yang membuat rombongan Cak Imien melakukan sujud syukur di Mahkamah Agung setelah pengumuman keputusan MA itu? Menyelenggarakan tumpengan di kantornya? Sedemikian pentingnya bagi Gus Dur bersama Cak Imin membohongi rakyat dengan melakukan hal-hal itu, agar rakyat percaya ini konflik betulan padahal rekayasa? Sekali lagi, itu sama saja dengan menyatakan Gus Dur bukan pemimpin rakyat.

Bagi saya, Bapak bukan itu semua. Dalam hal konflik dengan PKB Cak Imin, acuan saya hanya apa yang saya lihat dan saya dengar dari Bapak langsung. Bukan apa kata dan analisis orang. Apalagi orang-orang yang punya track-record dan karakter yang tak bisa saya percayai.

Hanya karena ingin mendapatkan dukungan dari pecinta Gus Dur, tega sekali orang-orang ini menyebarkan narasi yang justru menghina karakter Gus Dur, tega sekali menjual nama Gus Dur sedemikian rupa hanya untuk kepentingan kekuasaan sesaat yang tentu saja tak bisa dibawa mati.

Padahal, sejatinya mudah mendapatkan dukungan pecinta Gus Dur. Kalau memang mengaku sebagai penerus Gus Dur, jalani saja apa yang selama ini diteladankan Gus Dur: integritas terhadap nilai-nilai dasar Gus Dur, demi umat. Tunjukkan bahwa mereka berjuang berlandaskan prinsip Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan. Tunjukkan bahwa mereka punya karakter Sederhana, Sikap Ksatrya, dan bertumpu pada Kearifan Tradisi. Tunjukkan saja bahwa mereka memang tidak terlibat korupsi, bertindak demi rakyat. Tunjukkan saja pembelaan kepada semua kaum minoritas yang akhir-akhir ini makin muram nasibnya di Indonesia. Itu cukup untuk mengambil hati rakyat.

Tak perlu klaim ini-itu, apalagi klaim yang justru menghina Bapak saya. Sebagai seorang anak, saya sungguh-sungguh kecewa pada mereka, yang tega melakukannya dan tega untuk percaya bahwa masih banyak rakyat yang masih bodoh dan bisa dibohongi. Sesuatu yang jauh dari apa yang diajarkan Bapak saya sepanjang hidupnya.

*ditulis pada 26 Pebruari 2013*

Sumber:http://alissawahid.wordpress.com/2014/04/06/bapakku-bukan-perekayasa-konflik/

Friday, March 28, 2014

K. 17 L. 16


(Dimuat di Tribun Jabar, 16 Maret 2014)
K. 17
Tatapan perempuan itu beku seperti es. Perempuan bermata ilalang, teduh tapi sunyi. Aku tak menemukan bias cahaya di seraut wajahnya yang oval. Ia tengah menyorongkan wajahnya dengan bibir bergerak samar. Merapal sesuatu pada bunga-bunga yang berjejer di beranda rumahnya.
Sedang bernyayikah dia untuk bunga-bunga itu? Ah, barangkali ia hanya mencari perhatian. Hem, perempuan memang selalu ingin mencari simpati.
L. 16
Apakah ia orang baru? Sejak kapan berada di sini? Hem, Sepagi ini ia sudah rapi benar.  Sepertinya ia tipikal pekerja keras. Tidak. Tidak. Ia hanya seorang pegawai negeri yang dituntut waktu untuk melayani abdinya. Harus kuakui, ia memang mandiri. Di usia yang demikian muda sudah mengenakan baju safari. Mengagumkan!  
Berani-beraninya ia melempar senyum. Huh, pasti hanya sekedar basa-basi. Masa bodoh. Apa peduliku. Lelaki di mana pun selalu sama; para bedebah yang lalu lalang sejenak hanya sekadar menarik simpati perempuan.
K. 17
Perilakunya malah tambah aneh. Pertama kali kulihat ia bernyanyi, kemarin marah-marah, mengumpat segala yang ada di depannya. Sekarang terdengar lentingan kaca pecah dan teriakan memilukan. Semuanya dilakukan sendirian. Dua vas bunga di depan pintunya pun dibanting. Bukankah setiap pagi dia selalu bernyanyi untuk bunga-bunga itu? Perempuan gila?
Tidurku benar-bebar terganggu. Suara tangisnya melengking di langit-langir kamar. Memilukan. Aku paling tidak tega mendengar tangis perempuan. Lemahku ada pada air matanya.
Aku beranjak ke beranda. Perempuan itu tengah duduk mendekap. Di beranda. Wajahnya seperti kabut; kelam, suram dan pucat. Rambut acak-acakan karena dijambak sendiri.
L. 16
Ada yang mengetuk pintu? Jam lima pagi. Siapa? Remang di luar jendela membuatku malas. Ah, jangan-jangan itu Mas Fajri. Aku akan menuntut segala janji-janjinya!
Ternyata, lelaki itu. Kecewa, jelas.
“Maaf, apakah anda memiliki nomor telepon tukang servis WC? Sepertinya WC di rumahku mampet.”
“Anda siapa? Maaf tak sempat ganti baju,” selorohku. Matanya menelanjangi tubuhku yang terbalut lingerie. Semoga tak menyangkaku yang bukan-bukan.
“Saya Fandi, tetangga sebelah. Baru seminggu saya tinggal di kompleks ini. Rumah kita sehadapan.” Tanpa disebut, aku sudah tahu kalau rumahnya sehadapan.
“Tunggu sebentar.” Kutinggalkan sejenak lelaki itu. Ia memerhatikan segala macam benda di rumahku. Halaman pun tak luput dari sorot matanya. “Ini nomor teleponnya. Kalau tidak bisa, cobalah nomor yang satunya,” beriku.
“Terima kasih.” Ia pergi mengibas-ngibaskan nomor telepon yang telah kuberikan.
K. 17
Perempuan itu sungguh misterius. Cuma di bagian luar rumahnya saja yang menunjukkan keindahan. Tata ruangnya tak ada kesan rapi. Lantai kotor berserakan. Asbak di meja penuh dengan puntung rokok, terbalik menumpahkan isinya.
L. 16
Semakin hari, Fandi terus memerhatikanku. Apakah ia menemukan sesuatu yang istimewa? Ah, sudahlah. Tak berpikir macam-macam, batinku.
K. 17
Perempuan itu ternyata tinggal sendirian. Benar, dia perokok. Kerapkali aku menemukannya nge-fly, menikmati hisapan demi hisapan sebelum diempaskan ke udara. Lalu, ia memandang lekat asap membubung yang baru lepas dari mulutnya. Aku tidak suka perempuan perokok.
L. 16
Jangan harap kau bisa melarikan diri dariku. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di kaki dan mengakui bahwa yang ada di rahimku adalah darahmu. Tak akan semudah itu kau melupakan Risa, perempuan yang kini tak pernah kau beri kesempatan untuk bermimpi pelangi. Kau harus memenuhi segala janjimu. Termasuk singgasana yang kau janjikan. Apa kau bahagia dengan kekasihmu yang baru itu? Jangan harap.
K. 17
Aku terkejut. Perempuan itu menungguku, duduk di depan pintu.
“Maaf, boleh aku masuk?”
“Ya, silahkan.”
Kejutku jadi gugup. Seksi nian dia dengan balutan kaos u can see dan celana Jeans. Senyum mengembang manja. Lekuk tubuhnya memompa jantung berdenyut lebih cepat. Namun sayang, pakaian mini itu hanya membuat lekuk perutnya yang jelek kelihatan. Gilakah? Ah
“Arsitektur yang bagus,” gumamnya.
“Tidak juga. Ruangan ini sama saja dengan ruang di rumahmu. Hanya penataannya saja yang berbeda,” jelasku.
“Ya, ya! Maksudku tata ruangnya. Tidak seperti rumahku. Kacau. Kapan-kapan maukah kau memperbagus tata ruang rumahku?”
“Dengan senang hati.”
Perempuan itu mondar-mandir. Sorot matanya menggeledah seluruh isi ruangan yang hanya berukuran kurang lebih enam kali lima meter itu. Sofa kecil, meja oval, televisi dua puluh sembilan inci lengkap dengan sound system dan DVD tak lepas dari padangannya.
“Oh, ya. Silahkan duduk. Mau munum apa?”
“Tidak terima kasih. Namaku Marisa. Panggil saja aku Risa. Itu foto siapa?”
“Oh, tunanganku. Sebentar lagi dia akan menjadi istriku,” ungkapku bangga.
“O…Selamat! Semoga menjadi pasangan yang serasi. Maaf, aku harus pulang.” Perempuan itu berlalu sebelum aku mengucapkan terima kasih atas pujiannya.
Kesimpulan untuknya hampir mencapai taraf kegilaan.
L. 16
Tidak! Tidak! Seharusnya bukan Fandi. Tetapi kau. Ya, kau! Kau yang harus bertanggungjawab.
K. 17
Perempuan itu, maksudku Risa, datang lagi dengan seonggok wajah seperti mayat. Tak ada cahaya sama sekali di parasnya. Teh yang kusodorkan langsung tandas diseruput tuntas tak berbekas.
Senandung elegi mengalun dari bibirnya yang kering dan pecah: hidup Risa terperosok oleh lelaki hidung belang yang mengatakan telah berjanji akan menikahinya. Hampir empat bulan ia menunggu lelaki bernama Fajri. Bukan ia yang memerlukan lelaki itu, tetapi segumpal darah di perutnya yang memerlukannya.
“Kau sudah menghubunginya?”
“Fajri selalu berjanji. Aku muak.” Jelasnya.
Kesimpulanku seketika beruba: Risa tidak gila.
L. 16
Tak apalah cerita ini tumpah kepada Fandi. Ia bisa dipercaya. Aku sedikit tenang. Tetapi, belum benar-benar tenang sebelum kau kuterlantarkan. Sepintar apa kau sembunyikan simpananmu? Aku pasti akan memburunya. Kau hanya anak tupai yang belajar melompat. Linda. Hem, nama simpananmu bagus juga. Entahlah, apa dia sebagus namanya.
Aku akan menusuk jantung Linda agar dadamu berdarah. Oh, tidak. Tak akan ada darah yang muncrat dari dadamu hanya karena kehilangan Linda, bukan? Kau pasti akan berpaling ke perempuan lain. Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi pemburu setia para perempuanmu. Aku akan selalu mengunjungi rumah mereka dan mengalungkan melati ke lehernya. Bagaimana? Setuju? Pasti engkau mengatakan tidak. Ha..ha..ha..ha…
K. 17
Hampir setiap sore Risa bertamu. Ya, cuma sekedar bertutur remeh-temeh tentang lika liku kehidupannya. Di balik wajah yang terus berkabut, aku masih menemukan secercah cahaya di sana. Di pendar matanya.
“Kau tahu, pada proses penciptaan perempuan, malaikat sempat protes kapada Tuhan karena menciptakannya dengan begitu lembut,” ujarku mencoba menyulut kembali cahaya yang hampir redup itu.
“Lalu?”
“Ternyata malaikat tidak mengetahui betapa di balik kelembutan itu Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa.”
“Luar biasa!?”
“Ketika malaikat menyentuh dagunya, dia bertanya lagi, ‘Tuhan! makhluk ciptaan ini amat lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya,’ katanya. Padahal itu adalah air mata.”
“Untuk apa?”
“Pertanyaanmu persis seperti yang ditanyakan malaikat. Air mata adalah salah satu caranya mengekspresikan segala ekpresi hati: cinta, cemburu, sepi, derita, haru, bahkan benci.”
“Hebat!”
“Ya, Tuhan memang hebat dalam menciptakan perempuan,” kataku.
“Bukan Tuhan.”
“Siapa?”
“Raja Dongeng, kau. Maukah di lain waktu kau menceritakan yang lainnya,” senyumnya mengembang. Aku bahagia.
L. 16
Perempuan mempunyai kekuatan mempesonakan laki-laki. Ia bisa mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki. Ia mampu tersenyum walau hatinya menjerit. Ia bisa menyanyi ketika menangis. Ia dapat menangis saat terharu. Bahkan ia bisa tertawa tatkala ketakutan. Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan…
Terima kasih, Fandi. Aku makin yakin jalanku benar. Aku harus mampu melawan ketidakadilan ini!
K. 17
Wah, besok malam tunanganku akan datang. Aku harus meminta bantuan Risa untuk memasak makanan khas padang. Tetapi apakah dia mau membantuku? Ah, masa bodoh. Tak ada salahnya aku meminta bantuan. Yakin Risa membantuku. Lagi pula tak ada yang sulit baginya. Dia sangat jago dalam urusan ini.
L. 16
Fandi memintaku memasak masakan padang? Tak ada alasan bagiku menolaknya. Sebuah kesempatan membalas kebaikannya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Sayang, ia sudah memiliki calon istri. Tak mungkin aku merebut Fandi dari calon istrinya, karena akan menjadikan perempuan itu hidup seperti Zombie, sepertiku.
Beruntung sekali perempuan itu. Fandi pemuda baik dan mandiri. Tak sepertimu yang cuma obral janji. Seandainya sejak dulu aku mengenalnya, pasti akan lain cerita. Ah, seandainya bukan seandainya.
K. 17
Aku tak sabar menunggu kedatangan tunanganku. Hidupku serasa setengah mati dalam setengah tahun. Apa rambutmu masih tergerai sebahu, dokter? Dokter? Ya! Aku akan menyebutmu Dokter Linda sebagai apresiasi atas selesainya studimu. Jika sudah menikah, aku pasti akan mengubah panggilan itu: memanggil dengan sebutan Sayang. Sementara orang-orang harus memanggilmu dengan sebutan dokter atau nyonya. Ah, sebutan nyonya terlalu meninggikan derajat. Biarlah mereka menyebutmu ibu dokter saja.
L. 16
Malam ini, aku akan membawakanmu segelas anggur bercampur darah pacarmu. Bila perlu, air matamu juga turut kuperas dan kucampurkan agar rasanya nikmat seperti anggur tahun 90-an. Oh, betapa romantisnya. Kita mendentingkan gelas dan bersulam.
Anakku, malam ini aku akan menemui perempuan simpanan ayahmu. Kau harus tahu betapa buruk kelakuannya. Ia tidak hanya menduakan, tetapi menomersekiankan ibumu. Kuharap kau tidak bersedih hati. Kau harus bangga memiliki ibu setegar karang.
Masih ingatkah kau pada ceritanya Om Fandi? Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan!
Perutku serasa bergerak, kendati kutahu, ini hanya perasaanku saja.
K. 17
Sudah setengah satu. Lampunya masih nyala. Apakah Risa belum tidur?
L. 16
Seumur hidup baru pagi ini aku menikmati udara segar. Otot-ototku serasa meregang setelah semalam menegang. Anggur yang kujanjikan sudah siap. Besok, aku akan mengajakmu bersulam. Tetapi, izinkan dulu aku memeras air matamu. Dan, maukah kau setia beberapa menit untuk menunggu anggur itu menjadi dingin di dalam kulkas? Aku berjanji akan melayalanimu tanpa menunggu pintamu, seperti dulu. Akan kubaringkan kau. Setelah itu, hanya kita yang tahu…
Lihatlah anakku, Fandi sedang duduk manis di beranda. Oh. Tidak. Fandi menagis. Apa yang terjadi padanya? Seharusnya ia berbahagia nanti malam akan menyambut calon istrinya. Jangan-jangan pertunangannya gagal.
K. 17
Lindaaaaaa…..!!!
L. 16
Linda? Siapa Linda?
Jember,12 Desember 2013

Sunday, March 23, 2014

Lomba Menulis Surat Cinta


“You know you're in love when you can't fall asleep because reality is finally better than your dreams.” 

Lagi merasakan seperti yang diungkapkan oleh Dr. Seuss tersebut? Kalau iya, jangan disimpan sendiri. Ungkapkan yuk, lewat love letter!

Ada hadiah keren untuk love letter yang terpilih!

Caranya: 

1. Daftar/sign up jadi member di 
www.GADIS.co.id. 
2. Isi profil kamu dengan lengkap. Lengkapi juga dengan nomor telepon (agar kamu bisa dihubungi, bila keluar sebagai pemenang).
3. Masuk ke halaman My Page, klik Blog, kemudian klik Buat Baru.
4. Jangan lupa sebelum mulai menulis cerita, pilih kategori Love Letter Writing Competition.
5. Love letter hanya ditujukan untuk pacar atau gebetan kamu (tidak harus menyebutkan nama pacar atau gebetan tapi diperbolehkan bila ingin disebutkan).
6. Isi love letter maksimal 3 paragraf (di luar kalimat untuk tertuju, misal: Dear Boyfriend…, Kepada Gebetan Tersayang… dan kalimat penutup, seperti: Salam Sayang Selalu, Forever Yours, dan sebagainya. Namun diperbolehkan bila tidak ingin menggunakan kalimat untuk tertuju atau penutup). 

Penilaian:
1. Love letter yang lolos penilaian tahap awal akan ditayangkan di website majalah Gadis.
2. Love letter yang lolos penilaian tahap awal akan melewati proses penilaian lebih lanjut oleh juri yang terdiri dari tim GADIS.
3. Kriteria penilaian terdiri dari keindahan kata-kata yang dituangkan dalam love letter.

Ketentuan:
1. 1 orang boleh menulis lebih dari 1 love letter.
2. Pengumpulan love letter paling lambat 31 Maret 2014, pukul 23.59 WIB.
3. Pemenang akan dihubungi oleh GADIS dan diumumkan di
www.GADIS.co.id.
4. Lomba ini terbuka untuk cewek siswi SMP/SMA dan sederajat.
5. Bagi pemenang yang terbukti bukan siswi SMP/SMA dan sederajat, maka kemenangannya akan dianulir.
6. Pajak hadiah ditanggung pemenang.
7. Apabila hadiah tidak diambil dalam waktu yang ditentukan, maka hadiah akan menjadi milik majalah GADIS.
Keputusan penyelenggara tidak dapat diganggu gugat, tidak diadakan surat menyurat dan hadiah yang diterima tidak dapat dipertukarkan.
8. Sayembara ini tertutup bagi seluruh karyawan Femina Group dan keluarganya.

Menangkan:
1. 1 Roxy JBL On Stage Micro III (Speaker Dock for iPod/iPhone) senilai Rp. 1.550.000,- untuk 1 pemenang terbaik.
2. 10 goodie bag menarik untuk 10 pemenang hiburan.

Pelajaran Randu


(Dimuat di Jurnal Nasional 9 Maret 2014)

Akhir-akhir ini pekerjaan Ibu bertambah. Awalnya tak kusebut pekerjaan, melainkan cuma kebiasaan. Sulit memang membedakan antara pekerjaan dengan kebiasaan. Bukankah pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang? Bukankah kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan berulang-ulang pula?

Saban pagi, selalu begitu. Ia duduk mematut sunyi. Bibirnya mengatup rapat, bersenyum pucat. Kedua tangan bertumpu pada lincak bambu dengan bahu bersandar tabing. Matanya sorong pada matahari yang baru mengecup kening bumi. Mata itu baru sedikit teralihkan bila kaki-kaki lurus tegap dengan pacul dan sabit melintas di depannya, di langkan rumah. Ia tidak sadar betapa telapak kakinya merusak rumah undur-undur di kolong lincak.

Mata itu sudah tak sejernih asalnya. Tetapi mata itu masih seperti gravitasi. Mencapit ruang terkecil di suatu masa—yang sebagian orang sudah tak bisa mencapitnya—yang tak kuketahui. Hanya mata laur itu yang tahu. Berbicara dalam sunyi.  Bertutur tentang banyak hal yang miskin kata.

Sementar pagi terus merangkak, kawat jemuran mengular tanpa pakaian basah, mulut tungku masih dingin membisu, beras belum terkeramasi air, panci belum berpisah dengan leteng, butir nasi belum terlepas dari piring. Semua itu korban dari pekerjaan baru Ibu yang harus kukerjakan.

“Semoga hari ini Akang dapat penumpang banyak,” kata Maryamah, tetangga sebelah. Memberi sebungkus bekal mengayuh becak.

Ibu menoleh.

“Kakang berangkat, semoga laku banyak,” kata Rapek, tetangga sebelah, penjual sayur. Menyalami istrinya.

Ibu menoleh.

“Semoga panen padinya banyak,” kata dua lelaki memulai percakapannya. Di depan Ibu.

Ibu mematung.

Tadi malam, welang sangit tanda panen memang memadati dop 5 watt. Orang-orang yang nongkrong di warung Mak Jamil dengan pesanan kopi pahit dan rokok murahan, berbagi kabar tentang hasil panen.
Ibu bukan perempuan yang tak mengerti makna denyar pagi. Bukan pula bagian dari perempuan pemalas sebagaimana yang diterakan dalam sabda-sabdanya sendiri, yang katanya tak boleh kucontoh. Bukan. Perempuan itu adalah Srikandi. Perempuan itu adalah Kartini. Menurutku.

Dua nama pernah melekat padaku sebelum yang terakhir melekat atas nama Duharani: Laila Fajrin dan Aisyatus Siddiqoh. Sejatinya, penulisan yang benar adalah Dhuharani sebagaimana kesesuaian dengan lisan bahasa Arab, namun karena guru SD—yang tak mau disalahkan dengan alasan bahwa dalam bahasa Indonesia penulisan yang benar memang Duha—salah menulis ijazah sampai terpakasa kuikhlaskan huruf  ‘H’ selamanya lenyap.

Aku lahir tepat pada kokok ayam pertama dini hari yang bertaut dengan suara tokek. Namun tangisku pecah ketika gema adzan tiga langgar di kampung selesai.

Sauk dan sakit-sakitan adalah alasan kuat pergantian nama Fajrin ke Dika. Maknanya tak terlalu menyimpang dari tanda kelahirku. Tetapi pergantian itu tak menyelamatkanku dari kondisi kesehatan fisik yang labil.

Duha memiliki makna jauh lebih dalam, kata Ayah, suatu ketika 20 tahun lalu, sebelum menjadi sebaris nisan 17 purnama lalu. Duha simbol kebangkitan, semangat, dan pencerahan. Waktu dimana malaikat menebar rezeki kepada manusia. Momen penting mengarahkan manusia ke mana harus melangkah dan apa yang akan dilakukan selanjutnya.  Duha menjadi waktu sebagai objek sumpah Tuhan.

Penyuka semur keong besusul dan oseng-oseng pakis itu tutup usia setelah pontang-panting dirawat ke sana kemari. Kata dokter kolesterol karena keranjingan semur keong besusul. Aku tak cukup mengerti apa itu kolesterol, apalagi Ibu. Saat itu, di pikiran kami hanya bercokol sekotak ladang untuk dijual demi membiayai kesehatannya.

“Dalam kondisi apa pun, petani sejati pantang menjual tanah. Menjual, berarti menghianati Ibu Pertiwi,“ larangnya. Kami pun tak jadi menjualnya dan membiarkan Ayah sekarat menjelang ajal.

Di mana ada Ibu, di situ Ayah pula. Keduanya memang tak terpisahkan kendati jarak dan waktu sudah sangat jelas berbeda.

Lara! Ya, lara! Mata selalu jujur perihal apa yang ada di dalam hati. Segala yang ada di hati, yang sebenarnya, seperti tersirat dari pandangan mata.

***
Ditinggal tulang punggung keluarga adalah kenyataan yang tidak buruk amat. Buktinya, sampai saat ini aku dan Ibu tetap berdiri tanpa kekar seorang lelaki. Sekotak ladang yang pernah ingin kami jual, dapat digarap dengan baik. Ibu sempurna menjelma Srikandi berdarah Kartini. Aku? Kau Prameswari, permaisuri di rumah ini, kata Ibu.

Pagi berdenyar. Tiga ekor kambing diseret-seret tuannya. Seekor ayam betina berkotek meningkahi perhatian ayam jantan. Ibu membatu di lincak bambu.

“Mari, dibantu,” tukasku.

Setumpuk cucian dalam kantong beras kuserahkan padanya karena di atas kepalaku sudah bercokol sebak peralatan dapur: bajan, panci, piring, cobek, sendok serta kresek isi abu tomang dan sabun colek.

Kami menuruni jalan setapak menuju sebuah mataair di lereng bukit. Sampir motif lorek kembang cengkeh dijinjing setinggi lutut. Lepas pandangan ke barat, hutan sengon terpancang kokoh. Konon, hutan itu merupakan rahim dari kampung ini. Saksi peristiwa hebat, gerilyawan kampung menumpas penjajah.

Hutan itu sekarang menjelma tempat pencarian tambahan. Rerantingan kayu bisa didapat dari sana. Kalau sedang mujur, tak perlu memanggul kayu sampai ke rumah. Lambaian tangan bisa segera meringankan beban di punggung. Tujuh ribu rupiah! Raiblah pegal di badan.

Seberapa jauh jarak terakhir kali Ibu mengais rerantingan di hutan itu, seberapa jauh jaraknya terpental dari rombongan sesama pencari kayu, seberapa jauh pula Ibu menurunkan pandangan pada jalan setapak, tak terbaca sudah. Lama sudah pagi tak terdengar berisik di kandang.

Setiapkali berpapasan dengan Ibu-Ibu yang nongkrong di emperan atau yang lebih dulu naik turun bukit, mata kami selalu ditautkan pada jalan setapak. Barangkali mereka sudah emoh mengeluarkan sepatah kata untuk kami berdua, hingga kata-kata yang hendak mereka keluarkan diwakili oleh mata mata yang memandang sinis: lihatlah kedua perempuan itu! Satunya janda tua, satunya perawan tua. Seperti itu kalau milih-milih lelaki!

“Permisi, ya, Ibu-Ibu. Kami duluan, ” seloroh seorang perempuan yang tiba-tiba nyerobot dari belakang.

Ada yang tertusuk. Nyeri. Tak kubalas tatapannya. Setua itukah aku?

Di atas air menggenang, berguguran daun-daun kering. Alang dan tanaman pakis tumbuh lebat di sekitar pancuran dan di sepanjang sisi selokan. Ikan-ikan kecil mengambang—yang melesat bilamana coba disentuh. Air beriak sepanjang selokan membentuk gugusan kristal.

Aku dan Ibu menepi. Menunggu sepi, menunggu sunyi. Menunggu Ibu-Ibu pergi.

***
Tujuan hidup perempuan berujung pinangan. Itulah alasan kuat teman sebangkuku sudah banyak memiliki dua anak. Besar-besar lagi. Apabila buah dada anak perempuan sudah setumbuh jagung, tugas Ibu adalah mengajari anaknya belajar bersolek diri. Membawa anak gadisnya ke acara perkawinan, khitanan, rokatan, kompolan, dan perayaan desa lainnya. Tentu, tujuan akhir berharap memeroleh lirikan pemuda. Tambah banyak, tambah bangga.

Ibu duduk mematung di emperan. Burung pericit berjibun di pohon Randu. Ibu pernah memetikkan pelajaran berharga untukku dari pohon itu. Pemahaman tentang arti berbagi. Di musim kemarau, ketiadaan air terbatas. Untuk memaksimalkan asupan, daun-daun memilih mengugurkan diri untuk memberi kesempatan putik-putik bunga agar tetap tumbuh mekar pada waktunya.

Begitu pun sebaliknya. Putik-putik itu akan berubah menjadi kapuk yang berterbangan disaup angin—yang kusebut musim salju menyambangi ladang. Melambaikan tangan pergantian waktu selanjutnya.

Aku menarik slot pengunci pintu kayu. Sekantong cucian dengan ikatan rafia merah di bagian ujung kantong. Derak pintu menolehkan pandangannya.

“Duduk dulu, Duk.”

Aku menyipit ke dekatnya.

“Kamu ingin lelaki yang bagaimana? Kau sudah dewasa, kau layak berkeluarga. Lihatlah temanmu sudah punya anak semua.”

Lekas saja aku merasa bersalah. Inikah lara itu? Para lelaki yang datang hanya untuk pergi berjibun di kepala. Lelaki berselempang sarung, lelaki berkumis tebal, lelaki berbulu lebat, lelaki berambut klimis, lelaki dengan mobil T 120, dan entah lelaki mana lagi yang pernah kutolak, sekarang datang lagi. Lelaki dari segala zaman. Di mata Ibu. Ya, di mata Ibu.

“Kenapa nada Ibu menyerah?”

“Lihatlah kata orang: kau perawan tua. Apa kamu tak malu? Apa kamu tak merasa iri melihat perempuan sebayamu sudah menimang anak?”

“Aku belum siap.”

“Dari Ayahmu ada sampai tiada kamu tetap bilang belum siap. Mau sampai kapan bilang begitu?”

Tegurnya tak lebih dari mengiba. Tak ada yang bisa kuperbuat selain diam.

“Lihat! Keningmu, rambutmu, parasmu, dan lekuk tubuhmu jelas usia telah memakannya. Kalau saja dulu Kakang tak pernah mengatakan jangan terlalu memaksakan kehendak, mungkin sudah kau kucarikan jodoh sendiri.”

Aku tercekat.

“Kemarin, Mad Jali datang kemari membawa sekarung beras. Ia mengutarakan niatnya meminangku menjadi istrinya. Setua apa pun manusia pasti membutuhkan pasangan hidup, termasuk Ibu. Tapi Ibu menolak. Sebagai ganti kecewa, kuberikan tawaran lain. Denganmu.”

Aku tercengang. Ingatan tertubruk pada sekarung beras di pilar dapur yang sempat kupertanyakan dalam hati.

“Demi Ibu, terimalah lamaran itu,” suaranya mengecil namun serak.

Bagaimana mungkin aku menerima lamaran itu, sementara garis seorang istri tidak boleh tidak harus siap diboyong suami dari rumah asalnya, tanpa pesangon apa pun. Bila cuma tanpa pesangon, tak masalah. Tetapi kebahagiaan yang Ibu pinta akan melapukkannya sendiri di usia senja. Hidup sendiri.

“Aku belum siap,” sanggahku.

“Sampai kapan?”

“Entah. Selamanya mungkin.”

Mataku saling bertumbuk dengan mata yang sudah tak kuat menahan genangan di ceruknya. Sadar tidak kuat bersitatap lama dengannya, pohon Randu menjadi pengalihan menghindari mata itu. Seperti pohon Randu, tujuanku sudah kutemukan, dan Ibu sendiri membantuku menemukannya. (*)

Jember, 07 Desember 2013