Monday, June 7, 2021
Kemenangan Dini H. Purnoto pada Pilkades Sukogidri
Saturday, August 29, 2020
Santri (Wajib) Mencari Barokah
Judul : Asmara Anak Asrama
Penulis : Fandrik Ahmad
Penerbit : Surya Pustaka Ilmu
Cetakan : November, 2019
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978-623-92188-2-9
Peresensi : Muhtadi ZL
Ditinjau dari segi historisnya, tujuan santri
yaitu untuk mendapatkan ilmu yang barokah. Karena berpatokan pada kalimat yang
mashur di kalangan kaum sarungan. “Percuma punya ilmu, tapi tidak barokah.
Lebih baik punya ilmu sedikit tapi barokah”. Secara gamblang adagium ini
menuntun seseorang (santri khususnya) untuk mencari ilmu yang barokah.
Untuk mengetahui cara mendapat ilmu
barokah, tertuang jelas dalam novel religi karya penulis muda dan alumnus
pesantren, Fandrik Ahmad, Asmara Anak
Asrama. Buku ini menceritakan seorang santri (sebagai pelaku utama) yang
nyantri di salah satu pesantren tersohor di Madura. Santri tersebut bernama
Haris yang menapaki jalan akhirat sebagai tujuan awal dirinya mondok. Semua
kepentingan yang berbau materi tidak ia singgahi sedikit pun.
Dari segi perilaku, Haris sangat mengedepankan etika atau adhap asor, utamanya pada keluarga
pesantren. Sebab lumrah kita ketahui bersama, pesantren yang terkenal dengan
moral atau aturan yang membuat santri paham konteks, antara boleh dilakukan
atau tidak boleh dilakukan. Apalagi hal tersebut merujuk pada santri putri
(non-muhrim). Pesantren mempunyai norma yang sangat ketat (hal. 154). Maksud
hal ini adalah bagaimana seseorang memiliki perbedaan antara pesantren dengan
yang bukan pesantren.
Seperti banyak kisah-kisah yang beredar
di kalangan santri, untuk mendapat barokah, santri harus patuh pada peraturan
pesantren. Karena menurut keyakinan kaum sarungan, patuh pada peraturan
pesantren adalah modal awal untuk mendapatkan barokah. Makna patuh pada
pesantren tidak hanya ditafsiri satu makna, tetapi kata ini mempunyai konotasi
yang lain, seperti patuh pada dawuh kiai, serta ada jalan lain yang bisa
ditempuh untuk mendapatkan barokah, yaitu mengabdikan diri pada dalem (rumah kiai).
Hal inilah yang dilakukan Haris selama
menjadi santri. Dia menyapu halaman dalem
setiap pagi sampai menggantikan lora atau anak kiai yang tidak bisa mengajar sebab
menempuh pendidikan yang lebih tinggi di luar pesantrennya. Semua kegiatan yang
bersangkut-paut dengan pesantren dilakukan dan dijalaninya dengan ikhlas dan
sabar.
Kehadiran novel religi ini bisa menjadi
renungan dan memberikan paradigma baru bagi santri yang lahir di 2000-an.
Sebab, santri yang terdiskriminasi dalam ruang lingkup generasi Z sangat
kontradiktif dengan santri sebelumnya. Santri sekarang seolah hanya
mementingkan hal-hal yang berbau sekuler.
Pemahaman baru ini menjadi penghalang untuk mendapatkan barokah di
pesantren. Sebab barokah diyakini bisa timbul melalui keridaan kiai atau guru,
bisa kita dapat melalui spiritual dan moral yang baik (hal.186).
Padahal, seandainya mereka tahu (santri
sekarang) bahwa tujuan prioritas santri adalah mencari ilmu yang barokah—jika
ditelisik dari esensi seorang santri mondok—bukan hanya mencari ilmu
pengetahuan belaka. Seorang santri yang benar-benar ingin menjadikan dirinya
seorang santri, ia akan patuh pada peraturan pesantren meski santri tersebut
tergolong zaman now. Hal ini menjadi
orientasi inti dari perjuangan santri yang rela jauh dari orangtua. Namun,
penuturan berbanding terbalik dengan santri yang masuk dalam lingkaran Gen-Z.
Sebelum benar-benar menyelami hal
spiritual atau barokah, perlu kiranya santri membersihkan diri dari segala
dosa, yaitu dengan cara pendekatan vertikal kepada Allah swt. Karena kalau
sudah mendapat rida dari kiai dan guru, tidaklah boleh lupa meminta
syafaat-Nya. Barokah didapat ketika hati dan jiwa santri bersih dari segala
dosa (hal.164). Jika hal ini berjalan linear, kaidah santri akan kokoh meski
dihantam atau diterjang kemajuan zaman sekalipun.
Buku ini penting dibaca oleh santri zaman sekarang, karena dalam buku 208 halaman ini memberikan pemahaman yang sangat mudah dicerna. Jika buku ini hendak direvisi perbaikan mengenai penulisan kata lebih diperhatikan. Namun yang jelas, kehadiran buku menjadi kebanggaan bagi santri untuk lebih mementingkan tujuan awalnya dan bahan introspeksi diri demi kebaikan di masa yang akan datang.[]
Pembelajaran Online dan Kesiapan Belajar Anak Pendidikan Dasar
https://mediajatim.com/2020/07/28/pembelajaran-online-dan-kesiapan-belajar-anak-pendidikan-dasar/
Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19) menyita
banyak perhatian. Pandemi global tersebut melumpuhkan multi-sektoral, termasuk
sektor pendidikan. Mau tidak mau, kebijakan social distancing dan physical
distancing memaksa lembaga pendidikan melakukan harus
pembelajaran online.
Tidak semua lembaga pendidikan siap menjadi ‘imigran online’.
Banyak faktor yang mempengaruhi, baik dari segi sarana prasarana hingga sumber
daya manusia. Dr. H. Mundir, M.Pd, dalam Migrasi Digital di Era New Normal,
membaginya menjadi tiga kelas: unggul, menengah, dan rendah. Kelas unggul yaitu
mereka yang telah melaksanakan pembelajaran online jauh sebelum adanya
Covid-19. Kelas menengah adalah mereka yang melakukan pembelajaran berbasis IT
dengan model face to face. Sementara kelas rendah
disematkan kepada mereka yang tidak atau belum pernah melaksanakan pembelajaran
online.
Apakah pendidikan kita siap melakukan pembelajaran online? Tentu
kita harus optimis, tetapi juga harus realistis! Berdasarkan hasil survey
Programme for International Student Assesment (PISA) akhir tahun 2019
menunjukkan, kualitas pendidikan di Indonesia menempati peringka ke-72 dari 77
negara. Mengapa bisa demikian?
Kurangnya pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pembelajaran
menjadi salah satu indikatornya. Meski Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) menyebutkan, jumlah pengguna internet tahun 2019 sebanyak
171,17 juta jiwa atau 64,8 persen dari total penduduk Indonesia, namun hanya
40% dari guru non-TIK yang siap dengan teknologi. Artinya, masih banyak
pendidik yang melaksanakan pembelajaran secara konvensional.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim
sangat getol mendorong lembaga pendidikan memanfaatkan teknologi
sebesar-besarnya guna meningkatkan kompetensi Abad 21. Namun, misi besar yang
dibangun belum terkaji secara strategis dan merata. Tidak heran jika kemudian
Mas Menteri, sapaan akrabnya, kaget ketika mengetahui ada wilayah di Indonesia
belum teraliri listrik. Belum lagi soal ketimpangan kompetensi guru dan sarana
prasaranan pendidikan antara di kota dan di desa.
Kesiapan Psikis dan Mental
Musibah pandemi Covid-19 yang datang tak diduga memangkas jarak
satu sama lain. Tentu hal ini menuntut lembaga pendidikan harus menyesuaikan
diri dengan kondisi dan situasi yang ada. Pembelajaran konvensional sementara
bermigrasi ke pembelajaran digital. Pendekatan pedagogi beralih ke pendekatan
heutagogi. Pendekatan andragogi bergeser ke pendekatan cybergogi
Pembelajaran online barangkali tidak menjadi kendala serius bagi
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi senyampang sarana prasaran dan
kompetensi guru memadai. Namun, tidak bagi pendidikan dasar, terutama bagi
sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah. Permasalahannya menjadi sangat kompleks.
Tidak hanya soal sarana prasarana dan kompetensi keahlian, melainkan juga
kesiapan psikis dan mental peserta didik dalam belajar
Piaget’s Theory of Cognitive
Development menyebutkan, anak pada usia SD/MI, antara 7-11 tahun, berada
pada tahapan operasional konkret. Mereka memiliki kecenderungan mulai memandang
dunia secara objektif, berpikir operasional, mengklasifikasi benda-benda, dan
memahami konsep. Dalam konteks belajar, mereka memiliki kecenderungan kongkret,
integratif, dan hierarkis.
Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Mereka membutuhkan banyak
interaksi dengan teman maupun lingkungan. Itulah mengapa pembelajaran pada
pendidikan dasar menggunakan pembelajaran tematik terpadu, yakni pemaduan mata
pelajaran berdasarkan tema-tema tertentu yang kontekstual dengan dunia anak
Ironi Pendidikan
Kehidupan new normal sudah memasuki fase III. Artinya, kegiatan
yang melibatkan massa mulai diperbolehkan, seperti kegiatan kebudayaan,
pariwisata, olahraga outdoor dan kegiatan massa lainnya dengan tetap memerhatikan
protokol kesehatan.
Pada fase ini sekolah seharusnya juga dibuka. Namun ternyata
pembelajaran di rumah masih diperpanjang sampai batas waktu belum ditentukan.
Tentunya hal ini menjadi semacam ironi. Kawasan wisata dibuka, belajar belum
sepenuhnya ‘merdeka’. Boleh berolahraga di ruang terbuka, anak belajar masih
terasa ‘di penjara’. Hajatan diperbolehkan, bersekolah masih dalam angan-angan.
Sejatinya, pembelajaran online merampas dunia belajar dan bermain
anak-anak. Dunia maya bukanlah taman yang baik bagi seusia mereka. Tak ayal
banyak yang bosan dan ingin segera masuk sekolah. Bermain dan bertegur sapa.
Anak-anak tidak bisa belajar mandiri. Harus ada yang bisa
mendampingi. Satu-satunya yang sangat memungkinkan menjadi patner belajar dari
rumah adalah orangtua. Namun tidak semua orangtua bisa menjadi patner belajar
yang baik. Malah potensi stres orangtua bisa lebih meningkat karena masih harus
memikirkan ekonomi keluarga.
Lalu, kapan kegiatan pembelajaran tatap muka bisa dilaksanakan
kembali? Wallahu ‘alam.
Sunday, August 4, 2019
Fandrik Ahmad Terbitkan Buku Sebagai Souvenir Pernikahan
Menyoal Pasal Karet Perbub Pilkades











