Tuesday, April 13, 2010

Sepenggal Kisah Senja

Malam dan sunyi melebur jadi satu. Dingin begitu menggigil. Rembulan mempesona dengan kesempurnaan cahayanya. Jam raksasa yang menjulang di atas menara masjid berdetak sekali. Pukul satu malam.
Saat jiwa-jiwa menyerah pada kesunyian, Si Boy, dengan langkah gemetar menuju Masjid: menyandang sajadah, memegang tasbih, dan Al-Qur’an di pelukannya. Lalu, khusyuk bersholat. Berdo’a. Tangannya gemetar. Menengadahkan kepala. Bercucuran air mata. Malam itu, menjadi malam yang begitu kelam baginya.
Ya Allah…Ampunilah hamba dan kekasih hamba. Limpahkanlah kemarahan-Mu pada hamba. Tahanlah tangan-tangan kematian dari kekasihku. Jangan Kau renggut nyawanya. Karena dia, asap ganja tak lagi kuhisap. Karena dia tenggorokanku tak pernah lagi teraliri alkohol. Karena dia jarum suntik tak pernah lagi menyentuh kulitku. Dan, karena dia pula aku bisa sampai ke pesantren ini. mendalami lautan karunia-Mu…
Dia adalah malaikat penyelamat yang Kau utus. Tapi, kini setelah aku sembuh dan berusaha untuk kembali ke jalan-Mu, kau ingin mengambilnya. Mengapa kau ……
Boy tidak kuat meneruskan do'anya. kepedihan telah membuatnya begitu lemah di atas penderitaan. Ia bersujud dan terus menumpahkan kepedihan di atas hamparan sajadahnya.
# # #
Di hatinya, hanya ada sosok Senja, seorang muslimah penyelamat bagi si Boy. Yang telah menyadarkannya akan arti kehidupan. Memberi ruang pada sebuah pertaubatan.
Ia tahu, Sejak dulu Senja adalah wanita pujaannya. Tapi, ia selalu menafikan perasaan itu karena keangkuhan. Ya! keangkuhan dengan pergaulan bebasnya. Hingga pada suatu hari, entah dengan jalan apa, ia berani mengungkapkan perasaannya pada Senja. Perasaan yang tulus dari seorang lelaki bengal dan tempramental kepada sosok muslimah yang taat beribadah.
“Senja, maukah ello menerima gue?”
“Apa? Kau mau menjadi kekasihku? Boy, bukannya aku gak mau menerimamu. Tapi, tanyakan dulu pada hatimu, apakah siap menjadi imam dalam hidupku ?”
“Gue siap!”
“Dengan apa?”
“gue akan lindungin ello. Tak akan ada seorang pun yang akan menyakiti ello. Jika ada yang berani, gue akan habisib orang itu,” Boy berdiri di atas keangkuhannya.
“Kau salah Boy! Aku tak butuh perlindungan dari keangkuhanmu. Aku butuh tuntunan. Tuntunan kepada jalan yang benar. Yang selalu mengingatkanku pada Allah. Apa kau siap?”
Boy tak menjawab. Ia sadar. Ia memang buta agama. Hidupnya hanya dituruti dengan kesenangan sesaat. Ia malu pada dirinya sendiri. Lebih-lebih pada orang yang dicintainya.
“Dengan apa gue harus menjawabnya? Tolong beri gue kesempatan. Gue tahu, gue buta agama. Maka dari itu, gue memilih ello, ingin dekat dengan ello, dan belajar agama kepada ello.”
“Jika kau bersungguh-sungguh, aku akan memberimu kesempatan selama dua bulan untuk belajar agama. Datanglah ke Pesantren Annuqayah. Belajarlah di sana. Manfaatkanlah kesempatan yang sedikit itu. Jika kau benar-benar ingin memilikiku.” Ada genangan air mata saat senja berucap demikian.
Boy menerima tawaran senja. Ia juga sudah bosan dengan hidupnya yang terkatung-katung karena buayan setan. Ia ingin mengakhiri hidupnya yang kelam. Mengarungi dunia penuh kedamaian. Dengan cahaya Ilahi.
# # #
Sebulan Dua Puluh Hari …
Sore itu, adalah kepulangan pertama bagi si Boy dari Pesantren Annuqayah. Ia terpaksa pulang karena mendengar kabar bahwa Senja, sang bidadarinya sedang sakit keras. Ia tidak tahu, kalau selama ini Senja mempunyai penyakit kanker otak. Senja tak pernah bercerita tentang hal itu. Hanya ia berucap, kalau ia sangat bahagia bila saatnya nanti, sampai tiada.
Perjalanannnya penuh getir. Gelisah. Segala kanangan muncul seperti angin membawa kabar duka. Terlintas di matanya bagaimana dulu berlakuan kasar pada Senja. Saat ia menampar senja ketika membanting birnya ke lantai. Kini, kenangan itu telah menamparnya sendiri.
# # #
“Boy, Aku ingin tidur di pangkuanmu,” kata Senja pada Boy.
“Ya! Gue selalu di samping ello. Tenang aja, ntar ello juga akan sembuh.”
“Maafkan aku, telah membohongimu. Sebenarnya, dua bulan yang lalu dokter telah memvonis umurku. Maka dari itu, aku hanya memberimu kesempatan dua bulan untuk belajar Agama. Agar kau bisa menyolati jenazahku.” Mendengar pengakuan senja, Boy terhenyak. Terpukul. Hatinya begitu sakit. Sakit sekali.
“Ello jangan seperti itu. Gue akan berusaha menyembuhkan ello. Gue janji,” Boy memegang erat tangan Senja yang terbaring tak berdaya.
“Tidak Boy. Kau jangan membuat angan semu, yang hanya membuatmu resah, juga membuatku semakin tak tenang hadapi kenyataan. Tak seorang pun yang bisa menyembuhkan penyakit ini, kecuali kehendak-Nya. Kangker di kepalaku sudah mencapai stadium tinggi. Kata dokter, aku tinggal menunggu waktu tangan malaikat maut membelai rambutku,“ Ada cahaya bening di matanya.
“Jangan berucap demikian. Hidup dan mati seseorang hanya Allah yang menentukan. Nanti, jika ello udah sembuh, gue akan mengajakmu jalan-jalan kemana saja yang ello suka.“ Dalam catatan hidup si Boy, hanya pada Senja air matanya mengalir.
“Tidak, Boy. Biar Allah yang menentukan segalanya. Aku pasrah. Cuma satu harapanku, jika kita benar-benar ditakdirkan berpisah, aku ingin tetap melihatmu seperti sekarang. Aku sangat sedih bila kau kembali pada buaian SS, Ciaming, Ganja dan segala tetek bengek yang akan membuatku tidak tenang di alam sana...“
“Boy, pandanglah aku sepuas hatimu. Sebentar lagi kau tak akan pernah melihatku. Maafkan aku, jika selama ini selalu membatasi dan sok ngatur tingkah lakumu. Tapi percayalah, semua itu aku lakukan demi masa depanmu.“
“Gue ngerti. Malah gue bersyukur. Karena sikap dan kelembutan ello bisa mengubah jalan hidup gue. Gue gak tahu seandainya Allah tak pernah mengutus ello pada. Mungkin, ganja dan semacamnya akan selamanya menjadi garis hidup gue.“
“Boy, aku sudah lelah. Aku ingin istirahat. Aku berharap jangan sekali-kali kau sentuh barang-barang yang menjijikkan itu. Aku tak sudi melihatmu menyentuh barang-barang haram itu lagi. Demi aku… Demi aku… Sudah Boy, aku sudah sangat lelah. Ingin istirahat. Selamat tinggal…“ Senja mengatupkan kedua matanya, disertai senyum manis yang mengembang. Mengantar tidur panjangnya.
Malam itu, sungguh sunyi bagi si Boy. Di ruang yang serba putih itu, Boy menangis. Sendiri. Ya ! hanya bersama sunyi. Menyisir luka sendiri. Mengenang kepergian sang bidadari.

Lintas Pulau, 2009

sudah dipublikasikan di
MAJALAH KUNTUM, Yogyakarta
edisi 303 April 2010

Sunday, March 14, 2010

Doa Dari Surga

Bayanganmu selalu menghadirkan keindahan pada setiap jejak langkah menapaki jalan kelabu. Dimana ilustrasi itu selalu muncul tatkala sunyi merenggut nyawaku. Ya! Sunyi merayap mendahului bahasa jiwa tak terjewantahkan. Aib pun tak bisa menjalar saat desiran angin mengabarkan berita hati. Dan, perasaan menyatu dengan aliran darah. Kaku tak terangkai pada muara pengaduan.
Kau sinari hati ini dengan seberkas cahaya dari kilau matamu. Aku lelah manakala harus melewati titik-titik terjal, mencari kepastian tanpa seorang yang memapahku di gelapnya dunia. Aku ingin sekali tidur dari mimpi-mimpi yang kau hadirkan. Dalam tembang syahdu, bersama mimpi-mimpimu, aku menemukan sesuatu yang sagat janggal.
Sungging senyum manis yang kau lukis dari bibirmu yang ranum menghadirkan abjad-abjad cinta, yang harus aku eja satu persatu. Melantunkan syair-syair asmara, yang harus aku hafalkan bersama iramanya. Bersamaku kau harus berdendang.
Aku menoleh ke kanan atas. Terniat dibenakku mengukur seberapa jauh Ratu malam menggantikan Raja siang. Detak-detak jam dinding membahana, jelas sekali detakan itu. Aku keget ketika aku peroleh jawabannya. 01:15 WIB. Tengah malam kulewati lagi dengan puing-puing kenistaan.
Di saat semua makhluk terlelap bersama bungan tidur mereka, aku malah menyongsong malam sendiri, menemani suara binatang malam yang selalu mengisi aktivitasnya di malam sunyi. Sebaliknya, ketika manusia terbangun dari tidurnya, eh, malah aku yang bergelut dengan bantal dan selimut.
Aku terlempar bersama angan, Bola mataku menghujam hampa ke arah jendela. Aku menemukan sesuatu yang aneh, memikatku untuk menghampirinya. Aku buka jendela. Rembulan tersenyum di balik pohon. Di antara kejaran awan, bulan menyapaku lembut.
Bulan semakin meninggi. Mendendangkan tembang untuk melengkapi nikmat lelapnya para mahluk dalam tidur. Bulan tersenyum. Ia mengajakku terbang bersamanya. Mengarungi malam yang sarat akan teka-teki dunia.
Aku merasa tubuhku menjadi ringan. Lalu, terbang mendekati bulan. Ia mengajakku menari-nari seperti tarian para ahli sufi. Berputar tak tentu arah. Aku menikmatinya. Aku berkhayal, seandainya ada kekasih yang selama ini aku puja, aku pasti bertambah bahagia.
Aku berputar.
Merentangkan tangan.
Memejamkan mata.
Terus berputar.
Tiba-tiba aku berada di sebuah rumah yang mirip sebuah kastil pada jaman yunani kuno. Rumah itu bertiang delapan. Atapnya terbuat dari emas dan alasnya dari kaca. Oh, dimana aku sekarang? Ini bukan duniaku. Tempat ini terlalu indah bagu orang sepertiku. Aku ingin dunia yang layak untuk aku huni, yang tak ada penyesalan jika aku merusaknya.
Lalu, seorang dengan suara menggema datang padaku. Aku tak tahu apakah ia laki-kali atau perempuan. Pakaiannya aneh. Tubuhnya hanya ditutup dengan kain putih yang sangat tranparan. Membuat lekuk tubuhnya terpahat abadi.
“Selamat datang, wahai pemuda. Selamat datang di dunia yang penuh kedamaian,” suaranya mengggaung. Menggetarkan tempat itu.
“Siapa kau?”
“Aku adalah penjaga Surga Cinta. Aku tahu kau sedang jatuh hati. Menjadi pemuja rahasia pada seorang yang membuatmu gelisah melewati malam-malammu. Hari ini aku datang untukmu. Untuk membantumu.”
Mengapa dia bisa tahu kalau aku sedang menjadi pemuja rahasia. Apakah ia juga tahu kalau aku hanya mengenal wanita itu hanya melalui sketsa wajahnya, tanpa sekali pun berucap dan bertutur sapa?
“Hai, pemuda, jangan hanya berbisik dengan hatimu sendiri, karena kau tak akan pernah menemukan kepastian.”
“Baiklah, aku ingin kau menaklukkan hatunya padaku. Kabarkan kalau aku menjadi mengagumnya. Kabarkan pula kalau aku inngin mengarungi hidup bersamanya. Aku ingin pulang bersamanya,” aku menantangnya.
Mahluk itu merentangkan tangan. Dengan segala kekuasaanya, ia menatap langit. Kain putih yang melilit di tubuhnya seketika koyak menjadi kepingan-kepingan bidadari. Membentuk lingkaran. Mengelilingiku. Mereka menari. Berputar. Mengajakku manari dan memanjatkan doa-doa. Semakin aku berdo’a, tubuhku semakin ringan mengawang.
Tuhan, pertemukanlah cintaku dengannya. aku ingin mengajaknya menari. Merasakah getar cinta yang aku rasakan. Setelah itu, izinkan Aku pulang bersamanya.
Bidadari-bidadari itu seketika berhenti menari. Mereka menertawaiku. Mengejekku, kalau yang aku lakukan ini adalah paling tololnya perbuatan manusia. Mereka lenyap seketika. Hanya gaung yang kudengar.
Aku tersungkur ke atas lantai. Kepalaku pening. Lho, mengapa bulan menjadi matahari? Aku ingin pulang bersamanya.
.
Kosambhi, 2010

sudah dipublikasikan di Radar Madura
pada tanggal 14 Maret 2010

Tuesday, March 2, 2010

Dermaga Penantian


Ole olang…
Paraona alajere
Ole olang…
Alajere ka Madhure
Sungguh indah pemandangan di tepi laut. Saat senja mengukir cakrawala. Dan matahari mulai tenggelam. Di tepian pasir basah itu, seorang gadis menatap kecemasan deburan ombak. Seakan ia ingin mengajak ombak ikut menuai kepedihannya. Ingin mengajak anak-anak ikan menghibur hatinya yang kelam oleh penderitaan.
Ia tak dapat mengelak paksaan ayahnya untuk menikah dengan Ki Kusno. Tengkulak ikan yang berkuasa di daerah itu. Di usianya yang masih menginjak 14 tahun dan masih duduk di kelas 3 SMP, Mona harus menikah dengan Ki Kusno yang telah berkepala tiga. Sebagai jaminan atas hutang keluarganya.
Mona akan menjadi istrinya yang ke empat. Dalam hatinya ingin berontak. Namun, tak punya kekuatan untuk melawan. Jika menolak, maka ia akan melihat orang tuanya teraniaya dan harus menanggung hutang segunung yang sulit dilunasi. Apalagi bunganya selalu bertambah.
Apabila orang tua sudah saling setuju, maka anak tidak boleh membantah. Apapun alasannya, jika tidak ingin disebut anak durhaka. Begitulah norma dikampungnya. Memang, kebanyakan dari teman-teman seusianya sudah banyak yang menikah dan punya anak. Tapi, Mona tidak ingin mengikuti kebiasaan penduduk kampung. Ia masih ingin merasakan pendidikan sampai akhir kuliah. Meski ia sadar hanya seorang anak nelayan yang miskin.
Lagipula Mona sudah punya prinsip hidup sendiri. Kekasih yang amat ia cinta dan sayangi. Ia tidak ingin menghianati pertunangannya yang sudah terjalin sejak ia masih berusian 9 tahun.
"Aku dengar kau akan menikah? Kemarin orang tuamu datang ke rumah dan membatalkan pertunangan kita. Mengapa orang tuamu begitu cepat berubah?" ucap Togal dibibir pantai.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa. apa yang harus akan lakukan? Hidupku kini seperti perahu oleng. Entah, kemana harus menepi. Kamu kan tau sendiri seperti apa Ki Kasno dan seperti apa hutang ayahku padanya," Mona tak mampu membendung hujan kesedihan hingga tumpah dipangkuan Togal.
"Mestinya ayahmu tidak harus berbuat demikian. Bisa kan hutang dibayar dengan hutang?"
"Ayahku tak sanggup lagi menanggung hutang itu. Bunganya selalu bertambah membuat hutang ayah tambah banyak. Apalagi Ki Kusno hanya memberi jangka seminggu untuk melunasi semua hutangnya. Jika tidak, aku harus menikah dengannya."
"Keparat! Mentang-mentang ia tengkulak yang kaya. Seenaknya saja menindas kaum lemah. Dasar Lintah Darat!" Ujar Togal. Berang.
"Besok malam, kita sudah tak mungkin lagi bertemu. Aku sudah tidak diizinkan masuk sekolah. Aku minta maaf atas janjiku selama ini. Aku merasa telah menjadi penghianat dan tidak dapat mewujudkan mimpi kita. Percayalah! Di hatiku, hanya ada cintamu. Tak ada lelaki lain yang berlabuh."
"Kalau begitu, besok kita tinggalkan tempat ini. Aku akan siapkan perahu di ujung pantai menjelang maghrib, agar malam bisa menjadi tabir kita dari kejaran kaki tangan Ki Kusno. Kita pergi sejauh mungkin ke seberang pulau. Kita cari pulau yang terjauh dari sini agar tak seorang pun yang mengganggu."
Matahari mulai separuh ditelan laut. Warna senja mulai menghiasi sudut-sudut pantai. Malam sebentar lagi berkelebat direrantingan. Togal dan Mona pulang kerumah masing-masing. Rencana mereka sudah matang. PERGI. Mona akan memperjuangkan cintanya sekuat tenaga. Tak boleh ada orang yang mengusiknya. Cintanya kepada Togal, tak akan pernah goyah oleh sebuah paksaan untuk menyerahakan tubuhnya pada orang lain.
Setelah selesai sholat Isya', ada pertemuan antar keluarga. Ini biasa dilakukan oleh keluarga kedua pasangan untuk mendengar nasehat-nasehat para sesepuh. Namun, yang hadir hanya keluarga Mona. Sedangkan keluarga Ki Kusno tidak ada. Ia datang bersama tiga brewok gondrong. Sudah tidak pantas lagi Ki Kusno didampingi orang tuanya.
Mona dipanggil Ayahnya dan dihadapkan langsung kepada calon suaminya. Ia diharuskan duduk disamping Ki Kusno.
"Anak yang manis, kau cantik sekali," bisiknya begitu Mona didekatnya.
"Sudah berapa kali kau pergi ketanah suci? Dan apa hasilnya?"
"Manis, bukankah nabi kita juga beristri lebih dari satu? Al-Qur'an juga telah mengajarkan kalau kita boleh beristri lebih dari satu. Kau masih kecil. Tahu apa tentang agama. Beraninya berkata demikian," Ki Kusno menyindir mona yang mulai mengguruinya.
"Kau salah menafsirkan, tuan. Agama tidak akan mempersulit pengikutnya. Apakah kau bisa berbuat adil? Seperti apa ukurannya? Ingat! Nabi beristri lebih dari satu karena ada alasa lain yang lebih mendasar. Bukan berdasarkan nafsu." Ucap Mona penuh kemenangan.
Ki Kusno merasa tersakiti dengan ucapan Mona. Marah. Hajinya merasa disepelekan oleh gadis yang masih bau kencur, anak kemarin sore. Ia tak mampu mengontrol emosinya.
"Sarwi! Bagaimana cara kau mendidik anak. Lihatlah anakmu. Berani-beraninya berdebat denganku. Ingat! Jika besok kau masih belum bisa mendidik anakmu dengan benar, aku tak sudi menikahinya. Dan kau harus menanggung dua kali lipat jika pernikahan ini sampai gagal."
"Maafkan kami ki," ayah Mona seloroh.
Ki Kusno tak terima atas perlakuan Mona. Ia pergi dengan muka merah padam. Sedangkan Mona di seret paksa oleh ayahnya ke dalam kamar. Di kamar, Mona dilempar ke kasur hingga ia hampir terjungkal.
"Apa maumu? Kau ingin membuat kami hidup susah. Kau harus sadar, kita ini hanya ikan teri. Kita ini hanya nelayan miskin." Ayahnya mengumbar amarah.
"Tapi aku tak mau menikah dengannya," suara Mona serak.
"Kau jangan macam-macam. Janur kuning sudah terpasang di ambang pintu. Undangan sudah tersebar. Kalau pernikahan ini sampai batal, kau akan melihat orang tuamu celaka. Lupakah Togal. Dia tidak akan mampu membahagiakan kau."
Mona hanya bisa melewati malam bertabur bintang dan berhias rembulan itu dengan isak tangis yang begitu pilu. Menyanyat hati. Ia hanya bisa menyisir luka. Keindahan yang dipancarkan bulan dan bintang berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan.
Esoknya, ketika orang-orang sibuk dengan tugas masing-masing, tiba-tiba tuan rumah digegerkan dengan hilangnya pengantin perempuan. Orang tuanya kalut. Bingung. Begitu juga juga para brewok yang ditugaskan menjaga Mona kalang kabut.
Imbasnya, ibu Mona menjadi bulan-bulanan atas musibah ini. Umpatan-umpatan kotor dan kasar terus mengalir tak terkendali. Perempuan itu hanya menangis meratapi kemalangan nasib keluarganya.
Ini adalah sebuah petaka besar bagi mereka jika tidak cepat menemukan Mona. Mereka cepat bergerak, karena sebentar lagi senja akan tiba. Semua berpencar dan tetap menjaga suasana agar seakan tak terjadi sesuatu.
"Dimana rumah Togal?" Tanya si brewok sambil memegang gagang golok yang diikat dipinggangnya.
"Di ujung pantai, dekat sungai seruk," kata ayah Mona.
Para brewok secepatnya menuju rumah Togal. Takut semua akan terlambat. Karena acara pernikahan akan dimulai sehabis maghrib. Tepatnya setelah mega merah dimakan malam.
Senja sudah datang. Menabur kidung kecemasan.
Di perempatan jalan, para brewok melihat kelebatan bayangan Togal yang berlari kencang. Para brewok mengatur strategi. Berpencar ke segala arah. Tak lama kemudian Togal terkepung.
"Ha…ha…ha… bocah ingusan, dimana Mona kau sembunyikan?" bentak brewok.
"Aku tidak tahu. Sekali pun aku tau, buat apa aku memberi tahu pada kalian. Cuih…!" Jawab Togal sengit sambil memegang erat golok yang terselip dipinggangnya.
"Anak kadal! mau mati rupanya."
Di senjakala yang indah. Golok-golok berayun-ayun tak tentu arah. Memamerkan kilatan singkat yang sempat tergores. Diselingi teriakan-teriakan lantang keangkuhan. Debu-debu mengepul di udara bengis. Hingga yang nampak hanya sekelebatan bayangan nafsu manusia yang hampir tuntas.
Di ujung penantian, nampak bayangan seorang gadis yang hatinya cemas dan pilu di atas pasir basah. Sebelum matahari kembali ke peraduan, Mona bergegas menaiki perahu. Ia tak punya waktu lagi. Di matanya selalu terbayang Ki Kusno dan para brewoknya terus membuntuti. Tapi, dimana togal? Apakah ia mengingkari janjinya? Atau…
Tak lama berselang, para brewok berdatangan. Mona mengayuh sekuat tenaga agar mereka semakin jauh. Diantara brewok ada yang mencari perahu di sekitar. Namun, perahu yang ada semuanya sudah bocor. Jelas, ini perbuatan Togal.
Ketika kelam hadir merenggut. Ia beranikan diri memandang pantai yang sebentar lagi disapu malam. Udara terasa begitu menyelaksa. Angin seperti membeku. Mona menggigit bibir rapat-rapat. Terbayang olehnya kampung halaman di seberang laut. Juga wajah orang-orang yang di cintai.
Beberapa menit yang lalu, ia masih berada di tempat itu. Tempat mengukir pahit manisnya kehidupan. Apakah ia sanggup melupakan semuanya? Inilah yang mula-mula memembuat dirinya menyesal. Apalagi ketika sampai di dermaga, ia tidak menemukan Togal. Yang ada hanya perahu kosong dan kecemasan ombak bergulung meninggalkan pantai. Seakan berucap: selamat datang dilautan luas tak bertepi, kecuali dirimu menepi bila waktunya nanti.
Untuk menutupi kegelisahan hatinya, ia selalu membaca surat dari Togal yang ditinggalkan di perahu:
Bila aku tak datang
Berangkatlah duluan
Tunggulah di pulau seberang
Pasti aku datang
Percayalah!
Luk-ghuluk,2010
sudah dipublikasikan di Majalah Muara
edisi ke-32, 2010

Wednesday, February 24, 2010

ANAL HAQQ (Mengungkap Misteri Sufi Besar Mansur Al Hallaj)



Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, penulis patut panjatkan p puja dan puji syukur atas hadirat Ilahi Rabbi, yang telah memberikan taufiq, hidaya, serta inayah-Nya, sehingga penulis mampu atau bisa merampung dan merealisasikan makalah sederhana ini.
Kedua, tak lupa kami haturkan solawat serta salam kepada sang proklamator kita yakni baginda nabi Muhammad SAW yang telah menuntun kita dari yang awalnya ummi, hingga menjadi insan yang peka terhadap tulisan.
Dalam makalah ini penulis mengangkat kajian tokoh yaitu Mansur Al Hallaj, dengan judul makalah “ANA’L HAQQ; Mengungkap Misteri Sufi Besar Mansur Al Hallaj”. Makalah ini mengurai sikap pro dan kontra para ulama’ sufi tentang setatus anal haqq yang terus diteriakkannya. Dalam wacana tentang al hallaj masih mengundang tanda tanya, apakah ia "zindiq" atau kafir.
Dalam dunia tasawuf, para sufi seringkali dianggap sebagai orang shalih yang jiwanya telah mencapai suatu tingkat keruhanian berada di atas orang-orang biasa. Mereka tahu apa yang orang biasa tidak tahu, mereka merasakan apa yang orang biasa tidak merasakannya.
Karena didorong maksud baik untuk berbagi kebahagiaan yang mereka rasakan dalam pengalaman keruhanian atau biasa disebut sebagai pengalaman sufistik, para sufi itu berusaha menjelaskan pengalaman batin yang mereka rasakan, namun. seringkali tak terwadahi oleh kata-kata dan tak terpahami oleh masyarakat biasa. Biasanya para sufi itu menjelaskan banyak sekali menggunakan simbolisme, metafora-metafora.
Oleh karena itu mereka tidak bisa dipahami hanya dari segi zahiriyahnya saja. Maka terjadilah kesalahpahaman yang meresahkan, suatu keadaan yang tak diinginkan oleh para tokoh agama yang diakui dan merasa mempunyai otoritas untuk merumuskan, menafsirkan dan menjaga kemurnian atau ortodoksi ajaran agama.
Kejadian seperti inilah yang dialami antara lain oleh Al Hallaj, salah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah tasawuf. Ia harus mengakhiri hidupnya di atas tiang gantungan dengan pesetujuan khalifah al-muqtadir billah dan gurunya, hazrat junayd .
Ini hanya kisah ringkas dari dari kata Anal Haqq dan sufi Mansur Al Hallaj yang menjadi tumbal dari pernyataan Anal Haqq.
Guluk-Guluk, 30 Mei 2009
Penulis

Fandrik Haris Setia Putra




BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Fenomena dalam dunia tasawuf penuh dengan lika-liku yang terkadang tidak bisa dipandang dengan cara lahiriyah saja. Butuh pemahaman rohaniyah yang memang menjadi subyek akan tercapainya tujuan dalam tasawuf.
Bagi kaum sufi, berkonsentrasi melalui ruhaniyah (Tajribah Ruhiyah) untuk mencapai penyucian hatinya (Tazkiyatun An-Nafs) secara kontinue. Secara praktis, dalam dunia kesufian, revolusi kesufian ini lazim ditempuh melalui pelatiha spiritual yang terformulasikan dalam maqamat ruhiyah. Yakni kedudukan seorang hamba di hadapan allah Swt. yang digapai bermacam-macam, melalui ibadah, mujahadah, riyadlah, serta hanya mempersembahkan jiwa ragasnya hanya kepada allah.
Kisah tentang Al-Hallaj tidak lekang dipendengaran. Seputar issue tentangnya masih banyak didiskusikan, apakan ia kafir dengan ucapannya ataukah itu hanya luapan ruhaninya saja yang sudah merasa “menemukan” tuhan. Sehingga dengan begitu sah-sah saja ia memanifestasikannya melalui ucapan sebab,tidak mampu memendam ma’rifa-tnya kepada allah.
Akan tetapi, konsekuensi dari ucapannya yang dengan lantang mengatakan Anal Haqq mengantarkannya ke tiang gantung dan sampai disanalah akhir dari prjalanan hidupnya.
Bagi sebagian ulama islam, kematian ini dijustifikasi dengan alasan bid'ah, sebab Islam tidak menerima pandangan bahwa seorang manusia bisa bersatu dengan Allah dan karena Kebenaran (Al-Haqq) adalah salah satu nama Allah, maka ini berarti bahwa al-Hallaj menyatakan ketuhanannya sendiri.
Kaum sufi sejaman dengan al-Hallaj juga terkejut oleh pernyataannya, karena mereka yakin bahwa seorang sufi semestinya tidak boleh mengungkapkan segenap pengalaman batiniahnya kepada orang lain. Mereka berpandangan bahwa al-Hallaj tidak mampu menyembunyikan berbagai misteri atau rahasia Ilahi, dan eksekusi atas dirinya adalah akibat dari kemurkaan Allah lantaran ia telah mengungkapkan segenap kerahasiaan tersebut.
Tragis! Begitulah kesan yang nyaris sepenuhnya tepat untuk melukiskan tragedi kematian Abu Mansur al-Hallaj (244-309 H/957-922 M), sang sufi besar yang kontroversial itu. Tubuhnya yang renta diseret, disalib, tangan dan kakinya dipotong, lalu dibakar dan abunya dibuang ke laut.

2. Ruang Lingkup Pembahasan
Makalah ini akan membahas seputar pemikiran Al-Hallaj hingga sampai mengeluarkan kata-kata yang diangggap kafir oleh sebagian ulama’ sufi. Juga membahas tentang jalan pemikiran Al-Hallaj yang menjadi asal-usul dibalik mengucapkan kata yang kontrofersial itu dikalangan pemerintah dan ulama’sufi terkait dengan sikap dan perilakunya dalam bertasawuf.
Pro-kontra tetap menghiasi perdebatan tersebut. Bahkan ada sebagian ulama’ mengkorelasikn ajaran tasawuf Al Hallaj sama dengan tasawufnya Syekh Siti Jenar yang juga mengalami nasib tragis ketika harus menghadapi hukuman mati yang dijatuhkan penguasa Demak, didukung penuh oleh Dewan Agama yang dipimpin wali Songo, karena dianggap telah membuka tabir rahasia ketuhanan dalam dirinya, yaitu manuggaling kawula Gusti. Jika Al Hallaj tewas dipancung kepalanya, Syekh Siti Jenar memilih sendiri cara untuk mati.

3. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan pemahaman sekaligus menghindari kesalahpahaman terhadap makalah yang kami buat, maka kami akan menyusun beberapa rumusan masalah, di antaranya :
a. Seputar pengenalan terhadap al hallaj
b. Menelaah karomah dan pemikiran al hallaj
c. Pengaruh atau sikap para ulama’sufi terhadap ajarannya
d. tentang kebenaran Anal Haqq
4. Batasan Masalah
Kami membatasi makalah kami ini karena kemampuan kami masih kurang mumpuni untuk melakukan penelitian lebih jauh terhadap masalah kajian tasawufnya al hallaj, karena persoalan itu merupakan masalah yang sangat kompleks dan membutuhkan penelitian lebih mendalam.
Di dalam makalah ini kami hanya membahas seputar
- Tentang kehidupan al hallaj
- Beberapa karomah yang dimilikinya
- pemikirannya
- Pandangan Orang Sufi terhadap “Anal Haqq”
- Dibalik Anal Haqq-nya

BAB II
PEMBAHASAN

1. Sekilas Tentang Al-Hallaj
Al- Hallaj merupakan salah seorang sufi besar dan paling terkenal pada abad ke-9 dan ke-10. Ia bahkan sering disebut sebagai sufi paling populer pada masa itu. Popularitas tersebut dikarenakan kehidupan dan pemikirannya yang mengundang kontroversi, pertentangan, bahkan eksekusi yang menimpa terhadap dirinya. Hukuman mati yang dijatuhkan kepadanya merupakan usaha para ulama dan penguasa yang menuduhnya melakukan penghinaan terhadap Tuhan. Ia terkenal karena berkata: "Akulah Kebenaran", ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
Nama lengkapnya adalah Husain ibn Mansur Al-Hallaj , seorang ulama sufi yang kelak berpengaruh dalam peradaban teosofia Islam, sekaligus menjadi watak misterius dalam sejarah Tasawuf Islam. lahir di tengah pergolakan intelektual, filsafat, politik dan peradaban Islam, di kota Thur yang bercorak Arab di kawasan Baidhah, Iran Tenggara, pada tanggal 26 Maret 866 M. Ia merupakan seorang keturuna Persia. Kakeknya adalah seorang penganut Zoroaster dan ayahnya memeluk islam.
Pada usia 16 tahun, ia berada di Tustar belajar tasawuf dengan Abdullah Tustari dan pada usia 18 tahun ia berangkat ke Basrah dan Bagdad. Di Bagdad ia belajar dengan Junaidi al-Bagdadi dan Amru bin Usman al-Makki.
Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Abul Husain an-Nury, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya. Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy. Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.”
Setelah menunaikan ibadah haji ia kembali ke Bagdad dan selanjutnya ia mulai mengembara ke Ahwaz, Hurasan, Turkistan, dan ke India ia mempelajari filsafat Hindu dan Budha dan juga mempelajari mistik dan astronomi. Pada usia 58 tahun ia kembali ke Bagdad dengan membawa ajaran yang mengagetkan para ulama fikih dan ahli tasawuf.

2. Karomah Al-Hallaj
Beliau memiliki begitu banyak karomah semasa hidupnya. Suatu hari Al-Hallaj melewati sebuah gudang kapas dan melihat seonggok buah kapas. Ketika jarinya menunjuk pada onggokan buah kapas itu, biji-bijinya pun terpisah dari serat kapas.Beliau juga dijuluki Hallaj Al Asrar karena mampu membaca pikiran orang dan menjawab pertanyaan mereka sebelum ditanyakan kepadanya.
Saat menunaikan ibadah haji yang ke dua kalinya, al-Hallaj pergi ke sebuah gunung untuk mengasingkan diri bersama beberapa orang pengikutnya. Sesudah makan malam, al-Hallaj mengaakan dia ingin makan manisan. Semua muridnya kebingungan lantaran semua perbekalan telah habis. al-Hallaj tersenyum dan berjalan menembus kegelapan malam. Beberapa menit kemudian al-Hallaj kembali sambil membawa makanan berupa kue-kue hangat yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Al-Hallaj kemudian meminta semua muridnya makan bersama. Seorang murid Al-Hallaj penasaran dan ingin tahu dari mana Al-Hallaj memperoleh makanan tersebut dan menyembunyikan kue bagiannya. Ketika mereka kembali dari dari pengasingan diri, sang murid ini mencari seseorang yang mengetahui asal kue itu. Akhirnya salah seorang warga kota Zabib, sebuah kota yang jauh dari situ mengetahui bahwa kue itu berasala dari kotanya. Sang murid yang keheranan ini pun sadar bahwa al-Hallaj mempeoleh kue itu secara ajaib. "Tak ada seorang pun dan hanya jin saja yang sanggup menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat", katanya.
Pada kesempatan lain, Al-Hallaj mengarungi padang pasir bersama sekelompok orang dalam perjalanan menuju mekkah. Di suatu tempat sahabat-sahabatnya menginginkan buah ara. al-Hallaj pun mengambil senampan penuh buah ara dari udara. Kemudian mereka meminta Hlawa, al-Hallaj membawa senampan penuh halwa hangat dan berlapis gula serta memberikannya kepada mereka. Usai memakannya, mereka mengatakan bahwa kue itu khas suatu daerah di baghdad, irak. Mereka pun bertanya bagaimana al-Hallaj mendapatkannya dari negeri yang amat jauh tersebut. al-Hallaj pun menjawab bahwa baghdad dan padang pasir adalah sama dan tidak ada jarak diantaranya.
Kemudian mereka pun meminta kurma, al-Hallaj sejenak berdiri dan menyuruh mereka untuk menggerakan tubuh mereka seperti sedang menggoyang-goyang pohon kurma. Ketika mereka melakukannya makan kurma-kurma segar pun berjatuhan dari lengan baju mereka.

3. Pemikiran Al-Hallaj
Pemikiran Al-Hallaj berpangkal dari keyakinan bahwa Tuhan dapat ditemukan dalam kalbu masing-masing. Pemikiran tersebut mengantarkannya untuk merumuskan berbagai paham, diantaranya: kesatuan manusia dengan Tuhan (hulul), penciptaan alam melalui cahaya Muhammad (Nur Muhammad), dan kesatuan segala agama (wahdatul adyan). Al Hallaj percaya bahwa Tuhan dapat mengambil tempat (hulul) dalam tubuh manusia yang telah membersihkan sifat kemanusiaannya. Pengalaman ini membuatnya mengeluarkan ucapan Ana Al Haq (Akulah Sang Kebenaran). Pernyataan tersebut menjadi salah satu pokok tuduhan bahwa Al Hallaj telah mengaku sebagai Tuhan.
Pemikiran Al Hallaj merupakan tema unik bagi dunia tasawuf masa itu. Sebagian besar kaum sufi menolak pemikiran tersebut. Namun, pengaruh pemikirannya tetap tak terbendung. Pemikiran-pemikiran serupa lahir kembali di berbagai wilayah di masa selanjutnya. Bahkan, gagasan kesatuan manusia dengan Tuhan dalam paham hulul, juga mempengaruhi dunia tasawuf di Nusantara. Paham manunggaling kawula-gusti, sekaligus pengusungnya (Syekh Siti Jenar), memiliki banyak kemiripan dengan pemikiran dan kehidupan Al Hallaj.

4. Pandangan Orang Sufi terhadap ANAL HAQQ
Memang, banyak di antara ulama yang tidak bisa menerima ajaran tasawuf yang diajarkan oleh Al Hallaj ini, tetapi tidak sedikit pula para ulama yang sependapat dan membelanya.
Kebanyakan Ulama fiqih mengkafirkannya. Dengan alasan bahwasanya mengatakan bahwa diri manusia bersatu dengan Tuhan adalah syirik yang amat besar. Oleh karena itu Ibn At-Taymiyah, Ibn Al-Qayyim, Ibn An-Nadim dan lain-lain berpendapat bahwa hukuman mati yang ditimpakan kepada Al Halaj memang patut diterimanya. Tetapi, ulama-ulama fiqih yang lain seperti Ibnu Syuraih seorang ulama yang sangat terkemuka dari mazhab Malik, memberikan komentar: "Ilmuku tidak mendalam tentang dirinya, karena itu saya tidak bisa berkata apa-apa".
Pembela-pembela Al Hallaj menjernihkan ajarannya dari apa yang dituduhkan orang kepadanya. Syaikh Abdurrahman As-Saqqaf salah seorang Syaikh tarikat Alawiyah, mengatakan bahwa dia sebelumnya menyangka pada diri Al Hallaj ada keretakan karena sikapnya, seperti keretakan pada kaca, tetapi setelah sampai pada maqam Al-Qutbiyyah. Dia melihat bahwa Al Hallaj telah mencapai tingkat bila diandaikan buah dia telah matang.
Al Hujwiri mengatakan, Al Hallaj sepanjang hidupnya memakai jubah ketakwaan, senantiasa menegakkan shalat dan berzikir memuji Tuhan dan puasa terus menerus serta menyampaikan ujaran-ujaran yang tinggi dan bagus tentang tauhid. Tetapi ahli-ahli ilmu kalam menolaknya atas dasar bahwa kata-katanya bernafaskan pantheisme, namun apa yang dituduhkan itu cuma terletak pada ungkapan bukan pada maknanya.
Imam Al Gazali ketika ditanyai bagaimana pendapatnya tentang perkataan "ANAL HAQQ". Beliau menjawab," Perkataan demikian yang keluar dari mulutnya adalah karena sangat cintanya kepada Allah. Apabila cinta sudah demikian mendalamnya, tidak ada lagi rasa berpisah antara diri seseorang dengan seseorang yang dicintainya". Sehingga beliau, Rumi dan Fariduddin Al-Attar memberinya julukan "Syahidul Haq" (seorang syahid yang benar).
Pada hari ketika Al Hallaj akan dieksekusi, para sufi waktu itupun banyak yang berbeda pendapat tentang vonis mati yang dijatuhkan kepadanya. Diantara mereka ada sufi yang bisa memahami perasaan Al Hallaj sebagai seorang sufi. Namun ada juga sufi lain yang berpendapat bahwa Al-Hallaj memang pantas mendapat hukuman itu. Karena Al-Hallaj telah mengumumkan salah satu rahasia kaum sufi.
Asy Syibli berkata,"Aku dan Husein ibn Mansur Al Hallaj adalah sama. Hanya saja ia menampakkan sedang aku menyimpannya. Al Junaid pernah juga berkata kepada Asy Syibli," Kami menata rapi ilmu tasawuf ini, lalu kami simpan di ruang bawah tanah. Sedangkan Al Hallaj datang membawa ilmu tasawuf dan mengemukakan kepada khalayak manusia.
Setidak-tidaknya, bisa dijadikan tiga kelompok besar dari kalangan Ulama, baik fuqaha’ maupun Sufi terhadap pandangan-pandangan Al-Hallaj. Mereka ada yang langsung kontra dan mengkafirkan . ada pula yang secara moderat tidak berkomentar; dan ada yang langsung menerima dan mendukungnya.
Dari kalangan Mutakallimin yang mengkafirkan: Al-Jubba’i, al-Qazwiny, Nashiruddin ath-Thusy dan pengukutnya, Al-Baqillany, Ibnu Kamal, al-Qaaly, Dari kalangan Sufi antara lain, Amr al-Makky dan kalangan Salaf, diantaranya juga para Sufi mutakhir, selain Ahmad ar-Rifai’y dan Abdul Karim al-Jily, keduanya tidak berkomentar.
Mereka yang mendukung pandangan Al-Hallaj, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: At-Tusytary, Al-Amily, Ad-Dilnajawy, Ibnu Maqil, an-Nabulisy, Al-Maqdisy, Al-Yafi’y, Asy-Sya’rany dan Al-Bahtimy. Dari kalangan Mutakallimin, Ibnu Khafif, Al-Ghazaly dan Ar-Razy.Dari kalangan Filosuf pendukungnya adalah Ibnu Thufail. Sedangkan dari kalangan Sufi antara lain as-Suhrawardy al-Maqtul, Ibnu Atha’ As-Sulamy dan Al-Kalabadzy.
Kelompok yang tidak berkomentar, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: Ibnu Bahlul, Ibnu Suraij, Ibnu Hajar dan As-Suyuthy.Dari kalangan Sufi antara lain, Al-Hushry, Al-Hujwiry, Abu Sa’id al-Harawy, Al-Jilany, Al-Baqly, Al-Aththar, Ibnu Araby, Jalaluddin ar-Ruumy, Ahmad Ar-Rifa’y, dan Al-Jiily.

5. Akulah Kebenaran! dan hari-hari terakhir Al Hallaj
Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan Al-Hallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.
Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud . Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.
Ana al-Haq adalah kesimpulan dari konsep realitas yang dibangun Hallaj dari negasi segala yang selain-Nya serta afirmasi Tuhan sebagai satu-satunya kebenaran. Di sini Hallaj sebenarnya telah menerapkan kalimat la ilaha illa Allah (tiada tuhan selain Allah) sepenuhnya dan seutuhnya. Bagi Hallaj, Tuhan adalah realitas absolut yang melahirkan realitas relatif, yaitu semesta dan segala isinya. Proses kelahiran realitas relatif melalui tingkat-tingkat realitas sehingga sampai pada satu titik ujung Nur Muhammad. Karena itu Nabi Muhammad saw adalah inti realitas semesta dengan citra Tuhan, yang disebut Ibnu Arabi sebagai al-mir'ah al-muhammadiyyah (cermin berupa Muhammad).
Sebagai realitas relatif, semesta yang berasal dari Tuhan mengemban citra (shurah) Tuhan dalam dirinya sehingga ia berfungsi sebagai tanda (ayat) Tuhan. Dalam diri manusia, Tuhan meletakkan citranya. Karena itu Ia akan selalu hadir dan "menampakkan diri" (tajalli) ketika manusia mengusahakannya. Hallaj--dalam perjalanan spiritualnya telah sampai pada tingkat merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. "Bila kau tak mengenali-Nya, kenalilah ayat-ayat-Nya. Dan Akulah tanda penampakan-Nya (tajalli). Ana al-Haq, Akulah Kebenaran! Ini karena tak henti-hentinya aku merealisasikan Kebenaran itu," kata Hallaj.
Pernyataan seperti ini didasarkan Hallaj pada pengalaman menyatu (unity experience) dirinya dengan Sang Kebenaran, setelah tidak puas dengan rumusan dan konsep tentang realitas absolut. Ia mengumpamakan dirinya dengan seekor ngengat yang terbang mengitari api. Tapi ia tidak puas dengan cahaya dan panas, sehingga ia masuk membakar diri, menyatu dengan api.
Hallaj sadar, penyatuan sepenuhnya tidak akan pernah tercapai selama dirinya masih terpenjara dalam tubuh yang fisik-material. Maka kematian adalah jalan yang harus dilewati untuk keluar dari penjara itu dan menyatu secara total dengan Tuhan yang sering ia sebut "Kekasih".
kasus itu sebelumnya duajukan pada khalifah muqtadir-billah, ia menolak memberi pesetujuan. kecuali kalau fatwa itu ditandatangani oleh hazrat junayd. fatwa itu kemudian dikirim sampai enam kali pada Junayd. Tapi kembali tanpa tanda tangan. khalifah, untuk yang ketujuh kalinya mngirimkan fatwa itu disertai permintaan khusus agar ia menjawab iya atau tidak. menghadapi hal itu, guru besar itu membuang gabardirnya dan mengenakan jubah keulamaannya. ia menulis pad surat jwabannya;“Menurut hukum syari’at, mansur dapat dijatuhi hukuman mati; tetapi menurut aajaran-ajaran rahasia kebenaran, tuhan adalah maha tahu!”
Ketika hendak dieksekusi, Al-Hallaj dengan tenang berkata, "Tuan-tuan telah menjalankan peraturan yang pantas atas orang-orang yang tuan anggap melanggar undang-undang. Memang, siapa yang dipandang melanggar undang-undang syariat patut dihukum." Kemudian dia mengangkat tangannya kelangit dan berdoa, " Tuhan, maafkan orang-orang tersebut, karena mereka tidak tahu apa yang aku alami."
Menurut para sufi, ketika itu pula terjadi banyak dialog antara para khalayak yang menyaksikan dia digantung. Banyak orang yang ingin bertanya kepada Al-Hallaj, karena itu adalah detik-detik terakhir Al-Hallaj. Salah satunya bertanya: "Apa itu tasawuf? Apa itu sufi?" Lalu kata Al-Hallaj : "Kematian saya sekarang ini adalah tahap paling rendah dalam tasawuf." Orang-orang bertanya, "Kalau begitu tahap apa yang paling tinggi dalam tasawuf ?" Al-Hallaj menjawab, "Engkau tidak akan sanggup mengetahuinya."
Kemudian Al-Hallaj menceritakan saat-saat ketika dia mau digantung, iblis datang menemui dia dan bertanya, "Nasibmu sebetulnya sama dengan aku, engkau berkata, ANA Al-HAQ. Engkau berkata ‘aku’. Aku juga dulu berkata ‘aku’. Aku dan kau sama-sama meng’aku’kan diri masing-masing. Tetapi kenapa yang kau terima adalah anugerah dan ampunan Tuhan, tapi yang aku terima adalah laknat dan kutukan, sehingga aku dikutuk Tuhan selama-lamanya?" Al-Hallaj berkata, "Engkau berkata ‘aku’dan engkau melihat dirimu, sementara ketika aku berkata ‘aku’, aku tidak lagi melihat diriku."
Akhirnya Al-Hallaj dieksekusi, ketika algojo memotong kedua belah kakinya, Al-Hallaj mengusapkan kedua tangannya dan melakukan gerakan seperti wudhu dengan darah di kakinya. Kata dia: "Aku ingin menemui Tuhanku dalam keadaan berwudhu."
Akhirnya kedua tangannya pun dipotong, dia digantung, lehernya ditebas. Selama dua hari mayatnya dibiarkan ditonton orang-orang dialun-alun kota dan pada hari yang ketiga mayatnya dibawa kesungai dan dilemparkan ke dalamnya. Sebelum kematiannya, Al-Hallaj pernah berpesan kepada pembantunya, "Pada hari ketiga setelah aku mati, sungai di Baghdad akan sampai pada satu titik ketika sungai itu merendam kota Baghdad. Jika sampai ini terjadi, masukkanlah jubahku ke sungai tersebut."
Akhirnya, 24 zulkaidah, 309 tahun hijriyah, hukuman mati Al Hallaj dilaksanakan dan tamatlah peran peran lahiriyahnya. diceritakanlah bahwa tetesan darahnya yang jatuh kbumi dan berjulur membentuk huruf-huruf ANAL HAQQ dan menggemakan ANAL HAQQ. Dan ketika gumpalan tanah berdarah mansur itu dibuang ke sugai euphrat, sungsai itu pun kemudian menggemakan ANAL HAQQ.


BAB III
PENUTUP
Dengan penjelasan ini, tudingan kotor kepada sufi yang kadang-kadang dengan mengkonfrontasikannya dengan kehidupan Nabi dan Para Sahabat adalah keliru.
Dalam argumen-argumen yang diajukan misalnya, kita bisa baca bahwa mereka mengatakan, konsep-konsep yang diadopsi oleh para sufi itu tidak ada dalam kehidupan atau ajaran Nabi Saw maupun Para Sahabat sesudahnya. Saya pikir, itulah kesalahpahaman.
Hal itu, karena mereka menganggap bahwa kaum sufi menyatakan kedudukan tertinggi itu adalah seperti al-Hallaj (sesuai asumsi riwayat pertama), atau kondisi yang "mabuk" dan hilang kesadaran diri, tenggelam dalam (manifestasi kebesaran) Allah.
Kontroversi Al-Hallaj, sebenarnya terletak dari sejumlah ungkapan-ungkapannya yang sangat rahasia dan dalam, yang tidak bisa ditangkap secara substansial oleh mereka, khususnya para Fuqaha’ (ahli syariat). Sehingga Al-Hallaj dituduh anti syari’at, lalu ia harus disalib. Padahal tujuan utama Al-Hallaj adalah bicara soal hakikat kehambaan dan Ketuhanan secara lebih transparan.
Terbunuhnya Al Hallaj bukan karena ucapannya tetapi karena politik.Tetapi merupakan kesalahan Al Hallaj yang mengucapkan dan mengajarkan konsep Wahdatul Wujud (Ana Al-Haqq) kepada murid-muridnya. Bahwa hal tersebut adalah ilmu yang sangat pribadi dan hanya dimengerti oleh orang yang menerimanya. Selain itu, Al Haqq merupakan sifat-sifat Allah .
Setelah kematiannya sampai sekarang, berbagai macam sebutan yang diarahkan kepadanya. Ada yang mengatakannya sebagai pahlawan lagenda, ada yang menganggapnya sebagai orang yang memiliki karomah dan keajaiban, ada lagi yang menyatakan sebagai orang yang mabuk cinta kepada Tuhan, tapi ada pula yang menganggapnya seorang dukun gadungan. Wallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA
 Mansur Al-Hallaj. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, http://id.wikipedia.org/wiki/mansural-hallaj
 Penyejuk Iman, http://irdy74.multiply.com/recipes/item/68
 Fenomena Al Hallaj dan Syeh Siti Jenar Dalam Sejarah Tasawuf
 Kang kolis,Pemikiran al-Hallaj dalam Tasawuf Falsafi http://kang-kolis.blogspot.com/2009/01/pemikiran-al-hallaj-dalam-tasawuf.html
 Lesmana, Indra, Husain Bin Manshur Al Hallaj: Kehidupan, Pemikiran, Dan Pengaruhnya Dalam Bidang Tasawuf (858-922 M) http://digilib.upi.edu/pasca/available/etd-0608106-115716/
 Syaikh ibrahim gazur i-illahi, Anal Haqq ; 1996, Srigunting, Divisi Buku Saku, Jakarta; Raja Grafindo Persada
 Majalah Aula, Mencari Teduh Lewat Toriqoh, Edisi XXII April 2000
 Al Hallaj, Akhbaru Al-Hallaj, Paris: Matba’ah Al-Qalam.tt
 K.H Said Aqil Siraj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Bandung: Mizan, September 2006

Nilai Budaya Pancasila Sebagai Paradigma Sosial

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Dalam kehidupan berbangsa bernegara dan bermasyarakat kita berpegang pada ideologi pancasila. Pancasila telah diterima sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Pembudayaan pancasila dalam kehidupan sehari-hari telah digalakkan. Kelemahannya, pengamalan atau pembudayaan pancasila tersebut belum sepenuhnya terwujud. Ini adalah tantangan bagi seluruh bangsa indonesia dan jika ideologi pancasiala tersebut tidak dapat memberikan hidup lebih baik bukan tidak mungkin akan ditinggalkan oleh masyarakat.
Kekuatan bangsa indonesia terletak pada kebhinnekaannya. Bagaikan kumpulan bunga berwarna-warni dalam sebuah taman. Tetapi apabila kebhinnekaan atau kemajemukan itu tidak dapat dibina dengan baik bukannya tidak mungkin menjadi bibit perpecahan.
Kemajemukan di indonesia rawan perpecahan. Sementara sebagai hasil pembangunan yang kita lakukan di era reformasi ini dapat meningkatkan kesejahteraan dan kecerdasan rakyat serta meningkatkan harkat martabat dan jati diri sebagai bangsa indonesia yang tidak lepas dari akar kebudayaannya. Namun demikian, masih banyak kelemahan yang masih perlu diperbaiki diantaranya beerkembangnya primordialisme, korupsi, kolusi, dan nepotisme yang membudaya dan disiplin nasional yang semakin merosot. Kehidupan masyarakat agak cenderung kearah individualistis, materialistis dan makin berkurangnya keteladanan perpijakan pancasila.
Berpijak pada kekuatan dan kelemahan yang kita miliki sebagaimana diutarakan diatas maka perlu adanya pemahaman nilai budaya pancasila sebagai ideologi bangsa, bukan nilai pancasila yang selama ini telah tergeser oleh arus globalisasi. Nilai budaya pancasila adalah kunci dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa indonesia menuju Insan Kamil yang dilandasi oleh iman, takwa dan semangat membuang rasa individualistis.

B. Rumusan masalah
Mangacu pada judul makalah ini”Nilai budaya Pancasila sebagai paradigma Sosial”maka perlu kami memberikan beberapa pertanyaan sebagai bahan dalam merumuskan masalah guna memperoleh arahan dalam pembahasan dalam masalah ini agar nantinnya berakhir dengan kesimpulan-kesimpulan yang munpuni. Adapun beberapa pertanyaannya adala sebagai berikut:
1. Bagaimana memaknai nilai yang sebenarnya
2. Baaimana pula memahami nilai budaya pancasila
3. Apa peran nilai budaya pancasila terhadap manusia
4. Seperti apa hakekat yang sebenarnya


II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Nilai

Nilai atau Value (Bahasa Inggris) termasuk bidang kajian filsafat. Persoalan-persoalan tentang nilai dibahas dan di pelajari salah satu cabang filsafat yaitu filsafat nilai. Filsafat sering juga diartikan sebagai ilmu tentang nilai-nilai. Istilah nilai dalam bidang filsafat dipakai untuk menunjukkan kata benda yang bersifat abstrak yang artinya “kebahagaan” atau “kebaikan” dan kata kerja yang artinya suatu tindakan kejiwaan tertentu dalam menilai atau melakukan penilaian
Menurut Jack Fraenkel nilai adalah suatu ide atau konsep tentang apa yang dipikir penting oleh seseorang dalam hidupnya. Jika seseorang menilai sesuatu, dia menganggapnya berguna (bermanfaat), berharga untuk dimiliki dan berharga untuk untuk dicoba diperoleh.
Sementara itu Milton Rakeah berpendapat bahwa nilai merupakan suatu jenis keyakinan yang letaknya pada pusat dan sistem keyakinan seseorang tentang bagaimana seseorang sepatutnya atau tidak patut dalam melakukan sesuatu atau tentangt apa yang berharga atau tidak berharga untuk dincapai, dikerjakan atau dipercaya.
Robert mz lawang memberikan pengertian nilai dikaitkan dengan prilaku sosial. Ia mengatakan bahwa nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, yang pantas, yang berharga, yang mempengaruhi perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu.
Didalam Dictionary of Sosciology and Relatet Science dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Menilai itu pada hakikiatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada objek,bukan objek itu sendiri.
Dapat dikatakan bahwa nilai itu pada dasarnya merupakan pandangan atau keyakinan seseorang bahwa sesuatu itu berharga, berguna, pantas atau patut untuk dimiliki dan dilakukukan. Sesuatu itu dikatakan bernilai apabila sesuatu itu berharga, berguna, benar, indah, baik, dan lain sebagainya.
Didalam nilai itu sendiri terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-dambaan, dan keharusan. Maka apabila kita berbicara tentang nilai, sebenarnya kita berbicara tentang hal yang ideal, tentang hal yang merupakan cita-cita, harapan, dambaan dan keharusan.
Pancasila sebagaai dasar negara republik indonesia sebelum disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI. Nilai-nilainya telah ada pada bangsa indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum bangsa indonesia mendirikan negara yang berupa nilai-nilai adat-istiadat, kebudayaan serta nilai-nilai religius. Nilai tersebut telah ada dan melekat serta teramalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pandangan hidup, sehingga materi pancasila yang berupa nilai tersebut tidak lain adalah dari bangsa indonesia sendiri, sehingga bangsa indonesia sebagai kausa materialis pancasila.nilai-nilai tersebut kemudian diangkat danj irumuskan secara formal oleh para pendiri negara indonesia untuk dijadikan sebagai dasar filsafat negara indonesia.

B. Nilai budaya Pancasila sebagai paradigma sosial

Nilai pancasila merupakan suatu upaya untuk menjawab persoalan-persoalan yang cukup vital dalam kehidupan manusia. Nilai pancasila merupkan cara manusia menjawab baik secara pribadi atau masyarakat terhadap masalah-msalah yang mendasar dalam hidupnya. Nilai tersebut merupakan suatu sistem yang didalamnya terdiri dari konsep- konsep yang hidup dalam dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat dalam hidup.
Nilai budaya akan mempengaruhi pandangan hidup, sistem normatif moral dan seterusnya hingga akhirnya pengaruh itu sampai pada hasil tindakan manusia. Clyde kluckhohn dan florence kluckhohn membagi 5 masalah mndasar bagi hidup manusia yang menyangkut nilai budaya pancasila.
1. masalah hakekat hidup manusia
2. masalah hakekat karya manusia
3. masalah mengenai kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
4. masalah hakekat hubungan manusia dengan alam sekitarnya
5. masalah hakekat hubungan manusia dengan sesamanya
kelima maalah nendasar tersebut diserti denga orientasi yang memiliki kekhususan tersendiri dari masing-masing poin tersebut. Artinya metode berbagai kebudayaan mengkonsepkan masalah-masalah unuversal tersebut dapat berbeda-beda meskipun kemungkinan untuk berbeda sangat kecil.
Nilai budaya dengan masing-masing cakupannya diatas bisa mempengaruhi pandangan hidup yang dipakai oleh masyarakat dalam menentukan nilai kehidupan. Bagaimana masyarakat memandang aspek hubungan dalam hidup dan kehidupan yakni hubungan manusia dengan yang transenden. Hubungan dengan diri sendiri dan hubungan manusia dengan sesama mahluk yang lain. Dalam bahasa notonagoro dikenal dengan istilah-istilah kedudukan kodrat, susunan kodrat, dan sifat kodrat manusia.
Hal-hal diatas dapat menjelaskan kedudukan pancasila dalam arti bahwa pancasila sebenarnya secara budaya merupakan kristalisasi nilai-nilai yang positif yang digali dari bangsa indonesia sendiri.kelima sila dalam pancasila merupakan serangkaian unsur-unsur tidak boleh terputus satu sama lainnya. Namun terkdang ada pengaruh dari luar yang menyebabkan diskontinuitas antara hasik keputusan tindakan konkret dengan nilai budaya.

C. kesimpulan

Jadi dapat disimpulkan bahwa pancasila memuat nilai-nilai fundamental tentang sosial budaya bangsa indonesia. Oleh karena itu pancasila merupakan dasar, rangka, suasana bagi kehidupan kenegaraan dan tertib hukum negara indonesia sehingga memiliki sifat yang sangat menentukan bagi bangsa dan negara republik indonesia. Sebagai bentuk asas hukum dan hidup kanegaraan republik indonesia.
Dengan demikiam pancasila juga sebagai norma fundamental yang berfungsi sebagai suatu cita-cita moral atau ide yang harus direalisasikan menjadi suatu kenyataan. Maka dalam pelaksanaan hidup sehari-hari bangsa indonesia tidak boleh bertentangan dengan norma agama, susila, kesopanan, dan norma hukum yang berlaku.



DAFTAR PUSTAKA

 Kaelan, Ahmad, Drs. MS, 2004. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma Yogyakarta
 Ruyadi, yadi. Drs. Dkk.1995. Sosiologi 1. Bandung: ganeca exact
 Amin, Ittihad, Zainul, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Universitas terbuka
 Tim fakultas filsafat UGM, 2007. Pendidikan Pancasila. Jakarta: Universitas terbuka
 Nopirin,1999. nilai-nilai pancasila sebagai strategi pengembangan ekonomi indonesia. Internship dosen-dosen pancasila seindonesia, yogyakarta.