Tuesday, August 18, 2009

ROMANTISME 1001 BINTANG


Malam itu, aku bersama Riyanti sepakat akan menghitung banyaknya bintang yang jatuh dari langit. Di malam kasih sayang. Menghitung hingga subuh menjemput matahari.
Banyak orang yang beranggapan bahkan memberi umpatan bahwa hal yang kita jalani adalah pekerjaan orang yang tak waras. Bagi kita? Biasa. Mereka tidak mengerti akan peristiwa jatuhnya 1001 bintang di malam kasih sayang. Memang tidak banyak yang tahu! Tak banyak yang mau tahu.
“Sudah ngantuk? Jangan menguap terus, entar bintangnya jatuh ke mulutmu,” candaku saat melihat Riyanti terlihat ngantuk.
“Sayang, tinggal 547 lagi,” lalu menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Lho! Kok perhitungannya tidak sama.”
“Barapa?”
“454”
“Kok bisa jauh beda? Sih!”
“Aku ngitung yang jatuh, bukan yang belum.”
Aku tertawa. Riyanti justru mencubitku. Oooh…sungguh romatis malam itu. Di bawah pohon pualam, suara tokek bersahutan. Angin berdesir membuat kami semakin erat berpelukan.
Tak banyak yang tahu tentang peristiwa jatuhnya 1001 bintang. Jika diberi tahu, belum tentu percaya. Dan, memang remaja sekarang banyak yang tidak percaya. Mereka lebih memilih hal-hal yang kongkrit, semisal memuaskan cinta di bawah kerlap-kerlip lampu sambil geleng-geleng kepala. Sudah pusing, tiduran dech!.
Peristiwa itu terjadi ketika Dewa Eros, Sang Dewa Cinta dilanda kegelisahan akibat dilema cintanya yang begitu rumit. Akibat dilemma itu, ia membabi buta dan melepaskan semua anak panahnya ke langit. Konon, setiap satu anak panah akan kembali setelah 1001 bintang jatuh.
Malam semakin larut. Kami berusaha tetap bertahan meski pun dingin terus berpetualang. Aku dan Riyanti sudah sepakat untuk melihat peristiwa itu terulang kembali di depam mata.
“Aku ngantuk,” mulut Riyanti terbuka. Segera aku sambut.
“Tinggal berapa?” tanyaku lembut.
“73 lagi. Sudah tidak kuat. Berhenti saja”
“Kau yang begitu ingin melihat panah itu jatuh di atas cinta kita. Dan kau ingin melihat seperti apa kemilaunya,” semoga ucapanku menumbuhkan semangatnya kembali.
“Lihat! Ada yang jatuh lagi. Itu lagi! Itu! Terus… 72. 71. 70. 69. Bertahanlah!”
Riyanti beringsut. Merapikan tempat duduknya dan bersandar kembali di pangkuanku. Akutidak tega melihatnya. Mungkinkah peristiwa itu akan terjadi?
Meski tak akan terjadi, aku sudah merasakan turunnya aroma romantisme Dewa Eros. Malam itu akan menjadi kenangan terindah dalam sejarah cinta kita.
36… 27… 21… Riyanti sudah tidak kuat menahan dinging yang terus mencekam. Menggigil. Bibirnya gemetar seperti gemuruh ombak yang tenang.
17….14….9…. Riyanti sudah memejamkan mata. Terlalu lelah untuk ditahan. tertidur lelap di pangkuanku. Wajahnya begitu merona. Luar dalamnya begitu cantik. Wanita yang tidak kenal dengan yang namanya dugem, miras atau pun narkoba. Ia lebih memilih membaca, menulis atau jalan-jalan dari pada memasuki ruang yang kelam itu. Baginya romantisme adalah ketenangan, bukan menghambur-hamburkan uang. Begitulah yang aku tangkap dari salah satu sisi kehidupannya.
“Riyanti… Riyanti… bangun, tinggal 5 lagi. Harapan kita akan nyata.”
“Begitukah?” suaranya serak, hampir tak terdengar.
“Riyanti bangun, 4 hitungan lagi!”Riyanti beringsut.
”Lihat! Bintang yang ke 999”
“1000. Satu lagi Riyanti! Satu lagi!” Sebentar lagi cintaku akan abadi.
Riyanti tetap berat membuka mata. Ia terus mencoba. “Fan, cahaya apa itu?”
Cahaya? … terang sekali. Aku tak pernah melihat kemilau cahaya seterang itu di malam hari. Bukan… kemilau itu bukan cahaya anak panah Dewa Eros. Itu cahaya matahari pagi.
Aah… Aku terlambat ke sekolah!

Monday, July 27, 2009

MOS dan Anarkisme Pendidikan

oleh:Fandrik HS Putra
Masa Orientasi Siswa atau yang lebih populer dengan istilah MOS adalah masa dimana seluruh siswa baru diperkenalkan dengan lingkungan pendidikan mereka yang baru. Agar proses yang mereka jalani selama menempuh jenjang pendidikan di sekolah terkait tidak kaku.
Momentum itu juga digunakan sebagai pengenalan lebih jauh mengenai seluk-beluk sekolah yang akan mereka tempuh ke depan hingga lulus. Mulai dari tinjauan historis, visi dan misi, kurikulum pendidikan, materi ajar dan lain sebagainya.
Namun MOS yang sejatinya dijadikan ajang pengenalan awal terhadap lingkungan pendidikan baru masih harus dinodai dengan tindak-tanduk kekerasan yang dilakukan panitia penyelenggara MOS itu sendiri. Surat idzin dari kepala sekolah untuk menghukum peserta MOS yang melakukan pelanggaran dijadikan legitimasi sehingga tindak kekerasan tidak bisa dihindari.
Selain itu ancaman-ancaman tidak lulus MOS yang di terorkan oleh panitia jika tidak mematuhi aturan mereka (baca; panitia) menjadi batu sandungan untuk melawan meski tindakan panitia di luar batas kewajaran. Akibatnya, MOS tidak akan berjalan efektif dan efisien. Materi-materi yang diajarkan hanya akan menjadi formalitas belaka sebab psikis mereka down karena dihantu oleh ketakutan.
Studi kasus telah kita simak pada harian jawa pos (edisi, 17 juli 2009) alm Roy Aditya Perkasa, siswa bari SMA Negeri 16 Surabaya, anak mandiri yang jago computer itu harus mengakhiri hidupnya saat menjalani MOS di sekolahnya. Memang, peristiwa itu terjadi di Surabaya. Namun berita kematiannya telah menggegerkan sekolah yang ada di Jawa Timur. Kemudian, apa hubungannya dengan pendidikan yang ada di Madura? Mengapa bisa terjadi kekerasan?
Sebuah koreksi bagi kita. Tak dapat dipungkiri, lembaga yang ada di Madura sering kita jumpai masih menggunakan metode di atas, yakni kekerasan. Kesalahan-kesalahan kecil seringkali dibesar-besarkan dengan alasan jika kesalahan yang sepele dilakukan, bagaimana dengan kesalahan yang besar?.
Yang lebih ironis lagi, panitia sengaja mencari-cari kesalahan peserta MOS untuk dihukum dan diteror tidak lulus. Tak jarang banyak penyimpangan, mulai tugas dari panitia MOS yang terlalu banyak hingga menyebabkan siswa baru terkena hukuman pantia. Bahkan dijadikan ajang balas dendam atas kekesalan panitia yang dahulu juga siswa baru.
Bagaimana menyikapi MOS dengan baik? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk pelajaran awal kepada kepada peserta MOS yang masih ”kosong” pengetahuan. Pertama, panitia memberikan pelayanan fasilitas yang baik agak tercipta suasana pembelajaran yang kondusif. Kedua, panitia atau sekolah terkait lebih selektif dalam memberikan arahan dan materi ajar kepada peserta MOS selama kegiatan itu berlangsung karena MOS adalah cermin belajar-mengajar selama menempuh jenjang pendidikan di sekolah itu.
MOS pada dasarnya memiliki tiga tujuan, yaitu pengenalan, pengakraban, dan sosialisasi. Karena itu, jangan sampai kegiatan MOS keluar dari tujuan awal, apalagi berpotensi mempermalukan dan menakutkan siswa. Perlu adanya kesadaran diri dari panitia MOS sendiri bahwa kegiatan MOS bukan sebagai ajang balas dendam, tapi sebagai pengenalan siswa baru terhadap lingkungan sekolah yang baru juga, agar kekerasan itu tidak jadi warisan turun temurun. Tindakan tegas dari pihak sekolah juga dibutuhkan jika terjadi pelanggaran yang dilakukan panitia, juga pemantauan orang tua siswa terhadap kinerja MOS sendiri sehingga diharapkan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan

Sunday, May 17, 2009

Menyejahterakan Guru Honorer


Film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel inspiratif karya penulis muda Andrea Hirata berhasil menyita perhatian publik. Sejumlah media cetak maupun elektronik mengekpose besar-besaran film yang berlatar belakang pendidikan itu. Belitong dijadikan latar belakang terpinggirkannya pendidikan berhasil menggambarkan potret buram wajah pendidikan di Indonesia.
Ada tiga hal yang dapat kita amati dari film itu, pertama, kurangnya perhatian pemerintah terhadap fasilitas pendidikan, terutama sekolah-sekolah yang ada di pedalaman (desa), sehingga merasa terpinggirkan. Anggaran 20 persen dari pemerintah untuk pendidikan lebih cenderung diorientasikan pada sekolah di perkotaan yang berstatus Negeri (jawa pos, 25 November 2008).
Kedua, mahalnya biaya pendidikan membuat Lintang dkk harus merasakan sekolah yang tidak kondusif; atap bocor, sekolah hampir roboh, dan dinding-dinding berlobang.
Ketiga, perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru honorer (Non-PNS) kurang begitu diperhatikan. Itulah yang melatarbelakangi guru SD Muhammmadiyah banyak yang mengundurkan diri, hingga yang tersisa hanya ibu Muslimah dan pak Harfan, selaku kepala sekolah.
Kurang diperhatikan
Banyak media-media—baik Lokal maupun Nasional—mengekpose potret wajah pendidikan di Indonesia yang masih perlu di benahi dari segala sisi. Seperti yang terjadi di Kediri, catatan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kediri, sedikitnya ada 182 gedung SD, 49 gedung SMP, dan 6 gedung SMA rusak parah. Gedung yang direhabilitasi tahun ini hanya 61 sekolah, disebabkan anggaran yang tersedia terbatas. Beberapa guru yang mengajar diluar bidang keahlian mereka. (Kompas Jatim, 14 Mei 2009) Dan nasib guru honorer yang masih terkatung-katung. Fenomena tersebut menggambarkan betapa rendahnya citra pendidikan kita yang terkikis oleh “materi” sehingga terabaikan.
Menanti nasib
Guru adalah sosok sentral dalam lembaga pendidikan. Kualitas lembaga tidak bisa dipandang dari segi materi; gedung megah, fasilitas lengkap, maupun status sekolah (Negeri atau Swasta). Akan tetapi, out-put (Alumni) lembaga yang akan menjawabnya. Sejauh mana, mereka, setelah lulus, terampil dengan disiplin ilmu yang telah diperoleh selama menempuh jenjang pendidikan.
Kunci utama untuk bisa mewujudkan out-put yang berkualitas adalah tergantung sejauh mana peran seorang guru. Karena ia adalah “kemudi arah pendidikan”. Berkualitas atau tidaknya, tidak lepas dari peran dan fungsi seorang guru dalam melakukan aktivitas pembelajaran.
Namun, pemerintah sampai sekarang masih menganaktirikan antara guru honorer (Non-PNS) atau wiyaya bakti dengan guru Negeri (PNS). Nasib sekitar 922.000 guru honorer di sekolah Negeri atau Swasta masih belum jelas, disebabkan sebagian besar sekolah tidak sanggup menaikkan pendapatan mereka. Sedangkan bantuan dari pemerintah masih terbatas dan tidak merata (Kompas, 14 Mei 2009).
Pada hakikatnya, kedua guru tersebut adalah sama-sama menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Bedanya, hanya nasib dan lokasinya saja; guru PNS beruntung karena sebagian besar mengajar di sekolah Negeri dan kesejahteraanya sudah dijamin oleh pemerintah, sedangkan guru honorer—selain mempunyai tugas mengajar—yang sebagian besar mengajar di sekolah Swasta masih harus mencari kesejahteraan dari pemerintah. Guru Negeri lebih santai mengajar karena mereka sudah dijamin, sedangkan guru honorer harus jatuh bangun mencari jaminannya yang hilang.
Tidak sedikit dari kisah guru honorer yang terlilit hutang sangat banyak, gaji bulanan yang pas-pasan tidak sanggup “mencukupi” kebutuhan keluarga. Bahkan, ada sebagian mereka yang tidak sanggup melanjutkan pendidikan anaknya sendiri sampai ke Perguruan Tinggi (PT). Sangat ironis sekali, seorang guru yang mempunyai tugas mendidik, tidak sanggup mengantarkan pendidikan anaknya sendiri sampai ke PT.
Banyak guru honorer yang berpuluhan tahun mengabdi di sebuah lembaga pendidikan, tetap nasibnya masih tidak diperhitungkan. Tunjangan profesi guru masih tidak merata. Perlu kiranya pemerintah mempertimbangkan kembali sistematika peningkatan tunjangan profesi guru agar bisa merata, sehingga secara ekonomi cukup menjamin keluarga dan pendidikan anaknya sendiri.
Guru sebagai salah satu unsur utama dalam dunia pendikan, kemudi (driver) arah pendidikan guna meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih baik, haruslah ditangani sungguh-sungguh kesejahteraannya mengingat peran guru yang begitu penting. Mereka perlu mendapatkan penghidupan yang layak. Sebab, kemajuan negara berangkat dari genggamannya.
Cukuplah mereka mendapat gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tanpa harus mendapat gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Sejahtera”.

Tuesday, April 21, 2009

Celurit

Cerpen Fandrik Ahmad*

Jika ada seorang yang bertanya tentang apa yang diinginkan dalam hidup ini, jawabnya pasti beragam. Namun, dari keberagaman itu, aku yakin senua akan bermuara pada satu titik simpul; kebahagiaan. Tak kecuali aku. Tapi kita hanya bisa menjalani hidup. Tak punya daya kekuatan untuk mengatur hidup.
Hal itu yang menimpa hidupku, kini. Aku mengimpikan kebahagiaan. Keinginan yang diimpikan banyak orang itu seakan tak pernah berpijak dalam hidupanku.
Awalnya, bermula dari Eppak1 terbaring sakit keras. Ia mengidap penyakit diabetes hinggga bobotnya turun 6 kg. Selama enam bulan ia dirawat di rumah sakit. Sebulan yang lalu Eppak—terpaksa—dipulangkan ke rumah. Keluargaku tak sanggup membiayai segala perawatannya. Hutang keluarga sudah sangat banyak, apalagi bunganya terus bertambah.
Di rumah, aku dan Emak2 harus jatuh bangun menghidupi kesehatannya. Setiap hari aku harus berjalan sejauh 2 km untuk membeli obat. Yang satu biji seharga 7.500, tiap hari harus membeli obat itu sebanyak tiga butir. Keadaan seperti ini membuatku dan Emak seringkali berpuasa. Sebenarnya, aku malu pada Tuhan, puasaku bukan murni lahir dari keikhlasan, melainkan keminiman ekonomi.
Suara itu berbisik membangunkanku. Setiap subuh berkumandang. Aku bisa menebak, itu suara Emak di dapur. Menggunakan lampu teplok3 sebagai penerang kesibukannya. Begitulah, listrik di kampungku tidak ada. Sedangkan minyak tanah masih moncer-mampet. Penduduk kampung harus bersusah payah mendapatkan minyak yang terbilang langka di Negeri yang kaya akan tambang minyak ini. Di tengah pagi buta, ia sudah memulai aktivitasnya.
Lampu teplok meliuk-liuk tertiup angin, membuat bayangannya seperti raksasa. Meliuk-liuk seperti penari. Aku selalu membiasakan diri bangun pagi. Kata Ustadz Syafi’i, guru ngajiku, bangun pagi dan berwudhu’ adalah cara mujarab mengaktifkan indra setelah istirahat, terutama otak. Belajar paling efektif adalah saat kepala belum terisi apa-apa, begitulah kata beliau.
Cekatan sekali tangannya mengolah bahan mentah menjadi jajanan pasar yang menarik. Semenjak Eppak sakit, ia bekerja keras, menjual jajanan beraneka macam. Dibawa ke pasar ketika hari senin dan kamis. Itulah pekerjaannya semenjak Eppak sakit keras.
Sakit Eppak semakin parah dan harus dilarikan kerumah sakit lagi. Aku tidak tega melihat beban yang ditanggung Emak. Kuputuskan untuk berhenti sekolah demi membantunya. Memang, ada rasa iba yang amat sangat ketika harus mengakhiri sekolah hanya sampai kelas 2 MTs. Air mataku muntah, jiwaku merintih. Emak terpaksa harus pinjam uang lagi pada Ki Jarot, tengkulak ikan di kampung kami.
“Utang yang bulan lalu belum dibayar, malah mau ngutang lagi,” bentak Ki Jarot ketika aku dan Emak bertandang kerumahnya. Aku tak bisa melupakan kejadian itu. Dalam perjalanan, mata Emak selalu sembab. Apa yang harus aku lakukan?
Pagi itu, datang Junaedi, tunanganku. Ia membawa selembaran uang. Katanya untuk kebutuhan Eppak di rumah sakit.
“Uang ini hasil jual sepeda dan tabunganku.” Ujarnya singkat.
Aku malu pada keluarga Junaedi. Mereka sering membantu keluargaku. aku tak tahu bagaimana harus membalas budi baiknya. Sebulan yang lalu, seluruh hasil panen jagungnya diberikan untuk biaya Eppak.
Junaedi adalah calon suamiku––tepatnya adalah tunanganku. Aku dijodohkan dengannya sejak kecil4. Aku suka kepribadiannya, seorang anak nelayan yang sederhana.
Selang satu minggu di rumah sakit, Eppak menutup mata, kembali keharibaan-Nya. Kami berduka telah kehilangan sosok sangat bijak yang pernah dimiliki keluarga kami. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Emak menjerit sejadinya membuat aku semakin pilu.
Ia meninggal tidak menyisakan sangkolan5. Seluruh harta keluarga kami terkuras habis untuk biaya perawatannya dulu. Bahkan, kini aku dan Emak harus menanggung utang yang kami pinjam dari Ki Jarot.
“Aku kasihan pada Emak, setiap kali bayar hutang, hanya cukup membayar bunga saja. Bahkan bunga itu belum sepenuhnya terbayar,” aku mengadu pada Junaedi, hanya ia yang bisa mengerti perasaanku.
“Aku tahu, sungguh berat tanggungan keluargamu. Sabarlah, aku akan berusaha membantu melunasinya.”
Sebagai tunangannya aku malu, ia seakan sudah menggantikan sosok Eppak-ku, menanggung segala beban keluarga.
Sore itu, menjadi kisah yang sangat memilukan dalam hidupku. Ki Jarot datang kerumah, menuntut hutang yang sudah lima bulan belum dibayar. Ia memberi jangka satu minggu untuk melunasi seluruh hutang Emak tanpa tersisa. Jika tidak, maka aku harus rela dinikahinya, menjadi istri ke empatnya6. Dengan begitu, semua hutang akan dianggap lunas. Itulah ancaman yang ditawarkan jika sampai keluargaku tidak bisa lunas dalam jangka waktu yang ditetapkan.
“Maafkan aku, Jun! Aku telah menodai cintamu,” air mataku jatuh berurai.
“Maksudmu?” Junaedi tak mengerti.
“Kamu tahu kan, seberapa banyak hutang keluargaku pada Ki Jarot? Beberapa hari yang lalu, ia datang ke rumah menagih hutang itu kembali. Ia memberi jangka waktu seminggu. Jika tidak, aku harus menjadi istri ketiganya."
“Lantas, kamu menuruti kemauannya begitu saja?” Mimik wajahnya tiba-tiba berubah. Seakan tak percaya…
“Emak diseret-seret begitu saja di depan mataku sendiri. Apa aku tega? Tidak! Lebih baik aku menjadi istrinya dari pada melihat Emak diperlakukan sewenang-wenang oleh anak buahnya, tapi bagaimana denganmu?” terasa air mataku mengalir semakin deras di pangkuan Junaedi––tunanganku.
Sejenak, hening tiba-tiba merayap seperti ular. merajai kegalauan kami saat itu. tak ada sepatah katapun yang terucap.
“Sekarang, aku akan ucapkan salam perpisahan padamu. Semoga kau dapat pengganti yang lebih baik dariku. Karena besok, aku akan menikah dengannya.” Sakit sekali meninggalkannya terpaku sendiri menatap deburan kecemasan ombak kecil, melihat air matanya keluar tanpa tumpah. Tatapannya kosong saat langkahku semakin menjauh.
Aku tahu, apa yang harus aku perbuat; menjaga nama baik keluarga, menjaga harga diri, menjaga Emak yang selalu disakiti, dan itu merupakan amanat dari Eppak untuk menjaganya. Hidup memang terlalu liar untuk ditinggalkan dan terlalu jahat untuk dijalani.
Malam yang indah bertabur bintang-gemintang. Melati-melati itu sudah ditabur di halaman, membawa aroma bunga surga. Namun, di kamar aku menangis sendiri menatap diriku di cermin yang sudah berhias melati. Sebentar lagi bunga itu akan layu seumur hidup.
“Sudah siap, Nduk?” Dari cermin, kupandangi wajah Emak yang sedikit keriput. Matanya sembab. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya ketika air mata menghujani gaun pengantinku. Aku jatuh dipelukannya. Kepasrahan adalah jalan terakhirku.
“Ki Jarot, keluar kau!” tiba-tiba ada suara lantang dari luar mengagetkan kami.
Oh…tidak. Bukankah itu suara Junaedi, kekasihku.
Aku melangkah keluar kamar, dan benar! Itu suara Junaedi yang terlihat angkuh dengan memakai celana hitam, kaos putih, dan sarung yang diikat di pingangnya, serta tangan kanannya mengacungkan celurit ke wajah Ki Jarot.
“Hai, bocah, ikan teri, bosan hidup ya?” Di tengah kumpulan para anak buahnya, Ki Jarot berdiri di atas kesombongannya. Aku cemas, semoga saja tak terjadi apa-apa dengan dia.
“Aku ingin membuat perhitungan denganmu, Lintah Darat!” suara kekasihku begitu lantang. Membuat dadaku semakin kalut.
“Apa? Anak bau kencur sepertimu ingin buat perhitungan. Emangnya mau belajar Matematika?” tawanya pecah, lantas diikuti oleh semua anak buahnya.
“Katembheng pote mata, bengo’ pote tolang.7” Sesumbar Junaedi.
Hanya dengan mengangkat kedua tangan Ki Jarot, seluruh anak buahnya telah mengepung Junaedi. Memang, ia didikan alam liar, dan kini telah menunjukkan sifat keliarannya.
Malam itu menjadi persaksian manusia yang disulut emosi. Celurit berayun-ayun tak tentu arah memamerkan kilatan singkat. Diselingi teriakan-teriakan lantang. Melati-melati itu terinjak kaki yang liar, yang nampak hanya sekelebatan bayangan nafsu manusia yang hampir tuntas. Aku menititkkan airmata dan menjerit sejadi-jadinya dipelukan Emak.
“Mati kau, bocah!!!”
“Tidak…!" Teriakku lantang.
Hidupku hancur berkeping-keping saat ujung celurit itu menggores bagian perut kiri Junaedi. Darah pun tumpah. Mereka tak segan-segan membacok inci demi inci kulitnya.
Seperti angin yang membawa kabar duka, seperti itu pula aku terbang mendekatinya. Aku menyentuh luka yang menganga di perutnya, berusaha merapatkan kembali kulit yang usus-ususnya hampir keluar. Aku meraih celurit yang masih lekat genggamannya. Tawaku pecah, aku merasa celurit itu adalah maskawin yang akan diberikan Junaedi bila saatnya nanti. Saat melati itu bermekaran kembali. Segera kukalungkan celurit itu di leherku dan menekannya kuat-kuat.
Lalu, tiba-tiba Junaedi datang kembali dengan senyum merekah. Mengalungkan melati di leherku.
Annuqayah, 2009

Keterangan:
1. Sebutan Ayah bagi orang Madura
2. Sebutan Ibu bagi orang Madura.
3. Lampu yang terbuat dari kaleng bekas dengan bahan bakar minyak tanah
4. Biasanya tradisi di desa selalu menjodohkan anaknya sejak kecil
5. Warisan
6. Kebanyakan juragan di Madura beristri lebih dari satu
7. Dari pada putih mata lebih baik putih tulang
*) cerpenis, tinggal di Madura


Dinobatkan sebagai juara II LKT Cerpen se-Madura
Dalam rangka memperingati Hari Ibu
Yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) STIK Annuqayah

Sunday, April 12, 2009

Bunga Pantura


Datang ke laut pantura akan menghidupkan aku kembali. Pantura seakan Memberiku nafas baru. Meski terasa agak menyesakkan. Saat angan yang aku lemparkan sejauh 500 mil kemasa lalu menembus indahnya bunga pantura bermekaran. Saat itulah aku mememukan dewi bunga pantura. Menemukan kehidupan pantura yang sesungguhnya.
Masih terbayang saat aroma-aroma menebarkan keindahan, saat bunga bermekaran di sana. Yang ketika ditiup angin bagaikan penari di istana dewa erros.
Dalam hati ini masih mengenang bunga itu. Meski sudah pergi bersama saudagar kaya dan para bajak lautnya. Entah, aku tidak tahu kemana perahu itu berlayar. Pastinya keadaan pantura sepeninggalnya tak lagi indah sepeti dulu. Ombak sering mengamuk menuntut bunga pantura untuk segera kembali. Aku juga tidak tahu akankah perjalanan bunga pantura akan terus bersama ombak yang tenang atau disambut gelombang ombak besar. Itulah yang aku cemaskan, wahai bunga pantura!.
Wahai bunga pantura!.tidakkah hatimu tiada resah. Saat kau meninggalkan pantaimu yang seharusnya kau jaga bersama para nelayan. Tidakkah kau mendengar resahan ombak yang menjemputmu atau kau sudah menjadi bidadari dengan harta yang melimpah itu. Sungguh kau tak tahu diri.
Awan diatas pantura kini semakin meresah. Mendung berganti hujan, gerimis datang. Tak begitu deras, tapi cukup membasahi tanah.
Anak-anak nelayan itu tetap bermain bersama ikan-ikan. Tak peduli dengan kondisi pantura yang menangis. .Mereka seakan tak punya rumah untuk bernaung. Tak punya telinga untuk mendengar orang tuannya yang memerintah untuk pulang. Ya! seperti saat kita dulu, yang apabila sudah bercumbu dengan bunga pantura,bermain dengan ikan, dan melangkah bersama ombak, kita lupa pulang.
Dingin merasuk tulang. Angin memberi belaian meresahkan, gerimis semakin menangis. Anak-anak nelayan itu tetap bermain bersama anak ikan. Aku tak melihat sedikitpun kesedihan ataupun ketakutan dimatanya. Tak seperti aku yang berderai air mata menatap alam pantura yang sangat jauh beda dari sebelum kau tingalkan..
Ohhh bunga pantura.
Aku menerawang dua mil lebih jauh lagi. 502 mil menembus resah dan gelisah si bunga pantura.
“Anakku pergilah bersamanya. Pantura akan tetap indah tanpa bunga-bunga itu.”
“Tidak ibu. Aku akan tetap disini. Menghias panturaku”
Ungkapanmu begitu mantap sehingga tiada keraguan dibenakku untuk berpikir kau akan meninggalkan pantai pantura.
“Kau, jangan membantah. Pergi!”
Saat itulah derai matamu mengiringi layunya bunga pantura. Kau terpaksa melawan kehendakmu sendiri. Kau tak bisa membantah kehendak orang tuamu. mata Mereka telah tertutupiu oleh gelinag harta saudagar kaya.
Bentakan ibumu lebih tegar dari pendirianmu, kau pergi juga. Aku tak menyangka kau akan meninggalkan janjimu begitu saja.
Pantura terus diselimuti hujan kegelisahan. Ombak laut semakin menjadi. Hujan semakin deras disertai badai yang mengiring. Angin topan berhembus dahsyat menjungkalkan beberapa pohon kelapa. Tahukah kau apa yang mereka tuntut? Kembalilah.
Annuqayah,2009