Tuesday, February 4, 2014

Andeng Karawung


Cerpen: Fandrik Ahmad
(Suara Merdeka, 2 Pebruari 2014)

Kabar itu tersiar cepat, seperti sambaran petir. Bergemuruh dari telinga ke telinga. Sebagian orang merasa selempangan. Sebagian yang lain menganggap peristiwa itu cuma gejala alam biasa. Kabar yang menjadi silang selisih terjadi pada suatu pagi setelah malam harinya hujan turun dengan sangat deras.

Desas-desus memburai saat puluhan pasang mata tengah menyaksikan retakan tanah yang amblas.  Memanjang hampir dua puluh meter dengan kedalaman hampir semeter. Retakan yang melempang di lereng bukit Karawung. Di kertas patok, tanah yang retak masih menjadi bagian dari sawah Juragan Kawi.

Persepsi pertama didalangi oleh Sumar, cucu dari Ki Sarpomo. Ia meramalkan betapa retakan tersebut sebagai pertanda sesuatu yang buruk segera terjadi. Tak pernah ada hujan sederas itu sebelumnya. Telah keluar dari kedalaman setengah meter itu. Ular. Ya, ular! Ular Karawung.

Dalam cerita yang diwariskan secara turun temurun, termaktub bahwa bukit itu dijaga oleh ular raksasa bersisik keemasan. Kedua matanya merah menyala. Bisanya sangat mematikan. Ular itu menjadi beringas bila ada yang berani mengganggu tempatnya. Bila ekornya dikibaskan, ratalah seluruh bukit. Mulutnya dapat menelan bukit dengan sekejap.

Mereka sepenuhnya percaya betapa peristiwa itu sebagai pertanda akan terjadi sesuatu. Namun tak bercokol di kepala mereka musabab dan pertanda apa yang akan terjadi.

Bukit Karawung adalah bukit bertuah—sebagaimana keyakinan para pendahulu. Bukit yang dianggap banyak memberi berkah; menyuburkan tanah dan memujuri panen berlimpah. Di lereng bukit, ada sumber air yang sangat besar. Sumber yang mampu mengairi tanah berhektar-hektar. Sumber yang mampu mengaliri ratusan tenggorokan. Sumber yang mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari; memasak sampai mencuci. Kemarau tak membuat volume air menjadi surut. Hujan pun tak membuatnya pasang.

Di atas sumber, sebuah pohon beringin berdiri kokoh. Banyak rongga di bagian batang pohonnya. Pangkalnya menganga seperti goa. Bila dilihat dari kejauhan—tak ada yang berani dari dekat—tampak di dalamnya sepasang mata menatap tajam. Mengancam. Sepasang mata yang kerap digambarkan sebagai penunggu pohon beringin.
Rimbun dedaunannya sangat digemari aneka macam burung. Sebuah tempat yang nyaman untuk beristirahat, bertelur atau berkembangbiak, sampai berlindung dari segala ancaman. Akar yang menyumbul dari batang bergelantungan menyentuh permukaan air. Sekumpulan ikan tampak melesat di bawah dedaunan kering yang mengambang. Lumut dan belukar pakis di tepian menyiratkan betapa tempat itu tak pernah ada campur tangan manusia.

Dulu, Ki Sarpomo, seorang dukun yang katanya kebal senjata, mati sia-sia di tempat itu. Tubuhnya menjadi hitam lebam, ditemukan tewas mengenaskan. Menurut keterangan, kematiannya disebabkan karena dukun dekil itu membersihkan sumber dari dedauan beringin yang mengambang.

Sejak saat itu tak ada yang berani mengubah posisi apa pun di sekitar sumber. Mereka cuma berani mengubah posisi selokan sepanjang air hendak dialirkan ke persawahan.

Persepsi kedua dipelopori oleh ‘orang luar’. Mereka menilai retakan tersebut merupakan gejala alam biasa. Pelapukan tanah dan tingginya intensitas curah hujan. Bisa pula pergeseran lempeng bumi—tetapi alasan ini tak begitu sepopuler yang pertama karena tak ada tanda-tanda pergeseran lempeng, seperti gempa.

Soal sepasang mata di pangkal beringin, mereka menganggap hanyalah bias cahaya sumber. Sewaktu-waktu tampak, sewaktu-waktu menghilang.

Oleh karena persepsi yang kedua, pembangunan waduk raksasa di sumber itu terus dilakukan. Tentu, yang mengerjakan adalah orang luar yang dipekerjakan sebagai tukang. Mereka memasang target, sebelum intensitas curah hujan mencapai puncaknya pada awal tahun, pembangunan waduk harus selesai. Nantinya, air waduk akan disalurkan ke empat tandon yang akan membagi rata air ke seluruh kelurahan.

Tak sedikit yang kontra adanya pembangunan itu. Lebih-lebih sumber itu sebagai tempatnya. Tetapi, tak ada yang berkutik atau berani menggugat. Bahkan sebagian warga telah meneken. Menyepakati perjanjian tertulis dengan Pak Lurah.

Orang yang paling tidak setuju adalah Sumar. Lelaki berambut gondrong dan berperawakan kaku yang mengaku mendapat wangsit dari Ki Sarpomo.

“Lihat, begini jadinya jika perkataanku tak didengarkan. Ular Karawung sudah keluar!” tukas Sumar. Geram.

“Kenapa bisa?”

“Sampret! Jelas terusik.” Matanya melongo kepada orang yang disebutnya Sampret.

“Bagaimana? Perjanjian sudah terlanjur diteken,” sambung yang lain.

“Kita batalkan saja.”

“Tidak semudah itu. Bagaimana kalau mereka menuntut ganti rugi?”

“Tutup dengan jual tanah saja.”

“Ngawur!”

Raut muka cemas memang tampak ketika peletakan batu pertama. Namun segala bayang-bayang yang telah bercokol di kepala mereka tidak terwujud nyata. Mereka pun tak keberatan dan tak perlu merasa khawatir kembali. Sampai pada pembangunan waduk hampir rampung, sampai pada retakan tanah, sampai pada tanah yang ambruk, perasaan cemas kembali pula bercokol.

Warga di yang tinggal sekitarnya mendapat bantuan renovasi rumah. Rajuan jerami atau daun lontar berganti bangunan batu bata bersusun rapi. Pada siang hari, anak-anak jarang terlihat mandi dan mengusili ikan-ikan kecil di sepanjang selokan. Jarang pula bermain orang-orangan di sawah. Mereka tidur pulas.

Rumah yang nyaman ditinggali membuat mereka lupa satu hal. Betapa andeng yang kerap menudungi bukit setelah turun hujan tak tampak lagi. Andeng enggan minum dan bidadari tak lagi mandi di sana. Mereka tak merasakan kecuali Sumar seorang. Ketiadaan andeng membuat bukit Karawung tak sekeramat dahulu.

Sebagai keturunan orang pintar, terpanggi hatinya mengembalikan kewibawaan Bukit Karawung. Maka muncullah kabar ular penjaga bukit Karawung keluar dari pertapaan. Menggegerkan rumah warga.

***
Di pos ronda, Sumar sedang berpikir keras. Tubuhnya yang mulai ringkih tak dapat memejamkan mata. Apabila ia tak membuktikan adanya ular raksasa itu, maka kabar yang dikuat-kuatkan akan hilang dengan sendirinya. Bisa saja sebutan si tukang bohong bisa menghampirinya. Sementara warga akan kembali bermalas-malasan.

Sumar terus menekur. Sepasang burung hantu bersitatap. Nyamuk tampak ganas karena malam itu ia seorang di pos ronda. Di pikirannya muncul seorang kawan lama. Seseorang yang ahli menjinakkan ular. Barangkali memang sulit mencari ular besar yang sesuai dengan cerita yang sudah tersebar luas. Namun, sebagai seorang pawang, tak akan sulit baginya mengumpulkan aneka macam ular sebanyak mungkin, batinnya.

***
Hujan turun deras sekali. Petir menyambar dahsyat. Angin bertiup kencang. Di dalam rumah, kepala-kepala menatap cemas ruahan air yang seperti ditumpahkan dari bejana raksasa. Jalan setapak tergenang air. Rumput-rumput terendam. Dedaunan kering terbawa arus. Rerantingan bergoyang-goyang seolah tak kuat menahan tikaman air yang begitu runcing dan bertubi-tubi.

Di balik jendela kaca yang buram, Sumar tersenyum lebar. Ia tampak bahagia menyaksikan hujan yang seperti hendak menenggelamkan bukit. Pembendaharaan kata sudah menumpuk sebagai cerita sehabis hujan; kepada warga yang mengindahkan peringatannya.

Tak lama berselang, Sumar kedatangan seorang tamu. Juragan Kawi. Air mukanya pucat. Kalut dibalut basah.

“Pertanda apa ini, Kang?” tanyanya.

Sumar membalasnya dengan senyum sinis. Ia sungguh menikmati kekalutan yang membalut wajah Juragan Kawi, lelaki pertama yang membubuhkan teken perjanjian.

“Aku tidak tahu. Nikmati saja,” tukasnya.

“Nikmati apa?”

“Kamu dan warga yang lain akan segera tahu setelah hujan reda.”

“Lakukan sesuatu, Kang! Lakukan sesuatu! Apa yang mesti kami lakukan?” Juragan Kawi menggoncang-goncangkan tubuh Sumar. Tak sepatah katapun yang terlontar dari mulutnya, kecuali senyum tipis seadanya.

“Kang?!”

Sumar diam sejenak. Membelakangi muka juragan bertopi koboi itu.

“Pukul kentongan. Kumpulkan warga. Suruh mereka keluar dan lemparkan parang ke halaman,” desisnya.

Seketika Juragan Kawi bergegas melaksanakan perintah. Kentongan di pos ronda dipukulnya keras-keras. Tak cukup dengan itu, rumah warga didatanginya satu-sau. Sementara langkah Sumar bersigegas ke sumber memanggul karung goni. Petir menyambar. Tepat di atas langkah kedua lelaki yang berbeda arah itu.

***
Hujan mereda. Juragan Kawi bersama warga mendatangi Sumar. Mereka ingin bertanya pertanda hujan, petir, angin dan perihal parang yang harus dilempar ke halaman.

Namun mereka hanya mendapati rumah antik berdinding bilik dengan sentuhan cat dari arang baterai. Si empu rumah tak ada.  Orang yang berani masuk hanya Juragan Kawi. Ia mengingat-ingat terakhir kali berpisah dengan Sumar. Jangan-jangan, batinnya.

Di atas waduk, Sumar berdiri tegak. Merentangkan kedua tangan seperti Nabi Musa yang hendak membelah lautan dengan tongkatnya. Wajahnya menegadah ke langit. Tak jelas apa yang dirapalkan.

Seekor ular keluar dari karung goni. Merayap pelan dan mematuk kakinya. Sumar tetap menengadahkan kepalanya seakan tak peduli betapa racun ular tadi sangat cepat mengalir ke seluruh pembuluh darahnya.
Sesampai di waduk, Juragan Kawi sempat melihat Sumar berdiri tegak sebelum akhirnya roboh dan terguling ke tanah. Secepat kilat warga yang mengekor Juragan Kawi panik menyaksikan tubuh Sumar mengejang dan berubah kebiruan.

Salah seorang melongo. Antara percaya dan tidak. Betapa di dalam waduk penuh dengan ular. Tidak ada satu pun warga yang tahu darimana ular itu berasal. Dan bagaimana ular itu tiba-tiba berada di dalam waduk.
Meski matanya sudah terpejam dengan tubuh tak lagi mengejang, Sumar sempat membayangkan waduk raksasa itu dibongkar warga. Dalam tidurnya yang panjang, ia melihat andeng kembali menudungi bukit.*

Jember, 14 Januari 2014

Catatan:
Andeng = pelangi. Mitos masyarakat Madura menggambarkan andeng sebagai seekor ular raksasa yang sedang minum di sebuah sumber yang dianggap keramat. Cerita lain menyebutkan, dimana ada andengdisitu bidadari sedang mandi.

Segara



Cerpen: Fandrik Ahmad

(Tabloid Nova, 27 Januari - 02 Pebruari 2014)


Cobalah kau berdiri di bibir pantai ketika muka langit merona jingga. Lemparkan kemampuan sejauh pandanganmu. Kau akan merasakan seberapa dalam perasaan mereka menggantungkan asa pada segara. Kata Epak menjelang keberangkatanya, suatu ketika.

Cobalah kau berdiri di bibir pantai ketika muka langit merona jingga. Tataplah hamparan kerikil batu karang sepanjang pesisir pantai yang ditinggalkan surutnya sagara. Maka kerikil-kerikil itu akan tampak seperti kilauan mutiara oleh bias basah matahari. Kata Epak sebelum memulai mengajariku cara menebar jala, suatu ketika.

Cobalah kau berdiri di bibir pantai ketika muka langit merona jingga. Maknailah mengapa perahu-perahu tertambat rapi membujur seurut segara. Renungi mengapa rumah-rumah berjejel rapi sehadapan dengan segara. Perahu dan rumah itu seperti tangan-tangan pemiliknya ketika berharap dan bersyukur atas karunia yang telah diberikan oleh Tuhan. Kata Epak pada sebuah perjalanan pulang usai memanen rumput laut, suatu ketika.

Setiap sore, Epak mengajakku menikmati pemandangan segara. Tepatnya karena aku selalu mengantarnya bersama Emak, melepas jangkar menuju pemberangkatan. Setiap kali matahari separuh terbenam, selalu ada rasa takut menyambangi. Namun, Epak selalu menenangkan dengan pelukan hangatnya.

“Biasakan dirimu mengakrabi ombak. Kau harus menaklukkannya saat akan menafkahi anak istrimu nanti,” tukasnya. Sejauh itu, aku harus belajar melepas rasa takut itu. Akan ada sesuatu yang indah setelah matahari terbenam, kata Epak.

Tetua kami, Pakde Zawawi kerap bertembang di gubuk beratap daun lontar yang menyorong ke arah laut, di bawah Cemara Udang, tempat nelayan berbagi cerita sebuah petualangan. Petikan tetembangnya yang sangat kusuka: asapok angin, abental ombek.[1]

Epak tersenyum ketika aku mengatakan nelayan itu pemburu matahari. Apa yang kuucap diakarkan pada mereka yang berangkat pada senjahari dan kembali pada dinihari. Mereka mengejar matahari yang terbenam ke tengah segara. Buktinya, mereka akan kembali setelah matahari kembali ke permukaan. Saat kembali itulah aku seperti melihat mereka menenteng matahari untuk dipersembahkan pada anak istrinya.

“Matahari itu besar. Mana mungkin perahu kecil Epak bisa menampungnya,” senyum lebar sebangganya. “Kalau kau sudah besar, buatkan Epak perahu yang sangat besar.”

“Sebesar perahu Nabi Nuh?” tanyaku.

“Lebih Besar lagi,” tukasnya bergegas.

Akupun melambaikan tangan. Melepas perahu yang tampak semakin mengecil dalam pelayaran.

***
Aku tinggal di sebuah pulau kecil di kabupaten kepulauan yang tidak mungkin ditemukan di peta, meski hanya berupa titik. Pulau Apung. Di sini, tak ada pekerjaan lain selain melaut. Nyenyar ikan sudah tak bisa dibedakan dengan amis keringat. Sebagai anak yang terlahir di pulau ini, aku sudah tahu masa depanku seperti apa.
Pada sebuah malam, suara emak dan Epak terdengar mengeras. Tak biasa. Ada sesuatu yang tak sepaham. Aku tak tahu pasti soal apa yang dibahas. Cuma namaku kerap disebut-sebut.

“Ia harus maju,” kata Epak.

“Alaah, maju apanya. Kalau keluar dari sini, baru bisa maju. Toh, kalau keluar hanya untuk kembali, apanya yang mau maju,” bantah emak.

“Biarkan saja sekalian Dulla tak kembali.”

“Dulla yang maju, aku yang sengsara!” Suara emak serak namun keras. Aku menutup bantal sekuatnya pada kedua kupingku. Namun, suara keras itu dapat menembusnya.

“Dulla akan kembali. Bukan selamanya meninggalkan kita.”

Aku keluar dari pintu belakang. Berlari sekencang anak rusa melewati satu persatu Cemara Udang. Sampai di mana kakiku harus berhenti? Masih belum menemukan satu titik cahaya di mana seharusnya aku berhenti. Sayup-sayup suara saronen[2] menuntun langkahku pada sebuah cahaya teplok di gubuk daun lontar tepi pantai. Pakde Zawawi tengah lebur bersama tetembangnya.

Aku langsung naik. Cemas terus membayangi. Tembang itu berhenti.

“Ada apa kau, Dul?”

“Emak dan Epak bertengkar,” aduku. Pakde menegadahkan mukanya pada langit. Bulan terlihat sempurna.

“Lihat, Dul. Kalau bulan bundar seperti itu, pertengkaran keluarga memang sering terjadi. Apalagi kalau bukan soal uang. Kalau bulan bundar seperti itu, ikan-ikan pada melihat jatuhnya jala di atas mereka sehingga memudahkan untuk kabur,” jelasnya. Tembang itu kembali berbunyi.

Angin terasa keras menampar kulit.

***
Aku kembali. Kembali pada segara. Di dalam kepala, baju putih dan celana pendek berwarna merah yang tak lain adalah seragam sekolah SD, merupakan baju yang kukenakan ketika meninggalkan Epak dan Emak. Bukan tak ada yang lain. Hanya saja, seragam sekolah itu menjadi standrart kepantasan ketimbang baju yang lain: mentereng.

Ternyata sudah berkisar sepuluh tahun pertengkaran itu terjadi. Pertengkaran yang kemudian membuatku harus angkat kaki seperti perahu yang tampak kecil dalam pelayaran. Pertengkaran itu sudah kubayar tuntas. Tinggal membuktikan kalau aku sekarang dapat membuat perahu yang lebih besar dari Pinisi, Dewa Ruci, sampai perahu Nabi Nuh sekalipun.

Inilah kedatangan pertamaku setelah menyelesaikan S1 di bidang kelautan. Tak ada yang berubah. Pohon Cemara Udang, gubuk daun lontar dan ngengat ikan tetap menjadi ciri khasnya. Beberapa nelayan yang masih kukenali seperti sudah menghapusku dari daftar ingatan mereka. Kang Paimin yang anti-sekolah tak mengenaliku kalau bukan aku yang memulai.

Beh, sudah jadi insinyur kamu, Cong?”

“Apa itu insiyur, Kang? Aku tak ngerti.” Candaku.

Lha, itu. Yang pakai dasi dan helm kuning. Yang kerjanya nyuruh-nyuruh orang kerja.” Tuturnya polos. Tawaku lepas. Teringat saat Kang Paimin menggerutu sendiri ketika melihat pembangunan dermaga di pulau seberang.

“Aku tetap anak segara, Kang. Ndak berubah.”

Oalah. Sudah ketemu Emakmu?”

“Belum. Baru tiba.”

“Ya, sudah. Sana. Samperin Emakmu. Kasihan.” Pundakku ditepuknya.

Aku bersigegas. Ransel di pundak terasa ringan saat angin melabrak. Amplop cokelat setebal setengah senti kupegang erat. “Nitip ini. Sampaikan salam saya,” kata pak Prayogi, orang yang pernah ditolong Epak saat insiden jatuhnya pesawat terbang di daerah perairan yang aku tinggali. Butuh waktu tiga hari untuknya bangkit dari ketidaksadaran. Sebagai bentuk balas jasa, Pak Prayogi yang tak punya anak sampai menginjak usia tiga puluh delapan tahun, meminta restu barang sejenak mengambilku sebagai anak asuh. Setidaknya, menyekolahkanku sampai lulus sarjana. Emak tak merestui. Namun, Epak tak sependapat. Bila Emak melihat untuk hari ini, Epak melihat untuk hari esok.

Oh, punggung itu sudah tak tegap lagi. Senja terlalu merah di mata Emak. Ia hampir tak mengenaliku. Tangannya menggerayangi permukaan mukaku. Memastikan kebenaran atas pandangan yang menumpul. Ada bintik rindu di pelupuk matanya. Sementara rinduku sudah berubah menjadi titik-titik air melumasi permukaan tangannya.

“Kang! Dulla datang. Dulla kembali, Kang,” teriaknya. Sembab di matanya mengukir langit. Kuat emak memelukku. Pandangan kupasang ke segala arah. Menanti di mana orang yang dipanggil emak akan muncul. “Masuklah. Kau pasti lelah.” Emak mengikat tanganku kuat-kuat. Sampir lorek dijinjing setinggi lutut sekedar menyegerakan langkahnya menuju lincak.

“Epak di mana?” tanyaku merebahkan tubuh di atas lincak.

“Kau mirip Epakmu.” Emak terus menatapku.

“Epak di mana, Mak?”

“Belum kembali dari pelayarannya. Kalau saja Epakmu menuruti ibu, tentu sekarang masih di sini,” desisnya. Kupikir, air mata yang bertambah deras itu ejawantah rindunya kepadaku. Namun, tafsirku salah.

Bibir emak gemetar mengulang kisah yang sejatinya tak ingin diulangnya sekedar untuk memberi pemahaman betapa sekarang aku sudah tak akan bertemu Epak. Epak menghilang dalam pelayaran. Diterjang ombak besar. Nasib yang paling nahas dibanding empat rekannya. Kang Parjo selamat setelah ditemukan warga esok harinya. Tiga hari kemudian, ombak mengembalikan Kang Sanima dan Kang Malap yang sudah tak bernyawa.

Hari terkumpul menjadi minggu. Beralih pada bulan. Emak dan para nelayan sudah mencari kabar Epak ke mana-mana. Sepanjang bibir pantai sudah dikelilingi. Menitip kabar kepada tetangga di pulau sebelah sudah dilakukan. Sampai mereka menyimpulkan kalau segara belum bersedia mengembalikannya.

Nyengat aroma rumput laut setengah kering, menghadirkan aromah tubuh Epak. Ingatan tentangnya samar, namun sakit di palung hati tak tersamarkan.

***
Aku berdiri di bibir pantai, membawa setungkus kenangan dan sekeranjang kemboja. Angin berdesir. Ombak berpintalan. Para nelayan menenteng jaring dengan segepok harap tanpa tanya. Anak dan istri mengantar mereka menemui segara. Sejatinya, bukan kehendakku menaburkan kemboja ke segara.

“Kenapa harus di laut?”

“Biar segara bersedia mengembalikannya,” Hanya itu jawabannya. Sumbang. Tak memuaskan. Aku bukan tak mau menghormati Epak. Mendoakannya dalam simpul tawassul. Hanya saja, cara semacam ini membuatku terasa aneh melihat yang lain berziarah ke kuburan.

Matahari separuh ditelan laut, saat-saat di mana Epak mengajakku bernyanyi, nenek moyangku seorang pelaut. Buih terus menjilati telapak kaki. Aroma asin dan amis, ah, terlalu menyiksa.  Aku tak bisa melakukannya. Muka langit yang merona jingga menjadi alasan. Terlalu banyak cerita-cerita yang masih belum tersampaikan. Aku beringsut pergi.

“Dulla…” Suara itu terdengar pelan. Barangkali keras, namun kalah keras dengan suara ombak. Aku mencari sumber suara. Tak ada sesiapa.

“Dulla…” Suara itu semakin mengeras. Aku berusaha mencarinya. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Samar-samar seseorang berjalan ke arahku. Paras teduh. Senyum mengembang. Langkahnya ringan terpercik air. Perlahan, senyum itu menampar ingatan. Senyum yang selalu terkembang di bawah gubuk daun lontar.

“Epakmu menitipkan ini?” ia menjulurkan tangannya.

“Saronen?”

“Coba tiup.”

“Aku tak bisa memainkannya,” kilahku.

Pakde Zawawi mengambil alih saronen dan memainkannya. Tembang meliuk-liuk di segara. Betapa asapok angin, abental ombek menyiratkan makna yang sangat dalam. Menyumbulkan senyum yang hilang.[]

Jember, 24 September 2013

Fandrik Ahmad, cerpenis sekaligus jurnalis yang banyak menulis cerita di sejumlah media. Kini bermukim di Jember, Jawa Timur. Telp: 082 331 021 747.


[1] Asapok angin abental ombek (berselimut angin, berbantal ombak), filosofi hidup masyarakat pesisir Madura.

[2] Saronen: alat musik tiup khas Madura.

Wednesday, January 29, 2014

Gandrung


(Cerpen Lan Fang, Jawa Pos, 26 September 2010)

Apakah kau pernah melihat bulan bulat dengan kilap mentega? Itu hanya terjadi setahun sekali. Ketika itu pekat akan menyingkir dari semesta galaksi. Langit bersih seperti baru dicuci oleh hujan. Gelembung-gelembung harum alam merintik dari segenap pori-pori awan.

Konon, dahulu, pada saat bulan bulat sekilap mentega, orang-orang Cina berkumpul di halaman rumah mencecap kue manis berisi biji lotus, kacang hijau, dan gula merah yang manis. Mereka bercengkerama memandang bulan purnama ditemani teh sepat sampai lewat malam.

Hikayatnya, pada suatu waktu, ada seorang putri terkurung di bulan. Namanya Chang Erl. Kekasihnya, Hou Yi, si pemanah ulung yang berhasil memadamkan sembilan matahari dengan anak-anak panahnya. Mereka hanya bisa bertemu sekali dalam setahun, bertemu pada saat bulan paling sempurna untuk rindu yang tidak pernah purna, tidak pernah punah. Orang-orang Cina menyebut saat itu sebagai zhong qiu ye wan. Konon, pada saat itu Chang Erl akan menjatuhkan kembang bulan untuk sepasang sejoli.

“Bulan purnama di pertengahan musim gugur? Kita tidak mengenal musim gugur. Saat ini kita berada pada mangsa labuh, sebuah musim yang terjepit di antara hujan dan kemarau,” gumammu tumpang tindih antara gemerisik dan bisik. Aku tidak bisa membedakannya. Sama saja.

Sebenarnya aku ingin menyanggah kata-katamu. Siapa bilang musim gugur tidak menyapa kita? Tadi aku berjumpa dengannya di sebuah jalan protokol dengan jalur kendaraan dua arah yang selalu sibuk. Pada bagian tengah jalan, lekuk-lekuk pohon meliuk. Mereka menjadi peneduh dari kegarangan sebiji matahari. Pada akar-akar mereka debu-debu mengabu.

Di sana daun-daun gugur. Dari ujung-ujung ranting, mereka melayang dengan pasrah. Mereka berputar-putar sebentar bagai dipermainkan angin lalu terkapar dengan lembut. Seakan-akan mereka tidak berniat untuk melawan. Atau mereka sadar bahwa melawan pun akan percuma?

Ketika itu, lidahku ingin menyeru, “Lihatlah! Angin saja tak tega menghempaskan daun. Kenapa kau begitu kepadaku?”

Tetapi aku terbungkam ketika mereka menyerbu bumi. Beruntun mereka menamparku dengan lembut, tamparan yang tidak mau kuhindari. Kemudian mereka bergerombol, saling menyelip, saling menyelinap, saling menumpuk, saling memenuhi kepalaku. Aku jadi putri dengan mahkota daun, mahkota ringkih yang dipersembahkan sang pedih.

Tetapi, lihatlah…. Aku secantik Chang Erl, bukan?

Tiba-tiba ada laki-laki sekaya saudagar yang menggerutu, “Kau selalu tidak pernah tampil cantik.”

Laki-laki lain yang matanya sekeruh danau berpasir mencibiriku, “Hanya dengan daun, embun, hujan, kau sudah merasa cantik? Hah!” Masih ada laki-laki yang mulutnya dengan murah menyerapahiku, “Kau bukan cantik tapi binal!”

Kemudian saudagar laki-laki itu membawaku kepada seorang perempuan lalu berkata, “Belajarlah tentang kecantikan padanya.”

Sehari-hari, saudagar itu selalu tampak sebaik malaikat. Jadi aku yakin ia pun bermaksud baik padaku. Ia kerap berbisik padaku, berbisik seakan-akan tidak mau dan tidak boleh ada orang lain yang mendengar bisikannya. “Aku ingin mati saja.”

Aku heran, kenapa ia selalu ingin mati padahal seharusnya ia bisa menikmati hidup dengan kekayaannya? Atau karena aku fakir maka aku takut mati?

“Aku capai terbang dengan sebelah sayap,” gumamnya setengah tertawa sekaligus setengah menangis. Sejak itu aku mengerti bahwa ia bukan malaikat melainkan anak burung bersayap sebelah. Dengan letih ia mengayuh sayapnya yang sebelah, sayap kering tanpa bulu-bulu sehalus beludru. Pantas, ia selalu ingin mati.

Perempuan yang diperkenalkannya itu tampaknya juga setulus bidadari. Ia suka sekali menggeliat-geliat untuk mempertontonkan kecantikannya. Matanya selalu berkedip-kedip, lidahnya selalu dijulur-julurkan, kepalanya selalu digoyang-goyangkan, dan wajahnya rata seperti wajan penggorengan martabak.

Si saudagar laki-laki memandang perempuan itu dengan penuh kekaguman. “Lihatlah, betapa cantiknya dia tanpa hidung.” Ia bergairah bagaikan kerbau dicocok hidung. Pasti ia telah membatalkan keinginannya untuk mati.

Lalu perempuan tanpa hidung itu mengajariku cara mempercantik diri. Setiap malam, dengan mahir ia mencopoti hidung-hidung perempuan lain yang sedang bermimpi untuk ditempelkan di mulut, telinga, mata, dan hidungnya sendiri. Ia selalu tampil mempesona dengan wajah yang berhiaskan banyak hidung sampai subuh karena sebelum terang ia sudah harus mengembalikan hidung-hidung yang diambilnya tanpa izin itu.

Sekarang aku tahu kenapa aku selalu bermimpi buruk tentang perempuan tanpa hidung itu. Sebab aku tidak mau memberikan hidungku untuknya sekaligus aku tidak mau mempercantik diri dengan hidung-hidung imitasi.

Kemudian tentang laki-laki bermata pasir. Ia tidak pernah membawaku kepada perempuan lain. Ia kerap mengajakku duduk-duduk saja. Percakapan kami cenderung pembicaraan basi, seperti “kau suka apa?” tetapi ia tidak pernah memberikan apa yang kusukai. Bahkan ia suka melakukan apa yang tidak kusukai. Salah satunya adalah ia suka memegang stopwatch yang berbunyi untuk setiap detik yang telah terlampaui. Ia mirip sekali dengan pelatih atletik yang memacu anak latihnya berlari lebih cepat dari angka stopwatch.

Kesukaan lain yang disukainya adalah cerita tentang perempuan setengah baya yang menempel seperti lintah sehingga ia tidak pernah punya waktu untukku. Ia bercerita tanpa pernah bermaksud memperkenalkan diriku dengan perempuan yang kerap diceritakannya itu. Logikaku mengatakan bahwa ia pun betah menempel pada lintah betina tua itu dengan riang gembira. Karena setiap kali, tepat bersamaan dengan akhir ceritanya, setiap stopwatch berbunyi “tit…tit…tit…”, kulihat matanya mengeruh tetapi aku tidak menemukan pandangan bersalah di sana. Saat kami bertaut pandang ia tersenyum setulus bulus yang sedang berusaha menyenangkan hatiku.

Aku berkata, “Perjumpaan kita seperti pertandingan lari jarak pendek.”

Tetapi tampaknya ia tidak berniat memperpanjang waktu dengan memutar kembali stopwatch. “Maaf, sekarang sudah waktunya aku melayani lintah betina tua itu.” Ia suka sekali mengucapkan kata-kata itu.

Walaupun demikian, aku yakin bahwa ia juga suka padaku sebab laki-laki hanya mau minta maaf kepada perempuan yang disukainya. Jadi, seketika itu, dengan perasaan suka cita, aku menjawab, “Maaf, aku tidak suka dengan maafmu itu.”

Lain lagi dengan laki-laki yang mulutnya begitu murah serapah. Aku tahu betul dari mana ia berbelanja kata-kata sampah. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin belum pernah membinali laki-laki. Oh, kuralat lagi. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin sudah pernah diam-diam membinali laki-laki. Oh, kuralat untuk kesekian kalinya. Ia membelinya dari perempuan terhormat yang mungkin tidak suka membinali laki-laki, mungkin perempuan terhormat itu suka membinali yang lainnya.

Jadi, terus terang kukatakan padanya bahwa aku perempuan yang mungkin tidak terhormat tetapi mungkin cantik dan mungkin suka membinali laki-laki. Tentu saja laki-laki yang sesuai seleraku. Seketika itu juga ia menjual semua koleksi kata-katanya: “Pelacur, sundal, lonte recehan!” Percuma. Aku sama sekali tidak berminat membeli kata-kata itu, apalagi membinali dirinya.

Nah, kau tidak seperti mereka. Kita bertemu pada suatu beranda tanpa lampion. Aku tidak yakin saat itu dalam keadaan gelap karena sumbu lilin cukup terang untuk melihatmu dalam keadaan memejam. Tampak wajahmu begitu tenang dan bersih sehingga aku langsung tergila-gila.

Aku ingat sebuah dongeng tentang Putri Tidur yang tertenung sampai seorang pangeran baik hati membangunkannya dengan ciuman. Aku yakin kau juga sedang dalam kuasa tenung sehingga aku ingin membebaskanmu dengan ciumanku.

Atau kau adalah drakula, Pangeran Kegelapan yang akan bangun pada saat gelap tiba? Bila demikian, aku sudah mempersiapkan sesuatu untukmu, akan kurelakan hidupku tidak untuk hidup dan matiku tidak untuk mati. Aku ingin kau segera membuka mata; melihatku dan mendengarkanku, “Inilah leher kekasihmu, Taring Runcing….” Aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.

Tes!

Lilin yang kupegang lebih dahulu menjatuhkan minyaknya di bibirmu. Aku khawatir bibirmu terkelupas atau melepuh. Ternyata tidak. Bibirmu tetap seindah pualam. Minyak lilin mengental di sudut bibirmu. Pasti bibirmu dingin sekali. Aku kian ingin menghangatinya. Untuk kedua kalinya aku menunduk untuk menyentuhkan bibirku pada bibirmu.

Blep!

Lilinku padam karena desis angin membuatnya tak berdaya. Tetapi keadaan tetap tidak gelap. Ada remah-remah cahaya yang jatuh sehingga aku bisa melihat dengan jelas bibirmu terkuak dengan indah. Lalu dengan ikhlas kusongsong kilaumu yang menancap padaku. Dingin sejenak saja kemudian kurasakan ada yang menetes, bercucuran, mengalir dengan cara yang sangat sepi. Begitu kekal.

Perlahan-lahan kelopak matamu membuka. Aku melihatmu, zahir yang menyihir. “Sssttt, ini aku, Tuan Mimpi. Bungkuslah rapat-rapat setiap pertemuan kita. Jangan sampai ada yang terselip di bulu mata, nanti orang lain menafsirkannya. Berjanjilah, hanya kita yang tahu rindu begitu syahdu.” Aku hanya mampu setia untuk setiap katamu.

Abad pun berganti abad, kunjunganmu kian paripurna. Mimpi bisa terjadi kapan saja. Tetapi aku yakin tidak sedang bermimpi setiap bertemu denganmu. Sebab aku menyimpan dirimu dalam ingatan paling mesra. Segenap ingatan yang bisa kubangunkan setiap saat aku mau.

Kemudian sampailah kita pada mangsa labuh, yang ujarmu kemarau tidak, hujan pun tidak. Pagi-pagi jadi terlukai dan malam-malam jadi terkulai. Nganga dada membuat hari-hari kian berbatu. Kemesraanmu rontok seperti dedaunan yang bergelimpangan sehingga kerinduanku bagai gelandangan tak bertuan. Musim ini ngungun sekali.

“Apakah kau lupa padaku? Ke mana kau tersesat? Mangsa labuh ini hanya sebuah musim yang menjebak!”

“Aku sudah total berubah, tidak dan bukan yang dulu,” jawabanmu persis politisi bertelinga tebal yang tengah meliukkan lidah pada konstituennya.

Bila kau bukan Tuan Mimpi lagi lalu jadi apakah kau sekarang? Apakah jadi gunung, jadi laut, jadi jurang? Aku tidak percaya kau sejahat itu padaku. Kau tidak mungkin berhitam hati dan berputih mata padaku. Aku tetap meratap seperti tidak punya harga diri. Bukankah cinta tidak pernah berhitung dengan harga?

Sambil menangis sejadi-jadinya, aku mengitari jalan demi jalan, jalan yang itu-itu juga; tikungan demi tikungan, tikungan yang itu-itu juga; ceruk demi ceruk, ceruk yang itu-itu juga; tanjakan demi tanjakan, tanjakan yang itu-itu juga; masjid demi masjid, masjid yang itu-itu juga; sampai…

Sampai aku menangisi azan demi azan, azan yang itu-itu juga; harum demi harum, harum yang itu-itu juga; puisi demi puisi, puisi yang itu-itu juga; rindu demi rindu, rindu yang itu-itu juga; mimpi demi mimpi, mimpi yang itu-itu juga; sampai….

Sampai aku tersungkur.

Tidak kuhiraukan ujung-ujung pepohonan yang mendongak pongah padahal sesungguhnya mereka menderita karena terik. Mereka sudah terlalu cerdas untuk menyombongkan diri dari guncangan angin. Seperti itulah diriku yang tidak memedulikan apakah kau mencintaiku atau tidak, apakah kau merindukanku atau tidak, apakah kau mengharapkanku atau tidak. Sebab aku juga sudah terlalu cerdas untuk memanjakan lukaku karena diammu. Kau bahagia bisa membuatku begitu kan?

Aku tidak mendengar apa-apa kecuali semilir angin mengirim gema gumam dari semesta yang menato gendang telinga….

Duh, wong ganteng pepujaning ati. Mung sliramu kang tansah nglelewa. Rina klawan wengi ranane wong lagi gandrung. Among eling sira wong ganteng. Batin ora kuwawa nandang lara wuyung. Enggala paring usada mring wak mami kang lagi ngidam sari uga nandang asmara.

Hoi, sejoli mana yang akan berjodoh malam ini? Pandanganku mengabur. Aku menyesali Hou Yi yang hanya memadamkan sembilan matahari. Kenapa ia membiarkan sebiji matahari itu tetap menyala? ***

Dear: Gani


(Cerpen Lan Fang, Jawa Pos, 1 November 2009)

Hai, sudah lama kita sepi dari sapa. Aku selalu rindu bertukar kata denganmu. Mungkin hanya untuk pertanyaan remeh-temeh seperti, ''Bagaimana senjamu di sana?'' atau sekadar, ''Tahukah kau kalau di sini terang masih saja setia?'' Karena berkabar denganmu sama seperti menyapa kegembiraan.

Aku tahu belakangan ini kau sangat sibuk. Dan, bagi laki-laki, sibuk berarti tidak punya waktu untuk hal-hal yang remeh-temeh. Itu membuatku tahu diri bahwa aku juga termasuk salah satu yang remeh-temeh untukmu. Bahwa aku adalah seseorang yang tidak perlu kau masukkan ke dalam daftar kesibukanmu. Pasti terlalu sederhana untukmu bila harus meladeni pertanyaanku tentang kenapa senja tampak murung. Atau ikut mengamati sampai kapan kesetiaan terang bisa bertahan. Dan, sudah pasti mentraktirku ngopi sambil lesehan di Alun-Alun Sidoarjo (seperti pertama kali kita bertemu) menjadi sesuatu yang amat mahal.

Baiklah, Gani, begini, apakah kau ingat dengan seorang laki-laki yang kau kenalkan padaku ketika terang masih perkasa? Yah, laki-laki seperkasa terang itu! Laki-laki yang meluncur deras dengan langkah seringan angin.

''Tahanlah dia,'' katamu ketika aku hendak menghindar. ''Semoga dia membawa kebaikan untukmu,'' kata-katamu membuatku terharu, Gani. Bukankah kau juga selalu baik padaku?

Maka, ia kutahan seperti menahan tatapannya yang bagai badik membidikku terlalu dalam.

''Namaku Q,'' ujarnya ketika aku bertanya siapa namanya.

Tiba-tiba saja dia membuat dadaku terbelah. Seperti keterbelahan yang kutemukan pada huruf Q. Bukankah Q seperti yin yang? Sebuah keutuhan yang membelah dalam bentuk dan warna. Dua belahan yang berlekuk untuk saling melengkapi lekuk yang lain. Karena dada tidak pernah utuh, bukan? Selalu ada nganga yang harus kita sembunyikan. Dan, kepada belahan yang satulah, kita harus memercayakan nganga itu untuk tertutupi. Lalu, apakah dia adalah belahanku yang satu itu? Aku tidak tahu, Gani. Tetapi, yang kutahu adalah rongga dadaku menjadi begitu longgar. Kerangkanya bergeser dan tak lagi bersekat. Maka, dia begitu mudah menerabas untuk menghuninya.

Gani, bagiku mengenal Q adalah bersentuhan dengan kebahagiaan. Sekali lagi kuulangi, kebahagiaan, Gani! Bukan sekadar kesenangan. Pasti kau tahu bedanya kebahagiaan dan kesenangan, bukan?

Ia seperti Sri Khrisna. Semua yang melekat padanya adalah keindahan. Wajahnya, langkahnya, senyumnya, matanya, kata-katanya, semua merdu dan ayem.

Ia seperti lagu yang tidak perlu nada do re mi fa sol la si do, tetapi mampu meninabobokanku. Ia sehangat cokelat yang kuhirup ketika gerimis tidak terlalu lebat, tetapi sudah cukup membuat tanah basah. Ia secokelat biji-biji kopi yang digerus, tembakau yang dirajang, juga daun-daun kering yang gugur di pengujung kemarau. Daun-daun yang menimpaku sampai mataku berkedip-kedip. Tetapi, aku tidak ingin menghindarinya. Mataku tidak pernah tuntas memandangnya. Karena debar terlalu berkuasa. Sehingga, setiap kali pandanganku selalu jatuh pada dinding, meja, dan lantai. Aku malu bila sampai terjatuh di dalam tatapannya. Di sana aku cuma menjadi penikmat getar yang dihantarkannya. Bisakah kau bayangkan itu, Gani?

Q adalah mimpi yang tidak pernah kumimpikan sebelumnya. Ia selalu memenuhi apa yang kuinginkan. Ia cukup bermantra ''sim sala bim'' maka hanya dalam dua detik, aku sudah menjadi putri dengan kemanjaan yang berkelimpahan. Bila aku ingin dia elang, maka dia elang yang kokoh tetapi cakar-cakarnya tidak mencengkeram. Bila aku ingin dia langit, maka dia langit yang teduh. Bila aku ingin dia tembang, maka dia geguritan yang mengharumkanku dengan ratusan wangi ratus. Bila aku ingin dia kisah, maka dia sediakan canting agar aku bisa menulis helai-helai malam. Maka, bila ini mimpi, aku tidak mau bangun, Gani.

Kami adalah sehati yang mendiami dua dada. Satu hati yang saling mengirim dan menerima getar dari semesta. Aku menyesal pernah mengabaikan getar itu. Bahkan ketika getar menjadi debar yang terasa nyut nyut nyut tetap saja kuanggap sebagai entah yang kupertuankan. Sampai ketika getar itu menjelma menjadi telur semesta yang berbisik dalam desis aneh, ''sssttt... ini aku...'', aku baru memercayainya sebagai tuanku yang bersuara tanpa bunyi. Maka, sekarang dengan setia kuerami rasa itu.

Tetapi, tiba-tiba ada perang yang membuat mimpiku retak!

Dengarlah, perang itu hiruk-pikuk seperti gemuruh Kurusetra. Di mana-mana ada suara yang memekakkan seperti jerit sangkakala. Prajurit-prajurit kecil harus bertempur melawan dengan gajah dan kuda. Hujan lembing dan panah menjadi badai yang menderu-deru. Riuhnya membuat katup-katup jantungku merenggang. Rasa yang kuerami itu tidak aman lagi bersembunyi di sana.

Di sana aku melihat Q seperti Hector, seperti Achilles, seperti Musashi. Dia bertarung tanpa pedang, tanpa samurai. Tetapi harus terus menebas. Lalu, tampaklah dia terkepung segerombolan orang yang berbicara dengan bahasa dari pulau-pulau tersembunyi. Orang-orang dengan bahasa yang tak kumengerti. Bahasa yang menggoreskan sayatan seperti irisan pedang dan samurai. Tidak berdarah, tetapi melukai. Dan kuratapi lukanya seperti tercucur cuka.

Perang itu seperti mata pisau yang membuat puisiku mati kata. Puisiku menderita sekali di sana. Takdir memakunya sehingga tidak bisa bergeser. Ah, tepatnya, puisiku tidak mau menggeserkan diri. Karena pada wajahnya, langkahnya, senyumnya, matanya, kata-katanya, pada Q tertancap sekujur puisi.

''Perang adalah sekumpulan manusia berkartu dua. Durna yang bisa menjelma menjadi Rahwana!'' Begitulah, kuserapahi perang. Aku terbakar kemarahan sendiri.

''Begitu bengiskah kau menilai Durna? Tahukah kau bila Durna seorang resi terkemuka? Durna semulia Bisma. Ia tidak membela Kurawa. Yang dibelanya adalah Hastinapura,'' Q menegurku dengan lemah lembut. Yah, Q selalu bicara dengan nada rendah yang lemah lembut padaku. Ia selalu menegurku dengan rasa. Karena itu pula, aku tidak pernah mampu membantahnya.

Tetapi, aku tidak kenal Kurawa atau Pandawa. Mereka semua petinggi-petinggi yang berebut Hastinapura. Sedangkan, tahta Hastinapura itu bukan apa-apa untukku. Aku cuma mencari Q. Aku cuma ingin Q. Sederhana saja, bukan?

Dan bila berbicara tentang Bisma, bisa saja kumengerti bila hidup dan matinya hanya untuk Hastinapura. Karena ialah sebenarnya pemilik takhta Hastinapura yang bersupata tidak akan jatuh cinta.

Tetapi, bagaimana dengan Durna? Ia resi, ia begawan, ia guru yang begitu dihormati Pandawa dan Kurawa. Ia yang mendidik anak-anak raja itu memanah, berkuda, bergulat, bertombak, bergada, sampai menjadi para satria terkemuka. Suaranya dipatuhi Pandawa dan Kurawa. Kupikir bila ia mencintai Hastinapura, tidak seharusnya ia biarkan Bharatayudha meluluhlantakkan negara yang dibelanya, bukan?

Oh, Gani, dalam mimpiku, kulihat Q adalah Ekalaya. Dia memuja Durna sebagai sang mahaguru. Tetapi, dia tidak bisa berguru padanya karena hanya seorang satria biasa dari kaum pemburu. Dia bukan anak raja. Juga bukan putra dewa. Lalu, bagaimana caranya agar bisa menjadi murid Durna? Maka, ia mengintip ketika Durna mengajar Arjuna. Kemudian, membuat arca Durna yang diakuinya sebagai guru. Sampai Arjuna memergokinya dan menantangnya bertanding panah. Maka, dua busur sama-sama direntang. Dua anak panah sama-sama melesat. Panah Arjuna memang tidak pernah luput dari sasaran. Tetapi, panah Ekalaya membelah panah Arjuna! (bukankah Q memang keterbelahan?)

Durna terkejut. Ia tidak menyangka ada satria lain yang bisa mengalahkan murid kesayangannya, Arjuna. Kemudian, ia menanyakan siapa guru Ekalaya? Dan ia mengatakan bahwa gurunya adalah Resi Durna.

Tahukah kau apa yang terjadi setelah itu, Gani?

Durna meminta Ekalaya melakukan dakshina. ''Bila kau menganggapku guru, maka potonglah ibu jari kananmu,'' pinta Durna pada Ekalaya sebagai bukti bakti dan patuhnya.

Ekalaya pun memotong ibu jari kanannya untuk dipersembahkan kepada gurunya. Walaupun ia tahu bahwa dengan pengorbanannya itu, ia tidak bisa lagi memanah dengan baik. ''Inilah bakti dan patuhku,'' ujarnya tanpa menyesali ibu jari kanannya yang hilang. Maka, tidak ada lagi satria panah yang bisa mengalahkan Arjuna.

Oh, Gani... Apakah seorang guru boleh memenangkan muridnya yang satu dengan menyakiti muridnya yang lain?

Pasti sakit. Tetapi, Ekalaya tidak menangisi panah dan meratapi busurnya. Justru aku yang menangisi dan meratapi Q. Aku menyesali jarinya yang terluka. Sakitnya itu air mataku, Gani!

Aku begitu pilu ketika menyadari ternyata sehati belum tentu berarti sepikiran. Gani, apakah sehati saja sudah cukup kuat untuk mengikat dua perasaan? Jawablah...

Mungkin kau keheranan dan akan bertanya padaku, ''Kenapa kau sekarang begitu cengeng?''

Sudah tentu aku menjadi cengeng ketika debar berubah menjadi ketir-ketir yang setiap saat menalu. Bukankah artinya aku harus mulai mempersiapkan hati untuk menerima rasa sakit dari pikiran yang berselipan? Padahal, bukankah hati kami satu rasa?

Aku ingat, kau selalu mengatakan bahwa aku selalu berbicara dengan hati. Padahal, hati tidak pernah dipakai oleh para samurai. Yang ada pada diri petarung adalah terus bertarung atau terpancung. Yang ada pada diri samurai hanyalah menebas atau ditebas. Yang ada pada Q adalah hari-hari berangin yang tidak tahu apakah langit akan teduh atau badai.

Lalu, apa yang ada padaku?

Aku selalu mengatakan pada Q bahwa yang ada padaku adalah mimpi. Memimpikannya tentu saja. Memimpikannya sebagai pangeran berkuda yang membawaku pergi dari perang itu. Pergi ke surga kecil yang kutemukan tanpa sengaja di pedalaman Bojonegoro.

Di sana ada sendang yang dikelilingi hutan bambu. Ketika angin bernapas, batang-batangnya saling bergesekan dan daun-daunnya saling berciuman. Angin juga menggugurkan sebagian dari mereka ke permukaan sendang. Mereka terapung-apung di sana, berpayung cabang pohon-pohon besar yang diselimuti humus dan lumut.

Lalu, rumah bambu itu tidak berdinding sehingga udara bebas lalu lalang. Sebebas kebahagiaan yang menerobos ke dalam hatiku. Dan lantainya dari besek bambu, atapnya dari daun dan pelepah kering yang dijalin satu dengan yang lain dengan tali tambang. Aku menghirup harum yang luar biasa ketika berada di dalamnya. Harum dari partikel udara yang menguap dari sela-sela daun dan pelepah itu. Aku tidak mau kehilangan kesempatan itu. Diam-diam kucuri harum itu. Kuselipkan ke dalam ingatanku.

''Di sana Eden, di sana Firdaus!'' kukatakan dengan menggebu. Karena tempat yang semula hanya bisa kutemukan di dalam kitab tiba-tiba saja tercipta. Kupikir, di tempat itu kehidupan akan berjalan abadi. Karena tidak ada perang di sana. Dan di sana terlalu indah untuk berkisah tentang Durna dan Rahwana. Sehingga, senja tidak akan pernah murung dan terang akan selalu setia. Tidak seperti neraka kecil yang pernah kujumpai di sebuah gedung tua di Jember. Tempat yang membuatku mengerti bahwa neraka tidak selalu panas api.

Bahkan, di dalam rumah bambu itu kutemukan banyak buku. Bukan buku baru seperti di toko buku. Tetapi, buku-buku yang halamannya sudah menguning dan lusuh. Dan, ketika kubuka, puisi berjatuhan dari lembar-lembarnya, bertebaran di atas lantai. Puisi itu tampak berkilauan seperti permata yang bergelantungan di ujung-ujung atap rumah bambu. Puisi yang selalu membuatku teringat bahwa ia adalah puisi.

Dan, seperti biasa ia tertawa mendengar kata-kataku (ia selalu tertawa padaku, Gani). Katanya, ''Iya, semoga saja aku selalu puisi untukmu. Kita adalah puisi yang sehati dan sepikiran,'' begitulah Q padaku. Ia adalah pengharapan indah yang memberikan kebahagiaan tak berkesudahan.

Maukah kau juga mengamininya, Gani? ***

Thursday, January 23, 2014

Tenggelamnya Kapal Bang Van der Rijck (Fandrik)


Pada hari ketiga di tahun 2014, seorang teman asal Surabaya, Ricardo Marbun namanya, men-tag saya di status fb-nya—diantara temannya yang lain: Sahid Salahuddin, Palris Jaya, Lonyenk Rap, dan Mashdar Zainal.

Tulisnya begini: kalian hobi nontong film, tidak? Kalaupun tidak, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck wajib ditonton! Percayalah, fokus tentang kapal tenggelam sama sekali tidak ada. Slide kapal hanya muncul 15 menit di akhir cerita. Kekuatan narasi, dialog, pribahasa, kiasan, semua itu ada dalam film luar biasa ini. Aku menontonnya tadi malam dan bioskop penuhhhh. Penonton bioskop berurai air mata menonton film ini. Bapak Hamka luar biasa. Begitulah promo gratis yang diunggahnya pada tanggal 3 Januari 2014, sekitar pukul sepuluh pagi.  

Penilaian teman saya, betapa percakapan dalam film yang dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahadian tersebut sangat mewakili ke-booming-an versi novelnya, terutama dari aspek kesusastraan. Saya menjawab bahwa saya hanya menamatkan versi novel, sementara versi film masih saya buru—selain film ‘kontroversi’ Soekarno.

Kendati saya masih belum menonton, benak saya seakan sudah membenarkan penilaian teman saya terhadap film itu—dari sudut pandang yang berbeda. Reza Rahadian adalah kunci dari pengaminan penilaian teman saya. Ya, Reza Rahadian adalah aktor yang saya gandrungi di dunia perfilman Indonesia.

Selain dari itu, film persembahan Ram Soraya tersebut mengingatkan saya pada suatu kenangan antara saya dan seorang perempuan, yang tak mungkin lagi kenangan itu dapat berlanjut karena perempuan yang dimaksud, hari ini ikatan statusnya dengan saya sudah berbeda saat kenangan itu diciptakan. Kendati tak menutup kemingkinan dapat tercipta, barangkali akan ada kesan lain dalam proses penciptaan kenangan tersebut.

Saya mendapat novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ketika saya menginjak usia ke-22 tahun. Novel tersebut merupakan hadiah ulang tahun saya, yang jatuh pada tanggal 29 Juli 2012, dari Bunga (sebut saja begitu), perempuan yang saya ‘istimewa’-kan kala itu. Sunset dan debur ombak di Pantai Camplong, Sampang, Madura, menjadi saksi bisu kebahagian saya memeroleh hadiah novel tesebut.

Novel itu menjadi hadiah saya yang teristimewa (lebay kali ye…. hehe). keinginan kuat untuk memiliki novel tersebut serta sosok sang pemberi hadiah barangkali menjadi alasan kuat mengapa saya sebut sebagai hadiah teristimewa. Sejak keranjingan menulis, novel itu memang menjadi salah satu buruan saya diantara buku sastra yang lain seperti Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Burung-Burung Manyar (YB Mangunwijaya), tetraloginya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dan yang lebih dahulu saya dapatkan.

Saya tak menyangka Bunga dapat menghadiahi saya novel tersebut. Ia tak memiliki latarbelakang menulis seperti saya, membacapun sepertinya tidak. Ia hanya seorang karyawati di sebuah bank harian, ditempatkan di KCP Sampang sebelum hari ini dipindahtugaskan di Surabaya. Ah, barangkali untuk poin ini memang kurang penting; siapapun akan berusaha untuk mendapatkan sesuatu untuk kebahagiaan orang yang dicintai kendati sesuatu itu jauh dari dunianya. Jadi, wajar adanya.

Di lembaran pertama setelah cover, ada tulisan merah: 9 Agustus 2012 ‘Bie-Bie’. Kala itu, Bunga tak memberikan hadiah tersebut tepat pada hari ulang tahun saya tersebab pekerjaan. Sementara Bie-Bie adalah sebutan khususnya untuk saya.

Sayang, dua bulan setelah itu bahtera kapal Van der Rijck (baca: Fandrik) tenggelam untuk selamanya. Hanya kenangannya yang kadang mencuat ke permukaan. Seperti hari ini.
Jember, 3 Januari 2014