Thursday, January 23, 2014

Tenggelamnya Kapal Bang Van der Rijck (Fandrik)


Pada hari ketiga di tahun 2014, seorang teman asal Surabaya, Ricardo Marbun namanya, men-tag saya di status fb-nya—diantara temannya yang lain: Sahid Salahuddin, Palris Jaya, Lonyenk Rap, dan Mashdar Zainal.

Tulisnya begini: kalian hobi nontong film, tidak? Kalaupun tidak, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck wajib ditonton! Percayalah, fokus tentang kapal tenggelam sama sekali tidak ada. Slide kapal hanya muncul 15 menit di akhir cerita. Kekuatan narasi, dialog, pribahasa, kiasan, semua itu ada dalam film luar biasa ini. Aku menontonnya tadi malam dan bioskop penuhhhh. Penonton bioskop berurai air mata menonton film ini. Bapak Hamka luar biasa. Begitulah promo gratis yang diunggahnya pada tanggal 3 Januari 2014, sekitar pukul sepuluh pagi.  

Penilaian teman saya, betapa percakapan dalam film yang dibintangi oleh Herjunot Ali, Pevita Pearce, dan Reza Rahadian tersebut sangat mewakili ke-booming-an versi novelnya, terutama dari aspek kesusastraan. Saya menjawab bahwa saya hanya menamatkan versi novel, sementara versi film masih saya buru—selain film ‘kontroversi’ Soekarno.

Kendati saya masih belum menonton, benak saya seakan sudah membenarkan penilaian teman saya terhadap film itu—dari sudut pandang yang berbeda. Reza Rahadian adalah kunci dari pengaminan penilaian teman saya. Ya, Reza Rahadian adalah aktor yang saya gandrungi di dunia perfilman Indonesia.

Selain dari itu, film persembahan Ram Soraya tersebut mengingatkan saya pada suatu kenangan antara saya dan seorang perempuan, yang tak mungkin lagi kenangan itu dapat berlanjut karena perempuan yang dimaksud, hari ini ikatan statusnya dengan saya sudah berbeda saat kenangan itu diciptakan. Kendati tak menutup kemingkinan dapat tercipta, barangkali akan ada kesan lain dalam proses penciptaan kenangan tersebut.

Saya mendapat novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ketika saya menginjak usia ke-22 tahun. Novel tersebut merupakan hadiah ulang tahun saya, yang jatuh pada tanggal 29 Juli 2012, dari Bunga (sebut saja begitu), perempuan yang saya ‘istimewa’-kan kala itu. Sunset dan debur ombak di Pantai Camplong, Sampang, Madura, menjadi saksi bisu kebahagian saya memeroleh hadiah novel tesebut.

Novel itu menjadi hadiah saya yang teristimewa (lebay kali ye…. hehe). keinginan kuat untuk memiliki novel tersebut serta sosok sang pemberi hadiah barangkali menjadi alasan kuat mengapa saya sebut sebagai hadiah teristimewa. Sejak keranjingan menulis, novel itu memang menjadi salah satu buruan saya diantara buku sastra yang lain seperti Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), Burung-Burung Manyar (YB Mangunwijaya), tetraloginya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) dan yang lebih dahulu saya dapatkan.

Saya tak menyangka Bunga dapat menghadiahi saya novel tersebut. Ia tak memiliki latarbelakang menulis seperti saya, membacapun sepertinya tidak. Ia hanya seorang karyawati di sebuah bank harian, ditempatkan di KCP Sampang sebelum hari ini dipindahtugaskan di Surabaya. Ah, barangkali untuk poin ini memang kurang penting; siapapun akan berusaha untuk mendapatkan sesuatu untuk kebahagiaan orang yang dicintai kendati sesuatu itu jauh dari dunianya. Jadi, wajar adanya.

Di lembaran pertama setelah cover, ada tulisan merah: 9 Agustus 2012 ‘Bie-Bie’. Kala itu, Bunga tak memberikan hadiah tersebut tepat pada hari ulang tahun saya tersebab pekerjaan. Sementara Bie-Bie adalah sebutan khususnya untuk saya.

Sayang, dua bulan setelah itu bahtera kapal Van der Rijck (baca: Fandrik) tenggelam untuk selamanya. Hanya kenangannya yang kadang mencuat ke permukaan. Seperti hari ini.
Jember, 3 Januari 2014


Monday, January 20, 2014

Oleh-oleh


(Femina, 21-27 Desember 2013)

 Kereta berhenti di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Injakan terasa lecet setelah kresek hitam di bawah kursi tersangkut gerigi sol sandal dan terdorong ke depan. Isinya tumpah. Kontan perutku diulek. Sial. Aku bersigegas ke toilet. Membasuh kaki, mencuci tangan dan mengusap muka untuk menambah kesan segar.

Ia sudah di situ sekembali dari toilet. Perempuan berhijab dengan beban tas gendong—gaya anak kampusan—di pangkunya. Ia duduk di dekat jendela yang semula ditempati lelaki tua pensiunan guru PNS yang kini duduk di sampingnya. Pandang sempat beradu sebelum kuucap ‘permisi’ kepada keduanya. Kini, aku duduk sehadapan, bukan dengan lelaki tua itu.

Aku duduk di deretan 3 kursi: B10, B11, dan B12. Sebagaimana petunjuk di karcis, B11 adalah kursiku. Namun, karena B10 dan B12 masih kosong membuatku leluasa memosisikan diri. Kursi itu sehadapan dengan kursi D13, D14, dan D15 yang sudah ditempati lelaki pensiunan dan perempuan itu. Sempat terbesit kenapa kursi yang sehadapan nomornya berbeda. Pertanyaan itu terjawab oleh posisi toilet tadi—iseng-iseng kuperhatikan deretan nomor kursi.

Ia memakai jaket keabu-abuan. Rapat matanya sekilas tampak orang China. Bulu matanya lentik tanpa maskara. Satu pokok membuat mataku menikmatinya: hijab biru langit yang menudungi kepala dengan setelan sederhana. Anggun dan teduh kendati kutaksir usianya sudah tiga puluh tahunan. Barangkali karena perjalanan ini aku menikmatinya. Perjalanan pulang yang mengingatkan pada ruas-ruas kenangan di kampung halaman.

“Mau ke mana?” Tanya pak Sajah, lelaki pensiunan itu.

“Jombang, Pak. Jenengan?”

“Ini, Madiun.” Tanda peringatan kereta segera berangkat berbunyi. “Tasnya berat, ya? Ditaruh di atas saja. Sini saya bantu,” tambahnya.

“Biar begini saja, Pak. Terima kasih.”

Kereta ekonomi berjalan kembali. Derunya meraung-raung...

“Kalau ada barang berharga jangan ditaruh di tas biar tidak ribet.” 

“Ah, isinya cuma pakaian, Pak.”

Percakapan semakin tersamarkan oleh deru roda kereta, pengasong, dan percakapan remaja di kursi sebelah yang tawanya kerap meledak. Aku membuang pandang ke luar ketika perempuan itu hendak membuang pandang ke arahku.

Hijab biru langit itu tidak hanya membuatku betah berlama-lama menatapnya, melainkan juga mendamparkan pikiran jauh sebelum di tanah rantau. Pada istri yang menghembuskan nafas terakhir setelah melahirkan anak pertama. Pada Iwan, anakku, yang kutinggalkan bersama Neneknya—Ibuku yang sebelum aku menikah sudah diceraikan Ayah. Penghasilan sebagai staf administrasi tidaklah seberapa mewujudkan keinginan Ibu yang ingin naik haji. Sisanya kuyakinkan bisa menyekolahkan Iwan sampai ke Perguruan Tinggi—paling tidak sampai SMA. Syukur-syukur menjawab doa Ibu.

Kereta melintasi Begawan Solo. Deru rel lebih keras berderak. Perhatianku, juga perempuan itu, tersita pada air tenang berwarna sawo marun itu. Langit bersungkup kelabu memberi kesan misteri. Sering kusimak sepak terjang sungai ini dari koran dan televisi. Hati kembali lega setelah ilalang kembali tampak tertinggal laju kereta. Tetapi akhirnya aku terlelap dengan gaya orang sedang buang air besar di wc umum.

***

“Permisi,” suara itu mengagetkanku. “Maaf sudah mengganggu tidur anda,” pungkasnya.

Aku membetulkan posisi duduk. Rasanya ada yang kram. Di luar jendela, papan putih bertulis Madiun berwarna biru terpajang besar di atas pintu masuk stasiun. Lelaki pensiunan itu sudah tidak ada.

“Mau ke mana, Dik?” Tanya perempuan itu.

“Surabaya.” Jawab pemuda berkulit cerah.

“Kuliah?”

“Iya, Bu.”

“Kalau anakku masih ada, mungkin sudah seumuran kamu.”

“Anakmu ke mana?” Aku tak sadar mengajukan pertanyaan ini. 

“Meninggal saat berumur dua bulan.”

Perbincangan santai tercipta diantara kami bertiga. Kutahu bahwa pemuda itu semester 5 dan perempuan itu sedang pulang kampung. Kutahu perempuan itu sudah 6 tahun menetap di Yogyakarta. Terpaut setahun denganku yang tinggal di Jakarta. Kutahu di Yogyakarta perempuan itu cukup sukses dengan usaha kecil yang dibangun dengan suaminya. Aku semringah saat ia menyebutkan usahanya: nasi kucing. Nasi dengan lauk kucing? Ia mencibir dan mengatakan kalau itu hanya sebutan saja pada nasi bungkus sebesar kepalan tangan. Kutahu pula perempuan itu Ibu dari satu anak. Dua dengan yang meninggal.

Wajah polos anakku menggelitik ingatan. Kabarnya, Iwan sudah bersekolah. Kelas satu Sekolah Dasar. Kemarin diseberang telpon, ia merajuk minta dikirimi seragam sekolah. Seragam sekolah yang dipakai adalah milik Mail, anak kakak ipar yang sudah lulus Sekolah Dasar setahun yang lalu. Aku tak tahu bagaimana cara berkirim paket. 

“Berkirim paket gampang sekali,” kata Rofik, tetanggaku di kampung yang menjadi tetanggaku pula di Jakarta.

“Tinggal titip, ngasih uang, selesai,” jelasnya.

Kendati sudah dijelaskan secara terperinci, hati tetap menggatup keraguan. Untukku, berkirim paket mungkin mudah, tetapi belum tentu mudah untuk keluarga menerimanya. Apalagi, tempat tinggal yang cukup terpencil menaruh rasa pesimis yang tinggi betapa si pengirim tak akan mengantarkan paket itu. Selama ini, aku menitipkan uang kepada Kepala Desa dengan cara mentransfer uang ke rekeningnya. Jadi, hari ini aku pulang saja.

***

Kereta terus menderu…

“Sayang anak. Sayang anak,” kata penjual mainan.

Gitar mainan yang dipegang memunculkan wajah Iwan. Pasti ia senang, batinku.

“Berapa?” “Tujuh puluh lima ribu.”

“Mahal sekali,” sangkalku.

“Ini mainan bagus, Pak. Ajaib!”

Gitar itu disodorkan. Dipetiklah salah satu benangnya. Ujung gitar memantulkan cahaya kerlap-kerlip. Setelah melakukan tawar-menawar yang cukup alot, gitar itu jatuh juga ke tanganku.

“Pasti Anakmu senang sekali,” cetus perempuan itu.

“Ia selalu minta oleh-oleh kalau sedang bepergian, meski cuma ke pasar di belakang rumah.”

“Merengek andalan anak kecil. Aku juga bawa mainan untuk keponakanku.”

“Meski sudah lumrah, kita tetap luluh juga.”

“Karena kita orangtua,” sambungnya.” Tahu kenapa kita tak berdaya?”

Sebelum kujawab, ia sudah menjawabnya.

“Karena anak adalah detak jantung. Jantung kita. Dulu, Ayahku masinis. Sempat bekerja untuk penjajah. Oleh-oleh khas daerah, dari ujung Banyuwangi sampai Jakarta sudah pernah ia berikan. Termasuk aneka mainan. Gayanya selalu berulang; menyembunyikan kedua tanggannya di balik punggung dan menyuruhku menebak sesuatu yang disembunyikannya. Gaya itulah yang membuatku merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia.”

“Aku tak seberuntung dirimu, barangkali… hehe…” kali ini ia menimpali dengan senyuman.

Pulang dengan kereta lebih kusuka ketimbang menggunakan bus. Ada kesan damai, tenang, dan nyaman. Bebas polusi. Perjalanan dengan kereta juga lebih memanjakan pikiran tentang masa lalu, meskipun tidak semua orang setuju pada pendapat ini. Di Jakarta aku lebih dekat dengan gedung-gedung tinggi, limbah, polusi dan segala tetek-bengek lainnya. Di kampung halaman aku lebih dekat dengan sawah, pepohonan, bukit dan pancuran. Perjalanan menggunakan kereta lebih mendekatkan pikiran pada kampung halaman. Pada masa yang sudah jauh terlampaui.

“Tinggal satu stasiun lagi,” serunya.

Aku tak tahu sudah tiba di mana. Tadi saat kereta berhenti, mataku tersedot kepada perempuan yang bersandar pada gerbong-gerbong tua yang teronggok bisu di sebelah timur stasiun. Prilakunya asing di tengah lautan manusia.

“Asalmu memang dari Jombang?”

“Ya. Aku ikut suami ke Yogja. Kemarin, aku menelpon Ibu. Lagi asyik ngobrol, Nenek merampas telpon. Mendesakku pulang. Kalau tidak, mungkin kutak bisa lagi melihatnya, katanya. Aku tersentuh kalut. Kalau kangen, bicara lansia seperti Nenek kadang memang ceplas-ceplos. Yah, seperti anak kecil lah. Tapi, ya, itu tetap khawatir. Eh, setelah itu giliran Ibu mendesakku pulang. Ucapan orangtua adalah doa, katanya.” Jelasnya.

Aku menyimak. Menatap gerak bibir dan bola matanya. Membayangkan sedang bercakap-cakap dengan istriku sendiri.

“Biasanya ke Jombang sebulan sekali. Sekali ini sudah bulan ketiga. Tak perlu dikatakan, sudah tahu mereka kangen sekali. Cucu Nenek hanya aku. Ibu juga, kendati perasaannya lebih kuat dari Nenek.”

Tubuhku, entah di bagian mana, terasa ada yang terpukul. Kakek dan Nenekku sudah tak ada. Tapi Ibu… 

“Masih ingatkah pada pelajaran SD dulu, yang satu ini? Pepatah mengatakan, kasih anak sepanjang galah kasih Ibu sepanjang masa.”

Lalu perempuan itu tepuk-tepuk kecil. Menyanyikan sebuah lagu yang katanya sangat populer dinyanyikan Ibu-ibu kepada anaknya atau guru-guru sekolahan kepada muridnya. Tetapi pepatah yang disebutnya tak pernah merasa kupelajari—atau barangkali sudah lupa. Lagu itu, apalagi. Pelajaran Sekolah Dasar yang kuingat sampai sekarang hanya keluarga Budi: ini Ibu Budi, ini Ayah Budi, ini Adik Budi.

Tambah lama perempuan itu kian ceplas-ceplos bicara. Timpalan humor turut keluar. Sementara, pemuda di sampingku sudah lebur bersama alunan musik pada handseat. Tak kusangka perempuan ini enerjik. Spontanitasnya berbicara membuat perjalanan tak terasa lelah. Gerimis menghadirkan irama rimis saat kereta membelah persawahan. Perempuan itu berseru karena gerimis hadir tak dirasakannya.

Perempuan itu membuka tas. Merasa penasaran seberapa berharga isinya sehingga sejak ia naik tas yang sarat muatan itu tak beranjak dari pangkuannya, mataku menukik tajam. Ia mengeluarkan dua buah kain batik yang masih terbungkus plastik. Batik Jogja. Pedagang batik, batinku.

“Menurutmu, coraknya lebih muda yang mana?” Curiga menghantui. Menciptakan obrolan sedap sebelum menawarkan barangnya merupakan trik jitu pedagang.

“Aku tak begitu paham soal selera?”

“Ayolah. Aku benar-benar bingung. Yang mana cocok untuk Ibu, yang mana cocok untuk Nenek.” 

“Sebentar, itu apa?” Tanyaku heran.

“Mukena. Oleh-oleh untuk mereka.”

Persepsiku gugur sendiri. Aku diam. Membatu pada mukena itu. Bukan. Bukan. Ada sesuatu yang tertinggal. Membekas. Wajah Ibu. Ya, wajah Ibu. Wajah yang selalu bangun di sepertiga malam. Wajah yang selalu merapalkan doa-doa. Wajah yang terhalang wajah imut Iwan kini tersibak oleh dua mukena itu.

Perempuan itu menungguku menentukan pilihan. Ia tidak tahu aku masih berpikir sesuatu yang pantas diberikan kepada Ibu sebagai oleh-oleh perjalanan, sebelum membantu menentukan pilihannya.

Jember, 7 November 2013

Friday, September 13, 2013

Rumah Kardus




(80 Naskah Terbaik FAM Indonesia) 

Hujan ruah. Menara kebanggaan negara Indonesia basah. Jakarta menggigil. Air hujan meruak menutupi gorong-gorong, meluber ke jalan. Matahari tak memiliki waktu luang sejenak bercengkrama dengan alam. Tak sempat mengucapkan "selamat pagi", atau sekedar mengecup kening bumi. Mungkinkah sibuk? hingga ia melupakan tugasnya menerangi alam. Atau awan telah membekukan cahayanya? Semua bungkam. Diam. Kota yang mati.

Jerit gedung-gedung pencakar langit meyesakkan dada. Pilu. Tamparan hujan mungkin tak selembut tampatan tangan bayi. Suara rintik yang jatuh di atas atap perumahan, pertokoan dan perkantoran mengundang gelisah. Seperti akan menyembuyikan kehidupan ibukota untuk digantikan dengan satu kata, sejarah. Sejarah kota mati. Genangan air tal lagi bisa dikatakan memalung dari lembah-lembah jalan beraspal yang rusak karena sebagian ruas jalan sudah tergenang air.

Air terus muntah dari gorong-gorong. Sampah-sampah semakin menutup tenggorokan kota. Sesak, terbawa arus deras. Kebiasaan yang tak semestinya dilakukan, hingga harus menjadi korban kebiadaban tangan sendiri. Slogan “jangan membuang sampah sembarangan” hanyalah sebuah hiasan kecil di sepanjang jalan selain baliho-baliho partai yang berdiri menjulang.

Aku duduk mnyendiri di depan toko bercat kuning. Toko Barokah, namanya. Sebuah toko yang menjual aneka bahan bangunan. Toko itu tutup. Sepi. Sangat Sepi. Aku seperti berada di penjara pengasingan. Sebagian besar pusat jual-beli di kota itu semuanya tutup. Barangkali pemiliknya merasa jenuh, enggan membuka toko mengingat derasnya hujan. Mustahil ada pengunjung datang, begitulah sementara anggapan mereka. Paling tidak, pasti hanya bocah-bocah jalanan, bocah-bocah comberan yang selalu ramai dan senang bermain bermandikan air kotor itu. Itulah lingkungan mereka; saling mengejar, bermain petak umpet di emperan pertokoan. Hanya bocah itu yang tawanya pecah, melawan deras hujan dan gelegar petir. Sungguh hujan yang membosankan..

Sandal jepit kumal kujadikan sebagai tempat yang nyaman memandang bilir-bulir hujan yang jatuh dengan drajat kemiringan tertentu. Sebuah sandal jepit, satu-satunya alat yang kumiliki untuk melindungi kaki bajaku dari perjalanan yang terjal ketika menjelajah sudut-sudut kota. Mencari sisa rejeki Tuhan di antara tempat bertuliskan ‘TEMPAT SAMPAH’.

”Jika bermalasan, tidak cakatan, maka bersiaplah mati diujung tangan sendiri. Siapa yang cepat, dia yang dapat.” Kalimat yang pernah dilontarkan ibu menggaung tanpa henti. Kalimat yang yang dihambur-hamburkan oleh segolongan kami. Segolongan cacing tanah yang meliuk-liuk seperti penari ronggeng.

"Sudah untung lelaki sepertimu tidak jadi preman, pencopet atau pekerjaan lain yang menjijikkan menurut ajaran agama kita." Kata paman ketika meleraiku datang ke tempat ini.

Hari ini, hujan menjadi saksi. Benar, apabila Jakarta disebut dengan kota surga oleh bapak saat mendukung kepergianku karena di sana segala kebutuhan akan terpenuhi. Namun, ada yang melenceng dari yang dikatakannya. Kota surga bukan untuk semuanya. Kota surga hanya untuk orang ‘beruang’—aku tak tahu arti kata beruang, aku tahu hanya nama binatang—yang bisa memiliki segalanya. bahkan membeli harga diri.
Tidak salah jika kota jakarta sebenarnya kota neraka, seperti dikatakan ibuku yang dulu berusaha meleraiku untuk pergi. Jakarta akan menjadi kuburan yang menyakitkan bagi yang kalah dalam persaingan, seperti orang-orang yang tak jelas, hanya niat mengadu nasib, tanpa ijazah menjanjikan.

Berbaju dekil dan celana sebatas di atas mata kaki, bagian tumit itu bolong, serta topi jerami Cowboy, sebagian sudah rusak, itulah ciri khasku setiap hari. Jelas, saat hujan seperti ini semua yang kumiliki tak mampu menghadirkan kehangatan dan melindungi tubuh hitam kurus ini dari rasa dingin. Aku mendekap, menahan dingin yang menusuk tulang-belulang. Sekilas aku pandang keranjang besar yang selalu kupanggul menelusuri pasar Senen. Keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, tempat barang bekas yang bisa didaur ulang. Disamping keranjang bersandar sebatang kawat besi panjang. Ujungnya runcing, seperti Celurit, pusaka orang Madura.

Aku mendesah, melihat keranjang itu hanya berisi lima gelas botol Aqua, dua kaleng Susu dan satu botol Coca-Cola. Tidak mungkin meneruskan pekerjaan ini. Dingin telah menggerogoti tenagaku. Keranjangku basah. Hujan semakin marah, seperti ingin melemparkan langit.

Sekilas, petir melesat cepat, menggambarkan wajah tirus ibu.

“Kamu yakin?” Wajah perempuan lanjut usia terbayang jelas. Aku berkaca dari cermin wajahnya yang mulai melepuh. Seorang ibu yang tidak rela melepas buah hatinya pergi merantau.

“Bu, yakinlah. Doa ibu akan menuntunku di sana,“ ucapku lirih. Aku  harus mendapatkan restu ibu agar keberangkatanku tidahk akan menjadi dan tanpa beban. Bikankah surga itu berada di telapak kaki ibu?

“Kata, Kang Rahman, di sana itu tempatnya preman,” Ibu tetap berat melepasku.

“Dengan lembaran ijasah SMA-ku, aku ingin berjuang di sana. Kota yang disebut kejam itu akan aku taklukkan.”

“Jangan paksakan dirimu!”

“Aku tidak ingin ibu menjadi kepala sekaligus ibu rumah tangga sejak bapak terus sakit-sakitan. Aku tak tega melihat Ibu naik dan turun gunung hanya demi mengepulkan dapur.”

“Tak usah pikirkan itu,” air mata ibu hampir tumpah.

“Benar, hanya Aku tak ingin adik-adikku diolok-olok oleh mereka.”

“Nak! Allah Maha tahu terhadap hambanya. Dia Maha adil. Kita berkumpul seperti ini sudah kenikmatan yang sangat luar biasa, hanya kita tak menyadarinya. Jangan terlalu rakus terhadap dunia. Dunia ini luas, tidak seperti kandang ayam di belakang rumah kita.”

“Tapi, apakah kita harus berdiam diri meratapi nasib, mematung dengan keadaan seperti ini? Ibu aku ingin jadi anak yang baik. Aku ingin membuat Ibu bahagia.”

“Ibu sudah bahagia dengan keadaan seperti ini. Cukup. Hanya ini.”

“Tidak denganku, bu. Aku belum cukup mampu menerima ini semua. Menerima ejekan Ki Bandol yang menyebut kita tidak mampu melunasi hutang.”

"Kenyataannya!"

Kuraih erat kedua tangannya. Tangan itu masih lembut dari tangan Srikandi. Aku berusaha meyakinkan ibu agar tak ada setitik pun kecemasan yang tertinggal di hatinya.

”Juga demi impian ibu. Bukankah Ibu ingin pergi ke tanah suci?”

“Lupakan! Lupakan bila harus kehilanganmu.”

“Bu, yakinlah! Aku akan kembali ke pangkuan Ibu.”

”Berat sekali melepasmu! Nak.”

Air mataku tak dapat dibendung lagi. Bendugan itu ambruk oleh perasaan sedih seorang Ibu. Ingin aku meneriakkan kepada semesta tentang kesakitan hati ini. Namun, bisaku hanya memeluk ibu seerat mungkin dan mengusap mutiara kasih ibu yang mengalir.

Pelukan terakhir Ibu berkelebat di kepala. Pelukan yang aku rasakan selama dua tahun terakhir. Langit masih kelabu. Sedikit kurasa, ada yang menetes dari mataku saat rumput ilalang melambaikan kerinduan. Butiran padi kuning menghampar, anak gembala sapi yang ceria, bersama pagi dan seruling kecilnya. Aku tak ingin jauh dari pangkuan Ibu. Tapi, karena tuntutan ekonomi dan impian ibu, terpaksa aku melakukannya kendati ibu tak pernah menuntut. Aku hanya ingin memberi yang terbaik untuk ibu.

Kilatan petir terus memotret kota. Garang. Menakutkan. Aku beringsut sedikit. Air mulai merembesi tempat yang tengah kududuki. Samar-samar telingku mendengar derek pintu dari belakang. Pemilik Toko keluar, membawa tempat sampah. Tanpa beban ia melemparkan sampah pada genangan air. Ada seberkas harapan tumbuh. Berharap ada pertolongan darinya, untukku. setidaknya memberiku sedikit pengganjal perut. Sejak pagi itu, aku cuma makan satu buah pisang dan segelas air putih. Sekarang, perutku mulai berdemonstrasi kembali, meminta subsidi kembali. Senyum kurekahkan untuk menarik simpati si empu toko. Ia tersenyum sinis, kecut, dan kembali menutup pintu. Menghiraukan aku dan sampah yang bertebaran di hadapanku.

“Ingat! Di sana hidup sendiri-sendiri. Kamu harus bisa seperti ikan di laut. Kendati hidup di air asin, ikan tidak ikut asin. Satu lagi paling utama, peliharalah shalatmu, jagalah imanmu,” Aku ingat petuah ustadz Abdul Karim saat aku minta restu darinya. Sosok guru Alif yang begitu aku hormati. Aku dilahirkan dari golongan sampah namun bukan berarti orang yang berhati sampah.

***
Panggilan suci mengakhiri bergulirnya mega merah yang membias langit sebelum dihempas gelap. Aku telah bersuci memenuhi panggilan itu, menunaikan solat maghrib dan isyak berjama’ah di Masjid Ar-Rahman. Selanjutnya aku memilih berdiam diri di rumahku yang hanya berukuran 2 X 4 meter.  Di luar, angin berhembus pelan. Ada gerimis yang membuat dingin semakin berpetualang. Aku menghidupkan radio, satu-satunya penghibur di istana kecilku.

Di pos ronda, tetanggaku asik menikmati segelas kopi. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Entahlah, apa yang dibicarakan. Biasanya aku juga ikut nimbrung di sana. Tetapi kali ini aku merasa sangat lelah. Baisanya, mereka hanya sering membicarakan topik-topik yang tak jauh berbeda dari yang biasa diobroli setiap malam. Apalagi kalau bukan soal bermain kucing-kucingan dengan Satpol PP atau berbagi cerita mengenai rejeki yang diperoleh. Tapi, hari itu kelihatannya mereka sangat serius!   

***
Pagi cerah sekali. Langit seakan menjanjikan rejeki sebanyak-banyaknya. Langit seakan berjanji tidak akan menurunkan hujan. Ranjang dan kawat bengkok itu telah kupersiapkan. Teman-teman yang lain telah melambaikan tangannya. Matahari mulai mengecup kening bumi. Dengan lembut ia menaburkan cahaya pada hingar-bingar aktifitas ribuan manusia.

Matahari sudah membentuk sudut 60 Derajat. Keranjangku sudah hampir penuh. Aku berencana mengakhiri pekerjaanku sejenak. Sudah lelah kakiku berpijak. Di tengah perjalanan pulang, segerombolan orang yang kukenal lari pontang-panting, seperti prajurit-prajurit dalam perang badar.

“Bang…ada apa? Apa yang terjadi?” Tanyaku pada Bang Pardi. Tangannya kupengang erat tetapi dirinya berusaha melepaskan diri.

“Hancur…Hancur.” Nafasnya tersegal-segal, ingin segera pergi. Bang Pardi seperti orang kesurupan.

“Tenang… tenang. Sekarang ceritakan apa yang terjadi,” aku bersikap lebih tenang.

“Ada penggusuran, tempat kita akan digusur!” Kang Pardi berlalu seketika.

Petir seperti turun secara tiba-tiba, lebih keras dari biasanya. Benarkah demikian? Aku tak percaya, pasti ini salah duga. Kaki  kecilku segera berlari ke arah suara yang menimbulkan keributan. Dua buah Hotmix besar dengan tenang melahap kompleks perumahan tanpa mempedulikan teriakan dan perlawanan korban penggusuran itu. Istana kecilku tak tampak lagi. Mungkinkah sudah menyatu dengan tanah?

Tatapanku kosong. Yang terlihat hanyalah harapan wajah tirus ibu.
Jember, Pembuari 2013

Tuesday, August 27, 2013

Solat



Sepulang dari tanah suci, Haji Kamil kerap terlihat di Masjid. Tak sulit mencarinya bila tidak ada di rumah. Cari saja di masjid, pasti ketemu!

Usai menyempurnakan rukun Islam, Haji Kamil tampak berbeda. Setiap azan solat berkumandang, ia sudah berada masjid mendahului Sohib, takmir yang bertugas sebagai muadzin. Kalau Sohib terlambat, Haji Kamil bisa menjadi muazin sehingga keberadaannya di masjid cukup meringankan pekerjaan muazin.

Selain Haji Kamil, tak ada orang yang datang lebih awal daripada muazin. Orang-orang yang ingin solat berjemaah baru datang ketika ikamah berkumandang. Itupun yang datang dapat dihitung dengan jari. Masjid itu mendapat jemaah paling banyak dua saf pada waktu Magrib. Isya, saf sudah berkurang. Bila ingin melihat saf sampai ke belakang, harus menunggu tanggal biru alias jumatan.

Haji Kamil menjelma sebagai sosok haji teladan. Namanya kerap dibawa ketika penduduk kampung tengah bersilaturrahiem ke tetangga yang baru datang berhaji. Saat berjabat tangan dan saling rangkul, mereka kerap mengatakan, “Semoga menjadi haji mambur seperti Haji Kamil.”

Sebelum mendapat gelar “pak haji”, di masjid, Haji Kamil hanya tampak pada waktu solat Magrib dan Isya. Kini, berjemaah solat lima waktu benar-benar dijaganya.

Selesai ikamah, tanpa banyak pertimbangan, ia akan maju ke depan. Membaca takbiratul ihram[1] yang kemudian diikuti saf di belakangnya. Sejatinya, ilmu tajwid tak begitu dikuasainya. Tetapi, kehajiannya merupakan putusan yang tak dapat ditawar-tawar. 

Dalam sebuah obrolan kecil, Haji Kamil kerap mengatakan baru sadar—bukan baru tahu—kalau solat berjemaah itu memang lebih baik daripada solat sendirian. Pahala solat berjemaah itu lebih tinggi dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendiri. Dengan terus menjaga solat berjemaah, jalan menuju surga akan terhampar luas, katanya. Tak ada yang lebih indah di hari tua kecuali memohon pertaubatan dan mengharapkan surga.

Bukan hanya itu, Haji Kamil kerap bercerita perihal pengalamannya ketika berada di tanah suci. Dengan nada sumpah, Haji Kamil melihat betapa umat Islam dari seluruh penjuru dunia yang datang ke tempat itu menitikkan air mata dalam kubangan dosa memohon pertaubatan. Kendati tubuh mereka dililit oleh selembar kain putih, lambang kesucian, mereka tetap merasa diri seorang hamba yang kotor. Lebih kotor dari kain ihram yang membungkus tubuh mereka yang mungkin tak ada sebercak noda yang menempel.

“Mereka menangis. Memohon ampun. Mengharapkan pertaubatan agar mendapat hidayah dan masuk surga,” cerita Haji Kamil menggebu-gebu.
Sebagai seorang yang pernah naik haji, Haji Kamil tak lepas dari peci putih. Jarang sekali penduduk kampung mendapati dirinya mengenakan peci warna lain, apalagi hitam. Gamis selalu dikenakannya saat melaksanakan solat, ditambah dengan janggut yang sengaja dibiarkan memanjang membuat dirinya tampak ke arab-araban.

“Sunnah nabi,” katanya.

Kepada anak-anak yang mengaji di masjid itu, Haji Kamil juga menjadi juru cerita yang baik. Cerita-cerita tentang kehidupan abadi setelah dunia: akhirat, surga, dan neraka, selalu didengung-dengungkan.

***
Ramadan tinggal menunggu waktu. Hampir setahun lebih Haji Kamil berstatus haji. Hampir setahun pula Ridho, anak semata wayang, menimba ilmu di sebuah pesantren tersohor di Jawa Timur. Kini, anak yang kerap disebut lebih mirip istrinya ketimbang Haji Kamil, pulang kampung karena libur panjang bulan Ramadhan.

Sebagai kepala keluarga, Haji Kamil menjaga betul solat anak dan istrinya dan diusahakan untuk selalu solat berjemaah. Urusan solat menjadi perhatian utamanya.

“Ramadan adalah bulan yang penuh berkah,” kata Haji Kamil kepada Ridho di perjalanan pulan usai solat Isya. “Sudah kau jalankan pesanku, Nak?”

Serasa jantung Ridho berdegup lain. “Sudah,” pungkasnya singkat.

Alhamdulillah, Baguslah. Abah memondokkanmu supaya kamu menjadi orang yang benar. Solat dengan benar, karena solat itu mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar,” sesungging senyum beraroma bangga lepas pada anaknya.

Ridho tak bermaksud berbohong. Akan tetapi pertanyaan Haji Kamil yang datang tiba-tiba membuat dirinya reflek mengatakan sudah. Tak apalah, ini urusan sepele. Bagaimana mungkin bisa menjaga solat lima waktu berjemaah, sedangkan kegiatan pondok sangat padat. Lagipula program pesantren hanya mewajibkan santrinya solat berjemaah hanya waktu Magrib, Isya, dan Subuh. Sedangkan Zuhur dan Asar dihukumi mubah, pikirnya.

Berjemaah Solat Zuhur, tak mungkin. Sekolah pulang jam satu siang, sedangkan Kiai Sholeh mengimami di masjid 30 menit lebih awal. Berjamaah solat Asar sering alpa tersebab tidur siang. Kalau sudah bangun kerap tergesa-gesa karena usai Jemaah Asar, pengurus pesantren langsung memburu para santri untuk mengikuti ajian kitab turats[2]. Alasan nakal itulah yang termaktub di pikirannya, kendati solat berjemaah tidak harus di masjid atau bermakmum pada kiai.

Pertanyaan Haji Kamil menjebaknya pada solat berjemaah yang dihukumi wajib dengan yang dihukumi mubah oleh program pesantren. Sejatinya solat lima waktu semua hukumnya wajib. Tetapi pembagian dua hukum itu membuatnya merasa lebih enteng menunaikan solat yang dihukumi mubah daripada yang dihukumi wajib.

Seandainya solat tidak wajib, apakah manusia masih menunaikan solat? Cepat-cepat hati Ridho berseru istigfar.

Bohlam di pelataran rumah sudah tampak. Serangga malam yang kecil-kecil mengerubungi cahaya 5 watt itu. Haji Kamil menyapa Parman yang kebetulan lewat tepat ketika pagar rumah disentuhnya. Akunya, Parman baru datang kondangan. Sementara Ridho tengah terjebak pada pertanyaannya sendiri. Ia berusaha tak memikirkan pertanyaan konyol itu.

“Ada apa, Nak?”

Ah, tidak apa-apa, Bah.”

Gamitan hangat mendarat di bahu Ridho.

***
Hanya berumur sehari, betapa pertanyaan itu menghimpit kepala Ridho. Usai tasyakuran kecil menyambut hari pertama Bulan Ramadan, Ridho tak tahan ingin mengutarakan keingintahuannya. Apakah Abah akan marah, lalu memarahiku atau bisa saja menamparku? Ketakutan mengurungkan niatnya.

Ketika ia coba menjawab sendiri pertanyaan itu, malah yang muncul adalah pertanyaan turunan: kalau solat hukumnya wajib, berarti ada paksaan untuk melaksanakan solat. Ah, kenapa ketika berurusan dengan yang wajib serasa menjadi seorang pemberontak?

Bulan tampak separuh. Desir angin melengkungkan tubuh lelaki tua yang kepalanya dililit sorban. Sebuah tepukan keras di udara menyiratkan kegalakan nyamuk-nyamuk di musim hujan. Gemeretak gigi berpacu dengan denyit lincak yang menyangga tubuhnya. Ia tengah menyaksikan panggung rakyat di televisi.

Ridho berusahan mendekat. Perasaan bimbang menggetarkan bibirnya.

“Belum tidur?”

“Belum ngantuk.”

“Sini. Duduk. Ada tayangan seru.”

Ridho berusaha bersikap tenang. Kedua matanya terus disorongkan kepada Haji Kamil. Mencari celah kecil untuk kesempatan besar.

“Abah.”

“Ya,” jawab Haji Kamil tanpa menoleh. Tayangan di televisi sepertinya lebih menarik ketimbang menatap wajah anaknya. Nafas Ridho tambah berat. 

“Kenapa kita harus melakukan solat?” tanyanya pelan. Secara reflek punggung Haji Kamil bergerak sedikit ke belakang sebelum berganti memalingkan muka. Membaca kening abahnya yang mengerut, bara ketakutan mengelabui pikirannya.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Sekedar ingin tahu, Bah,” Haji Kamil menahan pandanganya.

“Kita ini ‘abdun, Nak. Abdi. Hamba. Budak. Sudah seharusnya menjalankan apa yang diperintah oleh tuannya dan menjauhi apa yang dilarangan oleh tuannya. Solat adalah salah satu bentuk ketundukan seorang hamba kepada tuan-Nya.”

“Cuma itu, Bah?” tanyanya datar.

Haji Kamil tak mengerti isi kepala anaknya. Apakah aku memondokkan anakku di tempat yang salah, pikirnya. Tidak mungkin. Pesantren Kiai Sholeh adalah pesantren salaf, mana mungkin anakku diajarkan hal yang bukan-bukan. Dua pikiran membingungkan Haji Kamil. Pikiran anaknya dan pikiran dirinya sendiri.
Kiai Sholeh sendiri dikenalnya sebagai sosok ulama yang hati-hati dalam pesoalan fikih dan akidah. Sebagai alumni, Haji Kamil masih ingat, Kiyai Sholeh muda kerap terlibat diskusi dengan pakar-pakar agama yang bercorak liberal. Argumentasi yang dikeluarkan sudah cukup menjadi penilaian bahwa Kiai Sholeh memang pentolan shalafus shaleh.

“Allah sudah berjanji, barangsiapa yang selalu menegakkan solat, maka ia akan diselamatkan dari siksaan akhirat dan akan berada di tempat yang layak, yakni surga. Solat itu tak bisa ditawar-tawar lagi. Hukumnya wajib. Orang yang sakit sekarat saja tidak boleh tidak harus tetap solat.”

“Itu dia, Bah.” Haji Kamil mengernyitkan dahi. “Seandainya solat itu tidak wajib, apakah kita tetap melakukan solat?”

Astaghfirullah! Istigfar, Nak. Istigfar!” Hampir saja Haji Kamil melayangkan tangannya ke muka Ridho jika saja tak segera mengontrol emosinya. Ridho ketakutan, air mukanya berubah keruh.

“Maafkan aku, Bah. Aku bukan bermaksud mempertanyakan perkara solat itu wajib atau tidak. Cuma, sebagai manusia, aku merasa melaksanakan solat karena perkara kewajibannya, semacam ada tuntutan melakukan solat,” serak suara Ridho dari sisa keberaniannya.

“Kau tahu apa urusan solat?”

“Ada semacam ketidakikhlasan tersebab harapan ketika melakukan solat, apalagi tidak melakukannya. Termasuk aku. Harapan masuk surga, ketakutan masuk neraka. Padahal, surga dan neraka itu kekal karena dikekalkan. Bagaimana bila nanti Allah, dengan sifat kuasa-Nya meniadakan Surga dan neraka. Kun fayakun[3].”

“Kau terlalu berandai-andai, Nak. Jangan menuhankan akal.”

“Aku tidak menuhankan akal. Aku merasa solatku masih sekedar kewajiban, bukan menjadi kebutuhan. Seandainya solat itu tak wajib, aku tak menjamin terus menjaga keutuhan solat. Aku ingin menjadikan solat sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.”

Haji Kamil terpaku. Bagaimana mungkin anaknya berpikir sejauh itu. Dirinya saja, yang sudah sampai ke Baitullah tak bisa menjangkau terlampau jauh.

“Sudah larut malam. Tidurlah. Nanti kau terlambat untuk sahur,” tukas Haji Kamil.

Ridho menghilang di balik pintu dengan kepala menunduk.

Senyap ruangan membuat jam dinding yang tepat di atas Haji Kamil seperti lebih nyaring berdetak. Televisi bercakap-cakap tanpa suara. Haji Kamil menatap kosong. Air jatuh dari sorot matanya yang mulai memudar, tak disadari.

Betapa perkataan Ridho sebelum menyelot pintu kamar menyayat hatinya.

“Aku ingin solat seperti solatnya Abah.”
Jember, 27 Mei 2013




[1] Takbiratul ihrom: takbir pertama saat melaksanakan shalat. Ihram berasal dari kata haram, yang berarti takbir haram. Artinya takbir yang mengharamkan segala yang halal sebelum shalat.
[2] Kitab Turats: kitab yang dikaji di berbagai pesantren. Mengacu pada ciri fisik disebut kitab kuning atau kitab gundul. Dikatakan kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning, sedangkan kitab gundul karena tulisan arab di dalam kitab tersebut tak berharkat.
[3] Surat Yasin ayat 82. Ayat ini menjadi simbol atas Maha Kehendak Allah terhadap alam semesta, baik alam nyata maupun alam gaib.

Friday, August 23, 2013

An!


(Majalah Femina, 13-19 Juli 2013)
Ketika kau mencinta, kau selalu merasa dia ada. Sejauh apa kau tetap yakin dia dekat?
Seberkas cahaya pas sekali rebah di mukaku. Kedua mataku menyipit sendiri. Aku jelas terkejut. Kau pasti juga paham mengapa aku terkejut. Ya, cahaya itu menandakan kalau kita bangun kesiangan. Tetapi peristiwa semacam itu kau anggap sebagai adegan lucu; bergelayut manja sembari berucap, “Sudahlah, tak usah kerja. Kita teruskan…” Lalu aku membalas pelukanmu.
Tetapi ketika aku bangun, kau sudah tak berada di tempat tidur. Satu pekerjaan telah kaulupakan. Membangunkanku. Lupakah? Di kamar mandi, bak air kosong melompong. Kukira kau lupa membuka kran air atau memang tak mandi dulu sebelum berangkat. Ah, sejak kapan kau jadi pelupa, An?
Awalnya, keyakinan itu tak sungguh begitu. Dugaku, pekerjaan telah memburumu. Tetapi meja makan yang dibiarkan kosong membuatku bertanya lagi: Benar kau menjadi pelupa?
An, aku kelimpungan memakai dasi karena kau yang biasa memakaikannya. Aku memanggilmu berkali-kali, tapi kau tak datang. Aku ke dapur, tak ada kau di sana. Aku ke belakang, di sana kau tak ada juga. Aku sudah mencarimu ke mana-mana.
Tanah pot bunga di beranda terlihat kering. Kukira kau sengaja tak menyiraminya karena seminggu lalu kau hendak mengganti bunga-bunga itu dengan yang baru. Semuanya. Kesimpulan sudah kubuat. Secarik surat kutulis karena tidak mungkin menunggumu terlalu lama.
Begini isi suratnya: An, aku berangkat. Setelah pulang nanti, aku ingin langsung makan masakanmu. Sebagai bonus, aku akan bawakan buku dongeng yang bagus.
Entah, aku seperti sangat lama tidak makan masakanmu. Masakan yang bagiku tiada tandingannya. Masakan yang menjadi senjata untuk membentuk seorang yang rindu pulang.
“Cukup dengan ini, kau tak akan punya alasan berpaling dariku,” godamu.
Surat itu kutempel di muka pintu. Tempat yang sangat cocok untuk menyapamu ketika pulang nanti. Tingginya kuukur dengan tinggi mukamu. Aku harap sebelum masuk rumah kau tak gelisah dan mencariku sebagaimana aku mencarimu. Aku tahu betapa pikiran yang gelisah akan menguras banyak tenaga. Aku ingin memanjakanmu karena aku mencintaimu, An.
An, aku memilih jalan kaki kendati sudah terlambat masuk kantor. Tujuannya cuma satu, dongeng yang kujanjikan itu. Aku ingin membelikanmu buku dongeng dan menyebutkan bahwa buku itu kubeli di sebuah toko buku yang sangat bagus dan terkenal di kota ini. Padahal, aku membelinya dari penjual buku keliling yang biasa mangkal di sepanjang trotoar menuju kantor.
Sejatinya, tempat pembelian buku tak penting bagimu. Sama halnya apakah buku itu stok baru atau stok lama, berlabel best seller atau most wanted. Yang terpenting adalah ceritanya menghibur. Namun, satu hal yang perlu diketahui bahwa hukum pasar mengatakan: semakin tinggi harga barang, maka akan semakin tinggi kualitasnya. Sedangkan tempat akan mengangkat derajat dari barang itu.
Tuhan Maha Adil, ya, An? Dia ciptakan orang yang suka berdongeng untuk orang yang suka mendengarkan dongeng.
Waktu SMA dulu, saat kata “sahabat” sedikit lebih dekat. Kau berdongeng tentang seorang putri yang kesepian bermimpi menyentuh awan, hingga dia berdoa agar Tuhan mengirimkan seorang yang bisa mengantarnya ke awan. Lalu, seekor unggas bersayap seketika muncul dari tubuhnya sendiri. Bukan. Tubuhmulah sebenarnya yang tumbuh sayap. Aku cukup ingat dongeng itu, An. Dongeng dengan gaya khas gestur, wajah, dan tutur ceritamu. Sayang, aku tak pernah lengkap untuk mengingatnya.
Sebutan populer yang terlalu sering kudengar betapa sekarang kita berada di jantung globalisasi; sebuah zaman ketika definisi jarak menjadi tak terlalu berarti. Semuanya dituang dalam sebuah gelas, dengan sebuah sendok yang terus mengaduk tak kenal lelah, hanya berputar dalam satu pusaran. Tetapi zaman yang dikatakan serba rasional ini kau larungkan dengan cerita-ceritamu yang absurd, penuh khayal, bahkan bisa dibilang konyol. Yah, begitulah caramu menertawakan dunia ini.
Sial hari itu, An. Tak satu pun kutemui penjual buku bekas yang mangkal. Mataku cuma menangkap penjual korang bersandar di bawah lampu lalu lintas, menunggu warna merah untuk kemudian berteriak menjual berita yang menurutnya tentu sangat menarik sehingga perlu diteriakkan: gosip, korupsi, kriminal, atau yang lainnya.
Tadi, saat lewat di depan toko bangunan milik Koko Liem, hanya ada pedagang nasi pecel dan rokok plontongan. Ya, adanya di simpang tiga itu. Bagaimana kalau aku tak mendapatkan buku dongeng? Ah, sudah terlanjur kukatakan. Apakah aku mesti beli koran saja? Ah, tidak, An. Tidak. Aku tak percaya berita di koran-koran itu. Lebih baik menutup mata saja seharian bila harus membaca koran, atau marahi saja aku habis-habisan ketimbang harus membeli koran murahan dengan berita—yang menurutku—juga murahan.
***
Seorang satpam tengah duduk di depan gerbang. Di parkiran, kendaraan karyawan tak banyak. Jawaban untuk mengantisipasi pertanyaan satpam yang pasti akan menyambutku sudah kupersiapkan. Semoga pertanyaannya berakhiran ‘ya’ sehingga aku hanya memberikan isyarat saja.
Satpam itu langsung berdiri. Aku menyetel dasi. Dalam kondisi apa pun, kita harus terlihat berwibawa, sifat yang harus dimiliki lelaki. Kau yang mengatakan itu, An. Padahal kau perempuan.
“Selamat pagi, Pak? Apa kabar?” ucapnya ramah.
“Baik.” Tatapannya lain dari yang biasa.
“Senang bisa bertemu bapak hari ini. Silakan masuk,” satpam tambun itu membuka sebelah engsel gerbang dan mendorongnya sedikit. Berderek. Terbuka.
Aku tak banyak bicara. Melempar senyum sebentar dan berlalu. Jawaban yang sudah kusiapkan sudah kubuang ke tong sampah. Tentu, satpam itu tak akan melihatnya karena yang mengerti aku hanyalah kau, An.
Aku bergegas, ke ruangan tempatku bekerja. Terlalu hangat sambutan mereka untuk orang yang terlambat. Satu yang kulegakan hari itu. Tak ada yang berbisik kalau bos hari itu bertanya aku. Tetapi, satu yang tak kumengerti. Semua mata seperti menitipkan iba. Lalu salah satu di antara mereka yang bernama Amdis merangkul pundakku.
“Kami ikut berduka cita atas kepergiannya, Sontak dahiku berkerut.
“Maksudmu?” Kupandangi lekat lelaki berambut ijuk pendek dan bertubuh karang itu.
Tiba-tiba Bram datang dan menarik tangannya sebelum ia menjawab.
“Jangan ganggu,” begitu sepertinya ia berbisik pada Amdis.
“Dia hanya salah paham. Ini pekerjaanmu. Bos tadi menitipkannya untuk diselesaikan hari ini.”
Berkas-berkas itu seperti nyengir ketika Bram menyodorkannya. Apakah ini bentuk hukuman? Entahlah, semoga saja nanti tidak pulang terlambat.
Siapa yang berduka? Siapa pula yang pergi? Ah, sudahlah! Tidak penting untuk dipikirkan. Pikirkan dulu pekerjaan ini biar nanti pulang lebih cepat. Aku sudah tidak sabar untuk makan masakanmu, An.
***
Sore itu, hujan sangat deras. Jalanan menjelma bayangan yang basah. Kendaraan menyemut. Gelombang air pada genangan yang dilindas oleh roda-roda, menaruh khawatir. Jangan-jangan kau terjebak macet. Petir berkilat-kilat mengubah rasa khawatir menjadi cemas—kendati khawatir dan cemas tak beda jauh, tetap ada jarak antara kedua kata itu.
Semoga kau masih sibuk dengan tugas-tugasmu di kantor. Atau semoga kau sudah sampai di rumah. Intinya, kau tak di perjalanan pulang. Aku tak kuasa membayangkan apabila kau terjebak macet apalagi berteduh menunggu reda saat petir meraja.
***
Sudah setengah tujuh. Satu jam lagi. Satu jam lagi kupastikan pekerjaanku selesai. Aku janji jam delapan nanti aku sudah berada di rumah. Duduk semeja sehadapan sambil menyeruput sup andalanmu itu. Sabar, ya, sayang!
***
Sial, An. Di Halte jalan Wonokromo, hujan membuatku kembali cemas. Marah sendiri. Aku menggigil bukan kedinginan, hanya tak sabar menunggu reda. Kutasbihkan kalimat yang kerap kauucap ketika hujan. Barangkali bisa memupuk kesabaran menunggu reda: hujan itu indah, hujan itu romantis, hujan itu menyegarkan, hujan itu beraroma, hujan itu anugerah.
Dan, hujan akan segera usai, hanya menyisakan rintik kecil. Kesabaran sudah benar-benar tandas. Cuma rintik segini akan hilang dengan semangkuk Sup. Aku yakin itu, An.
Tembus saja.
***
Pesan yang kutempelkan tergolek di lantai. Tulisannya tak bisa dibaca lagi karena resapan air. Tak apalah. Toh, melihatnya saja rasanya sudah lega. Sesaat rasa berbunga-bunga raib seketika mendapati meja makan bersih tanpa noda makanan. Kau tak masak? Kau marah? Kau ada di rumah?
Kupanggil-panggil, tak ada. Ke mana sebenarnya kau, An?
Kadang, aku cuma butuh sendiri, melakukan sesuatu yang kusukai sekali waktu. Semacam kebebasan. Tanpa rutinitas rumah tangga yang menjemukan. Tanpa catatan belanja yang kaulaporkan untuk kutukar dengan uang. Tapi saat ini aku tak punya alasan untuk mengatakan itu. Aku butuh kamu, An! Tidak tahukah kau sejak bangun dari tidur, aku merasa yang kurang dalam hidupku?
Aku ingat mimpiku tadi malam. An, aku melihatmu tidur dalam peti kaca. Kau begitu cantik, tapi aku belingsatan karena kau terpejam dan tak mau bicara denganku. Mereka tidak mempedulikan teriakku; membawamu jauh memunggungi mataku. Tak ada lagi tatapan paku itu.
Aku takut sekali, An. Aku takut kau benar-benar pergi. Larut malam kau belum pulang juga. Ah, kau, An. Rasanya aku ingin tidur selamanya.
An, bila kau sudah pulang, tolong bangunkan aku. aku hanya ingin memelukmu. Dengan begitu aku bisa memastikan bahwa kau baik-baik saja. Cepatlah pulang, An.
Semoga kau membaca suratku ini, nanti.
***
Selalu ada yang akan kita tinggalkan. Jiwa; bukan ruang kosong…
Karena hujan, bunga di beranda tak jadi layu. Bahkan bunga itu berani membuka kelopaknya. Harapan lelaki yang rupanya tak lelap di pembaringan mungkin sama seperti harapan kelopak bunga itu: menunggu sesungging senyum seseorang saat pulang nanti.
Di atas laci kecil, di bawah temaram lampu tidur, tergeletak surat kabar yang belum diganti selama seminggu.
Headline: Tragedi Jatuhnya Pesawat Terbang.
Jember, 25 Mei 2013