Saturday, March 3, 2012

Ironi Filsafat Jawa

Buku Filsafat Jawa (Balai Pustaka; 1992), buah tangan Dr. Abdullah Ciptoprawiryo, dosen ilmu filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia, telah menyelamatkan wajah Indonesia dalam kancah percaturan ilmiah. Sebagaimana dalam pengantar bukunya, ia bermaksud untuk membantah pendapat seorang profesor asing yang mengatakan bahwa filsafat di Indonesia lebih ditekankan pada filsafat barat (Eropa) karena Indonesia tidak memiliki filsafat sendiri.

Melalui pendekatan analitik-holistik, ia membuktikan enam karya sastra Jawa yang mengandung pemikiran filsafat: Mpu Kanwa, Arjunawiwaha, jaman Raja Airlangga (abad XI); Mpu Tantular, Sutasoma dan Arjunawijaya, Jaman Raja Hayam Wuruk (abad XIV); Yasadipura 1, Dewa Ruci (1729-1801); Paku Buwana IV, Wulangreh (1789-1820); Ranggawarsita, Serat Wirid Hidayat Jati (1802-1873); Mangku Negara IV, Wedhatama (1809-1881).

Pada pertengahan tahun 1980, Prof. Dr. Takdir Alisjahbana, sastrawan Indonesia, menerima surat undangan dari Presses Universitaires De France di Paris, yang bermaksud menerbitkan sebuah Dictionnaire Des Philosophes, Kamus para Filsuf. Kamus itu akan memuat filsuf seluruh dunia beserta ringkasan karya mereka. Undangan itu kemudian digarap oleh para pengajar Jurusan Filsafat di tiga perguruan tinggi: Universitas Indonesia, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Universitas Gajah Mada dan IKIP Sanata Dharma.

Mereka mentapkan 15 tokoh filsuf tanah air untuk mengisi Dictionnaire Des Philosophes: Sutan Takdir Alisyahbana, Driyarkara, Ki Hajar Dewantara, HAMKA, Soemantri Hardioprakoso, Mpu Kanwa, Mangkunegara IV, Notonagoro, Mohamad Natsir, Pakubuwana IV, Ranggawarsito, H. Agus Salim, Sockamo, Mpu Tantular, dan Yasadipura I. Pada akhir tahun 1984 Dictionnaire Des Phelosophes terbit dalam dua jilid.

Seni dan Tuhan
Negara Yunani sebagai kiblat dari filsafat barat (Eropa) mencetuskan filsafat sebagai cinta kebijaksanaan. Pradigma semacam ini terwarisi sampai ke belahan negara bagian timur (Asia). Namun, corak religius yang mewarnai literatur pengetahuan di negara timur menjadikan filsafat bukan hanya sekedar pencarian entitas kebenaran ilmu pengetahuan, melainkan sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan (insan kamil).

Filsafat Jawa lebih “beraliran” filsafat ketimuran. Tipologi ini tidak lepas dari religiositas masyarakat Jawa. Hanya, filsafat Jawa menggunakan pendekatan intuisi seni sebagai pencarian dan pengejewantahan dari kearifan tertinggi. Sebagaimana pernyataan Dr. P. Zoetmulder, bahwa filsafat Jawa merupakan sarana mencapai kesempurnaan hidup. Di sinilah kita tidak mendapatkan pertentangan antara filsafat dan pengetahuan tentang Tuhan.

Bila memakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat berarti ngudi kasampurnan, berusaha mencari kesempurnaan. Kesempurnaan hidup yang dilandasi oleh cipta, rasa, dan karsa (ontologi, epistimologi, aksiologi). Sebaliknya philosophia bila dibaca dengan bahasa Jawa menjadi: ngudi kawicaksanan.

Masyarakat Jawa mencari hakikat segala wujud kebenaran yang bersifat mendasar. Semua usaha untuk mengartikan hidup manusia—asal mula dan akhir—serta hubungan dunia-manusia-Tuhan terakomodasi dalam seni budaya mereka. Kehidupan alamiah, menjadi dasar dan memberi isi bahwa kebudayaan Jawa benar-benar didapatkan usaha untuk mencari dasar-awal segala sesuatu, renungan tentang apa yang terdapat di belakang segala wujud lahir dan pencarian sebab-akibat.

Seni pewayangan adalah satu contoh implementasi dari filsafat Jawa. Walaupun ceritera wayang berasal dari India, namun terdapat perbedaan hakiki dalam perwujudannya. Di India, ceritera dianggap benar-benar terjadi dalam jalur mitos, legenda dan sejarah, sedang di Indonesia ceritera itu mengiaskan perilaku watak, manusia dalam mencapai tujuan hidup, baik lahir maupun batin (Filsafat Jawa, hal.18). Selain daripada itu filsafat Jawa juga bisa dilihat pada kesusastraan Suluk Jawa, Serat Wirid Hidayat Jati, dan aksara hanacaraka.

Sepintas, pernyataan Dr. Abdullah Ciptoprawiryo adalah benar, bahwa filsafat Jawa adalah filsafat “asli” Indonesia. Akan tetapi filsafat Jawa tetaplah hanya bagian dari nuansa lokal nusantara. Ia meletakkan filsafat Jawa hanya sebagai bukti sementara atas keterdesakannya untuk “menyelamatkan” Indonesia.

Sebenarnya filsafat Indonesia sudah terangkum dalam tulisan pada tali pita di kaki burung garuda. Bila Rene Descartes meletakkan Cogito Ergo Sum sebagai titik dasar filsafatnya, atau Gnothi se Auton yang menjadi dasar filsafat Sokrates, maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika harusnya menjadi fondasi rumusan pemikiran filsafat di Indonesia.

Buku Filsafat Jawa hanya meng-ada-kan bukti keadaannya. Kehidupan masyarakat yang cenderung westernis serta perguruan tinggi di Indonesia yang lebih condong kepada filsafat barat telah menguburkan eksistensi filsafat negeri ini. Oleh karena itu, harus ada langkah awal bagi para insan akademika untuk membangkitkan embrio filsafat di negeri ini.

Friday, February 10, 2012

Skandal

Gg. 17Tatapan perempuan itu beku. Seperti es. Perempuan bermata ilalang, teduh tapi sunyi. Aku tak menemukan bias cahaya di seraut wajahnya yang oval. Dia sedang menyorongkan wajah. Bibirnya bergerak samar. Melafalkan sesuatu pada aneka bunga yang berjejer di beranda rumahnya. Sedang bernyayikah dia untuk bunga-bunga itu?
Ah, dia hanya mencari perhatian. Hem, perempuan memang selalu ingin mencari simpati.

Gg. 16
Apakah lelaki itu orang baru di rumah itu? Sejak kapan berada di sini? Hem, Sepagi ini dia sudah rapi. Sepertinya lelaki bertipikal pekerja keras. Tidak. Tidak. Dia hanya seorang pegawai negeri yang dituntut waktu melayani abdinya. Harus kuakui, lelaki itu memang mandiri. Di usianya yang demikian muda sudah mengenakan baju safari. Mengagumkan!
Berani-beraninya dia melempar senyum. Huh, pasti hanya sekedar basa basi. Masa bodoh. Apa peduliku. Lelaki di mana pun selalu sama; para bedebah yang lalu lalang sejenak hanya sekadar menarik simpati wanita.

Gg. 17
Perilaku perempuan itu kok tambah aneh. Kemarin marah-marah sendiri, mengumpat segala yang ada di depannya. Sekarang terdengar lentingan kaca pecah dan teriakan memilukan. Dua vas bunga di depan pintunya pun dibanting. Bukankah setiap pagi dia selalu bernyanyi untuk bunga-bunga itu? Gilakah perempuan itu?
Tidurku benar-bebar terganggu. Suara tangisnya melengking di gendang telingaku. Pilu. Aku paling tidak tega mendengar tangis seorang perempuan. Lemahku ada pada air matanya. Aku beranjak ke beranda. Perempuan itu tengah duduk mendekap di beranda. Wajahnya seperti kabut; kelam dan suram. Rambut acak-acakan karena dijambak sendiri.

Gg. 16
Ada yang mengetuk pintu? Kulihat jam dinding, masih jam lima pagi. Remang di luar jendela membuatku malas. Ah, jangan-jangan itu Mas Fajri. Aku akan menuntut segala janji-janjinya!
Ternyata Lelaki itu. Aku kecewa.
“Maaf, apakah anda memiliki nomor telepon tukang servis WC? Sepertinya WC di rumahku mampet.”
“Anda siapa? Maaf tak sempat ganti baju,” selorohku. Matanya menelanjangi tubuhku. Semoga tak menyangkaku yang bukan-bukan.
“Saya Fandi, tetangga sebelah. Baru seminggu saya tinggal di kompleks ini. Rumah kita sehadapan.” Tanpa disebut, aku sudah tahu kalau rumahnya sehadapan.
“Tunggu sebentar.” Kutinggalkan sejenak lelaki itu. Dia memerhatikan segala macam benda di rumahku. Halaman pun tak luput dari sorot matanya. “Ini nomor teleponnya. Kalau tidak bisa, cobalah nomor yang satunya,” kataku.
“Terima kasih.” Lelaki itu pergi dengan mengibas-ngibaskan nomor telpon yang telah kuberikan.

Gg. 17
Perempuan itu benar aneh. Cuma di bagian luar rumahnya saja yang menunjukkan keindahan. Sedangkan tata ruangnya tak ada kesan rapi. Lantai kotor. Semua berantakan. Asbak di atas meja yang penuh dengan puntung rokok, terbalik menumpahkan isinya.

Gg. 16
Semakin hari, Fandi terus memerhatikanku. Apakah dia menemukan sesuatu yang istimewa?

Gg. 17
Perempuan itu tinggal sendiri. Benar, dia perokok. Kerapkali aku menemukannya nge-fly, menikmati hisapan demi hisapan sebelum dihempaskan. Lalu, dia memandang lekat asap membubung yang baru lepas dari mulutnya.
Aku tidak suka perempuan perokok.

Gg. 16
Hem, jangan harap kau bisa melarikan diri dariku. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di kaki dan mengakui bahwa yang ada di rahimku adalah darahmu. Tak akan semudah itu kau melupakan Risa, perempuan yang kini tak pernah kau beri kesempatan untuk bermimpi pelangi. Kau harus memenuhi segala janjimu. Termasuk singgasana yang kau janjikan. Apa kau bahagia dengan kekasihmu yang baru itu? Jangan harap.

Gg. 17
Aku terkejut. Perempuan itu duduk di depan pintu.
“Maaf, boleh aku masuk?”
“Ya, silahkan.”
Kejutku jadi gugup. Seksi nian dia dengan balutan kaos u can see dan celana Jeans. Senyum mengembang manja. Lekuk tubuhnya memompa jantung berdenyut lebih cepat. Namun sayang, pakaian mini itu hanya membuat lekuk perutnya yang jelek kelihatan. Gilakah? Ah…
“Arsitektur yang bagus,” gumamnya.
“Tidak juga. Ruangan ini sama saja dengan ruang di rumahmu. Hanya penataannya saja yang berbeda,” jelasku.
“Ya, ya! Maksudku tata ruangnya. Tidak seperti rumahku. Kacau. Kapan-kapan maukah kau memperbagus tata ruang rumahku?”
“Dengan senang hati.”
Perempuan itu mondar-mandir. Sorot matanya menggeledah seluruh isi ruangan yang hanya berukuran kurang lebih enam kali lima meter itu. Sofa kecil, meja pendek, televisi dua puluh sembilan inci lengkap dengan sound system dan DVD tak lepas dari padangannya.
“Oh, ya. Silahkan duduk. Mau munum apa?”
“Tidak terima kasih. Namaku Marisa. Panggil saja aku Risa. Itu foto siapa?”
“Oh, tunanganku. Sebentar lagi dia akan menjadi istriku,” ungkapku bangga.
“O…Selamat! Semoga menjadi pasangan yang serasi. Maaf, aku harus pulang.” Perempuan itu berlalu sebelum aku mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Misterius. Kesimpulanku hampir mencapai taraf kegilaan.

Gg. 16
Tidak! Tidak! Seharusnya bukan lelaki itu. Tetapi kau. Ya, kau!

Gg. 17
Perempuan itu, maksudku Risa, datang lagi dengan seonggok wajah seperti mayat. Tak ada cahaya sama sekali di parasnya. Teh yang kusodorkan langsung tandas. Diseruput tuntas tak berbekas.
Senandung elegi mengalun dari bibirnya yang kering dan pecah: hidup Risa terperosok oleh lelaki hidung belang yang mengatakan telah berjanji menikahinya. Hampir empat bulan dia menunggu lelaki bernama Fajri. Bukan dia yang memerlukan lelaki itu, tetapi segumpal darah di perutnya.
“Apa kau sudah menghubunginya.”
“Dia selalu berjanji. Aku muak itu.”

Gg. 16
Tak apalah cerita ini tumpah kepada Fandi. Dia bisa dipercaya. Aku sedikit tenang. Tetapi, belum benar-benar tenang sebelum kau kuterlantarkan. Sepintar apa kau sembunyikansimpananmu? Aku pasti akan temukan. Kau hanya anak tupai yang sedang belajar melompat. Linda. Hem, nama simpananmu bagus juga. Entahlah, apa dia sebagus namanya.
Aku akan menusuk jantung Linda agar dadamu berdarah. Oh, tidak. Tak akan ada darah yang muncrat dari dadamu hanya karena kehilangan Linda, bukan? Kau pasti akan berpaling ke perempuan lain. Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi pemburu para perempuanmu. Aku akan setia mengunjungi rumah mereka dan mengalungkan melati ke lehernya. Bagaimana?

Gg. 17
Hampir setiap sore Risa mengunjungi rumahku. Ya, cuma sekedar bertutur remeh-temeh tentang liku hidupannya. Di balik wajah yang terus berkabut, aku masih menemukan secercah cahaya di sana. Di pendar matanya.
“Kau tahu, pada proses penciptaan perempuan, malaikat sempat protes kapada Tuhan karena menciptakannya dengan begitu lembut,” ujarku mencoba menyulut kembali cahaya yang hampir redup itu.
“Terus?”
“Ternyata malaikat tidak mengetahui bahwa di balik kelembutan itu Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa.”
“Luar biasa!?”
“Ketika malaikat menyentuh dagunya, dia bertanya lagi, ‘Tuhan! makhluk ciptaan ini amat lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya,’ katanya. Padahal itu adalah air mata.”
“Untuk apa?”
“Pertanyaanmu persis seperti yang ditanyakan malaikat. Air mata adalah salah satu caranya mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan.”
“Hebat!”
“Ya, Tuhan memang hebat dalam menciptakan perempuan,” kataku.
“Bukan Tuhan.”
“Siapa?”
“Kau. Maukah di lain waktu kau menceritakan yang lainnya,” dia tersenyum simpul. Aku bahagia.

Gg. 16
Perempuan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Bisa mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki. Mampu tersenyum walau hatinya menjerit. Menyanyi ketika menangis. Menangis saat terharu. bahkan tertawa tatkala ketakutan. Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan…
Terima kasih, Fandi. Aku makin yakin jalanku benar. Aku harus mampu melawan ketidakadilan!

Gg. 17
Wah, besok malam tunanganku akan datang. Aku harus meminta bantuan Risa untuk memasak makanan khas padang. Tetapi apakah dia mau membantuku? Ah, masa bodoh. Tak ada salahnya aku meminta bantuan. Yakin Risa membantuku. Lagi pula tak ada yang sulit baginya. Dia sangat jago dalam urusan ini.

Gg. 16
Fandi memintaku memasak masakan padang? Tak ada alasan bagiku menolaknya. Lagi pula, kapan membalas kebaikannya kalau bukan sekarang. Dia sudah memiliki calon istri. Tak mungkin aku merebut Fandi dari calon istrinya, menjadikan perempuan itu hidup seperti Zombie, sepertiku.
Beruntung sekali perempuan itu. Fandi pemuda baik dan mandiri. Tak sepertimu yang cuma obral janji. Seandainya sejak dulu aku mengenalnya, pasti akan lain cerita. Ah, seandainya bukan seandainya.

Gg. 17
Aku tak sabar menunggu kedatangan tunanganku. Hidupku serasa setengah mati dalam setengah tahun. Apa rambutmu masih tergerai sebahu, dokter? Dokter? Ya! Aku akan menyebutmu Dokter Linda sebagai apresiasi atas selesainya studimu. Jika sudah menikah, aku pasti akan mengubah panggilan itu: memanggil dengan sebutan Sayang. Sementara orang-orang harus memanggilmu dengan sebutan dokter atau nyonya. Ah, sebutan nyonya terlalu muda untukmu. Biarlah mereka menyebutmu ibu dokter saja.

Gg. 16
Malam ini, aku akan membawakanmu segelas anggur bercampur darah pacarmu. Bila perlu, air matamu juga turut kuperas dan kucampurkan agar rasanya nikmat seperti anggur tahun 90-an. Oh, betapa romantisnya. Kita mendentingkan gelas dan bersulam.
Anakku, malam ini aku akan menemui perempuan simpanan ayahmu. Kau harus tahu betapa buruk kelakuannya. Dia tidak hanya menduakan, tetapi menomersekiankan ibumu. Kuharap kau tidak bersedih hati. Kau harus bangga memiliki ibu setegar karang.
Masih ingatkah kau pada ceritanya Om Fandi? Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan!

Gg. 17
Sudah jam setengah satu. Lampunya masih hidup. Apakah Risa belum tidur?

Gg. 16
Seumur hidup baru pagi ini aku menikmati udara segar. Otot-ototku serasa meregang setelah semalam menegang. Anggur yang kujanjikan sudah siap. Besok, aku akan mengajakmu bersulam. Tetapi, izinkan dulu aku memeras air matamu. Dan, maukah kau setia beberapa menit untuk menunggu anggur itu menjadi dingin di dalam kulkas? Aku berjanji akan melayalanimu tanpa menunggu pintamu, seperti dulu. Akan kubaringkan kau. Setelah itu, hanya kita yang tahu…
Lihatlah anakku, Om Fandi sedang duduk manis di beranda. Oh. Tidak. Om Fandi sedang menangis. Sendu. Rambutnya acak-acakan dijambak sendiri. Seharusnya dia berbahagia nanti malam akan menyambut calon istrinya. Apa dia sudah gila?

Annuqayah, 7:52 PM

Sunday, January 22, 2012

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA CIPTA CERPEN INDONESIA 2011 (LCCI 2011) DARI INDONESIAN WRITERS UNIVERSITY

Alhamdulillah, dua jebolan Komunitas Sastra serambi (Kosambhi) PPA Lubangsa, Fandrik Ahmad dan Mawaidi D Mas, terpilih sebagai salah satu pemenang LOMBA CIPTA CERPEN INDONESIA 2011 (LCCI 2011) DARI INDONESIAN WRITERS UNIVERSITY
Berikut Pemenang Lomba Cipta Cerpen Indonesia 2011 (LCCI 2011):
Urutan tidak menunjukan penilaian)
1.Akhir Pertaruhan Lelaki Pecinta Air (Fatih Muftih)
2. Aku Bukan Kurcaci (Sherlly Ken Anaqah Hamidah)
3. Awal Cinta Sepanjang Jalan (Busyra)
4. Badai Batu Drupadi (Inung Setyami)
5. Bittersweet game (Ratna Mar-atush)
6. Cerita Hati (Erma Rotiana D)
7. Indah Pada Waktunya (Asyifa)
8. Jalan (Widya)
9. Jejak Cinta Lesmana (Nenny Makmun)
10. Jika Sore itu tak Hujan (Asef Saeful Anwar)
11. Judul (Sandza)
12. Kabut Surau (Hermawan W Saputra)
13. Kaus Kaki Natal (Dianna Firefly)
14. Lelaki yang Takut pada Sepi (Fandrik Ahmad)
15. Monolog Kerinduan (Mawaidi D Mas)

16. Nyalon Lurah (M.Arif Budiman)
17. Perempuan Pantai Utara (Zamzami Elriza)
18. Permintaan Ajeng (Hilal Ahmad)
19. Racun (Arieska Arief)
20. Senja Mengukir Kisah (Nyi Penengah Dewanti)
Cerpen Favorit Juri:
1. Pahlawan Kecilku (Feby Pratama)
2. Aku Ada (Salma Keant)
3. Cahaya Terakhir (I Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi)
4. Untuk Senyum untuk Ibu di Surga (Wahyu Nunung W)
5. Menuju Moksa (Adi Nugroho)

Terima kasih kepada seluruh peserta LCCI tahun 2011, bagi yang belum “beruntung” bisa mengikuti event sejenis di akhir tahun 2012.

Kepada para pemenang, kami ucapkan selamat atas karya Anda semua, semoga tetap produktif berkarya dan berbagi ilmu kepenulisan kepada sesama.

Untuk selanjutnya, bagi 20 pemenang harap mengirimkan email ke iwu.berkarya@yahoo.com dengan format: Registrasi Mahasiswa IWU 2012_NAMA, yang di dalamnya berisi:

1. Surat pernyataan berisi kebersediaan mengikuti kuliah online bersama Indonesian Writers University.

2. Lampiran daftar riwayat hidup (mohon diisi secara detil)

3. Lampiran contoh karya yang sudah dipublikasi, atau bagi yang belum bisa mengirimkan satu cerpen terbaiknya selain naskah yang diikutkan lomba LCCI 2011.

4. Semua file disatukan dalam satu dokumen .rar arau .zip

Catatan:
1. Peserta yang dinyatakan menang, namun tidak bersedia mengikuti kuliah online bersama Indonesian Writers University dipersilakan tidak mengirimkan dokumen seperti tersebut di atas, namun cerpen karyanya tetap akan dimasukkan dalam buku antologi “Monolog Kerinduan” (antologi pemenang LCCI 2011). Kebijakan yang semula hanya menerbitkan 10 cerpen terbaik, dengan ini disampaikan oleh official IWU, bahwa kebijakan tersebut diubah menjadi: 20 cerpen terbaik dibukukan plus 5 cerpen favorit.

2. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, dan panitia lomba tidak melayani surat menyurat dalam bentuk apapun.

3. Cerpen favorit akan ikut dibukukan bersama 20 pemenang LCCI, dan berhak mendapatkan buku antologi “Monolog Kerinduan” setelah buku ini terbit, dan tidak diikutkan ke dalam kelas menulis.

Salam karya,


Suyatna Pamungkas
(CEO of IWU)

Tuesday, January 17, 2012

“Panggil Aku Haura” Warnai Dunia Literasi Annuqayah


Husnul Khatimah Arief, PPA. Latee II

GULUK-GULUK—Antologi cerpen berjudul “Panggil Aku Haura” karya santri-santri Annuqayah terbit hari Selasa kemarin (10/1). Antologi ini merupakan buah karya santri putra dan putri Annuqayah yang namanya tak asing didengar di kalangan santri. Mereka berasal dari daerah yang beragam, yaitu Latee, Lubangsa dan Karang Jati. Mereka adalah Haura Izzati (Latee), Liesa al-Khas (Latee), Vee (Latee), Abdurrohim el-Sanie (Latee), A’yat Khalili (Latee), Chairy Alief (Lubangsa), Fandrik Ahmad (Lubangsa), Ummul Corn (Karang Jati).

Mereka adalah penulis-penulis produktif yang karyanya selalu muncul di media, baik lokal maupun Nasional. Lahirnya antologi ini semakin menyemarakkan dunia literasi di Annuqayah.

Ide untuk membuat antologi ini pada awalnya lahir dari Abdurrohim El-sanie yang dari dulu memang menginginkan sebuah karya bersama teman-temannya. Keinginan itu kemudian disampaikan pada salah satu temannya, Haura Izzati, yang kebetulan juga cerpenis. Dengan kemauan yang kuat, mereka berdua berupaya mencari penulis Annuqayah yang juga senang menulis cerpen guna melengkapi antologi cerpen tersebut. Pada akhirnya, keduanya berhasil mengumpulkan 18 cerpen buah karya dari delapan penulis.

“Dari dulu saya memang ingin membuat antologi cerpen bersama teman-teman. Tentu saja ini bertujuan untuk mengabadikan karya kami. Dan yang terpenting adalah berproses untuk menjadi penulis besar seperti yang kami impikan,” tutur Abdurrohim El-Sanie saat dihubungi via telepon.

Antologi yang dicetak sebanyak 500 eksemplar ini, lanjut Abdurrohim El-Sanie, akan dipasarkan di Annuqayah dan luar Annuqayah. Tidak jauh beda dari penuturan Abdurrohim El-Sanie, Haura Izzati juga menyatakan hal yang sama, “Saya langsung setuju ketika Rohim menawarkan saya untuk membuat antologi cerpen. Yang jelas, ini adalah proses awal bagi saya dan teman-teman untuk menempa diri agar menjadi penulis hebat,” ungkapnya ketika diwawancarai.

Di dalam antologi ini, pembaca akan dihadapkan dengan kisah-kisah cinta dari berbagai sisinya, karena seluruh cerpen di buku ini memang bernuansa cinta. Meski cinta sudah sekian banyak dikisahkan dari dulu hingga sekarang, tetapi tidak lantas menjadikan buku ini jadul, lawas dan tidak menarik. Justru sebaliknya, penulis berhasil membentuk alur cerita dengan gaya bahasa yang apik dan menggugah, sehingga membuat pembaca larut di dalamnya. Bukan layaknya cinta picisan yang seringkali menggambarkan cinta euforia.

Lewat kisah-kisahnya, penulis ingin memberi pesan pada pembaca bahwa cinta sebenarnya tidak sekedar romantisme. Tetapi lebih dari itu, cinta adalah kekuatan yang mampu menumbuhkan sikap pengorbanan, pengabdian, perjuangan dan perbaikan diri. Cinta tentu akan memberi dampak positif seperti itu bila pemilik cinta mampu menempatkannya pada posisi yang tepat. Demikian pula sebaliknya, cinta akan membahayakan jika pelakunya memperlakukannya dengan cara yang tidak benar.

diunduh dari http://annuqayah.blogspot.com/2012/01/panggil-aku-haura-warnai-dunia-literasi.html

Sunday, January 8, 2012

Jejak Ziarah Maskinah

Langit lembayung. Sore yang bersih dari noda-noda awan. Seraut wajah perempuan tinggi berwajah tirus memintal senja. Sepenuhnya, ia tahu apa yang harus segera dilakukan, mengangkat kenangan tinggi-tinggi sebagai rasa abdi diri seorang istri. Setiap orang memiliki cara berbeda untu mengekspresikan cintanya.

“Kang,” begitulah kata Maskinah menyapa senja.

Berangkatlah perempuan paruh baya itu dengan keranjang berisi bunga dan kenanga yang selalu menemani ziarahnya dalam sepekan. Selembar kerudung bordir putih tipis menyembunyian rambutnya agar tak ditebar angin nakal. Ini adalah perjalanan suci. Kesetiaan, kecintaan, kasih sayang, dan rasa abdi akan ia tebarkan, terselip pada aneka harum bunga dan kenanga di keranjang itu.

Tibalah pada satu titik nadzir tentang kisah hidupnya. Ketulusan dan kesetiaan yang dibalas dengan perasaan tak sebanding dengan pahit buah maja, harus dicecap di usia belia. Namun, keikhlasan tetap akan disuburkan demi menjaga harkat dan martabat seorang suami.

Perahu-perahu terkapar, membujur seurut laut, tengah dilewatinya di tepi muara. Maskinah menatap panjang. Sepanjang perasaanya menjangkau sesuatu yang telah terjadi di atas perahu itu; terkenang saat bercinta di atasnya. Layaknya sepasang gurami di dalam jaring, begitulah ia dan Indrajid saling melekat erat tanpa seorang pun yang mengetahui. Maskinah membuktikan korban setianya pada Indrajid. Ketulusan cinta tak berpikir tentang sebuah norma dan adat.

Lalu, bersegera Maskinah mempercepat langkah. Cukuplah cerita yang bersarang di batok kepalanya sampai di situ. Cukuplah cerita itu mengelupas seperti cat pada kayu perahu yang tergerus dikikis air asin. Ia tak ingin air mata mengamini perjalanannya.
“Kurang apa aku, Kang,” senyum mengembang di bibir berkeruk. Di akar-akar bakau, ia selipkan masa lalu yang masih tertancap condong.

Tibalah ia di sepetak tanah yang cukup luas membentang ke selatan. Semilir angin terselip deburan ombak, menarikan kain putih yang melilit kepalanya. Sekuntum bunga kamboja, pucat dan layu, lepas dari tangkainya. Kamboja itu jatuh membentur kepala Maskinah. Putihnya sebanding dengan kerudung maskawin dari Indrajid itu.

Maskinah memungut kamboja itu perlahan. Saat kamboja di tangannya, merebaklah aroma kematian cinta.

Maskinah menaruh kamboja itu ke dalam keranjang. Langkahnya berhenti pada gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput-rumput kecil. Rimbun siwalan yang berjarak tak cukup jauh menyembunyikan dirinya dari pelukan senja. Angin menghadirkan ketenangan ke tubuh yang kelihatan rapuh itu. Sejenak matanya terpejam, lalu diikuti ceracau tanpa suara, menyapa nisan bertuliskan nama orang yang tak bernyawa itu.

Maskinah menundukkan kepala. Mengambil mawar dan menaburkan di atas pusara. Dalam sekejap, mawar, kenanga, dan kamboja yang baru dipungutnya sudah rata. Terbayanglah ia akan mawar dan melati bertaburan di teras rumah pada hari pernikahannya.

“Ini bukti kesetiaanku, kang,” gumamnya memecah hening pekuburan. Tangannya meraba serta mengelus nisan kayu berbentuk kubah. Sentuhannya mengalirkan doa. Ia buka mushaf kecil dan larut dalam sentuhan lembut doa yang panjang. Ayat-ayat yang dibacanya nyaris tak terdengar. Lirih tapi santun.

Angin mendesir pelan. Kerudungnya berayun. Beberapa bunga kamboja kembali gugur, membentuk satu gugusan. Tapi Maskinah tak sempat memungutnya kembali karena tengah lebur dalam semesta doa. Pada rapal mantra yang dibacanya, lirih suara menyebut sebuah nama, mengikat dengan simpul-simpul tawasul. Nama yang terpahat pada kayu nisan itu. Indrajid bin Slamet.

Empat tahun silam, masih lekat pada ingatannya. Serupa kerak pada dinding perahu yang mengisahkan dua kenangan yang kini bersimpangan jalan dengan kehendaknya. Teringatlah Maskinah ketika kedua orangtua Indrajid datang melamar sekaligus akan bhek-rembek rencana pernikahan bila lamara mereka langsung diterima.

“Bagaimana, Nak. Mau dengan lamaran nak Indrajid?” kata emak Maskinah.

Maskinah menunduk. Ia tak bisa menjawab lamaran itu. Lalu, pandangannya mencari dan mencuri sepotong wajah orang yang hendak melamarnya. Namun, wajah yang ingin dicuri lebih dulu menatap tajam. Segera Maskinah bantingkan lirikannya ke lantai. Indrajid mesem-mesem melihatnya salah tingkah.

“Kata reng konah perempuan itu setuju kalau diam. Bagaimana, Nyi?” timbal emak Indrajid.

“Baiklah kalau begitu. Kami sekeluarga dengan lapang menerima lamaran keluarga Nak Indrajid,” Jawab emaknya.

Jawaban yang searah dengan perasaan Maskinah. Tentu, ia amat berbahagia mendapati Indrajid memenuhi janjinya. Tak menyesal ia mengorbankan darah mengucur di tengah selangkangannya sebelum kalimat sakral ijab-qabul dibacakan. Kini, baginya, lelaki itu juga telah membuktikan korban setianya saat bercinta di atas perahu. Paling tak, lamaran itu sudah mengantarkan perasaannya pada sebuah titik pertanggungjawaban.

Indrajid, orang yang dipandang cukup berpendidikan. Meski seorang buruh nelayan, ia sempat menamatkan pendidikan sampai sekolah tingkat atas. Jarang-jarang ada pemuda nelayan yang tamat sekolah sampai setinggi itu. Paling banter ikut si bapak melaut. Menenteng jala lebih membanggakan ketimbang memanggul tas. Sedangkan Maskinah gadis pesisir yang tak pernah mengenal dunia pendidikan. Orang tuanya hanya mengenali pendidikan di surau-surau menjelang petang. Mengajar mengeja alif, ba, ta, tsa… Selebihnya belajar menanak nasi, mengolah sayur, dan menjemur ikan.

Kesehariannya tak lebih membantu emak berjualan nasi, berkeliling rumah-rumah kampung nelayan, setiap pagi. Sorenya, ia mencari kerang di pasir basah. Sebagai perempuan penjual nasi, tentu banyak pemuda kampung yang mengenalinya. Perempuan yang selalu menenakan sampir lorek tanpa sandal. Ia tak begitu cantik. Hanya karena warna kulit lebih putih dari perempuan pesisir lainnya, ia lebih diunggulkan.

“Nduk, kamu paraben , ndak perlu sekolah. Yang penting bisa masak enak, pasti sudah disayang suami,” begitulah cara emak mengajari ilmu berumah tangga. Seperti sebuah sabda, kata-kata itu selalu ia dipegang.

***
Matahari hampir rebah usai setitik air jatuh dari matanya. Pandangan Maskinah menghujam datar pada pusara itu. Ia mengeja abjad demi abjad di nisan untuk mengeja sesuatu yang masih tertinggal. Jauh sebelum kematian menjemput suaminya.

Sebenarnya banyak kenangan manis yang tersimpul. Namun, setiap kali mengingatnya selalu saja ada lorong gelap yang membengkokkan jalannya. Tetapi, kenangan datang bukan untuk dihukumi, tetapi memfungsikannya sebagai pelita untuk meneruskan perjalanan.

“Keinginanmu segera kakang kabulkan,” ucap Indrajid seraya memeluk istrinya.
“Keinginan apa, Kang?” Maskinah heran.

“Lho, katanya ingin memiliki perahu sendiri. Sekarang aku akan membelinya kepada Nyi Talhah, tapi dengan cicilan.”

“Apa cukup bayaranmu, Kang?”

“Nyi Talhah itu orangnya baik. Sudahlah, jangan banyak mikir. Sekarang, kamu tinggal tanda tangani surat ini,” Indrajid menyodorkan selembar kertas.

Ini surat apa? Tanda tangannya di mana?” Maskinah kebingungan.

Indrajid memahami kekakuan istinya.

“Ini, akad persetujuan kita membeli perahu dengan harga cicilan. Sini tanganmu, pakai cap jempol saja.”

Dengan telaten Indrajid menuntun tangan Maskinah mengoleskan sedikit tinta dan meletakkan jempol istrinya pada selembar kertas itu.

Jadilah, cap jempol.

Maskinah terharu. Matanya berkunang-kunang. Betapapun, itu adalah surprize yang sangat melambungkan hatinya meski kemudian terpelanting secara tiba-tiba. Maskinah tak tahu kalau surat itu bukanlah akad persetujuan harga cicilan kepemilikan perahu. Surat itu adalah surat izin poligami. Kelemahan maskinah yang Tak tahu baca-tulis memudahkannya memberikan izin suaminya berpaling pada perempuan lain. Ya, surat persetujuan menikahi Supinah, janda kembang anak Nyai Talhah juragannya, terlanjur ditanda tanganinya. Selembar kertas yang telah melenyapkan rumah tangganya.

***
Satu lagi kuburan yang selalu dikunjungi Maskinah di pekuburan itu. letaknya tak jauh dari pekuburan suaminya. Gundukan tanah itu tak lain adalah kuburan emaknya yang telah wafar sebelum peristiwa kematian cintanya terjadi. Selembar daun kamboja gugur. Karena embusan angin atau karena batas umur? Entahlah. Sayup suara debur ombak mengisi pelataran kuburan yang hening.

Kembali ia buka mushaf kecil di tangannya. Serak suara menyimpulkan doa-doa kepada orang yang telah banyak mengajarinya tentang kehidupan. Di pusara itu, seketika panas hati Maskinah ditumpahkan. Tanpa ada yang disembunyikan.

“Mak, aku minta maaf. Aku tak bisa jadi istri solehah seperti yang selalu emak ajarkan. Aku tak bisa menjadi diri emak yang sabar menahan kemarahan bapak. Aku tak bisa…,” debur ombak menyembunyian tangisnya.

“Aku tak tahu, apakah jalanku untuk bertobat akan dilapangkan oleh-Nya. Aku tak tahu, apakah masih ada tempat di surga bagi orang yang telah membunuh suaminya sendiri. Tetapi. Aku masih memiliki keyakinan kalau emak masih memiliki surga untukku. Bukankah emak pernah mengajarkan kalau setiap ibu menyimpan surga di telapak kaki untuk anaknya,” jerit hati semakin keras. Air matanya tumpah bermuara di pusara itu.

“Aku berjanji akan mengajarkan cucu emak untuk selalu taat dan patuh pada suami. Aku akan mengatakan bahwa bapaknya adalah seorang suami yang sangat bertanggungjawab,” desahnya. “Tetapi maaf, mak. Aku tak akan mengajarkan, apalagi mencontohkan cara-cara emak mengajarianku demi masa depan anakku. Emak tenang saja, aku tak akan mengatakan pada cucu emak kalau perempuan itu tak perlu bersekolah. Aku akan mengatakan bahwa pendidikan agama dan umum sama pentingnya.”

“Seandainya kakang dan emak masih hidup, tentu sangat bangga melihat Jamilah selalu juara kelas kelas. Aku tak akan berhenti menyekolahkannya sampai ia merasakan nikmatnya menjadi seorang sarjana,” ucapnya lirih. Tak ada lagi air mata yang tumpah. Matanya semerah mega.

Maskinah memungut kamboja yang tergeletak di atas pusara. Ia mencium bunga itu serupa mengecup kening emaknya. Lalu, Maskinah meletakkannya kembali di atas pusara. Aliran air mata masih membekas serupa kenangan yang terus mengalir dalam perjalanan ziarahnya.

Annuqayah, 01-11-11, 10:11 PM