Friday, February 10, 2012

Skandal

Gg. 17Tatapan perempuan itu beku. Seperti es. Perempuan bermata ilalang, teduh tapi sunyi. Aku tak menemukan bias cahaya di seraut wajahnya yang oval. Dia sedang menyorongkan wajah. Bibirnya bergerak samar. Melafalkan sesuatu pada aneka bunga yang berjejer di beranda rumahnya. Sedang bernyayikah dia untuk bunga-bunga itu?
Ah, dia hanya mencari perhatian. Hem, perempuan memang selalu ingin mencari simpati.

Gg. 16
Apakah lelaki itu orang baru di rumah itu? Sejak kapan berada di sini? Hem, Sepagi ini dia sudah rapi. Sepertinya lelaki bertipikal pekerja keras. Tidak. Tidak. Dia hanya seorang pegawai negeri yang dituntut waktu melayani abdinya. Harus kuakui, lelaki itu memang mandiri. Di usianya yang demikian muda sudah mengenakan baju safari. Mengagumkan!
Berani-beraninya dia melempar senyum. Huh, pasti hanya sekedar basa basi. Masa bodoh. Apa peduliku. Lelaki di mana pun selalu sama; para bedebah yang lalu lalang sejenak hanya sekadar menarik simpati wanita.

Gg. 17
Perilaku perempuan itu kok tambah aneh. Kemarin marah-marah sendiri, mengumpat segala yang ada di depannya. Sekarang terdengar lentingan kaca pecah dan teriakan memilukan. Dua vas bunga di depan pintunya pun dibanting. Bukankah setiap pagi dia selalu bernyanyi untuk bunga-bunga itu? Gilakah perempuan itu?
Tidurku benar-bebar terganggu. Suara tangisnya melengking di gendang telingaku. Pilu. Aku paling tidak tega mendengar tangis seorang perempuan. Lemahku ada pada air matanya. Aku beranjak ke beranda. Perempuan itu tengah duduk mendekap di beranda. Wajahnya seperti kabut; kelam dan suram. Rambut acak-acakan karena dijambak sendiri.

Gg. 16
Ada yang mengetuk pintu? Kulihat jam dinding, masih jam lima pagi. Remang di luar jendela membuatku malas. Ah, jangan-jangan itu Mas Fajri. Aku akan menuntut segala janji-janjinya!
Ternyata Lelaki itu. Aku kecewa.
“Maaf, apakah anda memiliki nomor telepon tukang servis WC? Sepertinya WC di rumahku mampet.”
“Anda siapa? Maaf tak sempat ganti baju,” selorohku. Matanya menelanjangi tubuhku. Semoga tak menyangkaku yang bukan-bukan.
“Saya Fandi, tetangga sebelah. Baru seminggu saya tinggal di kompleks ini. Rumah kita sehadapan.” Tanpa disebut, aku sudah tahu kalau rumahnya sehadapan.
“Tunggu sebentar.” Kutinggalkan sejenak lelaki itu. Dia memerhatikan segala macam benda di rumahku. Halaman pun tak luput dari sorot matanya. “Ini nomor teleponnya. Kalau tidak bisa, cobalah nomor yang satunya,” kataku.
“Terima kasih.” Lelaki itu pergi dengan mengibas-ngibaskan nomor telpon yang telah kuberikan.

Gg. 17
Perempuan itu benar aneh. Cuma di bagian luar rumahnya saja yang menunjukkan keindahan. Sedangkan tata ruangnya tak ada kesan rapi. Lantai kotor. Semua berantakan. Asbak di atas meja yang penuh dengan puntung rokok, terbalik menumpahkan isinya.

Gg. 16
Semakin hari, Fandi terus memerhatikanku. Apakah dia menemukan sesuatu yang istimewa?

Gg. 17
Perempuan itu tinggal sendiri. Benar, dia perokok. Kerapkali aku menemukannya nge-fly, menikmati hisapan demi hisapan sebelum dihempaskan. Lalu, dia memandang lekat asap membubung yang baru lepas dari mulutnya.
Aku tidak suka perempuan perokok.

Gg. 16
Hem, jangan harap kau bisa melarikan diri dariku. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di kaki dan mengakui bahwa yang ada di rahimku adalah darahmu. Tak akan semudah itu kau melupakan Risa, perempuan yang kini tak pernah kau beri kesempatan untuk bermimpi pelangi. Kau harus memenuhi segala janjimu. Termasuk singgasana yang kau janjikan. Apa kau bahagia dengan kekasihmu yang baru itu? Jangan harap.

Gg. 17
Aku terkejut. Perempuan itu duduk di depan pintu.
“Maaf, boleh aku masuk?”
“Ya, silahkan.”
Kejutku jadi gugup. Seksi nian dia dengan balutan kaos u can see dan celana Jeans. Senyum mengembang manja. Lekuk tubuhnya memompa jantung berdenyut lebih cepat. Namun sayang, pakaian mini itu hanya membuat lekuk perutnya yang jelek kelihatan. Gilakah? Ah…
“Arsitektur yang bagus,” gumamnya.
“Tidak juga. Ruangan ini sama saja dengan ruang di rumahmu. Hanya penataannya saja yang berbeda,” jelasku.
“Ya, ya! Maksudku tata ruangnya. Tidak seperti rumahku. Kacau. Kapan-kapan maukah kau memperbagus tata ruang rumahku?”
“Dengan senang hati.”
Perempuan itu mondar-mandir. Sorot matanya menggeledah seluruh isi ruangan yang hanya berukuran kurang lebih enam kali lima meter itu. Sofa kecil, meja pendek, televisi dua puluh sembilan inci lengkap dengan sound system dan DVD tak lepas dari padangannya.
“Oh, ya. Silahkan duduk. Mau munum apa?”
“Tidak terima kasih. Namaku Marisa. Panggil saja aku Risa. Itu foto siapa?”
“Oh, tunanganku. Sebentar lagi dia akan menjadi istriku,” ungkapku bangga.
“O…Selamat! Semoga menjadi pasangan yang serasi. Maaf, aku harus pulang.” Perempuan itu berlalu sebelum aku mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Misterius. Kesimpulanku hampir mencapai taraf kegilaan.

Gg. 16
Tidak! Tidak! Seharusnya bukan lelaki itu. Tetapi kau. Ya, kau!

Gg. 17
Perempuan itu, maksudku Risa, datang lagi dengan seonggok wajah seperti mayat. Tak ada cahaya sama sekali di parasnya. Teh yang kusodorkan langsung tandas. Diseruput tuntas tak berbekas.
Senandung elegi mengalun dari bibirnya yang kering dan pecah: hidup Risa terperosok oleh lelaki hidung belang yang mengatakan telah berjanji menikahinya. Hampir empat bulan dia menunggu lelaki bernama Fajri. Bukan dia yang memerlukan lelaki itu, tetapi segumpal darah di perutnya.
“Apa kau sudah menghubunginya.”
“Dia selalu berjanji. Aku muak itu.”

Gg. 16
Tak apalah cerita ini tumpah kepada Fandi. Dia bisa dipercaya. Aku sedikit tenang. Tetapi, belum benar-benar tenang sebelum kau kuterlantarkan. Sepintar apa kau sembunyikansimpananmu? Aku pasti akan temukan. Kau hanya anak tupai yang sedang belajar melompat. Linda. Hem, nama simpananmu bagus juga. Entahlah, apa dia sebagus namanya.
Aku akan menusuk jantung Linda agar dadamu berdarah. Oh, tidak. Tak akan ada darah yang muncrat dari dadamu hanya karena kehilangan Linda, bukan? Kau pasti akan berpaling ke perempuan lain. Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi pemburu para perempuanmu. Aku akan setia mengunjungi rumah mereka dan mengalungkan melati ke lehernya. Bagaimana?

Gg. 17
Hampir setiap sore Risa mengunjungi rumahku. Ya, cuma sekedar bertutur remeh-temeh tentang liku hidupannya. Di balik wajah yang terus berkabut, aku masih menemukan secercah cahaya di sana. Di pendar matanya.
“Kau tahu, pada proses penciptaan perempuan, malaikat sempat protes kapada Tuhan karena menciptakannya dengan begitu lembut,” ujarku mencoba menyulut kembali cahaya yang hampir redup itu.
“Terus?”
“Ternyata malaikat tidak mengetahui bahwa di balik kelembutan itu Tuhan memberikan kekuatan yang luar biasa.”
“Luar biasa!?”
“Ketika malaikat menyentuh dagunya, dia bertanya lagi, ‘Tuhan! makhluk ciptaan ini amat lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya,’ katanya. Padahal itu adalah air mata.”
“Untuk apa?”
“Pertanyaanmu persis seperti yang ditanyakan malaikat. Air mata adalah salah satu caranya mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan.”
“Hebat!”
“Ya, Tuhan memang hebat dalam menciptakan perempuan,” kataku.
“Bukan Tuhan.”
“Siapa?”
“Kau. Maukah di lain waktu kau menceritakan yang lainnya,” dia tersenyum simpul. Aku bahagia.

Gg. 16
Perempuan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Bisa mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki. Mampu tersenyum walau hatinya menjerit. Menyanyi ketika menangis. Menangis saat terharu. bahkan tertawa tatkala ketakutan. Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan…
Terima kasih, Fandi. Aku makin yakin jalanku benar. Aku harus mampu melawan ketidakadilan!

Gg. 17
Wah, besok malam tunanganku akan datang. Aku harus meminta bantuan Risa untuk memasak makanan khas padang. Tetapi apakah dia mau membantuku? Ah, masa bodoh. Tak ada salahnya aku meminta bantuan. Yakin Risa membantuku. Lagi pula tak ada yang sulit baginya. Dia sangat jago dalam urusan ini.

Gg. 16
Fandi memintaku memasak masakan padang? Tak ada alasan bagiku menolaknya. Lagi pula, kapan membalas kebaikannya kalau bukan sekarang. Dia sudah memiliki calon istri. Tak mungkin aku merebut Fandi dari calon istrinya, menjadikan perempuan itu hidup seperti Zombie, sepertiku.
Beruntung sekali perempuan itu. Fandi pemuda baik dan mandiri. Tak sepertimu yang cuma obral janji. Seandainya sejak dulu aku mengenalnya, pasti akan lain cerita. Ah, seandainya bukan seandainya.

Gg. 17
Aku tak sabar menunggu kedatangan tunanganku. Hidupku serasa setengah mati dalam setengah tahun. Apa rambutmu masih tergerai sebahu, dokter? Dokter? Ya! Aku akan menyebutmu Dokter Linda sebagai apresiasi atas selesainya studimu. Jika sudah menikah, aku pasti akan mengubah panggilan itu: memanggil dengan sebutan Sayang. Sementara orang-orang harus memanggilmu dengan sebutan dokter atau nyonya. Ah, sebutan nyonya terlalu muda untukmu. Biarlah mereka menyebutmu ibu dokter saja.

Gg. 16
Malam ini, aku akan membawakanmu segelas anggur bercampur darah pacarmu. Bila perlu, air matamu juga turut kuperas dan kucampurkan agar rasanya nikmat seperti anggur tahun 90-an. Oh, betapa romantisnya. Kita mendentingkan gelas dan bersulam.
Anakku, malam ini aku akan menemui perempuan simpanan ayahmu. Kau harus tahu betapa buruk kelakuannya. Dia tidak hanya menduakan, tetapi menomersekiankan ibumu. Kuharap kau tidak bersedih hati. Kau harus bangga memiliki ibu setegar karang.
Masih ingatkah kau pada ceritanya Om Fandi? Perempuan mampu berdiri melawan ketidakadilan!

Gg. 17
Sudah jam setengah satu. Lampunya masih hidup. Apakah Risa belum tidur?

Gg. 16
Seumur hidup baru pagi ini aku menikmati udara segar. Otot-ototku serasa meregang setelah semalam menegang. Anggur yang kujanjikan sudah siap. Besok, aku akan mengajakmu bersulam. Tetapi, izinkan dulu aku memeras air matamu. Dan, maukah kau setia beberapa menit untuk menunggu anggur itu menjadi dingin di dalam kulkas? Aku berjanji akan melayalanimu tanpa menunggu pintamu, seperti dulu. Akan kubaringkan kau. Setelah itu, hanya kita yang tahu…
Lihatlah anakku, Om Fandi sedang duduk manis di beranda. Oh. Tidak. Om Fandi sedang menangis. Sendu. Rambutnya acak-acakan dijambak sendiri. Seharusnya dia berbahagia nanti malam akan menyambut calon istrinya. Apa dia sudah gila?

Annuqayah, 7:52 PM

Sunday, January 22, 2012

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA CIPTA CERPEN INDONESIA 2011 (LCCI 2011) DARI INDONESIAN WRITERS UNIVERSITY

Alhamdulillah, dua jebolan Komunitas Sastra serambi (Kosambhi) PPA Lubangsa, Fandrik Ahmad dan Mawaidi D Mas, terpilih sebagai salah satu pemenang LOMBA CIPTA CERPEN INDONESIA 2011 (LCCI 2011) DARI INDONESIAN WRITERS UNIVERSITY
Berikut Pemenang Lomba Cipta Cerpen Indonesia 2011 (LCCI 2011):
Urutan tidak menunjukan penilaian)
1.Akhir Pertaruhan Lelaki Pecinta Air (Fatih Muftih)
2. Aku Bukan Kurcaci (Sherlly Ken Anaqah Hamidah)
3. Awal Cinta Sepanjang Jalan (Busyra)
4. Badai Batu Drupadi (Inung Setyami)
5. Bittersweet game (Ratna Mar-atush)
6. Cerita Hati (Erma Rotiana D)
7. Indah Pada Waktunya (Asyifa)
8. Jalan (Widya)
9. Jejak Cinta Lesmana (Nenny Makmun)
10. Jika Sore itu tak Hujan (Asef Saeful Anwar)
11. Judul (Sandza)
12. Kabut Surau (Hermawan W Saputra)
13. Kaus Kaki Natal (Dianna Firefly)
14. Lelaki yang Takut pada Sepi (Fandrik Ahmad)
15. Monolog Kerinduan (Mawaidi D Mas)

16. Nyalon Lurah (M.Arif Budiman)
17. Perempuan Pantai Utara (Zamzami Elriza)
18. Permintaan Ajeng (Hilal Ahmad)
19. Racun (Arieska Arief)
20. Senja Mengukir Kisah (Nyi Penengah Dewanti)
Cerpen Favorit Juri:
1. Pahlawan Kecilku (Feby Pratama)
2. Aku Ada (Salma Keant)
3. Cahaya Terakhir (I Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi)
4. Untuk Senyum untuk Ibu di Surga (Wahyu Nunung W)
5. Menuju Moksa (Adi Nugroho)

Terima kasih kepada seluruh peserta LCCI tahun 2011, bagi yang belum “beruntung” bisa mengikuti event sejenis di akhir tahun 2012.

Kepada para pemenang, kami ucapkan selamat atas karya Anda semua, semoga tetap produktif berkarya dan berbagi ilmu kepenulisan kepada sesama.

Untuk selanjutnya, bagi 20 pemenang harap mengirimkan email ke iwu.berkarya@yahoo.com dengan format: Registrasi Mahasiswa IWU 2012_NAMA, yang di dalamnya berisi:

1. Surat pernyataan berisi kebersediaan mengikuti kuliah online bersama Indonesian Writers University.

2. Lampiran daftar riwayat hidup (mohon diisi secara detil)

3. Lampiran contoh karya yang sudah dipublikasi, atau bagi yang belum bisa mengirimkan satu cerpen terbaiknya selain naskah yang diikutkan lomba LCCI 2011.

4. Semua file disatukan dalam satu dokumen .rar arau .zip

Catatan:
1. Peserta yang dinyatakan menang, namun tidak bersedia mengikuti kuliah online bersama Indonesian Writers University dipersilakan tidak mengirimkan dokumen seperti tersebut di atas, namun cerpen karyanya tetap akan dimasukkan dalam buku antologi “Monolog Kerinduan” (antologi pemenang LCCI 2011). Kebijakan yang semula hanya menerbitkan 10 cerpen terbaik, dengan ini disampaikan oleh official IWU, bahwa kebijakan tersebut diubah menjadi: 20 cerpen terbaik dibukukan plus 5 cerpen favorit.

2. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, dan panitia lomba tidak melayani surat menyurat dalam bentuk apapun.

3. Cerpen favorit akan ikut dibukukan bersama 20 pemenang LCCI, dan berhak mendapatkan buku antologi “Monolog Kerinduan” setelah buku ini terbit, dan tidak diikutkan ke dalam kelas menulis.

Salam karya,


Suyatna Pamungkas
(CEO of IWU)

Tuesday, January 17, 2012

“Panggil Aku Haura” Warnai Dunia Literasi Annuqayah


Husnul Khatimah Arief, PPA. Latee II

GULUK-GULUK—Antologi cerpen berjudul “Panggil Aku Haura” karya santri-santri Annuqayah terbit hari Selasa kemarin (10/1). Antologi ini merupakan buah karya santri putra dan putri Annuqayah yang namanya tak asing didengar di kalangan santri. Mereka berasal dari daerah yang beragam, yaitu Latee, Lubangsa dan Karang Jati. Mereka adalah Haura Izzati (Latee), Liesa al-Khas (Latee), Vee (Latee), Abdurrohim el-Sanie (Latee), A’yat Khalili (Latee), Chairy Alief (Lubangsa), Fandrik Ahmad (Lubangsa), Ummul Corn (Karang Jati).

Mereka adalah penulis-penulis produktif yang karyanya selalu muncul di media, baik lokal maupun Nasional. Lahirnya antologi ini semakin menyemarakkan dunia literasi di Annuqayah.

Ide untuk membuat antologi ini pada awalnya lahir dari Abdurrohim El-sanie yang dari dulu memang menginginkan sebuah karya bersama teman-temannya. Keinginan itu kemudian disampaikan pada salah satu temannya, Haura Izzati, yang kebetulan juga cerpenis. Dengan kemauan yang kuat, mereka berdua berupaya mencari penulis Annuqayah yang juga senang menulis cerpen guna melengkapi antologi cerpen tersebut. Pada akhirnya, keduanya berhasil mengumpulkan 18 cerpen buah karya dari delapan penulis.

“Dari dulu saya memang ingin membuat antologi cerpen bersama teman-teman. Tentu saja ini bertujuan untuk mengabadikan karya kami. Dan yang terpenting adalah berproses untuk menjadi penulis besar seperti yang kami impikan,” tutur Abdurrohim El-Sanie saat dihubungi via telepon.

Antologi yang dicetak sebanyak 500 eksemplar ini, lanjut Abdurrohim El-Sanie, akan dipasarkan di Annuqayah dan luar Annuqayah. Tidak jauh beda dari penuturan Abdurrohim El-Sanie, Haura Izzati juga menyatakan hal yang sama, “Saya langsung setuju ketika Rohim menawarkan saya untuk membuat antologi cerpen. Yang jelas, ini adalah proses awal bagi saya dan teman-teman untuk menempa diri agar menjadi penulis hebat,” ungkapnya ketika diwawancarai.

Di dalam antologi ini, pembaca akan dihadapkan dengan kisah-kisah cinta dari berbagai sisinya, karena seluruh cerpen di buku ini memang bernuansa cinta. Meski cinta sudah sekian banyak dikisahkan dari dulu hingga sekarang, tetapi tidak lantas menjadikan buku ini jadul, lawas dan tidak menarik. Justru sebaliknya, penulis berhasil membentuk alur cerita dengan gaya bahasa yang apik dan menggugah, sehingga membuat pembaca larut di dalamnya. Bukan layaknya cinta picisan yang seringkali menggambarkan cinta euforia.

Lewat kisah-kisahnya, penulis ingin memberi pesan pada pembaca bahwa cinta sebenarnya tidak sekedar romantisme. Tetapi lebih dari itu, cinta adalah kekuatan yang mampu menumbuhkan sikap pengorbanan, pengabdian, perjuangan dan perbaikan diri. Cinta tentu akan memberi dampak positif seperti itu bila pemilik cinta mampu menempatkannya pada posisi yang tepat. Demikian pula sebaliknya, cinta akan membahayakan jika pelakunya memperlakukannya dengan cara yang tidak benar.

diunduh dari http://annuqayah.blogspot.com/2012/01/panggil-aku-haura-warnai-dunia-literasi.html

Sunday, January 8, 2012

Jejak Ziarah Maskinah

Langit lembayung. Sore yang bersih dari noda-noda awan. Seraut wajah perempuan tinggi berwajah tirus memintal senja. Sepenuhnya, ia tahu apa yang harus segera dilakukan, mengangkat kenangan tinggi-tinggi sebagai rasa abdi diri seorang istri. Setiap orang memiliki cara berbeda untu mengekspresikan cintanya.

“Kang,” begitulah kata Maskinah menyapa senja.

Berangkatlah perempuan paruh baya itu dengan keranjang berisi bunga dan kenanga yang selalu menemani ziarahnya dalam sepekan. Selembar kerudung bordir putih tipis menyembunyian rambutnya agar tak ditebar angin nakal. Ini adalah perjalanan suci. Kesetiaan, kecintaan, kasih sayang, dan rasa abdi akan ia tebarkan, terselip pada aneka harum bunga dan kenanga di keranjang itu.

Tibalah pada satu titik nadzir tentang kisah hidupnya. Ketulusan dan kesetiaan yang dibalas dengan perasaan tak sebanding dengan pahit buah maja, harus dicecap di usia belia. Namun, keikhlasan tetap akan disuburkan demi menjaga harkat dan martabat seorang suami.

Perahu-perahu terkapar, membujur seurut laut, tengah dilewatinya di tepi muara. Maskinah menatap panjang. Sepanjang perasaanya menjangkau sesuatu yang telah terjadi di atas perahu itu; terkenang saat bercinta di atasnya. Layaknya sepasang gurami di dalam jaring, begitulah ia dan Indrajid saling melekat erat tanpa seorang pun yang mengetahui. Maskinah membuktikan korban setianya pada Indrajid. Ketulusan cinta tak berpikir tentang sebuah norma dan adat.

Lalu, bersegera Maskinah mempercepat langkah. Cukuplah cerita yang bersarang di batok kepalanya sampai di situ. Cukuplah cerita itu mengelupas seperti cat pada kayu perahu yang tergerus dikikis air asin. Ia tak ingin air mata mengamini perjalanannya.
“Kurang apa aku, Kang,” senyum mengembang di bibir berkeruk. Di akar-akar bakau, ia selipkan masa lalu yang masih tertancap condong.

Tibalah ia di sepetak tanah yang cukup luas membentang ke selatan. Semilir angin terselip deburan ombak, menarikan kain putih yang melilit kepalanya. Sekuntum bunga kamboja, pucat dan layu, lepas dari tangkainya. Kamboja itu jatuh membentur kepala Maskinah. Putihnya sebanding dengan kerudung maskawin dari Indrajid itu.

Maskinah memungut kamboja itu perlahan. Saat kamboja di tangannya, merebaklah aroma kematian cinta.

Maskinah menaruh kamboja itu ke dalam keranjang. Langkahnya berhenti pada gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput-rumput kecil. Rimbun siwalan yang berjarak tak cukup jauh menyembunyikan dirinya dari pelukan senja. Angin menghadirkan ketenangan ke tubuh yang kelihatan rapuh itu. Sejenak matanya terpejam, lalu diikuti ceracau tanpa suara, menyapa nisan bertuliskan nama orang yang tak bernyawa itu.

Maskinah menundukkan kepala. Mengambil mawar dan menaburkan di atas pusara. Dalam sekejap, mawar, kenanga, dan kamboja yang baru dipungutnya sudah rata. Terbayanglah ia akan mawar dan melati bertaburan di teras rumah pada hari pernikahannya.

“Ini bukti kesetiaanku, kang,” gumamnya memecah hening pekuburan. Tangannya meraba serta mengelus nisan kayu berbentuk kubah. Sentuhannya mengalirkan doa. Ia buka mushaf kecil dan larut dalam sentuhan lembut doa yang panjang. Ayat-ayat yang dibacanya nyaris tak terdengar. Lirih tapi santun.

Angin mendesir pelan. Kerudungnya berayun. Beberapa bunga kamboja kembali gugur, membentuk satu gugusan. Tapi Maskinah tak sempat memungutnya kembali karena tengah lebur dalam semesta doa. Pada rapal mantra yang dibacanya, lirih suara menyebut sebuah nama, mengikat dengan simpul-simpul tawasul. Nama yang terpahat pada kayu nisan itu. Indrajid bin Slamet.

Empat tahun silam, masih lekat pada ingatannya. Serupa kerak pada dinding perahu yang mengisahkan dua kenangan yang kini bersimpangan jalan dengan kehendaknya. Teringatlah Maskinah ketika kedua orangtua Indrajid datang melamar sekaligus akan bhek-rembek rencana pernikahan bila lamara mereka langsung diterima.

“Bagaimana, Nak. Mau dengan lamaran nak Indrajid?” kata emak Maskinah.

Maskinah menunduk. Ia tak bisa menjawab lamaran itu. Lalu, pandangannya mencari dan mencuri sepotong wajah orang yang hendak melamarnya. Namun, wajah yang ingin dicuri lebih dulu menatap tajam. Segera Maskinah bantingkan lirikannya ke lantai. Indrajid mesem-mesem melihatnya salah tingkah.

“Kata reng konah perempuan itu setuju kalau diam. Bagaimana, Nyi?” timbal emak Indrajid.

“Baiklah kalau begitu. Kami sekeluarga dengan lapang menerima lamaran keluarga Nak Indrajid,” Jawab emaknya.

Jawaban yang searah dengan perasaan Maskinah. Tentu, ia amat berbahagia mendapati Indrajid memenuhi janjinya. Tak menyesal ia mengorbankan darah mengucur di tengah selangkangannya sebelum kalimat sakral ijab-qabul dibacakan. Kini, baginya, lelaki itu juga telah membuktikan korban setianya saat bercinta di atas perahu. Paling tak, lamaran itu sudah mengantarkan perasaannya pada sebuah titik pertanggungjawaban.

Indrajid, orang yang dipandang cukup berpendidikan. Meski seorang buruh nelayan, ia sempat menamatkan pendidikan sampai sekolah tingkat atas. Jarang-jarang ada pemuda nelayan yang tamat sekolah sampai setinggi itu. Paling banter ikut si bapak melaut. Menenteng jala lebih membanggakan ketimbang memanggul tas. Sedangkan Maskinah gadis pesisir yang tak pernah mengenal dunia pendidikan. Orang tuanya hanya mengenali pendidikan di surau-surau menjelang petang. Mengajar mengeja alif, ba, ta, tsa… Selebihnya belajar menanak nasi, mengolah sayur, dan menjemur ikan.

Kesehariannya tak lebih membantu emak berjualan nasi, berkeliling rumah-rumah kampung nelayan, setiap pagi. Sorenya, ia mencari kerang di pasir basah. Sebagai perempuan penjual nasi, tentu banyak pemuda kampung yang mengenalinya. Perempuan yang selalu menenakan sampir lorek tanpa sandal. Ia tak begitu cantik. Hanya karena warna kulit lebih putih dari perempuan pesisir lainnya, ia lebih diunggulkan.

“Nduk, kamu paraben , ndak perlu sekolah. Yang penting bisa masak enak, pasti sudah disayang suami,” begitulah cara emak mengajari ilmu berumah tangga. Seperti sebuah sabda, kata-kata itu selalu ia dipegang.

***
Matahari hampir rebah usai setitik air jatuh dari matanya. Pandangan Maskinah menghujam datar pada pusara itu. Ia mengeja abjad demi abjad di nisan untuk mengeja sesuatu yang masih tertinggal. Jauh sebelum kematian menjemput suaminya.

Sebenarnya banyak kenangan manis yang tersimpul. Namun, setiap kali mengingatnya selalu saja ada lorong gelap yang membengkokkan jalannya. Tetapi, kenangan datang bukan untuk dihukumi, tetapi memfungsikannya sebagai pelita untuk meneruskan perjalanan.

“Keinginanmu segera kakang kabulkan,” ucap Indrajid seraya memeluk istrinya.
“Keinginan apa, Kang?” Maskinah heran.

“Lho, katanya ingin memiliki perahu sendiri. Sekarang aku akan membelinya kepada Nyi Talhah, tapi dengan cicilan.”

“Apa cukup bayaranmu, Kang?”

“Nyi Talhah itu orangnya baik. Sudahlah, jangan banyak mikir. Sekarang, kamu tinggal tanda tangani surat ini,” Indrajid menyodorkan selembar kertas.

Ini surat apa? Tanda tangannya di mana?” Maskinah kebingungan.

Indrajid memahami kekakuan istinya.

“Ini, akad persetujuan kita membeli perahu dengan harga cicilan. Sini tanganmu, pakai cap jempol saja.”

Dengan telaten Indrajid menuntun tangan Maskinah mengoleskan sedikit tinta dan meletakkan jempol istrinya pada selembar kertas itu.

Jadilah, cap jempol.

Maskinah terharu. Matanya berkunang-kunang. Betapapun, itu adalah surprize yang sangat melambungkan hatinya meski kemudian terpelanting secara tiba-tiba. Maskinah tak tahu kalau surat itu bukanlah akad persetujuan harga cicilan kepemilikan perahu. Surat itu adalah surat izin poligami. Kelemahan maskinah yang Tak tahu baca-tulis memudahkannya memberikan izin suaminya berpaling pada perempuan lain. Ya, surat persetujuan menikahi Supinah, janda kembang anak Nyai Talhah juragannya, terlanjur ditanda tanganinya. Selembar kertas yang telah melenyapkan rumah tangganya.

***
Satu lagi kuburan yang selalu dikunjungi Maskinah di pekuburan itu. letaknya tak jauh dari pekuburan suaminya. Gundukan tanah itu tak lain adalah kuburan emaknya yang telah wafar sebelum peristiwa kematian cintanya terjadi. Selembar daun kamboja gugur. Karena embusan angin atau karena batas umur? Entahlah. Sayup suara debur ombak mengisi pelataran kuburan yang hening.

Kembali ia buka mushaf kecil di tangannya. Serak suara menyimpulkan doa-doa kepada orang yang telah banyak mengajarinya tentang kehidupan. Di pusara itu, seketika panas hati Maskinah ditumpahkan. Tanpa ada yang disembunyikan.

“Mak, aku minta maaf. Aku tak bisa jadi istri solehah seperti yang selalu emak ajarkan. Aku tak bisa menjadi diri emak yang sabar menahan kemarahan bapak. Aku tak bisa…,” debur ombak menyembunyian tangisnya.

“Aku tak tahu, apakah jalanku untuk bertobat akan dilapangkan oleh-Nya. Aku tak tahu, apakah masih ada tempat di surga bagi orang yang telah membunuh suaminya sendiri. Tetapi. Aku masih memiliki keyakinan kalau emak masih memiliki surga untukku. Bukankah emak pernah mengajarkan kalau setiap ibu menyimpan surga di telapak kaki untuk anaknya,” jerit hati semakin keras. Air matanya tumpah bermuara di pusara itu.

“Aku berjanji akan mengajarkan cucu emak untuk selalu taat dan patuh pada suami. Aku akan mengatakan bahwa bapaknya adalah seorang suami yang sangat bertanggungjawab,” desahnya. “Tetapi maaf, mak. Aku tak akan mengajarkan, apalagi mencontohkan cara-cara emak mengajarianku demi masa depan anakku. Emak tenang saja, aku tak akan mengatakan pada cucu emak kalau perempuan itu tak perlu bersekolah. Aku akan mengatakan bahwa pendidikan agama dan umum sama pentingnya.”

“Seandainya kakang dan emak masih hidup, tentu sangat bangga melihat Jamilah selalu juara kelas kelas. Aku tak akan berhenti menyekolahkannya sampai ia merasakan nikmatnya menjadi seorang sarjana,” ucapnya lirih. Tak ada lagi air mata yang tumpah. Matanya semerah mega.

Maskinah memungut kamboja yang tergeletak di atas pusara. Ia mencium bunga itu serupa mengecup kening emaknya. Lalu, Maskinah meletakkannya kembali di atas pusara. Aliran air mata masih membekas serupa kenangan yang terus mengalir dalam perjalanan ziarahnya.

Annuqayah, 01-11-11, 10:11 PM

Monday, December 26, 2011

Lan Fang; Seraut Kenangan

Tulisan ini adalah serangkaian tulisan saya tentang Lan Fang; Tak Disangka Bertemu Dengan Lan Fang, Lan Fang: Annuqayah Adalah Rumah Kedua, dan Catatan Parade Cerpen untuk Sanie B Kuncoro di Jawa Pos, yang saya coba kumpulkan menjadi satu tulisan dengan penyelarasan yang seperlunya.

***
Saya termasuk orang yang terlambat mendengar kabar kematian sastrawan Lan Fang. Ketika ia meninggal dunia bertepatan dengan hari Natal 2011, di Rumah Sakit Mount Elisabeth Singapura, Minggu siang, ketika seluruh umat kristiani merayakan hari Natal. Saya baru mendengar kabar itu dari teman setelah solat maghrib.

Saya tidak lantas memercayainya. Mengapa Rumah Sakit Mont Elisabeth Singapura? Padahal lima hari lalu saya mendapat kabar kalau ia akan dirujuk ke Ghuangzou, Tiongkok. Saya pastikan kebenaran kabar itu via facebook. Ternyata, seluruh teman-temannya sudah meletupkan duka cita di jejaring sosial itu. Tak terkecuali mbak Wina Bojonegoro sahabat dekatnya.

Kesedihan bersesak. Kehilangan berurai air mata, ketika saya membaca catatan yang ditag oleh Mbak Wina. Saya sangat merasakan betul tentang rasa kehilangan yang dirasakan olehnya dan oleh para sastrawan lainnya. Saya merasa tidak seberuntung Mbak Wina—meski keberuntungan itu terasa menyakitkan—karena sempat menemaninya berjuang di masa-masa kritis hingga menjelang kematian.

Ketika sudah tiada, waktu saya sadari berjalan cepat. Saya bertemu dengannya ketika ia diundang untuk membedah novelnya Ciuman Dibawah Hujan, pada moment Festifal Cinta Buku III (FCB) Instik Annuqayah, kampus saya, bulan Maret lalu. Saya sempat mencatat luapan kegembiraan saya ketika bertemu dengannya. Begini ceritanya.

Setelah selesai Solat Jumat (20/5), saya langsung turun dari Masjid Jamik Annuqayah menuju kantor Sekretariat Bersama PP Annuqayah yang terletak di simpang tiga jalan menuju kampus, tepatnya sebelah utara Madrasah Ibtidaiyah (MI) Annuqayah. Saya sengaja cepat-cepat turun dari masjid karena harus mengerjakan dan menyelesaikan satu tulisan untuk rubrikasi pada buletin yang akan diterbitkan oleh Biro Publikasi, Informasi dan Kepustakaan, PP Annuqayah.

Siang itu, terik matahari menyengat ubun-ubun. Saya mempercepat langkah agar segera menyelesaikan tulisan sebelum saya menghadiri acara bedah buku Ciuman Dibawah Hujan di Auditorium As-Syarqawi. Bagi saya, menghadiri bedah buku itu adalah wajib, karena saya sangat senang dengan karakter tulisannya.

Saking terburu-buru, badan saya mandi keringat. Untung saya memakai dua pakaian: kaos lengan panjang dan baju koko yang semuanya berwarna cokelat, sehingga keringat yang keluar dari punggung, dada, dan (maaf) ketiak saya tidak kelihatan. Hanya, wajah saya saja yang ketahuan banjir keringat.

Pada jarak kira-kira 25 meter dari simpang tiga itu, saya melihat seseorang yang tengah duduk di pingir jalan, di bawah gedung Madrasah Ibtidaiyah Annuqayah. Saya mengamati orang yang menyandang tas kecil dan di sampingnya ada dua kresek berwarna merah besar yang saya tidak tahu apa isinya.

Lho, bukankah orang itu adalah Lan Fang? Kata saya mereka-reka. Baru pada jarak yang cuma 10 meter, saya bisa memastikan bahwa orang itu adalah Lan Fang, penulis novel Ciuman Dibawah Hujan. Saya pun heran melihatnya, toleh kanan toleh kiri, seperti orang yang sedang kebingungan.

Mengapa dia berada di sini? Pertanyaan kedua muncul. Akhirnya saya memberanikan diri menyapanya. Siapa tahu orang yang jauh-jauh datang dari Surabaya itu butuh bantuan.

“Sampeyan, Mbak Lan Fang, kan?” sapa saya. Saya tahu, dia biasa dipangil Cece Lan Fang di sini. Tapi karena saya sedikit gugup, ya, yang keluar bukan “Cece” tapi “Mbak”.

“Lho kok tahu. Kamu siapa?” dia malah balik bertanya.

Langsung saja saya jawab. ”Saya adalah orang yang sangat suka pada karyanya mbak. Mbak lagi nunggu siapa?” tanyaku lagi.

“Saya nunggu Neng Ovie (Shofiah A. Win). Adik tahu, rumahnya Neng Ovie?”

“Tahu, Mbak. Apa k perlu saya antar ke dhelem beliau?” Saya menawarkan diri.

“Oh, kalau begitu mari tolong saya antarkan ke rumahnya Neng Ovie,” katanya langsung berdiri.

Wah, tawaran itu sangat menyenangkan hati saya. Betapa tidak, dia adalah orang ke dua yang tulisannya sangat saya sukai setelah mas Seno Gumira Aji Darma. Langsung saja saya sambar kedua kresek yang ada di sampingnya.

Lalu, saya terlibat remeh-temeh pembicaraan dengannya dan menanyakan kenapa dia berada di sini—seperti orang yang sedang kebingungan—kenapa kok tidak langsung saja ke tempat acara. Ia menjawab Travell yang ia tumpangi menumpahkannya di simpang tiga toko ABC (Annuqayah Business Centre). Alasan supirnya, jalan ke kampus yang tinggal kurang lebih 200 meter bukan rutenya lagi. Maklum, meski jalannya beraspal, jika dimasuki mobil hanya bisa dipakai satu arah.

Begitulah, dalam perjalanan, saya banyak bertukar cerita seputar dunia kepenulisan. Saya juga mengatakan kalau saya adalah penikmat tulisan-tulisannya. Ia tersipu-sipu. Dari sinilah pertemanan saya dengannya dimulai.

Komunikasi saya dan Lan Fang semakin terjalin. Usai mengisi acara bedah buku, saya berkesempatan untuk mewawancarainya untuk dimuat di blog annuqayah www.annuqayah.blogspot.com.

Kedatangannya ke PP Annuqayah kala itu adalah yang ke tiga kalinya. Sebelumnya ia pernah mengisi workshop kepenulisan yang diadakan oleh Madaris 3 PP Annuqayah (29/07/2010) serta pada pelatihan menulis fiksi dalam lanjutan kegiatan karantina menulis PPA Lubangsa Putri (05/02/2011).

Dia banyak berkomentar tentang Annuqayah. Ia mengatakan bahwa Annuqayah adalah rumah keduanya. Bukan tanpa alasan perempuan yang mengaku telah menekuni karir di dunia kepenulisan sejak tahun 1986, mengatakan demikian. Ia sangat tersanjung atas sambutan orang-orang pesantren yang sangat ramah. Di samping itu, ia juga sudah sangat berteman baik dengan K Faizi, Neng Ovie, Gus Mamak, dan keluarga mereka.

“Pesantren di sini sangat bagus. Nilai-nilai kepesantrennya sangat terjaga seperti akhlakul karimah. Berani bersikap terbuka dengan dunia luar selama tidak merusak nilai-nilai kepesantrenan. Saya merasa nyaman di sini,” katanya.

Perempuan kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970, menilai bahwa animo santri untuk menulis sangat besar. Tetapi dari sisi kuantitas tersebut, ternyata kualitas tulisan mereka masih jauh di bawah rata-rata. Menurutnya, kerendahan kualitas itu dikarenakan kurang menjiwai dan merenungi terhadap apa yang ditulisnya.

“Kebanyakan penulis sekarang memang maunya yang instan, ingin cepat-cepat menyelesaikan tulisannya. Padahal dalam menulis itu perlu banyak mengali gagasan-gagasan yang diikuti dengan sebentuk perenungan, apakah tulisan itu sudah menjawab inti persoalan yang akan diangkat,” tuturnya dengan semangat.

Lantas dia mencontohkan pada perayaan ulang tahun Indonesia-Tionghoa (Inti) tahun 2008. Lomba menulis cerpen se-Jawa Timur adalah salah satu bagian dari perayaan itu. Kebetulan, ia yang menjadi jurinya. Lan Fang kaget, ternyata naskah cerpen yang banyak masuk dari kabupaten Sumenep. Namun, dari sekian ratus naskah yang masuk itu tidak ada satu pun yang lolos seleksi dan menjadi juara.

“Tetapi ketika mereka mengekspresikannya dalam bentuk fisik, misalkan teater dan baca puisi, performanya top banget. Mereka bisa sangat menjiwainya. Bahkan hati saya juga tersentuh ketika menontonnya. Contohnya, pada perayaan Festifal Sastra Surabaya (FSS) 2010. Dalam teater dan baca puisi, pemenangnya didominasi oleh orang-orang sini (Madura),” ungkapnya panjang.

Saya pun semakin akrab, sering berkomunikasi via facebook. Banyak hal yang dibicarakan, terutama tentang dunia tulis menulis. Ibu dari tiga anak kembar itu tidak sungkan-sungkan berbagi ilmu dengan menjawab beberapa pertannyaan saya seputar kepenulisan. Bahkan saya sempat menawarkan kepadanya untuk bersedia menjadi editor novel pertama saya, Asmara Dibalik Asrama. Dia tidak mau. Katanya terlalu banyak pekerjaan.

Pada suatu kesempatan, saya memposting cerpen saya yang ditahbiskan sebagai juara pertama pada event FCB III itu. Judulnya Ziarah. Lan Fang adalah salah satu orang yang di-add dalam catatan itu. Ia banyak berkomentar bahwa tulisan saya kurang ini dan itu, tetapi dari penceritaan dan pesan moral yang diangkat sudah bagus. Katanya, “pantaslah cerpen ini ditahbiskan sebagai pemenangnya.”

Saya semakin bersemangat untuk menulis. Memperbaiki beberapa kesalahan dan yang terlupakan ketika merangkai kata, sesuai dengan apa yang diajarkannya.

Pada suatu kesempatan dikemudian hari pada akhir bulan Mei, saya diajak turut serta berpartisipasi pada kegiatan yang ia gagas, yaitu Parade Cerpen Untuk Sanie B Kuncoro di Jawa Pos. Mbak Sanie adalah seorang sastrawan yang divonis mengidap penyakit kangker payudara sejak awal tahun 2011. Maka kemudian terpilihlah orang-orang yang akan ikut pada parade cerpen itu: Lan Fang, saya, Wina Bojonegoro, dan Musa Hasyim, santrinya KH Salahuddin Wahid, Tebu Ireng Jombang.

Pada awal bulan Juli, parade cerpen itu dimulai. Diawali dengan Bai She Jing cerpen Lan Fang (10/07), Cerita Panjang di Sebuah Kereta cerpen Musa Hasyim (17/07), Kubah cerpen Fandrik Ahmad (31/07), Lelaki Berbulu Cerpen Wina Bojonegoro (06/08), dan sebagai penutup Kembang Pepaya Cerpen Sanie B Kuncoro.

Bulan Ramadhan, Tanggal 17 Agustus 2011, saat mudik ke Jember, saya menyempatkan diri mampir di rumahnya, di perumahan Pondok Maspion Ea 11 Pepelengi, Waru, Sidoarjo. Itulah saya datang ke rumahnya pertama kali. Disamping bersilaturrahmi, saya ingin mengambil kumpulan cerpen mbak Sanie B Kuncoro sebagai cindera mata untuk saya yang dititipkan kepadanya. Oh, ya, kala itu saya juga membawa titipan 15 batik dari Neng Ovie. Kata beliau batik itu memang pesanan Lan Fang.

Cukup lama saya berada di rumahnya. Dari jam 11.00-17.00 WIB. Sehingga pertemanan saya dengan ketiga anak kembarnya; Vajra Yeshie Kusala, Vajra Virya Kusala, dan Vajra Vidya Kusala terjalin dengan baik. Mereka sangat ramah dan mudah bergaul. Saya tidak banyak berbicara dengan Lan Fang. Setelah saya datang, ia langsung keluar membawa batik itu. Katanya untuk dibagi-bagikan sebagai hadiah menjelang lebaran. Namun, sebelum ia keluar rumah, dia memberikan saya tiga bungkus kopi bubuk yang kemudian saya bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan sebagai pengantar cerita perihal kunjungan saya ke rumahnya.
Dari ketiga anaknya, saya paling dekat dengan Koko, bocah tergemuk dan terpendek diantara dua saudaranya. Bahkan, saya diajak berkenalan dengan ayam-ayam piaraannya. Saya diajari tentang macam-macam ras ayam; nama-nama ayam, dari negara apa, dan hasil kawin silang dengan apa, dlsb. Kami terlibat tawa ceria ketika ayam-ayamnya diuber-uber oleh kucing piaraannya sendiri. Setelah itu, giliran saya yang mengajarinya tentang bagaimana caranya menyetek bunga. Waktu itu saya mencontohkan dua bunga mawar beda warna, merah dan kuning, yang dijadikan satu.

Pertemuan kedua saya dengan alumnus Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA) jatuh pada hari Jumat sore tanggal 09 September 2011 Pukul 15.45 WIB. Lagi dan lagi. Ketiga anaknya menyambut saya dengan sangat gembira. Kesan yang sangat tidak akan saya lupakan.

Sepuluh menit kemudian, Musa Hasyim, santri asal Tebu Ireng, Jombang itu tiba pula di rumah Lan Fang. Setelah melaksanakan solat Ashar, kami bertiga langsung menuju kantor redaksi Jawa Pos, Jl. A. Yani lt.4 Surabaya. Menurut Lan Fang, pak Budi Dharma dan Mbak Sanie sudah menunggu kami di sana. Mendengar nama pak Budi disebut, ada kebanggaan tersendiri bagi saya, karena akan bertemu dengan begawan sastra sekaligus Guru Besar Emeritus di Universitas Surabaya. Kami sempat pose bersama dengan pak Budi sekaligus memamerkan cerpen-cerpen kami yang tergabung dalam parade cerpen tersebut.

Setelah prosesi penyerahan donasi cerpen, kami sempat berkunjung ke kantor redaksi tabloid Nyata. Ditemani pak Siswadi, kami bermusyawarah bagaimana melanjutkan parade cerpen itu. Lan Fang mengusulkan agar parade itu dilanjutkan kembali di tabloid Nyata dengan format yang berbeda, misalkan satu judul yang sama tentang perempuan. Entah bagaimana caranya, hal ini belum menuai kesepakatan. Tetapi pada intinya, ia menginginkan agar nantinya cerpen-cerpen dalam parade itu dibukukan menjadi semacam antologi atau booklet. Karena waktu yang sudah terlalu malam, musyawarah hanya mentok di situ tanpa menghasilkan satu kesepakatan pun.

Tidak hanya itu, di di depan kantor redaksi tabloid Nyata, satu lantai di bawah kantor Jawa Pos, saya, Lan Fang dan penulis lainnya masih narsis-narsisan, jeprat-jepret dengan berbagai pose sebelum kami keluar Graha Pena.

Pukul 19.08 WIB, kami sudah berada di depan Graha Pena. Mbak Wina dan Mbak Sanie mohon pamit. Musa Hasnyim dengan temannya ke Royal Plaza. Tinggal saya dengan Lan Fang. Ia menawarkan apakah langsung tolak ke Madura atau mau menginap di rumahnya. Karena dimungkinkan Jam dua belas malam saya baru sampai di pondok, saya memilih menginap di rumahnya saja.

Esok hari, pukul enam pagi, saya pamit pulang kepada pembantunya. Namun ia tak mengizinkan karena Lan Fang masih tidur. Saya disuruh menunggunya bangun. Sampai jam setengah tujuh Lan Fang dan ketiga anaknya masih belum bangun. Saya pulang ketika mereka masih terlelap.

Ketika sampai di halaman rumahnya, ketiga anaknya yang sedari tadi masih tidur, bagun terburu-buru. Berhamburan keluar menyalami saya. Saya pandangi wajah mereka satu-satu. Lucu sekali: mata mereka merem melek dengan rambut acak-acakan.

“Kapan-kapan kembali lagi ya, kak. Aku masih ingin bermain lagi dengan kakak,” kata dik Koko. Saya hanya menjawab dengan senyuman serta mengucek kepalanya.

Memasuki penyebrangan Tanjung Perak-Kamal, isyarat pesan masuk berbunyi. Lan Fang, “maaf drik, saya tidak bisa mengantarkanmu ke terminal. Semalaman saya capek.” Saya balas, “tidak apa-apa ce, justru saya yang meminta maaf karena tidak menunggu cece bangun.”

Sebulan setelah itu, K Faizi mengabarkan kalau ia sedang sakit. Karena khawatir akan kesehatannya, saya mengirim SMS, “ce, bagaimana kabarnya? Katanya cece sakit?” Tak lama kemudian balasan itu datang, ”ah, tidak apa-apa, cuma pusing karena kecapean, dibawa istirahat sudah pada sembuh.” Saya lega. Saya bisa terima alasan itu karena yang saya ketahui saat mengunjungi rumahnya, ia sepertinya orang yang super sibuk. Kesimpulan saya, wajar bila demikian.

Tanggal 20 Desember 2011, sepulang acara Workshop di Universitas Jember, saya mendengar kabar dari Mbak Wina via facebook kalau Lan Fang akan diberangkatkan besok (21/12) Ke Ghuangzou untuk dioperasi. Saya terkejut, kenapa harus ke luar negeri? Apa sakitnya parah? Ini sayang saya klarifikasi kepada mbak Wina bahwa ternyata ternyata ia menderita penyakit kanker liver, katanya (namun media menyebutkan kalau ia Menderita kanker payudara. Entahlah dimana yang benar).

Seandainya saya tahu sehari sebelum tanggal 20 Desember kalau Lan Fang sakit, saya pasti menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Sungguh, ini yang saya sesalkan.

Hingga sampai pada hari kelima, ketika semua umat kristiani merayakan hari Natal, penulis yang kerap memenangkan lomba yang diadakan oleh Femina itu menutup mata untuk selamanya. Semua masyarakat sastra merasa kehilangan salah satu penulis terbaiknya. Ya, Meski Lan Fang masih tergolong penulis yang muda (41), karya-karya yang dihasilkan sangat banyak. Baik cerpen, prosa, dan novel.

Saya ingat betul ketika ia menggagas parade cerpen untuk kesembuhan mbak Sanie agar perempuan penderita kanker payudara itu tetap bersemangat menjalani hari-harinya. Namun, Tuhan memiliki cerita lain. Sebagaimana diberitakan di media, ternyata Lan Fang juga menderita penyakit ganas tersebut. Apakah karena ini alasannya untuk menggagas parade itu? Sama-sama menderita penyakit yang ia derita.

Saya sangat berhutang budi kepadanya. Ia telah sedikit banyak menularkan ilmunya kepada saya. Bukan hanya ilmu sastra, tetapi juga ilmu-ilmu sosial. Lan Fang telah mengorbitkan saya bagaimana menjadi penulis yang peduli terhadap sesama. Saya pernah mengatakan kepadanya,”ce, saya sangat bangga sekali tulisan saya bisa "sedikit" berarti kepada semangat hidup orang lain. dan ini adalah yang terindah dalam sejarah kepenulisan saya.” Ia mengatakan, “like!”

Dialah guru sastra saya. Saya akan berusaha mengumpulkan seluruh karya-karyanya. Kemudian saya akan mempelajari dan meniru bentuk karakter tulisannya, agar saya merasakan kalau Lan Fang tetap hidup dalam tulisan-tulisan saya.

Selamat jalan, Ce. Selamat jalan bersama ajaran agamamu di alam sana. Saya akan selalu merinduimu. Terima kasih atas semuanya. Saya akan berusaha menjadi penulis yang cece inginkan.

Annuqayah, 27 Desember 2011