Saturday, December 24, 2011

Punk Rock Jalanan

(Majalah Hijrah, Edisi II Desember 2011)

Pekikan gitar menggema. Suara sumbang membahana dalam gerbong. Beberapa penumpang memberikan uang receh saat kusodorkan sebungkus Mie Sedap kosong. Kutelusuri gerbong-gerbong itu penuh semangat. Tak lupa seutas senyum aku haturkan pada mereka.

Saat kepala kereta api yang memanjang nampak semakin membesar memasuki stasiun, aku, si pengamen tetap di stasiun Kalisat, bersiap diri menghibur penumpang dengan gitar kecil. Berdiri di sisi jalur 1 atau jalur 2. Pengamen tetap adalah sebutan untukku sendiri tanpa ada pengakuan dari orang lain. Di stasiun itu tak ada pengamen legal atau pengamen kontrakan. Tidak. Semua tak ada. Aku katakan demikian karena aku tak pernah mencoba mengadu nasib di tempat lain; di Mall, di Kafe, atau di pasar-pasar sekalipun. Suara dan petikan gitarku hanya menggema di sekitar gerbong dan peron stasiun itu.

Jangan kira aku tidak terkenal. Orang-orang sudah banyak yang mengenaliku. Si Mattahli, dua puluh tahun menjadi pengamen di stasiun Kalisat. Tapi, jangan kau tanya siapa saja, aku ragu menjawabnya. Bukan aku tidak tahu, mereka juga bukan tak tahu siapa aku. Mereka tahu hanya tak mau tahu, karena aku hanya pengamen sebuah stasiun, bukan “pengamen” televisi.


Kereta api gaya Sri Tanjung jurusan Banyuwangi-Yogyakarta sudah berhenti di jalur 2. Beberapa penumpang naik-turun dari gerbong itu. Suara riuh bercampur aduk. Ada yang menjemput, ada yang melepas. Orang-orang berebut menawarkan jasa tranportasi. Dari abang becak sampai supir taksi.

Aku belum berani masuk ke dalam untuk menghibur para penumpang. Aku masih menunggu masinisnya keluar dari kepala kereta. Bukannya aku takut dimarahi, bukan pula takut kena pidana. Aku menunggunya hanya bermotif persahabatan. Ya! Aku selalu menunggu masinis kereta itu keluar dan melambaikan tangan padaku. Maka, barulah aku beraksi menghibur para penumpang. Kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak dua puluh tahun yang lalu.

Penumpang yang naik-turun sudah kelihatan sepi. Masinis yang aku tunggu-tunggu baru keluar disertai dengan lambaian khasnya. Segera aku balas lambaian itu berikut dengan senyum renyahku. Kewajiban telah kutunaikan. Aku persiapkan gitar, sebelum langkah pertama ditegakkan. Segera aku menyisir gerbong-gerbong itu.

Secepat kilat kakiku melompat ke dalam gerbong. Wajah-wajah lelah sudah biasa aku temui. Aku berdiri di muka layaknya pramugari di pesawat terbang, tepatnya di tengah-tengah pintu gerbong. Tak pernah lupa kuberikan kata sambutan sebelum memetik gitar sembari berdendang. Mereka merupakan mutiara hidupku. Rejeki yang dititipkan Tuhan.
Sebuah lagu yang masih sangat terbilang populer kunyanyikan. Alamat Palsu meluncur dari suara sumbangku.

Tiba-tiba, memasuki pertengahan lagu, bocah yang duduk di depanku mabuk. Ia muntah. Sepatu bututku belepotan dengan muntahannya. Menjijikkan. Sempat aku berhenti berdendang.


“Maafkan anak saya mas,” ungkap ibunya cemas.

“Tak apa, bu,” ucapku ramah. Ia itu tersenyum.

Segera kembali kupetik gitar. Ke sana ke mari membawa alamat…

Usai bernyanyi, kukeluarkan plastik bungkus Mie Sedap dari dalam kantong. Kuulurkan pada mereka. Berharap ada logam yang jatuh. Tak banyak memang, juga tak sedikit yang bersikap tak acuh dan memalingkan muka saat menyodorkan “dompetku”. Yah! Itu biasa. Aku tak mempermasahkannya. Tujuan utamaku adalah untuk menghibur. Perkara urusan uang, itu efek samping dari apa yang kukerjakan.

Satu gerbong, satu lagu dihargai 5.100 rupiah. Lumayan juga. Lebih dari cukup untuk sekali mengganjal perut. Dalam satu kereta, aku hanya bisa memetik gitar di dua gerbong saja. Aku sudah memperhitungkan waktu yang aku punya. Untuk penumpang dan untuk masinisnya.

Aku tak pernah absen meluangkan waktu menghibur kepenatan masinis. Untuk yang satu ini, aku tak menyodorkan apa-apa. Berikhlaskan diri. Aku tahu, betapa berat menjadi seorang masinis. Disamping jarang pulang berbaur dengan anak dan istri, ia juga “menanggung” ratusan bahkan ribuan nyawa manusia.

Seperti biasa. Lagu-lagu lawas selalu menjadi pilihan utama mereka. Katanya, lebih mengasyikan dari pada lagu-lagu band, koplo, atau pun lagu disco. Saat aku menyanyi sembari memetikkan gitar, terpancar rona kebahagiaan di wajah mereka. Mereka yang rindu pulang.

Aku melompat dari atas lokomotif. Seutas senyum kuberikan sebagai bekal perjalanan. Kereta api melaju kembali. Di peron, lambaian tanganku mengiringi kepergian mereka. Selamat jalan kawan!

Aku melangkah menghampiri seorang gadis yang tengah duduk sendirian. Yang sempat aku tinggalkan barang sejenak. Yang selalu menungguku di peron paling utara, di bawah jam dinding stasiun kala aku bertugas memainkan gitar. Gadis yang telah menemaniku sejak empat belas tahun yang lalu. Umurnya kira-kira lima tahun lebih muda dariku.

“Coba tebak, aku dapat berapa?” kataku.

“Sembilan ribu tujuh ratus?” cetusnya tanpa ragu.

“Ya, tepat sekali!” Seutas senyum terurai dari bibirnya yang kusam.

Oh, ya! Delia nama gadis itu. Bagus kan untuk ukuran nama gadis stasiun macam dia. Ia baik, peramah, pemurah, dan satu lagi, ucapannya selalu menghiburku. Kedua matanya tak bisa melihat. Tapi ia tak tampak seperti gadis buta. Kecantikannya tak berkurang. Tatapannya tajam meski baginya terasa kosong. Delia tak pernah mempermasalahkan kekurangannya. Ia selalu optimis. Katanya, tak punya mata sungguh lebih baik dari pada tak punya hati. Buktinya, dia bisa menebak berapa banyak hasil uang yang aku dapat.

Empat belas tahun yang silam, aku menemukan Delia kecil kehujanan di sisi stasiun. Menangis. Pakaiannya basah. Aku tanyakan mengapa menangis, ia tak menjawab. Aku tanyakan asal-usulnya, ia juga tak menjawab. Akhirnya, aku menyerah. Aku duduk di sampingnya, tanpa memperdulikan keberadaannya.

Sambil menunggu Kereta Api dari Surabaya yang akan tiba setengah jam lagi, aku lebur bersama permainan gitarku. Kupetik benang-benang itu dengan gemulai. Kulantunkan lagu sendu sebagai pengiring turunnya hujan.

“Suaramu bagus,” kata Delia memujiku.

“Kata orang suaraku hancur. Yang bagus itu petikan gitarku,” aku mengelak.

“Tidak! Suaramu yang bagus,” katanya lagi.

“Terserahlah. Toh, suara gitar dan suaraku saling melengkapi.”

“Maukah kau menyanyikan sebuah lagu untukku?” pintanya.

“Lagu apa?”

“Terserah. Aku hanya ingin kau bernyanyi untukku.”

“Tapi sebelum aku menyanyi, maukah kau menjawab satu pertanyaanku?”

“Jika tidak memberatkan.”

“Mengapa kau berada di sini?” ucapku.

“Aku suka bunyi Kereta Api,” katanya tanpa beban.

Cerita masa lalu mengalir dari mulutnya. Kakeknya adalah seorang masinis. Meskipun jarang berada di rumah, setiap kakeknya usai bertugas, ia selalu mendapat oleh-oleh. Tapi, kakek yang tiap kali tiba di rumah dan selalu memakaikan topi masinis ke kepalanya, sudah tiada lagi. Dua bulan yang lalu, kakeknya meninggal dunia.

Delia sangat terpukul. Kehilangan kakeknya lebih berat dari pada kehilangan penglihatannya. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Ia tak mengenalikedua orang tuanya. Kakeknya tak pernah bercerita.

Delia memang tak bisa melihat, tapi ia bisa menitikkan air mata. Aku tak mau membawanya larut dalam kesedihan. Segara kupetikkan gitar. Mengajaknya bernyanyi bersama.

Sejak saat itu, hidupanku damai bersamanya. Gadis buta itu telah membukakan mata hatiku, bahwa sebenarnya hidup tak habis segalanya. Aku ingin menikahinya. Suatu saat nanti, entah kapan, aku ingin menikahinya.

***
Uang yang baru kudapatkan dari hasil memetik gitar diberikan cuma-cuma pada orang yang tak dikenal. Katanya, orang itu lapar dan minta makanan. Lalu Delia memberikan uang itu semuanya.

“Kenapa kau melakukannya,” bentakku tak terima.

“Dia lapar,” jawabnya.

“Dari mana kau tahu kalau dia lapar? Dengan mata,” sindirku tertawa kecewa.

Delia menangis. Air matanya berderai mengiringi kedatangan kereta api Gaya Baru jurusan Surabaya-Banyuwangi. Aku pun tak sempat menelusuri gerbong-gerbong itu. Aku frustasi.

“Jangan sembarangan percaya kepada orang. Bisa saja orang itu menipumu atau bahkan mencelakakanmu,” amarahku memuncak, tapi aku berusaha merendahkan suaraku.

“Lebih baik tak punya mata dari pada tak punya hati,” ucapnya dengan isak tangis yang tersisa.

Terserahlah, adalah hakku menuntut sebuah pertanggungjawaban. Uang itu hasil jerih payahku. Aku melangkah kecewa mendekati jalur dua. Delia, kutinggalkan di tempat biasa. Sesuai jadwal, lima menit lagi kereta jurusan Surabaya-Banyuwangi akan tiba.

Matahari terlihat cerah. Penumpang semakin banyak. Tukang ojek dan kenek semakin merapat. Calo juga ada—entah dengan copet. Penjual makanan, minuman, mainan berteriak dengan gaya khasnya. Obrolan mereka bercampur-aduk. Sesekali aku sempatkan melirik Delia untuk memastikan Gadis buta itu masih berada di tempatnya.

Sinyal Kereta Api masuk stasiun berbunyi. Lokomotif membesar hingga desiran angin menabrakku. Orang-orang berdesakan naik-turun. Dari lokomotif, masinisnya sudah melabaikan tangan. Aku tersenyum. Segera kutelusuri gerbong-gerbong itu. Menyanyi satu dua buah lagu sebagai bekal perjalanan mereka. Sungguh sangat beruntung hari ini, satu lagu dihargi Rp. 10.500! Aku melompat ke gerbong lain. Kupetikkan gitar lagi. Lumayan juga, dapat Rp. 9.700.

Bunyi gitarku berhenti setelah menghibur para masinis itu. Roda baja berputar dan terus menjauhi stasiun. Aku tak sabar mengabarkan kabar gembira ini pada Delia. Karena perbuatan mulianya mungkin rejekiku hari ini amat banyak.

Tapi, sorot mataku tak mendapatkan Delia berada di peron paling utara itu, di bawah jam dinding stasiun. Aku hanya menemukan sebuah topi masinis yang sudah usang. Topi peninggalan kakeknya. Kutelusuri seluruh peron, tempat parkir, loket, dan warung makanan, Delia tetap tak kutemukan.

Uang itu masih kugenggam erat. Berharap ia akan menebak berapa penghasilanku hari ini.

Muara Office, 08.48 PM

Friday, December 9, 2011

Lelaki yang Takut pada Sepi

(Salah Satu Naskah Pemenang Lomba Cipta Cerpen Indonesia 2011)

Bagaimana harus mengatakan kepadamu jika sebenarnya aku adalah lelaki yang takut pada sepi? Seperti angin yang mengabarkan kalau musim semi akan kembali. Gugur daun berbulan-bulan tak perlu risau karena pucuk-pucuk muda siap menyambut pagi lebih bermakna dari kemarin. Maka, pada daun yang terakhir mengucapkan Selamat Tinggal, pucuk-pucuk muda itu akan menjawab Pergilah tanpa Sesal.

Pastilah! Sebelum matahari mengecup kening bumi, dering SMS akan berbunyi atau isyarat panggilan masuk menjerit-jerit. Setiap kata dari ucapan itu satu huruf tak pernah berubah. Selalu sama.

“Pa, sudah salat?” Begitulah bunyi SMS itu. Tak segera kubalas. Tentu kutunaikan dulu salat dua rakaat pagiku. Aku yakin, kamu pasti sedang menunggu balasanku dengan sabar.

Atau bila isyarat ponsel berbunyi….

“Pa, bangun. Tuh, matahari sudah menunggu papa.”

Jika demikian, aku akan langsung menjawab dengan rengekan “iya”, meminjam suara serak bayi karena takut perempuan di sampingku terjaga. Setelah itu, kamu pasti segera menyuruh salat Subuh dan menutup pembicaraan. Entahlah, apa kamu sabar menunggu balasan kabarku seperti menunggu balasan SMS dariku sambil meneguk secangkir kopi hangat di pagi hari.

Maka, saat kutunaikan kewajibanku di pagi itu, kusematkan sejenak doa padamu. Semoga, dalam penantian yang entah pasti kapan, kamu tetap setia dengan pengabdian sepimu. Oh, Tuhan, bagaimana caranya aku harus mengatakan kepada-Mu bahwa di jalan nun jauh itu, ada aral besar melintang. Siap memisahkan kami berdua: problem jarak pengatur denyut kehidupan kami.

Kami harus berpuasa, menahan rindu dan kangen yang tanpa waktu memberontak digoda gelisah. Tapi, satu doa yang menyatu, membuat kami menaruh keyakinan besar bahwa hari raya itu akan tiba dengan sejuta warna dan sejuta melati.

Setahun perjalanan terakhir dari umurku, aku resmi mempersunting Maemunah, sosok muslimah berhati malaikat, alumni di salah satu pesantren salaf. Motif mempersuntingnya karena adrenalinku mengatakan sepi akan mengorok leherku. Kuliahku di jurusan sastra hanya mentok di semester empat, mampet karena persoalan biaya.
Perempuan yang tak pernah menanggalkan berjilbabnya itu begitu setia menungguku. Membawa segepok uang dan membelikan ruko baru untuknya. Dia sudah melarangku merantau ke kota, tapi aku bersikukuh meyakinkan karena dua tahun saat masih kuliah memaksa kehendak bahwa di kota tidak sulit mencari uang.

Ketaatan pada suami mengikhlaskan langkahku…

***

Siang membakar kota…

Sepeda angin yang kutumpangi baru diparkir di sudut utara paling timur gudang umum, tempat penyimpanan bahan-bahan bangunan. Hari ini aku akan menerima gaji bulananku dari Shu In, perempuan blasteran Indo-Cina, bermata sipit dan berkulit kuning. Anak satu satunya Tacik majikanku, pemilik toko bangunan itu. Tapi, perempuan berperawakan tinggi semampai itu lebih dikenal dengan nama Pipin di mata karyawannya, aku, Parjo, Makmun, Suhli, dan Edi yang sok gaul.

Sepeda itu langsung kusandarkan ke dinding gudang tanpa ampun dan menimbulkan bunyi krongsang berkarat. Berangkatlah aku menemui kasir cantik itu.

“Silahkan duduklah!”

“Terima kasih,”

“Ini gajimu bulan ini. Tolong dicek,” katanya meyodorkan amplop putih. Aku langsung memasukkan amplop itu ke dalam celana.

“Aku percaya uang ini pas dengan hasil kerjaku. Aku pamit dulu,” aku melempar senyum lalu menarik kursi ke belakang.

“Tunggu. Bagaimana dengan urusan kita? Apa kau lupa?”

Pipin berdiri. Dia mendekat. Lebih dekat. Semakin dekat. Mendekat. Mendekap…
Aku melihatnya dengan cara berbeda, tidak seperti yang aku kenal selama berhari-hari. Satu ikat janji setia tersematkan pada dua tubuh yang saling berpeluk erat. Sepi ditumbang tangis. Sendiri berpalung rindu. Haruskah ada sesal pada orang yang takut pada sepi?

“Apa di matamu aku begitu istimewa?” pertanyaan itu mengorok sepiku.

“Tidak! Aku hanya mungkin takut kehilanganmu,” jawabku menyilangkan kedua tangan di balik punggungnya.

“Kau sungguh mencintaiku…” Aku tak tahu nada ucapan itu apa mempersoalkan kesetiaanku atau mengukuhkan bahwa aku mencintainya. Sepiku bergulung-gulung menutup setiap bagian lekuk tubuhnya.

Pada garis vertikal yang terbujur dari pangkal rambutnya, kusematkan kekuatan yang melebihi kasih sayangku pada Tuhan. Juga kasih sayangku pada seorang perempuan yang tengah menungguku pulang. Sepiku telah membungkus tubuhnya. Tak ada yang bisa bergerak. Sekedar bibir yang berirama.

***

Bagaimana aku harus mengatakan kepadamu jika sebenarnya aku adalah lelaki yang takut pada sepi?

“Apakah aku harus belajar kesetiaan pada kisah Qais dan Laila?”

“Jangan! Kesetiaan tidak akan menjerumuskan manusia pada lubang maut yang akan memisahkan jiwa dan raga. Kesetiaan Qais dan Laila itu dibangun di atas ketaklukannya pada sepi sehingga mereka memilih untuk mati,” katamu dari seberang.

“Terus, aku harus bagaimana?”

“Tidakkah papa mengeja pada para pendahulu kita. Ingatlah, pa! Hakikat manusia lahir dari kesetiaan yang sebenarnya. Termasuk kita. Tidakkah papa mengeja kisah Adam dan Hawa ketika oleh Allah diturunkan ke dunia yang sangat berjauhan jaraknya? Karena kesetiaan kedua manusia itu dibangun di atas kesabaran, akhirnya Allah mempertemukan mereka setelah sekian tahun berada di dunia keterasingan. Begitulah seharusnya cinta itu dibangun. Bangunlah kesetiaan papa di atas kesabaran, bukan dibangun di atas sepi,” katamu polos.

Kepolosanmu selalu mengalahkan sifat liarku. Aku tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Aku hanya bisa menatap wajahmu dalam angan. Berharap kamu tahu bahwa aku telah melihat semua mimpi dalam tahunku. Entah di tahun berikutnya, karena takdir tak selalu sesuai dengan mimpi.

“Lalu, bagaimana aku bisa mengalahkan sepi?”

“Ingatlah aku saat papa memanjatkan doa. Karena doa tiada pernah terikat dengan waktu. Bahkan jarak pun tak akan mampu membendung kedahsyatan doa. Pasrahkan semua pada yang Maha berkehendak.”

Seseorang memanggilku pertanda sarapan pagi sudah siap di meja makan. Aku gelisah. Maka, kancing baju segera kurapikan dan segera mengakhiri pembicaraan itu dengan alasan ingin menunaikan salat Dhuha untuk kemudian memulai pekerjaan.

***

Perempuan yang aku sebut mama itu bercerita bahwa di dunia yang fana ini ternyata ada yang abadi. Dia sangat meyakini hal itu bahwa cinta itu abadi. Tapi, aku masih tetap penasaran, ke mana perginya cinta, bila salah seorang yang sedang menjalin cinta itu harus pergi untuk menjadi tiada, tak peduli entah ke mana?

“Ia hanya dikalahkan oleh nafsu,” begitulah jawabanmu di seberang sana. Singkat, bukan?

“Benarkah? Lalu bagaimana kemudian jika cinta akan mengikuti arus kesementaraan, lalu menghilang di suatu tikungan?”

“Hem, ternyata papa masih belum tahu antara cinta dan nafsu ada sekat yang amat tebal…”

Pada kedalaman hati yang keberapa mil dalam arus kehidupan, aku merasa kamu begitu berbeda. Meski nun jauh di sana, aku bisa merasakan senyummu yang mengembang. Lalu, aku tersenyum saat berkaca pada senyumanmu itu.

Tak pernah kutemukan ucapan bijak seperti itu dari perempuan blasteran Jawa-Cina di sampingku. Meski kamu hanya alumni pesantren salaf, tak pernah mengenal pendidikan formal, cara bicaramu membawa kedamaian. Pancaran imanmu sangat kurasa. Ya, aku menemukan malaikat di dalam dirimu yang akan selalu menegurku jika membuat kelalaian dan kesalahan.

“Wah, mamaku is the best…” godaku.

“Tentu. Karena papa tidak salah memilih mama. Bagaimana? Masakan mama enak bukan? Coba deh sup kuah wortel ini,” dia menyodorkan sendok berisi satu iris wortel di atasnya lalu menyuapiku dengan manja.

Dengan siapa aku berbicara? Kuharap bukan dengan sepiku.

“Ah, papa. Sudahlah, pa, salat Dhuha dulu,” katamu mengingatkan. Bandolan jam berdetak tujuh kali.

“Ya, terima kasih,” cara bicaraku berubah seperti berbicara dengan karib bisnis.

***

Begitu indah bila jalinan keluarga dibangun di atas sabar dan setia. Tetapi, sulit sekali menemukan kaki manusia berpijak pada kedua alas itu. Keseimbanganpun tak sempurna. Selalu ada yang jatuh pada setia atau pada sabar. Ah, seandainya jarak yang membentangi manusia bisa merasakan ada sesuatu yang indah yang tersembunyi, niscaya tak akan ada cerita penghianatan atas nama sepi.

“Lebaran ini papa harus pulang. Papa tahu, puteri kita, Jamilah sudah bisa mengaji dengan lancar. Bisa melafalkan kata Allah dengan benar. Pokoknya papa harus pulang,” ucapanmu serupa jerit panggilan dalam hati.

“Ma, dengan apa papa harus pulang? Papa masih belum cukup uang untuk kembali ke kampung!” Entah dari mana kata itu berucap. Bukankahkah aku adalah lelaki yang takut pada sepi? Seharusnya aku memenuhi panggilanmu. Apakah ketakutanku pada sepi telah menghapus cinta padamu. Betapa bodohnya aku!

“Mama tak memerlukan uang! Haruskah aku menceritakan semuanya pada papa? Aku harus jatuh bangun berjuang melawan sepiku. Untung tawa putri kita selalu mengobati kerinduanku pada papa,” suaramu mulai meninggi.

Aku salah. Aku kalah. Kekuatan lelaki tak mengalir pada kedalaman jiwa, hanya meregang pada otot-otot kekarnya. Justru sebaliknya, kekuatan itu sulit nampak pada perempuan karena selalu menyematkannya sedalam mungkin pada jiwanya. Sehingga lelaki seringkali menganggap perempuan adalah makhluk lemah. Naif.

“Papa masih selalu menegakkan salat Tahajjud, kan?”

Aku tak bisa menjawab. Haruskah aku menjawab bahwa selama ini aku dikejar sepi dan selalu memanjatkan doa kepadamu? Tapi, kini aku takluk pada sepi. Doa-doa itu tak lagi mengalir dalam sujud. Tahajjudku selalu tersendat oleh pelukan erat perempuan bermata sipit itu. Selalu seperti ular yang melilit tubuhku.

Segera kumatikan ponsel saat derik pintu kamar terbuka.

“Dari siapa?” katanya menaruh curiga.

“Temanku di kampung. Katanya akan menikah Sabtu depan.”

Lalu, tak ada lagi kata terucap. Aku berbaring telentang di atas ranjang yang senyap. Perempuan itu kembali melingkari tubuhku serupa ular yang melilit mangsanya. Aku membutuhkannya sekedar untuk ditiduri. Bukan untuk bercinta.

***

Cakrawala sepenuhnya hilang saat angkot tiba di pertelon Pancasila. Kusodorkan selembar lima ribuan pada sopir angkot itu. Tiga orang lelaki berlari menghampiriku. Berebutan menawarkan jasa. Satu orang lelaki tua tetap duduk manis di atas sepeda motor Honda Astrea Prima. Kuhampiri lelaki itu tanpa mempedulikan tiga orang lelaki yang tetap nyerocos menawarkan jasa sesuai harga. Aku tahu, dia adalah ke Satnawi. Lelaki yang sejak aku masih bersekolah dasar mengabdikan diri sebagai tukang ojek di pangkalan itu. Apakah dia masih mengenaliku? Segera kusebutkan alamat yang ingin kutuju. Tukang ojek itu hanya terseyum, memberi helm tanpa mengurus siapa diriku.

Pada surau kecil yang telah lama kutinggalkan. Dibalik kerre (tirai bambu) lamat-lamat, begitu santun dan lirih terdengar suara anak kecil sedang belajar mengeja Al-Quran. Alif ba ta tsa… kamu begitu khusyuk mengajarkan puteri kita membaca al-Quran. Sepiku runtuh menjadi air mata.

Bagaimana nanti jika kamu bercerita tentang sepimu? Apakah aku memiliki cerita sepadan untuk menguatkan cintaku?

Aku lelaki yang takut pada sepi. Aku yakin sepiku akan lebur menjadi cerita panjang saat aku mengecup keningmu. Selamanya!

Annuqayah, 5.02 PM

Wednesday, November 23, 2011

Menulis Sampai Mahok!

(Majalah Infitah, XX.XII. 2011)

Kerapkali sahabat saya bertanya begini, “Bagaimana caranya menulis?” Pertanyaan itu sering membuat saya menelan ludah sebelum menjawab. Lalu, terkadang jawaban saya mengecewakan mereka. Saya tidak memiliki jawaban lain selain, “Ya, menulis.”

Kemudian muncul pertanyaan turunan, “apa yang bisa (harus) saya tulis?” pada jawaban dari pertanyaan ini, saya hanya bisa menepuk jidad, “Palang!”

Menulis bukanlah kreatifitas yang lahir secara instan. Butuh proses panjang untuk menjajakinya. Tentu, tidak bisa dalam seminggu seseorang sudah bisa menulis dengan baik. Kalau anda membaca kisah-kisah dibalik para penulis hebat, maka anda akan tercengang. Taruhlah misalkan Joni Ariadinata, yang saat ini menjabat sebagai Presiden Cerpenis Indonesia, harus menunggu sampai karya—kurang lebih—ke seratus kalinya bisa dimuat di media massa. Atau jika tidak ingin jauh-jauh, tanyakan proses kreatifitas menulis pada sahabat anda sendiri yang anda anggap sebagai penulis. Saya yakin, prosesnya berdarah-darah.


Banyak orang menulis berhenti di tengah jalan. Mereka putus harap. Ada yang frustasi karena bingung kata apa yang harus ditulis pertama kali, ada yang frustasi karena tulisannya tidak selesai-selesai, ada yang berhenti karena tulisannya dijelek-jelekkan, sampai pada yang frustasi karena tidak pernah dimuat di media.

Maka dari itu, syarat utama menjadi penulis hanya dua, komitmen dan “tebal muka”. Seringkali orang-orang terjebak pada kata “penulis”. Bahwa penulis itu adalah orang yang karyanya pernah atau sering dimuat di media. Padahal tidak, seorang penulis itu adalah orang yang sering menulis.

Ada banyak manfaat bila kita menulis. Pertama, menulis dapat mengembangkan wawasan lebih cepat dan menguatkan ingatan lebih kuat karena menulis tidak bisa lepas dari membaca dan berpikir. Jika ada sahabat anda yang mengatakan sulit untuk menulis, tanyakan seberapa banyak ia membaca buku dan seberapa luas membaca keadaan. Kedua, membuka peluang pintu dialog untuk dituangkan dalam tafsir gagasan baru yang lebih baik. Sebagaimana yang diungkapkan Budi Darma, guru besar emeritus Unesa bahwa hakikat kreativitas adalah penemuan sambil berjalan. Karya akan terus hidup bahkan setelah penulisnya sudah meninggal. Ketiga, menulis bisa menjadi artis dan mendatangkan banyak uang! Pada wilayah ini, kita sudah bersikap pragmatis. Tak apalah, bagian ini hanya efek samping saja.

Di samping itu, menulis juga bisa membentuk dan mengubah cara pandang seseorang terhadap suatu persoalan dan juga bisa memengaruhi cara seseorang memandang suatu persoalan. Penulis ilmiah memandang persoalan dengan nalar pikir kritis dengan gagasan-gagasan “provokatif”. Seorang penulis fiksi memandang persoalan lebih nyeleneh (lembut?) lagi. Sebagai sastrawan, tentu diksi yang dipilih lebih intuitif.

Dalam tulisan Lan Fang, Adat dan Adab Menulis, rata-rata manusia mengucapkan 15.000-25.000 kata perhari. Pada orang-orang yang memiliki profesi tertentu, seperti salesman, marketing, pengacara atau politikus, bisa berkata-kata 2-3 kali lipat lebih banyak daripada rata-rata yang lainnya. Tetapi sedikit sekali manusia yang telaten mengumpulkan dan menyimpan kata-kata dalam bentuk abstraksi, mempertanyakan dalam pemikiran, dan menuangkan ke dalam bentuk tulisan.

Kita hidup dikelilingi oleh segerombolan kata yang keluar dari berbagai mulut. Lalu, kenapa masih banyak yang beralasan tidak bisa menulis karena tidak tahu apa yang harus ditulis? Jika anda tetap ingin menulis, ubah sikap dan cara pandang anda tentang penulisan. Bila anda memikirkan kesulitannya, maka anda akan mendapatkan kesulitan. Sebaliknya, bila anda merasa menulis itu mudah, maka anda akan merasa enjoy dengan pekerjaan itu.

As Laksana, kolumnis rubrik Ruang Putih Jawa Pos, membeberkan tiga rahasia menulis. Pertama, menulis setiap hari. Kedua, tetapkan berapa panjang tulisan yang akan ditulis. Ketiga, menulislah sampai kuota tulisan hari itu terpenuhi. Bandingkan dengan tiga rahasia menulis yang disampaikan oleh Kuntowijoyo, yaitu “menulis, menulis, dan menulis”. Jadi, hemat saya, tidak ada jalan lain untuk bisa menulis dan menjadi penulis selain “Menulis Sampai Mahok!”

Carok

(Bangka Pos, 20 November 2011)

Aroma celatong merebak saat Muksin membuka pintu kandang. Tiga karung rumput cukup hari itu, baginya dirasa cukup untuk makan sepasang sapinya. Kulitnya hitam lebam, mengkilat, serta basah oleh keringat. Selepas menaruh sekarung rumput, ia menuju langgar, tempat paling nyamat merebahkan penat di siang hari.

Udara begitu bengis. Panas mengernyitkan dahi. Kemarau seperti terus memuai, membuatnya semakin kesulitan mencari rumput yang hijau. Dipandangi lekat udara yang meniup debu di taneyan lanjeng. Muksin merebahkan diri. Matanya menatap langit-langit langgar. Ia kepikiran perkataan Saman tempo malam. Namun sesaat, desiran angin yang masuk dari lubang-lubang tabing meninabobokkannya.

Baru saja ia terlelap, dari kejauhan seseorang datang memanggilnya berulangkali. Dursampat lari sempoyongan. Pemuda itu adalah sepupunya yang termuda dari tiga saudara.

“Ada apa, Pat?”

“Anu, Kang. Tadi aku lihat Mak Tip diganggu Talhah.”

Kabar itu serupa cambuk yang dilecutkan pada dirinya. Ternyata, desas-desus yang tersiar luas, dari kuping ke kuping, adalah benar. Sebagai suaminya, betapa Muksin merasa terhina atas kabar itu. Kelakiannya merasa diremehkan sekaligus dilecehkan.

“Di mana?”

“Di pertelon pedasan, Kang.”

Muksin sangat cemburu dan marah. Patek, umpatnya dalam hati.

Muksin tahu betul tabiat Talhah, blater yang amat disegani di desa sebelah. Ya, Muksin dan Talhah berbeda desa. Jarak rumah keduanya berkisar satu kilometer ke arah barat. Pedasan di pertelon itulah yang mempertemukan warga desa Jaddul dan warga desa Burangin. Di sana, terdapat sumber mata air besar yang biasa dipakai oleh dua desa tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan minum.

Tak mungkin Dursampat membohongi kakangnya sendiri. Apalagi persoalan keluarga. Istrinya jelas-jelas ketahuan main serong dengan lelaki lain. Dan kali ini, saksinya adalah sepupu sendiri. Jelas, ini penghinaan besar. Muksin semakin kukuh untuk melangsungkan carok dengan Talhah.

***

Latipah, istri Muksin memang terkenal dengan perempuan yang cantik. Lebih cantik ketimbang perempuan lain di desanya. Meski sudah dikaruniai anak laki-laki yang sudah berusia delapan tahun, serta hidup dalam kondisi tergolong miskin, kecantikannya tidak pudar. Ia nampak seperti paraben, berkulit putih, serta perangainya sering berubah dari keibuan ke kanak-kanakan. Tentu, jika tidak menikah muda di usia dua belas tahun, Latipah masih meikmati masa remajanya seperti kebanyakan gadis kota. Tetapi, sulit ada perempuan yang bertahan sampai usia dua puluh ke atas. Jika ada, pasti akan digunjing sebagai perawan tua.

Kemarahan Muksin tidak hanya tertuju pada Talhah. Bagaimanapun, perbuatan istrinya juga sama sekali tidak bisa dibenarkan. Bersukurlah Latipah karena Muksin tidak menyaksikan sendiri perselingkuhan itu. Jika sampai terjadi, perceraian bukan dianggap solusi yang tepat, hanya nyawa yang bisa menebus dosa karena telah melecehkan martabat seorang suami.

Latipah mengelak atas tuduhan itu. Katanya, tidak ada rekayasa pertemuan di padasan itu, hanya kebetulan belaka. Setiap menjelang siang, Talhah memang selalu mengambil air untuk minuman sapi-sapinya. Sedangkan Latipah, meski tidak setiap hari, menjelang siang, ia terbiasa bersiraman di sana.

Desas-desus tersiar cepat. Tak ada jalan lain kecuali melakukan penceraian kepada isrtinya. Meski Latipah sendiri tidak mengakui, malu yang dirasakan Muksin amat besar datang dari lingkungan sosialnya.

Tak ada jalan lain kecuali penceraian dijatuhkan!

***

Rencana carok dengan Talhah dimatangkan dalam pertemuan keluarga di langgar suatu malam. Sidang ini hanya melibatkan empat orang anggota yang dianggap sebagai tetua dalam nasabnya, yaitu kedua orangtua; Ke Malhum, kakeknya; dan Mukarrom, kakak kandungnya sendiri. Beginilah cara mereka bermusyawarah menyembunyikan rahasia keluarga.

“Hanya nyawa yang bisa menjamin bila berani mengganggu istri orang,” kata Mukarrom. Bapak dan kakeknya turut mengamini.

Setelah carok dilaksanakan, Muksin berencana akan memasrahkan diri kepada polisi. Jalan itu ditempuh bukan semata sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatannya, melainkan lebih kepada mencari perlindungan atas balasan carok yang akan dilakukan oleh keluarga Talhah jika nanti berhasil menumpasnya. Muksin juga meminta bantuan kakaknya melakukan nabang (sogok) kepada polisi untuk meringankan beban hukuman. Sedangkan anaknya akan dipasrahkan kepada bapak-ibu selama menjalani proses tahanan.
Satu hal yang membuat dirinya merasa tidak puas dengan hasil keputusan sidang. Ia kecewa karena harus melakukan carok dengan cara nyelep, menyerang Talhah ketika dalam keadaan lengah atau dalam keadaan tidak siap tempur. Muksin memaksakan kehendak menantang Talhah dengan cara ngongghei, mendatangi rumah Talhah dan menantang langsung di depan halaman. Perbuatan itu amat jauh lebih jantan ketimbang nyelep, karena akan disaksikan langsung oleh keluarga orang yang didatangi.

Sungguh, perbuatan ini memang dianggap pengecut, berani main belakang. Tetapi Muksin benar-benar harus mempertimbangkan saran Ke Malhum. Ia tahu betul kekuatan lawan. Kesaksian atas terbunuhnya Surahwi tujuh tahun lalu masih cukup sempurna. Selain postur tubuh yang lebih tinggi, ilmu bela dirinya dirasa belum sepadan dengan lawan yang akan dihadapi.

Sepak terjang Talhah di dunia blater tidak ada yang meragukan. Ia adalah ketua remo di desanya. Sering berbuat onar saat ada pagelaran remo atau mirammi desa. Tentu, sebagai ketua, ia sangat berpengaruh pada para blater yang lain. Meski Muksin juga diakui dalam dunia blater sebagai orang yang angko (berani), menumpas habis nyawa Karjo dengan tiga belas luka bacok, masih belum cukup padan kedigdayaan bela dirinya. Muksin tidak memiliki jaringan kuat seperti Talhah dari sesama blater. Maka dari itu, nyelep adalah perbuatan yang tidak buruk, demi keselamatan nyawa, asal sekali melakukan carok, ia harus sukses menumbangkan lawannya. Jika gagal, bisa jadi Talhah akan mengumpulkan banyak massa untuk menyerang balik.

“Aku punya kancah yang bisa membantumu, Cong. Ia punya mantra nylateng ,” ujar kakeknya.

“Kapan aku bisa menemuinya, Ke?”

“Bisa sekarang,” katanya tegas.

Muksin dan Ke Malhum bergegas menemui orang yang dimaksud. Hanya kakeknya yang tahu tempat itu. Pelepah siwalan jatuh menimbulkan bunyi kresek berbenturan dengan dedaun bambu. Mereka memasang siaga awas. Takut ada maling atau rampok menghadang. Setelah melewati pekuburan, keduanya tiba pada sebuah rumah yang hanya disinari oleh satu lampu teplok.

Pemilik rumah langsung menyuruh masuk, seakan sudah mengetahui maksud kedua tamunya.

“Hendak apa malam-malam datang ke mari?” cahaya lampu teplok tak mampu menjangkau separuh wajah orang itu.

Muksin mengurai tuntas kronologi musibah yang menimpa keluarganya. Dimulai dengan kasus Talhah yang membunuh Surahwi delapan tahun yang lalu. Persoalan itu diungkit karena Surahwi masih memiliki garis keturunan dengan keluarganya. Sebagai bagian dari keluarga, Muksin merasa memiliki “kewajiban” melakukan carok balasan. Lalu, ia menceritakan perselingkuhan istrinya dengan Talhah dan mengutarakan maksud untuk melakukan carok. Harga dirinya sebagai suami merasa diinjak-injak oleh bajingan itu.
Lelaki itu menganggukkan kepala. Turut mengamini.

“Bagaimana, Ke?” kata Muksin saat tak segera menuai jawaban.

Lelaki itu mengusap kumis tebalnya yang memutih. Diajaknya Muksin ke dalam langgar di depan rumah. Sedangkan Ke Malhum tetap menunggu di ruang tamu. Meski demikian, kakek itu tahu apa yang sedang dilakukan kepada cucunya, mengaliri mantra ke dalam tubuhnya.

“Aku telah mengalirkan nylateng ke dalam tubuhmu, sekaligus membacakan nyepet ,” kata lelaki yang disebut kae itu.

Mendengar penjelasannya, ada rasa berbeda yang dirasakan Muksin. Nyalinya ingin bersegera memburu mangsa. Bila perlu, ia tidak akan nyelep, tapi ngongghei.

“Kapan bisa melaksanakan carok, Ke?” Muksin tak sabar.

Lelaki tua itu sedang menghitung-hitung jarinya. Mencari jawaban atas pertanyaan itu.

“Kamis pahing, menjelang manghrib.”

“Empat hari lagi?” Ke Malhum turut menghitung jarinya.

”Ya.”

Muksin ingin bersegera melakukan carok. Kalau perlu, esok pagi pun akan ia lakukan. Tetapi Ke Malhum mengingatkan cucunya agar tidak bersikap gegabah. Dalam perjalanan, beberapa kali Muksin menggeliakkan tubuhnya ke kanan, ke kiri, dan menyamping. Ia merasa tubuhnya menjadi lentur dan ringan, tetapi kuat dan bertenaga.

***

Hari yang di tunggu-tunggu datang. Matahari berjalan tak biasanya. Lambat. Muksin menimang-nimang celurit jenis takabuwan yang telah diasahnya berkali-kali. Ia menangkap potret dirinya di ketajaman celurit itu.

Matahari tak lagi beringas. Muksin sudah sampai pada tempat yang dipilihnya untuk nyelep Talhah. Biasanya Talhah melewati jalan setapak di tegalan itu saat pulang dari pasar sapi.

Benar! Orang yang ditunggu terpatri di matanya. Bara dendam tersulut. Darah membuncah. Amarah meledak. Celuritnya dipengang kuat-kuat, menunggu Talhah kian mendekat. Dari semak-semak ia terus mengintai lawanya.

Talhah tidak sendirian. Ada seorang lagi di belakangnya. Tapi Muksin tidak menggubris orang itu. Kamarahan sudah memuncak. Setelah lewat di depan persembunyiannya, mendadak Muksin keluar dan menyabetkan celurit pada punggung Talhah. Orang di belakangnya segera berteriak, menyadarkan bahwa nyawa kawannya sedang terancam. Sontak ia menghindar dari sabetan itu dengan menjadikan tali sapinya sebagai tameng. Tetapi, sabetan itu begitu cepat dan kuat mengenai di tangan kirinya. Darah mengucur. Jari tengahnya bergelantungan hampir lepas.

Talhah menyumpah serapahi perbuatan Muksin yang berani main selep. Mengatainya sebagai lelaki tidak jantan.

Patek!

Talhah mengeluarkan sekken dari balik punggungnya. Tanpa banyak cas-cis-cus, keduanya langsung adu kejantanan.

Di udara yang tak lagi bengis, debu-debu mengepul di antara tebasan celurit yang berayun tak tentu arah. Memamerkan kilatan singkat yang sempat tergores. Teriakan teriakan-teriakan lantang mengema. Meski ukuran celurit Muksin lebih besar ketimbang celurit Talhah, ia kereporan menandingi keblaterannya. Beberapa kali ia sempoyongan menghindar sebelum akhirnya berhasil membacok punggung Talhah.

Sadar lawannya terluka, Muksin berada di atas angin. Ia semakin beringas. Sekali tebas, menyemburlah darah dari perutnya sendiri. Talhah yang meringis kesakitan dengan gesit berhasil menghindar dan menebasnya tepat mengenai perut sebelah kiri. Muksin roboh. Genjatan bacokan Talhah semakin menjadi pada setiap inci tubuhnya. Nyawa Muksin melayang dengan tubuh terkoyak dan mata terbelalak memendam dendam. Ususnya terburai keluar bersamaan dengan anyir darah.

Talhah menjilat sisa-sisa darah yang menempel pada celuritnya, lalu meletakkan celurit itu di atas dada Muksin sebagai sombolisasi kepuasan dan kebanggaan atas kemenangan, sekaligus pengakuan bahwa dialah pembunuhnya.

Annuqayah, 11.12 PM

Thursday, November 3, 2011

Bakso Pak Oles

Makan sama lauk tempe saja, sudah makan seperti di istana kaisar Paus. Apalagi makan sama makanan seperti daging-daging hewan¬¬—pastinya, daging yang halal untuk dimakan. Seperti daging ikan, sapi, gulai kambing, opor ayam, dan yang lain. Mengimpikan harapan seperti itu, butuh kesabaran sangat besar agar bisa terwujud. Hanya bisa berharap pada orang yang bertamu dan membawa makanan lezat. Beli sendiri? Harus berpikir dua kali, bahkan berpikir berkali-kali mengubah selara makan sehari-hari; sambal terasi.

Namanya juga masyarakat sampah. Ya! Sampah memang harus dibuang. Saya lalu teringat kalimat dalam sebuah Novel Marabunta “Aku dilahirkan dari golongan sampah, tapi bukan orang yang berhati sampah”. Terbuang di keramaian mobil yang bunyi klaksonnya bertalu-talu. Tut…tut…tut…

Malam itu, Ada seorang bertannya pada Saya.

“Apakah mas tahu dimana diskotik di kota ini?”

Saya menjawab. “Tahu.”

“Yang mana tempat paling menyenangkan, Mas?”


Pertanyaan orang kekar bertato itu kali ini saya tak bisa menjawab. Meski saya banyak kenal beberapa tempat yang ia tanyakan, tak satupun yang pernah saya masuki. Saya hanya sering duduk di depan bar, menunggu orderan, itu saja. Mana mungkin bisa berjejel dengan para Pejabat, Birokrat, Saudagar, Bisnismen, atau yang lain, wong saya cuma orang rendahan. Orang yang mencari kenikmatan, duduk santai, diiringi alunan melodi-melodi neraka dan para bidadari yang selalu mengepakkan sayap indahnya. Jika bersama, mereka di atas, sedang aku di bawah memegang semir sepatu, mengelap sepatunya berulangkali sampai mengkilap. Itu pekerjaanku.

Dulu, dengan pekerjaan seperti itu, penghasilan yang saya peroleh sudah lebih dari cukup. Sudah bisa makan yang dirasa enak bagi orang-orang sampah, seperti saya. Kali ini, hukum yang demikian tak berlaku lagi. Seiring harga sembako yang semakin tinggi, ditambah menjadi seorang kepala keluarga, penghasilan yang hanya segelintir itu, tak cukup.

Apalagi persaingan semakin ketat. Banyak para penyemir sepatu bermunculan, seperti jamur dimusim hujan. Bocah-bocah yang seharusnya masih duduk di kelas, mendegar penyampaian guru. Kini, harus mondar-mandir menenteng kotak kecil, menawarkan pekerjaan pada mereka yang bersepatu kulit. Tas sekolah berganti kotak kayu. Dengan semangat, mereka mondar-mandir disekitar orang yang tak punya mata. Saya jadi tak tega melihat mereka. Saya putuskan untuk gantung semir dan mencari pekerjaan lain. Agak berat sih, mengganti profesi yang telah dijalani sekian tahun.

Apabila ada yang berkenan berkunjung ke rumah saya, caranya mudah sekali. Anda cukup turun di terminal kota. Selanjutnya, berjalan ke arah utara, sekitar 500 meter. Anda akan mendapatkan perumahan kumuh bercampur dengan limbah sampah. Di sudut barat daya, ada rumah berdempetan dengan pabrik tahu. Itu rumah saya.

Setelah sampai di sana. Saya sarankan pada anda, pakailah tissue. Sebab, yang akan anda dapatkan bukan orang-orang yang memakai dasi dan sepatu kulit, melainkan disambut oleh binantang-binatang kotor, menjijikkan; Kucing, Tikus, Kecoa, Lalat, dan Nyamuk. Datang tanpa mengetuk pintu. Rumahku menjadi pertunjukan circus mereka. Unjuk kebolehan. Seisi rumah bakal meriah jika mereka beratraksi. Apalagi, ketika musuh abadi itu (Kucing dan Tikus) bertemu. Piring, Panci, Wajan, dan perabotan lain akan amburadul. Ditambah sorak sorai istriku yang menyumpah serapahi binatang menjijikkan itu.

Jangan Anda memberi kesimpulan, saya tak pernah berusaha mencegah. Memberi aturan bagaimana cara bertamu yang baik. Tamu-tamu tak diundang itu berseliweran seenaknya saja. Sulitnya, saya harus membongkar istana—karena rumah itu harta yang sangat berarti—agar binatang menjijikkan itu tak lagi bertamu, setiap waktu. Hampir setiap senti gedung rumahku ada pintu untuk mereka. Bahkan, bagi binatang itu bukan pintu, melainkan gerbang besar.

Begitulah, kondisi rumahku, sangat memperihatinkan. Semua dinding dari kayu lapis, peninggalan satu-satunya Almarhum keluarga kami. Apabila musim kemarau, rumah itu tak bisa melindungi penghuninya dari terik matahari dan polusi. Selalu ada celah bagi sinar matahari untuk menerobos dan menggeledah isinya. Begitu pula dengan musin hujan, sama saja, hampir tak ada hambatan sama sekali menahan air masuk ke rumah. Atap terus menangis.

“Pak, kapan kita bisa memperbaiki rumah kita? Ya! Paling tidak, nyaman untuk dihuni,” ungkap istriku. Ada impian besar di matanya yang bening.

“Ayah, kapan kita kita punya rumah mewah? aku bosan di rumah yang seperti ini,” kata anakku.

Tak dapat saya pungkiri, kata itu menyinggung perasaanku. Namun, melihat kepolosannya dalam bertutur. Saya tahu, dalam benaknya tak ada maksud untuk melecehkan saya sebagai ayahnya. Saya tahu, memang semua ini adalah tanggungjawab seorang kepala keluarga. Mereka tidak salah. Bahkan mereka berhak untuk menuntut kenyamanan padaku. Semua salahku.

Malam ini, malam minggu. Saya mengajak anak dan istri saya berjalan-jalan di taman kota. Hanya berjalan-jalan. Itu saja. Tidak lebih. Lama tidak jalan-jalan seperti yang biasa saya lakukan, ketika anakku dalam dekapan. Sekitar tujuh tahun lalu, saat si buah hati belum dalam pangkuan. Masih ingat di benak, ketika menikmati hangatnya sajian bakso Pak Oles. Pada saat itu, musim dingin. jadi, sangat terasa betapa nikmat makan bakso panas pak Oles.

Saya dan istri saya membanyangkan, bunga indah di masa lalu. Saat aku bertemu dengannya di sini, di warung bakso Pak Oles.

Kala itu, ada orang kaya makan bakso dengan istrinya. Istrinya bunting—kira-kira hamil lebih dari hamil tujuh bulan. Menurut pengakuannya, sang istri ngidam makan bakso. Sebenarnya, ia tidak begitu suka dengan tempat itu. Demi si buah hati pertama yang masih dalam jabang bayi, ia rela berada di tempat yang tidak disukainya.

Saya mendapat orderan di malam yang dingin itu. Ia meminta saya untuk membersihkan sepatunya yang tak sengaja menginjak genangan air kotor. Saya tak menyiakan kesempatan. Meski malam sudah larut, kira-kira sudah jam sebelas lebih, saya mau pulang—saya tidak ingin membuang rezeki pemberian dari Tuhan. Aku layani permintaannya. Dia bertanya banyak tentang saya. Mulai pekerjaan, profesi, keluarga, sampai pada lika-liku kehidupan saya.

Sebaliknya, ia juga berbicara banyak tentang kehidupnnya. Pembicaraan kami semakin mencair dan mengalir tanpa bendungan. Ia bercerita, mengapa ia bisa sampai berada di tempat ini.

Berat rasanya menceritakan pada saya. Ada sedikit keraguan pada dirinya, pad diri saya. Mata itu berkaca-kaca. Seolah, akan menceritakan beberapa hal yang belum pernah dimuntahkan dari mulutnya.

”Istriku sedang hamil lebih tujuh bulan. Aku menunggu kehadiran buah hati pertamaku,” katanya dengan nada lirih. Mengapa seakan tak ada kebahagiaan dari cara bicaranya? Apa ia tidak suka?

“Bapak bahagia?” Entah kenapa, setelah saya memandang kacamata minus yang melekat di atas hidung mancungnya, pertanyaan itu muncul sendiri.

“Jelas, bahagia sekali.”

“Kalau begitu mengapa murung?”

“Ah masak.”

“Ya!”

“Mungkin, aku kelelahan menuruti segala permintaannya. Akhir-akhir ini, ia selalu minta yang aneh-aneh. Katanya, bukan dia yang minta, tapi bayi yang ada dalam kandungannya.”

Ia mengatur nafas sebelum melanjutkan.

“Yang paling aku heran lagi……” beberapa saat, ia memotong pembicaraan. Beberapa detik, jadi menit.

“Ia minta tambahan belanja. Tahukah kau berapa yang dia minta? Sepuluh juta perminggu.”

Gila! Saya belum pernah melihat orang hamil ngidam sampai segila itu. Sepuluh juta? Bagi saya, sudah bisa tidur dengan nyenyak. Buat perbaikan rumah yang hampir condong ke barat.

“Lagi-lagi, katanya bukan permintaannya,” Ia menambahkan lagi. “Tapi bayi dikandungnya.”

Saya membayangkan, belum lahir saja sudah minta sepuluh juta. Apalagi sudah lahir, pasti banyak korupsinya, atau jadi perampok.

“Bapak menuruti?” Ada rasa takut diwajahnya.

“Demi keselamatan anak pertama. Aku rela menuruti semua yang diminta,” katanya mantap. Katanya, ia sudah lama berkeluarga, Lima tahun, baru kali ini, Tuhan mengkaruniai anak.

“Bapak kerja dimana?” Aku tak harus bertanya seperti itu. Aku sudah menduga kalau pekerjaannya bukan pekerjaan biasa. Pakai jas, dasi, dan sepatu yang masih aku semir. Pasti ia baru pulang dari kantor.

“Kamu punya istri?” ia mengalihkan perhatian.

Saya tak menduga orang itu bertanya demikian. Memang, orang seusia saya mestinya sudah menikah dan punya anak

“Belum.”

“Mengapa?”

“Saya takut akan seperti istri bapak. Nanti istri saya meminta macam-macam,” aku sengaja menghiasi ucapan saya dengan tawa, agar terlihat seperti guyonan. Saya takut jika tidak demikian, ia akan tersinggung oleh ucapan saya.

Ia tertawa.

Sunyi.

Kemudian, istrinya memanggil penjual mainan. Yang dipanggil datang. Istrinya subuk memilih-milih boneka Barbie. Untuk anaknya saat lahir nanti, begitulah pengakuan istrinya. Ia pasti menginginkan anak perempuan. Boneka identik dengan anak perempuan.

Orang itu berbisik pada saya, ”penjual itu cantik, cocok untukmu. Pasti ia belum menikah.”

Lalu, ia menyuruh saya untuk berhenti menyemir sepatu dan menyilakan saya makan bersama. Saya menolak meski mau di traktir. Tapi, melihat kemauannya yang sangat besar, tak kuasa juga saya menolak.

Benar kata dia. Penjual mainan itu memang cantik.

Entah apa maunya lelaki ini. Ia juga menyuruh penjual mainan itu duduk, lalu makan bersama kami, ia ditraktir juga. Ada senyum yang mengembang di bibir laki-laki itu ketika saya dan penjual mainan saling tatap. Kemudian ia pamit. Sebelum lelaki itu pergi. Ia mengatakan bahwa bakso kami sudah dibayar.

Ia juga sempat bilang, “ Saya merasa rugi mentraktir kalian, jika kalian tidak sampai jadian.” Begitulah katanya.

“Ongkos semirnya, saya masih akan hutang. Kalau mendapatkan penjual mainan itu, saya akan bayar dua kali lipat. Ini kartu nama saya,” ia berlalu begitu saja setelah memberi tanda pengenalnya.

Mereka tersenyum sipu. Berlalu begitu saja setelah mengeluarkan selembar seratus ribu untuk membayar bakso kami.

"Sisanya untuk kalian berdua," begitu katanya.

Tinggallah hanya saya dan wanita penjual mainan itu. Saya agak gugup pertamanya. Namun, lama-lama rasa gugup itu hilang. Dan, dari bakso pak Oles, mengantarkan saya dan wanita penjual mainan ke pelaminan.

BUMI AL-SAEL, 2008