Sunday, May 8, 2011

Minggu


I
Banyak orang yang menyukai hari minggu. Pegawai, karyawan, pelajar, serta buruh, semua menyukainya. Tapi tidak bagiku. Hari minggu adalah hari yang paling menyebalkan. Betapa tidak, hari yang selalu kuharapkan menghadirkan sejuta kebahagiaan selalu memberikan beribu kekecewaan. Sial.

Lagi-lagi tulisan cerpenku gagal menembus media. Honor tulisan yang selalu kuharapkan bisa meringankan beban biaya orangtuaku di pondok hanyalah menjadi bunga tidur di malam minggu. Malam yang menjadi tempatku mengantungkan berjuta harapan.

Ah, pasti teman-teman sekamar akan menertawaiku lagi: menyebutku sebagai penulis gagal, menyuruhku menyudahi perjalanan ini, atau yang membuatku merasa lebih terbakar lagi ketika mereka mengatai tulisanku akan lebih bermanfaat jika digunakan sebagai alas kastol, sobluk, panci, atau wajan. Sungguh menyebalkan!

II
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah tabing bilik membangunkanku. Mataku memicing karena cahaya itu. Ah, aku lupa kalau hari ini adalah hari minggu. Bersegeralah aku berangkat ke perpustakaan tanpa berkaca dulu apakan di mataku ada bile’ atau tidak.

Sampai di perpustakaan, koran itu telah dikerumuni banyak santri. Aku berdiri menunggu giliran, membetulkan sarungku yang hampir merosot, menunggu salah satu santri menyudahi membaca koran harian lokal yang selalu aku tunggu-tunggu.

Lagi, lagi, dan lagi. Cerpenku gagal tembus. Aku mulai putus asa. Menembus sekaliber koran lokal saja sulitnya minta ampun apalagi koran regional atau bahkan kelas nasional.

“Kenapa Gus, gagal lagi?” kata Ustadz Bahri, kepala perpustakaan pesantren.

“Iya, tadz,” ucapku malas.

“Sudah berapa kali kau ngirim?” tanyanya lagi.

“Lima kali, tadz. Semuanya lenyap entah ke mana. Apakah aku tak memiliki potensi ya tadz untuk menjadi penulis?”

“Baru lima kali ngirim saja sudah keok,” Ustadz Bahri tersenyum.

Lantas dia bertutur bahwa presidenku harus menunggu cerpen yang kesekian ratus kalinya dimuat di media massa. Aku kaget. Baru kali ini aku mengetahui kalau Pak SBY ternyata juga suka menulis cerpen.

Lagi-lagi Ustadz Bahri tersenyum. Ternyata presiden yang dimaksud bukanlah Pak SBY, melainkan Joni Ariadinata, Presiden Cerpenis Indonesia. Ah, kebodohanku menertawaiku sendiri.

III
Harapan benar-benar tinggal harapan. Sekali dari sekian kali cerpenku gagal terbit. Aku benar-benar frustasi. Kesabaranku sudah habis. Pagi ini aku putuskan untuk gantung pena selama-lamanya. Tak ingin lagi melihat oretan-oretan usang yang bersarakan di kamar bilikku.

“Tadz, apa sich gunanya menulis?” entah mengapa pertanyaan ini meluncur dengan sendirinya. Emosiku meledak.

“Menulis itu adalah salah satu media untuk berdakwah. Kita bisa menuangkan gagasan kita melalui tulisan sebagai pencerahan kepada pembaca. Berdakwah itu bukan hanya dengan bil lisan, melainkan juga bisa dengan bil qalam,” jawabnya.

“Apakah juga berlaku pada sastra? Misalkan cerpen, kan itu fiktif?”

“Haris, kefiktifan itu terjadi karena kita mendapatkan imajinasi dari sebuah realita. Pernahkah kau berpikir bahwa Al Kindi, Al Farobi, Ibnu Sina, Jalaluddin Rumi, dan Al Ghazali adalah para sastrawan? Tidak, kan! Kita hanya mengenal mereka sebagai tokoh sufi saja. Tak pernah berpikir bahwa kitab-kitab yang ditulis mereka mengandung estetika bahasa yang tinggi, intuitif, dan profetik.”

Aku hanya bisa menunduk. Ucapannya kembali membuatku harus mempertimbangkan untuk meralat keputusanku.

“Yakinlah! Kata itu lebih tajam ketimbang sebilah belati,” katanya menyudahi pembicaraan.

IV
Sore yang indah. Gerimis tak selamanya mengundang resah. Karena pada itu, matahari dan hujan bersekongkol menghadirkan pelangi demi menghapus kesunyain mereka…
Begitulah sepenggal catatan yang sempat kutulis ketika duduk-duduk santai di depan bilik sambil mengintip pelangi yang tersenyum. Indah sekali. Barisan gerimis memberiku banyak imajinasi di sore itu.

Tetapi, konsentrasiku pecah, ngelantur ke mana-mana ketika aku membuka selembar kertas catatan lagi dan mendapatkan sebingkai foto terselip di sana. Ya! Foto Eris, perempuan yang kutahbiskan sebagai cinta pertamaku. Sejak masih duduk di kelas lima SD aku sudah mulai mencintainya. Tetapi, hingga aku terdampar di usia ke-18 ini, tetap tak ada keberanian mengungkapkan perasaanku padanya.

“Lagi nglamunin apa? Apa karena cerpenmu tidak dimuat lagi?” tiba-tiba Ustadz Bahri berdiri di depanku. Aku segera menutup catatanku.

“Tidak tadz, sekedar corat-coret saja,” kataku.

“Tadi itu foto siapa?” Mati aku! Ternyata ustadz mengetahuinya.

Aku tak bisa menyembunyikannya lagi. Kuceritakan semuanya perihal perempuan itu. Aku mempertegas bahwa Eris bukanlah santri putri di sini agar ustadz tidak mengira kalau aku sedang berpacaran di pesantren.

Kukira Ustadz Bahri akan merampas dan merobek foto itu, karena di pesantren dilarang menyimpan foto-foto yang bisa mengundang syahwat. Ternyata tidak! Justru dia menyuruh menulis kisahku dalam bentuk cerpen. Siapa tahu akan tembus di media.

V
Hari ini, aku tak harus mengutuk hari minggu sebagai hari yang menyebalkan. Justru aku harus memberikan tinta merah karena untuk pertama kalinya cerpenku berjudul Pemburu Sunyi terbit di media. Aku bersyukur sekali. Impianku untuk mencari uang sendiri demi meringankan beban orangtuaku terpenuhi. Lumayan kan, satu cerpen dihargai seratus ribu rupiah!

VI
Dari sepupuku, aku mendapatkan sepucuk surat dari Eris. Katanya, dia telah membaca cerpen Lelaki Pencari Sunyi. Eris terharu saat membaca cerpen itu. Ternyata, selama ini dia menanti kata cinta dariku. Sungguh, semua ini di luar dugaanku.

Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Dia menerima cintaku. Aku benar-benar bahagia. Dan, lagu Marshanda Kisah Sedih di Hari Minggu tak berlaku padaku.
Akhirnya kubulatkan kembali tekadku; Bismillah, menulis sampai mahok!

Gubuk Cerita, 2011

Membuat Mobil-Mobilan

Hari menjelang petang. Andi belum pulang. Ia masih asyik bermain bersama Doni, tetangga sebelahnya. Doni baru saja memiliki mainan mobil baru, hadiah dari kakaknya di Semarang.

“Andi, ngaji dulu. Teman-temanmu sudah banyak yang berangkat,” kata Pak Joko dari balik pagar.

Andi bergegas. Dia berlari. Mukanya murung. Sampai di depan bapaknya, tiba-tiba Andi menangis. Suaranya sesenggukan.

“Pak, aku ingin punya mobil-mobilan seperti punya Doni.”

“Lho, mobil yang bapak buatin kemarin ke mana?”

“Mobil itu sudah rusak. Tadi siang jatuh ke sungai waktu aku mandi bersama teman-teman,” tuturnya polos.

“Ya sudah, besok bapak buatin yang baru lagi.”


“Nggak! Saya nggak mau membuat mobil-mobilan dari bungkus rokok lagi,” Andi
menggeleng. “Aku mau bapak membelikanku mobil yang bagus seperti punya Doni,” Andi menenggelamkan mukanya pada kedua paha bapaknya.

“Ya, sudah. Besok bapak akan memberikan kamu Bis yang besar.”

Andi sedikit tenang. Bapaknya berjanji akan memberikan mobil-mobilan baru, sebuah bis yang besar. Waktu mengaji, Andi sering membayangkan mainan bis baru yang dijanjikan bapaknya.

Sepulang dari surau, Andi kembali mengungkit janji bapaknya. “Pak, kapan bapak akan membelikan aku mobil-mobilan?”

Ayahnya tersenyum. “Besok kan hari minggu. Kita berangkat bersama-sama, ya!”

“Hore…hore. Ibu, bapak akan membelikanku mainan yang baru,” ucapnya girang. Andi menghampiri ibunya yang sedang merapikan pakaian. Baju ibunya ditarik-tarik. “ibu, besok bapak akan membelikanku mobil-mobilan.”

“Iya, iya. Ibu tahu. Sana tidur! Sudah malam.”

Andi berjingkrak-jingkrak menuju kamarnya. Malam itu, dia bermimpi sedang mengendarai bis besar. Berkeliling di sekitar halaman rumah.

***
Minggu yang cerah. Matahari baru saja mengecup kening bumi. Burung-burung berkicau. Melompat dari ranting satu ke ranting yang lain. Bangun tidur, Andi langsung teringat akan bis yang dijanjikan bapaknya.

Di luar rumah, di bawah pohon jambu, Pak Joko sedang mengerjakan sesuatu. Andi menghampirinya.

“Bapak ngapain apa?”

“Kamu sudah bangun rupanya,” sapa Pak Joko. “Sini, bantuin bapak dulu.”

“Jadi kan, bapak akan mebelikanku mobil-mobilan hari ini?”

“Iya. Tapi bantuin dulu pekejaan bapak, biar cepat selesai,” kata Pak Joko tesenyum.
Hari itu, Andi begitu bersemangat. Pak Joko menyuruhnya menggergaji kayu triplek sesuai dengan gambar di atasnya. Pak Joko senyum-senyum melihat anaknya linah dan terlihat bersemangat memotong kayu triplek sesuai dengan garis gambar itu.

“Sebenarnya bapak akan membuat apa?”

“Selesaikan dulu pekerjaanmu. Nanti kamu juga akan tahu.”

Kemudian, Pak Joko menyuruh Andi memotong beberapa kayu sesuai dengan panjang dan lebar gambar pada kayu triplek itu. Setelah selesai, Pak Joko merakit potongan-potangan itu bersama-sama.

“Bapak akan membelikanku mobil-mobilan, kan?” Andi mula curiga. Setelah dirakut, potongan-potongan kayu tadi menyerupai bis.

“Andi, bukannya bapak tidak mau membelikanmu mobil-mobilan. Bahkan bapak mampu membelikanmu mobil yang lebih bagus dari kepunyaan Doni,” kata Pak Joko lembut.
Andi murung. Kecewa.

“Bapak ingin kamu bisa membuat mobil-mobilan sendiri. Tidak bagus kita hanya bergantung pada barang yang sudah jadi. Itu tidak kreatifnamanya. Belum tentu Doni bisa membuat mobil-mibilan sendiri.”

Andi hampir menangis.

“Bapak janji. Jika mobil yang bapak buat ini jelek, bapak akan membelikanmu mobil-mobilan. Ayo, kita selesaikan dulu!”

Andi sudah tidak begitu bersemangat. Tetapi bapaknya terus menyemangati. Menyuruh Andi melakukan ini dan itu.

Mobil-mibilan itu sudah hampir selesai. Nyaris menyerupai Bis sungguhan.

“,Sekarang kita tinggal mengecat tiap sisinya. Bantu bapak, ya!”

Pak joko melukis bis itu dengan telaten. Mengkombinasikan warna silver dengan warna hijau. Di tengahnya tertulis LORENA.

“Nah sudah selesai. Bagus kan!” kata ayahnya semangat. Andi tersenyum.

***
Sebulan kemudian, di SDN Panggilingan, tempat andi bersekolah mengadakan pekan kreatif. Para siswa diwajibkan membuat karnyanya sendiri. Temanya bebas. Segala bahan harus dibuat di sekolah.

Kompetisinya sangat meriah. Kebanyakan dari teman-temannya memilih menggambar: bunga, kelinci dan lain sebagainya. Hanya Andi yang berbeda. Dia membuat membuat truk peti kemas dengan bungkus rokok. Karena sudah terbiasa membuat mainan sendiri, Andi tak menemui kesulitan.

Pada malam puncak, yakni malam anugerah, seluruh wali siswa diundang. Pak Joko turut datang bersama istrinya. Dia berjanji akan membelikan Andi mobil-mobilan jika menjadi juara.

“Juara pertama adalah Andi Saputra utusan dari kelas IV!”

Seluruh penonton bertepuk tangan. Andi amat senang. Di atas panggung, wajahnya berbinar-binar. Dia mengangkat tinggi-tinggi tropi yang baru saja diraihnya.

“Sesuai dengan perjanjian kita, bapak akan membelikan kamu mobil-mobilan yang sangat bagus,” ucap Pak Joko bangga.

“Tidak. Andi tidak mau mobil-mobilan, Andi mau beli baju baru saja,” katanya tersenyum. Pak joko juga tersenyum. Ibunya juga. Malam itu, keluarga Pak Joko pulang membawa kebahagiaan dan kebanggaan yang sangat besar.

Monday, April 25, 2011

Surat Buat Tuhan

Bakri tersenyum. Penuturan si pemilik kacamata minus di depannya amat menggugah hatinya. Merenungi tiap kata, menjelajah imajinasi dalam kata, untuk menggali hikmah yang terpendam dari ucapan seorang lelaki berkacamata minus. Bocah kecil yang lugu, yang selalu ingin tahu. Ia tersenyum. Memperlihatkan giginya yang tanggal satu. Kopyah putih yang bermahkota di kepalanya, miring. Kusut. Membuat ia seperti badut.

Bel sekolah berbunyi. Murid-murid lucu itu berhamburan. Keluar dari ruang kelas yang pengap. Buyar seperti pasir dalam kantong yang bocor. Berlarian di bawah terik matahari dan tanah yang masih becek. Tak peduli peluh mereka membasahi seragam putih dan lumpur melumuri celana hijau, yang besok harus mereka pakai kembali.
Bakri belum beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap Pak Soleh, guru agamanya yang sedang sibuk merapikan kertas-kertas hasil ujian yang baru ditugaskan pada murid-muridnya yang lucu. Mimik pemilik kacamata minus itu kadang tersenyum, manggut-manggut, mengernyitkan dahi, dan geleng-geleng kepala melihat tulisan surat Al-Ikhlas yang baru ditulis oleh mereka.

Di ruang kelas. Sekilas sunyi. Hanya pekikan anak-anak sebayanya yang bermain di luar kelas. Berlarian, bermain petak umpet, banteng-bantengan, atau bermain ular naga.

Di deretan bangku paling utara, nomor dua dari depan, Bakri selalu menebar senyum. Entah, senyum itu diberikan pada siapa, tidak tahu juga. Pak Soleh yang sedang mengoreksi hasil ujian itu menatapnya. Ia heran melihat tingkah laku muridnya yang satu ini.

“Bakri, mengapa kamu tersenyum sendiri, nak?” tanya Pak Soleh penuh keheranan.

Lagi-lagi Bakri hanya tersenyum. Memperlihatkan giginya yang tanggal satu dan kehitaman. Lantas tertawa kecil. He…he…! Di tanya kok malah tertawa, gumam Pak Soleh.

“Pak, apa benar Tuhan itu bisa mengabulkan segala permintaan kita?” ungkapnya polos.

Pak Soleh tersenyum. Pertanyaan yang sangat mudah––baginya. Ia membetulkan kacamatanya dan menjawab dengan jelas––pastinya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh bocah sekecil Bakri yang baru kelas III Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu.
Pak Soleh membetulkan tempat duduknya.

“Ya, anakku. Tuhan akan selalu mengabulkan permintaan kita. Asalkan kita bersungguh-sunguh meminta kepada-Nya. Kalau hati kita ikhlas, kita akan mendapatkan apa yang akan kita minta,” jawaban yang sederhana. Pak Soleh memang sengaja memanggil seluruh muridnya dengan sebutan anak, agar terasa lebih dekat.

Bakri diam, sama dengan pak soleh yang menatapnya lekat. Memperhatikan respon bocah itu.

Bakri tersenyum lagi. Begitu juga Pak Soleh. Seakan ia telah berhasil menanamkan keyakinan pada muridnya.

“Terima kasih, Pak, sekarang aku sudah paham,” jawab bocah itu. Pak soleh menganggukkan kepala. Walau sebenarnya ia tak mengerti dengan maksud ‘paham’ yang dikatakan Bakri. Tapi, ia sudah cukup puas melihat muridnya sudah bisa mengatakan ‘paham’ terhadap jawabannya.

***
Bakri menatap perempuan tua yang terbaring tak berdaya di atas tikar kusut. Kaki lencak yang sebagian sudah dimakan rayap itu sepertinya tak kuat menahan tubuh kurus ibunya. Namun, begitulah, tak ada tempat lain yang lebih layak untuk menyangga punggung orang yang telah melahirkan dan membesarkannya kecuali lencak tua itu. Satu-satunya harta warisan yang tersisi. Yang selalu menjadi tempat berbagi antara anak dan ibu itu.

“Bu, kenapa ibu tak berobat ke rumah Pak Burdi saja?” Pertanyaan itu keluar dari bibir Bakri tanpa beban. Pak Burdi adalah dokter terkenal di sekitar desanya. Yang biasa mengobati warga yang sedang sakit.

Ada yang menetes dari kelopak mata ibunya. Ia tak mampu menahan kesedihan dan kepolosan pertanyaan anaknya.

“Ibu tidak punya uang, nak,” jawabnya datar. “Mana cukup penghasilan ibu yang hanya demikian itu bisa membayar biaya rumah sakit,” ucapnya penuh getar.

Setelah bapaknya menghilang tanpa kabar, dua tahun lalu, Ibu Bakri hanya bisa bertumpu pada hasil pekerjaanya menghancurkan batu gunung. Setiap hari ia harus mendaki bukit. Berjuang sendiri. Menghidupi Bakri yang ditinggalkan ayahnya sejak masih berusia enam tahun. Tanpa harta dan penghidupan yang layak. Seluruh harta kekayaan yang tersisa, yakni perahu untuk mencari ikan dilaut dan sepetak tanah hasil warisan orangtua si ibu yang tak begitu luas, sudah dijual untuk keperluan modal berdagang dulu––setelah memutuskan untuk berhenti melaut. Tapi, modal itu tak kembali seiring kepergian jejak suaminya. Bahkan Ibu Bakri masih menanggung hutang yang tak sedikit pada tengkulak ikan. Sampai saat ini masih belum bisa dilunasi.

Anak dan ibu itu diam. Tatapan Bakri membuat air mata ibunya semakin menganak sungai. Ia tahu, bagaimana perasaan anaknya saat itu. Dalam pikirannya, ia teringat pada kenangan masa lalu. Bersama Bisri, suaminya yang sangat bahagia melihat kelahiran Bakri di hari pertaman bocah itu menghirup udara di dunia.

“Kalau begitu, biar Bakri yang cari uang berobat untuk ibu,” pernyataan Bakri begitu meyakinkan. Tapi, bisakah bocah sekecil itu bisa mencari uang sendiri? Dengan apa? Itu yang membuat ibunya tak percaya dengan ucapan anaknya. Walau pun ia bersungguh-sungguh berucap demikian. Baginya, Bakri masih terlalu kecil untuk urusan duniawi. Apa yang bisa dilakukan bocak seusianya selain minta uang, bermain, atau menangis jika permintaanya tidak dituruti.

***
Bakri termenung. Berpikir. Ia bingung dengan cara apa harus mencari uang untuk biaya pengobatan ibunya. Di depan rumahnya, Bakri menatap kosong pada tanian lanjheng dan lubang-lubang kecil di jalan dekat rumahnya yang dipenuhi genangan air. Hujan baru saja reda.

Tiba-tiba, kring…kring… Ia melihat pak pos sedang mengayuh sepeda ontelnya. Setiap pagi pak pos itu selalu lewat di depan rumah Bakri. Lelaki itu menyangklongkan sebuah tas yang biasa digunakan tukang pos untuk mengantar surat-surat yang dibawanya. Kadang roda sepeda ontel itu masuk ke genangan air, membuat sepeda pak pos sedikit oleng. Hampit terjungkal.

Bakri tertawa melihat pak pos yang gugup. Lucu sekali. Kumis jambulnya semakin menambah Bakri tertawa terpingkal-pingkal. Pak pos lantas tersenyum melihat tawa bocah itu.

Lalu, Bakri jadi ingat kata gurunya di kelas beberapa hari yang lalu: Asalkan kita sungguh-sunguh meminta kepada-Nya dengan hati ikhlas, kita akan mendapatkan apa yang kita minta.

***
Bakri mengeluarkan buku tulis dari tas usangnya yang bergambar Doraemon. Mengambil pensil, membuka buku, membolak balik lembar demi lembar, dan mencari lembaran yang kosong tanpa oretan. Kemudian, ia merobeknya
Bakri berpikir. Terpekur. Lalu mulai menulis.

Kepada Yang Terhormat
Tuhanku……………..
Di_
Tempat


Setelah menulis kalimat itu, Bakri berhenti. Ia bingung. Kata apa yang harus ia tulis pertama kalinya. Pensil yang mirip crayon itu di pukul-pukulkan ke kepalannya. Berharap ide cemerlang akan muncul. Lalu, keceriaan tiba-tiba muncul dari raut wajahnya. Seperti mendapatkan sebuah Ilham.
Ia membetulkan duduknya. Dan kembali menulis.

Tuhan…
Hari ini, ibuku sakit keras. Aku tak punya uang untuk mengobati sakit ibu. Ayahku tidak ada. Kata ibu, ayah mencari uang untuk menghidupi kami. Tapi, Ayah belum kembali, meski sekarang, ibu membutuhkan uang itu.

Tuhan…
Aku menulis surat ini, karena kata pak guru, jika aku meminta dengan hati yang ikhlas, maka Kau akan mengabulkan permintaanku. Sekarang, aku butuh uang untuk mengobati sakit ibuku. Aku ingin minta uang pada-Mu, untuk biaya ibuku.

Demikian surat dariku. Aku sangat memohon sekali, Tuhan mau mengabulkan permintaanku.

Bakri


Bakri tersenyum setelah menyelesaikan kalimat terakhir suratnya. Ia membaca ulang. Bakri yakin kalau Tuhan akan membalas suratnya. Ia melipat surat itu dan memasukkan ke dalam amplop. Besok, akan diberikan pada pak pos yang biasa lewat di depan rumahnya.

***
Surat itu dipegangnya erat-erat. Menaruh harapan agar Tuhan membalas suratnya. Lama ia berdiri di teras rumah. Menanti bunyi kring…kring sepeda ontel pak pos. Tak lama kemudian, pria berkumis yang diharapkan kehadirannya itu datang. Bakri langsung menghampiri dan menyerahkan surat itu.

“Pak, tolong aku, Pak,” ungkapnya sambil menyerahan surat itu. Pria berbaju orange itu tersenyum.

“Untuk siapa, nduk,” tanya pak pos.

“Untuk biaya ibu, pak, ibuku sakit,” jawabnya––seperti––tidak nyambung. Tapi pak pos mencoba memahami perkataan Bakri. Pak pos tahu kalau ibunya sedang sakit. Ia mengira Bakri disuruh pak lurah untuk mengantarkan surat itu kepada instansi atau lembaga sosial yang bisa membantu meringankan biaya kesehatan ibunya.

Pak pos tak perlu membaca surat itu. Ia langsung memasukkan ke dalam tasnya. Sebelum berangkat, pak pos menatap lekat wajah bocah yang malang itu. Yang di tinggal ayahnya entah ke mana. Pak pos itu mengucek-ngucek rambutnya yang pirang––yang hampir tidak ketahuan kalau sebenar ada rambut yang tumbuh di kepalanya––lalu berlalu. Kring…kring…

***
Pak Pos bingung setelah tahu kalau surat dari Bakri dialamatkan pada Tuhan. Ia membolak balikkan amplop kecil itu. Bagaimana caranya ia menyampaikan surat itu pada alamat yang dituju? Apakah ia harus mengembalikan kembali pada Bakri? Pasti bocah itu akan kecewa. Tapi, Tuhan yang dimaksud itu siapa? Alamatnya juga tak jelas.

Siang begitu terik. Matahari sangar menyengat ubun-ubun. Pak Pos memarkirkan sepeda ontelnya di samping masjid. Dalam dirinya seolah melekat lelah yang tiada terkira. Ia ingin istirahat sejenak, sekalian menunaikan solat lohor.

Setelah selesai solat lohor, pak pos mengambil surat itu lagi dari tasnya. Penasaran dengan isi surat Bakri. Ujung surat dirobek. Dibuka. Lantas, ia tahu maksud surat dari Bakri itu. Pak pos tersenyum. Terharu. Ia berpikir, bagaimana cara surat itu benar-benar bisa sampai pada Tuhan––menurut pemahaman Bakri, sesuai dengan keinginannya––meski pun cara yang dilakukan Bakri itu salah. Pak pos tetap ingin menanamkan keyakinan padanya. Pada bocah yang ingin belajar mengerti tentang sebuah keyakinan.

Ia memanggil takmir masjid. Meminta bantuan kepada takmir yang usianya tak beda jauh dengannya. Pak pos mengurai-menjelaskan tentang surat itu dan tentang penderitaan yang dialami oleh keluarga Bakri. Takmir masjid itu tersenyum. Ada kebahagiaan yang terpancar dari raut wajahnya yang tirus.

“Di mana rumah anak itu?” tanya takmir masjid sambil mengelus-ngelus jenggot putihnya.

***
“Ibu, kemarin aku mengirim surat pada Tuhan minta pertolongan untuk bisa mengobati ibu. Hari ini Tuhan membalas suratku. Ia mengabulkan permintaanku dengan memberi uang ini untuk biaya perawatan ibu,” ungkap Bakri. Ibunya yang tetap terbaring lemas. Tak berdaya. Ia terharu. Ada genangan air yang jatuh di kelopak matanya. Ia minta bantuan pak pos untuk membantunya bangun. Ia ingin memeluk buah hatinya erat. Erat sekali. Genangan air itu semakin membanjiri kebahagiaan keluarganya.
Pak pos dan takmir tersenyum di samping mereka.
Annuqayah, 2010

Lomba Menjadi Penulis

Pada tahun 2006, bisa dikatakan sebagai masa bangkitnya geliat kepenulisan di internal Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (STIKA)—yang pada Oktober tahun lalu sudah resmi menjadi Institut, INSTIKA. Tahun itu, Ahmad Khotib yang menjabat sebagai pimpinan Redaksi Majalah Fajar pada 29 November 2006 ditahbiskan menjadi Juara III LKTI Mahasiswa se-Indonesia Depag RI pada Annual Conference On Islamic Studies (ACIS) di Lembang Bandung. Lagi-lagi, pada 14 November 2007 ia didaulat sebagai juara Juara II pada di even yang sama di Pekanbaru Riau.

Namun, itu hanyalah perestasi personal. Untuk menularkan “kesaktiannya” dalam olah kata, pada 13 Oktober 2008, pria yang saat ini melanjutkan studi S2-nya di UIN Sunan Kali Jaga itu, rela mempendingkan skripsinya demi mengembriokan generasi selanjutnya. Ini juga tak lepas dari permintaan pihak kampus untuk melakukan regenerasi.

Maka, dibentuklah karantina kepenulisan selama 20 hari. Dalam satu iktikad baik, delapan orang dari mahasiswa angkatan 2008 menyatukan komitmen Mengetuk Dunia Dengan Karya. Mereka dilarang keluar dari ruangan seluas 4 x 3 meter kecuali hanya sebatas keperluan sesaat, seperti mandi dan makan. Seleksi alam tetap berlaku. Hingga titik akhir, yang mampu bertahan hanyalah lima orang.

Dunia mahasiswa tidak bisa lepas dari dunia “menyusun kata”, dunia tulis menulis. Beda halnya dengan siswa, mahasiswa dituntut mandiri; memenuhi kebutuhannya sendiri. Dengan menulis bisa membentuk jati diri mahasiswa sebagai insan akademika. Namun sayang, plagiarisme yang marak terjadi akhir-akhir ini, berupa karya apapun baik makalah, skripsi, tesis sampai disertasi. Mahasiswa seakan tak memikili ideologi menulis.

Media, baik elektronik maupun massa, sebagai salah satu jalan menuju pembaruan sangat pas untuk menuangkan gagasan-gagasan itu kepada khalayak. Banyak yang memilih media sebagai alat untuk menelorkan ide-ide problem etis agama dan humanisme. Namun, bagi penulis pemula yang memulai perjalanannya menjadi musafir kata, perlu perjuangan keras untuk menembusnya. Pragmatisme (beberapa) media yang lebih mengutamakan kebesaran nama penulis menjadi kendala.

Nah, ketidakberpihakan itu membuat insan pena berpaling dari media. Mereka lebih memilih menempuh jalan sunyi untuk menunggu orderan membuat tulisan. Tak dapat dipungkiri, banyak penulis yang melakukan “syirik” kata dengan berbisnis makalah, skripsi, tesis, disertasi dan lain-lain yang mendukung plagiarisme dan—istilahnya M. Mushthafa—pengaratan akademik.

Ada yang lebih memilih berburu lomba karya tulis. Jalan ini dirasa cocok karena tidak mengaburkan idealisme menulis meskipun (terkesan) pragmatis. Alasannya sederhana; memburu lomba lebih menjanjikan daripada memburu media, mudah menulis karena berpatok pada tema yang telah ditentukan, serta honor yang lebih menyejahterakan. Disamping itu pula, penilaiannya tidak memandang nama besar.

Inilah sekelumit perjalanan yang dilakukan penulis pemula untuk bertahan hidup menjadi kuli kata di tengah globalisasi media. Berangkat dari jalan yang kedua inilah mereka, jebolan peserta karantina menulis, mencoba mengubah awalan “me” menulis menjadi “pe” penulis. Mereka merasa “nyaman” menjadi pemburu lomba daripada pemburu media, yang penting tidak merusak citra insan akademik dengan ikut serta menerima “order” tulisan dan melakukan plagiasi. Hasilnya, memuaskan! Mereka bisa bersaing baik ditingkat lokal, regional, hingga nasional dan menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas peneliti The Pencil Connection, Madura, yang saat ini sudah memiliki 28 anggota tetap.

Wednesday, April 13, 2011

Balada Luka

Kalau ada yang bertanya, siapa luka? Maka aku akan menjawab, akulah luka itu. Kalau ada orang yang bertanya tentang siapa derita? Aku terluka lantaran aku sering dicampakkan cinta yang dulu bersemai engkau gadaikan dengan sekantong rupiah, aku selalu dimuntahkan dalam diorama sunyi. Dalam detakan detik yang hanya tercipta untuk meledakkan buntalan molotov. Blaarrr! Larva resah mengucur, mengalir deras dan menghancurkan kerikil dan pohon-pohon yang tegak di dadaku; halilintar yang hendak menyapu apa saja. Aku teluka, Belati yang engkau tikamkan masih menancap, betina liar; lautan bersaksi.

Ah, rasanya, luka ini akan menjadi sayatan kisah sepanjang masa. Lukaku karena penghianatan, tembang bernanah yang engkau nyanyikan, lewat mulutmu yang busuk, bau penuh comberan. Penuh bangkai. Biadab, engkau sebagai mahluk Tuhan.

“Benarkah engkau adalah luka” apakah engkau masih belum percaya dengan bentuk tubuhku yang memar, lebam, anyir penuh dengan darah ini –semua karena ulahmu.

Aku selalu menelanmu dalam sepi sebagai bidadariku yang paling busuk bukan karena aku tahan dengan tusukan belati yang engkau hunjamkan pada seluruh tubuhku. Aku percaya darah sebagaimana aku percaya bahwa sang merah putih berkibar karena darah itu muncrat ke tanah.


Betina busuk, teruskan saja belatimu itu engkau ayunkan. Dengan segala kekuatan dan kepuasan. Sepuas-buas kebinalan yang memang menjadi sifat kurang ajarmu sebagai betina. Betina yang lahir dari rahim kebusukan dunia –duniamu yang tidak pernah belajar menghargai cinta.

Engkau, kalau boleh ada yang berhasrat menulis oh, lebih enak dikupas dalam sisi tengek muka dan ketiakmu. Sampah yang menumpahkan bau ke segala pelosok mungkin masih harum ketimbang bau busuk keringatmu. Aku ingin muntah ketika melihat bayanganmu. Gempal payudaramu seperti hendak mencakar-cakar langit biru. Amis. Oh, kenapa tidak Tuhan ciptakan saja engkau sebagai manusia berbulu binatang buas agar orang yang melihat berhati-hati dengan keanggunan yang sengaja engkau tutup-tutupi, dengan parfum kelas tinggi dan pakaian terseksimu.

“Engkau, adalah luka?”

Betina busuk, masihkah engkau punya nyali untuk berdiskusi mengenai luka. Padahal engkau adalah generasi luka. Sudah banyak engkau menelan luka-luka itu. Ingatlah betina busuk, luka-luka sejarah yang telah engkau torehkan, nanti akan berbanding dan berlipat-lipat dalam kamus kebencian anak manusia. Betina busuk, lidahmu tidak akan pernah menjadi sabda bagi duniamu, karena engkau adalah bangkai. Vaginamu penuh nanah dan mengalirkan getah-getah. Jangan engkau pernah bermimipi akan melahirkan bayi-bayi mungil nan lucu. Yang akan mendiami jagad. Meneruskan perjuangan dan misi suci kemanusiaan.

“Engkau, adalah luka?”

Betina busuk, janganlah kau berapologi di hadapanku. Luka yang engkau bingkiskan dalam hati masih akan membekas dan akan selalu utuh menjadi sandaran. Tiap musim, akan ada perayaan mengenang dan mengingat kebejatanmu sebagai betina yang hina. Seharusnya kamu malu mempertontonkan auratmu yang gembel dan berlumuran ulat itu. Ah, tapi bukankah engkau memang betina yang tidak pernah merasa malu dengan ketololan yang engkau miliki?

Betina itu menangis; engkau terluka karena aku?

Sudah aku katakan, aku sangat muak melihat kedipan matamu. Betina busuk, jangan coba-coba mengerlingkan mata yang engkau poles dengan keindahan. Parfum dan mick upmu sudah basi, tidak menarik lagi. Sudah cukup menjadi bukti bahwa semua itu hanya guratan gombalmu untuk mendapatkan mangsa. Engkau kan memang selalu lapar, ingin melahap mangsamu dengan ganas dan beringas?

Menangis!

Betina busuk seperti kamu masih sempat menumpahkan air mata? Tak pantas kau menumpahkan air mata. Air mata hanya milik perempuan mulia. Seorang Ibu yang selalu sayang dengan kodrat keibuannya. Anggun dan peduli dengan masa depan anak-anaknya. Generasi bangsa yang akan mengantarkan gerbang kehidupan ini pada pelita dan cahaya. Air mata itu adalah milik ibu yang menjadi matahari. Lampion yang selalu bersinar menyinari jagad raya.

Betina busuk, kenapa engkau selalu mengembosi diri dengan berpura-pura menjadi seorang hamba yang mulia? Kalau engkau memang busuk, akuilah! tipikalmu memang iblis.

“Engkau, adalah luka?”

Betina busuk jangan menambah rasa benci dalam diri ini. Aku sudah menyaksikan betapa belati yang menancap di matamu sangat sadis. Sakit kala engkau tikamkan ke dada. Engkau memang mahluk paling bejat di dunia, Aku engkau jadikan tumbal pamor genitmu.

Ya, Allah! Kenapa dari awal aku tidak berhati-hati dengan tipu muslihat betina gadugan seperi Engkau. Engkau tipu aku mentah-mentah. Engkau mengaku sebagai bidadari yang selendangmu masih suci. Engkau memikatku dengan senyum Nawang Wulan. Engkau sangat hebat, Lebih hebat dari bunglon yang bisa berubah kapan saja. Engkau memantik simpati di sana-sini. Empati terhadapmu hanya igau burung yang tak pernah engkau hiraukan.

Engkau sok alim, setelah engkau merebut sepotong hatiku. Dengan memakai jilbal, kerudung warna pink kesukaanmu engkau memantapkan diri sebagai seorang betinaku yang paling aku sayang. Aku baru sadar apa yang sedang engkau lakukan sekarang adalah serangkaian kebusukanmu.

”Enyahlah dari hadapanku!”

“Apakah engkau terluka?”

“Apa pedulimu?”

“Jawab dengan jujur, kenapa engkau terluka?”

“Karena aku dihianati?”

“Kenapa engkau dihianati?”

“Karena perempuan memang suka melihat mangsanya menangis sepanjang hari?”

“Benarkah engkau menangis?”

“Haruskah aku jawab?”

“Ya?”

“Untuk apa?”

“Sebagai bukti bahwa laki-laki juga punya perasaan”

“Bukankah perempuan juga mahluk yang berperasaan?”

“Yaps!” Sekuntum bunga mawar menebar wangi. Semerbak. “Tapi kenapa perempuan bisa juga berbuat seperti itu?”

“Apa! Perempuan?”

“Ya”

“Kenapa perempuan?”

“Karena dia adalah perempuan”

“Kenapa dia?”

“Karena dia adalah orang yang pernah aku sayangi”

“Kenapa engkau manaruh sayang?”

“Karena aku manusiawi”

“Apakah semua manusia harus mempunyai rasa sayang?”

“Ya, selain betina yang busuk itu”

“Maukah engkau mengajari aku cara menyayangi seseorang?”

Mulutku terkatup. Bayanganku tentang betina binal itu mulai terkubur. Aku menunjuk ke arah langit. Walau kurang mengerti. Di ufuk barat, tepat di jeda waktu, di antara celah-celah gedeg surau Kiai Ruba’i takbir hari raya qurban menggema ke semua sudut bumi; Allah Akbar!
D-Sapoeloe, 5.47 AM