Tuesday, February 9, 2010

Cuaca Buruk dan Stabilitas Ekonomi Masyarakat (Pesisir) Madura

Oleh: Fandrik HS Putra
Beberapa hari terakhir, hujan deras yang disertai angin kencang melanda perairan laut di Indonesia. Cuaca buruk akibat pengaruh dari awan komuloniumbus, awan yang disebabkan oleh tekanan yang tinggi seringkali menyebabkan pusaran angin dan memakan korban yang akut. Laut mengalami gelombang yang besar sehingga para nelayan memilih “markir” tidak melaut sambil menunggu cuaca dan gelombang laut menjadi normal kembali.
Madura, yang terdiri dari empat kabupaten: Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep merupakan “negeri” para nelayan. Masyarakatnya, selain bergantung pada hasil pertanian tembakau,—dalam istilah mereka disebut “daun emas”—sebagian juga bergantung pada laut, utamanya yang berdomisili di daerah pesisir. Kehidupan sehari-harinya melaut, mengeringkan ikan, dan membuat tambak garam. Tak ayal jika Madura dikenal dengan sebutan Pulau Garam.
Istilah Pulau Garam yang disematkan pada Madura adalah sebuah metafora yang menggambarkan betapa besarnya kebergantungan masyarakat Madura kepada laut. Makna filosifisnya adalah bahwa tingkat stabilitas perekonomian masyarakat Madura terletak pada laut. Garam merupakan air laut yang dikeringkan menggunakan tenaga matahari dengan cara membuat tambak di pinggir pantai. Ketika musim panas tiba mereka bisa menuai “hasil” panennya. Di sini kita bisa mengambil ibrah bahwa kekayaan dan mata pencaharian masyarakat Madura sebagian bersumber dari laut.
Bagi sebagian masyarakat Madura, melaut sudah menjadi tradisi secara turun-temurun. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyak berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berorientasi pada kelautan dan perikanan. Penulis turut merasakan ketika pergi ke luar Madura, sebagian teman atau yang masih baru kenal langsung menebak kalau penulis adalah anak dari seorang nelayan ketika mereka tahu penulis berasal dari Madura. Jadi, betapa lekatnya orang Madura dengan laut.
Lebih kuatnya lagi, di Madura ada istilah “Nelayan Anak”. Istilah tersebut diungkapkan oleh H. Moh Rais, M.Pd., M.Si. selaku kepala Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Sumenep. Ia menggambarkan Nelayan Anak—berbeda dengan Anak Nelayan—sebagai gambaran kedekatan mereka pada laut, baik fisik maupun mental. Maksudnya: anak usia sekolah sudah bekerja membantu orang tuanya. Padahal, tidak semua Anak di Madura, khususnya di pesisir pantai itu miskin. Tapi karena pengaruh lingkungan, maka jadilah Nelayan Anak (Majalah Fajar; 2008)
Cuaca buruk yang melanda perairan laut Pantai Utara (Pantura) dan Pantai Selatan (Pantasel) menyebabkan sebagian nelayan tidak bisa melakukan aktifitasnya. Untuk mengisi waktu luangnya, para nelayan memilih memperbaiki jaring dan kapal-kapalnya yang rusak. Mereka (baca; nelayan) tidak mempunyai pekerjaan sampingan atau pekerjaan yang lebih menjanjikan selain hal tersebut. Kondisi seperti ini membuat pasokan ikan semakin berkurang sehingga harga ikan di pasaran merangkak naik. Ikan Bandeng yang semula Rp 12 ribu naik menjadi Rp 15 ribu dan ikan asin biasanya Rp 10 ribu per kilo menjadi 14 ribu.
Di samping itu, masyarakat pesisir juga dikeluhkan dengan melonjaknya kebutuhan sandang pangan yang cukup signifikan dalam beberapa hari ini, seperti beras, gula, dlsb. Konkritnya, di Kabupaten Bangkalan dan Sumenep—yang merupakan ujung barat dan timur Pulau Madura—harga beras yang biasa di konsumsi berkisar antara Rp 6.500-7.000 per kilo. Melonjaknya harga sandang pangan itu juga karena disebabkan pasokan makanan yang dari luar Madura—sebagian beras di Madura mengimpor dari Kabupaten Lamongan––semakin berkurang akibat dari cuaca buruk. Sehingga cukup mengganggu pendistribusiannya.
Letak geografis pulau Madura yang panas dan jarang hujan menyebabkan masyarakat pesisir bersikap instan dan fatalis. Ketika cuaca buruk seperti sekarang ini, mereka (baca; masyarakat pesisir) tidak melaut. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka “terpaksa” menjual atau melelang harta benda yang ada dengan harga yang relatif murah guna mendapatkan kebutuhan yang diingini. Akibatnya, harga pasar menjadi tidak stabil antara permintaan dan penawaran dari pihak konsumen mengingat kebutuhan yang sangat mendesak dan harus dipenuhi.
Setidaknya ada beberapa hal yang membuat mereka bersikap demikian. Pertama, sikap ketergantugannya pada laut membuat Sumber Daya Manusia (SDM) kurang berkembang. Kondisi semacam ini meniscayakan mereka pasrah kepada takdir. Sehingga, tak pelak mereka dianggap sebagai masyarakat terbelakang (primitif).
Kedua, jiwa Entrepreneurship (wirausaha) yang sangat lemah. Kita bisa melihat dari hasil tangkapan mereka yang dilelang secara langsung tanpa ada pengelolaan lebih lanjut yang sekiranya bisa menarik minat pembeli meskipun dengan harga yang lebih mahal.
Ketiga, kurangnya perhatian pemerintah dalam memberdayakan kekayaan laut. Sampai saat ini, pengelolaan kekayaan laut masih belum ada langkah yang konkrit. Terbukti, kekayaan laut dibiarkan diproduksi seadanya. Terlepas berkualitas atau tidak.
Keempat, kurangnya ketersediaan lapangan kerja. Masyarakat Madura yang bisa dikategorikan sebagai orang yang sudah “berpendidikan” lebih memilih mengadu nasib di luar Madura, karena pekerjaan dan kehidupannya lebih menjanjikan.
Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat (pesisir) Madura dituntut untuk lebih bersikap kreatif dan inovatif guna mencari upaya-upaya konstruktif dalam rangka memajukan geliat ekonomi di Madura dari sektor kelautan dengan tanpa menghilangkan tradisi yang sudah turun-temurun, yaitu melestarikan yang sudah ada dengan menjaga kelangsungan hidup di pesisir laut.

Wednesday, January 27, 2010

Afrizal Malna Berkunjung Ke Annuqayah



Guluk-guluk-Setelah selesai solat isya’ seluruh pemerhati sastra di seluruh kompleks PP Annuqayah berbondong-bondong pergi ke PP Annuqayah al-Furqon, Sawajarin untuk bertemu dengan penyair nasional Afrizal Malna (27/01). Meski acara itu sedikit terganggu dengan padamnya lampu, tidak menyurutkan semangat mereka untuk bertemu dengan penyair yang berkepala plontos itu.
Baru pada pukul 21.00 WIB, acara bincang santai yang ditempatkan di aula SMA 3 Annuqayah itu dimulai. Pembukaan itu dibuka oleh tuan rumah sekaligus teman sejawatnya dalam dunia sastra, yaitu K.M. Faizi, M. Hum. Dalam pengantarnya, ia membacakan sebuah puisi Afrizal Malna yang berjudul Dalam Gereja Monster. Ia juga memaparkan beberapa karya Afrizal, diantaranya: Abad Yang Berlari, Kalung Dari Teman dlsb.
“Dia adalah salah satu ikon sastra di Indonesia. Dan pada malam ini kita bisa berbincang santai dengannya,” ungkap K.M. Faizi.
Setelah itu, Afrizal membagikan seabrek pengalamannya tentang dunia kepenyairan. Tentang bagaimana memilih Diksi, Metafora, Intuisi dan masih banyak yang lainnya. Dalam menangkap sebuah bahasa, ia menggambarkan pada sebuah novel yang berkisah tentang gadis buta yang membaca alam dan menghapalkan bunyi-bunyian lalu di tuang dalam bentuk bahasa.
“Kita tidak punya persoalan tentang itu (membaca alam) karena kita bisa melihat. Si gadis itu mengenal bahasa dengan telinganya. Sedangkan kita mengenal bahasa dengan mata, dengan apa yang kita lihat. Jadi, kita menangkap bahasa bukan hanya dengan mata kita, tapi bagaimana seluruh indera kita difungsikan dalam mengangkap dan mengenal bahasa,” ungkap penyair yang berasal dari jakarta itu.
Ia juga memaparka tentang bagaimana cara membuat puisi supaya penulis bisa produktif. Menurutnya, segala benda bisa dipuisikan tergantung bagaimana cara kita memandang benda itu dari sisi lain yang orang tidak pernah atau jarang memandangnya.
“Dalam menciptakan puisi, kita butuh keheranan. Apa pentingnya keheranan? Keheranan perlu untuk membuat puisi dengan meninggalkan fungsinya. Contohnya, ini adalah asbak, siapa yang tidak tahu kalau fungsinya sebagai tempat putung rokok. Tapi, kalau saya taruh di kepala saya, pasti ada kesan beda kan,” ucapnya lalu menaruh asbak itu di atas kepala plontosnya.
Acara usai pada sekitar pukul 23.30 WIB. Beberapa santri yang hadir masih sempat foto bareng dengannya. Dengan senang hati Afrizal Malna melayani mereka meski hari sudah larut malam. Sebelum datang ke Annuqayah, siang harinya Afrizal Malna mengisi acara di sanggar lentera STKIP Sumenep. Ia hadir bersama beberapa keluarganya; Mas Haris dan bak citra. Turut hadir pada malam itu adalah Mahendra, sastrawan dari Sumenep yang sekarang tinggal di Jogja. Ia bermalam di Annuqayah dan esok harinya rombongannya langsung kembali ke jogja.

Tuesday, January 26, 2010

Rinai Senja


Senja! dirimu memang indah, dilihat dari manapun, kau selalu merona. Aku takjub dengan keindahanmu. Merasa berada di antara bunga surga. Kau mampu menenangkan hatiku yang akhir-akhir ini hancur bersama sepinya rindu. Kau hadir diantara kepingan-kepingan hati. Memberiku sesuatu yang sulit diterjemahkan. Sulit aku utarakan lewat kata-kata. Sekalipun banyak orang bilang kata-kata lebih tajam ketimbang belati. Namun, itu masih belum mampu menggores tubuhku.
Maukah kau terus menemaniku? Sebagai penghibur sepiku? Sayang, kau tak banyak waktu. Kau harus memenuhi panggilan malam.
Lepas senja, diriku kembali sepi. Mega merah. Pekat malam. Membunuh ketenanganku. Gelap menjadi gelapnya hati. Menutup jalan setapak karifan. Seandainya aku bisa membuat malam terbungkam, aku tidak ingin mengarungi malam. Sebab, malam hanya akan membenamkan aku pada kehidupan bayang semu.
Ya! Aku akan terseret pada kubangan rindu yang mengantarkan aku menjelajahi lorong-lorong kepedihan. Saat-saat hujan bersumpah menjadi mata saksi. Kadang aku berhayal, mungkinkah belati punya jawaban? Sungguh absurd. Belati hanya sekeping besi yang akan karat oleh ganasnya darah…
"Jangan berlebihan…" Kau mencubit perutku. Saat aku ingin memberimu bintang dan ingin membawamu ke bulan untuk bertemu dengan Nyi Randhe Kasean. Konon, seorang janda di tinggal mati suaminya yang ditembak pasukan Belanda pada tahun 1947. kau tak percaya. Bahkan menertawaiku. Tapi, itulah memang yang aku ketahui dari kisah bulan.
Kau tertawa di pelukku ketika bntang bintang jatuh melintas di atas kita. Segurat senyum selalu menghias bibir mungilmu. Membuatku tak ingin berpisah jauh denganmu.
Udara malam menabur dingin. Namun, dingin itu tiada berarti, karena kita saling memberi kehangatan. Aku memelukmu. Membelai rambutmu. Lalu, aku titipkan satu kecupan hangat di keningmu…
Harapanku kembali menunggu. Mataku menerawang. Mencoba bertanya pada pada cakrawala. Apakah hari ini senja akan turun? Aku benar-benar merindukannya. Aku ingin hanya ada benang tipis antara perselingkuhan siang dan malam. Ingin segera bertemu kembali dengan bola raksasa di ufuk barat. Semoga senja cepat datang. Menghampiriku sebagai pelipur lara.
Lama aku menanti senja. Aku takut, senja tidak hadir sore ini. Langit tidak seperti biasanya. Mendung mengukir cakrawala. Warna kelabu terus meluas. Burung pun enggan menyambut senja. Mereka semua kembali keperaduan masing-masing. Separuh matahari telah tenggelam kelabu. Aku harap-harap cemas. Ketakutan datang menghantui. Aku tidak ingin melihat hujan di waktu senja. Karena hujan senja menjadi sejarah kelam untukku. aku kehilangan Sofiana tepat pada lebatnya hujan mengantar senja.
Aku sudah berusaha semampuku untuk bisa melupakan perasaanku padanya. Namun, perasaan itu tetap berkelebat sendiri. Seperti hantu. Bayangan itu semakin menyiksa saat tak kudapat lagi perhatiannya untukku. Ketika muncul keinginan hati untuk menanyakan kabarnya, keangkuhanku berusaha menahan untuk melakukannya…
"Kau serius?"
"Maaf, aku terpaksa," tangismu pecah. Matamu nanar. Keterpaksaan harus merenggut impianmu. Memilih calon pilihan orang tua.
Kau berlari menjauh. Tak peduli tubuhmu di hantam hujan. Tak peduli jika kesekian kali harus pupuskan impian yang belum terjamahkan. Derai tangismu tak kalah derasnya dengan hujan. Pecah, seiring hujan membasahi pohon yang lama kering kerontang. Ingin hati hendak mengejar. Namun, ketidak percayaan membekukan tubuhku. Kau menghilang di milyaran buliran air hujan.
Kepedihan membuat tubuhku kaku. Terbujur menatap kabut yang semakin menutupmu. Tak bisa berbuat apapun. Kecuali nanar mataku mencoba memahami kepergianmu. Ku tak bisa lupakan itu.
Semoga tidak akan terjadi apa-apa. Semoga senja membuka lipatannya. Doaku mengali seiring tangis langit mulai pecah.
Beberapa saat kemudian, justeru awan kelabu itu yang membuka rinainya. Petir menyambar. Guntur menggelegar. Hatiku hancur. Terlumat air hujan. Tatapanku menembus cakrawala. Berharap Tuhan mengabulkan doa-doa. Bening meluas di palung kelopak mata. Membelah pipiku. Ingin rasanya aku membuang kelabu itu. Tapi, aku hanya biasa bersimpuh. Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap kelabu akan segera pergi.
"Berpalinglah, anakku. Ikutlah bunda," Tiba-tiba belaian lembut tangan bunda menyentuh pundakku. Air mataku berhenti mengalir. Mencoba memahami kedatangan bunda. Ia menuntunku pada sebuah ruangan yang tak asing bagiku.
"Sekarang, jemputlah dia."
Ooo….. tidak aku membatin. Benarkah itu? Benrkah aku berada di alam sadar?. Kulihat seorang gadis duduk di atas shofa. Aku sangat mengenalinya. Dia mengenakan kaos warna pink yang beberapa minggu lalu aku belikan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke sembilan belas.
"Fan! Aku kembali," matamu berkaca-kaca. Seakan ada rindu yang menyelaksa.
Aku diam. Aku masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Bukankah kau pergi bersama hujan senja?bukankah kau telah memilih pilihan orang tuamu? Bukankah kau telah membuang percuma mimpi kita? Mangapa kau hadir kembali?Sementara, rinai hujan masih menyisakan rintik-rintik lembut. Menyambut petang yang semakin kelam menjemput dewi malam.
Annuqayah, 2010

Sudah dimuat di Radar Madura
24 Januari 2010

Ruang Sunyi



Aku tahu. Tak mudah mengucapkan perasaan ini. Tak seperti menghadirkan kenangan-kenangan masa lalu itu. Berbeda saat aku yang tanpa beban mengajakmu berbicara dan berbagi pengalaman; tentang impian, cita, dan cinta. Bahkan tentang kriteria lelaki yang kau idamkan. Mulutku terkunci saat aku memasuki ruang dalam jiwa. Urung aku utarakan saat senyum dan tawamu pecah.
Sikapku seperti pembohong, pecundang, dan pembual. Sulit aku pasrah di atas takdir Tuhan. Tapi, aku punya cita dan cinta, bukan pula Tuhan yang merangkainya. Tuhan hanya memberiku cinta. Jadi, jangan salahkan aku bila aku menentang takdir-Nya. Apakah aku termasuk orang kafir? Aku rasa tidak demikian.
Aku bisa merangkai sendiri jalan hidupku. Tentang istri dan anak-anakku yang akan menungguku pulang dari tempat kerja, bila saatnya nanti. Yang akan menghiasi istana kecil dengan tawa renyah mereka.
Tak sekalipun Aku meragukan perasaanmu. Hanya saja, mungkin kau masih menunggu ucapan dariku—perempuan kan, memang seperti itu, pemalu. Sejak dahulu, aku tak ragu untuk mengatakan “cintamu adalah imanku, tapi imammu tetap adalah aku.”
Dari bening matamu yang tenang, tersulut cinta yang menyejukkan hati. Tubuhku berguncang saat kau mulai menarik secarik senyum. Ada getar hebat yang kurasakan. Lebih hebat dari rayuan Siti Zulaikha kepada Nabi Sulaiman. Aku bersaksi atas debur ombak di pantai Aeng Panas dan para nelayan yang telah mengibarkan layarnya. Aku ingin mengajakmu menari di atas angin yang berhembus. Di ruang bebas dan tersunyi. Berselendang sutera dan berhias melati.
Sebenarnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa kau dan aku sudah dijodohkan di tangan Tuhan. bahkan jika ingin jujur, tautan cinta pertamaku adalah kau, Vita Agustin. Rasa itu sudah tumbuh sebelum aku mengembara. Mencari kepingan-kepingan jati diri di pulau Madura ini. Lucu sekali jika aku mengenang kisah itu kembali. Tak pernah menyangka dan disangka. Terkadang aku tertawa sendiri mengenang masa lalu itu. Seperti kisah Surti dan Tejo dalam lagu Grup Band Jamrud. Benih cinta itu—menurutku—muncul dan dimulai saat kita masih memakai sepatu, berseragam putih, dan memakai celana pendek berwarna merah, saat menginjak kelas empat SD. Bermula dari gurauan teman-teman yang mengolok-olok kalau aku suka padamu. Lalu merambat pada guru kita, tetangga kita, bahkan orang tuaku––entah dengan orang tuamu. Hingga aku malu dan canggung untuk bertutur sapa denganmu, meski hanya sebatas berucap kata “Hay.”
Kita selalu diam dalam kebisuan. Hingga perpisahan datang menitikkan air mata; aku berangkat ke Madura, orang tuaku menitipkan aku di sebuah pesantren yang bernama Annuqayah. Dan kau pergi juga ke “penjara suci” yang bernama Asri. Tanpa sapa dan kata perpisahan. Sungguh, sakit jika mengenang peristiwa itu. Tapi itu sudah berlalu, termakan oleh waktu. Sejarah datang bukan untuk diadili dan dihukumi, tapi sebagai cermin untuk introspeksi diri.
Pada suatu masa, dimana aku mulai ragu mengambil sebuah keputusan. Meski sudah aku pikirkan selama tujuh tahun, dalam renungan sunyi. Dan kini, aku sudah menapaki usia 20 tahun. Kini aku kembali dalam perasaan ragu. Bukan pada cintamu, tetapi lebih pada sebuah harapan dan kehilangan dirimu.
Saat libur bulan Ramadhan, ketika aku kembali ke kampung halaman, masih terdengar celetuk kabarmu dari teman-teman dekatku. Pasti, kabar tentangmu yang telah dibumbui dengan gurauan cinta. Namun begitulah, aku harus memilih antara harapan dan kehilangan dirimu.
Kini, kau menjelma seorang Hafidzah, penghapal Al-Qur’an. Aku pun tak pernah ragu memilihmu sebagai pendamping hidupku. Bahkan, aku sempat membayangkan bagaimana nanti saat-saat kita mempunyai buah hati. Kau menyusui bayi mungil itu sambil melantunkan ayat-ayat suci-Nya. Imanku semakin kuat. Aku tambah yakin, kau adalah nafasku. Tulang rusukku yang kembali.
Sunyi menjadi pelangi. Ada yang masih tersisa setelah aku kembali ke Madura; ingin melamarmu. Namun, jika itu terjadi, aku harus memupus cita-cita yang telah aku rangkai sedemikian rupa. Aku takut, jika kita nantinya punya ikatan, hal itu akan mempercepat perjalananku menuju pelaminan. Itu yang aku takutkan, mengingat usiamu yang tak seberapa jauh dari usiaku. Aku takut didesak orang tua yang sudah ingin memunyai seorang cucu.
Perjalananku masih panjang. Aku masih ingin mengarungi dunia dalam kata, sebebas burung merpati yang terbang di udara. Tapi di sisi lain, aku takut kau akan menjadi milik orang lain. Jika itu terjadi, berarti separuh dari hidupku akan hilang. Tak mudah mencari wanita sepertimu, sesolehah imanmu.
Seperti malam yang baru saja sunyi. Aku menghela nafas atas dilema yang kuhadapi. Dalam dekapan malam, aku mencoba berbisik pada Ilahi. Hatiku semakin mengaduh. Semua bercampur baur menjadi air mata yang tiada mengalir. Hanya berpalung di kelopak mataku. Sujud dalam Istikharah.
Prenduan, 2010

Sudah dimuat di Radar Madura
Tanggal 3 Januari 2010

Sunday, November 22, 2009

Ketika Teknologi Menjadi tuhan

Jika Abidah El-Khalieqy baru-baru ini menelurkan novel berjudul Perempuan Berkalung Sorban, maka di era modern ini tidak salah jika ada statement Manusia Berkalung Flash Disk, mengapa demikian? Ketergantungan manusia pada teknologi sudah mengakar kuat dan menjadi satu kesatuan utuh.
Perkembangan teknologi semakin hari tambah pesat, bak jamur dimusim hujan, sampai saat ini telah banyak memberi corak dan pola pikir yang beranekaragam dalam kehidupan manusia. Rasa ingin tahu yang merupakan fitrah manusia sejak lahir, selalu mendorong melahirkan pengetahuan baru.
Teknologi adalah hasil peradaban dan budaya manusia. Ironisnya, manusia bergantung kapada penciptaannya sendiri. Akibatnya, teknologi yang merupakan produk pikirnya sendiri telah menjelma menjadi tuhan—penulis tidak menggunakan ‘T’ besar yang berarti Yang Maha Esa. Kebergantungan manusia itu menempatkan teknologi pada dimensi Adi Kuasa (Super Power) yang mencengkram penciptanya sendiri. Sehingga lahirlah perbudakan modern.
Dewasa ini, muncul istilah digitalisasi yang diletarbelakangi pesatnya teknologi komputer dan jejaringan internet. Digitalisasi sebagai wujud revolusi dari teknologi telah membentuk “manusia” digital. Televisi, Hp, Komputer, Internet dlsb. bukanlah barang langka lagi. Tidak hanya di perkotaan, di pedesaan pun tidak sulit di temui.
Di daerah pedalaman, (baca; pedesaan) ada dua tempat yang menjadi sasara pengembangan teknologi. Pertama, pasar sebagai tempat interaksi jual-beli menjadi tempat strategis penyebarluasan teknologi. Kedua, pesantren yang sejak awal berdirinya jamak diketahui sebagai “kiblat” masyarakat juga menjadi area subur. Hanya dengan berorientasi pada dua tempat itu, teknologi sudah mengusai lapangan.
Krisis Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat pedesaan, menjadi nilai plus teknologi untuk mendobarak hukum adat dan norma yang selama ini mereka pegang teguh. Dulu, jika ada muda-mudi yang bukan muhrim-nya berjalan berpasangan menjadi hal sangat tabu, tidak menutup kemungkinan akan dihukum dengan adat yang berlakudi daerah tersebut. Tetapi kini, fenomena tersebut sudah lumrah, bahkan tidak sedikit dari orangtua mereka sendiri yang menyuruh melakukan demikian, asal tidak melewati batas. Mereka (baca; orangtua) ingin melihat putra-putrinya seperti yang dilihat di Televisi.
Pesantren sebagai institusi pembentukan moralitas, yang amat dekat dengan kehidupan masyarakat pun tidak lepas dari teknologi. Tidak sedikit pesantren yang berubah haluan dari Salafi menuju modern. Entah, apakah itu sebagai bentuk aplikasi dari Al-Muhafadza ‘Ala Qadim As-Salih Wa Al-Akhdi Bil Jadid Al-Aslah (memelihara yang lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik). Yang jelas perubahan tersebut juga telah merubah citra pesantren itu sendiri di mata masyarakat.
Jika pesantren juga telah dikuasai teknologi, lantas siapa yang pantas menjadi “kiblat” masyarakat?
Pada dasarnya, teknologi diciptakan sebagai alat untuk memudahkan manusia melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, akibat krisis moral yang dimiliki, teknologi menjadi salah guna. Video, gambar, dan cerita-cerita yang bisa merusak mental tersimpan rapi dan terstruktur didalam memory yang hanya sebesaran jari telunjuk manusia atau sekecil kancing baju, sehingga mereka lebih mudah mengakses dan melihatnya kapan saja dan dimana saja.