Friday, July 10, 2015

Lelaki Ketujuh

Percayakah kawan, setiap malam setelah menikah, dengan siapa pun, suami saya berubah binatang. Kadang serigala, harimau, singa, kadang pula anjing, babi, atau bermacam rupa binatang lainnya. Perupaan itu tak pernah berakhir kecuali saya resmi bercerai dengannya.
Engkau tak harus percaya pada cerita ini. Pada usia yang baru menginjak dua puluh lima tahun, saya sudah menikah enam kali, dengan laki-laki berbeda. Seperti pernikahan sebelumnya, tak pernah berumur lebih dari sebulan. Pernikahan saya yang keenam hanya sepuluh hari. Umpatan betapa saya perempuan yang gemar gonta-ganti suami menjadi buah bibir siap petik kapan saja.
Air mata tentu menitik. Saya tersiksa—namun di suatu sudut lain saya memang merasa pantas menerima—dengan pernikahan yang tak pernah berujung sakinah-mawadah-rahmah. Siapa yang ingin seperti ini? Bermimpipun tidak.
Saya pasrah pada takdir. Saya bukan tipikal orang yang suka memandang dunia dengan segala kerumitan-kerumitan. Sejatinya hidup ini tidak ada kata sakit apalagi tersakiti. Yah, persoalannya sederhana; perasaaan kita sendirilah yang kerap menyiksa sendiri. Hanya saja persoalan sederhana kadang tidak bisa dipikirkan secara sederhana pula.
Saya memang sudah menikah enam kali dengan lelaki berbeda. Namun bunga kesuburan saya tetap ranum, mekar tak tersentuh. Tak ada satu pun diantara keenam kelaki itu yang berhasil memetiknya. Ketika matahari sempurna merebahkan diri di pangkuan cakrawala, suami saya mengajak tidur, sesosok binatang menggeliat penuh berahi. Perempuan mana yang tak ketakutan bila tiba-tiba suaminya berubah demikian. Semua kembali normal ketika cahaya fajar berpintal dan memanjang di ufuk timur.
Kerap secara tiba-tiba kekasih pertama yang saya tinggalkan—sebelum pernikahan pertama—bertandang di pikiran. Banyak alasan yang membuat saya memilih lelaki lain daripada menikah dengannya—namun rasanya kurang bijak bila saya harus memaparkan alasan itu. “Kau tak akan pernah bahagia kecuali menikah denganku,” tukasnya sebelum pergi dengan luka yang menganga dan sorot mata serupa duri siwalan. Seperti ditarik, perasaan selalu menarik saya ke sana. Bertekuk lutut tak apa asal dapat menemukan kebahagiaan, meski sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya.
Entah dengan pernikahan yang ke tujuh ini. Lelaki yang menjadi pilihan ibu. Kata ibu, ia sempurna. Wajahnya teduh dengan mata yang serupa pendar langit. Tunggu. Bukankah keenam lelaki sebelumnya juga berwajah sama; teduh dengan mata serupa tatapan malaikat? Perempuan mana yang tak tergoda dengan tatapan seperti itu. Dan, semua berubah menakutkan.
Ah, sudahlah. Apapun yang terjadi, saya yakin pilihan ibu sebaik-baik pilihan. Sudah seharusnya saya memberikan kesempatan kepada perempuan bermata ilalang itu setelah berkali-kali saya tolak pilihannya.
Dik, mari salat. Sebentar lagi Ashar,tukas lelaki ketujuh itu. Aku beranjak mengikuti langkahnya ke perigi. Ia berbeda dengan keenam lelaki sebelumnya. Sejak pernikahan saya dengan lelaki pertama, baru lelaki ketujuh ini yang senantiasa menjaga lima tiang waktu saya sebagai manusia beragama.
Selesai salat, selayak seorang istri, saya mencium tangannya.
“Berdoalah. Pinta apa yang Dik Taris inginkan.
Kata-katanya bagai aliran telaga yang sangat menyejukkan. Saya mengangguk. Ia menengadahkan tangan dengan khusyik. Saya mengikuti. Lamat-lamat, terlantun doa dari bibirnya yang lembut.
Amin.
***
Dik, bangun. Waktunya salat tahajjud,ia mengguncang-guncang pundak saya. Saya menggeliat pelan.
Dik, sudah waktunya Salat Tahajjud,” Ujarnya lagi. Saya membuka mata. Pelan. Ya, Tuhan! Seekor serigala dengan seringai menyeramkan siap menerkam. Saya memejamkan mata. Menutup diri dengan selimut.
“Pergi! Jangan mendekat…” Saya menggerang di pojok kamar. Wajahnya menjelma bunglon. Bersisik tajam dengan kelopak mata semerah saga.
Dik, apa yang terjadi? Ada apa denganmu?” Suara itu lembut namun tampak ditekan.
“Pergi!!!”
Ini hanya halusinasi. Saya harus melawannya.
“Salatlah duluan. Taris menyusul,” akhirnya.
Terdengar langkah menjauhi kamar. Lalu bunyi pintu. Derek engsel. Hening. Saya membuka mata. Menatap langit-langit kamar. Lagi dan kesekian kali, saya mengusir suami yang seharusnya saya manja dengap pelukan. Bagaimana saya bisa merebahkan kepala di dadanya agar saya menemukan ketenangan? Sementara acapkali matahari terbenam perupaan binatang tak ada hentinya.
Pagi masih belum sempurna ketika ia menggenggam tangan saya dan mengajak jalan-jalan mengitari perkampungan. Menikmati denyar pagi dan melihat lambaian daun siwalan yang menghijau.Satu hal yang sangat indah di pagi itu adalah wajahnya tak berubah keruh setelah semalam saya usir dengan sadis.
“Apa yang terjadi semalam?”
Saya duduk di pondok bambu di sebuah pematang sawah menghadap matahari yang perlahan terbit. Saya menghela napas dan menghembuskan pelan. Semoga semua bisa terjawab pagi ini.
Setiap malam halusinasi itu pasti datang. Perubahan wajah pada semua orang yang menjadi suami Taris. Taris tidak tahu apa penyebabnya. Semuanya kembali normal ketika adzan Subuh berkumandang. Saya melihatmu menjadi seekor bunglon dan serigala. Kejadian seperti ini sudah berlangsung lama, sejak pernikahan pertama. Rasanya Taris lelah sekali.”
Saya bisa mengerti. Mari bersama-sama untuk menyembuhkan penyakit itu. Dik Taris tidak keberatan kan jika saya sebut penyakit?”
“Tidak. Taris memang selalu menganggap ketidakwajaran adalah penyakit. Ibu juga selalu bilang bahwa apa yang Taris rasakan adalah penyakit.”
“Tak ada yang sulit selama kita mau berusaha dan berdoa. Matahari sudah tinggi, kita pulang sekarang,” katanya seraya membantuku berdiri.
Sudah dua bulan lima hari kami menikah. Selama itu saya tidak pernah tidur dengan suami saya. Setiap matahari kembali ke peraduan, ia selalu menjauh. Saya sampai bertanya, tidakkan bosan dengan keadaan seperti ini? Bukankah pernikahan itu hanya sebagai alat pemuas nafsu?
“Itu anggapan yang salah. Keinginan biologis tentu pasti ada. Tetapi tujuan menikah semata karena untuk menyempurnakan agama. Tahukah Dik Taris bahwa kesenangan dan kebahagiaan itu berbeda? Kesenangan muncul dari nafsu, sementara kebahagiaan datang dari hati. Kesenanganlah yang membua kita tidak pernah puas,” tukasnya.
“Lau apa gunanya jika seorang istri tidak bisa memanjakan suami?”
“Soal Dik Taris tidak bisa melaksanakan kewajiban layaknya seorang istri, saya ikhlas. Barangkali ini adalah cobaan bagi saya, bagi keluarga kita.
Saya tatap-lekat wajahnya yang bening. Mata yang tak jauh berbeda dengan pendar langit pagi. Mata itu seolah memberi energi kesabaran.
Air mata tak bisa saya sembunyikan.
***
Ia berdiri di ambang pintu. Krek. Krek. Tangannya membandul daun pintu berulang ke depan-belakang. Sesekali memainkan gerendel. Tampaknya ada sesuatu yang dicari. Entah apa. Bubungan tak lepas dari perhatiannya.
Ia mundur dua langkah. Pandangannya ke depan tak terbatas. Diam cukup lama, lalu kembali lagi posisi semula, dan maju dua langkah hingga kedua kakinya menyentuh tanah. Ia menatap langit.
“Aneh,” desisnya setelah melintasi pintu berulang kali.
“Ada apa?” saya coba memberanikan diri.
“Tidak apa-apa. Sudah salat?”
“Ya.”
Air mukanya tampak keruh. Saya diam tidak tahu harus berkata apa. Tanpa memberitahu, saya yakin ada sesuatu yang disembunyikan dalam pikirannya.
“Coba ke sini.”
Saya mendekat.
“Pandangilah langit itu.”
Saya manut.
“Sekarang lewati pintu itu dan pandangi lagi langit yang tadi pandang.”
Saya melewati daun pintu dan memandang langit pada titik yang sama.
“Apa Dik Taris merasakan sesuatu yang janggal?”
Saya terhenyak. Benar. Langit tampak berbeda. Lebih hitam dan gelap. Saya mendekat ke sisinya dan kembali memandang langit pada titik yang sama. Langit tampak lebih cerah. Lebih berenergi.
“Kenapa bisa berbeda?”
“Entahlah. Saya juga tidak tahu. Nanti saya coba tanyakan pada Kiai Zainur,” tukasnya. Kiai Zainur adalah pengasuh pesantren di mana di mana suami saya menimba ilmu agama.
***
Mega belum sepenuhnya hilang saat Kiai Zainur mengetuk daun pintu. Saya sudah mengunci pintu kamar sebelum gelap menancapkan cakarnya. Saya mencuri pandang dari celah-celah pintu. Keduanya, guru dan murid itu, terlibat sebuah percakapan serius.
Adzan Maghrib berkumandang. Suami saya mengetuk pintu kamar, mengajak salat berjamaah. Saya jadi cemas. Membayangkan rupa bagaimanakah yang akan saya temui. Pelan daun pintu saya buka dan saya menutup mata serapat-rapatnya.
“Buang rasa takut itu. Dia suamimu,” tukas Kiai Zainur.
Saya masih belum berani menyingkirkan kedua telapak tangan dari muka saya, hingga sepasang telapak tangan memberikan kekuatan keyakinan dan keberanian betapa yang hadir di hadapan saya adalah sebenarnya suami. Senyum dan pandangannya adalah sebenarnya imam dalam hidup.  Perlahan sepasang tangan itu menyibak tangan saya. ketakutan seketika menghilang oleh senyum yang mengembang dari sudut bibirnya.
Kiai Zainur duduk khidmat di atas hamparan sajadah. Ia minta segelas ait putih. Tasbihnya berputar-putar. Dengan sebuah isyarat ia meminta kami mengikuti apa yang diucapkannya. Selesai berdoa dan meniup air putih, Kiai Zainur melangkah ke beranda. Langkahnya pelan, tegak, dan berwibawa. Pintu terbuka. Segelas air putih itu disiramkan pada undakan tanah di depan pintu. Pada tanah basah itu, ia menyuruh suami saya menggalinya dengan tangan. Selang beberapa menit, ada yang tampak di permukaan. Sehelai kain usang. Panjangnya kira-kira dua jengkal. Suami saya segera menyerahkannya.
“Sehelai kain kafan,” tukas Kiai Zainur.
Kami bersipaku. Diam dalam bahasa masing-masing, mempertanyakan kain itu mengapa bisa terpendam di depan pintu rumah. Sesungging senyum dari masa lalu tiba-tiba hadir dalam pikiran. Tetapi saya tak berniat untuk menceritakannya.
“Ada orang yang menginginkanmu,” tukas Kiai Zainur.
Mimpi saya seakan terjawab sudah.
***
Bulan menggantung di pelepah siwalan. Dua buah bohlam dikerubung serangga-serangga malam. Gigil, tentu saja. Paras bulan sempurna rebah di wajahnya yang teduh. Matanya serupa langit berbintang. Parasnya tak lagi buas dan menyeramkan. Kami menghabiskan separuh malam dengan dzikir. Tentu, setelah kami tunaikan ‘kebahagiaan’ yang sempurna.[]
Jember, 5 April 2015

Anak Negara


(Dimuat di Tabloid Nova, 7 Mei 2015)

Mereka menyebut kami anak negara. Membanggakan bukan? Kata ibu, ibu dari semua anak-anak ibu, sudah sepatutnya kami berbangga diri. Jarang ada seorang anak disebut anak negara, kecuali nasibnya memang segaris dengan kami.

“Pemuda adalah harapan bangsa. Tetapi banyak pemuda yang tak mengerti pentingnya revolusi. Hidup sekedar bersenang, meneguk miras dan melakukan seks bebas seperi sekumpuan arisan,” kata ibu. Ada bara di matanya.

Jumlah kami yang banyak hanya diasuh oleh seorang perempuan yang kami sebut ibu. Jadilah ia seperti Dewi Gandari yang memiliki banyak anak. Namun, ibu bukan pendendam sebagaimana istri Destarastra yang buta itu. Ia tak mengajari haus kekuasaan. Ia mengajari sikap keteladanan. Mungkin suatu saat dimana perempuan berhenti melahirkan, anak ibu lebih berkali-kali lipat dari anak Dewi Gandari.

Masalahnya, kapankah perempuan berhenti melahirkan?

Ibu bukan seorang ibu negara. Bukan istri presiden atau pejabat. Ia hanya seorang juru masak di sebuah lembaga perlindungan anak. Setiap hari menyeduh secangkir kopi, menyiapkan makanan untuk para karyawan, dan menyapu seluruh ruangan sebelum dan sesudah karyawan pulang. Pekerjaan memang banyak, tapi ibu tak pernah alpa mendongengkan kami tutur halus untuk menanamkan betapa kita mesti berbangga diri menjadi anak negara.

Jika Dewi Gandrari mensugesti anak-anaknya mempertahankan kekuasaan Hastinapura, ibu malah menanamkan niai-nilai pengabdian. Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.[1]

Kami sadar kendati pura-pura tak menyadari. Seperti anak Dewi Gandari yang terburai menjadi seonggok daging sebelum menjadi bayi-bayi kecil nan mungil, seperti itulah pula nasib kami. Barangkali juga kami pernah ditendang seperti Dewi Gandari menendang segumpal daging yang keluar dari rahimnya. Lantas kami ditutup oleh selembar daun di bawah gerimis. Dia, perempuan itu, menunggu kami menangis di bawah daun itu kemudian lari sekencang-kencangnya. Ya, kami bernasib sama: sama-sama lahir dan terbuang.[2]

“Waktu ditemukan, kamu tertutup panci, wuekkk

“Ketimbang kamu ditemukan nyangkut di gorong-gorong, hampir disosor bebek.”

“Alaaaah, tak usah turut campur. Dirimu hampir sudah dimakan anjing.”

“Coba dirimu, tiga hari disusu kucing. Hahahaha...”

Itu bukan sebuah olokan, hanya semacam nonstalgia masa lalu. Kami tak pernah marah hanya karena cacian atau olokan semacam itu, karena kami sadar, betapapun sadar, dan sesadar-sadarnya.

“Sudah, sudah! Kalian anak-anak Ibu yang terbaik,” sela ibu. Kami berebut memeluknya.

“Ibu, tuturkan cerita indah padaku. Suatu saat, semoga aku bisa menulisnya dan menerbitkannya dalam bentuk novel,” pinta Taris, temanku yang paling cerewet. Ibu tak mau, tapi Taris tetap merajut.
Ibu bercerita bercerita tentang masa kecil Taris. Kami tertawa, kecuali Taris. Ketika giliran ceritaku, mereka tertawa, kecuali aku. Baru ketika ceritanya selesai, kami sama-sama tertawa. Adakalanya kita harus menertawakan nasib sebelum nasib menertawakan kita.

***

Malam terus merambat. Gerimis turun tak teratur. Terkadang tampak akan reda, tetapi lantas deras sekali, seperti nasib yang tidak jelas. Taris mengeluh. Ia memintal perutnya.

“Lapar?”

“Iya.”

“Masak mie instan.”

“Malas.”

“Tunggu di situ. Aku mau membangunkan ibu.”

“Jangan. Kasihan.”

“Tapi kamu lapar.”

“Sudah. Tak usah.”

“Kenapa?”

Taris mendekatkan bibirnya. Berbisik jika di luar sana ada sebuah warung yang menjual nasi goreng super enak. Ia menyebutnya nasi goreng sehabis hujan. Awalnya sepele. Saat malam hari hujan turun, Taris pertamakali mengenal hidangan ini. Tentu tanpa sepengetahuan kami, terutama ibu. Nasi goreng yang dimasak dengan minyak kelapa, dipadu dengan sambal mentah yang juga dibuat agak inovatif: rajangan bawang merah, cabe rawit, sereh, kecombrang dan tomat, disiram dengan minyak kelapa yg dipanaskan bersama sedikit terasi, lalu dikucuri jeruk nipis. [3]

“Kamu harus mencoba,” godanya. Perempuan bermata ilalang itu memang sangat menggandrungi nasi goreng. Sayang, warung itu hanya buka malam hari. Sementara kami tidak diperbolehkan keluar malam.

***

Malam benar-benar menusuk tulang. Taris selalu memilh jalan sepi. Jalanan dengan bias cahaya yang remang, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam peta kota. Apalagi kalau bukan karena alasan tak ingin ketahuan karena melanggar aturan. Jalanan becek dan aroma comberan yang meluap mengaduk-aduk isi perut. Aku tak yakin nanti bisa makan dengan lahap.

“Masih jauh?”

“Sebentar lagi.”

Kami menyisir sisi tembok perumahan agar gerimis tidak menyentuh tubuh kami. Salak anjing serta suara-suara aneh dari tumpukan sampah menggegaskan langkah. Di tempat yang remang, di manapun asal remang, sejoli tertangkap basah mengecup bibir kekasihnya yang lebih basah dari gerimis. Gelandangan mendengkur dengan keras. Menutup wajahnya dengan koran bekas.

“Masih jauh?”

“Sebentar lagi.”

Kami tiba di sebuah gang apartemen yang sama bentuknya. Dua apaertemen itu terkenal dengan sebutan apartemen kembar. Kendati cukup sempit gang itu, pencahayaannya cukup memadai. Sepanjang perjalanan, aku melihat sejoli berpeluk mesra melewati “pintu” belakang. Aku tercenung sementara. Lamat-lamat terdengar sebuah alunan musik yang menghentak. Inikah wajah kotaku?

“Masih jauh?”

“Sebentar lagi.”

Di sebuah pintu yang lain, seorang perempuan tengah merokok. Pakaiannya tak seberapa untuk mengusir dingin karena memang hanya sebagian tubuh yang tertutupi. Barangkali karena alasan dingin perempuan itu merokok. Ia menatap sinis. Tatapan tak bahagia. Saat punggungku cukup jauh meninggalkannya, derak pintu terbuka. Aku menoleh. Seorang perempuan terjungkal oleh dorongan dua lelaki kekar. Perempuan yang merokok tadi tak mempedulukan isak tangis perempuan di depannya. Ia mematikan rokoknya dengan santai dan masuk menyambut dua lelaki bertubuh kekar. Sebentar, ia meludahi perempuan itu dan membuang puntung rokok ke mukanya!

“Masih jauh?”

“Sebentar lagi.”

Ada perasaan lega keluar dari gang itu. Langkah kami menjejaki trotoar. Segerombolan anak muda berpesta dalam permainan kartu. Kulit kacang bertebaran. Ada yang memetik gitar. Ada yang berpeluk mesra. Ada yang bersentuhan bibir. Ada yang menenggak minuman dengan sorot mata merem-melek dan mulut mengecap-cecap. Taris mempercepat langkah setelah mata mereka menuding kami, lantas terbahak-bahak.

“Masih jauh?”

“Sebentar lagi.”

“Aku mau kembali.”

“Sebentar lagi. Tuh, sudah kelihatan.”

Kelihahatan memang. Sinarnya seperti kunang-kunang. Semak-semak diantara reruntuhan gedung tua masih harus kami lewati sebelum sampai pada tujuan. Sepanjang jalan berderet warung soto, nasi goreng, bakmi, bakmi, dan kopi. Kecuali nasi goreng dan kopi, semua tutup. Makin ke ujung, deretan itu makin remang-remang, dan yang paling ujung adalah tempat cinta yang hitam. 

Taris memesan dua bungkus nasi goreng. Ruangan di dalam ternyata cukup lebar untuk ukuran sebuah warung. Banyak orang di dalamnya dan aku tak bisa menyapu salah satu wajah mereka karena cahaya dari luar lebih terang sehingga yang tampak hanya bayangan yang berkelebat.

“Aku sudah sering ke sini,” tukas Taris.

Kami bersigegas pulang. Langkah Taris dua kali lebih cepat. Ia ingin segera sampai dan menyantap sebungkus nasi di dalam kantong plastik. Sebuah mobil Porche parkir di depan gedung tua. Sekejap lampu sein menyala dan mobil itu hilang di balik gelap. Deru mobil turun perlahan. Lantas senyap. Tiba-tiba diantara reruntuhan gedung tua terdengar tangis bayi.

“Kau dengar itu?”

“Disitu memang banyak dedemit.”

“Tidak. Suara itu tangisan bayi.”

“Dedemit! Kau mau membawanya?” Sungguh, bulu kudukku jadi merinding.

Belum sempat aku mengelak, langkah Taris semakin menjauh, meninggalkanku yang tiba-tiba membatu oleh tangis itu. Aku yakin itu tangis bayi. Ah, sudahlah. Bukan urusanku. Tapi bagaimana jika suara itu benar-benar tangis bayi? Bayi yang baru lahir ibarat kapas putih. Diinginkan atau tidak dinginkan, dari hubungan sah ataupun hina, bayi itu tetap seperti kapas putih. Bukankah kau juga ditemukan terlantar dan menangis seperti itu? Ada suara berisik di kepalaku.

Taris sudah masuk di gang gelap itu. Aku benar-benar tidak bisa bergerak. Tangis itu seolah-olah menginginkanku untuk menyambanginya. Kususuri semak-semak reruntuhan gedung tua itu. Berbekal suara berisik di kepala, bukan berbekal berani. Astaga! Benar! Suara itu. Bayi!

***

Satu anak menjadi bagian dari keluarga. Kami bahagia, kecuali Taris. Ia marah telah membawa bayi itu pada ibu, yang membuat ibu tahu bahwa diantara kami ada yang melanggar aturan, dan akan membuat ibu bersikap awas. Aku tak mengatakan apa-apa soal Taris. Tapi gadis yang memiliki tahi lalat di pipi kirinya itu tetap tak bisa terima.  

Taris gadis yang tak bisa dimengerti. Selera makannya sangat buruk, kecuali pada beberapa menu yang ia sukai, makannya lahap sekali. Ia kerap keluar malam karena lapar oleh sebab kebiasaan buruknya itu. Pada suatu malam, ia tak kembali lagi. Ibu panik lapor polisi dan meminta bantuan pada komisi perlindungan anak. Aku tahu Taris ke mana, tapi aku tak bisa mengatakan pada ibu, karena sekarang aku juga tak tahu ia dimana.

Ibu jadi pemenung. Mengutuk diri sendiri. Gadis yang sangat menyukai nasi goreng itu adalah anak negara yang sangat disayanginya. Ia paling dekat dengan ibu karena kemampuannnya memecahkan teka-teki silang. Ya, di waktu luang, ibu kerap mengisi teka-teki silang, sementara Taris selalu membantunya bila mengalami kesulitan.

Bulan membentuk sabit, berbentuk irisan semangka, membulat kuning telur, lalu hilang diganti serpihan bintang. Beberapa lembar daun melayang tertiup angin. Membubung tak jelas kapan dan di mana jatuhnya. Ibu banyak menghabiskan berita di depan layar televisi. Barangkali berharap tiba-tiba Taris melambaikan tangan. Tanpa Taris, senyum ibu tak pernah terkembang, kecuali saat menyimak berita eksekusi para gembong narkoba. Ia senang sekali bandit-bandit akan mati dengan kepala berlubang. Ibu tampak sangat membencinya.

Pada sebuah purnama yang kesekian, aku melihat seorang gadis tengah menenteng kantong plastik berisi makanan. Matanya sayu dan kelabu. Bibirnya bersenyum rindu. Perutnya membuncit seperti purnama di atas reruntuhan gedung tua yang tampak seperti senja.[]
Jember, 16 Februari 2015



[1] Dikutip dalam film Laskar Pelangi [37.07]
[2] Selama 2014 terjadi 135 kasus pembuangan bayi secara sengaja [data Komnas PA]
[3] Nama dan narasi dicomot dari status penulis Puthut Ea [17 Februari 2015]