Monday, March 12, 2012

Membaca Geliat Bermusik Santri Lubangsa

(Sumber: www.annuqayah.blogspot.com)

Guluk-Guluk—Jumat pagi (2/3), Muhammad Kholis (16), salah seorang santri PPA Lubangsa keluar dari biliknya di blok B/5. Handuk bercokol di pundak kiri. Tangan kanannya memegang gayung berwarna biru langit. Gayung itu berisi sabun mandi, pasta gigi Close Up, dan sikat gigi bermerk Formula. Sedangkan tangan kirinya menggenggam sound portable yang bentuknya seperti kaleng susu berukuran 385 gram. Suara dangdut koplo menggema dari sound itu.

Langkahnya santai melewati beberapa santri yang sedang melakukan aktivitas olahraga bulu tangkis dan tenis meja di lapangan blok B, sampai tubuhnya menghilang setelah memasuki kawasan blok F. Dilihat dari handuk dan gayung yang berisi peralatan mandi yang dibawanya, tak perlu ditanya bahwa ia akan pergi mandi. Tapi, kenapa harus membawa sound portable?

“Mandi lebih enak kalau sambil bermusik. Lagian sekarang kan hari Jumat, waktu bebas bermusik,” katanya santai. Alunan Baik-Baik Sayang yang diaransemen menjadi dangdut koplo menggema di setiap sudut kamar mandi belakang Blok F.


Saat ini, geliat bermusik santri PPA Lubangsa memang tergolong cukup tinggi. Hal tersebut didorong oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih. Revolusi alat pendengar musik juga tampak, dari pemutar MP3 sampai sound portable yang kini banyak digandrungi oleh santri.

Ya, sound portable menjadi pilihan utama. Selain praktis dan mudah dibawa ke mana-mana, sound portable menjadi pilihan utama karena menggunakan memori micro SD dan baterai handphone BL-5C serta tidak perlu diribetkan oleh headset sebagaimana pemutar MP3. Hanya dengan harga 100-200 ribuan rupiah, sound portable itu mudah dibeli di toko-toko di pasar Ganding, Prenduan, atau Sumenep. Selain itu, daya tahannya juga lebih baik daripada pemutar MP3.

Selain sudah menjadi bagian dari gaya hidup, mendengarkan musik bagi santri merupakan hiburan tersendiri tatkala pikiran ruwet. Maklum, selain memiliki kegiatan kepersantrenan, santri juga dipadati oleh kegiatan sekolah sehingga musik berfungsi sebagai teman setia penghilang kejenuhan dan penyegar otak mereka.

“Kalau mendengarkan musik, pikiran saya terasa ringan sekali. Apalagi dangdut koplo, tanpa terasa kepala saya geleng-geleng sendiri tanpa disadari,” aku Kholis.

1 Bilik 1 Sound Portable
Dalam penjajakan kru Mading Satelit yang diterbitkan Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj), setidaknya ada 94 sound portable dari 81 bilik santri di Lubangsa. Jadi, rata-rata setiap bilik memiliki 1 sound portable. Bahkan dalam satu bilik sampai ada yang memiliki 4 sound portable. Bisa dibayangkan betapa ramainya PPA Lubangsa dengan musik apabila setiap bilik menghidupkan alat musik, meskipun suaranya hanya di sekitar bilik saja.

Hitungan tersebut tidak termasuk alat musik di perkantoran: kantor pesantren, kantor Madrasah Diniyah, kantor redaksi majalah Muara, perpustakaan Lubangsa, kantor Usaha Kesehatan Pondok Pesantren (UKPP), Warpostel, Biro Pengembangan Bahasa Asing (Arab dan Inggris), dan kantin milik PPA Lubangsa, yaitu Kantin Sufi. Perkantoran dan kantin tersebut memang bebas dari aturan pesantren tentang jam bermusik karena termasuk kategori bekerja untuk kepentingan pesantren.

Untuk membeli sound portable, sebagian besar santri menggunakan uang pribadi. Sebagian lagi membeli dengan sistem patungan dengan teman sebiliknya. Sedangkan jenis musik yang cenderung digandrungi secara berurutan adalah lagu populer, dangdut koplo, hip-hop, kemudian musik yang bernuansa islami seperti hadrah dan kasidah.

Kepraktisan alat musik tersebut juga bisa berdampak pada penyalahgunaan alat musik di luar waktu yang telah ditentukan. Salah seorang santri PPA Lubangsa mengaku pernah menyetel musik di Aula Assyarqawi pada malam hari dengan menggunakan sound portable selain waktu yang diperbolehkan. Bahkan ia juga pernah menyetel musik di asta Kiai Abdullah Sajjad Syarqawi, sebelah selatan PPA daerah Kusuma Bangsa.

“Itu (mendengar musik) saya lakukan karena pikiran saya saat itu sedang kacau karena sakit hati,” kata M, salah seorang santri yang enggan disebut nama lengkapnya, yang tampak agak ragu-ragu saat mengatakannya.

Aturan Waktu

Kalau hanya mendengarkan musik, PPA Lubangsa memang terbuka. Jenis musik apa pun boleh didengarkan asalkan format file MP3, bukan MP4 atau semacamnya yang merupakan gambar bergerak. Namun demikian, PPA Lubangsa tetap memiliki seperangkat aturan tentang menyetel musik.

Aturan itu telah tertuang dalam Peraturan Dasar dan Tata Tertib PPA Lubangsa, yaitu Bab IV, Larangan-larangan, pasal 19 ayat 1 yang berbunyi: “Setiap santri dilarang bermain dan menonton video game, menyetel tape recoder, radio atau media elektronik lainnya di luar waktu yang telah ditentukan, kecuali berita dan kepentingan pesantren.”

Dalam penjelasan ayat itu, disebutkan bahwa waktu yang diperbolehkan menyetel musik sebagai berikut: pagi mulai pukul 05.30-06.30 WIB (bila tidak ada pengajian kitab turats), sore mulai pukul 16.30-17.30 WIB (saat shalawat sebelum azan Maghrib dikumandangkan), malam Jumat mulai bakda jamaah shalat Isya sampai 23.30 WIB (sampai bel tidur), dan hari Jumat pukul 05.30-17.30 WIB, kecuali pukul 11.00-12.30 WIB (saat pelaksanaan shalat Jumat).

Di luar waktu itu, santri tidak diperbolehkan menyetel dan mendengarkan musik, kecuali untuk kepentingan pesantren, semisal sedang bekerja merenovasi bilik atau memiliki kegiatan/acara, asalkan ada pemberitahuan kepada pengurus pesantren.

Pelanggaran dan Kepantasan


Muhammad Arifin, koordinator Keamanan dan Ketertiban (kamtib) PPA Lubangsa, mengatakan, apabila ada santri yang mendengarkan musik di luar waktu yang telah ditentukan, tindakan tegas tetap akan ia ambil, yaitu memberikan hukuman yang sepantasnya.

“Kalau cuma melanggar aturan tentang musik, kami akan menegur terlebih dahulu. Kalau teguran sudah tidak mempan, hukumannya bisa mengaji di depan kantor pesantren,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, ketika memang waktunya bermusik, santri dipersilakan mendengarkan musik di mana saja asalkan tetap berada di lingkungan PPA Lubangsa.

“Atur sendiri lah, tempat di mana saja yang pantas dan sopan untuk menyetel musik,” ungkapnya.

Mengenai besarnya volume musik, tidak ada aturan yang paten. Akan tetapi, akunya, volume janganlah terlalu keras. Cukup bisa didengar oleh teman sebilik saja.

Abdullah, penjaga Kantin Sufi, menyatakan banyaknya sound aktif di PPA Lubangsa turut memberikan tambahan pendapatan bagi Kantin Sufi meskipun tergolong sangat kecil. Pasalnya, setiap hari paling tidak ada sepuluh sound portable yang dicas di kantinnya. Dan, tarifnya cuma Rp. 500.

“Sebelum mereka (santri) banyak memiliki sound portable, saya sudah sering menerima jasa cas pemutar MP3. Toh tidak sampai mengganggu saya berjualan,” ungkap santri yang sudah nyantri sejak tahun 1993 itu.

Saturday, March 3, 2012

Ironi Filsafat Jawa

Buku Filsafat Jawa (Balai Pustaka; 1992), buah tangan Dr. Abdullah Ciptoprawiryo, dosen ilmu filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia, telah menyelamatkan wajah Indonesia dalam kancah percaturan ilmiah. Sebagaimana dalam pengantar bukunya, ia bermaksud untuk membantah pendapat seorang profesor asing yang mengatakan bahwa filsafat di Indonesia lebih ditekankan pada filsafat barat (Eropa) karena Indonesia tidak memiliki filsafat sendiri.

Melalui pendekatan analitik-holistik, ia membuktikan enam karya sastra Jawa yang mengandung pemikiran filsafat: Mpu Kanwa, Arjunawiwaha, jaman Raja Airlangga (abad XI); Mpu Tantular, Sutasoma dan Arjunawijaya, Jaman Raja Hayam Wuruk (abad XIV); Yasadipura 1, Dewa Ruci (1729-1801); Paku Buwana IV, Wulangreh (1789-1820); Ranggawarsita, Serat Wirid Hidayat Jati (1802-1873); Mangku Negara IV, Wedhatama (1809-1881).

Pada pertengahan tahun 1980, Prof. Dr. Takdir Alisjahbana, sastrawan Indonesia, menerima surat undangan dari Presses Universitaires De France di Paris, yang bermaksud menerbitkan sebuah Dictionnaire Des Philosophes, Kamus para Filsuf. Kamus itu akan memuat filsuf seluruh dunia beserta ringkasan karya mereka. Undangan itu kemudian digarap oleh para pengajar Jurusan Filsafat di tiga perguruan tinggi: Universitas Indonesia, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Universitas Gajah Mada dan IKIP Sanata Dharma.

Mereka mentapkan 15 tokoh filsuf tanah air untuk mengisi Dictionnaire Des Philosophes: Sutan Takdir Alisyahbana, Driyarkara, Ki Hajar Dewantara, HAMKA, Soemantri Hardioprakoso, Mpu Kanwa, Mangkunegara IV, Notonagoro, Mohamad Natsir, Pakubuwana IV, Ranggawarsito, H. Agus Salim, Sockamo, Mpu Tantular, dan Yasadipura I. Pada akhir tahun 1984 Dictionnaire Des Phelosophes terbit dalam dua jilid.

Seni dan Tuhan
Negara Yunani sebagai kiblat dari filsafat barat (Eropa) mencetuskan filsafat sebagai cinta kebijaksanaan. Pradigma semacam ini terwarisi sampai ke belahan negara bagian timur (Asia). Namun, corak religius yang mewarnai literatur pengetahuan di negara timur menjadikan filsafat bukan hanya sekedar pencarian entitas kebenaran ilmu pengetahuan, melainkan sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan (insan kamil).

Filsafat Jawa lebih “beraliran” filsafat ketimuran. Tipologi ini tidak lepas dari religiositas masyarakat Jawa. Hanya, filsafat Jawa menggunakan pendekatan intuisi seni sebagai pencarian dan pengejewantahan dari kearifan tertinggi. Sebagaimana pernyataan Dr. P. Zoetmulder, bahwa filsafat Jawa merupakan sarana mencapai kesempurnaan hidup. Di sinilah kita tidak mendapatkan pertentangan antara filsafat dan pengetahuan tentang Tuhan.

Bila memakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat berarti ngudi kasampurnan, berusaha mencari kesempurnaan. Kesempurnaan hidup yang dilandasi oleh cipta, rasa, dan karsa (ontologi, epistimologi, aksiologi). Sebaliknya philosophia bila dibaca dengan bahasa Jawa menjadi: ngudi kawicaksanan.

Masyarakat Jawa mencari hakikat segala wujud kebenaran yang bersifat mendasar. Semua usaha untuk mengartikan hidup manusia—asal mula dan akhir—serta hubungan dunia-manusia-Tuhan terakomodasi dalam seni budaya mereka. Kehidupan alamiah, menjadi dasar dan memberi isi bahwa kebudayaan Jawa benar-benar didapatkan usaha untuk mencari dasar-awal segala sesuatu, renungan tentang apa yang terdapat di belakang segala wujud lahir dan pencarian sebab-akibat.

Seni pewayangan adalah satu contoh implementasi dari filsafat Jawa. Walaupun ceritera wayang berasal dari India, namun terdapat perbedaan hakiki dalam perwujudannya. Di India, ceritera dianggap benar-benar terjadi dalam jalur mitos, legenda dan sejarah, sedang di Indonesia ceritera itu mengiaskan perilaku watak, manusia dalam mencapai tujuan hidup, baik lahir maupun batin (Filsafat Jawa, hal.18). Selain daripada itu filsafat Jawa juga bisa dilihat pada kesusastraan Suluk Jawa, Serat Wirid Hidayat Jati, dan aksara hanacaraka.

Sepintas, pernyataan Dr. Abdullah Ciptoprawiryo adalah benar, bahwa filsafat Jawa adalah filsafat “asli” Indonesia. Akan tetapi filsafat Jawa tetaplah hanya bagian dari nuansa lokal nusantara. Ia meletakkan filsafat Jawa hanya sebagai bukti sementara atas keterdesakannya untuk “menyelamatkan” Indonesia.

Sebenarnya filsafat Indonesia sudah terangkum dalam tulisan pada tali pita di kaki burung garuda. Bila Rene Descartes meletakkan Cogito Ergo Sum sebagai titik dasar filsafatnya, atau Gnothi se Auton yang menjadi dasar filsafat Sokrates, maka semboyan Bhinneka Tunggal Ika harusnya menjadi fondasi rumusan pemikiran filsafat di Indonesia.

Buku Filsafat Jawa hanya meng-ada-kan bukti keadaannya. Kehidupan masyarakat yang cenderung westernis serta perguruan tinggi di Indonesia yang lebih condong kepada filsafat barat telah menguburkan eksistensi filsafat negeri ini. Oleh karena itu, harus ada langkah awal bagi para insan akademika untuk membangkitkan embrio filsafat di negeri ini.