Monday, May 30, 2011

Ziarah

Mengunjungi kuburan adalah mengenang luka; segala kenangan akan menumpuk di batok kepala, berbuah menjadi sesal. Begitulah, setiap kali ibu angkat bicara perihal kebiasaannya berziarah kubur, setiap kamis petang. Mengapa ia mengatakan mengenang luka dan sesal?

Tiba tempat itu, angin seperti menghadirkan ketenangan ke dalam tubuh yang kelihatan rapuh itu. Begitu damai dan nyaman. Sejenak matanya terpejam, lalu diikuti ceracau tanpa suara, menyapa nisan-nisan bertuliskan nama-nama orang yang sudah tak bernyawa itu. Sampai di manakah suatu perjalanan akan berakhir?

Aku di belakangnya, tak seperti ia yang begitu tenang. Sunset memerah seperti bara api neraka berkilat-kilat, seperti yang digambarkan oleh guru ngajiku. Pada gundukan tanah yang berjejal rapi seperti sebuah tabung yang dipendam, batu nisan yang mirip sepasang alas sandal jepit itu, menjadi pagar, pembatas antara ruang gerak alamiah dengan kenangan. Semilir angin yang membawa aroma bunga pohon cempaka tak bisa menghilangkan anganku dari bayang-bayang itu.

Perempuan di depanku berdiri tenang. Ia nampak sedang berbicara dengan batu-batu nisan itu, membisikkan sesuatu yang dirahasiakan. Entahlah, apakah itu merupakan jalan sunyi sebagai penyebrangan diri untuk menembus sekat kegamangan atau hanyalah ilusi perjalanan hidup yang sempat terhenti karena napas.

“Mengapa mereka harus dikubur,” kataku mengumbar sunyi.

“Manusia diciptakan dari tanah. Sudah seharusnya mereka kembali ke asalnya,” katanya tenang. Sunyi lagi.

Adalah terjadi berulangkali setiap kamis petang ia mengajakku ke tempat ini. Mengapa orang yang sudah mati harus selalu dikunjungi? Bukankah mereka sudah kembali ke asalnya? Hanya menunggu cacing-cacing tanah meleburkan tubuh mereka.

“Mereka masih menunggu peruntungan nasib dan kemurahan Tuhan apakah ditempatkan di surga atau di neraka?” katanya menambahkan.

Aku tak menemukan jawaban mengapa ia selalu mengunjungi tempat itu setiap kamis petang. Padahal, itu adalah waktu yang paling menyeramkan dan paling ditakuti oleh teman-temanku, karena mereka penghuni gundukan-gundukan itu akan bangkit. Jika malam tiba, bayangan kami juga bisa menjelma hantu karena ketakutan kami sendiri.

Aku ingat betul pembicaraan dari kuping ke kuping teman-temanku kalau pada malam Jumat, jika ada orang yang mati dibunuh, mati secara mengenaskan, atau mati dengan hal yang tidak wajar, maka dia akan datang menuntut balas. Jumat kliwon adalah perhitungan yang tepat bagi roh-roh itu. Hi… bulu kudukku merinding.

Di tempat itu, nyaris semua kuburan tanpa rias. Kuburan yang sudah berpuluhan tahun hampir tak kelihatan karena tertutup oleh rumput liar. Rata dengan tanah. Ada pula yang sampai ambruk. Melihat kuburan yang ambruk itulah yang kemudian aku memegang tangan ibu seerat mungkin.

“Ibu, takut!” Ucapku hampir menangis.

Ibu hanya memelukku erat tanpa berbicara sepatah-dua-tigapatah kata pun. Dia terus menuntunku hingga sampai pada pekuburan yang katanya adalah kuburan-kuburan keluarga kami.

“Ini kuburan kakekmu…”

Dan.

“Ini kuburan paman kakekmu…”

Lalu.

“Ini buyutmu, dan ini…”

“…adalah kuburan bapak,” kataku memotong bicara ibu.

Setiap kali berziarah, ibu selalu berucap demikian. Setelah itu, ia pasti akan mengurai cerita-cerita haru perihal kebaikan mereka semasa hidupnya, seperti cerita para malaikat yang nyaris tanpa cela. Apalagi ketika sampai pada kuburan yang terakhir, terkadang ibu bercerita sambil berurai air mata.

Aku lahir terlambat ke dunia ini. Tak pernah mengenali rupa orang-orang yang selalu disanjung-sanjung ibu sebagai orang yang baik sejagat raya. Karena itulah aku tak pernah mengerti arti dari airmata yang menetes di pipinya.

***
Tak memiliki bapak adalah kenyataan yang tidak buruk-buruk amat. Buktinya, sampai saat ini ibuku tetap berdiri tanpa otot laki-laki. Di rumahku, hanya ada tiga kisah: aku, nenek, dan ibu. Mereka berdua adalah laki-laki, hanya jenis kelaminnya saja menyerupai kebanyakan perempuan. Aku pernah mengajukan pertanyaan bernada permintaan untuk melepas status jandanya agar aku memiliki bapak yang bisa dibanggakan kepada teman-temanku, seperti Ningsih yang bangga memiliki bapak berotot kekar atau Sumarni yang mengatakan bahwa kumis bapaknya seperti Sakera, kesatria orang Madura.

Karena ibu hanya memiliki dua hati, begitulah alasannya. Singkat!
Kamis petang ini, cerita indah yang dirangkai tanpa cela setiap kali mengunjungi tempat mayat-mayat itu akan bertambah. Sebab, di samping kuburan bapak telah menggembur gundukan tanah yang baru.

“Ini kuburan kakekmu…”

Dan.

“Ini kuburan paman kakekmu….”

Lalu.

“Ini buyutmu…”

Kemudian.

“…ini adalah kuburan bapakmu.

Pada gundukan tanah yang masih baru, di samping kuburan bapak, ibu menatap panjang. Kali ini air matanya tak bisa dipulangkan. Sama sepertiku. Baru kali ini aku merasakan kesedihan saat-saat mengunjungi tempat ini. Ah, kenapa baru sekarang?

“dan ini….”

“…adalah kuburan nenek,” aku segera memotong.

Ibu memelukku erat. Ada sesuatu yang belum tersampaikan. Ya! Dalam isak, ibu bertutur tentang nenekku. Aneh sekali, untuk kuburan yang terakhir ini aku tidak datang terlambat. Bahkan aku pernah ngompol di pangkuan orang yang selalu mendendangkan dongeng-dongeng indah kerajaan babat Jawa sebelum mimpi memisahkan kami. Tetapi, cerita ibu membuatku seakan baru kemarin sore mengenali nenek. Nenek! Seandainya kau dulu mengisahkan hidupmu saja dalam setiap pengantar tidurku, niscaya air mata ini tak banyak mengeluarkan sesal.

Kami memejamkan mata, menjaga kekhusukan doa agar melesat tanpa penghalang. Kamis petang ini akan menjelma menjadi malam Jumat manis. Kata orang kampung, Jumat manis adalah jumat yang paling bagus dantara Jumat-Jumat yang lain. Entahlah, apa alasan mereka. Bagiku mereka hanya menafsirkan nama manis itu sebagai yang baik-baik.

***
Di tempat ini, Adakalanya akau berpikir bahwa seratus tahun lagi, dunia akan kosong tak berpenghuni, mengingat tempat ini semakin sempit dijejali mayat-mayat yang baru. Kehilangan adalah topik utama dalam kematian.

Tak jauh dari kuburan nenek, sepetak tanah kembali menggembur, membentuk gundukan cerita baru. Nahas. Tragis. Begitulah cerita akhir dari pemilik batu nisan—dari batu granit—bernama Rapiah bin Hasan, istri kepala kampung yang mati di ujung golok perampok, di rumahnya sendiri. Tragedi itu sekaligus menewaskan anak yang masih dikandungnya. Rapiah adalah wanita terkaya di kampung kami dengan gelimangan emas di kedua pergelangan tangan, kaki, dan lehernya.

Kuburannya diistimewakan, dipagari bambu-bambu runcing, didirikan tenda, dan dijaga ketat siang dan malam.

“Kenapa nenek tak dijaga seperti itu,” tanyaku.

“Apanya yang harus dijaga?”

“Tapi kenapa kuburan itu dijaga? Apakah hartanya dibawa?”

“Tidak! Kuburan itu dijaga hanya karena akan memberikan keberuntungan!”
“Keberuntungan?”

“Ya! Bayi itu bisa menghadirkan harta sebanyak yang kita mau,” sorot mata ibu terus menatap kuburan itu. Bulu kudukku bergeming. Membayangkan orang-orang kampung memperebutkan kuburan itu.

Benar! Desas desus perihal bayi itu menggema di seantero kampung kami, mengalahkan kabar perut yang sering kekurangan makanan. Banyak yang menginginkan bayi itu. Apakah dia tetap hidup meski sudah dikubur? Atau hanya ibunya saja yang mati, sedangkan bayi itu tetap hidup dari memakan daging serta meminum darah ibunya. Hi… aku teringat gerandong yang sering dikisahkan oleh nenekku saat aku tak segera tidur bila malam menua.

Ternyata tak memiliki apa-apa lebih nyaman ketimbang bergelimang harta. Kami sering kekurangan, tak setiap hari dapur bisa mengepul, sehingga tak pernah rumahku dirampok atau bahkan disatroni maling. Siapa yang mau mengambil tikus dan coro dari rumahku. Jika ada, silahkan!

Kehilangan nenek tetap kami rasakan. Aku bukan hanya kehilangan cerita-cerita nenek, aku juga kehilangan aura ibu. Ya! kini ibuku sering melamun sendiri, menatap langit-langit rumah ketika pada malam-malam, atau hanya mondar-mandir di ruang depan mendendangkan tembang sunyi.

“Ibu, aku ingin kencing.”

“Ya, nak.”

Kami berdua beriringan melangkah ke luar rumah. Jarak sumur dengan rumahku sedikit jauh, harus menyalakan obor sebagai penerangnya. Tetapi tidak untuk malam ini, bulan dengan cahaya temaramnya serta langit yang bersih membuat malam itu indah sekali. Menatap bulan, aku jadi ingat kisah nenek tentang Nyi Randhe Kasean, orang satu-satunya penghuni bulan. Dia akan turun jika bulan mencapai puncak kesempurnaan.
Suara-suara jangkrik bersahutan. Bunyinya serak. Burung-burung malam juga memeriahkan, tapi aku tak takut sama sekali. Keberadaan ibu dan cahaya bulan sudah cukup menghilangkan rasa takutku. Malam itu, wajah bulan berbeda dengan wajah malam-malam sebelumnya.

Ketika remang cahaya itu jatuh di kelopak mata, aku menemukan kegelisahan di sana. Sepertinya ketika pas nenek pergi, tidak demikian wajah ibu menjadi sayu.

“Ibu,” sapaku.

Kami kembali ke rumah.

“Ibu rindu nenek?”

“Bukan hanya nenek, tapi semuanya. Sejak nenekmu meninggal, keluarga nenekmu sudah jarang datang ke sini.”

“Kenapa ibu tidak main saja ke rumah mereka, ibu tidak tahu rumahnya?”

“Keadaan yang membuat ibu tak bisa berbuat demikian,” aku mengerti apa yang dirasakan ibu. Biarlah, aku tak melanjutkan percakapan ini. Kami kembali ke rumah dengan tenang.

***
Pagi sekali, dapur sudah berisik oleh tingkah ibu. Tak biasanya, padahal pagi belum remang. Ayam juga lelap, belum padu berkokok. Api tungku memantul dari kelopak matanya. Silau. Sementara, keringat mengalir di sela-sela kerut muka dan leher ibu. Beberapa kali ia tersenyum sendiri. Sekali-duakali tertawa. Ops! Ada apa dengan ibu? Ia biasanya polos, tersenyum seadanya.

“Ibu,” kataku pelan.

“Cepat! Ambilkan piring! Sudah hampir matang,” Beberapa kali dia tertawa, menelan liurnya. Aroma masakan ibu memonyongkan hidungku. Menggoda. Segera aku laksanakan apa yang harus aku lakukan.

Mulanya, aku kira makanan yang tersaji setengah gosong di piring itu, yang warnanya bercak kehitaman, adalah beberapa irisan tempe. Ternyata aku salah! Rupanya itu adalah daging! Hmm, liurku berontak, segera kuteguk sedalam mungkin.

“Kau tahu, inilah makanan yang membuat manusia bisa menjadi orang kaya. Jadi, kita sekarang sudah kaya,” tawanya kembali pecah. Aku tak mempedulikannya. Mulutku terlalu sibuk mengunyah daging itu.

***
Seperti biasa, seperti pula kamis petang ini, ibu mengajakku mengunjungi tempat itu, mengisahkan tentang cerita indah tanpa cela yang selalu dirangkainya. Sunset memerah seperti bara api neraka berkilat-kilat.

“Ini kuburan kakekmu…”

Dan.

“Ini kuburan paman kakekmu….”

Lalu.

“Ini buyutmu…”

Kemudian.

“…ini adalah kuburan bapakmu.”

Sementara itu.

“Adalah kuburan nenek,” potongku cepat.

Pada gundukan tanah di samping kuburan nenek, ibu menatap panjang. Kuburan itu telah ambruk. Mengapa kuburan itu bisa ambruk? Dan, dengan tenang ibu mengisahkan hilangnya penghuni kuburan itu serta orang-orang yang bisa kaya karenanya.
Melihat kuburan itu, aku memegang tangan ibu seerat mungkin.
PPA, 3.04 PM

Saturday, May 21, 2011

Tak Disangka Bertemu Dengan Lan Fang

Setelah selesai Solat Jumat (20/5), saya langsung turun dari Masjid Jamik Annuqayah menuju kantor Sekretariat Bersama PP Annuqayah yang terletak di simpang tiga jalan menuju kampus, tepatnya sebelah utara Madrasah Ibtidaiyah (MI) Annuqayah. Saya sengaja cepat-cepat turun dari masjid karena harus mengerjakan dan menyelesaikan satu tulisan untuk rubrikasi pada buletin yang akan diterbitkan oleh Biro Publikasi, Informasi dan Kepustakaan, PP Annuqayah.

Siang itu, terik matahari menyengat ubun-ubun. Saya mempercepat langkah agar segera menyelesaikan tulisan sebelum saya menghadiri acara bedah buku Ciuman Dibawah Hujan di Auditorium As-Syarqawi. Bagi saya, menghadiri bedah buku itu adalah wajib, karena saya sangat senang dengan karakter tulisan Lan Fang, pembedah sekaligus penulis novel itu.

Karena terburu-buru, badan saya mandi keringat. Untungnya saya memakai dua pakaian: kaos lengan panjang dan baju koko yang semuanya berwarna cokelat, sehingga keringat yang keluar dari punggung, dada, dan (maaf) ketiak saya tidak kelihatan. Hanya, wajah saya saja yang ketahuan banjir keringat.

Pada jarak kira-kira 25 meter dari simpang tiga itu, saya melihat seseorang yang tengah duduk di pingir jalan, di bawah gedung MI Annuqayah. Saya mengamati orang yang menyandang tas kecil dan disampingnya ada dua kresek berwarna merah yang saya tidak tahu apa isi di dalamnya.

Lho, bukankah orang itu adalah Lan Fang? Kata saya mereka-reka. Baru pada jarak yang cuma 10 meter, saya bisa memastikan bahwa orang itu adalah Lan Fang, penulis novel Ciuman Dibawah Hujan. Saya pun heran melihatnya, menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti orang yang kebingungan.

Mengapa dia berada di sini? Pertanyaan kedua muncul. Akhirnya saya memberanikan diri menyapanya. Siapa tahu orang yang jauh-jauh datang dari surabaya itu buth bantuan.

“Sampeyan, mbak Lan Fang, kan?” sapa saya. Saya tahu, dia biasa dipangil Cece Lan Fang. Tapi karena waktu itu saya sedikit gugup, ya, yang keluar bukan “Cece” tapi “Mbak”.

“Lho kok tahu. Kamu siapa?” He, dia malah balik bertanya.

Langsung saja saya jawab. ”Saya adalah fansnya mbak. Mbak lagi nunggu siapa?” tanyaku lagi.

“Saya lagi nunggu Neng Ovie (Shofiah A. Win). Adik tahu ya, rumahnya Neng Ovie?”

“Tahu mbak. Apa mbak perlu saya antar ke dhelem beliau?” Saya menawarkan diri.

“Oh, kalau begitu mari’ tolong saya antarkan ke rumahnya Neng Ovie,” katanya langsung berdiri.

Wah, tawaran itu sangat menyenangkan hati saya. Betapa tidak, dia adalah orang ke dua yang tulisannya sangat saya sukai setelah mas Seno Gumira Aji Darma. Langsung saja saya sambar kedua kresek yang ada di sampingnya.

Beruntung sekali rasanya waktu itu, berjalan beriringan sambil sedikit bertukar informasi di tengah jalan. Meski rasanya, saya sedikit gugup karena lirikan teman-teman yang baru bubar dari masjid. Entahlah, apakah mereka merasa heran atau bahkan iri kepada saya karena saya sedang berjalan dengan orang yang sudah memiliki nama besar dalam dunia kepenulisan, atau bahkan hendak menertawakan saya karena saya menenteng dua kresek, saya tidak mau tahu. Yang jelas, saya, di sampingnya juga turut merasa memiliki nama yang patut “diperhitungkan” dalam dunia kepenulisan. Meskipun saya akui, saya masih sangat jauh dari anggapan yang sangat sementara itu.

Yes, akhirnya saya bisa membantu orang yang sangat saya sukai tulisannya. Semoga cerita ini masih akan berlanjut. Amien.

Friday, May 20, 2011

Vini, Vidi, Vici

(Epilog Kumcer Kembala Air Mata, 2011)

Kemarin adalah Sejarah…
Besok adalah Misteri…
Sekarang adalah Hadiah…

Saya sangat suka dengan ungkapan di atas. Tiga rangkaian kalimat yang saya caplok dari tutur Mr. Oogway, dalam film Kungfu Panda itu amat sederhana, unik, menarik, dan memiliki makna filosofis yang amat kuat. Bagi saya, umur manusia hanya bisa diklasifikasikan ke dalam kalimat tersebut; sejarah, misteri, dan hadiah. Tidak kurang dan tidak lebih.

Lalu, apa hubungannya dengan menulis? Baiklah, saya hanya akan memberikan sedikit catatan singkat atas terbitnya antologi ke-2 Puisi dan Cerpen Komunitas Penyisir Sastra (PERSI) IKSABAD dari sudut pandang ketiga rangkaian kalimat di atas. Namun, sebelum saya lanjutkan, terlebih dahulu saya ucapkan selamat mengarungi dunia dengan kata!

Kemarin adalah Sejarah…
Satu detik saja waktu yang telah terlampaui pasti (akan) menjadi sejarah. Manusia tidak bisa memutar kembali sejara itu, atau menghadirkannya ke ruang dan waktu yang sama, atau yang berbeda sekalipun. Tidak! Itulah sebabnya penyesalan datang dikemudian hari. Dalam ungkapan orang Madura “tadhe’ buwenah bettes bede e adek, kabbhi bedhe ebudi”.

Manusia tidak bisa menghukumi sejarah, tapi sejarah bisa menghukum manusia. Ingatlah! Soe Hoek Gie pernah mengatakan “Sejarah dunia adalah sejarah penindasan”. Lho, itu kan “Sejarah Dunia”? Ya, benar. Tetapi manusialah yang mencipta sejarah itu. Lantas, apakah harus berpasrah diri pada sejarah? Ops, tunggu dulu. Sejarah bisa kita jadikan cermin untuk menatap masa depan. Banyak manusia yang mengklaim sejarah, bukan menjadikannya sebagai tauladan. Sehingga, anarkisme, rasisme, intimidasi, menjadi lahan empuk untuk menciptakan tindak kekerasan. Saya tidak akan banyak membicarakan persoalan ini, karena memang bukan “wilayah” saya.

Salah satu cara paling ampuh agar sejarah itu “terulang” kembali adalah mengabadikannya. Besar sekali kemungkinan sejarah itu akan hilang, karena otak—dalam ilmu psikologi—semakin lama menyimpan data sebuah peristiwa, maka semakin sulit untuk mengingat kembali, tentunya mengingat secara utuh.

Besok adalah Misteri…
Apakah anda tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari? Jika anda mengatakan, ya! Maka anda akan dicap musyrik, men-Tuhan-kan diri. Nasib manusia sudah ditentukan, tetapi tidak ada tahu kententuan itu, kecuali Sang Khaliq. Kapan kita akan dilahirkan, mendapat rizki, musibah, menikah, memiliki anak, menikah lagi (he, bila perlu), hingga maut melambaikan tangan.

Akan tetapi, meskipun manusia tak bisa membaca ketentuan itu, Tuhan masih memberikan toleransi untuk mengubahnya. Inna Allaha laa yughayyiru ma biqaumin hatta yughayyiruma bi anfusihim, Disinilah, kesempatan manusia untuk merangkai sejarah itu sebelum berpasrah diri kepada-Nya.

Saya jadi teringat akan sebuah kalimat yang dipopulerkan oleh Thomas Fuller “Kalau bukan karena harapan-harapan, maka hati pun akan mati”. Kata “mati” adalah representasi dari misteri. Manusia tidak tahu kapan ia akan menjadi bangkai dan kembali pada tanah. Tetapi karena ada kata “harapan” mereka tetap mencoba bertahan dalam sebuah misteri itu.

Sekarang adalah Hadiah…

Banyak manusia yang tak bersyukur atas apa yang telah didapatkan hari ini, bahkan seringkali tak pernah berpuas diri. Jika boleh, mereka akan meminta lebih dari itu, sehingga rasa syukur tak pernah bertasbih dalam tutur kata mereka. Salah satu contoh yang seringkali dilupakan adalah kesehatan. Banyak manusia yang tak menyadari bahwa kesehatan merupakan hadiah terbesar dalam sepanjang hidup manusia. Karena tak menyadari, pola tingkahnya menjadi tak beradat dan beradap, dan beretika.

Nah, antologi puisi dan cerpen yang sudah berada di tangan anda ini merupakan representasi dari seragkaian kalimat di atas. Mereka tidak mau digilas oleh sejarah sehingga berani mengabadikan sejarah dengan tulisan. Lahirnya antologi ini juga sebagai bukti bahwa mereka mulai merangkak untuk merangkai masa depan. Tentunya, ini adalah hadiah dari jerih payah mereka mengabadikan diri dan merangkai masa depan.

Cinta menjadi bumbu utama dalam antologi ini. Maklum, karena para penulisnya adalah remaja. Masa remaja adalah masa yang penuh cinta. Di sisi lain, tema cinta mudah dirasa, dipahami, dan diangkat ke permukaan. Karena cinta memang fitrah manusia. Cintalah yang “mencipta” perasaan: sayang, benci, rindu, percaya, kecewa, marah, tangis, sengsara, derita, bahagia, senang, murung, cemberut, sinis, egois, setia dan lain sebagainya.
Namun, tema cinta yang diangkat dari sudut pandang romantika yang berbeda-beda (romantisme, elegi, persahabatan, perpisahan, dan kenangan) itu kurang dikemas secara apik dan semenarik mungkin, yang membuat pembaca bisa mencicipi dan turut serta bernonstalgia dengan cerita itu. Sistematika bahasa bisa dikatakan sudah lumayan bagus, tetapi ekplorasi gaya bahasa, saya belum menemukannya. Mereka terkesan hati-hati agar tidak “murtad” bahasa, padahal bereksperimen untuk meciptakan estetika itu perlu untuk menjauhkan tulisan dari kata “klise”.
Beberapa penulis juga setengah hati dalam menuangkan apa yang dilihat, dirasa, dan diraba oleh cinta yang menjadikan ceritanya seakan terpotong-potong bahkan tidak tuntas. Inilah yang membuat alur dan settingnya tak begitu kuat. Ibarat sebuah makanan, bungkusnya kurang menarik, sehingga harga jualnya menjadi murah, hanya itu-itu saja.

Kendati demikian, terlepas dari itu semua, saya ucapkan SELAMAT! kepada para penulis karena telah berani merangkai kata demi mengukir masa depan. Antologi ini adalah hadiah dari jerih payah kalian saat ini. Dan tentu, suatu saat nanti para penulis dalam antologi ini akan menertawakan sejarah. Tidak percaya? Tunggu satu atau dua tahun lagi, kalian (khususnya para penulis) akan tertawa jika membacanya kembali.

Sebelum saya undur diri, mari kita tutup serangkaian kalimat ini bersama-sama dalam satu do’a: Bismillah, Menulis Sampai Mahok!

Sunday, May 8, 2011

Minggu


I
Banyak orang yang menyukai hari minggu. Pegawai, karyawan, pelajar, serta buruh, semua menyukainya. Tapi tidak bagiku. Hari minggu adalah hari yang paling menyebalkan. Betapa tidak, hari yang selalu kuharapkan menghadirkan sejuta kebahagiaan selalu memberikan beribu kekecewaan. Sial.

Lagi-lagi tulisan cerpenku gagal menembus media. Honor tulisan yang selalu kuharapkan bisa meringankan beban biaya orangtuaku di pondok hanyalah menjadi bunga tidur di malam minggu. Malam yang menjadi tempatku mengantungkan berjuta harapan.

Ah, pasti teman-teman sekamar akan menertawaiku lagi: menyebutku sebagai penulis gagal, menyuruhku menyudahi perjalanan ini, atau yang membuatku merasa lebih terbakar lagi ketika mereka mengatai tulisanku akan lebih bermanfaat jika digunakan sebagai alas kastol, sobluk, panci, atau wajan. Sungguh menyebalkan!

II
Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah tabing bilik membangunkanku. Mataku memicing karena cahaya itu. Ah, aku lupa kalau hari ini adalah hari minggu. Bersegeralah aku berangkat ke perpustakaan tanpa berkaca dulu apakan di mataku ada bile’ atau tidak.

Sampai di perpustakaan, koran itu telah dikerumuni banyak santri. Aku berdiri menunggu giliran, membetulkan sarungku yang hampir merosot, menunggu salah satu santri menyudahi membaca koran harian lokal yang selalu aku tunggu-tunggu.

Lagi, lagi, dan lagi. Cerpenku gagal tembus. Aku mulai putus asa. Menembus sekaliber koran lokal saja sulitnya minta ampun apalagi koran regional atau bahkan kelas nasional.

“Kenapa Gus, gagal lagi?” kata Ustadz Bahri, kepala perpustakaan pesantren.

“Iya, tadz,” ucapku malas.

“Sudah berapa kali kau ngirim?” tanyanya lagi.

“Lima kali, tadz. Semuanya lenyap entah ke mana. Apakah aku tak memiliki potensi ya tadz untuk menjadi penulis?”

“Baru lima kali ngirim saja sudah keok,” Ustadz Bahri tersenyum.

Lantas dia bertutur bahwa presidenku harus menunggu cerpen yang kesekian ratus kalinya dimuat di media massa. Aku kaget. Baru kali ini aku mengetahui kalau Pak SBY ternyata juga suka menulis cerpen.

Lagi-lagi Ustadz Bahri tersenyum. Ternyata presiden yang dimaksud bukanlah Pak SBY, melainkan Joni Ariadinata, Presiden Cerpenis Indonesia. Ah, kebodohanku menertawaiku sendiri.

III
Harapan benar-benar tinggal harapan. Sekali dari sekian kali cerpenku gagal terbit. Aku benar-benar frustasi. Kesabaranku sudah habis. Pagi ini aku putuskan untuk gantung pena selama-lamanya. Tak ingin lagi melihat oretan-oretan usang yang bersarakan di kamar bilikku.

“Tadz, apa sich gunanya menulis?” entah mengapa pertanyaan ini meluncur dengan sendirinya. Emosiku meledak.

“Menulis itu adalah salah satu media untuk berdakwah. Kita bisa menuangkan gagasan kita melalui tulisan sebagai pencerahan kepada pembaca. Berdakwah itu bukan hanya dengan bil lisan, melainkan juga bisa dengan bil qalam,” jawabnya.

“Apakah juga berlaku pada sastra? Misalkan cerpen, kan itu fiktif?”

“Haris, kefiktifan itu terjadi karena kita mendapatkan imajinasi dari sebuah realita. Pernahkah kau berpikir bahwa Al Kindi, Al Farobi, Ibnu Sina, Jalaluddin Rumi, dan Al Ghazali adalah para sastrawan? Tidak, kan! Kita hanya mengenal mereka sebagai tokoh sufi saja. Tak pernah berpikir bahwa kitab-kitab yang ditulis mereka mengandung estetika bahasa yang tinggi, intuitif, dan profetik.”

Aku hanya bisa menunduk. Ucapannya kembali membuatku harus mempertimbangkan untuk meralat keputusanku.

“Yakinlah! Kata itu lebih tajam ketimbang sebilah belati,” katanya menyudahi pembicaraan.

IV
Sore yang indah. Gerimis tak selamanya mengundang resah. Karena pada itu, matahari dan hujan bersekongkol menghadirkan pelangi demi menghapus kesunyain mereka…
Begitulah sepenggal catatan yang sempat kutulis ketika duduk-duduk santai di depan bilik sambil mengintip pelangi yang tersenyum. Indah sekali. Barisan gerimis memberiku banyak imajinasi di sore itu.

Tetapi, konsentrasiku pecah, ngelantur ke mana-mana ketika aku membuka selembar kertas catatan lagi dan mendapatkan sebingkai foto terselip di sana. Ya! Foto Eris, perempuan yang kutahbiskan sebagai cinta pertamaku. Sejak masih duduk di kelas lima SD aku sudah mulai mencintainya. Tetapi, hingga aku terdampar di usia ke-18 ini, tetap tak ada keberanian mengungkapkan perasaanku padanya.

“Lagi nglamunin apa? Apa karena cerpenmu tidak dimuat lagi?” tiba-tiba Ustadz Bahri berdiri di depanku. Aku segera menutup catatanku.

“Tidak tadz, sekedar corat-coret saja,” kataku.

“Tadi itu foto siapa?” Mati aku! Ternyata ustadz mengetahuinya.

Aku tak bisa menyembunyikannya lagi. Kuceritakan semuanya perihal perempuan itu. Aku mempertegas bahwa Eris bukanlah santri putri di sini agar ustadz tidak mengira kalau aku sedang berpacaran di pesantren.

Kukira Ustadz Bahri akan merampas dan merobek foto itu, karena di pesantren dilarang menyimpan foto-foto yang bisa mengundang syahwat. Ternyata tidak! Justru dia menyuruh menulis kisahku dalam bentuk cerpen. Siapa tahu akan tembus di media.

V
Hari ini, aku tak harus mengutuk hari minggu sebagai hari yang menyebalkan. Justru aku harus memberikan tinta merah karena untuk pertama kalinya cerpenku berjudul Pemburu Sunyi terbit di media. Aku bersyukur sekali. Impianku untuk mencari uang sendiri demi meringankan beban orangtuaku terpenuhi. Lumayan kan, satu cerpen dihargai seratus ribu rupiah!

VI
Dari sepupuku, aku mendapatkan sepucuk surat dari Eris. Katanya, dia telah membaca cerpen Lelaki Pencari Sunyi. Eris terharu saat membaca cerpen itu. Ternyata, selama ini dia menanti kata cinta dariku. Sungguh, semua ini di luar dugaanku.

Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Dia menerima cintaku. Aku benar-benar bahagia. Dan, lagu Marshanda Kisah Sedih di Hari Minggu tak berlaku padaku.
Akhirnya kubulatkan kembali tekadku; Bismillah, menulis sampai mahok!

Gubuk Cerita, 2011

Membuat Mobil-Mobilan

Hari menjelang petang. Andi belum pulang. Ia masih asyik bermain bersama Doni, tetangga sebelahnya. Doni baru saja memiliki mainan mobil baru, hadiah dari kakaknya di Semarang.

“Andi, ngaji dulu. Teman-temanmu sudah banyak yang berangkat,” kata Pak Joko dari balik pagar.

Andi bergegas. Dia berlari. Mukanya murung. Sampai di depan bapaknya, tiba-tiba Andi menangis. Suaranya sesenggukan.

“Pak, aku ingin punya mobil-mobilan seperti punya Doni.”

“Lho, mobil yang bapak buatin kemarin ke mana?”

“Mobil itu sudah rusak. Tadi siang jatuh ke sungai waktu aku mandi bersama teman-teman,” tuturnya polos.

“Ya sudah, besok bapak buatin yang baru lagi.”


“Nggak! Saya nggak mau membuat mobil-mobilan dari bungkus rokok lagi,” Andi
menggeleng. “Aku mau bapak membelikanku mobil yang bagus seperti punya Doni,” Andi menenggelamkan mukanya pada kedua paha bapaknya.

“Ya, sudah. Besok bapak akan memberikan kamu Bis yang besar.”

Andi sedikit tenang. Bapaknya berjanji akan memberikan mobil-mobilan baru, sebuah bis yang besar. Waktu mengaji, Andi sering membayangkan mainan bis baru yang dijanjikan bapaknya.

Sepulang dari surau, Andi kembali mengungkit janji bapaknya. “Pak, kapan bapak akan membelikan aku mobil-mobilan?”

Ayahnya tersenyum. “Besok kan hari minggu. Kita berangkat bersama-sama, ya!”

“Hore…hore. Ibu, bapak akan membelikanku mainan yang baru,” ucapnya girang. Andi menghampiri ibunya yang sedang merapikan pakaian. Baju ibunya ditarik-tarik. “ibu, besok bapak akan membelikanku mobil-mobilan.”

“Iya, iya. Ibu tahu. Sana tidur! Sudah malam.”

Andi berjingkrak-jingkrak menuju kamarnya. Malam itu, dia bermimpi sedang mengendarai bis besar. Berkeliling di sekitar halaman rumah.

***
Minggu yang cerah. Matahari baru saja mengecup kening bumi. Burung-burung berkicau. Melompat dari ranting satu ke ranting yang lain. Bangun tidur, Andi langsung teringat akan bis yang dijanjikan bapaknya.

Di luar rumah, di bawah pohon jambu, Pak Joko sedang mengerjakan sesuatu. Andi menghampirinya.

“Bapak ngapain apa?”

“Kamu sudah bangun rupanya,” sapa Pak Joko. “Sini, bantuin bapak dulu.”

“Jadi kan, bapak akan mebelikanku mobil-mobilan hari ini?”

“Iya. Tapi bantuin dulu pekejaan bapak, biar cepat selesai,” kata Pak Joko tesenyum.
Hari itu, Andi begitu bersemangat. Pak Joko menyuruhnya menggergaji kayu triplek sesuai dengan gambar di atasnya. Pak Joko senyum-senyum melihat anaknya linah dan terlihat bersemangat memotong kayu triplek sesuai dengan garis gambar itu.

“Sebenarnya bapak akan membuat apa?”

“Selesaikan dulu pekerjaanmu. Nanti kamu juga akan tahu.”

Kemudian, Pak Joko menyuruh Andi memotong beberapa kayu sesuai dengan panjang dan lebar gambar pada kayu triplek itu. Setelah selesai, Pak Joko merakit potongan-potangan itu bersama-sama.

“Bapak akan membelikanku mobil-mobilan, kan?” Andi mula curiga. Setelah dirakut, potongan-potongan kayu tadi menyerupai bis.

“Andi, bukannya bapak tidak mau membelikanmu mobil-mobilan. Bahkan bapak mampu membelikanmu mobil yang lebih bagus dari kepunyaan Doni,” kata Pak Joko lembut.
Andi murung. Kecewa.

“Bapak ingin kamu bisa membuat mobil-mobilan sendiri. Tidak bagus kita hanya bergantung pada barang yang sudah jadi. Itu tidak kreatifnamanya. Belum tentu Doni bisa membuat mobil-mibilan sendiri.”

Andi hampir menangis.

“Bapak janji. Jika mobil yang bapak buat ini jelek, bapak akan membelikanmu mobil-mobilan. Ayo, kita selesaikan dulu!”

Andi sudah tidak begitu bersemangat. Tetapi bapaknya terus menyemangati. Menyuruh Andi melakukan ini dan itu.

Mobil-mibilan itu sudah hampir selesai. Nyaris menyerupai Bis sungguhan.

“,Sekarang kita tinggal mengecat tiap sisinya. Bantu bapak, ya!”

Pak joko melukis bis itu dengan telaten. Mengkombinasikan warna silver dengan warna hijau. Di tengahnya tertulis LORENA.

“Nah sudah selesai. Bagus kan!” kata ayahnya semangat. Andi tersenyum.

***
Sebulan kemudian, di SDN Panggilingan, tempat andi bersekolah mengadakan pekan kreatif. Para siswa diwajibkan membuat karnyanya sendiri. Temanya bebas. Segala bahan harus dibuat di sekolah.

Kompetisinya sangat meriah. Kebanyakan dari teman-temannya memilih menggambar: bunga, kelinci dan lain sebagainya. Hanya Andi yang berbeda. Dia membuat membuat truk peti kemas dengan bungkus rokok. Karena sudah terbiasa membuat mainan sendiri, Andi tak menemui kesulitan.

Pada malam puncak, yakni malam anugerah, seluruh wali siswa diundang. Pak Joko turut datang bersama istrinya. Dia berjanji akan membelikan Andi mobil-mobilan jika menjadi juara.

“Juara pertama adalah Andi Saputra utusan dari kelas IV!”

Seluruh penonton bertepuk tangan. Andi amat senang. Di atas panggung, wajahnya berbinar-binar. Dia mengangkat tinggi-tinggi tropi yang baru saja diraihnya.

“Sesuai dengan perjanjian kita, bapak akan membelikan kamu mobil-mobilan yang sangat bagus,” ucap Pak Joko bangga.

“Tidak. Andi tidak mau mobil-mobilan, Andi mau beli baju baru saja,” katanya tersenyum. Pak joko juga tersenyum. Ibunya juga. Malam itu, keluarga Pak Joko pulang membawa kebahagiaan dan kebanggaan yang sangat besar.